:: Boundless History ::
©mitarafortunadow
{ disclaimer:
kuroko no basuke © fujimaki tadatoshi
owari no seraph © kagami takaya }
.
.
.
********************o0o********************
7th Drabble:
Unknowing Doll
-:-
Would someone be and not pretend?
—Avril Lavigne, "My World"
********************o0o********************
Aomine memainkan tombak seolah-olah gravitasi hanyalah ilusi yang akan lenyap hanya dengan satu jentikan jari sederhana dan ada magnet di telapak tangannya yang menarik batang tombak lebih kuat dari usaha angin untuk menjauhkannya dari jangkauan. Atau mungkin Aomine adalah pengamat udara, yang menurut Kise bukanlah kemustahilan, mengingat fisika bisa menentukan tekanan, sudut, dan kecepatan angin yang diperlukan untuk menjadikan tombak seolah menari di udara.
Namun ketika Kise bertanya, Aomine hanya menggeram, lalu menyebutnya tolol karena apa gunanya fisika di dunia mereka?
"Kita punya sihir, kau tahu." Anak laki-laki yang langsung menuai kekaguman Kise sejak awal pertemuan mereka itu berkata. "Ada mantra yang bisa membuat tombakmu kembali padamu apapun yang terjadi."
"Seperti bumerang," desah Kise, terpesona.
"Seperti bumerang," Aomine menyetujui. "Jadi, bagaimana kemajuanmu dalam latihan?"
Kise tidak langsung menjawab, masih mengawasi tombak Aomine yang berputar sekali lagi di udara. Setelah tangan Aomine dengan sigap menangkap kemudian menyandarkan tombak itu pada dinding bata yang mengelilingi area latihan pedang, barulah Kise mengangkat wajah dan memberikan respon.
"Tidak begitu bagus," ia mengungkapkan. "Aku bisa mempelajari teknik pedang atau senjata sejenisnya, tapi kesulitan dengan mantra."
Aomine menatapnya. "Mungkin kau bukan tipe sihir."
"Menurutmu begitu?"
"Hm-mm. Namun itu bisa diatasi. Nijimura juga sama sekali tidak bisa menggunakan mantra waktu ia pertama kali direkrut. Lalu Pak Tua membawanya pergi selama beberapa minggu dan, yah, begitu dia kembali, dia sudah menguasai semua mantra level menengah dan beberapa strategi perang." Sesaat, Aomine mengerutkan kening. "Kupikir Hiiragi-lah yang melatihnya."
Nama itu asing. "Hiiragi?" tanya Kise.
Aomine mengangguk. "Klan terkuat di wilayah ini. Mereka jadi semacam pemimpin, kata orang-orang. Penguasa. Teikou tidak pernah tertarik dengan kekuasaan, jadi kupikir hubungan klan kita dengan Hiiragi netral."
"Apa mereka merekrut anggota juga, seperti Teikou?"
"Iya, tapi seleksinya lebih berat. Dan mereka yang gagal akan dihukum mati, jika tidak keburu dibunuh oleh saingan mereka."
"Oh," kata Kise, merasa sedikit cemas. "Teikou tidak akan membunuhku jika aku gagal, 'kan?"
Tawa Aomine meledak. Ia menepuk bahu Kise, masih sambil tergelak. "Tentu saja tidak. Namun itu berarti, kau tidak bisa masuk ke dalam mansion." Ia menyerigai. "Hidup bagaikan surga, kau tahu, di dalam mansion. Kamar luas, kamar mandi pribadi, dan uang melimpah."
"Dari mana Teikou bisa mendapatkan uang? Apa kita diberi pekerjaan?"
Ekspresi Aomine berubah bingung. Ia mengangkat bahu. "Entahlah. Nijimura pergi hampir setiap pecan, dan banyak orang dewasa pulang dan pergi sepanjang waktu. Anak-anak tidak diberitahu apapun."
"Tapi Akashicchi pasti tahu, 'kan?" tanya Kise. "Dia terlihat seperti tahu banyak hal."
"Mungkin," gumam Aomine, perlahan mengalihkan pandangan. Tangannya kembali mencengkeram tombak. "Akashi memang tahu banyak hal."
A/N: It's been a long time since the last time I published something in this site (both as mitarafortunadow or shrinkingscore105), so this will be a good start to be actively writing again. Wish me luck!
