Hai, readers sekalian... ^^~
I'm back again! Ga ada yang kangen nih?
(All : ngga tuh, biasa aja) Yah, bilang iya dong biar saya seneng, ya ya ya... #puppyeyes
(All : iya, iya. Kita kangen...) ehehe, makasih..
Yosh! Kali ini saya menghadirkan teman teman Boboiboy bersaudara. Yap! Ada Ying, Yaya, Gopal dan Fang. Yah, walaupun cuma sedikit sih, ehehe... ^^~
Saya juga ingin menambahkan humor tapi malah jadinya garing begini, huft -_-
Oh iya, saya mengucapkan banyak terima kasih yang sudah repot repot mereview, memfavorite dan memfollow ff saya ini. Terima kasih^^~
Tapi maaf saya tidak bisa membalas semua review kalian. Saya juga senang ada yang menyukai ff ini, sungguh.. ^^~
Baiklah tanpa berkata panjang-lebar lagi, silakan membaca...
Happy reading
.
R'nR
.
Boboiboy milik Monsta Studio
Bu Risma milik saya ^^~
Warning. No power, no alien, OOC(mungkin), alur balapan, typo(s), aneh, gaje, abal, OC (bu Risma), dll
.
.
.
.
Halilintar memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya di dinding rumah sakit. Sesekali ia menghela napas panjang. Ia mencoba mendinginkan kepalanya setelah emosinya memuncak tadi pada bu Risma.
'Kalian mau, kan, tinggal bersama saya?'
Kata-kata itu masih terngiang di telinganya yang tanpa sengaja Halilintar mendengar pembicaraan bu Risma dengan kakak tertuanya. Hampir saja amarahnya tersulut kembali sebelum seseorang menepuk ujung topinya pelan.
Halilintar membuka matanya dan melihat orang yang berdiri di sampingnya. Seorang anak berwajah mirip dengannya dan topi terbalik itu, berdiri bersandar di depan pintu dengan senyum tipis di sana.
"Apa? Jangan ganggu aku," ujar Halilintar ketus.
Anak itu yang adalah Gempa terkekeh melihat adiknya yang sedang menahan emosinya. Tangannya dengan jahil memutar arah topi adiknya yang semula meniru Taufan kini dihadapkan depan.
"Kurasa begini lebih baik. Kamu tampak seperti Hali yang sesungguhnya. Kalau topimu miring seperti tadi malah membuatmu mirip Taufan dengan sifat Hali, kau tau," kata sang kakak sambil melangkah duduk di samping Hali.
Halilintar membungkukkan punggungnya sedang menyembunyikan senyumnya. "Kenapa datang ke sini?" tanya nya dengan nada datar tanpa menoleh ke arah Gempa.
"Ngga apa-apa. Cuma tidak enak mengganggu Taufan yang lagi istirahat," jawab Gempa santai yang mencoba untuk lebih akrab dengan Halilintar.
"Huh," dengus Halilintar mendengar jawaban kakak kembarnya.
"Oh ya, kamu tadi habis jogging, ya, dan kamu belum sarapan pasti lapar. Bu Risma membuatkan kita nasi goreng ada udangnya loh. Enak. Kita kan jarang makan udang. Kamu pasti suka, biar kuambilkan," kata Gempa yang hendak berdiri tetapi pundaknya ditekan oleh tangan Halilintar agar duduk kembali.
"Aku tau maksud kamu ke sini. Tak usah basa-basi deh, kamu mau tanya alasanku, kan, kenapa menolak tawaran bu Risma?!" ujar Halilintar dengan wajah serius menatap Gempa.
Gempa memang sebenarnya ingin menanyakan hal itu, menanyakan alasan Halilintar menolak tawaran baik bu Risma. Walaupun ia tahu akan terkena semprot kata-kata pedas dari adiknya, Gempa tidak juga bergeming dari tempatnya. Ia dengan pasti dan tenang menunggu penjelasan dari Halilintar.
"Pergilah! Aku sedang tidak ingin marah kali ini," perintah Halilintar seraya meredakan emosinya yang hampir meledak.
"Bu Risma punya niat baik, Hali. Tidak seharusnya kamu membentaknya seperti tadi. Bu Risma sudah membantu kita," ujar Gempa mencoba memberi pengertian pada Halilintar.
Telinga Halilintar terasa panas saat mendengar kakaknya terus membela bu Risma. Ia pun kemudian berdiri di depan Gempa, "Lalu kenapa kalau dia sudah membantu kita?! Hah! Lalu siapa pelaku yang secara langsung membuat Taufan seperti ini?!"
Gempa bangun dari duduknya dan menatap tajam adiknya. "Aku tau bu Risma salah. Tapi bu Risma sudah bertanggung jawab, bukan? Beliau juga mengkhawatirkan Taufan, tidakkah kamu bisa lihat itu? Lagipula, jika bu Risma adalah orang jahat lalu meninggalkan Taufan begitu saja, kamu tau kan apa yang terjadi..."
"Oke, aku menghargai segala usaha yang bu Risma lakukan. Tapi yang kupermasalahkan adalah bu Risma meminta kita untuk tinggal di rumahnya." Terdengar suara Halilintar sedikit melemah tetapi tetap terdengar sangat ketus.
"Apa yang kamu pikir bu Risma akan berbuat jahat pada kita? Itukah maksudmu menolaknya?"
"Kamu tidak berpikir, Gempa! Aku tau pasti dengan mudahnya kamu akan menerima tawaran bu Risma. Tapi pikir sekali lagi!" Halilintar berbalik badan memunggungi Gempa.
"...kamu dengan mudahnya membuang kenangan kita dengan keluarga kita. Ingat Gempa, ingat! Dia baru saja kita kenal," lanjut Halilintar.
"Aku masih tidak mengerti," ujar Gempa dengan menatap punggung Halilintar.
Halilintar mendecak kesal dan kembali menatap kakaknya, "Kalau kita tinggal dengan bu Risma berarti kita akan meninggalkan rumah. Jika kita meninggalkan rumah berarti meninggalkan semua kenangan dengan orang tua kita. Sungguh, kamu sangat polos! Pokoknya apapun yang terjadi, aku akan tetap menjaga semua peninggalan orang tua kita."
Gempa memahami perasaan dan mengerti alasan adiknya. Setelah mendengar ocehan Halilintar, sekarang terungkap satu sifat tersembunyi dari adiknya, yaitu sifat sentimentilnya. Gempa tersenyum lembut pada Halilintar
"Sudahlah, aku pergi dulu," ujar anak bertopi itu melangkah menjauhi Gempa.
"Hali..."
Halilintar menghentikan langkahnya dan memiringkan kepalanya. "Ada apa lagi? Aku tidak terbiasa berbicara banyak seperti tadi. Dan sekarang rahangku terasa pegal."
"Kamu mau kemana?"
"Kamar mandi," jawabnya dingin kemudian pergi.
"Baiklah. Tapi ingat jangan kamu pukuli tembok kamar mandi. Itu akan menyakitinya, tembok itu tidak bersalah," gurau Gempa.
"Coba saja."
oooOooo
Hari menjelang siang. Matahari mulai meninggi menampakkan teriknya. Seorang anak bersurai hitam dan bertopi itu berjalan di taman rumah sakit. Tangannya ia sembunyikan di balik saku jaket merah tanpa lengannya, kakinya melangkah dengan sesekali menendang-nendang kecil benda yang di depannya, pikirannya kalut memikirkan sikapnya yang tidak sopan pada bu Risma.
Halilintar membentak bu Risma dengan kasar sehingga beliau pergi dengan terburu-buru. Anak itu menyesali perbuatannya. 'Pasti bu Risma menangis. Dasar bodoh! Kenapa aku terlalu terbawa emosi tadi?!' Halilintar meracau dalam hati. Ia menendang botol mineral yang sudah kosong asal.
'Duk...
"Aduh!" Dari kejauhan terdengar suara mengaduh. Halilintar meringis melihat botol itu melayang dan mengenai punggung orang lain.
"Hei! Siapa yang menendang ini?!" Anak itu berbalik badan mencari si pelaku yang telah melemparinya botol kosong itu. Taman itu tidak banyak orang yang berlalu lalang karena mana mungkin orang berjalan-jalan di hari yang terik ini.
Halilintar dari kejauhan melihat anak yang terkena botol tadi. Baju khusus pasien, perban yang membalut hampir menutupi seluruh rambut, wajah itu dan suara itu...
"Taufan?!" Halilintar dengan kesal menghampiri anak itu.
'Kenapa Taufan di sini?! Sendirian?! Dimana Gempa?! Apa yang dilakukannya sampai Taufan berkeliaran di taman sendirian?! Akan kuhajar dia nanti!'
"Huh?" Anak yang dipanggil Taufan itu menoleh ke asal suara. Terlihat seorang anak yang mirip dengannya datang kepadanya sambil menghentakkan kaki di setiap langkahnya.
"Apa?" tanya Taufan setelah melihat anak yang memanggilnya telah berada di hadapannya.
"Kamu sedang apa di sini? Kenapa kamu di sini? Kamu sendirian? Kemana Gempa? Apa dia tidak tau kamu di sini? Apa yang dia lakukan sampai tidak tau kamu di sini? Apa kamu kabur? Bagaimana kalau kamu kenapa-kenapa? Kenapa kamu tidak istirahat? Apa kamu sudah merasa baikan? Ayo akan ku antar kamu ke kamar," tanya Halilintar dengan beribu pertanyaan beruntun.
"Tenang tenang... Tarik napas, lepaskan. Tarik nafas, lepaskan," ujar Taufan menenangkan anak yang di depannya dan anak itu menurutinya.
"Sudah tenang? Jalan-jalan yuk-..." ajak Taufan tetapi kalimatnya menggantung, lupa nama anak yang di depannya.
"Hali," ujar Halilintar secepatnya agar sang adik tidak merasakan sakit kepala yang berusaha mengingat namanya.
"...- Oh, ya. Kak Hali," lanjut Taufan dengan cengiran khas ia tunjukkan.
Ekspresi adiknya itu membuat Halilintar tidak tega untuk melanjutkan untuk memarahinya lagi karena ia rindu dengan sosok adiknya yang periang dan jahil itu. Halilintar dan Taufan berjalan untuk berkeliling taman. Tetapi setelah beberapa langkah, Halilintar menghentikan Taufan.
"Tunggu! Pakai ini," perintah Halilintar sambil melepas kedua sepatunya kemudian menyodorkannya pada Taufan.
Sang adik melihat ke bawah. Ia bertelanjang kaki saat kabur dari kamar. Walaupun ia melewati jalan yang teduh tetapi tetap saja telapak kakinya merasakan sengatan panas dari aspal taman. Kemudian Taufan melihat ke Halilintar. "Nanti kamu juga kepanasan," ujarnya.
"Ck, pakai saja. Aku sudah terbiasa tidak pakai alas kaki saat latihan karate."
Taufan menerima sepatu kakaknya dan memakainya. "Terima kasih, Kak Hali," ujar Taufan bersemangat. Kemudian mereka melanjutkan jalan-jalan.
"Gempa kemana? Bisa-bisanya membiarkan kamu keluar sendirian," tanya Halilintar dingin tanpa menoleh ke arah Taufan yang sedang melihat sekeliling.
"..." Taufan tidak menjawab pertanyaan Halilintar dan sibuk melihat taman di depannya.
Halilintar merasa iba melihat Taufan dengan wajah cerah memandang sekeliling taman. Tampak berbeda ekspresinya saat berada di dalam kamar, lemas, sayu dan jenuh.
"Kamu capek ,ya, tidur di kamar terus?" Halilintar bertanya pada Taufan.
"Ah, iya. Aku capek tidur dan di kamar bau obatnya menyengat. Aku tak suka. Kalau begini enak sekali, sejuk dan segar, walaupun agak panas tapi menyenangkan," jelas Taufan dengan senyuman lebar terpatri di wajahnya yang diterpa sinar matahari.
Halilintar menundukkan pandangannya mendengarkan penjelasan adiknya. Ia menjadi terenyuh dengan penderitaan adiknya.
"Apa kamu masih sering terasa pusing?"
"Sudah tidak lagi. Eeehm, kak Hali, aku mau tanya sesuatu. Maukah kamu menceritakan masa laluku? Aku merasa gelisah seperti ada yang hilang di antara kita berdua, tapi aku tidak tau apa itu. Kumohon jelaskan padaku,"
"Baiklah, tapi jangan terlalu dipikirkan. Dokter mengatakan agar kamu tidak memikirkan hal sampai kepalamu sakit kembali, oke?"
Taufan mengangguk dengan sangat antusias. "Jadi, cepat jelaskan padaku," pintanya tidak sabar.
"Kamu sudah tahu kalau kita adalah kembar identik jadi tidak ada seorangpun yang dapat membedakan kita selain orang tua kita dan diri kita masing-masing. Oleh karena itu, mama memberi kita masing-masing sebuah topi ini untuk membedakan kita. Aku berwarna merah, Gempa coklat emas dan kamu berwarna biru..." Halilintar melirik ke samping melihat mimik wajah adiknya. 'Dia tampak baik-baik saja,' pikirnya.
"Lalu?"
"Kita juga mempunyai ciri khas cara pakai topi ini," ujarnya sambil menunjuk ke arah topinya yang ia pakai. "Kamu lihat aku memakainya ke arah depan, Gempa ke belakang dan kamu ke samping, seperti ini." Halilintar memperagakan bagaimana cara saudaranya memakai topi.
Taufan tertawa kecil, "Yah, kamu benar. Aku menyukai topi yang dimiringkan seperti itu. Menurutku topi yang dimiringkan itu sangat keren seperti para rapper," jelasnya dengan tertawa khas Taufan.
Halilintar menatap saudaranya itu yang notabene terkena amnesia apalah itu, sekarang seperti adiknya yang seperti dulu. Taufan yang ceria dan jahil, itulah yang dipikirkannya.
"Lanjut?"
Halilintar tersenyum tipis. "Sejujurnya aku tidak menyukaimu. Kamu tahu kenapa? Sejak kecil kamu sudah menjahiliku. Sudah ribuan kali trik konyolmu mengenaiku dan kamu juga sudah ribuan kali terkena jurus karateku. Kamu tahu? Dari mulutku yang dipenuhi garam, jusku kamu campur dengan jeruk nipis, membangunkanku dengan suara terompet atau menyiramku dengan air dingin, sebelah sepatuku selalu kamu hilangkan dan aku harus berkali-kali membeli sepatu dan apa kamu ingat apa yang kamu lakukan pada kamarku sebelum kamu hilang ingatan?"
Taufan menggeleng pelan. "Memangnya apa yang kulakukan pada kamarmu?"
Anak temperamen itu tertawa kecil. "Kamu mengacaukannya. Segala jenis poster aneh kamu pajang di dinding kamarku yang tidak pernah aku apa-apakan dan sepray kasurku, kamu menggantinya dengan warna biru kesukaanmu."
Taufan tertawa keras mendengar cerita tentangnya yang menjahili Halilintar. "Lucu sekali! Kurasa aku sedikit mengingatnya."
"Mengingatnya? Tentang kamu berbuat iseng padaku?" tanya Halilintar yang tidak mengerti maksud Taufan.
"Bukan. Aku mengingat wajah lucumu saat kamu marah, kak Hali. Ekspresi aneh itu tak pernah hilang dari ingatanku walaupun aku amnesia seperti ini. Mungkin lain kali akan kucoba lagi." Taufan mencoba menahan tawanya di depan Halilintar. Tetapi tetap saja ia mengejek kakaknya yang temperamen itu.
"Aaarrgh, kamu sama saja, Taufan. Aku menyesal perhatian sama kamu kalau sifatmu itu tetap tidak berubah." Kepalan tangan Halilintar ditahannya dengan tangan kirinya karena biasanya jika ia hilang kendali, kepalan tangan itu tidak bisa berhenti.
"Berhentilah tertawa, Taufan. Atau tidak hanya kepalamu saja yang terbungkus perban, kubuat seluruh tubuhmu seperti mumi jika kamu tidak menghentikan tawamu," ujar Halilintar mengingatkan pada Taufan.
"Memang kamu berani memukulku disaat aku seperti ini?" tantang Taufan dengan tangan menyilang di depan dada.
"Ck, akan kubalas kamu nanti jika kamu sudah sembuh." Halilintar menurunkan tangannya dan berjalan di depan adiknya.
"Akan kutunggu balasanmu," kata Taufan berjalan menghampiri Halilintar.
oooOooo
"Gempa, kenapa kamu membiarkan Taufan pergi sendiri? Kalau dia ada apa apa bagaimana?" tegur Halilintar pada Gempa.
"Aku tahu kalau Taufan kabur. Dia yang minta untuk keluar kamar dan aku pergi bertanya dulu pada suster untuk meminta izin membawa Taufan keluar. Saat aku kembali ke kamar, Taufan sudah tidak ada. Jadi kupikir dia pergi ke taman, aku mengikutinya tapi kulihat Taufan bertemu kamu. Jadi kupikir aku mengawasi kalian dari jauh saja," jelas Gempa.
"Ya, kurasa Taufan sudah seperti dulu lagi. Tetap menyebalkan," ujar Halilintar melihat Taufan tertidur setelah meminum obat.
"Tapi sepertinya kamu jadi sangat perhatian sama Taufan."
"Tidak juga. Dia sangat kekanakan dan tidak sadar kalau dia sudah kelas 2 SMP. eh, oh iya kamu sudah minta izin pada guru kalau kita sedang di rumah sakit?"
"Tenang saja, aku sudah telepon Yaya kemarin saat pulang sama bu Risma. Mungkin nanti Yaya, Ying, gopal dan Fang akan datang ke sini."
"Baiklah, tapi jangan katakan apapun ke teman-teman tentang aku menangis atau bersikap yang mungkin kamu anggap perhatian pada Taufan. Aku tidak ingin imej-ku menurun hanya karena hal itu."
"Dasar. Bilang saja kamu malu."
"Bukan begitu! Sudahlah, turuti saja."
Gempa tertawa kecil dengan sifat dinginnya itu yang tiba-tiba mencair saat melihat Taufan seperti kemarin. Satu sifat lagi terungkap dari sosok adiknya yang temperamen itu.
"Eh?! Apa ini?" tanya Halilintar saat akan memakai sepatunya. Tangannya meraba bagian dalam sepatu. Ia menemukan pasir yang memenuhi sepatunya. Dan sudah dipastikan ulah jahil ini dilakukan oleh...
Halilintar menatap tajam ke arah Taufan yang terlelap. "TAUFAAAAAANNN..!" teriaknya sambil menggeram mendekati adiknya.
"Ada apa sih Hali?" tanya Gempa bingung dengan Halilintar yang marah pada Taufan.
"Lihat ini! Taufan melakukannya lagi walaupun dia amnesia tapi kurasa sifat menyebalkannya itu masih ada. Dia memasukkan banyak sekali pasir ke dalam sepatuku. Kuharap aku bisa memukulnya sedikit." Halilintar menunjukkan sepatu di tangan kirinya pada Gempa.
Gempa terkejut dengan hal itu, ia kemudian melihat ke arah Taufan. Biasanya Gempa akan memarahinya tapi melihat kondisinya kali ini, ia akan berpikir ulang untuk melakukannya.
"Tenanglah, Hali. Jangan lakukan itu padanya sekarang," cegah Gempa menenangkan adiknya yang sudah mengangkat kepalan tangannya.
'Clek...
Suara pintu terbuka membuat kedua anak kembar itu melihat ke arah pintu.
"Hai, kalian! Kami datang menjenguk Taufan," sapa keempat anak memakai pakaian sekolah yang baru saja datang.
"Tadi kudengar suara Hali berteriak. Biar kutebak apa Taufan berbuat iseng lagi? Apa yang dia lakukan?" ujar anak yang bertubuh tambun dan berkulit gelap, Gopal.
Halilintar menurunkan tangannya dan berganti melipat kedua tangan di depan dada. "Sudahlah jangan tanya. Aku mau keluar sebentar," ujar Halilintar ketus sambil membawa sepatunya yang penuh pasir itu.
Keempat anak itu menghampiri ranjang Taufan dan berdiri di sebelah kanan ranjang. "Ada apa dengan Hali, Gempa?" tanya gadis manis berhijab merah muda, Yaya, saat melihat Halilintar sudah keluar kamar.
Gempa menggeleng pelan kemudian melihat Taufan yang masih tertidur. "Ulah jahil Taufan. Dia memenuhi sepatu Hali dengan pasir."
"Tch, Taufan jika seperti itu tidak seperti orang yang sedang sakit," celetuk anak berwajah oriental dengan kacamata yang bernama Fang itu.
"Oh iya, benar. Bagaimana keadaan Taufan? Apa parah sekali?" tanya Ying, gadis yang satu ras dengan Fang, seraya mengamati anak yang terbaring di ranjang.
Gempa menghela napas sejenak kemudian duduk di kursi dekat ranjang. "Kata dokter Taufan amnesia. Dan kurasa ada yang aneh dengan amnesia-nya," ujar Gempa lirih.
"Amnesia? Ya ampun kasihan sekali Taufan. Lalu, apa maksudmu ada yang aneh dengan amnesia-nya?" tanya Yaya.
"Entahlah, seperti dia melupakan kejadian atau peristiwa yang dia lakukan sebelumnya, lebih tepatnya setelah dia tertidur dan kemudian bangun maka Taufan akan lupa dengan kejadian sebelum dia tidur. Seperti itu dan itu baru dugaanku saja dan dokter belum memeriksanya lagi," jelas Gempa dengan tatapan sendu mengarah ke Taufan.
"Jadi, Taufan akan lupa sama kita?" tanya Gopal.
"Kurasa iya. Aku dan Hali mengkhawatirkannya."
"Tenang, Gempa. Kita adalah temanmu dan kita akan selalu membantumu untuk membuat Taufan sembuh," ujar Fang yang untuk kali ini menaruh perhatian pada ketiga saudara kembar itu.
"Aih, tumben sekali kamu berkata seperti itu, Fang." Gopal menyindir temannya yang berkacamata gagang nila itu.
"Tch, aku masih punya hati. Tapi jika kau terus berkata seperti itu akan kulempar kamu dari sini Gopal," gertak Fang seraya tatapan tajam terus mengarah pada anak yang bertubuh tambun itu.
Gempa terkekeh melihat teman-temannya yang berkumpul seperti ini. Dia merasa seperti memiliki keluarga lagi dengan adanya teman-temannya. Canda dan tawa serta keakraban ingin terus berlangsung seperti ini. Tetapi hal seperti ini hanya berlangsung sementara saja karena mereka masih memiliki keluarga yang sesungguhnya.
"Eh?!" pekik Gempa saat ditengah melihat teman-temannya saling tertawa. Kemudian Gempa tersenyum tipis saat Halilintar memasuki kamar. Senyuman yang memiliki arti tersembunyi mengarah ke adik pertamanya dan adiknya hanya menatap Gempa datar.
TBC
Huaaaahh...
Akhirnya update jugaaa... ^^~
Lama yah saya mengupdate ff ini, maaf..
Saya sibuk banget jadi agak terpenggal-penggal saat membuat ff ini dan akhirnya selesai juga.. ^^~ Saya senang sekali
Oh ya, maaf kalo agak ga seru, maaf banget..
Sudah update lama dan isinya tidak jelas begini, sekali lagi maaf readers sekalian...
Saya pengen cepat cepat mengfinish-kan ff ini, karena akhir akhir ini saya jadi suka dengan ff yang one shoot atau two shoot saja, ehehe... ^^~
Okeh cukup saya berkata kata dan saya akhiri, bye and see ya!
Terakhir REVIEW please ^^~
