A/n : Last Chapter... And remembering it was so sad while I'm writing this chapter. What will happenned to Racchi, his families, and who is the 'Twin' that he thpught about... Dan juga berhenti membuat readers yang nggak ngerti Inggris kebingungan (Bodo ah, masa nggak bisa Bahasa Inggris?). Dan sekarang, kalau ini Fict terakhir- (TIDAAAAAK!), ehm, terakhir (TIDAAAAAAAK!), ya udah! The last but not the least! Puas lu! Review tapinya! Ya? Ya? Yaaaa?! YAAAAAAA!

My Jewel My Soul

The Final Chapter. Night in Darkness Gallery

"Halo... Racchi." Katanya.

Sayangnya, aku masih tak bisa berbuat apa-apa karena aku masih berhamburan 'beling,' tapi perhatian terhadapnya membuatku tak bisa mengelaknya. Dia seperti magnet...

"Lama tak bertemu..." Kataku... Seperti dikendalikan. "...Huh... Huh.."

"Sejak pertemuan terakhir kali... Apa kau mengingatnya?"

"Kenapa... kamu menanyakan itu?" Aneh, di sini aku seperti terbawa arus, padahal aku ingin banget merasa kesal dan marah, kenapa aku harus dihadapkan kembali kepada orang ini.

"Lupakanlah."

Fragmentfang di belakang sudah kalah, dan yang lain menanyakan keberadaanku.

"Racchi... Siapa dia?"

"Dia..." Lalu aku ditutup mulut olehnya.

"Panggil aku White Racchi." Katanya. "Aku sedikit mirip dengannya, kan?"

Stres, aku udah mau bilang, "Kamu kalah jauh gantengnya dari aku."

"Memang mirip... Tapi..."

"Sudahlah... Aku akan bawa kalian menjauh dari sini."

Lalu mereka semua pergi. Meninggalkanku...

"Penguasa..." Kataku hampir menangis. "Why you do it all to me...?"

Aku menganggap penguasa membuat drama ini, dan dia yang berada di balik latar. Dan kali ini aku... kalau ada dirinya... Aku tak akan bisa apa-apa...

Penguasa...

Apa perlu aku mengambil kembali kalian semua...?!

(Instution's POV)

"Uh..." Kataku hampir menangis.

"Ada apa?" Tanya Yuutsu.

"Dalam segel itu... Ada dia..." Kataku, masih menahan tangis.

"Apa.. Bagaimana bisa?!"

"Aku nggak tahu... Aku kan nggak bisa menduga hal macam ini...!"

"Lalu.. Apa yang kita harus lakukan..?"

"Menunggu." Kataku tegas. "Kita nggak bisa seenaknya ikut campur urusan dunia."

"Tapi... selama ini keadaannya baik-baik aja." Kata Rean.

"Iya, itu sekarang. Nanti gimana... Belum lagi, katanya Pico-chan hilang..."

Kalau memang sejak dia keluar dari 3 dimensi yang berbeda, dan tiba-tiba Pico menghilang, itu.. Apa berarti dia tersesat? Ah, tidak, dia pulang, kok. Tapi di mana? Apa dia diculik? Kenapa aku memikirkan hal ini? Jawaban dari itu semua adalah aku tidak tahu.

"Apa ada hubungannya Pico menghilang dengan datangnya 'dia...'" Gumam Yuutsu.

"Yang mungkin juga hanya 'apa ada hubungannya Pico menghilang dengan tragedi yang akan datang...'" Kataku, entah membenarkan apa nggak.

"Kenapa begitu?"

"Aku yakin kalau si.. apa... White Racchi itu punya ikatan kecil dengan Pico dan hendak melakukan sesuatu kepadanya."

"Namanya White Racchi?" Tanya Rean, sok polos.

"Alias. Kita tahu nggak ada orang yang pengen namanya sama dengan orang lain." Jelasku. "Itu pemikiranku, yah."

"Kita kok cuma ngobrol kayak gini? Setidaknya bantuin Racchi untuk hal selanjutnya!" Bentak Yuutsu.

"Kita nggak bisa seenaknya ikut campur, Fujiwara-chan!" Bentakku balik. "Kita cuma bisa menunggu apa yang akan dihadapi Racchi berikutnya."

"Aku akan membuat kontak dengannya."

Lalu Yuutsu membuat kontak dengan Racchi, dan menunggu jawaban sambil panik.

"Gagal." Gumam Yuutsu.

"Hmmph..." Kataku menghembus nafas panjang. "Apa kubilang."

"Kenapa... Kita tidak bisa membuat kontak dengannya?"

"Karena White Racchi adalah pengunci kesadaran Racchi. Dan kupikir, dia sedang dalam kondisi low, dan itulah mengapa, kau tak mendapat jawaban darinya." Jelasku.

Dasar keras kepala, dia mencoba membuat kontak dengan Dolce. Si Yuutsu itu makin penasaran keadaan di sana.

"Dolce..?! Dolce?!"

"Uhm... Uhuk.."

"Dolce?! Ada apa? Apa yang terjadi di sana?!"

Tak dapat dipercaya, ternyata membuat kontak dengan Dolce berhasil. Tapi tetap, anak ini keras kepala.

"Barusan... White Racchi... Membuat semua orang..."

"Apa?! Apa yang dia lakukan?!"

"Dia membuat mati semua orang... Dan aku masih bisa bertahan, tapi Racchi... Dia ditinggalkan kami di Rune Prana..."

Rune Prana?! Berarti setelah dia menghancurkan segel itu White Racchi malah mengajak yang lain ke luar, dan meninggalkan Racchi?

"Tak apa, Dolce. Kami akan berusaha membantunya. Sampai jumpa."

Lalu, Yuutsu menutup kontaknya.

"Ini gawat. Keadaan di sana makin tidak membaik ketika datangnya White Racchi."

"Kalau masih ke Rune Prana, aku bisa bertahan dan memberi Racchi bantuan..." Kataku. "Makanya aku sekarang ingin melihat keadaannya."

Lalu aku menembus ruang untuk pergi ke sana, dan tetapi yang hanya bisa kulihat adalah bongkahan segel yang sudah hancur saja. Ke mana Racchi itu?

Karena keterbatasan waktu yang aku punya untuk menjelajahi dunia ini, maka aku cepat-cepat kembali.

"Bagaimana? Kau bertemu dengannya?" Tanya Yuutsu setibanya aku datang.

"Aneh.. Di sana aku tidak bertemu dengannya..."

"Singkat kata... Berarti si White Racchi itu datang menjemputnya?"

"Atau dia pergi dari sana." Kataku lagi. "Dia pasti hendak berjuang sendiri untuk melupakan apa yang sebenarnya terjadi."

"Jadi, saat ini, dia sedang patah hati, ya?" Kata Zero.

"Maksudmu?"

"Mungkin dia merasa kehilangan."

"Aku mengerti."

"Lalu... Apa Dolce juga akan mati..?" Gumam Yuutsu.

"Kita semua hanya bisa memerhatikan dan menyaksikan semua yang terjadi di sana. Kalau kita malah ikut campur dunia, keselamatan kita bisa terancam." Jelasku. "Kita cuma bisa berdo'a, apa yang akan terjadi, bukan lagi urusan kita."

(Racchi's POV)

Aku masih berjalan-jalan di sekitar Rune Prana untuk pulang, tapi apa daya, ini sudah batas kekuatanku. Belum lagi, ada juga si brengsek itu yang membuat susah semua orang. Entah kenapa, ada yang masih mengganjal, tapi aku merasa kalau aku sudah mengingat semuanya.

Di sebuah sudut aku lihat banyak sekali darah.

"Uh..."

Tapi, tanpa kusadari, itu adalah mayat orang yang selama ini tidak terlihat. Dia... Sahabat Dolce... Hantu mungil... Pi... Co...

Mati.

Aku sudah hampir tak berkutik.

Siapa yang melakukan hal ini kepadamu..?

Racchi yang lain..? Apa dia yang melakukan hal ini..? Aku... akan..

"Apa? Kau akan membunuhku?"

Aku menengok ke belakang.

"Sayangnya, setelah kamu berhasil waktu itu, aku tetap tak mau menepati janjimu." Kata... Dia?

"Maksudmu..?"

"Kau sudah tak ingat apapun, ya?" Katanya. "Aku yang dulu pernah merasuki dirimu ketika keberadaan dirimu terancam."

"Jadi... itu kamu?!"

"Iya..." Katanya sambil memasang wajah dengan senyuman yang sok manisnya.

"Hingga kapanpun... Aku akan tetap mempertanyakan janjimu dulu..."

"Bukankah kamu sudah mengingat semuanya walau hanya dengan melihat wajahku?"

"Masih.. Ada yang mengganjal.."

"Bodoh.." Katanya sambil menarik kerahku. "Hingga aku yakin kesadaranmu masih hilang, aku akan mencoba untuk tetap membunuhmu."

"Hah?! Kenapa?!"

"Karena aku benci semua orang. Karena kamu telah merebut semuanya dariku!" Katanya dengan menyimpan pedang di lantai dengan posisi berdiri.

"White... Ah iya... Apa kamu ingat... Dulu kita pernah... Membagi semuanya.." Jelasku pelan. "Aku bahkan rela pergi jauh hanya untuk berkunjung ke sana..." (Ya, maklum ini masa lalunya, jadi wajarlah kalau Readers belum ngerti).

"..Kan?" Lanjutku. "Apa yang aku rebut darimu? Aku bahkan selalu membagi sesuatu apapun itu kepadamu..."

Tapi sepertinya dia tidak mau menerima masa lalunya kalau dialah pemeran utama tragedi World is Leaving.

"Racchi..." Katanya pelan. "Aku tetap... Dengan tekadku."

"?!"

"Terima kasih atas segalanya Racchi, kau tetap seorang teman baik." Katanya lagi. "Sampai jumpa dan.. Selamat tinggal."

(Dolce's POV)

Cepatlah... Aku harus cepat mencari Pico dan Racchi... Tapi... Bagaimana dia bisa kesetanan begitu cepat, dan begitu cepat pula dia membuat rusuh semua orang?

Apa aku harus kembali ke Rune Prana?

Aku tidak ingin melihat semuanya... Tapi di sisi lain ketika aku menengok...

Pico... Racchi... Mereka... M-ma-

"Mereka mati."

Aku terkesiap.

"Kamu... Yang melakukannya?!"

"Hmh.. Ha.." Katanya setengah tertawa. "Itu bukan urusanmu."

"Hentikan! Aku tahu ini semua perbuatanmu!"

"Jangan di sini ngobrolnya. Racchi masih sadar."

Lalu dia men-teleport aku ke luar Rune Prana.

"Untuk apa kamu membunuhnya..?" Kataku membuka percakapan.

"Karena aku ingin saja."

"Apa? Nggak masuk akal!" Bentakku. "Bukankah... Kamu itu..."

"Cukuplah, aku mengerti semua yang akan kamu ucapkan." Katanya, lalu berjalan mendekatiku. "Tapi aku tidak bisa sepakat denganmu."

Jreb!

Argh!

"..." Dia memandangiku seperti aku terlihat bodoh untuk dia lawan. "Lebih baik kamu berdampingan dengannya."

(Back to Racchi's POV)

Seperti kata White Racchi tadi, Racchi masih sadar. Dan aku tidak tahu... Hendak kuapakan lagi dunia ini... Aku tidak bisa membantu seperti pada tragedi pembunuhan massal di Selphia dulu..

Apa... yang kulakukan... Kenapa aku pergi ke tempat segel tadi..?

White Racchi... Ah, bukan. Namanya...

"Kau masih hidup rupanya." Katanya.

"Jangan menghilangkan hawamu dong. Kaget tau." Kataku, dengan nada melawan.

"Oh. Apa yang kamu lakukan di sini?"

"...Hendak... Membunuh... kamu.."

"..." Ada hening yang cukup lama. "Kau tahu Racchi. Aku tidak bisa mati olehmu. Kau tahu kenapa?"

"Karena kita kembar yang spesial... Kau bahkan tidak bisa menghilangkan nyawaku barusan." Kataku tidak sadar.

"Benar."

"Tapi..." Gumamku, masih nggak sadar. "Aku tahu caranya."

Lalu aku memanggil banyak rantai-rantai hitam dan gerbang menuju kegelapan Abyss.

"Racchi..." Katanya panik. "Apa yang kamu lakukan?!"

"Mencoba membunuhmu..." Jawabku pelan.

"Jangan coba itu, Racchi! Kalau kamu melakukannya, kamu juga akan hancur..."

"Aku tidak melakukan hal ini seperti kamu yang egois! Ini untuk semuanya.."

"Racchi... Jangan... Aku tidak mau kehilangan kamu!" Katanya setengah menangis.

"Biar aku yang memulai." Kataku. Lalu aku tambahkan hening sebentar. "White Racchi... Ah tidak.."

"Jangan... Jangan sebut... namaku! Kau juga akan hancur...!"

"...Zwillinge Dolgatari..."

Dia terlihat terkesiap.

"Jangaaaan!"

"Aku... ingin melepas kontrak yang dulu pernah kita buat."

(Dolce's POV)

.. Ada aura apa ini... Di atas...

Aku terbangun dari kematian sementaraku, dan memeriksa apa yang terjadi di sana. Itu kan, tempat segel tadi ada...

Ketika aku memeriksanya...

Racchi.. White Racchi...

White Racchi menangis begitu keras dan di depannya ada jasad Racchi yang sudah mati dan hendak ditelan Abyss.

"Apa yang..." Kataku.

"Racchi..." Katanya berusaha berhenti menangis. "Membunuh dirinya sendiri dan hendak membunuhku juga... Untuk dunia ini..."

"Apa... Katamu.."

Melihat dan mendengar hal itu membuatku ikut menangis...

Sementara di sana Penguasa cukup khawatir dan sedih akan kematiannya.

"Uh... Racchi.." Kata Penguasa sambil menangis.

"Sudahlah.. Ini... Pilihannya yang tepat menurutku." Kata Rean menenangkan.

"Walau begitu... Aku yakin dia akan tetap bahagia..."

Kembali ke Dolce's Side

White Racchi sudah hendak lenyap, dan sebelum itu dia mengatakan...

"Oh iya... Ada pesan dari Racchi..." Katanya lemas. "...Dia akan selalu dalam hati dan jiwanya.. Setiap saat."

Mendengar itu, membuatku malah makin menangis. Aku tak ingin kehilangan semuanya, memang, tapi jangan korbankan dirinya...

"Terima kasih... Sampai jumpa... Dan... Selamat... Tinggal..."

The End

Akhirnya selesai! Ini bukan Fanfict terakhir Author ya, jadi stay untuk mendapatkan banyak Fanfict untuk kamu baca! Author sangat berterima kasih kalau kamu juga stay tune, review... Dan... Udahlah.

Special Thanks For!

The one will never forgotten by us, is of course Allah Swt.

Internal Factors, such as laptop and microsoft word

External Factors, such as family, playlist, people who loves

Other Factors, such as my fandom

The Person Who I Love and The Person Who Love Me

Shafira Yuna Az-Zahra (Even I don't know why you're oftenly spoken at this sections) Kezia Yuna Athalia (It doesn't matter, right? Hello, how are you? :D)

The Two Life Mollusc (._.v) : Alfiory Cheisarani Putri Indrajaya and Dheanira Ramadhani Dewi (Mother and Grandma! In those beautiful World! :D)

No other than you, Readers!

However, Arigatou.