When She Fall in Love

by kuzuryuuu (id 4710232)

Luki, Kokone, SeeWoo


"Kenapa cinta itu ada? Aku tidak mengerti."

Megurine Luki mengalihkan atensi dari tablet dua belas inchi yang sedari tadi ia pegang. Alisnya terangkat satu begitu sadar gadis bernama Kokone yang ada di hadapannya ini telah menggumamkan kalimat yang dirasa dramatis sekali.

"Kokone," ekspresi Luki berubah horror. "Lain waktu, aku akan mentraktirmu minuman yang kamu suka di café ini. Sekarang, ayo kita pulang atau ke dokter sekalian." Ia berdiri dan menarik lengan Kokone—bermaksud mengajaknya pulang.

Merasa ada yang salah, Kokone segera menepis tangan Luki dan menatapnya sengit. "Kak, menganggapku sedang sakit karena baru saja mengatakan hal yang menurutmu aneh itu klise sekali."

Lelaki berambut merah muda mengerjap dua kali, kemudian kembali duduk di tempatnya semula. "Aku tidak menganggapmu sakit. Kukira kamu kesurupan."

"Sialan."

Luki tertawa singkat. Uap dalam cangkir putih ditiup pelan sejenak. Pandangan terpatri pada gadis di depannya, pertayaan pun dilontarkan, "Jadi, ada apa?"

"Ada apa?"

"Kenapa balik bertanya, dasar aneh!"

"Aneh? Bukannya aku cantik?"

Setelah menyesap cappuccino-nya, Luki menyentil kening Kokone. Gadis itu meringis sebentar.

"Aku serius. Kau pasti sedang ada masalah, 'kan?" Denting ujung cangkir pada alas porselen hampir tertutup oleh suara Luki yang sedikit meninggi. Tak mengindahkan satu-dua orang pengunjung yang melirik ke arah mereka, Kokone melingkarkan ujung rambutnya pada jari telunjuk.

Sejujurnya, kalau tidak dipaksa bangun dan segera bersiap-siap, Luki malas sekali harus berpergian di hari Sabtu yang cerah ini. Asal tahu saja, try out kedua untuk para murid kelas tiga baru saja selesai kemarin. Batin Luki masih lelah. Seharusnya sekarang ia sedang berada di ranjang kesayangan, tidur sampai siang, memimpikan gadis-gadis manis menghampirinya dengan senyuman malaikat. Sayang, bukannya malaikat, yang datang malah iblis berwujud Kokone. Oh, tidak, itu memang dia.

Tiba-tiba saja adiknya masuk ke kamar dan membangunkannya secara biadab (selimut Luki dimasuki tarantula mainan yang bisa menggerayangi tubuhnya) pada pukul tujuh pagi. Mereka bertingkah dengan brutal, dan akan terus berlanjut jika seandainya Kokone tak merenyet Luki untuk masuk ke kamar mandi secepatnya. Tak sampai di situ, saat Luki bertanya kemana mereka akan pergi, Kokone berkata bahwa ia minta ditemani ke toko buku pusat kota.

Sekarang, lihat di mana mereka berada. Sebuah tempat bernama Le Café yang dekat dari stasiun kota, pada salah satu meja berkapasitas dua orang di lantai satu. Kokone membohonginya.

"Sudahlah, Kak. Jangan mengoceh begitu. Saat pulang nanti kubelikan balon," kata Kokone beberapa saat setelah mereka duduk.

Kurang ajar. Memangnya Luki anak TK.

Biarlah, mungkin Kokone memang sedang butuh tempat dengan suasana yang bisa menenangkannya. Dan lagi sisi positifnya, Luki selaku anak tak mau rugi bisa numpang wi-fi di sini. Sembilan ratus Kbps itu lumayan. Ia bisa buka twitter sekaligus download game monopoli.

Kembali pada keadaan saat ini. Sekarang sudah pukul sepuluh pagi. Café mulai diisi oleh beberapa orang, termasuk beberapa staff yang berlalu-lalang melewati meja tempat Luki dan Kokone berada.

Gadis berumur 16 tahun itu sedang mengerlingkan matanya ke arah lain. Reaksi yang reflek ia lakukan saat tak tahu mau bicara apa. Sementara itu, Luki menunggu sambil menulis tweet baru.

"Y-Ya … bagaimana cara mengatakannya ya…. Intinya, aku sedang suka dengan seseorang…."

Kala itu, ada jeda beberapa detik sebelum Luki bisa paham dengan perkataan Kokone.

"—HE?!"

Wajah Luki terangkat cepat. Kalau ini adalah anime, mungkin latar belakangnya sekarang adalah gemuruh ombak disertai petir besar.

Suka? Adiknya sedang menyukai seseorang? Apa ada yang bisa memberitahunya, apakah ini keajaiban atau bencana?

Mengetahui reaksi kakak sulungnya yang di luar dugaan, Kokone akhirnya cemberut. "Kok Kakak begitu, sih?! Harusnya jangan sekaget itu, dong!" tukasnya.

Yah … mau bagaimana pun, kekagetan Luki adalah sesuatu yang tak dapat ia sembunyikan.

Megurine Kokone adalah murid kelas dua SMA dengan tinggi 160 sentimeter. Rambut panjang tergerainya perpaduan antara warna cokelat tua dan merah muda. Wajahnya begitu manis; bulat, dengan hidung kecil dan bibir tipis yang terlihat merona saat berbicara. Tak lupa, mata sewarna madu adalah asetnya yang bisa menarik para kaum adam ke dalam lautan pesonanya hanya dalam sekali lirik.

Tapi, Kokone sudah terlanjur di kenal sebagai pribadi yang ketus. Mengabaikan apa yang tidak ia sukai. Lebih terpaku pada hal konkret daripada rayuan picisan.

Sebenarnya, Kokone adalah anak yang baik, pintar masak, dan suka dengan kebersihan. Kalau saja sifat cueknya terhadap orang lain bisa sedikit dikurangi, ia berpotensi menjadi Miss Universe di masa depan kelak.

"Baiklah, baiklah…." Luki mengkibas-kibaskan tangan kanannya. "Wahai putri es yang sedang jatuh cinta. Jadi, siapa pangeran beruntung yang bisa ditaksir olehmu? Cucu kepala sekolah?"

Karena mereka menuntut ilmu di tempat yang sama, Kokone pastilah tahu siapa itu cucu kepala sekolah. Pemuda materialisme bermulut manis yang pernah menyatakan rasa sukanya pada Kokone saat semester lalu, namun langsung ia tolak secara terang-terang. Bagaimana ia bisa lupa.

"Bukan dia. Melihatnya lewat di depan mataku saja sudah membuatku tak napsu makan."

"Oh, itu kejam sekali."

Kokone tertawa kecil. "Begini saja, setelah Kau selesai mendengar ceritaku, akan kuberi tahu siapa orang itu. Setuju?"

"Ya … tak masalah." Luki mengangguk dan bersiap mendengarkan. Namun matanya kembali terfokus pada layar tab seukuran papan potong sayur di rumah.

Sementara itu, Kokone menyendok sebagian kecil panna cotta buahnya. "Orang itu … teman sekelasku. Tubuhnya kurus dan tinggi. Ia punya suara tawa yang menyegarkan. Sifatnya ceria dan ramah. Sepertinya berkebalikan denganku yang orang bilang sangat kaku, dan mungkin karena itu juga kami jadi tidak terlalu dekat di kelas. Bahkan, belum tentu juga aku bicara padanya setiap hari." Ia memberi jeda untuk menyuap potongan itu. Merasakan manisnya krim yang meleleh dan sedikit rasa asam stroberi di lidahnya. Wow, Le Café punya dessert yang enak.

"Tapi Kak, dia sangat mengagumkan! Maksudku, dia pengurus OSIS yang paling menonjol selain ketuanya. Saat ia berbicara di depan banyak orang, jantungku selalu berdetak cepat. Kata-katanya terangkai begitu jelas, rapi, dan logis seolah apa yang ia ucapkan adalah sebuah fakta tak terbantahkan," lanjutnya sembari menaruh kembali sendok di pinggiran piring.

"Oh, pernah kepalaku ditepuk setelah mengembalikan bukunya yang tertinggal di kelas. Dan rasanya sangat…," Kokone memegang pucuk kepala, seolah merasakan kembali sentuhan tangan itu pada rambutnya, "… lembut. Lembut sekali."

Mendengar hal tersebut, Luki tidak bisa menahan dirinya untuk tak melihat ekspresi adiknya sekarang.

Wah—

Itu adalah pertama kalinya dari sekian lama Luki tak melihat seulas senyum dan mata Kokone yang berbinar indah sebagai wujud kekagumannya. Rasanya seperti cahaya murni Kokone yang dianggap redup bagi sebagian orang, perlahan mulai kembali menyelimuti sosoknya. Jika ada seseorang yang bisa membuat Kokone seperti ini, pastilah orang itu sangat berkesan bagi dirinya.

"Sepertinya Kau benar-benar suka dengannya. Aku terharu." Luki menyesap cappuccino-nya kembali. Pintu masuk café terbuka, tanda ada pelanggan baru.

"Ahaha, begitulah…. Aku berencana menyatakan perasaanku padanya Senin nanti. Tapi … apakah ini keputusan yang benar? Aku takut salah, Kak." Menunduk. Kedua tangan Kokone terkepal di atas rok merah muda.

"Kokone, aku tahu kalau kau orang yang cukup skeptis tentang masalah seperti ini. Dari ceritamu barusan, aku yakin dia orang yang pantas bersamamu. Jika Kau takut dengan penolakan, ya … kau tidak akan tahu sebelum mencobanya. Tapi tak ada yang salah dari menyukai seseorang. Yakinlah pada dirimu sendiri. Itu keputusan yang tepat." Luki memberi petuah. Kokone melongo tanpa sadar.

"… Kak Luki, kata-katamu sungguh—"

Mata Luki menyipit. "Kalau Kau menyebutnya aneh, aku akan mencubit pipimu dengan keras," kecamnya.

"Ahaha, tidak, tidak. Kata-katamu sangat membantu, sungguh. Hari Senin, aku akan bicara padanya." Kokone berpaling. Untuk sesaat, Luki menangkap semburat merah di wajahnya.

"Bagus, Kokone. Kalau Kau berhasil pacaran dengannya, traktir aku di sini, oke."

"Aku akan mentraktirmu setelah kau mentraktirku chocolate caramel frappuccino."

"Baiklah, sekarang jadi semakin aneh. Ngomong-ngomong, Kau tidak lupa dengan janji tadi, 'kan?"

Kokone sengaja memiringkan kepalanya. "Maksudnya, membelikanmu balon—o-oke oke, jangan cubit pipiku, itu menyakitkan."

Setelah berhenti berancang-ancang untuk menarik pipi adiknya, Luki menghela napas. "… Jadi?"

"Jadi … namanya SeeWoo. Kim SeeWoo."

Namun setelah mendengar nama tersebut, mata Luki membulat seolah tak percaya.

"A-Apa?! Oh— astaga, Kau jangan main-main denganku, Dik! Kuulangi, jangan main-main denganku!" Ia menekankan nada di setiap katanya.

Alis Kokone terangkat. "K-Kenapa? Ada apa sih, aku tidak mengerti maksudmu!"

"Maksudmu, Kim SeeWoo dari kelas 2-A, pengurus OSIS, ekskul voli, yang berambut pirang bergelombang dan keturunan Korea itu, 'kan?!" Luki menjabarkan diri SeeWoo.

Kokone menyendok makanannya kembali. "Wah, kau tahu rupanya. Lalu, masalahnya?"

"Sebenarnya selama ini aku punya rahasia mengenai dirinya. Kau lupa kalau sebelumnya aku juga masuk ekskul voli? Semester lalu setelah selesai melihat latih tanding, aku berniat mengecek kembali persediaan bola voli kami di gudang olahraga,"

Ucapannya tergantung. Luki membisu sesaat. Haruskah ia melanjutkannya?

"Tapi niatku terhenti begitu melihat dia—Kim SeeWoo— ada di dalam gudang dan berciuman … dengan seorang…."

Burung gagak terbang meninggalkan pohon, berkoak di ambang langit. Luki menarik napas.

"—Lelaki."

Di saat itu, sendok terjatuh dari tangan Kokone.

Di saat itu pula, Kokone menangis sejadi-jadinya.

Ah, sebaiknya Luki mentraktir Kokone chocolate caramel frappuccino.