DemiGod of Chaos

Summary: Setelah pertarungan melawan Pain. Naruto bertemu dengan seseorang yang membawanya pergi ke dunia asing. Sesampainya dia di dunia tersebut, kekuatan, penampilan, dan ingatannya telah diganti dengan yang baru. Membuatnya menjadi berkepribadian yang sedikit berbeda dengan yang dulu.

Disclaimer: Naruto dan Percy Jackson and the Olympians dimiliki oleh pemiliknya masing-masing (Masashi Kishimoto-sensei dengan Riordan) Saya hanya meminjam karakter dan ceritanya saja.

Warning: Halfcold!Naruto

Keep Calm and Enjoy Reading!

.

.

.


Chapter 7: New Directions and Lightning Girl


Annabeth mencengkram lutut Percy. "Percy." Katanya.

Percy kebingungan, dia mengikuti arah tatapan si putri Athena.

'Oh tidak.'

Dia melihat mantan guru matematikanya, duduk di paling depan dengan tampilan nenek tua, mengenakan gaun belendu kusut, sarung tangan renda, dan topi rajut tak berbentuk, yang menutupi wajahnya, terakhir, menenteng wol besar.

"Mengagumkan." Erang Grover.

Alecto memiliki binar di matanya, wajahnya yang jahat terlihat begitu gembira.

Di sebelah kirinya terdapat dua nenek tua, mengenakan topi hijau, yang lain topi ungu.

'Nenek kembar tiga,' Pikir Percy, dia merengsek di kursi, 'awal yang bagus untuk memulai misi bunuh diriku.'

Bus melaju di jalan Manhattan, Percy merasa tubuhnya membeku dalam ketakutan. "Dia mati tidak terlalu lama," Katanya, berusaha mencegah suaranya gemetaran. "bukannya kau bilang, mereka terusir seumur hidup?"

"Kataku, jika kau lucky," Ucap Annabeth. "Jelas kau lagi sial."

"Di immortals!" Panik Grover. "Ketiganya ada disini."

"Tidak masalah," Kata Annabeth, yang sedang berpikir keras. "Erinyes. Ketiga monster terburuk dari Dunia Bawah. Bukan masalah. Bukan masalah. Kita menyelinap keluar dari jendela."

"Tapi ini jenis jendela yang tidak bisa dibuka." Kata Grover.

"Pintu belakang?" Usul Annabeth.

"Mereka tidak akan menyerang kalau ada saksi," Kata Percy, berharap. "Iya kan?"

"Mata manusia tidak terlalu bagus," Annabeth mengingatkan. "Mata mereka memproses apa yang ingin mereka lihat di kabut."

"Mereka akan melihat tiga orang nenek membunuh kita, 'kan?"

Annabeth memikirkannya. "Tidak tahu. Tapi, yang pasti kita tidak akan bisa mengandalkan bantuan manusia. Mungkin pintu darurat di atap...?"

Busnya sudah berada di Ninth Avenue, memasuki Terowongan Lincoln. Bus itu menjadi gelap, namun ada lampu di setiap lorong, yang memberi penerangan.

Alecto bangkit, dia menyatakan dengan nada datar, "Aku perlu ke kamar kecil."

"Aku juga," Kata si saudari kedua.

"Aku juga," Kata si saudari ketiga.

Mereka semua menyelesuri lorong.

Annabeth memberikan topi Yankeenya pada Percy, "Kenakan." Katanya paksa.

Percy melotot, dia tahu apa yang dilakukan oleh sang putri Athena.

Jujur saja, ia tidak suka dengan ide tersebut.

"Tidak akan."

Annabeth menggertakkan giginya. "Mereka mengincarmu, seaweed brain."

"Kau saja yang pakai, wise girl."

"Kaulah yang mereka inginkan," Annabeth berargumen. "Pakai ini, dan pergilah ke pintu keluar."

Percy melihat Alecto dan dua saudarinya hampir mendekatinya.

Frustrasi. Percy mengambil topi Yankee dan memakainya.

Ketika melihat ke bawah, dia menyadari tubuhnya telah menjadi kasat mata.

Percy mengendap-ngendap melangkah di lorong, berbekal nyali dan keberaniannya, dia berhasil melewati para Erinyes.

Alecto berhenti, mengendus-endus, dan menatap lurus-lurus kepada Percy, yang sedang panik.

Beberapa menit kemudian, dia dan saudari-saudarinya terus berjalan, membuat sang putra Poseidon bernafas lega.

Percy berhasil sampai ke bagian depan bus, sekarang, bus sudah hampir keluar dari Terowongan Lincoln. Dia baru hendak menekan tombol rem darurat, ketika mendengar suara lolongan dari belakang.

Percy menoleh, dan melihat para nenek itu, telah berubah menjadi makhluk seperti kelelawar berkulit cokelat dengan tangan-kaki bercakar seperti gargoyle. Tas mereka juga berubah menjadi cambuk berapi.

Ketiga Erinyes mengepung Annabeth dan Grover, melecut-lecutkan cambuk sambil mendesis. "Di mana? Di mana itu?"

Orang orang di bus menjerit-jerit. Mereka merapatkan diri di kursi masing-masing.

'Mereka jelas melihat sesuatu.' Pikir Percy.

"Dia tidak ada disini!" Teriak Annabeth. "Dia pergi!"

Ketiga Erinyes mengangkat cambuk.

Annabeth bersiap dengan pisau perunggunya, sedangkan Grover bersiap dengan kaleng timahnya.

Apapun yang Percy akan lakukan sekarang, benar-benar gila, dan harus diberi tepuk tangan karna keberaniannya (Baca: kebodohannya).

Perhatian si supir terpecah menjadi dua, berusaha melihat apa yang terjadi di balik kaca spion.

Percy mengambil keuntungan tersebut, masih dalam keadaan tak terlihat, dia menyambar kemudi dan menyentakannya ke kiri.

Semua orang histeris dan terlontar ke kanan, Percy mendengar suatu bunyi, yang dia harap adalah bunyi para Erinyes terbanting ke jendela.

"Hey!" Seru si sopir. "Apa yang—wah!"

Aksi memperebutkan kemudi dimulai oleh Percy dengan si supir, yang saling tidak mengalah dan bergulat satu sama lain.

Bus itu menghantam sisi terowongan, logam bergesekan, menyemburkan api sejauh satu kilometer di belakang bus.

Bus keluar dari Terowongan Lincoln dengan oleng dan memasuki jalan, yang sedang terjadi badai hujan.

Baik orang maupun monster terlontar-lantir di dalam bus. Mobil-mobil lain terpaksa menyingkir dan hampir tergilas oleh bus.

"DUMBASS!"

"STUPID DRIVER!"

"ASSHOLE!"

"MORON!"

"SON OF BITCH!"

"FUCK YOU!"

Percy sweatdrop.

Si supir nampaknya membawa bus ke salah satu jalan pedesaan di New Jersey. Daerahnya begitu sepi, terasa seperti di kuburan.

Di sebelah kiri, terdapat sebuah hutan, di sisi berlawanan terdapat Sungai Hudson. Si supir membelok kearah sungai.

Gagasan hebat yang dapat Percy lakukan; yaitu menginjak rem darurat.

Bus itu berputar satu lingkaran penuh pada aspal basah, dan menabrak pepohonan.

Lampu darurat menyala, pintu pun terbuka. Si supir adalah orang pertama yang keluar, diikuti penumpang lain sambil menjerit-jerit. Percy menyamping ke kursi supir, membiarkan mereka lewat.

Ketiga Erinyes berhasil berdiri tegak kembali. Mereka melecutkan cambuk pada Annabeth, tapi Annabeth berhasil menghindar. Grover melemparkan kaleng-kaleng timah miliknya, memberi bantuan untuk sang putri Athena.

Percy melihat ke pintu terbuka. Dia bisa kabur, tapi ia tidak bisa meninggalkan teman-temannya. Sang putra laut melepas topi Yankee, lalu berteriak. "Hey!"

Ketiga Erinyes menoleh, memperlihatkan taring kuning mereka yang mengerikan.

Alecto merengsek maju, kedua saudarinya melompat keatas kursi di samping kiri- kanan, merayap kearah Percy.

"Perseus Jackson," Kata Alecto, dengan tatapan seperti seekor predator. "Kau sudah menyinggung perasaan para dewa. Karna itu, kau akan mati di tanganku."

"Aku lebih suka waktu kau menjadi guru matematikaku." Ujar Percy.

Alecto menggeram.

Annabeth dan Grover bergerak di belakang para Erinyes dengan hati-hati, mencari peluang menyerang.

Percy mengambil pena dari sakunya, dan membuka tutupnya. Riptide memanjang menjadi pedang perunggu bermata dua.

Ketiga Erinyes terdiam.

"Menyerahlah sekarang," Ancam Alecto. "Jika kau tidak ingin merasakan penderitaan abadi."

"Mana mungkin aku mau!" Teriak Percy, sambil menghindari serangan lecutan cambuk dari Alecto.

"Percy awas!" Seru Annabeth.

Kedua Erinyes menerkam Percy di sisi lain, Percy menendang salah satu Erinyes, membuatnya terjungkang ke kursi. Erinyes lain berusaha mencakarnya, tapi Percy memotong cakar tersebut, lalu menebas kepala Erinyes, meledak, dan berubah menjadi debu.

Memanfaatkan keadaan, Annabeth menahan tubuh Alecto, disusul oleh Grover, yang mengambil cambuk dari tangannya.

"Aduh!" Jerit Grover, yang sedang melompat-lompat, seperti hewan kangguru. "Panas! Panas! Panas!"

Erinyes yang terjungkang ke kursi, menyerang Percy kembali. Sebelum sang monster itu mengayunkan cakarnya, Percy terlebih dahulu menyabet Riptide menuju lehernya. Erinyes menjerit, dan pecah menjadi embun.

Alecto berusaha melepaskan diri dari Annabeth. Dia menendang, menggigit, mendesis, dan mencakar. Tapi cengkraman sang putri Athena, tak dapat di taklukkan dengan mudah.

Grover telah selesai mengikat kaki dengan cambuknya sendiri. Mereka bertiga lalu mendorongnya ke lorong.

Alecto mencoba bangkit, tapi tak ada ruang untuk mengepakkan sayap kelelawarnya, jadi, dia terus terjatuh-jatuh.

"Zeus akan menghancurkanmu," Janjinya. "Dan Hades akan mendapatkan jiwamu."

"Braccas meas vescimini!" Balas Percy, yang berarti makan saja celanaku.

Guntur mengguncang bus.

"Keluar!" Teriak Annabeth.

Tanpa disuruh pun, Percy akan melakukannya.

Mereka bertiga keluar, dan menemukan penumpang lain kebingungan. Ada yang bertengkar dengan supir, mondar-mandir, atau berlari berputar-putar sambil berteriak "Kita akan mati!" Seorang turis berkemeja Hawaii, yang memegang kamera, mengambil foto Percy sebelum dia sempat menutup pedangnya.

*snap!*

"Tas kita." Sadar Grover. "Tas kita tertinggal—"

*DUAAARR!*

Bus meledak setelah tersambar guntur, bersamaan dengan lolongan kemarahan dari dalam, menandakan bahwa belumlah mati.

"Kita pergi dari sini." Kata Annabeth.

Mereka bertiga masuk ke dalam hutan, sementara hujan deras tampak di background.


[ In Hospital ]

With Naruto Group


"Bisa kau jelaskan? Kenapa kau memanggilku paman kecil?"

Apollo nyengir, dia sudah menduga Naruto akan bertanya itu padanya. "Kau adalah anak sang pencipta, saudaramu adalah para primordial. Setua apapun aku darimu, dalam garis darah, kau adalah sosok uncle di mata semua deity."

"Begitu," Gumam Naruto, lalu dia sadar akan sesuatu. "Mana Jason? Atau Piper? Bagaimana keadaan ayah Piper?"

"Wow, wow. Tenang, tenang. Lil uncle. Akan aku jawab satu-satu pertanyaanmu." Ujar Apollo, dia melanjutkan. "Untuk Piper. Baby sitternya telah membawanya pulang. Untuk Tristan. Dalam dua hari, dia akan dapat beraktivitas seperti biasa. Untuk Jason. Dia telah di kembalikan ke perkemahan Jupiter."

"Di kembalikan? Bukankah tugasnya—"

"Yunani dan Romawi tidak ditakdirkan untuk bertemu." Potong Apollo. "Kau tahu 'kan, apa alasannya?"

Naruto ingin meninju apapun saat ini, kenapa dia bisa lupa hal itu?

Ia melirik kearah Will dan Clarisse, yang sedang pingsan. "Apa motifmu melakukan ini?"

Naruto hampir saja ingin menebas leher sang dewa matahari, karna ulahnya tersebut.

Apollo meringis. "Mau bagaimana lagi," Katanya. "aku tidak mungkin membiarkan orang luar, ikut campur dalam misimu, meskipun itu adalah keturunanku sendiri."

"Will dan Clarisse termasuk dalam petunjuk yang dikatakan Oracle." Kata Naruto, sedikit memicingkan mata. "suka atau tidak suka mereka akan ikut bersamaku."

Apollo menggelengkan kepalanya. "Aku takut hal itu tidak boleh terjadi," Balasnya. "aku membuat kesalahan ketika Oracle memberikan petunjuk untukmu."

Dia menambahkan. "Salah satu kekuasaanku adalah prophecy. Dengan kata lain; Oracle memberikan petunjuk berdasarkan masa yang akan mendatang."

"Apa yang kau katakan belum cukup untuk menjawab pertanyaanku."

"Masa depanmu itu unik, lil uncle. Selalu berubah-ubah, tak dapat di prediksi, tak dapat di ketahui, tak dapat di buktikan." Kata Apollo.

Naruto terdiam. "Aku anggap itu bukanlah pertanda yang bagus." Ujarnya.

Apollo mengangguk. "Sangat. Yang lebih parahnya lagi, satu kesalahan yang kau perbuat, akan berdampak fatal untuk yang lainnya."

"Dan satu lagi, aku harus memberikan petunjuk yang baru untukmu."

Mata Apollo bercahaya emas, memaksa Naruto menutup kedua bola matanya.

Kau akan pergi ke tempat, dimana ketiga pusaka akan terkumpul.

Kau akan bertemu dengan, dua saudara kandung dari dunia bawah.

Waspadalah terhadap langit, anak pencipta, kau tidak diterima disana.

Dan diakhir kau akan menghadapi sang dewa yang tidak nyata.

Setelah cahaya itu hilang, Apollo terjatuh ke lantai.

"Apollo." Kata Naruto, khawatir.

Apollo mengangkat lengannya, dan menjawab. "Aku baik-baik saja."

"Keadaanmu berbicara sebaliknya."

"Daripada mengkhawatirkan kondisiku, kau harus pergi secepatnya."

Naruto kebingungan, "Memangnya ada apa?"

"Zeus mengincar nyawamu, saudari kembarku diperintahkan untuk membawamu."


Naruto terpaksa melanjutkan perjalanannya sendirian.

Apollo memberikan sebuah ransel: yang berisi sebuah cincin dan botol parfum.

"Dari Aphrodite. Untuk lil uncle. Itu katanya."

Naruto tidak menanyakan perihal itu lagi.

Dia menekan bulatan di cincin tersebut, sebelum kilauan putih menyelimuti pandangannya.


Apollo tersenyum lebar, meskipun dia agak lelah karna sudah menggunakan setengah godly power nya, tapi perasaan lega menyelimuti hatinya.

"Apollo, sedang apa kau disini?"

Suara seorang wanita, terdengar dari arah belakang.

Senyum Apollo memudar, digantikan dengan senyum yang biasa dia pakai untuk menutupi perasaan aslinya.

"Hai! Arty."

Arty aka Artemis. Merupakan seorang dewi perburuan, perawan, kelahiran, dan bulan. Dia memiliki rambut auburn, mata berwarna silver-kuning, mengenakan satu set pakaian pemburu full-silver, dan sandal.

Artemis diperintahkan oleh Zeus, ayahnya, untuk memburu sang putra Chaos. Zeus beranggapan bahwa putra Chaos akan memanfaatkan keadaan di Olympus, untuk menggusurkan tahtanya dan merebut posisinya sebagai raja di Olympus.

Sebagai dewi perburuan, tugas ini memang sangat cocok untuknya.

Meskipun begitu, dia tidak bisa melacak bau putra Chaos. Artemis memutuskan meminta bantuan pada Apollo.

Sekesal-kesalnya ia pada saudara kembarnya tersebut, dalam hal cari-mencari, Apollo lah satu-satunya dewa yang dapat di andalkan.

Artemis menggeram, dia selalu kesal jika saudara idiotnya berkata seperti itu. "Bisa kau berhenti memanggilku dengan nickname bodohmu itu?"

"... Aku tahu kau menyayangiku lil sis."

"...Kau ingin aku tembak di mana? Lubang pantat atau alat vital?"

Apollo terkekeh. Menggoda saudari kembarnya memang menjadi rutinitasnya setiap saat. "Aku hanya bercanda, Artemis."

Artemis memutar kedua bola matanya. "Aku ingin menanyaimu sesuatu."

"Menanyai tips untuk memikat hati para pria bishounen? Tenang, kau bertanya pada orang yang tepat."

"Bukan itu bodoh!" Teriak Artemis, dengan kedutan di dahi. "Apa kau tahu, letak putra Chaos?"

Apollo berharap dia bisa membeli waktu sebanyak-banyaknya untuk Naruto. Karna ia tahu, misi yang diemban olehnya sangatlah penting. Sehingga tidak boleh ada seorang pun yang menganggu atau mencoba-coba menghentikannya.

Sang dewa kejujuran menghela nafas berat.

"Akan ku beritahu. Dengan satu syarat."

Artemis menaikkan alisnya. "Syarat?"

"Yah, syarat. Kau lakukan syarat yang aku pinta. Sebagai balasan, akan kuberitahu lokasi putra Chaos."

Artemis berpikir keras, lalu mengangguk. "Apa syaratnya?"

"Kau harus... Ikut serta dalam pembuatan video porno, dengan judul Sweet in Maiden Ass. Bagaimana?"

"...Alat vitalmu akan ku musnahkan sekarang juga."

'Selamat tinggal. Apollo Jr. Pengorbananmu tidak akan tersia-siakan.'


With Naruto


Naruto mendarat di sebuah kursi, di dalam kereta.

Dia berkedip beberapa kali, memastikan bahwa indra penglihatannya tidak membohonginya.

'Kereta?' Pikirnya. 'Apa artinya ini?'

Naruto bangkit, lalu berjalan menyusuri tiap-tiap lorong.

Sejauh ia memandang, ada beberapa orang selain dirinya, menaiki kereta ini.

Naruto tidak tahu tujuan kereta ini ke mana. Jadi, dia bertanya pada seorang pria.

"Permisi, sir, boleh aku menanyakan sesuatu?" Tanyanya.

Pria itu menengok. "Yah, silahkan saja."

"Kereta ini akan membawa kita kemana?"

"Tentu saja ke San Francisco, nak."

Naruto mengulas senyum miring.


Naruto kembali ke kursinya.

Sudah dua jam berlalu, di luar hujan deras, bersamaan dengan hari telah menjelang malam.

Dia mengambil botol parfum dari ransel, lalu menyemprotkan parfum tersebut pada seluruh anggota tubuh.

Mengantuk, dia kemudian tertidur.


Naruto merasa ada yang tidak beres, manik silvernya menatap sebuah ruangan bernuansa Yunani, lengkap dengan benda-benda yang akan selalu ada di sebuah kamar pribadi.

"Siapa kau?"

Dan, dia tidak sendirian di ruangan tersebut.

Ada seorang gadis, berumur empat belas tahun. memiliki rambut hitam runcing, dengan pakaian seperti punk. Dia mengenakan pakaian kaos hitam, celana jeans compang-camping, dengan jaket hitam yang bertuliskan "Green Day"

Yang menarik perhatian Naruto, adalah warna mata gadis itu berwarna biru elektrik.

Gadis itu duduk di atas kasur, tidak jauh dari posisi berdirinya.

"Namaku Naruto, Naruto Hikaryuu." Kata Naruto, memberitahu namanya.

Gadis itu terdiam, tetesan air mata terjatuh di pelupuk matanya.

Naruto terkejut. "H-hey, kau baik-baik saja?"

Dia mengulurkan lengannya, untuk menghapus air mata itu.

Sebelum lengannya sampai, gadis itu menyambar lengan Naruto, lalu memegangnya seerat mungkin.

"Kau nyata."

Naruto membiarkan gadis itu memegang tangannya, entah mengapa, dia merasa gadis itu belum pernah berinteraksi dengan orang lain, selain ia.

Tidak tega, sang putra dewa pertama mengusap mata gadis itu, menghilangkan air mata, yang terkumpul disitu.

Selesai Naruto pelan-pelan menarik lengannya. Dia berujar. "Siapa namamu—kita ada dimana?"

Gadis itu kelihatan malu, karena ketahuan menangis di hadapan orang asing.

Sedetik kemudian dia tersenyum.

"Namaku, Thalia. Kita berada di Limbo."


Thalia menerima kematiannya dengan lapang dada, dia tidak menyesali perbuatannya. Yang penting, Annabeth, Grover, dan Luke, dapat selamat.

Zeus mengagumi keberaniannya, dan mengambil simpati atas kematiannya. Menghidupkannya kembali dalam bentuk pohon pinus, yang diberi nama pohon Thalia. Sekaligus membuat pohon Thalia, sebagai pelindung untuk perkemahan blasteran.

Bertahun-tahun lamanya Thalia di Limbo, dia memiliki hidup yang nyaman, apapun yang ia inginkan tinggal di ambil tanpa harus bersusah payah.

Tapi, Thalia kesepian.

Dia tidak mati, dan juga tidak hidup. Sang putri Zeus hanya pasrah, mungkin inilah konsekuensi yang dia dapatkan akibat kelakuan munafiknya.

Thalia melirik kearah tubuhnya, dia seharusnya berumur sembilan belas tahun sekarang. Namun, nampaknya pertumbuhannya melambat dari yang seharusnya.

Ketika dia sedang merenung, seorang remaja berambut hitam muncul dari ketiadaan.

Thalia tidak tahu harus berbuat apa, dia hanya menatap si remaja dengan mata terguncang.

'Ini, bukan mimpi kan?' Pikirnya, tidak mempercayai kalau dia sedang melihat seorang manusia setelah sekian lamanya.

Remaja tersebut membuka mulutnya. "Namaku Naruto, Naruto Hikaryuu."

Thalia menangis.

Akhirnya, dia bisa berinteraksi kembali, berinteraksi dengan seseorang.

Thalia memandang remaja bernama Naruto, tampak terkejut melihat dia menangis. "H-hey, kau baik-baik saja?"

Mulut Thalia tertutup rapat, dia tidak bisa menahan tangisannya. Yang telah ia simpan sejak lama.

Remaja itu mengulurkan lengannya, Thalia menyambar lengannya, lalu memegangnya seerat mungkin. Memastikan bahwa apa yang sedang terjadi bukanlah sebuah ilusi.

"Kau nyata."

Hanya kata-kata itu yang keluar, kata-kata yang mewakili perasaan bahagianya.

Thalia merasa lengan si remaja mengusap matanya, menghilangkan air mata, yang belum sempat lepas dari sana.

Remaja itu bertanya. "Siapa namamu— kita ada dimana?"

Thalia merasa malu, namun, dia lalu tersenyum.

"Namaku, Thalia. Kita ada di Limbo."


[ In Somewhere ]


Seorang pria tua berambut putih, mata putih tanpa pupil, dengan jenggot pendek. Dia mengenakan setelan bisnis putih dan sepatu hitam. Di tangan kirinya, terdapat sebuah jam pasir kuno, yang masih bergerak.

Pria tua itu melebarkan matanya, sebelum pandangannya menjadi sendu.

"Hanya karena dendam, kau sampai sejauh ini?" Gumamnya pada dirinya sendiri.

Dia memandang ke sebuah cermin, dimana, kedua remaja berambut hitam dan putih. Saling bertukar pukulan dan tendangan, bertempur bagaikan hewan buas, yang diliputi amarah tanpa batas.

"Akira."


T-B-C


A/N: Uggh! Tugas dari sekolah ternyata bener-bener susah, mana gurunya killer lagi.

Eh? Kenapa Author jadi curhat disini :D

Anyway, ini chapter 7, semoga para reader suka.

Ngomong-ngomong, author butuh OC nih, dua aja. Dari para reader, tapi laki-laki. Untuk menyeimbangkan pairing.

Sebutin nama, anak dari dewa mana( boleh Tiga Besar/ Second Generation of Olympians/ dewa minor ) tipe senjata, kesukaan, yang tidak suka, etc.

It's review time~~:

Fahzi Luchifer: DemiGod gan :D

Reyvanrifqi: Tentu :D

Firman597: sorry gan, ane lebih fokus pada dunia nyata. Tapi, tenang aje, fic ini gak akan discontinued kok :D

Erathia Kingdom: Maaf gan, disini pure Adventure, tapi slight action. Tenang, sekali bertarung lawan Naruto bukan lawan biasa :D

Guest: don't like my fic? Create another one, end.

96Yuuki: makasih atas dukungannya gan :D

Guest: Don't like my story? Deal with it.

Medd Gate'z: ada gan, satu karakter dari dunia shinobi :D. Tapi gak akan saya kasih tahu. Naruto akan ingat, hanya tidak permanen. Cuman bayangannya doang.

Orang Asing Biasa: Done :D

ArataKyousuke146: Review agan membuat saya terharu *Author anime tears*

Naru rinne: Done :D

steven. : Terima kasih :D

Namikaze Yohan396: Ada gan. Tapi, gak akan dicantumin :D

Guest: What the fuck is going on here?

See ya next chap!