HIS
Belong to Kishimotto Sensei
Story original by my self
Rated : T (aman)
Genre : Humor-Romantic-Friendship
.
.
Dont Like, Dont Read, I warn you , Please dont hurt me
SAHABAT , ya kadang baik kadang juga tidak. Mereka selalu ada dan mereka selalu tidak ada. You Are my friend
Happy Reading
.
.
Beep .. beep .. beep
'TANJOUBI OMEDETOU HINATA NO TOMODACHI'
Ponsel Sakura kembali berbunyi, tapi itu bukan telepon , bukan SMS tapi sebuah pengingat yang memberitahukan Hinata ulang tahun.
"Oh Astaga aku lupa , hari ini adalah ulang tahun Hinata" Sakura menepuk jidat lebarnya panik. Saat ini mereka sedang berada disebuah taman bunga yang indah dan sepi tentunya. Jauh dari kota atau perumahan.
Sasuke dan Sakura sedang duduk berdua dibawah pohon besar yang rindang dan sejuk. Ahh begitu romantis.
"Aku akan menghubunginya" Sakura mencari nama Kontak yang bernama Hinata tapi tiba-tiba ponselnya mati. "Arghhhhh kusooo !" ia memukul-mukul ponsel laknatnya itu. mau dilempar sayang Cuma ada satu.
Sasuke menautkan alisnya sebelah , menatap Sakura heran yang sibuk sendiri dari tadi dia bicara sendiri.
"Kau kenapa?" tanyanya
"Ano Sasuke hehe" sakura menggaruk kepalanya. "Boleh pinjam ponselmu?"
"Tidak" jawabnya cepat.
"Kenapa? Ini sangat penting hari ini temanku ulang tahun" rengek Sakura pada pemuda raven itu. Sasuke tidak bergeming sama sekali , saat ini ia hanya ingin menyendiri ah bukan berduaan dengan Sakura. Tentunya Sasuke sedang memikirkan kapan waktu yang tepat untuk memancing gadis ini.
Tapi Sakura tiba-tiba bertingkah aneh bagaimana mungkin Sasuke beraksi kalau Sakuranya seperti ini?
"Kau mau kembali lagi kesekolah dan mengucapkannya?"
"..."
Sasuke menatap gadis itu lebih lama. Moodnya tiba-tiba menurun karena ulah Sakura sendiri, Sasuke itu mudah emosi loh , Sakura jangan coba-coba memainkan pemuda raven ini.
"Kau bisa menemui temanmu setelah pulang dari sini, kita terlanjur jauh dari mereka dan kalaupun kau mengubungi dia kau akan ketahuan sedang berkencan denganku. Kecuali kalau kau memaksa ingin pulang. Pulang saja sendiri"
Apa kencan? Sasuke menganggap ini kencan? Jika dilihat memang benar , kalau seorang laki-laki dan permpuan sedang berduaan itu sudah termasuk dengan kencan.
Sakura mendadak salah tingkah, wajahnya mengeluarkan semburat merah.
"Ke-ke-ken-can?" Sakura mendadak gagap. Dengan cepat Sasuke memutar wajahnya guna menyembunyikan wajah merahnya juga.
Sebenarnya dia tak berniat bilang 'kencan' mungkin karena dia sedikit kesal atau dorongan hatinya kalimat itu keluar dengan sendirinya.
"Ya" jawabnya dengan suara yang sangat pelan. Tentunya dengan wajah yang masih disembunyikan , Sasuke masih belum berani menatap lagi gadis pink itu.
"Kau mau kan diajak kencan olehku?"
"Mana mungkin aku bilang tidak karena kita sudah berada disini kan". Jawab Sakura cepat. Ah hati Sakura sudah benar-benar ditusuk oleh panah cintanya Sasuke. Ternyata pemuda ini punya perasaan yang sama dengan Sakura.
'Yeeee dia menyukaiku juga, ini adalah kekuatan cinta , SHANAROO' Inner Sakura berteriak senang.
Sasuke menghela nafas lega karena Sakura tak menolaknya. Tunggu dia belum menyatakan cinta kan, Sasuke kembali berfikir.
"Ng ,, Sakura"
"Ya .."
"Apa tidak akan ada yang marah kalau kau pergi denganku?". Tanya Sasuke , ahh itu kalimat lama Sasu-Chan. Modus tuh modus !
"Siapa yang marah? Ibuku?" jawab Sakura dengan tampang polos.
GUBRAKK .. rasanya Sasuke ingin menyentil gadis baka ini yang mirip Naruto. 'bunuh saja aku kami-sama , bunuh !' mati-matian Sasuke menahan emosinya, gadis ini kurang peka atau memang benar-benar bodoh sih. Dengan memberanikan jiwa dan raga Sasuke akan mengeluarkan kata pamungkasnya
"Sepertinya tidak ada ya. Kalau begitu kau sendirian itu kesempatanku untuk selalu bersamamu. Jadi maukah kau .."
"Ng .." Sakura berkedip-kedip
"Kau ..." Sasuke tahan nafas
"..." Sakura ikutan tahan nafas
"Kau .." Sasuke mendadak ingin buang air.
"..." Sakura berkeringat 'Katakan cinta, katakan cinta, katakan cinta' innernya berkata lagi.
"Jadi paca –"
"YA , aku mau Sasuke-kun" belum selesai bicara Sakura sudah mendahuluinya.
Rasanya seperti menahan buang air berjam-jam lalu dikeluarkan dengan banyak, itu sangat melegakan hati Sasuke. Betapa bahagianya cinta diterima oleh seseorang yang kita sukai, tentu juga dengan Sakura. Usahanya kali ini dia tidak sia-sia, selamat Sasuke adalah orang pertama yang ada dihati Sakura.
'Naruto no baka , Sakura sudah kudapatka'. Batin Sasuke. Oh dia masih ingat Naruto rupanya.
.
.
"Untuk apa kau membeli mainan mobil, Hinata tak mungkin menyukai barang seperti itu Naruto. Menurut buku yang kubaca wanita suka benda-benda manis seperti coklat, boneka, marsmallow, ikat rambut dan baju". Kata Sai memberi petuah pada temannya itu. Saat ini mereka sedang berada di Toko, Naruto sedang memilih-milih beberapa miniature mobil sport.
"Ini bukan untuk Hinata , tapi untuk si pinky itu. Kau ingat kata-kata Sasuke waktu itu"
.
"Kau ajak dia ketempat ramai atau belikan sebuah hadiah kecil berupa kendaraan. Itu menandakan kalau kau kaya raya. Kau tahu gadis jaman sekarang itu melihat laki-laki dari luarnya saja. Mereka tidak peduli dengan tampang asalkan bermodalkan kendaraan mewah mereka langsung terpikat"
.
Kata-kata Sasuke ternyata masih terngiang diotak Naruto , dia benar-benar berniat membelikan mainan itu untuk Sakura. "Doakan aku supaya bisa membeli mobil seperti Sasuke ya Sai, hahaha".
"Oh untuk dia ya. Seharusnya kau beli juga untuk Hinata, dia yang berulang tahun bukan gadis pink itu" Saran Sai memang benar. Setidaknya dia harus beli kado untuk Hinata.
"Nanti saja, aku akan beli ini dulu" Naruto berjalan menuju kasir sambil membawa sebuah kotak kecil berisi miniature mobil. "Bungkus ini dengan kertas kado" lanjutnya sambil menyerahkan kotak itu pada cashier.
Sambil menungggu, Naruro duduk dibangku yang sudah disediakan disana sedangkan Sai sedang memilih beberapa buku.
"Cara menjadi pria tangguh" kata Sai.
Naruto sweatdrop mendengar Sai saat membaca buku itu. Naruto kembali melihat-lihat sekitar toko , matanya menyimpit ketika melihat sebuah benda yang sepertinya menarik perhatian Naruto. Benda itu seolah bicara padanya untuk dibeli.
"Tolong bungkus itu juga" perintah Naruto lagi.
.
.
"Tanjoubi Omedetou .. Tanjoubi omedetou .. Tanjoubi omedeto Hinata-Chan .. Tanjoubi Omedetou" semua orang beramai-ramai menyanyikan lagu ulang tahun untuk Hinata. Gadis keturunan Hyuuga itu berdandan secantik mungkin, rambutnya yang biasa ia gerai kini diikat keatas sehingga membuat kesan tambah manis , memperlihatkan leher jenjangnya yang putih. Tak lupa dengan dress tanpa lengan yang berwarna lavender serupa dengan matanya dan itu terlihat tampil cantik dengan lekukan tubuhnya . Hinata kali ini memakai sepatu hak tinggi , itu usulan Ino supaya dia terlihat lebih tinggi darinya, dasar Ino itu.
"Hinata chan kau cantik sekali malam ini" puji Ino dan Tenten, tapi mereka tak melihat Hinata, mata mereka hanya fokus pada setiap laki-laki yang hadir dipesta ulang tahun.
"Terima kasih Ino-Ch –" Kalimat Hinata terhenti saat melihat Ino sudah tak ada dihadapannya, ia sudah berada dikerumunan antara laki-laki yang berada di meja-meja kue.
"A-ano , permisi boleh aku minta kue muffin nya?" pinta Ino yang pasti itu bukan karena lapar, Ino hanya berpura-pura. Para laki-laki disana tentu saja sangat senang ada wanita cantik yang menghampiri mereka. Mereka berebutan mengambil kue muffin dan memberikan pada Ino.
"Ambil punyaku nona , ambilah"
"Punyaku saja nona manis"
"Ini lebih manis , seperti anda nona"
Sudahhlah lupakan Ino yang sedang bergumul ria dengan para laki-laki.
Melihat gelagat Naruto dari tadi dia seperti sedang mencari sesuatu sambil memegang sebuah kotak berwarna kuning ditangannya.
Karena terlalu fokus mencari, ia sampai tak melihat kedepan sehingga tubuhnya menubruk sang gadis hingga terjatuh.
"Ahh .." Hinata sedikit meringis kesakitan , kakinya sedikit terlikir karena memakai sepatu hak tinggi, ia bersumpah akan mengutuk sepatu itu.
"M-maafkan aku" Naruto segera mengulurkan tangannya pada Hinata yang masih terduduk dilantai.
-BLUSH ..
Wajah Hinata mendadak merah saat melihat pemuda blonde ini. Baru sekarang dia melihat Naruto sedekat ini, karena biasanya Hinata selalu mengintip Naruto saat bersama Neji dan teman-temannya yang sedang mengerjakan tugas dirumahnya.
"Maafkan aku , Hinata-chan" Naruto segera menarik tangan Hinata sehingga ia kembali berdiri. Hinata masih menyembunyikan wajah merahnya.
"Kau cantik sekali malam ini"
-BLUSH ...
"Na-na-na-naruto-kun" sumpah rasanya Hinata ingin meledak saat itu juga. 'Tangannya begitu hangat dan besar, nyaman , ah aku ingin dipegang lagi'
Hinata memperhatikan pemuda ini lekat-lekat, ditangannya sedang memegang benda kotak kuning. Itu adalah kado, ah betapa senangnya Hinata mendapat hadiah dari sang pujaan hati.
"Ne Hinata , apa kau lihat perempuan yang rambutnya pink?" Tanya Naruto
"Sakura chan?" jawabnya pelan.
"Oh namanya Sakura, ya dia apa kau melihatnya? Aku harus memberikan hadiah ini untuk Sakura"
JEGERRRRR ... bagai tertusuk ribuan tusukan dango, hati Hinata rapuh seketika. Ternyata Naruto lebih memilih Sakura dibanding dirinya, sudah susah payah ia berandan malam ini hanya untuk pemuda itu , ya Uzumaki Naruto.
"Sepertinya Sakura tidak datang. Maaf aku harus pergi" desis Hinata kecewa, ia berjalan menjauhi Naruto. Matanya sedikit berkaca-kaca, akhirnya ia berlari sampai kakinya yang sakit tadi tak terasa bahkan dirinya hampir terjatuh lagi karena sepatu hak tinggi miliknya.
"Hinata tunggu , aku mau berikan ini untukmu" Teriak Naruto saat melihat gadis itu berlarian dan hilang dari pandangannya. Ia mengeluarkan kado lagi berwarna ungu didalam tasnya karena menurut Naruto khawatir hadiah ini rusak jadi ia simpan baik-baik didalam tasnya.
.
.
"Sasuke kun ini sudah gelap, aku ingin pulang" kata Sakura yang kini masih berada ditaman. Sasuke melirik sekilas gadisnya yang sudah resmi menjadi pacarnya sejak 3 jam yang lalu.
"Kau masih tak ingin bersamaku?" jawabnya seraya merangkul sang gadis kepelukannya. Sudah bisa ditebak apa yang mereka lakukan berjam-jam disana Sasuke pasti sudah bertindak sesuatu pada gadisnya. Pemuda itu memang lebih berpengalaman dibanding Sakura, ya sekedar memeluk atau sejenisnya sudah ia lancarkan.
"Sa-su" Sakura gemetar, rupanya ia masih belum terbiasa dengan pacar barunya. "Aku ingin pulang, ibuku takut marah padaku"
Sasuke menghela nafasnya panjang . "Baiklah kita pulang asalkan aku ingin meminta sesuatu darimu".
"Ng , apa itu?". Tanya sang gadis seraya menatap pemuda keturunan Uchiha itu.
"Aku mau .." Sasuke menggantungkan kalimatnya. Matanya tak lepas menatap bibir ranum Sakura yang berwarna kemerahan efek dari lipgloss.
Sakura memiringkan kepalanya , membalas tatapan Sasuke yang menurutnya terlihat aneh.
"Boleh kan?" pinta nya.
"Boleh apa? aku tak mengerti apa maksudmu coba bicara lebih jelas lagi Sasuke-kun".
Jantungnya mendadak berdebar cepat, baru kali ini Sasuke merasa gugup dihadapan wanita. Sakura memang berbeda dari wanita yang sering ia temui. Entah dari segi apanya, jika dinilai dari keseksian Sakura , proporsinya masih dibawah rata-rata hanya dahinya saja yang diatas rata-rata. Ingat Ino selalu memanggilnya apa, tetapi Sasuke merasa gadis ini istimewa baginya.
"Emmm .. aku mau .. " Sasuke tak melanjutkan kalimatnya, tetapi pemuda itu lebih mendekatkan wajahnya dengan mata yang tertutup. Sakura merasa dirinya akan menerima sesuatu dari Sasuke, gadis itu sedikit gemetar.
Kini jarak mereka semakin dekat , deruan nafas yang hangat milik Sasuke semakin terasa diwajah Sakura.
"Aku mencint –"
-Bruukk-
"Ayo kita pulang !" Sakura berdiri seketika sehingga pemuda itu terjatuh ketanah. Sasuke jadi mencium rumput.
Sasuke bangun sambil menepuk-nepuk bajunya yang kotor. 'Demi celana panjang Neptunus , akan ku cium dia habis-habisan' Umpat Sasuke , padahal momen ini sudah sangat tepat namun gadis itu tetap tidak peka. Apa ia benar-benar mencintainya? Jangan khawatir ini baru dimulai Sasuke ...
"Cepat pakai helm mu" Suruh Sasuke dengan nada tegas, ia masih kesal pada Sakura. Kesal iya malu juga iya, dapat ciuman ? tentu saja tidak.
"Sebelum pulang kerumah aku ingin mampir sebentar kerumah Hinata-chan"
"Hm" balasnya singkat sambil menyalakan motor merahnya.
.
.
.
"Aku tunggu diluar saja" Ucap Sasuke dingin. Rupanya ia masih kesal dengan kejadian 'First Kiss with the grass' nya. Ia tak membuka helm nya, khawatir jika ada seseorang melihat Sasuke dimalam hari bersama Sakura terutama dengan teman-temannya. Bukannya Sasuke sembunyi-sembunyi tetapi ini masih belum tepat , ia akan bilang jika sudah saatnya.
Apalagi Naruto , Sasuke sudah terlanjur bilang 'Tak Suka' pada Sakura. Nanti apa jadinya kalau ketahuan berpacaran , kalau bahasa Jermannya itu PO-BOX alias dipoyok dilebok.
Tuk .. tuk ..tuk ..
Sakura mengetuk pintu rumah Hinata. "Tanjoubi omedetou ... Tanjoubi omedeto .. Tanjoub –"
Nyanyian Sakura terhenti saat pintu terbuka. Nampaklah seorang laki-laki bertubuh tinggi dan rambut panjangnya. Itu paman Kizashi , ayahnya Hinata.
"Sakura , kenapa baru datang. Semuanya sudah pada pulang". Kata paman itu dengan wajah sedikit kecewa.
"Pulang? Maksud paman pulang apa?"
"Loh Sakura-chan tidak diberitahu oleh Hinata ya. Semua temanmu sudah berpesta disini hanya kau yang tidak datang"
-DEG- Hati Sakura terasa dipukul , ia mendadak sesak didadanya. Mereka bersenang-senang tanpa dirinya, Sakura kecewa pada dirinya sendiri ia sadar kalau itu salahnya. Sudah berbohong pada Ino dan Hinata sekarang ia tidak hadir dalam acara istimewanya Hinata.
"Oh begitu ya , maaf paman tadi aku sedang sibuk jadi tak sempat datang" Sakura merunduk kecewa, ia mati-matian menahan tangis. "Tolong sampaikan pada Hinata , selamat ulang tahun. Maaf aku datang terlambat" Lirih Sakura sambil berjalan meninggalkan rumah besar milik Hinata.
"Yah nanti paman sampaikan" Balas ayah Hinata.
.
.
"Sudah?" Tanya Sasuke pada gadis itu. Dahinya berkerut saat menatap gadis itu yang terlihat sangat sedih.
"Hiks .." Sakura terisak dan akhirnya butiran cairan bening lolos dari matanya.
"Kau kenapa Sakura? kenapa menangis" Sasuke turun dari motornya lalu memegang pundak gadis itu. Menatap Emerald yang kini menjadi basah.
"Aku sudah mengecewakan teman-temanku, hiks .. mereka pasti akan marah padaku hiks" ucap Sakura diiringi tangis.
Sasuke sadar itu adalah kesalahan dirinya juga, belum juga 24 jam jadi pacar sudah ada air mata. Pemuda itu sedikitnya merasa bersalah karena gara-gara dia mengajak kabur Sakura, tapi toh Sasuke memang tidak tahu kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya Hinata.
"Sudahlah kau jangan menangis, aku yakin mereka akan memaafkanmu. Kalau pun ada apa-apa aku akan membantumu" ucap Sasuke mencoba menenangkan gadisnya. Ya sedikitnya Sakura merasa sedikit lega.
"Sasuke-kun" lirihnya
"Ayo kita pulang". Sakura mengangguk lalu kembali menaiki motor Sasuke , err ralat milik Itachi maksudnya.
To Be Continue
