CHAPTER 7

RISE

Naruto Belongs to Masashi Kishimoto

Story Made by Me

Pair: NaruSaku

Rate: T-T+

Kesalahan:Ancur,Abal-Abal,EYD ancur,kalimat tidak efektif,Author masih newbie,dan kesalahan lainnya.

"Rise" (bicara)

"Rise" (batin)

.

.

.

.

.

.

"Hey Inoichi, kemana saja kau? Sudah 2 hari ini kau tidak mengunjungi kami." Omel Kizashi pada Ayah Ino yang baru saja datang di kediaman Haruno.

Inoichi hanya menggaruk kepalanya, "Hahahaa... maafkan aku Kizashi, hanya saja, aku sedang sibuk memikirkan kejadian yang kita alami sebelumnya dengan perkumpulan Hyuuga dan Uchiha."

Kizashi pun memasang wajah serius, "Jadi begitu. Bagaimana hasilnya? Apa mereka mengetahui darimana orang itu berasal?"

Inoichi hanya mengangguk, "Tidak salah lagi, perkumpulan itu sudah pasti tidak akan membiarkan kita semua begitu saja, maka dari itulah, mereka mengirim beberapa anggota – anggota mereka."

Kizashi hanya menunduk, "Ternyata dugaanku benar. Saat ini kita tidak bisa diam begitu saja. Kita harus lebih berhati – hati."

"Soal itu, aku sudah membicarakannya dengan perkumpulan Hyuuga dan Uchiha, mereka sudah sepakat bahwa kita semua harus menyelidiki orang – orang yang dianggap asing. Perkumpulan Hyuuga dan Uchiha juga sudah sepakat kalau mereka akan melaksanakan patroli malam hari untuk meningkatkan keamanan Konoha."

Kizashi hanya menghembuskan nafasnya, "Baiklah, aku rasa tindakan itu mungkin dapat mempersulit mereka untuk melakukan penyelundupan."

"Kau benar. Oh ya, ngomong – ngomong apa kau sudah menemukan orangnya?" Tanya Inoichi.

Kizashi hanya tersenyum dan mengangguk, "Ya, akhirnya kami dapat bertemu dengannya. Ternyata dia hanyalah remaja seumuran Ino dan Sakura."

"Hmm.. Begitu ya. Sangat disayangkan aku tidak sempat melihatnya." Ucap Inoichi sambil melipat kedua tangannya.

"Dan juga aku lupa memberitahumu." Ucap Kizashi.

Inoichi hanya menaikkan alisnya, "Memberitahuku soal apa?"

"Dia mengingatkanku kepada Minato."

Inoichi pun terkejut dan melebarkan kedua matanya, "N-Nani?! Minato?! Apa kau yakin?!"

Kizashi mengangguk, "Ya aku sangat yakin. Jika ada kesempatan lain, kau bisa melihatnya sendiri."

"Melihatnya sendiri?, Aku yakin tidak semudah itu."

Kizashi hanya tersenyum, "Tenang saja, tidak sesulit yang kau kira, karena dia bekerja di Ichiraku Ramen. Kalau di pikir – pikir, lokasinya tidak jauh dari sini."

Inoichi pun tersenyum dan antusias mendengarnya, "Benarkah? Kalau begitu, aku ingin bertemu dengannya."

"Tunggu dulu Inoichi, kau tidak perlu repot – repot. Aku akan menyuruh Izumo yang pergi kesana, jadi kau tunggu disini saja bersama kami, kau sudah terlalu sering bepergian sampai tidak sempat mengunjungi kami."

"Hehe... Baiklah Kizashi, maaf merepotkan." Ucap Inoichi sambil tersenyum dan menggaruk pipinya.

"Itu tidak masalah. Lagipula, kita ini sudah lama menjadi sahabat. Ayo kita tunggu dia di ruang tamu bersama dengan yang lainnya."

.

Naruto Place

"Aku sangat lelah." Sesampainya di apartemennya, Naruto menaruh tasnya, kemudian berbaring di kasurnya yang rapi dengan seragam sekolahnya, menatap ke arah langit – langit dengan kedua mata Blue Sapphirenya yang indah. Memikirkan sesuatu yang sama sekali tidak diketahuinya. Tidak diketahui oleh dirinya maupun orang lain.

'Siapa orang itu.'

'Kenapa harus kedua orang tuaku.'

'Apa salah mereka.'

'Kenapa mereka melakukannya.'

'Apa yang mereka inginkan.'

'Kenapa harus aku.'

'Bagaimana aku bisa menemukannya.'

'Apa yang harus kulakukan.'

Dengan cepat, Naruto menggelengkan kepalanya dan turun dari tempat tidurnya. Melepaskan semua seragam sekolahnya, kemudian mengenakan seragam Ichiraku miliknya.

"Aku akan memikirkannya lain kali."

Setelah mengenakan seragamnya, Naruto berjalan ke arah pintu apartemennya dan mengenakan sepatunya. Membuka pintu apartemennya, dan kemudian mulai menjalankan pekerjaan yang biasa dia lakukan. Walaupun Naruto sering mendapatkan tugas untuk mengantarkan pesanan, Naruto sama sekali tidak keberatan karena menurutnya, pekerjaan yang dia lakukan saat ini adalah hobinya sehingga sesering apapun tugas yang dia dapatkan, dia tidak akan mudah bosan selama dia mendapatkan gajinya.

Dalam perjalanan, Naruto sesekali melihat ke langit yang mulai mengubah warnanya menjadi agak kemerahan, menandakan bahwa matahari akan terbenam dalam waktu dekat.

"Kelihatannya, aku akan pulang malam."

Tidak lama kemudian, Naruto sudah dapat melihat kedai Ichiraku Ramen, tempat dimana ia bekerja untuk mendapatkan nafkah.

"Selamat sore, Paman."

"Oooh, ternyata kau sudah datang Naruto. Kebetulan sekali." Ujar Teuchi yang sedang sibuk menyiapkan banyak cup Ramen.

Naruto hanya menaikkan sebelah alisnya, "Kebetulan? Memangnya ada apa Paman?".

"Baru saja ada pesanan dari 2 orang sebelum kau datang tadi."

"Yosh.. Kalau begitu, serahkan padaku Paman. Aku pasti akan mengantarkannya." Ucap Naruto dengan nada semangat.

"Kau harus membawa tas ramen milikku Naruto, masalahnya, pesanan cup Ramennya lumayan banyak, jadi kau tidak akan mungkin bisa membawanya dengan hanya kedua tanganmu." Ucap Kizashi sambil memasukkan beberapa cup Ramen ukuran besar yang cukup banyak ke dalam tas miliknya.

Naruto yang melihatnya pun hanya menelan ludahnya.

'Banyak sekali'. Batin Naruto.

'Aku harap semua ramen itu menjadi milikku'. Naruto pun membayangkan dirinya memakan semua ramen itu dengan ekspresi yang sulit didefinisikan. Melihat ekspresi Naruto yang aneh, Teuchi hanya melambaikan tangannya di depan wajah Naruto.

"Hoi Naruto... Aku harap semua ramen ini di antarkan sesuai dengan jumlah yang di pesan. Jangan sampai salah satu ramen saja masuk ke dalam perutmu, atau aku tidak akan membiarkan kau bekerja lagi."

"Hee?!, Iya Paman, aku tidak akan memakannya, hanya saja aku iri pada orang yang membeli ramen sebanyak ini. Yosh... Kalau begitu, aku berangkat Paman." Naruto akhirnya memakai tas yang berisi ramen tersebut dan keluar dari Ichiraku Ramen.

"Ya, jaga dirimu Naruto."

.

30 Minutes Later.

"Heehh... hari ini hanya ada 2 pesanan, tapi jumlah ramen yang dipesan cukup banyak juga." Ucap Naruto sambil melihat kertas yang berisi catatan setiap alamat yang memesan ramen Teuchi.

"Baiklah... aku sudah mengantarkan 3 cup Ramen di dekat perkumpulan Hyuuga. Jadi, tinggal 1 pesanan lagi yang belum aku antarkan dengan 15 cup Ramen."

Naruto menghembuskan nafasnya, "Hahh... orang ini beruntung sekali. Ngomong – ngomong siapa yang memesan ramen sebanyak ini." Ucap Naruto sambil melihat alamat yang tertulis di kertas kecilnya, dan sedikit terkejut melihatnya.

"Alamat ini... Kenapa dia memesan ramen sebanyak ini?" Ucap Naruto sambil berpikir sejenak.

"Entahlah, lebih baik aku bergegas."

.

SKIP TIME.

.

"Hahhhh... Hoi Kizashi, kenapa dia lama sekali. Aku sudah bosan menunggu seperti ini." Ucap Inoichi sambil menguap dengan nada bosan.

Kizashi yang mendengarnya hanya bersweat-drop, "Kau sendiri yang bilang mau melihatnya, tapi kau sendiri saja tidak mau bersabar. Kami juga membutuhkan waktu untuk membujuknya kesini."

"Ahh Tou-Chan!" Inoichi yang mendengar seseorang memanggilnya pun akhirnya menoleh, dan ternyata orang yang memanggilnya itu adalah Ino, yang baru saja turun dari lantai 2 bersama dengan Sakura dan Shion.

"Aku senang Tou-Chan kembali. Apa semuanya berjalan baik?" Ucap Ino sambil memeluk ayahnya erat.

Inoichi hanya membelai kepala Putrinya, "Ya, semuanya baik – baik saja. Saat ini, kita hanya harus lebih berhati – hati saja."

"Inoichi-san, aku sangat senang Anda datang. Anda sudah lama tidak mengunjungi kami." Ucap Sakura sambil tersenym.

"Hehe... ya... itu salahku. Maafkan aku Sakura, akhir – akhir ini aku sangat sibuk, jadi aku harap kau mau menemani Ino sementara aku pergi. Aku harap dia tidak merepotkanmu."

"Ahh itu sama sekali bukan masalah Inoichi-san."

Inoichi kemudian menolehkan kepalanya ke segala arah seperti seseorang yang sedang kehilangan sesuatu, "Ngomong – ngomong Kizashi, dimana Mebuki?"

"Ooh... saat ini dia sedang berbelanja."

"Begitu ya."

"Haruno-sama, Yamanaka-sama, pria pirang kumis kucing sudah datang. Dia sudah membawa pesanannya." Ucap Izumo yang tiba – tiba saja datang ke dalam rumah itu dengan tergesa – gesa, sedangkan Sakura yang baru saja mendengarnya sedikit melebarkan matanya.

Kizashi dan Inoichi pun hanya menaikkan sebelah alisnya dengan wajah bingung, "Pria pirang kumis kucing?" Ucap mereka berdua bersamaan.

Sakura hanya menghembuskan nafasnya, "Maksudnya adalah Naruto, Tou-Chan."

"Oohh begitu. Hei Izumo, lain kali kau harus panggil namanya, dia memiliki nama. Kalau begitu, suruh dia masuk ke sini." Perintah Kizashi pada Izumo.

"Wakarimasta, Haruno-sama."

"Namanya Naruto ya?" Tanya Inoichi, Kizashi hanya tersenyum dan mengangguk.

Sakura yang sama sekali tidak mengetahui situasi tersebut hanya memasang wajah bingung dan menggaruk pipinya.

"Etoo... Tou-Chan, kenapa Naruto datang kesini?" Tanya Sakura sambil menghampiri Kizashi.

"Ooh, itu karena Inoichi ingin bertemu dengannya. Jadi, aku sengaja menyuruh Izumo untuk memesankan beberapa cup Ramen tadi."

"Jadi begitu ya."

"Hoii... kenapa kau menyeretku Izumo-san?!"

"Haruno-sama menyuruhku untuk membawamu masuk, jadi turuti saja!"

"Kurasa itu sama sekali tidak perlu. Aku sudah mengantarkan ramennya!"

Mereka yang sedang berada di dalam kediaman Haruno itu tentu saja mendengar keributan itu, dan akhirnya keluar untuk melihat apa yang terjadi. Sesampainya mereka di pintu depan kediaman Haruno, dapat dilihat Naruto sedang bersusah payah untuk tidak masuk ke dalam kediaman Haruno, sementara Izumo bersikeras untuk menyeret Naruto masuk dengan menarik tangan dan seragam Ichiraku ramen miliknya.

"Heii... kau harus masuk pria pirang. Haruno-sama menyuruhku untuk melakukannya, jadi tolong kerja samanya." Ucap Izumo sambil bersusah payah menarik tangan Naruto agar mau masuk ke dalam kediaman Haruno.

"Hei Paman, aku sudah mengantarkan pesanannya, jadi aku tidak memiliki urusan lain lagi disini."

"Ahh... Naruto, selamat datang. Aku memang menyuruh Izumo untuk membawamu masuk, maaf kalau Izumo terlalu memaksamu, lagipula aku yang menyuruhnya." Ucap Kizashi sambil menghampiri mereka berdua dan menghentikan keributan tersebut.

Naruto hanya membungkukkan badannya kepada Kizashi dan merapikan seragamnya, "Selamat sore, Kizashi-san. Maaf, bukan berarti aku menolak, hanya saja Paman Izumo langsung menarik tanganku saat aku baru mengantarkan ramennya, jadi aku sedikit bingung."

Kizashi hanya menggaruk kepala belakangnya, "Hahaha... maaf Naruto, itu memang salahku. Sekarang, aku ingin kau mau untuk masuk ke dalam, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu. Sedangkan kau Izumo, taruh ramen yang diantar tadi di dapur."

"Baik, Haruno-sama."

Naruto hanya mengikuti Kizashi dari belakang menuju ke dalam Kediaman Haruno, di depan pintu kediaman Haruno, Naruto melihat 2 orang gadis yang sudah ia kenal beberapa waktu yang lalu, dan seorang pria dewasa yang tidak diketahuinya.

"Kizashi benar. Anak ini benar – benar mirip dengannya." Batin Inoichi terkejut setelah melihat Naruto yang berjalan mengikuti Kizashi.

"Selamat sore, Ino-san, Sakura-san." Ucap Naruto sambil membungkukkan badannya saat sudah berada di hadapan kedua gadis tersebut. Mereka berdua hanya tersenyum dan Sakura hanya melambaikan tangannya pelan. Setelah membungkukkan badannya, Naruto melihat ke arah Inoichi dengan ekspresi bingung. Inoichi yang mengerti ekspresi Naruto pun hanya tersenyum.

"Senang bertemu denganmu Naruto, panggil saja Inoichi, aku ayahnya Ino. Sebelumnya, kau sudah bertemu dengan Kizashi, bukan? Saat itu aku belum sempat untuk bertemu denganmu secara langsung, jadi sekarang aku hanya ingin bertemu denganmu karena aku ingin mengucapkan terima kasihku, aku harap hal ini tidak merepotkanmu."

Naruto yang baru mengenal Inoichi pun kembali membungkukkan badannya, "Senang bertemu dengan Anda juga, Yamanaka-san. Hal ini sama sekali tidak merepotkan, jadi Anda tidak perlu mempermasalahkannya, dan juga, Anda tidak perlu berterima kasih seperti itu, aku dengan senang hati dapat membantu kalian."

"Hei, kau tidak perlu bersikap sangat formal seperti itu, panggil saja Inoichi." Ucap Inoichi sambil menunjukkan senyumannya.

"Aku mengerti, Inoichi-san."

"Hoii.. kenapa kalian masih ada di luar? Cepat masuk ke dalam, Shion sudah menyiapkan ramennya untuk kita." Panggil Kizashi kepada mereka yang sedang berada di depan pintu rumah kediaman Haruno.

Mereka pun berkumpul di ruang tamu dan duduk di sofa yang sudah di sediakan dengan cup Ramen hangat untuk setiap orang yang ada di ruangan tersebut. Suasana di ruangan itu sedikit canggung, karena tidak ada yang membuka pembicaraan, melainkan mereka menikmati ramen yang baru saja di antar oleh Naruto. Mereka semua memakan ramen, kecuali Naruto yang dari awal sama sekali tidak membuka pembicaraan.

"Naruto, kenapa kau tidak memakan ramen milikmu?" Tanya Kizashi yang bingung karena Naruto sama sekali tidak menyentuh ramen yang sudah disediakan oleh Shion.

"Tidak apa – apa Kizashi-san, aku sudah kenyang. Sebelum bekerja, aku sudah mengisi perutku." Jawab Naruto bohong pada Kizashi.

"Begitu ya".

Tidak lama kemudian, mereka semua akhirnya sudah menghabiskan ramen mereka masing – masing.

"Ooh ya, Naruto. Ngomong – ngomong dimana rumahmu?" Tanya Inoichi pada Naruto, bermaksud membuka pembicaraan.

"Saat ini, aku belum mempunyai rumah, Inoichi-san. Aku tinggal di sebuah apartemen."

Inoichi pun hanya menganggukan kepalanya, dan memikirkan pertanyaan yang akan dia tanyakan pada Naruto karena ingin lebih mengenal remaja tersebut.

"Begitu ya, apa kau tinggal dengan kerabatmu di apartemen itu?"

"Tidak. Aku sendiri." Jawab Naruto singkat, sementara Ino dan Sakura hanya memperhatikan dan mendengar setiap perkataan Naruto.

"Kau sendiri? Orang tuamu juga tidak bersamamu?"

"Tidak."

Mendengar jawaban Naruto barusan, Kizashi mulai memasang wajah serius dan menatap Inoichi, namun Inoichi sama sekali tidak melihat Kizashi karena terlalu fokus pada Naruto.

"Jadi, dimana orang tuamu sekarang?"

"Hei... Inoichi." Potong Kizashi dengan cepat untuk mengingatkan Inoichi agar tidak bertanya tentang hal yang bersifat pribadi. Inoichi yang baru sadar kalau dirinya sudah sedikit terlewat batas pun hanya sedikit terkejut, sementara Ino dan Sakura memasang wajah serius.

"Mereka sedang pergi, untuk sementara waktu, mereka tidak akan kembali". Jawaban yang baru saja Naruto ucapkan membuat setiap orang yang ada ruangan itu menatap ke arahnya, termasuk Shion.

Inoichi yang baru saja mendengarnya pun hanya memasang cengiran pada wajahnya dan menggaruk kepalanya, "Begitu ya, hehehe... maaf Naruto. Aku sudah menanyakan hal yang bersifat pribadi padamu."

"Kau tidak perlu meminta maaf Inoichi-san, itu sama sekali bukan masalah. Mereka berdua memang sedang pergi, jadi aku tidak bisa melihat mereka untuk sementara waktu."

Kizashi hanya menghembuskan nafasnya lega, "Inoichi, lain kali kau harus memikirkan baik – baik pertanyaanmu itu, jangan menanyakan hal yang bersifat pribadi."

"Iya Kizashi, itu salahku. Aku terlalu terbawa suasana." Jawab Inoichi sambil menggaruk kepala belakangnya.

Inoichi pun mengalihkan pandangannya ke arah Naruto, "Baiklah Naruto, terima kasih banyak atas waktumu hari ini, karena kau mau meluangkan waktumu untuk bertemu lagi dengan kami."

"Iya, sama – sama Inoichi-san, jika kalian ingin membutuhkanku lagi, aku akan dengan senang hati membantu kalian."

Kizashi hanya tersenyum, dan bangkit dari duduknya, "Kau memang anak yang baik Naruto. Kalau begitu, kau boleh melanjutkan pekerjaanmu. Maaf kalau percakapan ini menghambatmu."

"Tidak usah dipikirkan Kizashi-san, kalau begitu aku permisi duluan." Ucap Naruto sambil bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu keluar kediaman Haruno.

"Tunggu dulu Naruto". Panggil Kizashi pada Naruto yang baru saja akan keluar.

"Aku lupa untuk membayar ramen pesananmu. Ini uangnya." Ucap Kizashi sambil memberikan uangnya pada Naruto.

"Ah, aku juga benar – benar lupa. Terima kasih Kizashi-san. Kalau begitu, aku akan melanjutkan pekerjaanku. Sampai bertemu lagi Kizashi-san." Ucap Naruto sambil membungkukkan badannya dan melangkah pergi, sementara Kizashi melambaikan tangannya sambil tersenyum ke arah Naruto.

"Kau benar, Kizashi. Dia memang seperti Minato." Ucap Inoichi yang tiba – tiba datang di samping Kizashi, sedangkan Kizashi hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Sementara itu, tidak jauh dari pintu gerbang kediaman Haruno, 2 orang gadis sudah memperhatikan mereka dari dalam rumah.

"Hei Forehead, aku heran, kenapa sepertinya mereka berdua kelihatannya sangat perhatian pada Naruto?"

"Entahlah, Ino-Pig. Aku juga setuju denganmu. Apa mungkin karena dia sudah menolong kita?"

"Aku juga tidak tahu, aku rasa sepertinya mereka ingin mengenal Naruto lebih dalam, tapi apa alasannya?" Ucap Ino sambil memikirkan sesuatu.

"Oh ya, sebelum itu, kita tanyakan dulu pada diri kita sendiri. Kita berdua sudah sepakat bukan, kalau kita akan mengenal Naruto lebih jauh?" Tanya Ino pada Sakura, sementara Sakura hanya mengangguk.

"Apa alasannya?" Tanya Ino.

"Menurutku, karena dia bukanlah orang aneh seperti yang kita bayangkan, sebenarnya dia adalah orang yang baik, hanya saja dia terlalu menutup dirinya dari orang lain sehingga dia terlihat seperti orang aneh. Aku ingin mengenalnya lebih jauh juga karena aku ingin tahu kenapa dia selalu bersikap tertutup." Jawab Sakura pada Ino.

"Begitu, ya." Ucap Ino, dan Sakura hanya mengangguk.

"Tidak ada alasan lain?" Tanya Ino.

"Kurasa tidak." Jawab Sakura singkat.

Ino pun hanya memasang wajah cengiran menggodanya pada Sakura, "Bukankah kau juga ingin mengetahui sesuatu yang tersembunyi dibalik matanya yang indah itu?, atau kau juga ingin mengetahui kenapa kau bisa terpaku saat menatap matanya?"

Sakura hanya sedikit terkejut dengan sedikit semburat merah di kedua pipinya, "Jangan bicara hal yang tidak masuk akal PIG".

"Hihi... kau memang tidak pernah berubah Forehead. Apa kau masih mengharapkan Uchiha itu?"

"Itu bukan urusanmu PIG. Walaupun aku selalu diacuhkan olehnya, aku akan tetap berusaha untuk mendapatkannya." Ucap Sakura dengan semangat.

Ino hanya menghembuskan nafasnya, "Forehead, aku tidak bermaksud untuk mencampuri urusanmu, tapi, aku hanya ingin mengingatkanmu kalau kau hanya akan depresi jika kau terlalu banyak berusaha tapi selalu di abaikan. Aku tidak mengatakan kalau kau tidak akan bisa mendapatkannya."

"Aku mengerti Ino-Pig. Terima kasih atas saranmu."

"Jangan terlalu di pikirkan. Kita kan sahabat, dan akan selalu begitu." Ucap Ino dengan senyuman manis ke arah Sakura, begitu juga dengan Sakura yang membalas senyuman Ino.

.

.

Other Place

"Kudengar, sudah ada beberapa peristiwa belakangan ini." Ucap seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruang pertemuan Uchiha yang terdiri dari kurang lebih 9 orang, dengan seragam Konoha High School, mata yang tajam, dan juga sikapnya yang terkenal dingin. Tentu saja, seluruh tatapan mata yang ada di ruangan itu semuanya tertuju pada remaja tersebut.

"Ooh, ternyata kau juga sudah menyadarinya Sasuke, darimana kau mendapatkan kabar itu?". Ucap salah satu anggota Uchiha yang merupakan kakak dari Uchiha Sasuke, yaitu Uchiha Itachi.

Sasuke hanya meletakkan tasnya dan duduk di salah satu kursi yang sudah disiapkan untuknya, "Berita harian." Jawabnya singkat.

"Begitu ya."

"Ngomong – ngomong, dimana Tou-chan?. Kenapa kursinya kosong?" Tanya Sasuke pada Itachi.

"Dia sedang membahas permasalahan ini dengan pemimpin perkumpulan Hyuga, Hiashi. Mereka ingin menjalin kerja sama yang lebih dalam supaya sistem pertahanan di Konoha semakin ketat." Jelas Itachi pada Sasuke, sedangkan Sasuke hanya mendengarkan dan menatap kakaknya.

"Hanya dengan perkumpulan Hyuga?"

"Tidak, Tou-chan juga sudah mempertimbangkan masalah ini sebelumnya dengan perkumpulan Haruno dan Yamanaka. Perkumpulan mereka justru yang paling pertama dalam melaporkan masalah ini, karena mereka hampir saja menjadi korban." Ucap Itachi.

Sasuke hanya menatap Itachi dengan tajam, dengan melipat kedua tangannya, "Hampir menjadi korban?, itu artinya, mereka selamat?". Itachi hanya mengangguk pelan.

"Bagaimana?"

"Entahlah, mereka hanya memberitahu Tou-chan soal itu." Ucap Itachi. Sasuke yang baru saja mendengar informasi itu hanya memejamkan matanya sejenak dan menghembuskan nafasnya.

"Bagaimana dengan kalian semua? Apa kalian sudah mendapatkan informasi yang lebih jauh dari ini?" Ucap Sasuke pada setiap anggota Uchiha yang hadir dalam pertemuan itu. Namun, tidak ada satupun yang menjawab, sehingga membuat Sasuke kembali menghembuskan nafasnya.

Tidak lama kemudian, seseorang memasuki ruangan pertemuan tersebut dengan menggunakan jas berwarna hitam dan ekspresi wajah yang terlihat tegas.

"Kau sudah kembali Tou-chan, jadi bagaimana?" Ucap Itachi yang menyadari kedatangan ayahnya.

"Tidak terlalu rumit. Kita sudah sepakat untuk saling bekerja sama untuk meningkatkan Konoha selama ini, namun hanya saja bedanya adalah kita semua akan ikut berpartisipasi dalam menyelidiki kasus ini. Kita harus mengerahkan beberapa anggota berbakat kita untuk mengawasi pintu masuk Konoha, setiap sudut kota, dan juga melakukan observasi terhadap tempat – tempat yang tidak digunakan atau tidak memiliki penghuninya lagi, karena tentunya kita tidak ingin mereka memiliki tempat persembunyian di dalam Konoha, maka dari itu hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya hal tersebut." Jelas pemimpin perkumpulan Uchiha itu kepada setiap orang yang hadir pada pertemuan itu. Itachi dan Sasuke hanya mendengarkan ayahnya dengan serius, sementara beberapa di antara mereka ada yang mencatat.

"Lalu, kapan kesepakatan itu akan dilaksanakan, dan juga, apa yang dilakukan oleh perkumpulan Haruno dan Yamanaka?" Tanya Sasuke.

"Secepatnya. Berhubung jumlah perkumpulan mereka terbatas, maka tugas mereka hanya melakukan penyelidikan terhadap hasil observasi dan laporan yang kita buat. Mereka juga akan menganalisis laporan itu apabila terdapat kesalahan. Apabila mereka juga ingin ikut berpartisipasi dalam melakukan patroli, maka itu sama sekali bukan masalah."

"Kalau begitu, pertama – tama, apa yang akan kita lakukan sekarang?" Tanya Itachi.

"Oh benar juga, aku belum memberi tahu kalian. Sebelum itu, kita perlu mendapatkan referensi, atau dengan kata lain sedikit informasi tambahan yang mungkin dapat membantu kita dalam melakukan penyelidikan."

"Informasi tambahan?, apa maksudnya?" Tanya Sasuke bingung.

"Kita akan melakukan sebuah introgasi singkat pada seseorang".

"Siapa?" Tanya Itachi.

"Orang yang mungkin mengetahui apa yang terjadi secara pasti. Sekarang, lebih baik kalian berdua ikut saja, ayo kita berangkat. Kita harus melakukannya sekarang." Tidak lama kemudian, semua orang yang ada di ruangan itu meninggalkan tempat duduk mereka masing – masing, menandakan bahwa pertemuan tersebut telah selesai. Mereka akhirnya memasuki mobil mereka masing – masing untuk menuju lokasi seseorang yang akan di introgasi oleh pimpinan mereka.

.

.

Matahari sore sudah hampir menenggelamkan cahayanya di sebelah barat, menandakan bahwa petang akan digantikan oleh malam. Setiap lampu di pinggir jalan kota Konoha mulai menunjukkan cahayanya satu per satu, sehingga jalanan Konoha tetap terlihat terang walaupun hari telah berganti malam. Dapat dilihat, di pinggir jalan tersebut masih banyak orang yang berlalu lalang berjalan kaki menuju rumah mereka masing – masing. Namun, berbeda dengan laki – laki dengan rambut berwarna kuning dengan kumis kucing di kedua pipinya, yang sampai saat ini belum menuju ke apartemennya.

"Paman, aku pesan 1 mangkok lagi".

"Aku juga paman, kuahnya jangan terlalu encer ya."

"Baiklah, akan ku siapkan segera." Ucap Teuchi dengan nada semangat saat melayani setiap pelanggannya yang ada.

Srek.

"Ooh, ternyata kau sudah kembali Naruto. Kelihatannya kau sudah mengantarkan semua pesanan ramennya, kerja yang bagus." Ucap Teuchi pada Naruto yang baru saja memasuki kedai ramen miliknya.

Naruto hanya menampakkan cengiran khasnya, "Terima kasih, Paman. Aku sendiri tidak menyangka kalau aku dapat mengantarkan semua pesanannya, walaupun membutuhkan waktu yang lumayan lama."

Teuchi hanya tersenyum, "Baiklah Naruto, sekarang kau boleh pulang. Kerja yang bagus. Ayame akan mengantarkan uangnya ke apartemenmu besok."

"Baiklah Paman, kalau begitu aku duluan. Sampai bertemu lagi Paman." Naruto kemudian menaruh tas ramen milik Teuchi dan berjalan menuju apartemennya untuk beristirahat.

.

Naruto Place.

"Hari ini cukup melelahkan." Batin Naruto.

Dalam perjalanan pulangnya, Naruto hanya menghembuskan nafasnya beberapa kali. Tidak memperdulikan tatapan orang yang berpapasan dengannya di pinggir jalan, maupun yang menggunakan kendaraan.

Tidak lama kemudian, Naruto sudah dekat dengan apartemennya. Di depan apartemennya, dia melihat seseorang menggunakan jas hitam dan juga kacamata hitam. Naruto sama sekali tidak mengenali orang itu, namun tetap saja Naruto memiliki rasa curiga terhadap orang asing yang tidak dia kenal. Walaupun begitu, Naruto hanya melewati orang itu tanpa rasa peduli, menuju ruangannya.

Tap.

Naruto sempat kaget dan bingung saat orang itu menepuk pundaknya. Dia hanya menoleh ke arah orang itu.

"Ada apa, Tuan?" Tanya Naruto.

Orang itu kemudian melepaskan kacamatanya agar Naruto dapat mengenal lebih jelas dirinya, "Kau Naruto kan, ayahku ingin bertemu denganmu sebentar."

Naruto akhirnya mengenali orang itu setelah ia melepaskan kacamata hitamnya yang merupakan seorang Uchiha Sasuke, "Ternyata Anda, Uchiha-san, ada keperluan apa?"

Sasuke hanya menatap Naruto dengan serius, "Aku tidak tahu secara pasti, tapi yang aku tahu hanyalah, ayahku ingin mendapatkan informasi darimu." Ucap Sasuke pada Naruto.

Naruto yang sama sekali tidak mengetahui niat dari Sasuke pun hanya menatap Sasuke dengan wajah bingung. Tapi, berhubung karena Sasuke merupakan salah satu anggota perkumpulan Uchiha yang selalu serius dalam menjalankan setiap tugasnya, akhirnya Naruto sama sekali tidak curiga padanya, dan menerima permintaan yang diajukan padanya.

"Baik, Uchiha-san. Aku akan ikut denganmu, tapi izinkan aku untuk mengganti bajuku terlebih dahulu." Ucap Naruto pada Sasuke yang hanya dibalas anggukan oleh Sasuke.

Tidak lama kemudian Naruto keluar dari ruangan apartemennya menggunakan kaus lengan panjang berwarna hitam dengan celana panjang miliknya, dan kembali bertemu dengan Sasuke yang sudah siap di depan apartemen Naruto.

"Ayo berangkat." Ucap Sasuke singkat.

"Baik."

Mereka berdua pun akhirnya berjalan menuju limosin yang sudah diparkirkan dipinggir jalan dengan 2 orang anggota perkumpulan Uchiha yang menjaga kendaraan milik Sasuke.

"Semua sudah siap, ayo kembali ke tempat pertemuan." Ucap Sasuke pada kedua orang itu yang hanya dibalas dengan anggukan. Mereka ber – 4 itu akhirnya memasuki mobil Sasuke satu per satu dan memulai perjalanannya menuju lokasi perkumpulan Uchiha.

.

Skip Time

.

"Naruto, silahkan turun. Kita sudah sampai." Ucap Sasuke pada Naruto yang sedari tadi hanya berdiam diri dan melihat keluar jendela.

Naruto melihat ke arah Sasuke sejenak, dan membuka pintu limosin itu, "Baiklah, Uchiha-san."

Setelah mereka turun dari limosin itu, Sasuke dan bersama dengan anggota lainnya berjalan menuju tempat pertemuan perkumpulan Uchiha. Sedangkan Naruto hanya mengikuti mereka dari belakang dengan tatapan kosong karena sama sekali tidak mengerti tentang informasi apa yang mereka maksud.

Saat mereka memasuki ruangan pertemuan itu, sudah terdapat banyak anggota Uchiha yang berkumpul dan duduk di kursi mereka masing – masing. Tidak lupa, di ruangan tersebut tersedia kursi kosong yang hanya dikhususkan untuk tamu yang mereka undang, Naruto.

Itachi kemudian menghampiri Naruto dengan mengarahkan tangannya pada kursi yang kosong, bermaksud memberikan isyarat pada Naruto untuk duduk di kursi itu, "Akhirnya kalian sampai. Senang bertemu denganmu anak muda, silahkan duduk di kursi itu."

Naruto hanya menganggukan kepalanya dan duduk di kursi itu dengan tenang. Setelah itu, akhirnya pemimpin perkumpulan Uchiha memasuki ruangan itu dan langsung menghampiri Naruto dengan tatapan serius.

"Perkenalkan. Aku adalah pemimpin perkumpulan Uchiha. Uchiha Fugaku." Ucap Fugaku yang merupakan pemimpin perkumpulan Uchiha pada Naruto dengan datar, tanpa mengulurkan tangannya, seakan – akan perkenalan itu seperti sebuah keterpaksaan.

Namun, Naruto sama sekali tidak menghiraukan hal itu, dia hanya memperkenalkan dirinya seperti yang biasa dilakukan, "Senang bertemu dengan Anda, Uchiha-san. Namaku Naruto."

Fugaku kemudian mengambil salah satu kursi yang kosong dan duduk di depan hadapan Naruto, sehingga posisi mereka saat ini saling berhadapan, "Apa kau sudah mengetahui secara pasti alasan kenapa aku mengundangmu kesini?, tanya Fugaku.

Naruto hanya menggelengkan kepalanya.

"Ini mengenai peristiwa yang kau atasi beberapa hari yang lalu."

Naruto sedikit terkejut setelah mendengar ucapan Fugaku yang mendadak itu, karena dia sama sekali tidak pernah mengira kalau Fugaku dan anggota Uchiha yang lainnya dengan cepat mengetahui kalau orang yang terlibat dalam kejadian yang dialami oleh keluarga Haruno dan Yamanaka adalah dirinya.

Sejenak, Naruto sempat berfikir untuk bersikap sama sekali tidak mengetahui mengenai peristiwa itu, namun di dalam benaknya, Naruto juga berfikir bahwa berbohong kepada perkumpulan Uchiha hanya akan sia – sia, apalagi hal itu berkaitan dengan kriminalitas yang dapat membahayakan keamanan Konoha.

Naruto meletakkan kedua tangannya di atas meja dan menatap Fugaku dengan tenang, "Apa yang ingin Anda ketahui tentang kejadian itu?"

"Aku tahu kami melakukan ini dengan sangat mendadak, tapi, semakin cepat kami mengetahui informasi darimu, maka semakin cepat juga kami akan berusaha untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi." Ucap Fugaku.

"..."

Fugaku kemudian mengambil kertas dokumen miliknya yang terdapat gambar seseorang dengan jaket hitam dan dalam keadaan tidak sadarkan diri, "Kau yang menghentikan orang ini, bukan?" Ucap Fugaku sambil memperlihatkan gambar tersebut pada Naruto.

Naruto hanya menatap foto itu dengan datar. Dia ingat kalau orang yang di dalam foto tersebut adalah orang yang akan mencelakai keluarga Haruno dan Yamanaka beberapa hari yang lalu, "Anda benar." Jawab Naruto singkat.

Fugaku kembali mengambil kertas itu dan memasukannya ke dalam plastik yang bertuliskan 'BUKTI'.

"Apa ada pertanyaan lain yang ingin Anda tanyakan?" Tanya Naruto pada Fugaku.

"Ya. Seperti yang kau lihat di dalam foto itu, hanya terdapat 1 orang. Foto itu diambil saat Inoichi melaporkan kalau ada seseorang yang berniat untuk membunuh mereka jika tidak memberitahu hasil pertemuan. Yang aku ingin tanyakan adalah, saat keluarga Yamanaka dan Haruno dihadang oleh orang itu, apa kau melihat adanya orang lain yang melihat kejadian ini?"

Naruto berfikir sejenak, "Kurasa tidak ada. Saat itu jalanan sedang sepi, dan juga, kejadian itu terjadi tepat pada tengah malam. Jadi, kurasa tidak ada orang lain yang melihatnya."

"Apa kau yakin?" Naruto hanya menganggukan kepalanya.

"Apakah ada orang lain yang menghadang kedua keluarga itu selain orang yang ada di dalam foto?"

"Tidak, hanya orang itu yang kulihat." Jawab Naruto singkat.

Fugaku yang merasa sudah cukup memperoleh informasi hanya menghembuskan nafasnya, "Baiklah, kurasa hanya itu saja yang ingin kami ketahui. Terima kasih atas kerjasamanya.", Fugaku kemudian berniat untuk meninggalkan bangkunya.

"Tunggu. Sebelum aku meninggalkan ruangan ini, apa aku boleh menanyakan sesuatu pada Anda, Uchiha-san?" Tanya Naruto pada Fugaku yang mendadak berhenti meninggalkan tempat duduknya.

"Silahkan."

"Sebelumnya, saat aku belum membuat orang itu pingsan, di jaket orang tersebut terdapat lambang kambing hitam. Aku ingin mengetahui apa maksud dari lambang itu?, apakah lambang itu merupakan sebuah lambang organisasi?, dan juga, apa hubungannya orang itu dengan Konoha? Kenapa dia ingin mengetahui hasil dari pertemuan kalian?" Tanya Naruto panjang lebar pada Fugaku.

Fugaku hanya sedikit terkejut dengan pertanyaan yang diajukan oleh Naruto, "Pertama, aku tidak tahu secara pasti arti dari lambang itu, tapi yang kutahu adalah, lambang itu adalah lambang organisasi. Hubungan organisasi itu dengan Konoha, sebenarnya itu hal yang bersifat rahasia. Hanya anggota keluarga perkumpulan yang boleh mengetahuinya, aku harap kau tidak tersinggung atau kecewa. Dan yang terakhir, aku sama sekali tidak mengetahui alasan orang itu ingin mengetahui hasil pertemuan kami." Jelas Fugaku.

Setelah mendengar jawaban dari Fugaku, Naruto akhirnya sedikit paham karena telah mendapat beberapa informasi yang cukup berguna, "Ternyata begitu. Baiklah, terima kasih atas informasinya, Uchiha-san. Aku rasa, hanya itu hal yang ingin aku ketahui. Kalau begitu, aku permisi Uchiha-san." Ucap Naruto sambil membungkukkan badannya, kemudian meninggalkan ruang pertemuan itu.

Fugaku hanya menganggukan kepalanya dan hanya menatap kepergian Naruto dengan tatapan menyesal, "Hanya anggota keluarga perkumpulan yang boleh mengetahuinya?".

Fugaku memejamkan matanya dan menghembuskan nafasnya, "Sebenarnya kau adalah salah satu anggota keluarga perkumpulan yang terpenting di Konoha. Hanya saja, sekarang belum saatnya bagimu untuk mengetahuinya."

Fugaku kemudian berjalan menuju ke ruangan pribadinya dan mengambil kertas dokumen rahasia miliknya. Di dalam kertas tersebut terdapat nama salah satu orang yang merupakan anggota perkumpulan yang sangat berperan penting di Konoha.

Namun sayangnya, perkumpulan tersebut sudah hilang seperti di telan bumi. Tidak ada yang mengetahui kemana sebenarnya perkumpulan tersebut, sehingga yang hanya diketahui oleh penduduk Konoha adalah, perkumpulan yang terdiri dari gabungan 2 keluarga yang berbeda itu tidak lagi bekerja sama dengan Konoha. Dan yang mereka ketahui adalah, hanya terdapat 4 perkumpulan yang berperan di Konoha. Tapi sebenarnya adalah, terdapat 1 perkumpulan lagi yang terdiri dari 2 keluarga yang berbeda.

"Sekarang aku tahu kenapa kau melakukan ini Minato." Batin Fugaku sambil melihat identitas orang yang terdapat di kertas dokumen rahasia miliknya.

"Kau melakukan ini untuk melindungi anakmu. Kau memang orang yang hebat. Tapi, tetap saja, aku mengetahui siapa remaja itu sebenarnya. Walaupun hal ini membutuhkan waktu yang cukup lama bagiku untuk mengumpulkan bukti. Kau memang merepotkan."

"Tapi, kau tenang saja. Identitas asli anakmu aman bersamaku. Saat ini, hanya aku yang mengetahuinya. Aku tidak akan memberitahu yang lain soal ini. Aku akan menunggu waktu yang tepat. Tapi, sebelum itu terjadi, aku harap kau cepat kembali. Aku tahu kau meninggalkan anakmu di Konoha sendirian agar dia bisa mandiri, tapi, setidaknya kembalilah ke Konoha walaupun sebentar."

Fugaku kemudian melihat kembali kertas yang dipegang olehnya,

. . . . . . . . . . . . .

[Perkumpulan Komunitas UzuKaze]

Nama : Uzumaki Naruto.

Jenis Kelamin : Laki – laki.

Umur : Sekitar 16-17 tahun.

Anak dari : Namikaze Minato – Uzumaki Kushina.

Berasal dari keluarga : Namikaze – Uzumaki.

. . . . . . . . . . . . .

"Yahh... walaupun bukti yang aku kumpulkan ini belum seberapa, tapi, tetap saja dokumen ini sangat rahasia." Ucap Fugaku sambil menyimpan kembali dokumen tersebut ke dalam sebuah koper miliknya dan menguncinya.

.

.

.

Naruto Place.

Dalam perjalanan menuju apartemennya, Naruto masih memikirkan semua informasi yang diperoleh sebelumnya. Tapi tetap saja, hasilnya nihil. Dia membutuhkan lebih banyak informasi untuk mencapai satu – satunya tujuannya, yaitu mengungkap kebenaran.

"Aku membutuhkan informasi yang lebih rinci." Batin Naruto sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana miliknya. Merasa sama sekali tidak memiliki inspirasi, Naruto menghembuskan nafasnya dan memikirkan hal yang lain. Namun, entah kenapa dirinya kembali teringat pada ucapannya di kediaman Haruno.

"Mereka sedang pergi, untuk sementara waktu, mereka tidak akan kembali."

Naruto hanya menundukkan kepalanya, "Untuk sementara waktu, ya?".

"Heh aku benar – benar payah. Maafkan aku Tou-chan, Kaa-san. Aku terpaksa berbohong." Batin Naruto dengan perasaan sedih yang tiba – tiba menyelimuti dirinya.

Bermaksud menolak perasaan sedih itu, Naruto hanya menggelengkan kepalanya dan menghirup udara segar dengan sangat dalam, "Hahh. Lebih baik aku bergegas kembali ke apartemen. Lagipula, hari sudah malam, dan tubuhku sudah sangat lelah."

Dalam perjalanannya, Naruto sesekali tersenyum dan menatap langit, "Aku ingin bertemu dengan kalian lagi, walaupun hanya di dalam mimpi".

.

.

.

To Be Continue

Author's Note.

Puji dan Syukur saya ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan karunia-Nya, saya bisa menulis Fanfic ini.

Saya juga mengucapkan banyak terima kasih kepada para pembaca atau reader yang telah mau membaca, me-review, dan memberi kritik dan sarannya. Saya benar-benar berterima kasih atas kritik dan saran yang telah diberikan, dan saya sangat menghargainya. Saya juga mengucapkan GOMENNASAI yang sebesar – besarnya kepada semua pembaca, baik kepada pembaca yang kecewa terhadap fanfic ini maupun yang kecewa karena kinerja author yang SANGAT LAMBAT. Saya benar – benar minta maaf kepada semua pembaca, saya harap setelah bagi raport nanti, saya bisa menyelesaikan fanfic ini secepatnya. Sekali lagi, author benar – benar minta maaf sebesar – besarnya karena fanfic yang penuh dengan kekurangan dan update yang sangat lambat. Saya benar – benar mohon maaf.

Kepada para pembaca yang merasa fanfic ini memiliki kesalahan, saya mohon review, saran dan kritikannya, agar saya bisa memperbaiki kesalahan saya di chapter selanjutnya. Dan juga, soal perpanjangan word, saya hanya bisa mengusahakan wordnya sekitar 4.000 – 5.000 word saja.

Kali ini, perannya cenderung kepada Uchiha dulu. Sedangkan pada keluarga yang lainnya, seperti Haruno, mungkin akan tersedia pada chapter selanjutnya (mungkin juga awal pendekatan dari Naruto dan Sakura).

Mungkin hanya itu saja yang ingin saya sampaikan, saya mohon maaf atas keterlambatan dan kesalahannya. Jika terdapat kesalahan, mohon kritikan, saran, dan review dari para pembaca.

Sekian dari saya.

Terima Kasih sudah Membaca.

GignZ