E―Emotion
.
Cangkir kopi yang hendak dinikmati itu seketika terlupakan ketika telinga sensitif Natsu menangkap suara hentakan keras yang menggema.
"Natsu!" Lucy memanggilnya galak. Sebelum Natsu sempat menanyakan keluh kesahnya, Lucy telah mengumbarkan sumber kekesalannya dengan begitu galak.
"Kau ini! Kenapa kue yang kupesankan ini ada krimnya!? Aku tak suka krim! Krim itu mengganggu! Krim itu mengurangi gairahku untuk memakannya! Sama sekali ak ada rasa! Cepat ambil kunci mobilmu dan tukarkan kue ini! Lima menit!" cercah Lucy dengan lantang.
Natsu meletakkan cangkir kopinya ke meja. Tangan kanannya terangkat, meminta diri dengan sopan untuk bicara.
"Lucy..." Natsu berdiri. Tangannya mengendurkan simpul dasinya. Diraihnya tangan Lucy dan dituntunnya wanita itu ke sofa tempat dirinya duduk tadi. Pria berambut merah muda ini duduk berlutut di depan Lucy dengan tetap menggenggam tangannya.
"Kau tetap bisa memakan kue itu, Sayang. Kita tinggal memisahkan bagian yang terkena krim dan kau bisa memakan sisanya. Biar aku yang kerjakan, kau pasti sudah lelah, 'kan?" Natsu menghadiahi istrinya sebuah kecupan di tangan dan pipi.
Wajah Lucy seketika menjadi sumringah, "Benar demikian? Kau yang terbaik, Natsu! Aku mencintaimu!" Natsu terkekeh dan mencium kembali pipi istrinya tersayang sebelum berangkat pergi mengurusi kue.
Setelah cukup jauh, barulah Natsu melepaskan helaan napas berat.
Namanya juga ibu hamil, emosinya kelewat tinggi.
Laknat sekali WB! Saya sampai mengais dokumen pairing terlarang demi mendapat ide prompt terakhir ini!
