Nijimura berlari, menyambar jaket biru tuanya yang tergantung di belakang pintu beserta kunci motor yang tergeletak di ruang tamu. Langkah tegapnya dengan sigap menuruni tiap tangga pualam tanpa penerangan. Kesunyian dan kegelapan mencekam yang menyelimuti mansion ia abaikan. Nijimura tak sempat memikirkan berbagai kisah horror yang melibatkan setan, hantu hingga demit sekalipun. Hanya satu hal yang sejak tadi memenuhi pikirannya, yaitu sosok biru mungil yang tengah terbaring tak sadarkan diri di luar sana.
Nijimura terhenti, pandangannya kini tertuju pada entitas hitam kesayangan yang terparkir di ujung tergelap garasi milik keluarganya. Motor sport itu tampak berdiri gagah dan kemilau saat diterpa sinar purnama.
Nijimura meneguk ludahnya susah payah, mengendarai motor tanpa SIM ia sudah biasa. Tetapi akan lain ceritanya jika ia menunggangi sang kuda besi pujaaan di tengah malam buta. Bagaimana jika ada yang meminta tumpangan gratis di tengah jalan? Nijimura bisa lari tunggang langgang!
Mengabaikan pikiran nista, helm fullface yang sewarna dengan sang kekasih disambar. Pintu garasi yang sebelumnya tertutup dibuka dengan memasukkan password yang hanya diketahui dirinya, Seijuurou, dan kepala pelayan mansion Nijimura.
Nijimura tak ingin membuang waktu lebih lama. Tubuh atletis yang selalu menjadi idaman para pria itu kini telah siap di atas tunggangan. Kunci motor diputar, starter motor ia tekan, deru mesin motor mengalun rendah pertanda motor siap melaju menyusuri jalanan Tokyo yang sepi. Tanpa ragu lagi, motor sport itu ia pacu dengan kecepatan tinggi melewati halaman mansion hingga meluncur mulus di jalanan beraspal nan sunyi. Pikirannya kalut dan sibuk merapal doa dengan harapan orang yang dimaksud baik-baik saja.
.
.
—hingga Nijimura lupa untuk berharap agar Seijuurou tak terjaga.
.
.
.
I'll Call Out Your Name
Kuroko no Basuke adalah milik Fujimaki Tadatoshi
Saya hanya memiliki plot ini saja
Warning: OOC, Typo (s), Nubi, Plot hole, Alur maksa, dan sebagainya
Genre: Family, Friendship, Brothership, Hurt-Comfort, Semi-canon
Selamat membaca~
CHAPTER 6 Penjelasan bag 1
.
.
Hela nafas lelah dihembus kasar. Matahari telah kembali keperaduan sejak beberapa jam yang lalu tapi Masaomi masih saja berada di kantor, berkutat dengan berbagai berkas dan hal lainnya yang memaksa untuk diselesaikan. Lelah, sudah pasti. Tetapi hanya ini yang sanggup membuat Masaomi lupa sejenak dengan segala problematika kehidupan yang telah merundung dirinya.
Masaomi bersandar pada kursi kerjanya yang terasa empuk dan nyaman. Berusaha sesantai mungkin di penghujung jam kerja yang tersisa sebelum kembali ke mansionnya yang sunyi. Terkadang Masaomi berpikir, tidak bisakah ia tidur di kantornya saja mulai saat ini? Jika pulang pun tak ada seorang pun yang menyambut atau menanti, jadi untuk apa?
Manik sewarna rubi itu mulai menyisir pigura foto yang selalu menemani dan membuatnya tegar dalam menjalani hari. Seulas senyum tipis penuh kasih teruntai dengan indah, membuat raut wajah tegas itu melembut seketika. Sisi Masaomi yang jarang sekali orang lain lihat.
Tiba-tiba smartphone di atas mejanya berdering, memecah atensi pria paruh baya itu dari suasana khidmat yang tengah dinikmatinya. Masaomi mengernyit, tangan kokohnya menggapai sebuah smartphone hitam yang tergeletak di ujung meja dan memeriksa dengan sigap perihal si penelepon yang telah mengganggu rutinitas syahdunya.
Sepasang rubi membulat seraya menekan tombol hijau untuk segera menjawab panggilan.
"Moshi-moshi," ucap Masaomi dengan nada tergesa.
'Paman,' jawab orang di seberang saluran. Suara itu terdengar tenang, atau lebih tepatnya berusaha untuk tenang.
Masaomi mengangguk, "Ada sesuatu yang penting hingga kau menghubungiku di waktu seperti ini?" Sebuah pertanyaan yang lebih mirip dengan pernyataan, khas Akashi sekali.
'Sebelumnya aku minta paman untuk tidak terlalu terkejut atau khawatir, semua telah diurus dan dalam kendali,' lanjut sang penelepon dengan penuh keyakinan.
Jantungnya terpacu, Masaomi merasa sesuatu yang akan dikatakan sang penelepon di seberang sana bukanlah hal baik. Dan entah kenapa berbagai hal buruk dan suram yang selalu menghantui tidurnya tiba-tiba terputar otomatis dalam pikiran.
"Katakan padaku!"
Hening sejenak, atmosfer mencekam menyelimuti Masaomi seketika. Tangannya yang menggenggam alat komunikasi jarak jauh itu mulai basah, bulir-bulir keringat pun tampak mengalir menuruni pelipisnya.
'Sesuatu yang buruk terjadi pada Tetsuya.'
Masaomi terhenyak. Pantas saja dirinya tak bisa tenang sejak pagi. Rapat penting pemegang saham sore ini pun nyaris membuatnya tersulut emosi.
Sebelah tangan yang bebas mengusap wajah dengan kasar. "Ba-bagaimana keadaan Tetsuya?" Suara itu tercekat seakan enggan untuk meluncur lancar. Sirat khawatir yang amat sangat terlihat jelas dari nada maupun raut wajahnya.
'Tetsuya tak sadarkan diri tapi Midorima telah membawa Tetsuya ke rumah sakit. Paman tak perlu cemas. Semua akan baik-baik saja.'
Bagaimana bisa semua akan baik-baik saja? Puteranya, darah dagingnya tengah bertaruh nyawa tanpa ayahnya ada di sampingnya. Bagaimana bisa pemuda di seberang telepon ini menyuruhnya agar tidak cemas? Tidak, Masaomi sama sekali tidak cemas, tapi kini ia tengah takut luar biasa.
"Bagaimana bisa hal ini terjadi?" Raut wajahnya mengeras. Sirat khawatir itu telah berganti dengan amarah yang mulai membara.
'Tampaknya mereka mulai bergerak. Aku masih belum tahu pasti detailnya, tapi aku yakin akan hal ini.' Hening sejenak, helaan nafas lelah terdengar jelas dari seberang sana.
'Maafkan aku, paman.' Suara itu terdengar penuh dengan penyesalan yang amat mendalam. Masaomi tahu betul jika pemuda di seberang sana telah melakukan semua hal yang ia bisa.
"Aku akan menyuruh Tanaka untuk segera bergerak. Laporkan segala detail yang kau tahu tentang kejadian ini," perintah Masaomi dengan lancar.
'Baik paman. Tetapi sebelum itu, kumohon dengan sangat agar paman tidak pergi ke Tokyo untuk menemui Tetsuya!' Suara itu berujar tegas dan mantap.
"Apa yang—"
'Paman tahu betul apa yang kumaksudkan,' potong si penelepon cepat.
"DIA ANAKKU!"
'Percayalah padaku, Tetsuya akan baik-baik saja.'
Sambungan terputus.
Akashi Masaomi menegang. Kedua alisnya menukik tajam dengan keringat yang mengalir deras. Telapak tangan yang masih menggenggam smartphone merk ternama turut gemetar luar biasa menahan rasa khawatir dan juga amarah yang membara. Perasaannya kalut memikirkan sang buah hati yang tengah berada dalam kondisi hidup dan mati. Tak ingin membuang waktu dan mendengarkan nasihat dari si penelepon beberapa waktu yang lalu, jas hitam mahal yang tersampir di kursi ia ambil. Masaomi keluar dari ruang kerjanya dengan setengah berlari. Masa bodoh dengan yang akan terjadi selanjutnya, yang ada di pikirannya kini hanyalah memeluk tubuh ringkih Tetsuya, melindunginya dari kekejaman dunia. Namun, belum sampai ia di depan lift, sekretaris yang juga merangkap orang kepercayaannya datang menghampiri.
"Masaomi-sama." Alexandra Garcia, sekretaris pribadi Masaomi tampak berjalan mendekat dengan kelegaan yang tak mampu ditafsirkan. Surai pirangnya berkibar-kibar mengikuti tiap gerak langkahnya.
Masaomi mengernyit, "Ada apa Alex?" Tidak biasanya sang sekretaris bersikap demikian jika tak ada hal yang sangat penting dan tak bisa ditunda.
"Midorima-kun baru saja menghubungi ruang kerja anda beberapa saat yang lalu. Dia berusaha menghubungi telepon genggam anda tapi tak dapat tersambung," sembur Alex dalam satu helaan nafas. Ah, Masaomi lupa jika telepon genggamnya langsung mati dengan tak berprikemasaomian tepat setelah ia menerima kabar buruk yang tengah menimpa si bungsu.
"Shintarou? Oh tidak, jangan bilang— "
Alex menggeleng cepat. "Tet—Ah maksud saya Kuroko-kun telah siuman."
Kedua kaki Masaomi terasa lemas hingga dirinya refleks berpegang pada tiang kokoh yang berada di dekatnya. Kelegaan terpancar jelas dari kedua permata rubinya yang kini mulai dibasahi oleh cairan bening.
"Terimakasih telah melindungi Tetsuya, Shiori"
Merasa mendapat suntikan semangat yang entah dari mana, Masaomi berdiri dengan gagah dan merapikan pakaiannya yang sempat berantakan. Kedua rubi itu menatap tajam sang sekretaris seraya berkata, "Hubungi Tanaka, kita akan segera menyusun rencana."
^0^
Seijuurou sama sekali tak bisa tidur. Berbagai cara dan posisi telah ia lakukan demi membuat dirinya terlelap tapi entah kenapa kedua matanya sama sekali enggan untuk terpejam. Apakah dirinya tiba-tiba mengidap insomnia? Alih-alih insomnia harusnya Seijuurou membutuhkan waktu tidur ekstra. Jujur saja, beberapa hari ini banyak hal yang menyita waktunya selain sekolah, klub basket dan kegiatan organisasi. Sebut saja ayahnya— Akashi Masaomi—yang membuat dirinya harus mengerjakan beberapa berkas sebagai latihan menjadi penerus keluarga.
Remaja bersurai crimson itu kini berdiri termangu di depan balkon kamarnya. Sepasang haterokrom itu menerawang jauh ke suatu masa di mana sang ibu masih bersamanya. Seijuurou mencoba mengais-ngais memorinya, berusaha mengingat wajah sang ibu yang entah kenapa selalu samar di ingatannya. Wajar saja, sang ibu meninggal saat ia masih balita. Namun begitu entah kenapa kenangan samar itu selalu ampuh membuat hatinya menghangat.
Seijuurou tersenyum, ingatan lain muncul. Kali ini tentang remaja bersurai biru muda yang selalu berhasil mencuri perhatiannya. Sosok yang entah mengapa selalu ia rindukan dan idam-idamkan sejak pertama kali mereka bertemu pandang. Sungguh konyol, tapi itulah yang tengah Seijuurou rasakan. Perasaan khas orang jatuh cinta, tapi tentu saja ini berbeda. Perasaan ini lebih kuat, perasaan yang membuatmu bersedia menerjang peluru bahkan menggadaikan nyawamu jika perlu. Perasaan—apa?
Seijuurou menghela nafas panjang. Dirinya akan jadi membingungkan jika memikirkan si biru muda. Belum lagi hatinya yang sejak tadi gelisah tanpa alasan yang jelas. Apa perasaan gelisah ini yang membuatnya enggan menutup mata dan terus terjaga? Firasat tentang apakah kira-kira?
Seijuurou menggelangkan kepalanya kuat. Lebih baik ia membaca buku daripada pikirannya mulai melantur. Namun, baru saja ia ingin melangkahkan kakinya kembali ke dalam kamar, sesuatu menyita atensinya.
Terlihat di sana, sebuah motor sport berwarna hitam tengah melaju cepat melintasi halaman mansion yang dinaungi pepohonan mapple. Seijuurou tertegun, "Tidak biasanya Shuuzou keluar saat larut seperti ini."
Manik sewarna senja itu menyipit, berusaha menangkap sosok sang sepupu yang tengah menaiki motornya dengan gagah. "Terlebih, apa yang membuat Shuuzou terburu-buru?"
Seijuurou mengernyit, berusaha memikirkan hal yang dirasa mampu menjelaskan perilaku sang sepupu yang di atas normal. Ditambah lagi sebelumnya Nijimura sama sekali tak mengatakan apa-apa padanya saat mereka mengobrol di balkon ruang keluarga. Belum lagi dengan amukan paman dan bibinya jika mereka mengetahui sang anak tunggal tersayang keluar di tengah malam dan pergi entah kemana. Selain itu—dan yang lebih penting—Seijuurou tidak lupa akan fakta bahwa sang sepupu sangat takut dengan kehadiran makhluk astral.
"Apa ia akan baik-baik saja?" batin Seijuurou kasihan.
Mengabaikan sang sepupu yang telah hilang dari pandangan, Seijuurou berjalan masuk ke kamar tidurnya.
"Apa semua baik-baik saja?"
^0^
Midorima berjalan mondar-mandir. Sesekali manik zamrudnya mencuri pandang ke atas ranjang di mana sesosok remaja mungil tengah terbaring. Helaian birunya tampak lepek akibat keringat yang terus menerus keluar. Cairan infus menetes dengan ritme teratur memasuki pembuluh nadi di tangan kirinya. Seakan belum cukup, sebuah selang oksigen juga turut melingkar di hidung sang remaja.
Midorima menghela nafas. Kepalanya kini penuh dengan berbagai pertanyaan akan apa yang sebenarnya terjadi. Midorima masih ingat betul pada kalimat demi kalimat yang terucap dari salah seorang dokter kenalan sang ayah, tapi bagaimana bisa?
.
.
Beberapa jam yang lalu di salah satu rumah sakit ternama Kota Tokyo.
Ruang UGD itu menjeblak terbuka, menampilkan dua orang remaja berwajah putus asa. Remaja bersurai hijau tampak sedang menggendong seorang remaja mungil bersurai biru muda yang terlihat pucat dengan bibir yang mulai membiru. Berdiri disebelahnya remaja bersurai pirang yang tak henti-hentinya terisak dan gemetar.
"Siapa saja, tolong segera periksa adikku nanodayo!" ucap sang remaja bermanik zamrud setengah berteriak.
"Midorima-kun? Apa yang kau lakukan di sini?" Seorang dokter bersurai raven datang menghampiri Midorima. Wajah sang dokter tampak tak kalah khawatir melihat remaja yang merupakan anak dari sahabatnya itu datang ke UGD dengan penampilan kacau balau.
"Takao-san. Tolong segera periksa Tetsuya. Dia—"
"Aku mengerti." Sigap, sang dokter membopong Tetsuya dengan mudah lalu membawa tubuh mungil itu ke ranjang periksa terdekat. Tangan sang dokter tampak cekatan memeriksa Tetsuya. Tak lama kemudian dua orang suster datang membawa berbagai alat medis yang Midorima ketahui bukanlah hal bagus.
"Maaf, tirainya ditutup dulu ya," ucap salah seorang perawat sambil tersenyum ramah.
Midorima hanya sanggup mengangguk kikuk bersama Kise yang sedari tadi mencengkeram lengan kirinya erat.
.
.
Midorima dan Kise hanya mampu duduk berdiam diri pada bangku panjang di sudut ruang UGD yang disediakan oleh pihak rumah sakit. Hampir satu jam sang dokter dan perawat memeriksa Tetsuya dalam sebuah bilik kecil bersekat gorden hijau toska, namun blum ada tanda-tanda sang dokter akan keluar dan memberitahukan keadaan Tetsuya pada mereka. Kacau adalah keadaan yang terpancar jelas dari raut kedua remaja tersebut. Belum lagi dengan penampilan mereka yang berantakan bak siswa yang habis melakukan perkelahian.
Hening menyelimuti, tak ada dari mereka yang sanggup membuka suara barang sedikit. Bahkan Kise yang terkenal berisik lebih memilih bungkam dan memilin-milin kemeja sekolahnya yang kini telah keluar dari kungkungan ikat pinggang. Manik madunya kembali berkaca-kaca dengan latar belakang suara sedu sedan. Sementara itu sang surai hijau tampak terpekur menatap lantai rumah sakit yang mengkilat memantulkan cahaya neon di langit-langit. Kedua tangannya mencengkeram paha, menahan emosi yang bergejolak.
"Midorima-kun." Dua pasang mata berbeda warna menoleh serempak. Kilat penuh harap tergambar jelas dari diri dua remaja. Refleks, langkah kaki berjalan mendekat menuju sosok manusia yang menjelma menjadi malaikat penyelamat mereka pada hari itu.
Sang dokter tersenyum ramah menenangkan. Kilat matanya tampak jenaka dengan gesture kelewat ceria. "Bisa ikut ke kantorku?" ucapnya sambil mengedipkan mata.
Midorima mengangguk. "Kise, kau tunggulah di sini!" perintah Midorima.
"Ta-tapi ssu. Aku juga ingin tahu apa yang terjadi dengan Kuroko-cchi!" jawab si remaja pirang setengah mencebik. Air mata mulai kembali menganak sungai dari manik madunya.
Merasa belum ada remaja yang mengikuti pergerakannya, sang dokter kembali menoleh. "Kenapa kalian belum bergerak?" tanya sang dokter sambil mengangkat satu alisnya, heran. "Kalian berdua ikut aku, se-ka-rang!"
.
.
Ruangan itu tampak sempit dengan banyak buku medis yang tertata rapi pada tiap raknya. Sebuah meja dengan komputer LED berdiri kokoh dengan beberapa tumpukan jurnal kedokteran berserakan di sekelilingnya. Takao Akihito—begitulah tulisan pada papan nama yang terdapat di atas meja—kini duduk nyaman di atas kursi putar yang berada di belakang meja kerjanya. Lelaki berumur empat puluh dua tahun itu tersenyum penuh arti pada dua remaja yang kini menatapnya dengan pandangan penuh tanya.
"Jadi, ada yang bisa menjelaskan kepadaku tentang apa yang terjadi dengan Kuroko-kun?" tanya sang dokter membuka pembicaraan.
Kise menegang, manik sewarna madunya beralih menatap marmer putih rumah sakit, seakan itu menjadi lebih menarik. Sedangkan Midorima yang duduk di sebelah si remaja pirang hanya menggeleng lemah tanpa maksud untuk bersuara. Memikirkan nasib Tetsuya telah menyita seluruh energinya.
Sang dokter menghela nafas. Dirinya tahu jika menanyai kedua remaja itu saat ini akan sulit dan tidak akan membuahkan hasil.
Berdeham, Takao Akihito kembali bertanya, "Sebelumnya, apa ada di antara kalian yang pernah menonton film Romeo and Juliet?"
.
.
"Ma-maaf?"
TBC
Terimakasih atas kesediaannya membaca dan telah favorite follow review. Terimakasih juga yang telah bersedia menunggu dan selalu mengikuti fic gaje nara ini. Jika ada kesan, kritik, protesan atau saran silahkan mampir ke kotak review. ^^
Sampai jumpa di chapter selanjutnya~
