Disclaimer:

Yuri! On Ice © Mitsurō Kubo (writer) & Tadashi Hiramatsu (character design)

Under Moskow Sky © Riren18.

Rate: T+ (maybe)

Main Pairing: Victor Nikiforov & Yuuri Katsuki

Genre : romance, hurt/comfort, angst, and friendship

Warning: Boys Love Story, typo, OOC, AU University, tidak sesuai EYD, and many more. DLDR.

.

.

.

.

.

.

Moskow, Rusia

Udara dingin dan daun-daun maple mulai menyelimuti kota Moskow, pertanda musim gugur telah di mulai. Walau belum masuk musim dingin, cuaca di Moskow sudah terasa sangat dingin. Walau udara terasa dingin tapi tidak menghambat orang-orang untuk beraktivitas. Termasuk Yuuri dan Victor yang kembali dengan kegiatannya masing-masing walau udara kian terasa semakin dingin, Victor kembali mengajar sebagai dosen dan Yuuri kembali belajar sebagai mahasiswa tentunya.

Tiba-tiba siang tadi sang kepala keluarga Nikiforov menelepon Victor untuk segera mengunjunginya karena ada hal penting yang ingin di bicarakan. Mau tak mau Victor harus memenuhi keinginan kakeknya dan terpaksa harus meninggalkan Yuuri sendirian di apartemennya.

Seperti biasa Yuuri dan Victor selalu pulang bersama tapi kali ini keduanya lebih banyak diam. Akhirnya Victor lah yang memecahkan keheningan di antara keduanya.

"Yuuri….."

"Ya ? "

"Nanti malam aku harus menemui kakekku di rumah utama keluargaku dan maaf aku tidak bisa mengajakmu ke sana. Apa kau tidak apa-apa sendirian di apartemen ? "

"Tidak apa-apa, Victor. Kau tidak perlu meminta maaf padaku dan kau tidak perlu khawatir karena aku akan baik-baik saja."

"Kau selalu baik hati dan mengerti, Yuuri."

"Aku tidak sebaik itu, Victor. Tapi, kau di sana sampai kapan ? "

"Aku tidak bisa menjawabnya secara pasti tapi jika urusannya sudah selesai pasti aku langsung pulang."

"Begitu, ya. Jaga kesehatanmu selama di sana, Victor."

"Kau juga, Yuuri."

.

.

.

.

Malam harinya Victor pun berangkat menuju rumah utama keluarga Nikiforov yang berada di pinggir kota Moskow. Setelah 30 menit berkendara, Victor telah sampai di rumah utama keluarga Nikiforov. Victor langsung melangkahkan kakinya menuju ruang kerja sang kakek setelah dia memasuki rumah yang terbilang cukup besar dan luas itu. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Victor langsung masuk dan bertanya pada sang kakek yang kini sedang duduk di kursi kerjanya.

"Ada urusan apa hingga Ded menyuruhku untuk datang ke rumah utama ? "

"Seperti biasa kau selalu to the point, Vitya. Bagaimana kabarmu sekarang ? "

"Aku malas berbasa-basi, terutama denganmu, Ded. Terasa lebih baik dari sebelumnya. Ded sendiri bagaimana ? "

"Dasar cucu kurang ajar. Apa yang menjadi alasanmu bisa menjawab seperti itu, Vitya? "

"Menurut Ded ? "

"Kau ini selalu menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan juga. Dasar cucu menyebalkan ! "

"Jangan marah begitu, Ded. Alasan ku menjawab seperti itu yaitu karena Vitya sudah memiliki sesuatu yang berharga dan harus Vitya jaga dengan baik."

"Begitu, ya. Siapa namanya? Kapan kau akan memperkenalkannya pada kakek? "

"Jika dia sudah jadi milikku. Aku harap kakek bisa bersikap sopan padanya dan tidak menakutinya."

"Soal itu tenang saja, Vitya. Tapi, apakah dia sudah mengetahui tentang kondisimu yang sekarang ? "

"Dia belum tahu dan mungkin aku tidak akan memberitahunya. Aku takut dia menjauhiku."
"Jika dia benar-benar cinta padamu, Ded yakin dia akan menerima tentang kondisimu, Vitya."

"Walau dia menerima kondisiku tapi aku tidak ingin membuatnya bersedih dan menangis karena kondisiku, Ded."

"Ded mengerti soal itu, Vitya. Tapi jika kau hanya memberinya senyuman dan kebahagiaan saja, bukankah itu malah menyakiti perasaannya dan membohonginya ? "

Victor hanya bisa terdiam dan tidak menjawab pertanyaan terakhir dari sang kakek. Victor tidak tahu harus menjawab apa karena apa yang di katakan oleh sang kakek ada benarnya namun di sisi lain Victor ingin terus melihat senyuman di wajah Yuuri. Tapi, Victor tidak ingin membuat Yuuri bersedih akan keadaannya yang sekarang.

Secara tiba-tiba dan tidak terduga sakit kepala Victor kambuh kembali dan lebih menyakitkan saat terkena serangan di Jepang saat di musim panas. Tak butuh waktu lama Victor pun kehilangan kesadaran dan tentu saja sang kakek begitu panik melihat cucu kesayangannya pingsan dan terlihat kesakitan. Sang kakek langsung berteriak meminta pertolongan pada pelayannya untuk mebawa Victor ke rumah sakit terdekat.

.

.

.

.

Sesampainya di rumah sakit, Victor langsung di bawa ke IGD untuk mendapatkan pertolongan segera. Sang kakek hanya bisa terduduk pasrah di kursi tunggu yang berada di depan ruang IGD. Sang kakek teringat beberapa tahun lalu saat Victor berkata padanya jika dia terkena penyakit serius tapi Victor tidak ingin di sembuhkan karena dia tidak ingin merepotkan sang kakek. Tentu saja sang kakek menentang perkataan Victor dan akhirnya keduanya bertengkar lalu Victor pun keluar dari rumah kakeknya. Ya…. Itu cerita beberapa tahun lalu karena pada akhirnya pertengkaran keduanya tidak berjalan lama dan pada akhirnya hubungan keduanya kembali membaik tapi Victor tidak ingin kembali ke rumah kakeknya dengan alasan ingin hidup mandiri. Sang kakek hanya bisa mengikuti kemauan sang cucu karena dia tahu Victor itu sangatlah keras kepala jika berurusan dengan pendirian.

Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya dokter pun keluar dan segera sang kakek bertanya soal keadaan cucu kesayangannya itu pada sang dokter.

"Bagaimana keadaan cucu saya, dokter ? "

"Tuan Victor harus segera di kemoterapi karena penyebaran sel kanker di otaknya sudah mulai meluas. Jika tidak segera di lakukan kemoterapi, nyawa tuan Victor akan terancam. Jika anda mengizinkan kami melakukan proses kemoterapi terhadap tuan Victor maka sel kankernya akan bisa di tekan penyebarannya."

"Apakah sudah separah itu penyakit cucuku? "

"Dengan berat hati kami menyampaikan bahwa penyakit kanker otak tuan Victor telah memasuki stadium 4. Perlu di lakukan kemoterapi dan juga operasi untuk menghambat penyebaran sel kankernya. "

Seketika sang kakek langsung berurai air mata saat mendengar perkataan dokter barusan. Dia tidak pernah menyangka bahwa Victor telah sampai pada stadium 4 yang di mana kemungkinan untuk hidup sangatlah kecil. Pada akhirnya sang kakek menyetujui soal kemoterapi dan segera dokter tersebut bersama timnya melakukan persiapan untuk kemoterapi Victor.

.

.

.

.

Sudah hampir satu bulan Victor belum kembali dari rumah kakeknya, tentu saja Yuuri mulai merasa khawatir. Victor juga tidak menghubunginya sejak terakhir dia berpamitan pada dirinya. Selama itu pula Yuuri lebih sering melamun saat di kelas dan pernah beberapa kali di tegur oleh dosen karena ketahuan melamun saat perkuliahan berjalan.

Suatu hari Phichit pun mengajak Yuuri makan bersama setelah selesai perkuliahan dengan niat ingin tahu apa yang menjadi penyebab Yuuri terlihat tidak fokus akan perkuliahan hampir selama 2 minggu ini. Kini keduanya sedang duduk berhadapan di sebuah restoran kecil yang terletak tak jauh dari kampus mereka dan Yuuri kembali melamun lagi.

"Yuuri…."

Tidak ada respon dari sang pemilik nama. Phichit mencoba memanggilnya lagi dengan suara yang agak keras.

"Yuuri ! "

Yuuri terkejut dan langsun menoleh ke sumber suara.

"Ada apa, Phichit ? Maaf tadi aku melamun."

"Yuuri, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu ? "

"Tentu. Mau bertanya soal apa ? "

"Belakangan ini kau sering sekali melamun, baik di kelas maupun di luar kelas. Sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan sampai-sampai membuatmu melamun ? "

"Aku kepikiran soal Victor. Sudah hampir satu bulan dia tidak juga menghubungiku dan tentu saja membuatku merasa khawatir. Aku takut terjadi apa-apa padanya."

"Kau sudah mencoba menghubunginya, Yuuri ?"

"Sudah. Tapi, tak ada satu pun panggilan atau emailku yang mendapat respon darinya."

"Hmm….. mungkin beliau sedang sibuk melakukan sesuatu hingga tidak bisa membalas email dan mengangkat telepon darimu. Positive thinking saja, Yuuri. Aku yakin beliau pasti akan menjelaskan padamu alasan mengapa dia tidak bisa merespon kembali telepon dan email darimu, Yuuri."

"Kau benar, Phichit. Terima kasih sudah mau mendengarkan curhatanku dan memberi masukkan untukku."

"Sama-sama, Yuuri. Lain kali kalau kau mau curhat lagi, langsung curhat saja padaku. Kita bersahabat bukan ? "

"Ya. Terima kasih sudah mau menjadi sahabatku, Phichit."

"Terima kasih juga telah mau menjadi sahabatku, Yuuri."

.

.

.

.

Beberapa hari kemudian, seperti biasa Yuuri selalu berangkat pagi tapi pagi kali ini agak sedikit berbeda karena Yuuri mendapat sebuah kejutan yang sangat tak terduga atau lebih tepatnya dia mendapat sebuah ancaman dari seseorang. Betapa terkejutnya Yuuri saat membuka lokernya yang terisi banyak pecahan beling dan juga sampah. Tak lupa ada sebuah surat yang berisi ancaman yang mengatakan jika dia harus menjauhi Victor dan jika dia tetap berada di sisi Victor maka dia akan mendapat akibatnya. Tentu saja Yuuri langsung merasa takut dan Yuuri langsung menutup lokernya.

'Siapa yang menerorku ? Apa salahku padanya ? Kenapa aku harus menjauhi Victor ? '

Yuuri terus berpikir sambil berjalan menuju kelasnya tapi tiba-tiba beberapa orang yang menghalangi jalan Yuuri. Salah satunya yaitu pemuda berambut pirang dengan bagian under cut berwarna cokelat. Pemuda itu berjalan perlahan mendekati Yuuri dengan tatapan tak suka.

"Apakah kau yang bernama Yuuri Katsuki ? "

"Y… ya. Memangnya ada apa ? "

"Dengarkan perkataanku baik-baik karena aku tidak akan mengulangnya. Jauhi Victor Nikiforov dan jika kau masih berani dekat dengannya maka kau akan berurusan denganku. Kau mengerti ? "

"Kau tidak berhak berkata seperti itu karena Victor saja tidak melarangku untuk dekat dengannya. Aku tidak akan mendengarkan perkataanmu."

"Cih…. Berani juga kau melawanku. Jika itu pilihanmu maka jangan menyesal karena mulai detik ini aku akan membuat hidupmu menderita. Kejutan di lokermu tadi baru pemanasannya saja dan sekarang aku akan memberikan kejutan lain untukmu. Cepat bawa dia ke gudang penyimpanan."

Yuuri langsung berlari setelah mendengar perintah yang di lontarkan oleh pemuda tersebut dan sayang sekali Yuuri kalah cepat dengan ketiga pemuda yang kini membawa dirinya menuju gudang penyimpanan. Seketika Yuuri merasa tubuhnya mulai gemetar karena ketakutan.

.

.

.

.

Siang harinya, Phichit merasa sangat cemas sekaligus khawatir dengan Yuuri karena hari ini dia tidak masuk kelas tanpa alasan yang jelas. Email dan telepon dari Phichit tak satu pun di respon oleh Yuuri. Phichit merasa ada yang aneh karena dia tahu Yuuri adalah mahasiswa yang rajin dan tidak pernah absen satu kali pun selama hampir satu tahun ini dan juga bukan tipe orang yang suka mengabaikan telepon atau email dari sahabatnya. Pada akhirnya pemuda asal Thailand ini meminta beberapa teman sekelasnya untuk membantu menghubungi sekaligus mencari Yuuri.

Setelah beberapa lama akhirnya, Leo mendapat informasi dari salah satu mahasiswi yang katanya melihat seseorang di seret ke bagian gudang penyimpanan tadi pagi. Segera Phichit dengan beberapa teman sekelasnya berlari menuju gudang penyimpanan dan tak butuh waktu lama mereka sudah sampai di sana. Betapa terkejutnya Phichit dan teman-temannya saat melihat kondisi Yuuri yang tergeletak tak berdaya dengan luka lebam di wajahnya. Tentu saja Phichit merasa marah dan berjanji akan menemukan siapa pelaku yang menyakiti sahabatnya. Setelah itu Yuuri pun di bawa ke klinik kampus oleh Phichit dan teman-temannya.

Setelah beberapa jam, akhirnya Yuuri tersadar juga dan dia langsung meringis kesakitan saat ingin menoleh ke arah samping.

"Aw….."

"Yuuri ? Kau sudah sadar ? "

"Aku sudah sadar, Phichit. Aku ada di mana sekarang ? "

"Kau ada di klinik kampus, Yuuri. Aku dan teman-teman yang membawa ke sini."

"Terima kasih dan maaf merepotkan. Yang lain ada di mana ? "

"Aku tidak merasa di repotkan olehmu, Yuuri. Teman-teman sudah masuk kelas. Aku sudah izin dengan dosen untuk menjagamu hingga mata kuliah terakhir. Yuuri, bisakah kau menceritakan padaku apa yang terjadi padamu hingga kau bisa seperti ini ? "

Yuuri terdiam sebentar dan dia mencoba memutar kembali ingatannya tentang kejadian tadi pagi.

"Aku akan menceritakannya tapi berjanjilah untuk tidak membalas perbuatannya karena aku tidak ingin kau dan yang lain mengalami hal yang sama denganku."

"Baiklah. Aku berjanji dengan catatan orang itu tidak mengulang perbuatan yang sama padamu."

"Berawal dari tadi pagi saat aku ingin membuka loker ku dan sungguh mengejutkan karena lokerku penuh dengan pecahan kaca dan juga sampah bahkan aku mendapat sebuah surat ancaman yang berisi untuk menjauhi Victor. Tentu saja aku merasa takut tapi aku coba mengabaikannya. Saat aku berjalan menuju ke kelas tiba-tiba ada beberapa pemuda menghalangi jalanku dan salah satu dari mereka mengancamku dengan ancaman yang sama seperti di surat yang ku dapat saat membuka loker. Aku pun menentang apa yang di suruh dan alhasil aku di bawa oleh mereka ke gudang yang pada akhirnya aku di pukuli oleh mereka."

Seketika Phichit rasanya ingin meninju muka pelaku yang memukul Yuuri dan Phichit merasa sedih atas keadaan sahabatnya yang kini wajahnya penuh dengan luka lebam. Phichit bahkan berniat melaporkan hal ini pada Victor, tapi sayangnya Victor tidak mengajar.

"Mulai sekarang kau jangan pernah jalan sendirian, terutama di kampus. Aku takut terjadi hal seperti ini lagi padamu, Yuuri. Pokoknya kalau kau ingin ke suatu tempat akan aku temani dan aku tidak menerima penolakan darimu, Yuuri."

"Baiklah. Terima kasih, Phichit."

"Sama-sama, Yuuri. Oh, ya, apa kau lapar ? "

GROOOOOWL!

Pertanyaan dari Phichit langsung di jawab oleh perut Yuuri dan seketika ruangan klinik itu ramai oleh suara tawa keduanya. Pada akhirnya Yuuri melewatkan senja yang tenang bersama sahabatnya setelah mengalami hal yang mengerikan tadi pagi.

.

.

.

.

Dua hari setelah kejadian pemukulan terhadap Yuuri, tiba-tiba Yuuri mendapat sebuah telepon dari orang yang terduga dan segera Yuuri mengangkat telepon itu.

"Halo, Katsuki Yuuri di sini. "

"Halo, nak Yuuri. Maaf mengganggu waktunya malam-malam begini. Saya kakeknya Vitya. "

"Vitya?"

"Vitya nama panggilan sayangku pada cucuku, Victor Nikiforov."

"Tidak apa-apa, tuan Nikiforov."

"Jangan terlalu formal padaku, panggil saja kakek. Nak Yuuri pasti khawatir karena Vitya tidak memberi kabar padamu kan?"

"Ya, aku merasa sedikit khawatir akan keadaan Victor. Bagaimana kabarnya Victor, kakek?"

"Seperti biasa yang kau lihat, nak Yuuri. Beberapa hari ini kesehatanku agak menurun dan Vitya merawatku hingga aku merasa lebih baik. Maaf ya karena diriku, Vitya sampai lupa memberi kabar padamu."

"Tidak perlu meminta maaf karena sudah sewajarnya Victor mendahulukan kakek yang merupakan keluarganya. Semoga kesehatan kakek bisa segera membaik agar kakek bisa beraktivitas lagi."

"Terima kasih atas doanya, nak Yuuri. Oh, ya, nak Yuuri boleh kakek bertanya sesuatu padamu?"

"Tentu saja boleh. Mau tanya soal apa?"

"Bagaimana perasaanmu terhadap Vitya?"

Yuuri terdiam karena terkejut mendapat pertanyaan yang cukup sensitif bagi dirinya dari kakek Victor. Tak lama Yuuri menjawab pertanyaan tersebut.

"Perasaanku terhadap Victor sulit untuk di jelaskan tapi Victor adalah sosok yang spesial untukku karena tanpanya aku tidak akan bisa jadi aku yang sekarang. Bertemu dengannya membawa keajaiban dalam hidupku."

"Terima kasih telah menjawab pertanyaanku dengan baik, nak Yuuri. Mulai detik ini, kakek percayakan Vitya padamu. Kakek mohon padamu untuk selalu berada di sisi Vitya, baik saat senang maupun susah."

"Terima kasih atas kepercayaannya dan semoga Yuuri bisa memenuhi permohonan kakek dengan baik."

"Terima kasih, nak Yuuri. Karena berhubung sudah malam kakek akhiri dulu pembicaraan kita kali ini. Jika ada waktu lagi, kakek ingin bicara lagi denganmu dan kalau bisa secara langsung. Mungkin Vitya akan pulang beberapa hari lagi jika kesehatanku sudah benar-benar membaik. Terima kasih atas waktunya ya, nak Yuuri."

"Suatu kehormatan bisa bertemu dengan kakek secara langsung. Terima kasih atas infonya dan semoga cepat sembuh ya untuk kakek. "

"Selamat malam, nak Yuuri. "

"Selamat malam, kakek. "

Sambungan terputus. Yuuri tidak menyangka jika Victor masih memiliki keluarga. Rasa khawatir Yuuri telah sirna tapi ada sebuah firasat yang mengganjal hati Yuuri walau belum begitu Yuuri rasakan. Tentu saja firasat itu bukanlah sebuah firasat yang baik.

.

.

.

.

3 hari kemudian setelah kakek Victor menelepon, akhirnya Victor pulang juga. Tentu saja Yuuri menyambutnya dengan hangat. Tapi, tiba-tiba Yuuri terkejut akan perubahan yang terjadi pada rambut Victor. Rambutnya yang panjang hingga mencapai sepinggang itu kini berubah menjadi pendek. Tentu saja hal tersebut menimbulkan tanda tanya bagi Yuuri.

"Victor... "

"Ya? Ada apa, Yuuri~ ? "

"Kau potong rambut, ya? "

"Ya, begitulah. Memangnya salah ya kalau aku potong rambut? "

"Tidak salah sih tapi aku penasaran saja dengan alasan kau memotong rambutmu. "

"Alasanku memotong rambut itu karena aku sudah bosan dengan rambut panjang dan aku ingin mencoba style baru."

"Begitu ya."

"Bagaimana pendapatmu tentang tampilanku yang baru? "

"Ku rasa cocok untukmu, Victor."

"Benarkah? "

"Tentu saja benar, Victor."

"Wah~ terima kasih Yuuri~."

Victor pun memeluk Yuuri. Walau pada awalnya Yuuri terkejut tapi pada akhirnya dia membalas pelukan Victor. Tapi, Yuuri merasa ada yang berbeda dengan tubuh Victor.

"Victor, kau kurusan ya ? "

"Eh? Masa sih ? "

"Iya, kau kurusan, Victor. Apa yang terjadi padamu ? "

"Aku tidak apa-apa. Mungkin efek dari merawat kakek sehingga aku kurang memperhatikan kondisi ku sendiri."

"Setidaknya kau juga harus menjaga kesehatanmu juga, Victor. Untuk nanti malam aku akan memasak makanan yang banyak untukmu, Victor. "

"Kau berencana ingin membuatku gemuk, Yuuri? "

"Tidak juga sih. Setidaknya mengembalikan berat badanmu yang sebelumnya. Kalau ku lihat kau juga terlihat agak pucat. Apa kau sakit, Victor? "

"Aku tidak sakit, hanya merasa agak lelah saja. Maaf membuatmu jadi khawatir, Yuuri. "

"Kau tidak perlu meminta maaf, Victor. Aku janji akan membuatkan makanan yang enak dan bergizi untukmu. Kau juga harus istirahat yang cukup dan kurangi aktivitasmu hingga kesehatanmu kembali. "

"Rasanya aku ingin punya istri sepertimu, Yuuri. Sangat perhatian pada suaminya. Apa kau bersedia menjadi istriku, Yuuri ~? "

"Victor sudah cukup dengan candaannya !. Sekarang kau lebih baik istirahat di kamar. Ku mohon padamu. "

"Buuu~ Yuuri nyebelin !. Baiklah, aku akan istirahat. Tapi, boleh aku minta ciuman selamat tidur darimu? "

"EH?!"

"Hanya di kening. Ku mohon padamu, Yuuri~ . Sekali ini aja mengabulkan apa yang aku mau. "

"Ba...baiklah. Cuma kali ini saja, ya."

"Spasibo, Yuuri ~ ."

Yuuri pun mendekatkan dirinya ke Victor. Yuuri meraih kepala Victor agar menunduk.

CUP!

Sebuah ciuman diberikan oleh Yuuri di kening Victor. Victor tentu saja langsung merasa bahagia sekaligus deg-deg an. Setelah itu dia pun langsung pergi kamarnya untuk tidur.

.

.

Beberapa hari setelahnya Yuuri yang sedang bersih-bersih tidak sengaja menemukan sebuah amplop dari rumah sakit yang terjatuh di lantai kamar Victor. Karena penasaran Yuuri pun membuka amplop tersebut dan seketika matanya terbelalak melihat isi dari amplop tersebut dan tak lama Yuuri pun menangis terisak-isak hingga jatuh terduduk di lantai.

.

.

.

.

.

To be continue

.

.

.

.

.

.

.

Author Note :

Ohayou minna san ^_^

Rireen balik lagi nih dan bawa chapter baru lho hohoho XD

Akhirnya chapter 6 dari fict ini selesai juga *ngeroll di kasur* *ngelap keringet*. Berhubung masih dalam waktu liburan, Riren memutuskan untuk menulis chapter ini. Semoga para pembaca setia cerita ini bisa terhibur dengan chapter yang satu ini.

Seperti biasa Riren mohon maaf apabila di chapter kelima ini masih banyak kesalahan dan kekurangan, baik dari segi penulisan maupun ceritanya. Riren selalu menantikan review dari para reader san, baik kritik ataupun saran. Riren mohon maaf juga kemungkinan untuk update chapter selanjutnya Riren tidak bisa janji untuk update cepat karena ada beberapa hal yang perlu Riren kerjakan.

Mungkin hanya itu saja yang ingin Riren sampaikan dan sampai bertemu di chapter ketujuh ya.

See you in the next chapter….

RIREN