.
FAKE LOVER
By Fujiwara Koharu
NARUTO belong to MASASHI KISHIMOTO
CHAPTER 7
.
SAKURA POV
Ku langkahkan kaki keluar dari fitting room setelah mengganti baju ku dengan gaun. Tubuhku kini terbalut gaun putih bersih sebatas dada. Bagian belakang lebih rendah dari bagian dada sehingga mengekspos bahu serta punggung ku dengan sempurna. Atasannya dilapisi kain warna beige yang didesain sangat elegan dan sisanya membentuk sebuah bunga tak terlalu besar ataupun kecil dibelakang pinggang. Dan entah seberapa panjang kain itu yang sisanya masih menyimpul sebuah pita besar dengan sisa dua ekor menjuntai panjang melebihi panjang gaun. Disekitar pinggang ke bawah dihiasi bunga-bunga kecil serta kupu-kupu dengan komposisi yang pas sehingga tak begitu menutupi gaun putih polos ku. Sungguh desain yang magnifico. Entah memang kepiawaian Dei-nii atau memang gaun ini sangat membuat ku terlihat seperti putri pengantin kerajaan. Di tambah riasan serta tatanan rambut elegan benar-benar terlihat sangat berkelas.
Aku benar-benar gugup sampai nafasku sedikit terputus-putus. Semoga semua berjalan lancar dan bisnis ini dapat berjalan sukses. Aku penasaran bagaimana penampilan Sasuke-kun nanti. Ia akan menjadi pendampingku sebagai pengantin pria. Sasuke-kun, kau lihat! Ini seperti apa yang kita impikan dulu. Dan janji itu...adalah janji milik kita. Aku sudah ingat semua sekarang. Lalu apa yang harus aku lakukan nanti? Harus kah aku memberitahunya tentang semua kebenaran kami? Ya! Aku sudah berjanji untuk memperjuangakannya.
CKLEK.
"Sakura kau su-" Dua makhluk yang kutahu sebagai penanggung jawab bisnis ini telah memasuki ruangan dengan seenaknya. Sasori-nii terkejut dan menghentikan perkataanya. Terkejut akan kecantikan adikmu ini? Hm, tentu saja.
"Kau...cantik sekali. Cih, sialan kau Deidara. Gaun ini benar-benar cocok saat kau pakai." See, i told you before!
"Pembawaan Sakura-chan juga sangat bagus. Terpancar aura kebahagiaan dan elegan yang menjadi satu. Ditambah wajah campuranmu itu, benar-benar sangat mendukung." Aku sungguh berharap tak ada yang membahas wajah blasteran ku. Apa bagusnya? Jika bisa aku lebih memilih asian face seutuhnya. 'Sigh' aku kembali menghela nafas.
"Tenanglah! Jangan terlalu gugup begitu. Kau sudah pernah ikut kelas modeling beberapa kali kan. Lakukanlah seperti biasa, kalau bisa bayangkan jika ini sungguhan. Jadi chemistry of marriage tetap terpancar. Kau mengerti?"
"Kau bicara seolah ini semua mudah. Ne, apa Sasuke-kun sudah datang?" Wajah kedua sahabat ini berubah keras seperti menahan amarah.
"Kau tahu, aku sudah menelpon nya puluhan kali tapi tidak di angkat. Aku juga sudah meminta akatsuki untuk mencarinya. Dia benar-benar keterlaluan. Apa dia ingin menghancurkan bisnis ini, hah? Adik sialan!"
Apa? Tak ada kabar dari Sasuke-kun? Kemana dia? Bukankah kemarin dia masih baik-baik saja? Dia bahkan sudah berjanji untuk berangkat bersama. Tapi acara sudah dimulai dan Sasuke-kun belum muncul. Apa mungki terjadi sesutau dengannya? Atau mungkin dia...tidak ingin melakukannya dengan ku?
"Tenanglah! Mungkin dia sedang terjebak macet. Kita tunggu saja sebentar lagi."
"Jika dalam sepuluh menit dia tidak muncul aku akan membunuhnya." Itachi kembali mengutak-atik ponsel gengamnya dan berjalan keluar ruangan. Sasori-nii memegang kedua pundakku, sepertinya dia berhasil melihat kegelisahanku.
.
"Jangan khawatir! Dia akan datang." Senyumnya selalu saja menenangkan ku. Aku mengangguk kecil.
"Oh ya. Aku lupa memberitahumu satu hal. Err...sebenarnya kedua keluarga sudah merencanakan pertunanganmu dengan Sasuke." He? Apa katanya tadi?
"I-ini hanya pertunangan Sakura. Kau bisa memutuskannya setelah saham kedua perusahaan stabil. Aku akan segera cari cara agar kerjasama ini tetap berjalan. Jadi tidak perlu khawatir! Kau tinggal menjalankan bagianmu saja okay! Lagipula Sasuke juga sudah menyetujuinya."
"Per-pertunangan? Oni~san~ kau benar-benar me-"
"A sepertinya aku harus membantu Itachi di depan. Tunggulah disini dengan manis ne, Imouto!"
Apa-apaan dia? Seenaknya memotong pembicaraanku dan pergi begitu saja. Dan apa tadi? Pertunangan? Mereka sekarang seperti malaikat yang menuliskan takdir hidupku. Seenaknya saja menyuruhku ini itu tanpa peduli perasaanku. Jujur, aku memang mengharap dapat bertunangan dengan Sasuke-kun atau mungkin sampai menikah. Tapi aku ingin melakukannya dengan perasaan yang sesungguhnya, hubungan nyata. Bukan status pura-pura seperti ini. Dan mengapa Sasuke-kun menyetujuinya? Apa dia benar-benar tidak masalah dengan rencana ini? Sasuke-kun cepatlah datang!
END OF SAKURA POV
.
Acara peresmian sudah setengah jalan dan sebentar lagi adalah acara inti dimana desain pengantin spesial akan muncul. Itachi masih mondar-mandir di fitting room. Tangannya masih tak lepas dari iphone 6 hitamnya. Gerakan Itachi tanpa sadar justru menambah kegugupan Sakura. Tak lama empat orang memasuki ruangan. Salah satunya membawa setelan pengantin pria yang masih rapi.
"Bagaimana? Sudah ketemu?" Sasori, Tenten dan Obito menggeleng. Wajah mereka nampak sangat kacau dan kelelahan.
"Itachi. Saranku lupakan Sasuke! Cari penggantinya dan segera selesaikan acaranya. Wartawan bahkan sudah banyak yang protes. Bukan hanya itu, para pemegang saham dan client terlihat sudah tidak ingin menunggu."
"Deidara benar Itachi. Kita sudah mengulur waktu sampai 30 menit lebih. Kalau tidak dilakukan sekarang, mungkin kita akan kehilangan client dan bisnis ini mungkin tak akan berhasil."
Itachi mendudukan dirinya di sofa putih disamping Sakura. Kedua tangannya menutupi seluruh wajahnya. Ia terdiam untuk menimang segala kemungkinan. Ia sudah berjanji pada keluarga juga perusahaannya bahwa dia tak akan kalah dari Shimura itu. Ia memang khawatir pada Sasuke, tapi untuk saat ini Itachi akan menyelamatkan perusahaannya terlebih dulu. Itachi kembali duduk tegap dan menatap setelan jas pengantin yang serba putih di tangan Deidara.
"Aku akan melakukannya." Semua orang tersentak mendengar keputusan Itachi. Itachi segera meraih setelan tersebut dan berjalan menuju ruang ganti.
"Ingatkan aku untuk menghajar adik bodoh itu nanti!"
.
Ballroom dengan tulisan 'New Launching UchiHaruno Wedding Organizer' di layar monitor besar sebagai latar panggung nampak begitu ramai. Ruangan tersebut dipenuhi para tamu undangan dari berbagai perusahaan baik client penanam sahan maupun client customer yang akan bersiap memakai jasa bisnis baru tersebut. Tak ketinggalan pula para paparazi yang bersiap menyebarkan berita besar ini dimana dua perusahaan besar akan bekerja sama. Acara peluncuran sudah dimulai dua setengah jam lalu. Namun tampaknya acara puncak belum juga dimulai. Terlihat dari wajah gelisah beberapa staf dan juga wajah mulai bosan dari para tamu. Protes para wartawan juga tak luput dari kebisingan acara ini.
Itachi berdiri dibelakang panggung. Tangan Sakura telah mengait erat di lengan kiri Itachi. Mungkin sedikit menyalurkan kegugupan. Mereka berdua terlihat seperti sepasang pengantin elegan dan berkelas dengan pakaian serba putih rancangan Deidara. Dibelakang mereka ada Sasori, Tenten, dan Deidara yang memberi semangat.
"Ojou. Ganbatte kudasai!" Sakura mengangguk namun wajahnya masih terlihat gugup. Mereka bersiap berjalan ke panggung setelah mendengar musik pengiring dari sound system.
"Sakura, bayangkan apapun yang ingin kau bayangkan. Asal itu merujuk kebahagiaan." Sakura menatap Itachi. Wajahnya sudah rileks dan terlihat senyum bahagia yang memancar. Sejenak Sakura terpesona dengan pasangan disampingnya. Entah mengapa senyum Itachi menyalur dan membuat Sakura ikut tersenyum.
.
Sakura dan Itachi berjalan di walking stage dengan penuh anggun dan berwibawa. Keduanya terlihat bak pasangan pangeran dan putri yang sedang menikah sungguhan. Kebahagiaan kedua mempelai terpancar hingga keseluruh ruangan. Suasana bahkan telihat sangat sakral dengan hanya terdengar lantunan musik pengiring. Semua mulut penonton diruangan itu terkunci, bahkan ada yang sampai menganga. Mata mereka hanya tertuju pada kedua sosok yang kini berjalan sampai diujung stage. Ketika pasangan tersebut berhenti, seolah tersadar semua blitz kamera mengarah pada fokus panggung untuk mengabadikan kedua sosok tersebut. Setelah beberapa kali bergaya kedua pasangan itu berbalik untuk berjalan meninggalkan panggung.
Itachi dan Sakura telah sampai dibelakang panggung. Masih belum terdengar suara lain selain musik pengirim.
"Apa aku melakukan kesalahan?" Tanya Sakura yang tengah bernafas tidak teratur. Beberapa detik kemudian terdengar sorakan meriah dari ballroom. Suara tepuk tangan serta pujian dari para penoton membuat Itachi dan Sakura terbengong.
"Itachi...kalian berhasil! Mereka menyukainya. Lihat! Banyak yang memberi suara untuk penanaman saham!" Sasori memperlihatkan tablet pc pada Itachi yang menunjukan grafik perolehan saham perusahaan.
"Awalnya memang banyak yang terkejut kau yang menjadi modelnya. Tapi selain ketertarikan rancangan Deidara, mereka menyukai kedua modelnya. Dan kau dengar sorakan tadi? Semuanya memberi standing applause. Benar-benar diluar dugaan."
Sasori lalu memeluk adiknya erat dan menciumi rambut adiknya. Ia benar-benar harus berterimakasih pada Sakura dan bersumpah akan mengabulkan apapun permintaan adiknya atas bantuannya hari ini.
"Arigatou Imouto-chan. Semua berkat mu. Aku benar-benar sayang padamu."
"Aku juga sayang padamu Nii-chan, tapi kau merusak rambutku." "Hehe. Gomen." Kami berhasil. Bagaimana jika tadi adalah Sasuke-kun? Apa kami akan tetap berhasil? Sasuke-kun kemana kau?
.
Acara telah selesai. Itachi, Sasori dan yang lainnya masih mengurus beberapa hal bersama para client mereka. Sakura berada di fitting room dan masih belum berniat untuk mengganti pakaiannya. Ia ingin menunggu Sasuke. Sakura ingin Sasuke melihatnya mengenakan gaun ini langsung. Ia ingin tahu pendapatnya. Sakura duduk di sofa putih dengan tenang. Meski begitu pikiran nya bercabang kemana-mana. Apa yang akan dia lakukan jika Sasuke datang? Bertanya kemana saja dia dan mengapa tidak datang di acara? Menanyakan pendapatnya mengenai gaun ini? Atau mengatakan jika ia telah mengingat semuanya. Semua masa lalu mereka ketika kecil.
BRAKK.
"Sasuke-kun!" Ditengah lamunannya Sakura dikagetkan oleh kedatangan Sasuke yang tiba-tiba dengan wajah sedikit babak belur. Sakura segera berdiri ketika melihat Sasuke berjalan kearahnya. Apa dia baru berkelahi? Kenapa wajah Sasuke tampak...sangat marah?
"Apa maksudnya semua ini? Kau melanggar janjimu!"
"Sasuke-kun, kau kemana saja? Kenapa tidak dat-" "JAWAB SAJA HARUNO! KAU BERJANJI UNTUK MEMBANTUKU MENDAPATKAN HINATA. TAPI APA MAKSUDNYA HINATA DAN NARUTO BERPACARAN, HAH?"
Tanpa segan Sasuke membentak gadis dihadapannya. Pikirannya sungguh kacau. Ia memang masih kecewa dengan penolakan Hinata, tapi mendengar Naruto dan Hinata menjalin hubungan benar-benar membuat darah mengalir kencang di otaknya. Terlebih ia sempat bertengkar dengan Naruto seharian ini sampai melupakan janjinya mengenai acara peresmian kakaknya.
"Sasuke-kun, apa maksudmu?" Sakura memang menduga Hinata dan Naruto akan segera menjalin hubungan mengingat pembicaraannya dengan Naruto tempo hari. Tapi ia tak menyangka akan secepat ini.
"KAU TAK PERLU MENGELAK LAGI PEMBOHONG! BUKANKAH KAU YANG MENGHASUT NARUTO UNTUK MEMBUAT MEREKA BERSATU! AKU TAK MENYANGKA KAU AKAN MENUSUKKU DARI BELAKANG SEPERTI INI HARUNO!" Lagi. Sasuke kembali memanggil Sakura hanya dengan marganya. Semarah itukah Sasuke.
"Sasuke-kun aku-" "JANGAN MENYENTUHKU!" Sakura hendak menyentuh lengan Sasuke tapi Sasuke menepisnya keras hingga tanpa sadar menampar pipi kanan Sakura. Tamparan tersebut bahkan sangat keras hingga membuat tubuh Sakura terhuyung jatuh ke sofa. Pelupuk mata gadis musim semi ini sudah menggenang. Tapi ia menahannya sekuat tenaga. Ia tidak akan menangis sekarang.
"Aku tak menyangka kau melakukan akal-akalan licik seperti ini Haruno. AKU SUDAH MELAKUKAN SEMUANYA UNTUK HUBUNGAN BODOH INI. TAPI KAU JUSTRU MEMANFAATKAN SEMUA KEADAAN INI. Atau jangan-jangan dari awal kalian semua sudah merencanakannya?" Rahang Sasuke mengeras. Terdengar jelas suara gemerutuk gigi Sasuke yang menahan amarah. Bahkan tangannya mengepal keras ingin menahan tinju untuk melampiaskan kekesalannya.
"Maafkan aku. Aku...hanya ingin mereka meraih kebahagiaan mereka sendiri."
"DENGAN MEREBUT KEBAHAGIAANKU? Cih, kau menjengkelkan Haruno." Sakura berdiri dan ingin meraih tangan Sasuke sekali lagi. "Sasuke-kun akau tidak bermaksud demikian."
Tapi justru kedua tangan Sasuke memegang kepala Sakura dengan tegas. Bisa dibilang sedikit keras dan menekan hingga membuat wajah Sakura menghadap tepat ke wajah Sasuke.
"Dengar Haruno! Jangan pernah ikut campur urusanku lagi!" Sasuke menggeram. TES. Setetes air mata Sakura lolos dari pertahanannya. Namun sepertinya gadis ini masih kokoh ingin mempertahankan tangisannya. Belum saatnya Sakura.
BRAAKK. "Arrrgggghhhhh." Sasuke menggebrak meja lalu meninju-ninju tembok disampingnya. BUGH. BUGH. Beberapa kali Sasuke juga meremas rambutnya.
"PERGILAH! ENYAH DARI HADAPANKU! JANGAN URUSI URUSANKU LAGI!" SRET. TAP. TAP.
Tanpa ragu Sakura meraih tasnya dan melangkah pergi meninggalkan Sasuke di ruangan itu. Ia mengganti gaunnya di ruang lain. Kakinya melangkah keluar dari bangunan megah tersebut tanpa sepengetahuan siapapun. Wajah yang baru saja mendapat sorakan meriah tadi tak menampakkan ekspresi apapun. Tapi lelehan air asin dari matanya ternyata sudah tak mampu ia tahan dan terus mengalis deras. Tubuhnya berjalan mengikuti kemana kaki membawanya.
.
.
BRAKK. TAP. TAP. BUGH.
"APA YANG ADA DIPIKIRANMU BODOH! KEMANA SAJA KAU!" Satu pukulan Itachi layangkan untuk adiknya. Itachi segera menemui Sasuke setelah Kisame memberitahu kedatangan Sasuke. Emosinya tak bisa ia tahan sekarang. Acaranya memang berjalan sukses, tapi kecerobohan adiknya ini membuat Itachi tak memaafkannya dengan mudah. Itachi mencengkram kerah kemeja Sasuke dengan kencang. Ia sedikit tersentak melihat lebam-lebam di wajah Sasuke.
"Lepaskan aku Itachi!" "Sebaiknya kau menyiapkan alasan yang bagus Sasuke! KENAPA KAU TIDAK MENJAWAB TELPONNYA? KEMANA SAJA KAU?" Itachi masih mengeraskan cengkramannya. Sasori dan Conan berdiri dibelakang mereka. Sementara Kisame, Obito, Yahiko, dan Kakuzu mencoba melerai mereka.
Sasuke melepas paksa tanga Itachi dan mendorong kakaknya. "JANGAN IKUT CAMPUR URUSANKU!"
"Brengsek!" BUGH. "ADA APA DENGANMU? HAH? KAU INGIN MEMPERMALUKAN KELUARGA KITA?"
BUGH. Itachi masih saja memukuli wajah dan perut Sasuke. BUGH. Tapi kali ini Sasuke membalas.
"Mempermalukan keluarga? KAU YANG MEMPERMALUKAN KELUARGA ITACHI! Aku tahu kalian berdua mengarang-arang cerita busuk untuk menyatukan aku dan Sakura. KAU SELALU MENENTANG KU DAN HINATA! TAPI KAU TAK BERHAK IKUT CAMPUR URUSAN PRIBADIKU BRENGSEK!" Tubuh sasuke di hadang Obito dan Kakuzu. "Sasuke tenanglah!"
"Dimana Sakura?" Sasori baru ingat ia tak melihat Sakura dimanapun.
"Heh, mungkin menyesali rencana bodohnya." Sasori mengepalkan kedua tangannya.
"Akan kubunuh kau setelah ini brengsek! Yahiko, Conan!" Seolah mengerti perintah tuan muda sekaligus sahabat nya, Yahiko dan Conan segera pergi mencari Sakura bersama Sasori.
"Aku juga akan ikut mencarinya." Obito, Kisame dan Kakuzu juga pergi keluar untuk membantu Sasori.
"Kau akan menyesal setelah ini Sasuke. Aku memang tak berhak atas urusan pribadimu. Tapi aku kakakmu. Aku ingin kebahagiaan yang sesungguhnya untuk adikku." Setelah berkata demikian Itachi segera menyusul Sasori dan yang lain untuk mencari Sakura. Sasuke duduk termenung di sofa. Tangannya masih mengepal dan sesekali memukul sofa disampingnya.
.
FLASHBACK ON #
"Teme...ada apa kau mengajak ku bertemu. Bukankah seharusnya kau ada ac-"
"Apa maksudnya kau dan Hinata bersama?" Tanpa basa-basi Sasuke menghampiri pemuda pirang yang telah menunggunya di sebuah caffe outdoor. Naruto berdiri dari duduknya.
"Sasuke aku bisa jelaskan."
"Kau menikungku brengsek!" Sasuke meraih kaos putih Naruto. Emosinya memuncak ketika mengetahui Naruto dan Hinata resmi menjalin hubungan.
"Kau sendiri tahu dia tak pernah mencintaimu. Aku telah menyerah padanya karena ku pikir dia akan bahagia dengan mu. Tapi kau terlalu lambat Sasuke. Kau tidak tahu sikap kita berdua justru membuatnya semakin terluka."
"Omong kosong!" "Kau yang seharusnya membuka matamu. Aku tahu hubunganmu dan Sakura-chan hanya pura-pura."
"Oh jadi dia mulai mengadu padamu, HAH?" BUGH. "Aku justru sangat berterimakasih padanya karena semua ucapannya mampu membuka mata hatiku. Aku heran kenapa dia tak bisa menyadarkanm-" BUGH. Sekali lagi Sasuke menghantam perut Naruto.
"Jangan ikut campur urusanku!" BUGH. BUGH. Kini Naruto balas memukul Sasuke. Pegawai caffe serta pengunjung tak ada yang berani melerai. Karena mereka tahu siapa kedua pemuda tersebut.
"Sadarlah brengsek! Kau tidak benar-benar mencintainya!" BUGH. Naruto terus memukul wajah Sasuke yang berada dibawahnya.
"Apa yang kau tahu tentang perasaanku? Kau bahkan pergi ketika aku kehilangan dia!" Naruto menghentikan pukulannya. Ia ingat setelah pertemuan terakhir mereka dengan gadis misterius 10 tahun lalu, Naruto pergi keluar negeri karena pekerjaan orangtuanya. Dan ketika kembali tiga tahun setelahnya Naruto pun tak bisa berbuat apa-apa untuk membantu Sasuke menemukan gadis yang baru mereka kenal selama hampir seminggu. Hingga akhirnya Sasuke menyerah. Ia menyesal tak bisa banyak membantu Sasuke. Pemuda ini paham betul bagaimana terpuruknya Sasuke saat itu. Tapi bukan salahnya jika ia juga ingin mempertahankan perasaan cintanya.
Naruto bangkit dari atas tubuh Sasuke. "Aku memang tak tahu apa-apa tentang perasaanmu Sasuke. Tapi aku yang paling mengerti dirimu melebihi siapapun." Naruto meraih jaket yang tadi ia sampirkan di atas kursi lalu berbalik bersiap pergi.
"Itu bukan cinta. Melainkan ambisimu." Naruto melangkah menjauh dan meninggalkan Sasuke yang masih terbaring di lantai. Dari arah lain sesosok perempuan menghampirinya.
.
"Sasuke-kun kau tidak apa-apa?" "Lepaskan aku!" Seorang gadis bersurai merah menyala menghampiri Sasuke dan membantunya berdiri.
"Sebenarnya aku tidak berniat menguping tapi, aku salut pada Haruno-san." Sasuke terdiam, tapi tatapannya tajam ke arah Shimura Karin seolah meminta penjelasan.
"Dia cukup hebat memasang tampang polos untuk menghasut Hinata agar memperjuangkan cintanya. Terlebih dia juga mampu membuat Naruto-san berbalik membalas cinta Hinata. Aku penasaran, apa mungkin dia juga mempengaruhimu untuk melupakanku? Gadis dari masalalu mu?"
"Bukti dari mu belum cukup. Jangan harap aku sudah percaya sepenuhnya padamu."
Sasuke bersiap melangkah pergi dari caffe tersebut sebelum ucapan Karin kembali menghentikannya. "Setidaknya aku tak memanfaatkan eksistensi keluargaku."
"Pikirkanlah! Gadis Sakura itu mungkin bersekongkol dengan kakaknya untuk menyatukan kalian. Disamping niat untuk memilikimu mungkin keluarganya ingin memanfaatkan hubungan kalian untuk menusuk Uchiha dari belakang. Aneh saja kedua keluarga yang selalu bermusuhan tiba-tiba berdamai dan bekerja sama."
"Dan bukankah masuk akal Sasuke-kun? Sakura berusaha menjauhkanmu dari Hinata agar bisa memilikimu seutuhnya. Karena gadis itu...mencintaimu." Rahang Sasuke mengeras. Kedua tangannya mengepal bersiap meninju apapun di sekitarnya. Sasuke bergegas pergi dari tempat tersebut sebelum amarahnya tak terkendali.
FLASHBACK OFF #
.
.
SASORI POV
Aku melajukan mobil sport merah ku mengelilingi jalanan kota. Aku menyetir dengan gusar. Meski sudah menyebar semua anggota akatsuki dan sebagian pengawal. Aku masih belum bisa tenang. Sakura bisa dimana saja. Dan aku harus benar-benar memperhatikan jalanan tanpa melewatkan sekecilpun tanda-tanda keberadan Sakura. Cih, jika benar penyebab hilangnya Sakura karena adik bodoh Itachi itu aku benar-benar akan membunuhnya. Aku tak akan memaafkannya sekalipun dia adik Itachi. Siapapun yang menyakiti Sakura akan mendapat balasannya.
"Arrrggghhh, kuso! Sakuraa, kau dimana?"
Aku memutar mobilku menuju pusat kota. Memikirkan tempat-tempat sekiranya sering dikunjungi Sakura. Dan aku menyesal sekarang karena tak pernah meminta nomor telepon teman-teman Sakura. Hari sudah mulai gelap dan aku yakin Sakura belum makan apapun setelah sarapan pagi tadi. Kuarahkan mobil ku melewati taman kota. Mungkin ada sedikit petunjuk.
"Ah, itu dia!" Samar-samar kulihat siluet kepala merah muda dan aku yakin itu adalah Sakura. Kuparkirkan mobilku di pinggir taman bunga Konoha. Bodoh, dia bahkan belum membenahi tatanan rambutnya yang digelung ala pengantin bridal. "Sakura!"
Tadinya aku ingin memarahinya karena tak mengangkat telepon ku dan pergi seenaknya. Tapi ketika dia menoleh dan memperlihatkan wajah datar dengan air mata mengalir deras, sungguh membuat hatiku hancur. Apa ini? Dia mengeluarkan airmata tapi tak mengangis. Rasanya seperti di iris-iris ketika melihat keadaan adik kesayanganku yang sangat kacau. Kemeja tipis dan hotpant tak akan menghalangi udara dingin menusuk kulitnya kan? Astaga, apa yang dilakukan Uchiha brengsek itu. Aku segera berlari dan memeluk tubuh ringkih adik ku. Tubuhnya sedikit gemetar. Aku segera membuka jas hitamku dan memakaikannya pada tubuh Sakura.
"Sakura. Gomen. Menangislah! Tak apa, aku disini." Aku kembali memeluknya. Dan sedetik kemudian ia menangis meraung di dalam dekapanku. Aku tak tahan mendengar tangisannya karena ikut membuatku merasa sakit.
"Nii-san aku tidak bisa. Aku sudah tak kuat lagi." Sakura meremas kemeja ku dan mengeratkan pelukannya. "Tenanglah! Aku disini. Kau bisa menceritakannya pelan-pelan."
.
Setelah membiarkan Sakura meluapkan kesedihannya dan merasa sedikit tenang. Aku membawanya pulang. Aku menyuruhnya mandi dan makan. Tapi dia begitu keras kepala tak mau mengisi perutnya. Setelah meminum susu Sakura merebahkan dirinya di kasur. Aku menyelimutinya dan membelai surai merah mudanya.
"Aku sudah menemukan sepatuku." Sepatu? Apa mungkin sepatu yang ia bicarakan tempo hari?
"Benarkah? Dimana?" Tanyaku basa-basi.
"Dikamar Sasuke-kun. Dan aku sudah mengingat semuanya. Tapi semua sudah terlambat. Dia benar-benar membenciku." Aku sedikit tersentak.
"Jadi kau sudah mengingat semuanya? Gomen, kupikir kau akan bahagia bersamanya."
"Nii-san sudah tahu? Aku dan Sasuke-kun?"
"Ya. Kau, Sasuke, dan si anak Namikaze itu dulu sering bermain bersama." "Maksud Nii-san Naruto?" Aku mengangguk.
"Kau selalu saja merengek meminta bantuan untuk menyelinap dan bermain bersama mereka. Sebenarnya kami semua sudah tahu, karena itu kami membiarkan mu menyelinap pergi. Tapi sejak kejadian itu tou-sama membawa kita pindah. Dan akhirnya Ji-sama membawa mu ke jepang lagi. Aku pikir dengan menyatukan kalian akan membuat ingatanmu perlahan kembali. Aku tidak ingin memaksamu Sakura, sungguh." Aku kembali membelai rambutnya.
"Tapi sekarang terserah padamu. Apapun yang kau inginkan akan kuturuti."
"Um. Aku punya beberapa permintaan Nii-san." Ya. Apapun itu Sakura. Apapun yang kau minta akan kupenuhi. Asal kau bahagia.
.
.
NORMAL POV
Aktivitas sekolah kembali dimulai seperti biasa. Sasuke melangkahkan kakinya memasuki ruang kelas. Ketika matanya bertemu pandang dengan Hinata ia merasakan sesuatu yang aneh. Seperti ada yang berbeda dari sebelumnya entah apa itu. Kemudian ia melangkahkan kakinya menuju salah satu tempat duduk. Bukan dibangku pojok kiri belakang dekat cendela yang biasa ia tempati bersama Sakura disampingya. Ia meletakkan tas nya di meja pojok kanan belakang dan menyuruh si penunggu lama bertukar posisi duduk. Hari ini ia belum siap menghadapi Sakura setelah kejadian kemarin sore. Ia memang masih kesal pada gadis tersebut. Tapi jauh dihatinya ia merasa bersalah karena berkali-kali membentaknya dan bahkan sempat menamparnya. Ditambah lagi dengan peringatan kakak serta kedua orangtuanya untuk segera berbaikan denggan Sakura. Beruntung mereka tak memberitahu kakeknya. Bisa jadi Madara akan marah besar dan membatalkan segala kerjasama mereka. Bertambah lagi bukan masalahnya?
Bel masuk telah berbunyi, pelajaran pun dimulai. Namun mengapa tak ada tanda-tanda gadis Cherry Blossom di kelasnya. Bahkan sepanjang kegiatan sekolah sampai usai pun gadis tersebut tak menampakkan dirinya. Ia juga tak melihat Tenten, si pengawal pribadinya masuk sekolah. Mungkin dia masih marah dan belum siap bertemu. Sasuke mencoba berpikir positif.
Hari berikutnya ternyata masih sama. Sakura kembali tak masuk sekolah. Apa dia sakit? Sasuke tahu Sakura sudah ditemukan oleh Sasori. Mungkin pemuda kepala merah itu akan mengamuk jika bertemu dengannya. Tapi tak ada yang mengatakan apapun mengenai kondisi Sakura pada Sasuke. Bahkan Itachi mulai bertingkah aneh. Ia menjadi sedikit pendiam dan dingin pada Sasuke. Tak seperti biasanya. Sasuke mulai merasa bersalah pada semua orang. Tak seharusnya ia hilang kendali dan menyebabkan semua kekacauan. Mungkin ia memang harus bicara pada Sakura.
Di hari ketiga beberapa kali Sasuke menekan nomor telepon Sakura. Tapi nihil. Handphone Sakura mati. Sasuke memberanikan diri menghubungi telepon rumah mereka. Beruntung yang menjawab selalu maid mereka dan bukan para pengawal. Tapi jawabannya selalu sama.
"Maaf Sakura-sama sedang tidak bisa diganggu." Tut. Tut. Tut. Dan selalu saja ditutup secara sepihak. Ia ingin menanyakan kabar Sakura melalui kakaknya. Tapi sepertinya Itachi masih marah padanya.
.
BRAKK.
"Mou~ aku sudah tidak tahan lagi. Sekarang katakan dimana Sakura!" Dengan seenaknya kekasih Shimura Sai menggebrak meja Sasuke dan melontarkan pertanyaan memaksa padanya.
"Ino! Tenanglah!" Sang kekasih tengah menahan gadisnya agar tak membuat keadaan lebih gaduh. Tak hanya Ino dan Sai. Hinata, Naruto, Shikamaru, dan juga Neji ikut mengerumuni meja Sasuke. Untuk apa Neji ikut-ikutan menghakiminya? Sasuke hanya mendengus kecil dan melanjutkan membaca buku ditangannya.
"Aku sedang bertanya padamu tuan Uchiha. Sudah seminggu ini dia tidak masuk dan aku tahu kalian sedang bertengkar. Dan kenapa kau meninggalkannya saat acara peresmian?" Mungkin Naruto belum menceritakannya.
"Hn. Bukan urusan kalian." "Bukan urusan kami kau bilang. Sakura adalah sahabatku sialan!"
BRAKK. SRET. Naruto menggebrak meja lalu menarik kerah seragam Sasuke.
"Hentikan semua ini Sasuke! Jangan bersikap seperti pecundang! Kau harus mulai mengerti semua keadaannya!"
"Pecundang, hah? Lalu kau apa? Kau menikungku dari belakang. Apa kau tidak pantas disebut pecundang?"
"Teme...kau-" "Sasuke-kun." Hinata menghentikan aksi kekasihnya yang akan bersiap memukul Sasuke.
"Sasuke-kun. Sakura-chan sama sekali tidak ada kaitannya dengan hubungan kami. Mungkin...Sakura-chan memang ikut andil, tapi tanpa Sakura-chan pun aku tetap akan mempertahankan perasaanku untuk Naruto-kun. Kami menjalin kasih atas dasar kemauan perasaan kami sendiri." Hinata menggenggam kedua tangan Sasuke.
"Ketika pertama kali aku mengetahui Sasuke-kun menyukai ku, aku sadar itu bukan perasaan cinta yang sesungguhnya. Ada orang lain yang ingin kau lihat di dalam diriku bukan? Mungkin kau sudah tahu perasaan Sakura-chan padamu. Asal kau tahu, perasaan itu murni sebuah cinta. Seorang gadis akan melakukan apapun untuk orang yang dicintainya. Sakura-chan tak ingin kau merasakan kebahagiaan semu bersamaku." Perkataan Hinata sedikit banyak membuka hati Sasuke. Apa benar ia akan benar-benar bahagia jika bersama Hinata?
"Anggap janjimu padaku telah lunas." Ucapan Neji membuat Sasuke tambah bingung.
"Lelaki sejati tahu siapa gadis yang benar-benar ia cintai. Jadi, maafkan dia!" Shikamaru yang terlihat pemalas rupanya lebih mengerti tentang perempuan dibanding Sasuke. Mungkin berkat Sabaku Temari, sosok gadis yang sedang ia incar.
"Tidak." SRET. "Apa maksutmu Teme?"
"Bukan dia yang seharusnya meminta maaf, tapi aku."
Wajah orang-orang di sekeliling Sasuke nampak lega. Akhirnya hati manusia es yang satu ini bisa sedikit mencair.
"Aku akan segera kerumahnya."
.
CHAPTER 7 END
.
.
A/N:
Ehm-ehm...setelah membaca chap ini haru yakin pasti banyak yang semakin benci chara sasuke. Tapi minna, haru pastikan ini chap terakhir sasu cuekin saku. Chapter depan sasu sudah mulai sadar perasaannya sama saku. Jadi tenang ya..
Dan mungkin sedikit penjelasan mengenai ingatan tiga bocah yang sempet main, tapi tak ingat saat dewasa. Alasannya adalah:
Sakura: trauma, jadi lupa beberapa ingatan masa lalunya. Ditambah umurnya baru 6 tahun. Masih kecil kan.. (sudah di jelaskan di chap 3-4)
Sasuke: kecewa+frustasi gk bisa nemuin saku. Mereka bertemu hanya beberapa hari. Sasu gak tahu marga saku, keluarga, dan tempat tinggalnya. Sasu cuma tahu namanya 'saku' itu aja. Lalu mulai suka sama Hinata, jadi pelan-pelan mulai lupa sama sosok saku. Yang di inget Cuma janjinya aja. Plus umurnya juga masih 6 tahun. (dijelaskan di beberapa chap)
Naruto: masih 6 tahun ditambah kepolosan Naru yang cuek jadi gak terlalu ingat sosok saku. Setelah pertemuan terakhir naru langsung pindah keluar negeri jadi gak bisa bantu sasu nyari saku. Jadi intinya karena masih kecil dan kurang petunjuk sasu+naru gak bisa nemuin saku dan lupa sosoknya seperti apa.
Perihal sasori dan itachi, mereka sudah tahu sasusaku ketemu waktu kecil. Sasori sengaja gak ngasih tahu saku karena takut traumanya kambuh. Sedangkan itachi sudah tahu sasu punya gadis kecil 10 tahun lalu tapi belum lama tahu kalau gadis itu adalah saku lewat ceita sasori.
Nah semoga bisa menambah sedikit pencerahan untuk yang masih bertanya-tanya tentang pertemua ketiga bocah itu. REVIEW LAGI MINNA~
suket alang alang: pasti abis baca chap ini makin benci deh ma sasu. Kalungnya masih di bawa karin. Ingat, karin nunjukin kalung itu waktu pertama masuk sekolah?
misakiken: terimakasih. Baca terus fict nya ya.. sasusaku nya mungkin mulai chap depan sudah muncul. Tentang pair sasori mungkin bisa dipertimbangkan. Haru memang berniat mau mencari pair untuk sasori :D
Ryuuki Kuchiki: hahaa gomen.. haru di paksa sama TBC buat nyetop ceritanya. Haru takut kepanjangan waktu itu. Gak enak kan kalo baca kelamaan dlm satu chap.. hmm mungkin akan jadi sekitar 15 chap. Untuk updatenya sesuai mood nulis haru XD hehe. Tapi haru usahaain gk nyampe seminggu lebih. Kalo iya mungkin saat itu haru sedang sangat sibuk.. jadi gomen ne
hanazono yuri: sudah :D ..adegan itu akan ada bagiannya nanti. Di tunggu saja ^^
ichachan21: yap! Karena ini adalah fict pairing sasusaku.
Luca Marvell: sudah di jelaskan di chap ini. Untuk sasuke baru akan sadar di chap berikutnya.
Momo: akan ada waktunya.. di tunggu saja ^^
CherryTomato: terimakasih J, akan haru usahakan update kilat jika tidak ada halangan.
Hanani: setelah baca chap ini, pasti sasuke di suruh mati :D namanya juga proses. Terimakasih sudah sempat review..
