"Sasuke-sama?" Hinata tidak percaya dengan apa yang dia lihat sekarang. Pria tegap itu berdiri menjulang di depan pintu rumahnya.

"Hai...Hinata," mengulang kejadian minggu lalu, Sasuke berujar kikuk pada perempuan yang tengah memandangnya bingung. Namun raut wajah manisnya seketika berganti dengan sebuah senyum tipis disertai dengan rona merah. Kepala indigonya menoleh ke kanan dan ke kiri seolah mencari sesuatu.

"Di-dimana Kenichi?" pikir Hinata anaknya tentunya juga ikut serta jika laki-laki itu berada disini, apalagi Sasuke datang di hari biasa bukan akhir pekan seperti biasanya.

"Kenichi, dia berada di rumah. Aku baru saja mengadakan pertemuan di dekat sini, jadi kupikir untuk mampir sebentar," ucap Sasuke. Jika Itachi mendengar nada bicara seperti apa yang keluar dari mulutnya, maka tamat sudah riwayatnya karena diolok habis-habisan.

"Begitu," perempuan itu mengangguk paham. "Ah! Maafkan saya, silakan masuk Sasuke-sama," Hinata sampai terlupa.

"Maaf jika aku mengganggu."

"Ti-tidak, Sasuke-sama tidak mengganggu sama sekali."

.

.

.

Dakishimetai

Tokoh yang saya pakai milik Kishimoto Masashi-sensei, saya cuma pinjem doang

Warning: typo, alur cepet, dan masih banyak lainnya

Pairing: Sasuhina

Don't Like, Don't Read

.

.

.

Sasuke

"Bisa aku kembali ke Amerika sekarang?" duduk berhadapan dengan ayahnya yang memandangnya tajam tidak membuat nyali pemuda itu gentar. Malahan ada sebuah seringai tipis saat mengingat bagaimana raut wajah ayahnya akhir-akhir ini.

"Berhenti bersikap kurang ajar, Uchiha Sasuke!"

"Oke," Itachi hanya memutar matanya bosan mendengar jawaban Sasuke. Sepulang dari luar negri, laki-laki itu malah dikejutkan mengenai kasus adiknya ini. Batang hidungnya ia pijat perlahan, menurutnya sikap adiknya kali ini sudah terlalu kelewatan.

"Kau tahu apa yang telah kau lakukan, bukan? Kau mencoreng nama keluarga kita,"

'Lebih mencoreng mana jika nantinya ada berita mengenai salah satu keluarga Uchiha yang mati bunuh diri akibat istri cerewetnya?'

Sasuke biarkan ayahnya mengeluarkan semua yang ada di benaknya tanpa berniat untuk menyela. Toh disini dia sebagai tersangka yang sedang diadili.

"Tidak ada ke luar negri ataupun keluar dari rumah. Kau ayah kurung di mansion sampai semua masalah ini selesai," Sasuke mendesah. Dia terlihat seperti seorang tahanan saja. Terima tidak terima beginilah hasil dari sidang dadakan ini, tidak perlu ajukan banding karena sudah pasti akan langsung ditolak mentah-mentah.

Fugaku berdiri, Itachi yang melihat ayahnya hendak pergi meninggalkan ruangan itu juga ikutan berdiri dari kursinya.

"Bagaimana dengan pertunanganku?" tanya Sasuke yang sukses menghentikan langkah ayahnya yang sudah berada di depan pintu.

Uchiha Fugaku menoleh, melirik anaknya yang berdiri santai sambil menunjukkan seringai tipisnya. Dalam hati, laki-laki berumur pertengahan lima puluh tahun itu menggeram.

"Batal," geraman yang susah payah Fugaku tahan. Setelahnya dia benar-benar pergi meninggalkan kamar anak bungsunya dengan sangat kesal.

"Yes!" Sasuke tidak kuasa untuk membendung rasa bahagianya. Tubuhnya langsung ia lemparkan pada sofa panjang yang terletak di tengah ruangan. Memasang pose super nyaman untuk menonton siaran olahraga yang sempat ia rekam untuk ditonton hari ini.

"Bukankah kau seharusnya tidak bersikap seperti ini?" Itachi tidak jadi pergi ternyata. Kakaknya itu malah datang mengambil remote TV dan mematikan benda persegi panjang itu.

"Apa maksudnya?"

"Pelayan itu. Apa yang akan kau lakukan padanya?" tanya Itachi sungguh-sungguh.

"Aku sudah memberinya uang. Lalu apa lagi yang harus aku lakukan?"

"Sasuke," Itachi memperingati, dia tidak senang dengan jawaban adiknya.

"Tenang saja, kak. Lagipula semua perempuan sama saja, mengincarku hanya untuk melakukan hal begituan," Sasuke santai saja, dia sudah biasa dengan banyak perempuan yang mendekatinya hanya untuk mengajaknya berkencan dan berakhir dengan one night stand. Dan pada dasarnya Sasuke saja yang tidak tahu jika pelayan itu menolaknya habis-habisan.

Itachi mendesah, dia tidak tahu siapa pelayan yang ditiduri adiknya, tapi yang pasti semoga kelakuan adiknya ini tidak menyakiti salah satu di antara keduanya nanti.

...

Sasuke duduk di kursi makan, memperhatikan punggung perempuan itu yang terlihat sedikit membungkuk untuk memotong sayuran. Bagi laki-laki tiga puluh tahun itu, pemandangan sederhana di hadapannya sudah cukup membuat hatinya bergetar. Penampilan Hinata tidak semenarik para wanita yang dikenalnya, dia akui itu, tapi ibu Kenichi itu seolah menghipnotis matanya untuk tidak berpaling ke lainnya.

"Kau memasak apa?" dia tidak boleh pasif. Sebagai laki-laki yang mengatakan untuk menikahinya, Sasukelah yang harus bertindak mendekati Hinata lebih dulu.

"Saya hanya memasak ka-kare," Hinata mendadak gugup saat merasakan Sasuke berada di belakangnya sekarang. Perempuan itu menoleh perlahan, mendongak dengan sedikit menjauhkan tubuhnya.

"Ada yang bisa kubantu?" tanya Sasuke. Walaupun sebenarnya dia tidak enak juga kembali merepotkan Hinata yang selalu memasakkannya setiap kali dia berkunjung.

"Tidak usah, Sasuke-sama. A-anda duduk saja," mana bisa Hinata membiarkan tangan Sasuke kotor karena membantunya. Perempuan itu masih tahu diri untuk tidak membuat mantan tuannya melakukan sesuatu seperti ini.

"Tidak apa, lagipula aku merasa tidak berguna jika kau hanya menyuruhku duduk," kemeja lengan panjangnya ia lingkap sampai ke siku. Sepertinya hanya untuk mencuci kentang dia juga bisa, biarkan Hinata saja yang mengurusi bumbu-bumbu apa yang dimasukkan dalam panci itu. Jika nanti ia yang melakukannya, dia tidak akan menjamin bagaimana rasanya nanti.

"A..ano...Sa-sasuke-sama."

Sasuke menoleh, menunduk lebih tepatnya untuk menatap Hinata. "Ada apa?" tanya Sasuke. Tangan putih perempuan itu terangkat, membuat alisnya sedikit mengkerut bingung. Hinata tidak bicara apa-apa, tapi jemari mungil itu kini berada di lengannya. Untuk sesaat Sasuke terpana, nafasnya tertahan saat tubuh perempuan itu mendekat.

"Baju Anda bisa basah," dengan telaten perempuan itu menggulung lengan kemeja Sasuke yang turun serapi mungkin. Akan sayang bila nantinya ada kotoran yang menempel di baju mahal itu, pikir Hinata.

"Hinata..." mata Sasuke tidak bisa berpaling dari wajah perempuan itu. Hanya interaksi ringan seperti ini kembali membuat denyut jantung berpacu dua kali lebih cepat.

"Iya?" apalagi kini mata bulan itu menatap tepat pada matanya.

"Satunya. Kau melupakan lengan satunya," ucap Sasuke cepat. Laki-laki itu menunjukkan lengan kemeja kanannya yang juga turun sampai hampir ke pergelangan tangannya karena mencuci kentang tadi. Berdehem sebentar, Sasuke mendongak menatap langit-langit saat Hinata membetulkan lengan bajunya.

...

"Dimana pelayan itu?" mendapati orang lain yang datang membersihkan perpustakaan membuat ada tanda tanya besar di benak pemuda itu.

"Ah, Sasuke-sama!" bukannya mendapat jawaban, Sasuke merasa sangat risih dengan suara nyaring pelayan itu.

"Pelayan sebelummu, dimana dia?" Sasuke sebenarnya tidak suka menanyakan sampai dua kali, tapi melihat perempuan ini malah mengabaikan pertanyaan awalnya membuat Sasuke tidak punya pilihan lagi.

"Maksud Sasuke-sama, Hinata?" jadi namanya Hinata.

"Hn," gumam Sasuke sekenanya.

"Hinata mengundurkan diri sebulan lalu."

"Begitu," Sasuke melenggang pergi begitu saja setelah mendapat jawabannya. Mengabaikan niat awalnya untuk menenangkan diri di perpustakaan setelah mendapat amukan dari ayahnya lagi.

...

"Terima kasih atas makanannya," kata Sasuke setelah meletakkan sendoknya. Entah kenapa makan malam kali ini terasa sangat enak, mungkin karena dia menyempatkan diri untuk membantu proses memasaknya tadi.

Melihat Sasuke yang sudah menyelesaikan makanannya, Hinata mengambil piring dan gelas kosong itu. Merendamnya bersamaan dengan peralatan makannya di bak pencuci piring. Selagi menunggu air mendidih, Hinata mencuci piring-piring kotor itu.

"Bagaimana kabarmu?" dalam hati Sasuke merutuki dirinya sendiri. Kenapa malah pertanyaan basi itu yang selalu keluar dari mulutnya.

"Saya baik-baik saja, jika Sasuke-sama?"

"Aku juga baik-baik saja," benar kan, pada akhirnya hubungan mereka hanya berjalan di tempat jika terus seperti ini. Dia harus mencari topik pembicaraan lain.

"Bagaimana keadaan Kenichi?" tapi nampaknya Hinata terlihat lebih memiliki inisiatif ketimbang dirinya.

"Dia baik-baik saja," Hinata tersenyum mendengarnya. "Tapi dua hari lalu dia sempat terjatuh saat aku mengajarinya naik sepeda, lututnya berdarah."

"Be-benarkah?" raut wajah Hinata berganti menjadi khawatir.

"Tenang saja, lututnya sudah membaik. Bahkan dia malah sudah bisa naik sepeda sekarang," hibur Sasuke.

"Syukurlah," senyum Hinata kembali mengembang.

"Apa kau tahu, Hinata," Hinata mendongak, nada suara laki-laki itu terdengar cukup senang. "Saat Kenichi terjatuh wajahnya memerah menahan tangis," di hadapannya, Uchiha Sasuke yang selalu menunjukkan wajah datarnya malah terlihat menahan senyumannya.

"Sepeti yang dulu kau katakan, ku pikir Kenichi akan langsung menangis setelah terjatuh. Tapi nyatanya dia hanya menahan rasa sakitnya sekuat mungkin," Hinata tahu Sasuke bahagia bukan karena melihat anak mereka yang terjatuh, melainkan pada ekspresi seperti apa yang anak mereka tunjukkan.

"Terdengar sangat menyenangkan," tanggap Hinata. Dia membayangkan seperti apa kejadian itu di benaknya.

"Kau benar, sangat menyenangkan," dia juga baru sadar, menghabiskan waktu dengan anaknya tenyata begitu menyenangkan. Bicara soal waktu, dia sampai terlupa dengan pukul berapa sekarang.

"Kupikir aku harus kembali sekarang," niatnya dia hanya mampir sebentar. Tapi tanpa terasa dia sudah menghabiskan tiga jam di rumah Hinata, ditambah dengan dua jam perjalanan pulang, prediksi Sasuke dia akan sampai di rumahnya pukul delapan.

"S-sou desu ka," Hinata juga sama tidak menyadari. Membicarakan Kenichi ternyata memakan waktu cukup lama juga.

"Aku akan kemari lagi, jika kau mengijinkan," Sasuke mengambil jasnya yang berada di atas kursi. Suaranya sedikit merendah di akhir kalimatnya.

"Tentu saja, Anda bisa datang kapan saja," Hinata tersenyum.

"Lain kali aku akan mengajak Kenichi," mungkin maksudnya lain kali adalah minggu depan. Dia pastikan Kenichi juga akan ikut serta nantinya, Hinata pasti sangat merindukan anak mereka.

"Iya," Hinata mengangguk, perempuan itu mengantar Sasuke sampai ke depan pintu.

"Kalau begitu, aku pergi dulu," Sasuke bukannya ingin segera pergi dari tempat itu. Tapi mengingat agendanya besok yang padat membuatnya harus segera kembali ke Konoha.

"Iya, hati-hati di jalan, Sasuke-sama–"

JEDAR!

Suara petir yang menyambar dan hujan deras yang tiba-tiba turun membuat kedua orang dewasa yang berada di teras itu hanya saling menatap. Apalagi ditambah dengan lampu yang mendadak padam membuat keduanya tidak bisa berbuat apa-apa.

...

Ini sudah ketiga kalinya dalam dua bulan belakangan ia dihadapkan dalam situasi seperti ini. Pertama, saat pemutusan pembatalan pertunangan, tentunya disertai permohonan maaf dari pihak keluarganya. Yang kedua saat dirinya kembali mendapat beberapa petuah nan tajam dan menusuk dari ayahnya mengenai kelakuannya tempo hari. Dan yang ketiga, adalah saat ini. Berkumpulnya semua anggota keluarganya yang hanya terdiri dari ayah, ibu, dan kakak di ruang keluarga. Jangan lupakan atmosfir yang lagi-lagi terlihat tegang yang menguar dari ayahnya sendiri. Sasuke hanya menurut saja saat ibunya menyuruhnya untuk turun ke bawah, tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Sudah lama ia tidak melihat ayahnya hanya diam saja saat dia berada disekitarnya, mengendikkan bahu tak perduli, Sasuke memilih tempat duduk di samping Itachi.

"Ada apa?" tanya Sasuke. Dia sebaiknya bersikap pura-pura penasaran untuk menghindari amukan ayahnya lagi.

Fugaku mendengus tidak suka

"Besok, kau kembali ke Amerika," Sasuke menaikkan satu alisnya.

"Apa ini semacam lelucon?" dia ingat betul bagaimana peringai ayahnya selama ini. Pria tua itu betul-betul mengurungnya selama dua bulan di dalam mansion, tanpa membolehkannya keluar satu senti pun dari pagar meski hanya untuk menenmani ibunya berbelanja.

"Tidak, Kakashi sudah menyiapkan semuanya. Kau hanya tinggal mengemas barang-barangmu saja."

"Baiklah," jawab Sasuke enteng. Apalagi yang perlu diperdebatkan? Berhubung pada akhirnya ayahnya sudah menyalakan lampu hijau. Merasa sudah tidak ada yang perlu dibahas lagi, satu per satu orang di sana mulai membubarkan diri, menyisakan Uchiha Sasuke yang pada akhirnya penasaran juga kenapa ayahnya menyuruhnya untuk kembali ke Amerika semendadak ini.

...

Mereka berdua tidak tahu bagaimana bisa berakhir seperti ini, berbaring di atas futon yang sama sambil saling menatap. Berbeda dengan kejadian-kejadian sebelumnya, kali ini tidak ada Kenichi yang menjadi pembatas di anatar mereka. Mereka berdua murni berbagi futon saat ini. Jangan tanya bagaimana wajah Hinata ketika Sasuke berbaring di sampingnya, apalagi saat ini mereka malah saling menatap. Perempuan itu tentu saja cukup malu dengan adanya laki-laki yang berada di dalam selimut hangatnya.

Untuk Sasuke, lilin yang sengaja ditempatkan agak jauh membuat wajah memerahnya tersamarkan. Meski begitu, dia tidak bisa menyembunyikan detak jantungnya yang berdetak cepat jika Hinata berjarak sedekat ini dengannya. Walaupun dia juga tahu, bukan hanya dirinya saja yang merasakan hal seperti ini.

Merasa cukup lama berbaring menatap dinding, membuat Sasuke menyimpulkan jika Hinata pastinya sudah tertidur. Tanpa tahu saat dirinya berbalik, perempuan itu juga melakukan hal yang sama.

Hitam dan putih itu saling mamandang, tidak seperti biasanya yang saling menghindar, kali ini mata mereka seakan tidak ingin melepas pandangan satu sama lain.

"Hinata," suara ayah dari anaknya itu membuat Hinata tersadar. Buru-buru Hinata menundukkan kepalanya karena merasa lancang telah menatap mantan tuannya dalam kondisi seperti ini.

"Kau takut padaku?" tanya Sasuke. Entah mendapat keberanian dari mana tangannya mengangkat dagu perempuan itu. Membuat mereka kembali menatap wajah satu sama lain.

"I-itu...saya..." Sasuke tersenyum, merasakan gelengan pada kepala Hinata.

"Kau percaya padaku?"

"Eh?!" Sasuke bisa melihat mata Hinata membola saat satu tangannya menarik pinggang rampingnya untuk mendekat, membuatnya menjadi teringat dengan wajah anaknya.

Senyum Sasuke tidak selebar kebanyakan orang, tapi melihatnya membuat Hinata mengakui betapa tampannya laki-laki itu. Malu memandang wajahnya, Hinata lebih memilih menyembunyikan wajah memerahnya.

Gantian mata Sasuke yang membola saat merasakan bagian depan kemejanya dicengkram erat, apalagi ditambah Hinata mengangguk pelan kemudian.

Nafas Hinata tertahan merasakan tubuh Sasuke semakin mendekat ke arahnya, mendongak perlahan untuk melihat apa yang akan dilakukan laki-laki itu padanya, jantung Hinata seakan berhenti bekerja di detik itu. Merasakan sesuatu yang lembab menyapu salah satu bagian wajanhya.

Cup

Ciuman. Sebuah ciuman dari laki-laki yang pernah menyakitinya itu membuat Hinata tersadar akan satu hal. Dia percaya sepenuhnya pada Sasuke.

TBC

.

.

.

Bagaimana menurut minna-san tentang chap ini? semoga masih menarik untuk dibaca. Ada sebuah riview yang menanyakan gimana kejadian sasuhina setelah kejadian itu dari Damai-san. Saya pikir setelah nulis bagian flashbacknya, saya pikir 'oke, ini aja deh gak usah ditambahin lagi,' tapi setelah saya pikir-pikir perlu juga ada penjelasan gmn ceritanya mereka. Untuk chap ini bagiannya sasu dulu, mungkin untuk chap depan bagiannya hina.

Terima kasih untuk minna-san yang sudah review, fav, dan follow fic saya satu ini. ketiga hal itu membuat saya bersemangat untuk mengupdate dakishimetai #hehehehe

Sekian dari saya,

Jaa adios

.

.

.

"Hatchi...!"

"Kau baik-baik saja, Ken?"

"Paman Itachi," Kenichi mengelap hidungnya menggunakan tissue yang diberikan pamannya. "Terima kasih," katanya. Hidungnya tiba-tiba terasa sangat gatal.

"Dimana ayahmu?"

"Ayah? Entahlah. Mungkin ayah belum pulang dari kantor," Kenichi membuang tissue-nya ke tempat sampah.

"Aneh. Padahal dia pulang duluan tadi."

"Mungkin ayah menemui seseorang," kata Kenichi membuat Itachi mengangguk membetulkan.

"Kau benar. Hei, Ken. Jangan bermain terlalu lama di taman. Nanti akan ada badai," Kenichi mengangguk, anak laki-laki itu berjalan sambil menggiring sepeda yang baru dibelikan ayahnya menuju taman.