PUZZLE
Pair : WonKyu, HaeBum, HanChul
Genre : Romance, family
Disclaimer : All is belong to God, Super Junior belong to Elf except Yesung for me #plak
Warning : miss typos, OOC, YAOI (Except Heechul female), fast chennel, bad language, etc.
.
.
::[]::
PUZZLE
By JojoHye
::[]::
.
.
"Ngh..." Kyuhyun melenguh pelan, rasa sakit di sekujur tubuhnya selalu saja membuatnya meringis kesakitan. Bahkan ia tidak berani berbaring dengan posisi terlentang karena pasti luka cambukan itu akan semakin pedih.
Cklek...
Sesosok yeoja muncul dari pintu kamarnya. Tubuhnya yang ramping itu menyelip dari pintu yang sengaja tidak dibuka lebar. Ia berjalan ditengah gelap, menuju ranjang dimana Kyuhyun tengah terlelap. Sebuah kotak obat tergantung di tangan kanannya.
"Hm... kau, anak nakal," ujarnya sembari menyibakkan kaos yang dikenakan Kyuhyun. Pelan-pelan ia mengoleskan krim anti infeksi pada punggung Kyuhyun, agar namja itu tak merasakan perih.
'Umma...' Sensasi dingin di punggungnya membuat Kyuhyun terbangun dari tidur. Tangan lembut itu, suara halus itu...
Umma...
"Kenapa kau bisa senakal ini Kyuhyun-ah?"
Benar, itu suara ummanya, Heechul. Apa ini nyata? Ummanya sedang mengobati punggungnya yang terluka. Yeoja brengsek itu, kenapa bisa jadi sebaik ini? Terus terang saja ini juga membuat luka di hatinya sedikit terobati.
"Tahan sedikit Kyu-ah, ini akan sedikit sakit." Heechul –yeoja itu- meneteskan obat merah pada luka Kyuhyun yang berdarah. Kyuhyun yang sudah sadar sepenuhnya dari tidur menahan tangis haru dan perih itu dengan menggigit bibir bawahnya. Berpura-pura terpejam agar Heechul tak tahu jika ia sudah bangun. Masih ingin menikmati sentuhan lembut ummanya.
"Selesai... Tidurlah yang nyenyak Kyu-ah." Setelah semua luka punggung Kyuhyun sudah diobatinya, Heechul beranjak keluar. Sejak tadi ia juga bingung kenapa ada niat untuk menengok Kyuhyun dan mengobati luka 'anak tiri'nya itu. Tapi... biar saja, toh ini tidak merugikan.
.
.
::[]::
.
.
Mulai pagi yang baru. Sejak tragedi 'Malam Hukuman' itu, baik Kibum maupun Kyuhyun sama sekali tak saling menyapa, padahal ini sudah satu minggu. Betah sekali mereka, kakak beradik yang harusnya saling bergurau atau bertengkar satu sama lain hanya sesekali melempar pandang dengan tatapan datar. Baiklah, baiklah, terserah kalian saja, tahanlah rasa rindu yang sebenarnya bergemuruh di hati kalian meminta untuk segera diluapkan itu.
"Umma, aku berangkat dulu...," pamit Kibum kepada Heechul setelah menghabiskan makanannya.
"Ne, hati-hati Kibummie...," ucap Heechul sembari memberikan sebuah kecupan di pipi anaknya itu. Tak menyadari ada sebuah tatapan iri yang sejak tadi sengaja disembunyikan Kyuhyun yang duduk di seberang meja. Tatapan yang sebenarnya meminta sebuah permohonan. Permohonan untuk mendapatkan kecupan penuh sayang yang sama.
'Umma...'
Bagaimanapun juga Kyuhyun hanya seorang anak nakal kesepian yang merindukan ummanya. Sebesar apapun gengsi dan dendam yang berbekas di hatinya, tetap saja ia mengharapkan ummanya meski hanya sekedar untuk mengusap kepalanya lembut seperti dulu. Ia merindukan bagaimana Heechul memeluknya, bagaimana Heechul menepuk-nepuk tubuhnya sebelum ia tidur, Heechul yang selalu menyanyikan lagu selamat tidur untuknya walaupun suara ummanya tak terlalu indah, tapi Kyuhyun suka itu. Kerinduan yang minggu lalu sedikit berkurang saat Heechul datang ke kamarnya untuk mengobati lukanya. Kyuhyun tersenyum simpul mengingat Heechul mengobati lukanya malam itu, meski punggungnya terasa sangat sakit namun berkat Heechul itu menjadi luka terindah untuknya.
SHIITTT...
'AKU BENCI KIM HEECHUL...'
Kembali lagi namja itu pada sosok angkuhnya. Kyuhyun yang pendendam. Kemana perginya malaikat yang tadi sempat hinggap di bahunya yang sempat memunculkan sosok asli Tan Kyuhyun dahulu?
"Kyuhyun-ah, kau tidak menghabiskan sarapanmu lagi! Aish anak itu...," gerutu Heechul., sementara 'anak tiri'nya melengos tanpa pamit dan sopan santun.
.
.
Hari yang melelahkan bagi Kyuhyun karena begitu banyak tugas hari ini. Luka punggungnya yang masih sedikit perih seperti melengkapi penderitaannya hari ini. Songsae menyebalkan! Kenapa memberi tugas sebanyak itu? Apalagi seharian ini ia harus berada di dalam kelas bersama namja itu.
Ia menyusuri koridor menuju kelas XII Sains. Mungkin bertemu Siwon akan membuatnya sedikit terhibur, benar tidak?
Belum sampai pada tujuannya, langkah kakinya terhenti di depan kamar mandi sekolah dekat kolam renang. Kyuhyun yang sempat mendengar suara desahan di tengah heningnya kamar mandi itu segera masuk untuk memeriksa keadaan di dalam.
"Ngh..." Suara desahan itu terdengar lagi.
Di dalam sini tidak ada siapapun, tapi kenapa ada suara desahan? Akhirnya Kyuhyun memperjauh langkahnya masuk.
DEG
'Si...Siwon hyung? Bummie hyung?'
Disana, ada sebuah pemandangan yang menyakitkan. Namja berambut ikal itu menemukan dua sosok manusia yang saling beradu lidah di sudut ruang kamar mandi paling ujung. Astaga... mereka bercumbu di sekolah?! Dua sosok itu, Siwon dan Kibum. Mereka, berciuman?
Beberapa menit dua orang itu tak menyadari kehadiran Kyuhyun. Tak sadar betapa hati Kyuhyun seperti dihantam badai. Tak tahukah mereka jika hal yang mereka lakukan itu menambah luka baru di hati Kyuhyun sementara luka lama yang perlahan mulai sembuh namun kembali berdarah.
"Siwonnie hyung, saranghae, jeongmal, aku masih mencintaimu," kata Kibum.
Ini telenovela menarik.
"Bisakah kau kembali padaku?" Kibum yang baru saja melepaskan ciumannya menatap Siwon penuh harap.
'Kembali padaku?'
"Tapi... Bummie, kau tahu'kan aku..."
"Ne, kau namjachingu dongsaengku. Aku salah, aku tahu itu, hyung. Tapi ada sesuatu di hatiku yang sungguh tak bisa melepasmu."
'Melepasmu?'
"Terlambat Kibummie. Kenapa dulu dengan mudahnya kau membiarkanku pergi? Kenapa tidak mengatakan ini dari dulu?"
'Dulu?'
"Khh..." Kyuhyun terkekeh lirih membuat dua orang itu akhirnya tersadar bahwa ada sosok lain.
"Kyu...Kyunnie?"
"Whonnie hung, Bhummie hung..." Namja itu menatap tajam sebelum akhirnya tatapannya berubah sangat lembut dalam waktu sekejap, seolah tidak terjadi apapun.
"Kyunnie, kami..."
"Hwaenhahaho..." ( Gwaenchanayo... ). Kyuhyun menarik napas, "Haheun ahhaho..." ( Naneun arrayo..."
GREP. Secepatnya Siwon berlari kemudian mendekap tubuh sang kekasih yang baru saja dilukainya. "Mianhae Kyunnie-ah."
"Hwaenhaha, huhup hahan hinghalhan ahu." ( Gwaenchana, cukup jangan tinggalkan aku. )
" Ne arraseo." Siwon memeluk Kyuhyun semakin erat. Sementara Kibum terdiam. Menyesal, merasa bersalah, kecewa, iri, sesak, semuanya campur aduk.
"Hung..." ( Hyung... )
"Ne?"
"Hehashan ahu. Ahu hahus herhi hehentar." ( Lepaskan aku. Aku harus pergi sebentar. )
.
.
'Tidak apa-apa, tidak apa-apa Kyuhyun-ah, gwaechanayo. Uljima, uljima, Kyuhyun-ah, semuanya baik saja. Bukankah kau pernah mengalami yang lebih dari ini?'
.Donghae POV
Aku melihatnya kembali menangis dalam diam. Namja angkuh itu lagi-lagi terluka. Setelah aku, kini Siwon menyakitinya. Padahal aku mengira ia akan bahagia dengan kakak kelas yang kemarin baru aku tahu mengenai sosoknya itu.
Nyatanya tidak.
Aku melihat kejadian di kamar mandi sekolah itu. Siwon dengan Kibum hyung bercumbu di depan Kyuhyun. Dan dengan sangat tidak aku sangka, Kyuhyun justru tersenyum lembut, berkata, 'Hwaenhahaho...' Aish, aku yakin kalimat itu artinya 'Gwaechanayo...' Benar tidak apa-apa? Tapi kenapa sekarang ia menangis? Bohong, ia pasti terluka. Kakaknya bercumbu dengan kekasihnya sendiri. Sekarang ia pasti sudah tahu semuanya. Tentang Siwon dan Kibum hyung dulu.
Namja itu memukul-mukul dadanya, aku tahu ia merasa sesak. Apa sesakit itu Kyuhyun-ah? Apa kau terluka parah? Apa yang harus kulakukan untukmu? Aku takut keberadaanku membuatmu makin menangis. Aku ingin mengobati sakit itu, setidaknya agar tidak makin dalam. Tapi bagaimana bisa, jika aku saja membuatmu membenciku.
Namja bodoh! Tidak berguna! Lee Donghae babboya!.
.Donghae POV End
.
.
Malam yang hening di kediaman keluarga Tan. Sang kepala keluarga, Tan Hangeng, sedang berada di Jepang, sang nyonya besar yang entah pergi kemana, dan dua tuan muda yang berdiam diri di kamar masing-masing. Bosan sebenarnya menceritakan keadaan rumah ini yang selalu saja sepi.
Kyuhyun, sang tuan muda bungsu membaringkan tubuhnya yang benar-benar letih hari ini di ranjang empuknya. Lampu kamarnya sengaja dibiarkan agak redup, cukup menambah suasana menjadi tenang. Nyaman... Setidaknya tubuhnya terasa sedikit ringan. Seharian ini ia sudah cukup lelah menangis.
"Kyu-ah, kau di dalam? Boleh hyung masuk?" Suara Kibum terdengar dari luar pintu kamarnya. Mau apa sih? Tidak tahu'kah jika sekarang Kyuhyun benar-benar tak ingin melihat wajahnya?
"He, hung..." ( Ne, hyung... ) Babbo, harusnya kau menolak, Tan Kyuhyun. Sekarang apa kau bisa menghadapi situasi ini? Kau yang sebenarnya tidak ingin sama sekali bertatap muka dengannya malah membiarkan dia masuk ke dalam kamarmu.
"Kau sedang tidur?" Namja itu menghampiri dongsaengnya, mendudukan diri di tepi ranjang.
"Ahiho...," ( Aniyo... ) jawab Kyuhyun dingin.
Hening... Mereka larut dalam diam.
"Kyu... Kyu-ah, mianhaeyo..." Kibum membaringkan dirinya di samping Kyuhyun, lalu memeluk adiknya itu penuh rasa bersalah.
"Herhenhihah hehinha haaf, hung." ( Berhentilah meminta maaf, hyung. )
"Kyunnie..."
"Ahu hak aha." ( Aku tak apa. )
"Aniyo... hiks mianhae Kyunnie-ah, jeongmal, jeongmal mianhaeyo..." Perlahan Kibum mulai terisak, menangisi kebodohannya. Ia menyesal, sungguh menyesal.
"Huhahhah hung, huhanhah ahu hang hehahusha hehinha haaf? Ahu hang hehah hehehutha hahihu..." ( Sudahlah hyung, bukankah aku yang seharusnya meminta maaf? Aku yang telah merebutnya darimu. )
DEG
"Kyu..."
"Hung... hulu ahalah hahahihu Hiwon hung, ahu hehar'han?" ( Hyung... dulu adalah namjachingu Siwon hyung, aku benar'kan? ) Dekapan itu merenggang seiring kalimat yang begitu menusuk.
"Kyuhyun-ah, hyung minta maaf, sungguh."
"Ahhaheo... Hahi ahu hohon, hia hahahihuhu hehahang hahi hehashan hia, hehal." ( Arraseo... Tapi aku mohon, dia namjachinguku sekarang jadi lepaskan dia, jebal. ) Kyuhyun bangkit dari ranjang diikuti Kibum yang kini hanya mampu duduk terdiam dengan tatapan kosong. Ia tak tahu harus mengatakan apa lagi. Ingin rasanya ia melepas Siwon bersama Kyuhyun. Tapi, separuh hatinya masih meneriakan nama Siwon untuk tetap bersamanya.
"Aha ahu hahus hehahah hahi?" ( Apa aku harus mengalah lagi? )
DEG
"Apa maksudmu Kyu-ah?"
Melihat ekspresi kaget Kibum, malah membuat Kyuhyun terkekeh. "Hhh, aha hung huha? Hau herhi hehan uhfa, hehinghahhalnhu. Hau huha?" ( Hhh, apa hyung lupa? Aku harus mengalah saat kau pergi dengan umma, meninggalkanku. Kau lupa? )
DEG
"Herhenhilah heahan-ahan hau hahu hehihatha." ( Berhentilah seakan-akan kau baru mengingatnya. )
"..."
"Ahu, ahu hiha haha hehahah haha hakhu ihu, hau, HEHEHUT UHFA HAHIHU!" ( Aku, aku bisa saja mengalah waktu itu, kau, MEREBUT UMMA DARIKU! )
PLAK. Satu tamparan keras mendarat di pipi Kyuhyun. Tapi justru membuatnya terkekeh makin keras.
"Mworago?! Apa yang kau maksud?"
"Hau han uhfa ahalah hahuhia hiha. Hehinghalhan ahak hang hahhan hahih hehil, hehuang ahak hihu hehehihu. Hahhan hehan hihak ahan hehahuhanha." ( Kau dan umma adalah manusia hina. Meninggalkan anak yang bahkan masih kecil, membuang anak bisu sepertiku. Bahkan hewan tidak melakukannya. )
"..."
"Ahu hehahah hahahu. Hau huha hehah hehehut aa, hehahfil hehua hang ahu hihihi. Aha hehahang hau huha ahan hehehut Hiwon hung?" ( Aku mengalah padamu. Kau juga telah merebut appa, mengambil semua yang aku miliki. Apa sekarang kau juga akan merebut Siwon hyung? ) Air mata mulai tergenang di pelupuk matanya, Kyuhyun yang masih mencoba menahan tangis.
"Kau tidak tahu yang terjadi sebenarnya Kyunnie. Sungguh, hyung tidak bermaksud begitu padamu."
"Hiam! Hau hehehfis!" ( Diam! Kau pengemis! )
"Mianhaeyo Kyunnie, mianhae..." Meski hatinya sakit dianggap sebagai pengemis, Kibum tahu ia memang salah.
"AHU HENHI HAHIAN!" ( AKU BENCI KALIAN! )
"HENGHEK!" ( BRENGSEK! )
"ARRGGGHHHHH...! HAHIAN HENGHEK! Hiks, hiks..." ( ARRGGGHHHHH...! KALIAN BRENGSEK...! Hiks, hiks... ) Namja itu menjerit keras, Kyuhyun yang akhirnya meluapkan kemarahannya selama ini. Menjambak keras rambutnya sendiri sambil terduduk di lantai.
"Mianhae..." Sang kakak hanya berdiri terdiam disana. Kesalahan besar pernah dilakukannya dulu. Ia telah membuat sebuah luka besar dalam hati dongsaengnya. "Mianhae Kyu, mianhae, hiks... hiks..."
"HIAM HAU!" ( DIAM KAU! )
"Mianhae...," lirih Kibum.
"Hau hihak herhak hehangis, HIM HIBUM! Hehahi hahi hau hihaha ahan huhohek huhuthu!" ( Kau tidak berhak menangis, KIM KIBUM! Sekali lagi kau bicara akan kurobek mulutmu! )
"Mianhae Ky...Kyunnie... Hyung minta maaf..." Kibum berlari memeluk adiknya, meski tolakan keras didapatnya. Kyuhyun beberapa kali menepisnya namun ia tetap berusaha mendekap sang adik.
"Hiks, hiks, hahian hahat!" ( Hiks, hiks, kalian jahat! )
"Aniyo Kyuhyunie, bukan seperti itu. kami menyayangimu!"
"AISH, HERHI HAHIHU! HERHI!" ( AISH, PERGI DARIKU! PERGI! )
"Aniyo..."
"HERHI!" ( Pergi! )
"Aniy..."
BRAK
"Bhu... Bhummie hung..." ( Bu... Bummie hyung... )
Kyuhyun terpaku. Ia baru saja melemparkan tubuh Kibum dengan sangat keras hingga menabrak meja nakas di samping ranjangnya. Kakaknya kini tergeletak dengan keadaan yang mengenaskan. Kepalanya berdarah.
"Hung...hungie..." ( Hyung... hyungie... )
"Umma sudah pulang... Kibummie, Kyuhyun-ah kalian dimana?" Itu suara Heechul, bagaimana ini?
CKLEK
"Kyuhy... KIBUMMIE!" Yeoja paruh baya itu menjerit begitu membuka pintu kamar sang anak bungsu, tatkala dilihat anaknya dalam keadaan terkapar di lantai dengan kepala berdarah. Tak dipedulikannya anak yang lain yang tengah dalam syok.
"Kibummie, apa yang terjadi? Bangunlah Kibummie, ini umma..." Segera ia mendekap tubuh anaknya, membawa ke pangkuannya. "Bummie-ah, bangunlah chagi..."
.
.
"Uisa, bagaimana keadaan anak saya? Apa dia baik-baik saja? Apa terjadi sesuatu yang parah?" Dokter baru saja keluar dari ruang ICU ketika Heechul memberondonginya dengan berbagai pertanyaan.
"Ne Nyonya, putra anda dalam masa kritis, ia mengalami pendarahan di kepalanya.," jelas sang uisa sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan Heechul.
"Mwo? Bagaimana ini? Kibummie...," kata Heechul panik. Ia mendudukan dirinya di kursi guna sedikit meredam kekhawatirannya, namun tiba-tiba ponselnya bergetar. Begitu melihat siapa nama penelpon yang tertera pada layarnya, ia menghembuskan nafas lega. Itu telepon dari suaminya.
"Yeobeoseyo, Hannie..."
"Heechulie, apa yang terjadi pada Kibum?"
"Dia kritis Hannie, hiks, hiks. Saat aku pulang, dia sudah tergeletak di kamar Kyuhyun. Aku yakin mereka bertengkar."
"Jangan menangis Heechullie, aku sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Untung aku pulang hari ini, sekarang aku sudah sampai di Seoul. Tenanglah..."
"Arraseo..."
Heechul menutup teleponnya kemudian menghela napas parau. Ia sudah terlalu munafik pada suaminya yang berhati malaikat itu. Ia membohongi laki-laki yang begitu bersahaja, bijaksana, adil, menyayangi anaknya dengan sepenuh hati, dan percaya sepenuhnya pada dirinya yang adalah manusia busuk dan jahat. Bertahun-tahun ia menghianati laki-laki itu dengan begitu banyak dusta. Tapi, penipu seperti dirinya justru mendapatkan orang sebaik ini.
"Mianhae yeobbo..."
.
.
'Bu... Bummie hyung...' Kyuhyun masih terpaku di dalam kamarnya. Tak sedikitpun ia berubah posisi selama tiga jam. Masih dalam keadaan tercengang.
Ia telah melukai kakaknya.
"Hiks, hiks... Bhummie hung..." Buliran bening mulai meleleh melintasi kedua pipinya. Penuh rasa bersalah dan penyesalan. Ia hanya mampu menangis menatap bercak darah di lantai kamarnya. Tubuhnya bergetar hebat seiring isakan keras yang makin terdengar.
"Ahu hihak hehaha hung, hianhaeho..." ( Aku tidak sengaja hyung, mianhaeyo... ) Namja itu terus menangis sampai di rasakannya bahunya ditepuk-tepuk pelan oleh seseorang seolah menenangkannya.
"Uljima Kyuhyunnie..." Ia menoleh ke arah belakang punggungnya, menemukan sosok yang tak asing lagi bagi penglihatannya.
"A... aa... Hanghin aa..." ( A... appa... Kangin appa... ) Sosok itu... sosok yang begitu dirindukannya selama bertahun-tahun. "Aa... hohohihohho..." ( Appa, bogoshipoyo... )
Sosok itu tersenyum lembut sembari membelai kepala namja yang tiba-tiba mendekapnya sangat erat itu. Anaknya sudah besar sekarang. Tubuh yang bergetar sangat hebat, sementara air mata terus mengalir, sepertinya begitu ketakutan.
"Aa hehaha haha? Ahu hehinhuhan aa, hiks. Hahahfhan Hyunnie aa, Hyunnie hihak hehaha, Bhummie hung..." ( Appa kemana saja? Aku merindukan appa, hiks. Maafkan Kyunnie appa, Kyunnie tidak sengaja, Bummie hyung... )
"Ne, appa arraseo. Tidak apa-apa, appa tahu kau tidak sengaja." Lagi-lagi sosok itu tersenyum di tengah ketakutan Kyuhyun sembari menepuk-nepuk bahu anak di pelukannya ini.
"Hahi ahu hahut aa..." ( Tapi aku takut appa... ) Kyuhyun makin menangis. "Hahaihana hiha hehuatu herhahi haha Bhummie hung?" ( Bagaimana jika sesuatu terjadi pada Bummie hyung? )
"Ani, semua akan baik-baik saja. Kyunnie percaya pada appa..."
Namja kecil ini sudah besar, tapi kenapa masih sering menangis? Bukankah dulu anak ini adalah anak paling ceria di keluarganya. Namja kecil yang sering tertawa riang saat ummanya masih mengomel, namja kecil yang menjahili kakaknya yang sedang tertidur, namja kecil yang sering merusuh saat appanya tengah bekerja. Namja yang sama dalam kondisi yang berbeda.
Kyunnie kecil appa...
'Bagaimana kabarmu tanpa appa? Apa kau bosan dan kesepian? Apa tak ada lagi yang bermain petak umpet denganmu? Lalu, kemana permainan puzzle yang appa berikan? Apa sudah menyelesaikannya?'
'Ne sangat bosan. Puzzle itu belum Kyunnie selesaikan appa, Kyunnie sulit menyatukannya, semuanya terlihat tidak cocok. Bummie hyung pergi, tidak membantu Kyunnie... Umma juga pergi. Kenapa appa tidak membantu Kyunnie? Kyunnie takut disini sendirian.'
'Haha, anak appa ini, manja sekali. Apa Bummie hyung nakal padamu?'
'Ne, dia mengambil mainanku, appa...'
'Benarkah? Ya sudah, nanti appa akan memberikan yang lebih bagus untukmu. Lalu bagaimana umma?'
'Umma jadi sering mengomel, tapi umma masih cantik. Appa merindukan umma?'
'Eoh? Tentu saja.'
'Appa...'
"Ne?'
'Jangan pergi lagi.'
'Apa Kyunnie sangat merindukan appa?'
'Ne, Kyunnie ingin tidur bersama appa setiap hari seperti dulu. Umma dan Bummie hyung sering pergi sekarang. Kyunnie takut tidur sendiri di kamar.'
'Ah~ anak appa ini... Arraseo, Kyunnie tidur sekarang. Bukankah sekarang appa sudah ada disini?'
'Aniyo... Kalau Kyunnie tidur sekarang, pasti appa akan pergi lagi.'
'Andwae, appa akan memeluk Kyunnie terus.'
'Baiklah... Nyanyikan lagu untu Kyunnie...'
Ia mulai memejamkan matanya seiring lagu selamat malam yang dinyanyikan sang appa. Suara appa yang sangat ia rindukan.
Ddrt... ddrt...
One missed call : Siwon hyung
Kyuhyun membuka matanya, ia tertidur di lantai yang dingin. Ia tak menemukan siapapun di sampingnya. Dimana appanya? Tadi ia sangat yakin appanya disini memeluknya saat tidur.
"Aa... ehiho?" ( Appa... eodiseo? )
Tak ada siapapun.
"AA... EHIHO?" ( APPA... EODISEO? )
Raut wajahnya berubah kecewa saat tak seorangpun ia temukan. Hatinya remuk, kembali sakit. Lagi-lagi ia dibohongi.
'Appa eodiga? Bukankah appa janji tidak akan pergi lagi? Bukankah appa sudah janji menemaniku tidur? Appa... bohong lagi padaku.' Air mata meluncur begitu saja dari pelupuk matanya, ia sendirian lagi.
Ddrt... ddrt...
Pandangannya teralih pada ponsel yang tergeletak di sampingnya. Melihat nama Siwon yang menelponnya, segera ia tekan tombol hijau untuk menjawab panggilan.
"Heobb..." ( Yeobb... ) Baru saja ia akan mengucapkan salam, suara di seberang telepon langsung memotong kalimatnya.
"Kyunnie-ah, kenapa tidak pergi ke rumah sakit?"
Rumah sakit... Ah iya, Kibum!
"He hung, ahu hehang hahahf herhahahan." ( Ne hyung, aku sedang dalam perjalanan. )
"Baiklah, palli!"
Ish, Kyuhyun merutuki dirinya. Sempat-sempatnya ia tertidur sementara kakaknya sedang berada di rumah sakit akibat perbuatannya. Segera ia mengambil sepeda dan meluncur menuju Rumah Sakit Seoul, ia yakin Kibum dibawa ke rumah sakit itu.
.
.
Kyuhyun memasuki rumah sakit dengan langkah tergesa. Setelah mendapat informasi dari resepsionis, ia segera menaiki lift menuju ruang rawat kakaknya. Menelusuri koridor dengan langkah yang masih tergesa-gesa dan wajah panik yang berlebihan.
Dilihatnya Heechul baru keluar dari sebuah kamar. Ia berlari menghampiri ummanya.
"Uhfa..." ( Umma... )
PLAK
"Mwoya? Apa yang kau lakukan pada hyung-mu? Kau ingin membunuhnya?" Setelah sebuah tamparan ia layangkan pada sang anak, Heechul menghujani 'anak tiri'nya itu dengan berbagai cercaan.
"U... u..."
"Jangan panggil aku umma! Aku bukan umma-mu, umma-mu sudah mati!"
DEG
Kyuhyun tercengang akan kalimat itu. Bukan umma-mu? Umma-mu sudah mati? Bukankah jelas-jelas yang berada di hadapannya ini adalah ummanya sendiri?
"YEOBBO..." Tiba-tiba teriakan dari sebuah lorong terdengar, suara Hangeng.
"Hannie, cepat sekali kau pulang." Heechul langsung menghampiri suaminya. Wajah yang menggambarkan kemurkaan kini berubah layaknya malaikat. Inikah sosok sebenarnya seorang KIM HEECHUL? Sosok dengan dua topeng?
"Ah, ne, bagaimana keadaan Kibum?"
"Dia sudah melewati masa kritis."
"Syukurlah. Mianhae aku terlalu lama di Jepang." Hangeng merangkul tubuh istrinya, mungkin mencoba menenangkannya. Ia lupa ada sosok lain yang terabaikan. Namja yang masih berdiri diam, menundukan kepalanya dan mengepalkan tangannya kuat-kuat. Marah dan merasa sangat kecewa.
CKLEK
"Ahjumma..." Siwon muncul dari dalam kamar rawat Kibum. Ia yang baru saja menjenguk mantan namjachingunya menemukan beberapa orang telah berdiri di depan pintu ruangan itu. Heechul, Kyuhyun, dan...
'Hangeng ahjussi?'
"Ah, ne Siwonnie, ada apa?" Heechul melepas pelukan suaminya saat Siwon tiba-tiba muncul dari balik pintu.
"..." Siwon masih menatap sosok Hangeng.
"Siwonnie?" Melihat tingkah aneh Siwon yang terus saja menatap Hangeng, Heechul akhirnya mengerti jika Siwon sama sekali belum mengenal suaminya itu.
"Ah, ini suami ahjumma, Kibum appa. Hannie, ini Siwonnie, dia mantan namjachingu Kibum dulu sewaktu SMP."
'Jadi benar kau namjachingu Bummie hyung dulu, Wonnie hyung?'
"Ah jeongmal?" Hangeng menatap Siwon dengan berbinar, ditepuk-tepuknya bahu namja itu.
"Ah, ne. Annyeong haseyo ahjussi..." Baru Siwon tersadar setelah Hangeng menepuk bahunya. Paman ini, apakah lupa dengannya?
"Kalau begitu kajja kita masuk jenguk Kibummie."
"Ne, ahjussi..." Tiga orang itu berlalu masuk, lupa pada Kyuhyun 'kah yang juga ada disana? Atau sengaja melupakan?
Kyuhyun yang sudah merasa terkucilkan makin menciut setelah Siwon menatapnya tajam dan sebuah kalimat penegasan dari sang appa, "Appa akan bicara padamu nanti Kyu-ah."
Sudah terpuruk makin terjatuh dalam. Kyuhyun berjalan lemas pergi dari kamar itu. Ia sudah yakin jika berada dalam kamar Kibum semua orang akan menganggapnya tidak ada. Ia tahu ini kesalahannya, Kyuhyun akan menerima segala perlakuan yang akan diberikan padanya. Tapi, yang ia tidak mengerti, mengapa Siwon menatapnya begitu tajam? Apa dia sudah tahu jika Kyuhyunlah yang membuat Kibum celaka? Jika begitu kenapa ia menelpon Kyuhyun setengah jam yang lalu dengan nada selembut biasanya?
.
.
Hangeng menatap anaknya yang terduduk lemas, seperti seorang terdakwa yang sedang disidang. "Kyuhyun-ah, sekarang appa akan mencoba tegas padamu. Ceritakan kejadian yang sesungguhnya pada appa."
"..."
"Kyu-ah, kau tak mendengar appa bicara?" Ia mulai naik darah.
"He aa, ahu henheharha." ( Ne appa, aku mendengarnya. ) Kyuhyun akhirnya mengangkat kepalanya setelah sejak tadi terus ditundukan. Ia menatap mata sang appa dalam.
"Apa kau bertengkar dengan hyungmu?"
"He..." ( Ne... )
"Lalu kenapa Kibum sampai bisa terluka seperti ini?"
"Hianhae aa, ahu hak hehaha hehuhai Bhummie hung. Hianhaeho." ( Mianhae appa, aku tak sengaja melukai Bummie hyung. Mianhaeyo. )
"Jadi kau benar yang melukainya?" Pertanyaan sang appa hanya dijawab dengan sebuah anggukan oleh Kyuhyun. "Hianhae..." ( Mianhae... )
"Bertengkar tentang masalah apa?" tanya Hangeng lagi.
Kyuhyun terdiam. Pertanyaan ini harus dijawab bagaimana? Ini menyangkut sebuah rahasia besar yang jika terbongkar mungkin akan sangat menyakiti hati appanya.
"Kyuhyun-ah?"
"..."
"Kau tahu, perusahaan kita sedang mengalami krisis. Appa harus berusaha keras menyelamatkannya. Tapi kenapa kau malah membuat keonaran seperti ini? Kau tidak menjawab, appa tidak akan berbicara padamu lagi."
DEG
Ani, Kyuhyun tidak ingin seperti itu. Cukup hatinya sudah terluka. Jika appanya tidalk berbicara padanya itu bagai sebuah petir di terik matahari.
"..." Keadaannya makin terjepit.
"Baik, itu maumu Kyuhyun-ah!"
Kyuhyun menatap kepergian appanya dengan hati yang mencelos dalam. Ia putuskan mengejar appanya yang berjalan mendekat ke pintu. Menarik kaki sang appa, berlutut meminta maaf, walau kejadian itu tak sengaja dilakukannya.
"Aa, hianhaeho... hiks, hiks..." ( Appa, mianhaeyo... )
Namun Hangeng hanya diam. Tarpaksa ia membiarkan anaknya itu menangis memohon maaf. Ini hukuman yang harus ia berikan atas perilaku keterlaluan Kyuhyun.
"AA!" ( APPA ! ) jerit Kyuhyun keras, sementara appanya melenggang pergi tanpa mempedulikannya. Ia kembali menangis untuk kesekian kalinya.
.
.
Kyuhyun berjalan keluar dari rumah sakit. Niatnya menjenguk Kibum dan meminta maaf dirasanya sia-sia. Appa dan ummanya pasti sedang ada bersama Kibum, mana mungkin mereka membiarkan ia menjenguk Kibum. Ia juga masih mempunyai sedikit rasa malu, walaupun ia menemani Kibum disana tetap saja ia pasti akan dianggap tidak ada. Lebih baik menghilang lebih dahulu hingga keadaan membaik.
Langkahnya terhenti saat tiba-tiba ada seseorang yang berhenti tepat dihadapannya. Kyuhyun yang sejak awal berjalan hanya menatap ke arah tanah kini mendongakan kepalanya guna melihat siapa yang menghalanginya.
"Whonnie hung?" ( Wonnie hyung? ) Ada seberkas rasa senang ketika yang dilihatnya kini adalah sosok yang sangat dibutuhkannya, dimana ia bisa bersandar. Lupakah ia bagaimana sosok itu menatapnya tajam beberapa waktu yang lalu?
Kyuhyun menghamburkan tubuhnya memeluk orang itu –Siwon-, menyamankan posisinya hingga mendapatkan kehangatan di antara rasa perih hatinya. Namun yang didapatnya hanyalah sebuah dekapan tanpa balasan.
"Lepaskan."
.
.
::[]::
TBC
::[]::
.
.
Yeah, sengaja bikin agak panjang. Kenapa yang kepikiran ini ff pair-nya jadi HaeKyu ya? Mau dibikin HaeKyu apa WonKyu ya? Menurut readers gimana?
Beberapa scene terinspirasi dari scene Cinderella's Stepsister, udah author bilang dari awal ff ini memang terinspirasi dari drama itu. Mian kalo kurang nyesek, bahasa berantakan, terus up date kelamaan kaya nungguin roda belakang nyusul roda depan sepeda.
Gomawo untuk yang sudah review... GOMAWO BANGET! JEONGMAL GOMAWO... ff ini gak mungkin dilanjut tanpa review kalian. Kalianlah semangatku untuk bikin ff. Sekali lagi gomawo...
Review please...
