PURNAMA KEDUA BELAS

Remake from Andrea Hirata's novel, AYAH.

Park Jimin x Min Yoongi

BTS and some characters belong to God, their parents, and their agency.

Rated T

Warn: BxB! M-preg! Typo(s), boring, etc

Enjoy yas!

Setelah hari nahas yang menimpa Jimin, tragedi si Mino dan Yoongi, Jimin demam tiga hari tiga malam. Dia masuk sekolah sehari, lalu demam lagi enam hari. Ini semua gara-gara si tengik bajingan itu. Dia merasa pedih. Yoongi meremukkannya, Mino menghancurkannya.

Lalu berembuslah kabar tidak sedap itu, Jimin sengaja men-dropout -kan diri. Dan kabar itu dengan segera berembus ke telinga Kim Taeyeon-seonsaengnim, wali kelas Jimin. Apalagi didengarnya bahwa masalah ini berkenaan dengan Taehyung, Seokjin, dan Mino. Sudah lama sekali ia ingin mendamprat para cecunguk itu.

Dipanggillah mereka berempat.

"Duduk!" empat cecunguk itu duduk di sofa panjang ruangan Kim-ssaem.

"Cecunguk 1, cecunguk 2, ceunguk 3, cecunguk 4!" Kim-ssaem menunjuk mereka satu persatu.

"Park Jimin-ssi!"

"N… ne ssaem?" sahut Jimin.

"Kudengar kau ingin keluar dari sekolah, hah?"

Jimin diam saja.

"Jimin-ssi, kau itu altet yang tangguh, generasi penyair Korea terbaik. Rencana macam apa itu, hah?" Kim-ssaem tidak tahan untuk tidak murka. Sungguh sangat disayangkan jika murid selugu dan sebaik Jimin harus angkat kaki dari sekolah dengan kehendak hati. Baginya Jimin terlalu berharga dibanding cecunguk lain yang duduk di sampingnya. "Kau itu istimewa, bakatmu merupakan kombinasi yang langka. Kau terbaik Jimin bila dibandingkan dengan siswa mana pun. Kau berbeda daripada Taehyung, Seokjin, dan Mino yang gemar berbuat onar saja!"

Ketiga cecunguk itu merasa kecil di mulut manis Kim Taeyeon.

"Kau Taehyung, berhentilah mengandalkan otak udangmu itu. Sukanya berleha-leha sambil menggoda burung lewat jendela. Dinasehi malah membalas menggunakan bahasa burung. Tak habis pikir aku denganmu. Apa Jimin keluar ini karena kau, hah!?"

"Aniya ssaem. Saya tidak memengaruhinya. Tapi jika dia memutuskan untuk keluar, saya akan selalu mendukungnya." Dengan polos Taehyung menimpali gurunya.

"Apa kau bilang!?"

"Kan sebagai teman yang baik harus selalu mendukung apa pun keputusannya."

Kim-ssaem mengelus dada, ia mencoba tak mengindahkan si alien yang terdampar di sekolahnya ini.

"Lalu, Seokjin. Bisa kaujelaskan mengapa Jimin keluar?" kali ini Kim Taeyeon berharap mendapat jawaban yang dapat melegakannya. Ia dengar Seokjin otaknya lebih manusiawi.

"Jeoseonghamnida, ssaem. Aku tidak tahu menahu, tapi aku akan menjawab dengan jujur dan senang hati jika kau bertanya bagaimana cara membuat budae jjigae." Kim Taeyeon menepuk dahinya. Ia lupa satu hal, otak Seokjin telah dikudeta oleh makanan sejak ia bayi.

"Ah! Jangan-jangan kaulah penyebabnya Min Ho. Tak ada onar di sekolah ini yang tak kau ciptakan. Coret sana-sini, merokok di WC, penyumbat sekolan, perusak pot bunga, pengempes ban kendaraan guru-guru. Aku tahu, pasti kau pelakunya! Kau itu implementasi Hitler di sekolah ini!"

"Aniya, ssaem! Aku tidak tahu apapun, aku saja tidak mengenal si cebol ini." Mino menunjuk Jimin.

"Pembual!"

"Kenapa kau tidak menanyakan saja pada orangnya sendiri, ssaem. Kudengar ia langsung demam ketika ia pulang dari tempat parkir. Mungkin ia disusupi iblis penjaga pohon besar di tempat parkir."

Jimin melirik tajam ke Mino. Ya, iblis itu adalah kau Song sialan. Iblis perebut Yoongiku!

Setelah dinasehati Kim-ssaem panjang lebar, Jimin tetap berkeras hati, ia tetap membolos. Bagaimana bisa ia berangkat ke sekolah jika bangunan itu sekarang menjadi neraka? Ia tak sanggup menemukan Yoonginya bersama si Mino itu. Ia sudah tidak lagi tergiur pada bangku sekolah, ayah ibunya pun tak sanggup membujuknya. Cinta mendurjanakan hatinya.

Mungkin bagi banyak orang, kisah Jimin yang patah hati dan berhenti sekolah adalah peristiwa yang konyol dan remeh. Tetapi dunia sudah tahu bahwa banyak orang yang menjerat hidupnya sendiri hanya karena cinta.

Seokjin dan Taehyung pun sedih karena salah satu personel dalam persekutuan persahabatan mereka akan hengkang. Seokjin setiap hati berharap bahwa akan ada keajaiban yang menghampiri Jimin sehingga ia mengurungkan niatnya untuk putus sekolah. Dan tibalah keajaiban itu.

"Seokjin-ah!" Taehyung menghampiri Seokjin yang sedang lesu memakan bekal makan siangnya.

Seokjin hanya bergumam, malas menjawab.

"Yoongi. Mengirim. Surat. Di mading. Untuk. Jimin." Taehyung berbicara dengan penuh tekanan di tiap katanya.

Seokjin tersedak. Dengan pontang panting ia berlari ke tempat parkir, meninggalkan kotak makannya tidak peduli. Segera ia pacu sepeda menuju rumah sahabat lugunya.

"JIMIN-AH! JIMIN-AH!" Seokjin berteriak bahkan ketika ia masih sampai dua blok dari rumah Jimin. Lantas ia berteriak dan menggedor pintu rumah Jimin.

Seorang anak lusuh muncul dari balik pintu, diduga Jimin tidak mandi dua hari.

"Jimin-ah! Kau harus pergi ke sekolah. Yoongi menulis surat untukmu!"Tanpa babibu lagi, ia duduk diboncengan Seokjin, pergi ke sekolah.

Bola mata Jimin berbinar-binar membaca surat Yoongi.

Hei kau yang bernama awal huruf J, lalu huruf I, sesudah itu huruf M, lalu I lagi, dan terakhir N

Bolehlah hidup kita tidak mujur dan nasib mengkhianati kita

Tapi janganlah berhenti sekolah

Karena sekolah adalah bakal sendi-sendi bangsa

Di dalam hati yang kuat, ada jiwa yang semangat!

Always, Y

Keesokannya, pagi-pagi sekali, ketika matahari masih mengintip-intip dari celah horizon, Jimin sudah tiba di sekolah. Dengan giat ia menyapu kelas, mengepel gedung olahraga. Semua orang tahu ia sedang tidak piket hari ini. Setelahnya, ia membuka baju dan berlari keliling lapangan. Dalam hati yang kuat, ada jiwa yang semangat! Begitu kata orang yang ia puja. Sungguh cinta memporak-porandakan segalanya.

Kerap kali Kak Suran sedih ketika ia dihampiri Jimin dengan muka memelas. Ia sendiri tidak tega melihat Jimin ditaboki oleh cinta. Ia ingin Jimin berhenti mencintai sepupunya. Maka salah satu jalan yang disarankan oleh temannya adalah memanas-manasi Jimin agar ia patah hati dan melupakan Yoongi.

"Yoongi bercerita, bahwa itu adalah kemauannya sendiri untuk pindah ke kelas Mino."

Jimin tersenyum pahit.

"Tiada waktu selain membicarakan Mino."

Jimin tersenyum getir.

"Tidak pernah kulihat Yoongi sekasmaran itu."

Jimin membujuk hatinya.

"Katanya, Mino adalah cinta pertamanya yang indah."

Jimin mulai panas dingin.

"Setelah SMA, mereka berencana pergi ke Seoul. Jika tidak direstui, mereka akan kawin lari."

Jimin menggigil.

Mungkin bagi Kak Suran itu akan mujarab, tapi ia salah. Jimin semakin gigih. Kadang cinta bisa menjelma menjadi dorongan yang luar biasa untuk manusia. Jimin semakin rajin belajar. Apalagi setelah kelas Yoongi bersebelahan dengannya. Mungkin ia menjadi murid tergiat di sepanjang pesisir Busan.

Murid-murid lain mengantuk, ia duduk tegak dengan dada membusung memperhatikan guru. Ketika guru selesai menulis, ia langsung berdiri membersihkan papan tulis tanpa diminta dan meskipun itu bukan piketnya. Tak ada yang menunjuknya sebagai ketua kelas, dia menunjuk dirinya sendiri. Biar kelihatan penting, katanya. Jika ia menjadi orang penting, Yoongi akan sedikit meliriknya. Sedikit pun tidak mengapa. Itu sangat berarti bagi kelangsungan hatinya.

Jika guru bertanya, tidak peduli untuk siapa pertanyaan itu diajukan, Jimin akan senantiasa menjawab dengan suara lantang. Hingga siswa lain yang sedang dibuai mimpi terperanjat karenanya. Ia melakukan itu semata-mata agar Yoongi memperhatikannya.

Suatu hari ketika Kim Taeyeon seonsaengnim sedang mengajar di kelas Yoongi.

"Nama Jepang penyair Yun Dong-Ju?"

"Hiranuma Doju!" teriak Jimin.

"Cerdas!" kata Kim-ssaem tanpa menyadari bahwa muasal jawaban tersebut berasal dari kelas sebelah yang sedang belajar matematika. Alhasil, sepanjang pelajaran guru matematika menghukumnya dengan berdiri di depan kelas sambil ditertawakan teman-temannya.

Begitu juga jika bertanya, Jimin kadang tidak sejalan dengan apa yang tengah dibahas. Itu hanya karena perhatian Yoongi. Pernah suatu kali, Lee-ssaem menjelaskan tentang astronomi. Tentang planet-planet, bintang, dan benda-benda luar angkasa lainnya. Semakin Lee -ssaem menjelaskan, semakin dalam murid-muridnya tenggelam dalam ketidak mengertian, seperti Jimin.

"Lee-ssaem! Saya mau bertanya!"

"Ya, silakan Jimin-ah."

"Apakah ssaem pernah menonton drama My Love from the Star?"

Dan terdengarlah auman yang memenuhi sepanjang koridor lantai dua.

"KELUAAARRRRR!"

...

Sesekali, jika rindu merundungnya kuat-kuat, ia memanfaatkan waktunya untuk bertemu Yoongi. Setelah semua siswa menghambur keluar kelas, diam-diam Jimin menyelinap ke dalam kelas Yoongi untuk bertemu dengannya. Walaupun hanya dalam bentuk bangku yang kosong, ia menikmatinya. Duduk di bangku milik gula kesayangannya adalah suatu hal yang indah tak terperi. Sering ia tersenyum sendiri, menyentuh dengan takzim meja yang dipakai Yoongi untuk menulis dan menaruh kepala untuk tidur jika sudah bosan dengan pelajaran. Kadang ia iri kepada meja yang sangat dekat dengan Yoongi. Meskipun iri, meja itu adalah saksi bisu betapa kuat perasaan Jimin. Betapa teguh cintanya untuk Yoongi.

TBC

Satu catatan untuk Jimin, bersabarlah wkwk.

Bosen ya?

Review ya,

Tengkiss(:

ED.