.
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto.
Pairing : SasuNaru, ShikaNaru.
Genre : Romence, Hurt/Comfort.
Rate : T.
Warning : OOC, semi-Canon, typo(s), No Yaoi.
DON'T LIKE DON'T READ!
One Heart © Yanz Namiyukimi-chan.
Chapter 7
.
.
Langit kelam bertaburan bintang yang berkerlap-kerlip di atas sana menaungi sang Bumi. Desiran angin dingin menjadi simponi yang pas untuk malam ini. Berbagi kehangatan di antara udara dingin dalam keheningan malam.
Shikamaru, pemuda tampan dan jenius itu menatap sosok gadis yang telah terlebih dulu terjun ke alam mimpi di sampingnya. Berbeda dengan dirinya yang masih terjaga.
Sosok gadis yang dicintainya begitu damai terbuai dalam mimpi. Deruan napas teratur dari gadis pirang itu begitu terasa di setiap tarikkan napasnya. Seolah mereka menggunakan organ paru-paru yang sama.
Perlahan Shikamaru menyusupkan tangan kirinya di leher Naruto. Menarik tubuh kekasihnya ke dalam dekapannya. Mencari kehangatan lebih di atas futon yang tergelar di atas lantai yang dingin.
Gadis pirang itu menggeliat dalam tidurnya. Menyamankan diri dengan lengan Shikamaru yang menjadi bantal tidurnya sekarang. Tangan Naruto bergerak mendekap tubuh kekasihnya tanpa sadar.
Shikamaru sedikit menundukkan kepalanya setelah Naruto yang berada dalam dekapannya merasa nyaman. Menatap kekasihnya penuh kasih sayang.
Shikamaru merasa begitu beruntung. Hidupnya terasa begitu bahagia mendapati gadis tercintanya berada di sampingnya. Hidupnya terasa begitu berwarna sejak bersama dengan kekasih yang dicintainya. Kadang selalu saja ada hal yang merepotkan, tapi ia tak pernah menyesal dengan hal itu.
Dibenahinya selimut yang mereka gunakan agar hawa dingin tidak mengganggu kenyamanan mereka.
Cup!
Dikecupnya kening itu dengan lembut.
"Oyasumi," kemudian pria berambut nanas itu ikut terjun dalam buaian mimpi bersama kekasihnya.
.
.
Suara kicau burung di pagi hari berbunyi riang.
"Ohayou."
Shikamaru memeluk kekasihnya dari belakang yang sedang menyiapkan sarapan pagi untuk mereka. Mengecup pipi kenyal itu sebagai buah pemanis dari ucapan selamat paginya.
"Ohayou," balas Naruto memberikan senyum terbaiknya.
Namun itu tak bertahan lama. Senyum manis itu di gantikan dengan wajah merona.
"Kemana bajumu?" tanya Naruto menyadari keadaan kekasihnya yang telanjang dada. "Apa kau tidak kedinginan?" tanyanya lebih lanjut.
"Tidak!" tungkas Shikamaru, "Ada kau yang menghangatkanku," ucap Shikamaru tetap asyik memeluk Naruto.
Jelas saja tindak laku Shikamaru membuat Naruto salah tingkah.
"Sudah sana pergi! Pakai bajumu!"
"Iya, iya."
Naruto memandang sosok Shikamaru yang perlahan hilang dari hadapannya. Sungguh mereka sekarang sudah seperti pasangan suami-istri saja. Naruto menggelengkan kepalanya menyadari apa yang sempat masuk ke dalam pikirannya.
Sekarang mereka sudah tinggal dalam satu atap. Lebih tepatnya tiga hari yang lalu Shikamaru-lah yang telah mengajaknya untuk tinggal bersama di rumah masa depan mereka. Naruto tidak masalah akan hal itu. Toh, ia hanya tinggal sendiri di apartemen kecilnya itu. Sedangkan Shikamaru, ayahnya tidak terlalu mempermasalahkan keinginan putranya itu.
Hidup satu atap bersama kekasihnya seperti saat ini seolah memberi gambaran pada Naruto saat mereka sudah menikah nanti. Bahkan mungkin nantinya ada sosok mungil yang menghiasi kehidupan mereka. Membayangkannya saja Naruto sudah merasa bahagia. Memiliki keluarga sendiri merupakan sebuah harapan kecilnya.
Naruto yang terlahir tanpa keluarga membuatnya tak pernah bisa merasakan kehangatan keluarga yang sesungguhnya.
Jadi betapa bahagianya Naruto saat tahu ia tidak akan hidup sendirian lagi.
.
.
Shikamaru menatap ragu makanan yang telah tersaji di atas meja makan. Tentu saja makanan itu adalah buatan kekasihnya. Bukan kenapa-kenapa. Dari segi penampilan, makanan itu terlihat menggugah selera. Namun yang ia ragukan adalah rasanya. Ya, kadang penampilan bisa menipu bukan?
Apalagi ia tahu Naruto itu tidak ahli memasak.
Naruto menatap Shikamaru yang mulai mencicipi masakkan yang ia buat sendiri. Sedikit ragu apa rasanya enak atau tidak. Tapi ia sudah belajar memasak pada Shizune. Perempuan yang sudah seperti kakaknya sendiri.
"Bagaimana rasanya?" tanya Naruto menatap penuh pengharapan jika masakan buatannya terasa enak.
"Lumayan."
"GAH! Kalau begitu jangan dimakan!" Naruto langsung menarik mangkok makanan Shikamaru yang berisi sup buatannya.
"Apa yang kau lakukan? Aku sedang makan, Baka!" Shikamaru menarik kembali mangkok sarapannya. Namun Naruto segera menjauhkannya mangkok yang berisi sup itu darinya.
"Jangan dimakan jika tidak enak! Nanti kau sakit perut!"
"Siapa bilang tidak enak? Aku bilang lumayan."
"Jadi, supnya enak?"
"Lumayan," ucap Shikamaru tetap pada penilaiannya itu.
"Huh, bilang saja enak! Apa susahnya?" Naruto menggembungkan kedua pipinya kesal.
Tapi gadis itu merasa senang karena masakannya memang layak dimakan.
"Naruto," panggil Shikamaru.
"Ya?" seru Naruto gak tersentak kaget karena sedang asyik menatap kekasihnya yang sedang sarapan.
"Aku ingin minggu depan kita sudah bisa menikah."
"HEH?"
.
.
Naruto tidak menyangka Shikamaru akan mengajaknya menikah dalam waktu dekat ini.
Sebenarnya tidak ada masalah. Jika besok pun mereka bisa menikah ia mau-mau saja. Tapi setelah mendengar kekasihnya yang akan pergi menjalan misi hari ini untuk beberapa hari ke depan membuatnya menjerit tak rela. Maksimal selama satu minggu Shikamaru akan menjalankan misi itu.
Dan itu saat hari menjelang pernikahan mereka?
Yang benar saja!
Seharusnya Shikamaru ada bersamanya menyiapkan pernikahan mereka itu. Tapi kenapa ia malah ditinggal untuk menjalankan misi?
Dan satu lagi. Kenapa kekasihnya itu sudah bisa menjalankan misi sedangkan ia TIDAK?
"BAA-CHAAAAN!"
BRAK!
"Seharusnya kau ketuk pintu dulu baru kau masuk ke ruanganku, Naruto!" ucap Tsunade yang melihat pintu ruangannya didobrak dengan tragis.
Oh… Sungguh pintu yang malang.
"Tidak peduli! Aku ke sini datang untuk protes!"
"Oh… Begitu? Kalau begitu aku juga tidak akan peduli pada protes yang kau ajukan padaku," jawab Tsunade dengan nada bosan.
Tentu saja sikap sang Hokage itu mengundang kedutan kekesalan yang di dahi si Pirang.
"BAA-CHAAANN!"
.
.
"Ck, sialan!"
Naruto berlari menuju gerbang utama Konoha. Iya yakin jika kekasihnya sudah berada di sana bersama lima orang lainnya yang juga merupakan tim dari misi itu.
Naruto merasa kesal. Hanya karena tubuhnya belum sembuh secara total, ia menjadi tidak bisa ikut menjalankan misi. Memang benar apa yang dikatakan oleh Baa-chan-nya itu jika kemampuan penyembuhan Naruto akhir-akhir ini terasa lambat dari biasanya. Ia juga merasakannya. Entah kenapa ia juga tidak tahu. Apa terjadi sesuatu pada Kyuubi di dalam tubuhnya itu?
Naruto melesat menambah kecepatannya saat ia melihat Shikamaru bersama lima orang lainnya sedang berkumpul.
"SHIKAMARUUU!"
Pria berambut nanas itu menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya sang kekasihnya berlari ke arahnya.
Shikamaru mengernyit. Bukankah ia tadi sudah berpamitan pada gadisnya itu? Lalu untuk apa Naruto sampai repot-repot menyusulnya kemari.
Grep!
"Kau harus pulang secepatnya!" Naruto langsung saja menerjang kekasihnya dan memeluk leher Shikamaru.
"Ya, akan kulakukan secepatnya," balas Shikamaru memeluk gadis pirangnya itu. "Saat aku pulang, kuharap semua sudah siap," pinta Shikamaru kemudian mengecup bibir Naruto.
Dan sukses membuat Neji, Ino, Chouji, Izumo, dan Kotetsu memalingkan wajahnya dengan semburat pink di masing-masing wajah mereka saat melihat adegan itu.
"Aku pergi," pamit Shikamaru membuat Naruto harus melepas pelukannya pada pemuda itu.
Setelah itu mereka berlima pergi meninggalkan gerbang Konoha setelah persiapan sudah selesai dan perpamitan pada Naruto.
"Kau harus cepat kembali!" teriak Naruto.
Shikamaru hanya melambaikan tangannya tanpa membalikkan badannya, sebelum akhirnya mereka semua menghilang dalam sekejam mata.
"Kenapa dia tidak menoleh melihatku?" gumam Naruto.
Entah kenapa bola mata biru itu kini terlihat sendu.
.
.
Terlihat lima shinobi ninja Konoha melompat menapaki kaki-kaki mereka di setiap dahan pohon yang mereka lewati. Dan seorang pria berambut nanas berada di paling depan memimpin jalan.
"Kau tidak memberi tahu tentang misi kita pada Naruto, Shikamaru?" tanya Neji di belakang Shikamaru tepat di sebelah kirinya.
"Tidak."
"Huh! Pantas saja Naruto mengijinkanmu pergi," dengus Ino.
Misi kali ini memang cukup berat, yaitu mencari tahu informasi Akatsuki yang akhir-akhir ini kembali bergerak. Organisasi yang tidak bisa diremehkan begitu saja oleh dunia para shinobi.
Huh! Sungguh organisasi yang merepotkan.
.
.
Beberapa hari ini Naruto terlihat begitu sibuk. Hari-harinya dipenuhi oleh kegiatan menyiapkan pesta pernikahannya. Naruto berusaha menutup-nutupi tentang rencana pernikahannya itu. Ia berencana untuk memberi tahu semua teman-temannya dan orang-orang terdekatnya sehari sebelum upacara pernikahannya akan dilaksanakan
Saat ini Naruto berjalan di antara para penduduk desa. Tangannya terdapat sebuah notebook yang berisi tentang apa saja yang perlu dipersiapkan untuk pernikahannya nanti. Gadis itu berjalan tanpa memperhatikan langkahnya. Matanya tetap fokus pada notebook itu. Wajahnya berkedut bingung. Saat ini Naruto sedang mendapat kendala. Ini soal baju pengantin yang akan mereka gunakan nanti. Ia tidak tahu ukuran baju yang pas untuk Shikamaru.
Andai saja calon suaminya ada di sini mungkin ia tidak akan kebingungan seperti ini, memikirkan baju pengantin yang cocok dan pas untuk calon suaminya. Bagaimanapun juga kekasihnya harus terlihat tampan di hari pernikahan mereka nanti.
BRAK!
"Aduh…" ringis Naruto mengusap dahinya menabrak sesuatu yang keras di depannya.
"Jika berjalan gunakan matamu, Dobe!"
"Teme…"
Entah kenapa Naruto telonjak girang melihat pemuda tegap itu. Membuat Sasuke mengernyit.
"Sasuke untung aku bertemu denganmu. Kau harus membantuku!" seru Naruto menatap sosok itu dengan mata berbinar-binar.
"Membantu?"
"Ya, ya, ya. Ayo ikut aku!"
Naruto langsung saja menarik Sasuke dan segera membawa pemuda itu ke suatu tempat. Tak peduli pria yang sedang ia tarik paksa itu meminta untuk melepaskannya.
Naruto merasa jika Kami-sama telah mengirim Sasuke datang untuk menjadi penolongnya.
.
.
Di sinilah Sasuke berada sambil merengut kesal. Berada di sebuah butik dan dipaksa untuk memilih sebuah tuxedo yang menurutnya cocok dan bagus untuk dipakainya.
Sasuke tidak mengerti. Untuk apa ia dibawa kemari? Untuk apa tuxedo itu?
Dalam hati Sasuke mengumpat kesal. Di hari yang panas seperti ini kenapa ia harus mengenakan pakaian gerah seperti ini?
Sasuke membuka dua kancing kemeja putih yang ia kenakan. Ia tidak menggunakan jas hitamnya. Dibiarkan tersampir pasrah pada sandaran kursi yang sedang ia duduki.
"Dobe sialan! Awas saja! Saat dia kembali, aku akan mematahkan tulang-tulangnya!" umpat Sasuke.
"Teme!"
Sasuke mendongak siap melancarkan niatnya yaitu mematahkan tulang-tulang si Dobe saat mendengar suara cempreng itu.
Tapi nyatanya, apa yang ia lakukan?
Pemuda Uchiha itu hanya terdiam dan menatap sosok itu yang sekarang ini tampak tampil berbeda di hadapannya.
Sasuke terpana melihatnya. Sosok itu begitu cantik dengan gaun putih megar itu. Tangan tan itu mencengkram erat gaun megar di kedua sisinya yang menyapu lantai. Sedikit diangkat agar kaki-kaki kecil itu bisa melangkah dengan baik.
"Teme! Kau sudah memakainya?" seru Naruto datang menghampirinya.
"…"
"Heh? Kenapa jasnya tidak dipakai?" tanya Naruto.
"…"
"Sini aku pakaikan."
Naruto mengambil jas hitam itu. Diraihnya tangan Sasuke memasangkan jas itu pada pemuda yang masih terdiam itu.
Sasuke hanya diam tak protes. Ia masih terpesona dengan sosok Naruto saat ini. Walau wajah Naruto tidak didandani oleh make up, tapi saat ini sosok Naruto tetap terlihat mempesona dengan gaun pengantin itu. Naruto tampak cantik natural.
Bahunya terekspos bebas. Lekuk badannya tercetak pas oleh gaun itu. Rambutnya pirang panjangnya terurai bebas begitu saja. Seperti biasanya.
Begitu mempesona. Bagai malaikat.
"Tuxedonya cocok sekali."
Naruto membenahi pakaian Sasuke kemudian mendongak menatap pemuda itu. Sasuke menatanya lekat.
"Menurutmu Shikamaru juga akan terlihat cocok menggunakan tuxedo ini?"
"Hn?"
"Iya, apa Shikamaru juga akan terlihat cocok menggunakan tuxedo ini?" ulang Naruto.
"Shikamaru?" ucap Sasuke tanpa sadar.
"Teme! Sejak kapan kau jadi bodoh begini?" tanya Naruto mulai kesal.
"Hn."
"Aku tidak butuh Hn-mu itu. Aku butuh pendapat!" sergah Naruto.
"Aku tidak mengerti kenapa aku dibawa ke tempat seperti ini?"
"Teme… Aku ini sedang mempersiapkan sesuatu." Alis Sasuke tertaut. Sedangkan Naruto menghela napas.
"Aku sedang memilihkan tuxedo untuk Shikamaru. Lusa depan kami akan menikah," ucap Naruto.
"Lalu apa hubungannya denganku?" tanya Sasuke datar.
"Teme, Shikamaru sedang menjalankan misi jadi ia tidak bisa memilihnya langsung tuxedonya. Lagipula, menurutku ukuran tubuh kalian itu hampir sama. Jadi aku membawamu kemari," jawab Naruto.
"Tapi kau jangan bilang pada siapa pun tentang hal ini. Soalnya ini masih rahasia," pinta Naruto.
"Hn," tanggap Sasuke tetap datar.
Sakit.
Hati Sasuke sakit saat itu juga. Debaran di jantungnya berubah menjadi denyutan yang menyakitkan. Dadanya seperti dihantam sesuatu hingga membuat dadanya sesak. Seperti tidak ada ruang udara untuk bernapas. Berita pernikahan Shikamaru dan Naruto begitu mengejutkannya. Walaupun ekspresinya hampir tak berubah sedikit pun.
Tapi, memangnya ia harus menunjukan ekspresi seperti apa? Kecewa, sedih atau merasa senang?
Yang jelas yang terakhir itu sesuatu yang tidak mungkin ia lakukan. Karena di dalam hatinya ada perasaannya yang tidak rela.
Gadis pirang itu akan menjadi milik orang lain.
Tapi kenapa? Kenapa hatinya berdenyut sakit. Ia tidak mengerti. Apa yang terjadi pada perasaannya. Apa mungkin ia telah jatuh cinta pada gadis pirang itu?
Sejak kapan? Hingga perasaannya terasa begitu dalam pada Naruto.
Sasuke tertawa miris dalam hati. Kenapa ia baru menyadari perasaannya? Kenapa disaat gadis itu akan menjadi milik orang lain? Kenapa begitu cepat?
Pernikahan Shikamaru dan Naruto tinggal beberapa hari lagi. Apa yang sanggup ia lakukan untuk membuat Naruto beralih mencintainya? Membuat Naruto jatuh cinta padanya dalam waktu singkat? Itu tidak mungkin.
Lihat betapa bahagianya gadis Uzumaki itu. Wajahnya berseri-seri karena keadaan hatinya yang sedang berbunga-bunga. Berbanding terbalik dengan perasaannya yang hancur lebur.
"Sasuke."
"Apa?"
Naruto menggelengkan kepalanya, "Tidak! Hanya sedang membayangkan Shikamaru yang mengenakan tuxedo ini. Dia pasti terlihat tampan."
"Akh, aku jadi malu," Naruto menenggelamkan kepalanya di dada Sasuke. Wajahnya terasa panas.
"Semoga kau bahagia," ucap Sasuke lirih.
"Ng?" Naruto mendongak.
Tak percaya dengan apa yang telah ia dengar. Ditatapnya pria bermata kelam itu dengan dalam. Namun, sayang Naruto tetap tidak menyadari tatapan miris yang tertuju padanya.
"Arigatou," seru Naruto tersenyum manis kepada Sasuke. Dan Sasuke membalasnya dengan senyum miris. Namun, lagi-lagi gadis itu tidak menyadarinya. Yang ditangkapnya adalah senyum datar Sasuke tapi memiliki arti dalam.
Jepret!
Jepret!
Heh?
Naruto menangkap suara aneh. Naruto menoleh dan mendapati seorang wanita berambut coklat sedang memegang kamera memotret dirinya dan Sasuke.
Wanita itu tersenyum menyadari perbuatannya. Ia telah mengganggu pasangan kekasih yang terlihat serasi itu. Itulah yang dipikirkan wanita itu.
"Hehe… Maaf karena aku tidak sopan memotret kalian tanpa ijin. Habis kalian terlihat cocok dan serasi sih," seru wanita berambut kecoklatan itu.
"He-hei! Sepertinya kau salah paham," seru Naruto terbata-bata.
"Akh, jangan malu-malu begitu!" wanita itu mengibas-ngibaskan tangannya sambil terkikik geli.
"Ayo, foto satu kali lagi! Tapi kali ini lebih mesra, ya? Gratis, kok," pintanya.
"Ka-kau benar salah paham," Naruto terlihat panik
"Ini tidak seperti yang kau pi— Sasuke?"
Naruto tidak bisa meneruskan penjelasannya saat tangan kiri Sasuke melingkar di pinggang Naruto. Sedangkan tangan kanannya memegang dagu gadis pirang itu dan membuatnya sedikit mendongak ke atas.
"Anggap saja ini adalah sebuah kenang-kenangan," bisik Sasuke di telinga Naruto.
Cup!
Heh?
Jepret!
Jepret!
Mata sapphire milik Naruto membelalak lebar saat sensasi lembut menyentuh pipinya. Sungguh tidak percaya dan di luar dugaannya. Sasuke… menciumnya?
.
.
Sasuke memandang halaman hijau di depannya. Lumayan luas dan asri. Suasananya juga tenang dan nyaman.
Sasuke menoleh saat Naruto datang menghampirinya sambil membawakan dua cangkir teh di atas nampan.
"Aku tidak tahu kalau kau jadi tinggal di sini."
"Eh? Iya, baru satu minggu aku tinggal di sini," jawab Naruto mendudukkan diri di samping Sasuke.
"Sebenarnya ini rumah yang dibeli Shikamaru untuk kami berdua jika sudah menikah," ucap Naruto sambil menggaruk-garuk pipinya.
"Tapi satu minggu yang lalu ia sudah mengajakku tinggal bersama di sini."
"…"
"…"
Mereka terdiam dalam keheningan. Desiran angin berhembus menjadi gemerisik antara gesekan daun dan ranting terdengar beradu. Untuk sejenak mereka bisa merasakan kenyamanan di antara keheningan itu.
"Naruto."
"Hm?"
"Kenapa kau begitu menginginkanku kembali ke Konoha?" tanya Sasuke tanpa menatap lawan bicaranya.
Sementara gadis di sampingnya terdiam. Tak langsung menjawab pertanyaan yang diajukan padanya. Naruto menengadah menatap langit biru di atasnya serta riak-riak awan yang bergumbul menghiasi langit yang terbentang luas itu.
"Tentu saja karena kau temanku! Tidak mungkin aku membiarkan temanku sendiri terus tenggelam dalam kegelapan. Lagipula aku sudah berjanji pada Sakura-chan untuk membawamu pulang. Kau tahu 'kan? Janji yang kuucapkan adalah janji seumur hidup! Karena itu adalah jalan ninjaku!" ucap Naruto penuh dengan tekad sambil menunjukan cengirannya. Tangannya teracung menunjuk dirinya sendiri dengan bangga.
"Ck, kau bahkan tak pernah menganggapku teman," decak Sasuke memalingkan mukanya.
"Aku hanyalah orang yang selalu membuatmu iri. Aku adalah rivalmu. Bukan begitu?"
"Gah! Temeee! Siapa bilang aku selalu iri padamu?" bantah Naruto.
"…"
"Ya, mungkin aku menganggapmu sebagai rivalku, tapi bukan berarti kau bukan temanku! Ya, karena sifat menyebalkanmu itu selalu membuatku ingin melampauimu."
"…"
Naruto kembali menatap langit cerah yang masih terbentang bebas di atasnya.
"Tapi semakin lama aku bersamamu. Aku menjadi tahu. Di balik sikap menyebalkan itu ada Sasuke yang selalu menolong dan melindungiku tanpa kuminta," ucap Naruto sambil menerawang.
Ingatannya kembali saat ia terjatuh dan terseret arus sungai dan Sasuke menolongnya. Sasuke yang melindunginya dari serangan Haku. Saat itu Naruto tidak tahu kenapa pemuda raven itu melindunginya sampai seperti itu. Sampai mengorbankan dirinya hanya karena untuk melindunginya. Saat itu, rasanya ia ingin menangis melihat Sasuke yang sekarat di pangkuannya.
"Saat itu tanpa sadar aku sudah menganggapmu lebih dari sekedar rival."
Tanpa Naruto sadari kedua onyx itu melebar mendengar ucapannya.
"Aku juga ingin melakukan sesuatu untukmu. Menolongmu, melindungimu. Karena kau sudah menjadi sosok yang berharga bagiku."
Naruto meraih wajah Sasuke agar pemuda itu menatapnya.
"Kau sudah seperti saudaraku! Aku menganggapmu layaknya seorang Kakak bagiku."
Naruto menempelkan dahinya pada dahi Sasuke. Begitu dekat sehingga setiap tarikkan napas yang mereka lakukan begitu terasa.
"Aku peduli padamu. Aku bisa merasakan apa yang kau rasakan. Jika kau merasa sakit aku juga merasakannya."
Sasuke terus terdiam mendengar tutur kata Naruto untuknya. Bahkan mata kelam itu kini bersembunyi di balik kelopak matanya. Merasakan apa yang dikatakan oleh gadis itu dengan hatinya. Dahi mereka terus menempel seolah sedang membaca pikiran masing-masing.
"Kau tahu kenapa, Sasuke?" kini suara Naruto terdengar lebih pelan.
"Karena kita sama. Hanya jalan nasib yang kita lalui saja yang membuatnya tampak berbeda."
Perlahan mata onyx itu terbuka menatap mata jernih Naruto begitu dalam.
Naruto mulai menjauhkan wajahnya dari Sasuke.
"Aku senang bisa membawamu pulang. Tapi aku juga tak bisa tenang. Kau meninggalkan Konoha dan juga membuat kekacauan di dunia shinobi. Tentu ini akan sulit bagi mereka untuk menerimamu kembali dengan lapang dada. Kau harus bisa membersihkan kembali namamu di hadapan mereka. Kau harus membuat mereka percaya jika kau sudah keluar dari kegelapan itu, oke!" Naruto tersenyum mencoba memberi keteguhan hati pada pria yang sudah ia anggap saudaranya itu.
"Hn."
"Baiklah… Kalau begitu, ayo masuk! Aku akan membuatkan makan siang."
Naruto bangkit dari tempat duduknya di sebelah Sasuke. Hendak masuk ke dalam rumahnya. Namun saat itu juga terhenti karena tiba-tiba tangannya digenggam Sasuke.
"Ada apa?" tanya Naruto menundukkan kepalanya melihat Sasuke yang masih terdiam dalam keadaan duduknya.
Sasuke tetap memegang tangan Naruto.
"Apa kau yakin ingin menikah dengan Shikamaru?"
Naruto menaikan alisnya, "Hah?"
.
.
Kembali rembulan menghiasi langit. Mengganti mentari yang merajai langit. Sasuke duduk terdiam di atas ranjangnya. Ia tampak sedang merenungkan sesuatu. Terlihat di atas meja di samping tempat tidurnya terdapat tiga lembar foto tak beraturan.
Tiga lembar foto yang berisikan potret dirinya dan Naruto.
Potret pertama menampakkan gambar dirinya dan Naruto yang saling bertatapan. Telapak tangan Naruto menempel di dadanya. Tampak gadis itu sedang tersenyum pada pria di hadapannya. Sedangkan Sasuke tersenyum datar dan mata kelam itu terlihat teduh menatap sang gadis. Ya, sekilas memang seperti itu. Tapi jika diperhatikan itu bukan tatapan teduh melainkan tatapan sendu.
Potret kedua menampakkan mereka yang menoleh ke arah kamera. Wajah tersenyum Naruto masih tertangkap di sana sedangkan Sasuke menatap datar. Terlihat gambar potret itu memang seperti diambil secara sengaja.
Potret terakhir adalah potret Sasuke di mana ia mencium pipi Naruto di depan kamera dan wajah terkejut dari gadis pirang yang mendapat ciuman dadakan itu. Tiga potret kenang-kenangan yang tidak mungkin ia lupakan. Di mana sang gadis dalam potret itu bukan pasangan yg sesungguhnya untuknya.
Karena gadis itu akan menikah dengan pria lain. Bukan dirinya.
Sungguh ia telah melakukan sebuah kebohongan jika ia mengatakan akan memusnahkan foto itu. Foto yang di mana mereka terlihat seperti pasangan pengantin.
Diambilnya tiga foto itu dan ditatapnya sejenak di antara keremangan cahaya di kamarnya. Kemudian Sasuke menarik satu laci paling bawah di meja itu. Disimpannya foto itu di sana dan kembali menutupnya.
Biarlah ia yang tetap menyimpan kenangan itu.
Kenangan antara dirinya dan Naruto.
.
.
Hari ini angin berhembus kencang dan dingin. Mungkin karena musim panas yang sebentar lagi beralih ke musim gugur.
Naruto tampak sedang sibuk melakukan sesuatu di dalam kamarnya. Duduk di atas kursi dan mencatat sesuatu di atas meja di hadapannya. Ia sedang membuat daftar nama-nama orang yang akan ia undang ke acara pernikahannya besok.
Naruto.
Tsk!
Naruto menoleh ke arah balkon. Dilihatnya kincir angin yang ia pasang di balkon kamarnya terjatuh. Naruto beranjak dari tempat duduknya. Kemudian digesernya pintu yang terbuat dari kaca itu dan keluar menuju balkon. Diambilnya kincir angin itu, yang ternyata gagang kayu kincir angin itu patah.
Untuk beberapa saat Naruto hanya menatapnya dalam diam. Dibiarkannya angin yang berhembus kencang itu mengacak-ngacak rambut pirangnya. Tak peduli dengan keadaannya yang hanya mengenakan kaos hitam yang berlengan pendek dan celana pendek di atas lututnya. Padahal angin berhembus dingin sekitarnya.
Entah kenapa perasaannya menjadi tidak enak.
Kincir angin itu adalah pemberian kekasihnya. Saat pemuda berambut nanas itu menyatakan perasaan cinta kepadanya.
Naruto memejamkan kedua matanya. Dipegang erat-erat kincing angin yang patah itu di depan dadanya.
"Semoga semuanya baik-baik saja," bisiknya pelan bersama rembusan angin yang menerbangkan beberapa helai daun dari pohonnya. Menerbangkan sebuah harapan kecil agar permohonannya terkabulkan.
.
TBC
.
.
Fuuh … akhirnya Yan biasa nyelesain chapter 7. Yo! bagaimana dengan SasuNaru-nya di chapter ini?
apa bagus? jelek? tidak seru? hoh, Yan memang bukan author yang bisa diharapkan T.T *pundung*
Gomen update telat yaw *pasang wajah tak berdosa*
Oke! special's thanks to : kanon1010, CcloveRuki, Ren-Mi3 NoVantA, Superol, Natsume Yuka, icha22madhen, Cassie Disandi, kyu's neli-chan, Maira Kanzaki, kyuki-uchicha, Yuna Claire Vessalius Kusanagi, shiho Nakahara, PrincessChiken,
Namikaze Trisha : Yo, ceritanya Naru lagi sebel ma Sasu dan lagi kesemsem ma Shika. Ya, jadi gitu deh #plak XD
Yan udh tegaskan di sebelum-sebelumnya end-nya SasuNaru.
naru3 : Iya, sekarang di chap ini perasaan Sasu sudah diperjelas. HUWEEE … kenapa Shika juga diusir? Sakura ma Karin aja tuh! *dikeroyok rame-rame*
shia naru : Hehe … untuk saat ini SasuNaru dulu yaw^^
Meg chan : Hoho … kayaknya kamu udah bisa nebak nih chap depan bakal terjadi apa.^^
Oxygen : Aduh jangan nangis darah dong. nanti kamu bisa mati kehabisan darah dan yang penting kamu gak bisa review lagi. Huuuuuu… *disorakin rame-rame*
bacadoang : Siap bos! Yan emang lagi seneng-senengnya update fic ini. Ini berkat kalian juga yang memberikan respon positif dari kalian semua. *nangis terharu*
silentreader : Aduh … Suka SasuHina ya? Haha … kita liat aja nanti *smirk*
X : Tenang aja ini pair SasuNaru kok. di sebelum-sebelumnya Yan udah ngasih tahu kalau fic ini bakal end SasuNaru. makanya Yan minta maaf yang udah berharap dengan end ShikaNaru. tapi Yan merasa mereka tidak akan keberatan kok karena mereka itu juga fans SasuNaru. Hoho … ini karena ulah author yang seenaknya menebar virus ShikaNaru. jadi pada sama ShikaNaru deh XD *ditabok*
Itachi no koibito : Haha … *cengengesan* bagaimana ya? Yan kan udah kasih tahu sebelumnya. sepertinya end-nya gak bisa ShikaNaru *garuk-garuk kepala* bingung sih banyak juga yang minta end ShikaNaru. tapi mau bagaimana lai Yan udh buat konsep ceritanya dari awal. kalo dirubah? err … gak tahu deh kya gimana hasilnya.
Reigo : Hehe … *cuma bisa nyengir*
Rey Ai3rien : Hehe … disini udah ada kemajuan kan hubungan SasuNaru-nya?
baka nesia chan : Hoho … thanks. kenapa gak Gaara? Oh, pertama Yan mikir mau buat fic ini pake Gaara kok. tapi karena Gaara seorang Kazekage terus gak bakalan bisa lama-lama Naru. Dan Yan juga gak bisa bikin Gaara bolak-balik Suna-Konoha. Kan kasian Gaara capek. jadi mangkir aja ma Shika lebih praktis dan tidak merepotkan *digetok*
Atsukhi : Hehe … Sasu-Teme udah bikin Yan menderita tuh. *nunjuk chap yang di atas tentang Sasu yang penuh penderitaan* #plakplakplak
Yo! Thanks semuanya. sepertinya dengan meluncurnya chapter terbaru (?) kali ini kalian sudah biasa menebak apa yang terjadi di chapter depan.
selanjutnya Yan butuh reviewnya.
silahkan menyumbang (?)
Review Please …
