Title: Sun Burns Down Ch. 7 – The First Maniac She Met

Characters: Ichigo Kurosaki, Rukia Kuchiki, Renji Abarai, Tatsuki Arisawa, dan akan bertambah seiring waktu.

Warnings: Typos, OOC, OC, Violence

Note: We don't have super powers like they do. Credits to 'abang' Tite Kubo. The title credit is going to Akanishi Jin's Sun Burns down. I just have the plots and 'cera', an acer who accompany me to type this. Thanks for my forever love BlackWind1001!

.

.

.

Memang membutuhkan waktu, tapi pada akhirnya Renji melonggarkan sedikit perlakuannya pada Rukia. Rukia tidak lagi dilarang keluar seperti sepupu yang memalukan bagi keluarga atau anak kecil yang hanya boleh keluar apabila ditemani orang dewasa. Bahkan terkadang Renji memberinya tugas yang tidak terlalu berat yang tidak akan membuat Rukia pergi terlalu jauh, ia hanya diberi tugas simpel seperti menyuruhnya pergi ke supermarket di ujung jalan. Tapi tetap saja bagi Rukia itu sesuatu yang besar.

Dia merasa lebih mandiri dengan berjalan di luar atau menyusuri lorong dan mengambil apa saja makanan yang ia inginkan beserta barang-barang yang harus dibelinya di daftar yang Renji beri hanya sendirian. Sekarang ia tahu, kebebasan adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa ia hargai jika dia belum pernah merasakannya, dan rasanya selalu menyenangkan untuk memperhatikan orang-orang berperilaku di dunia ini. Kelakuan dan hubungan mereka masih merupakan sesuatu yang baru baginya, tapi Ichigo maupun Renji tidak bisa menggambarkan dengan jelas apa arti kata tersebut kepadanya. Rukia hanya bisa mengangguk seperti dia mengerti walaupun sebenarnya penjelasan itu masih agak sulit untuk dipahami. Ia menyimpulkan persahabatan adalah sesuatu yang hanya bisa dimengerti bila dialami, dan ia menyimpulkannya dari cara Renji dan Ichigo berperilaku satu sama lain dan perlakuan mereka tehadap dirinya – cara bercanda mereka yang kasar tetapi masih peduli dengan perasaan yang lain. Perlakuan yang hampir sama dengan apa yang ia terima dari Tatsuki-sensei atau Ukitake-sensei di laboratorium dulu (oke, memang tidak begitu banyak bercanda), meskipun Rukia tidak pernah ingat pernah membalas perlakuan mereka.

Hanya ada sedikit pesanan barang di daftar Renji hari ini – termasuk aspirin yang Renji belikan untuk Ichigo. Ichigo sembuh dengan cepat, namun ia masih sesekali mengeluh akan lengan kanannya yang masih terasa sakit, terutama ketika ia tidak sengaja bersandar di atasnya.

Rukia sudah berada di luar lab selama beberapa minggu sekarang, tapi selain suara sirene yang memecah keheningan malam atau perampokan di toko yang kebetulan ia sedang berada di sana, Rukia belum pernah melihat kekacauan gila yang ia dengar dari Renji atau laporan orang-orang di berita televisi. Namun selalu ada kata 'pertama kali' untuk segala hal.

Dia berjalan di trotoar, kembali menuju apartemen Renji dengan sebuah kantong plastik yang berayun di tangannya, sambil berjalan ia memperhatikan keadaan sekitar – terutama pada sepasang kekasih yang berdiri sambil merangkul satu sama lain di seberang jalan, menanti lampu merah berganti warna. Perhatian Rukia entah kenapa selalu tertarik ke pemandangan seperti ini, sampai Renji mengatakan dirinya agak menyeramkan ketika ia mempelajari sepasang kekasih yang berciuman di pojok café kemarin. Ia belum pernah mempunyai pasangan seperti itu, membuatnya tidak terlalu mengerti karena ia tidak punya pembandingan. Pemandangan itu terlihat indah dan sejujurnya membuatnya sedikit iri.

Tapi langkah dan pikirannya berhenti ketika raut wajah wanita itu berubah penuh ketakutan, Wanita itu mencoba untuk segera pergi dari tempat itu sambil menarik lelaki yang bersamanya. Sayangnya ia tersandung dan tertabrak mobil yang melintas, lelaki yang bersamanya tercengang ditempat memegangi tangannya yang juga terserempet mobil. Rukia tidak mengerti apa yang menyebabkan perubahan reaksi itu pada awalnya, matanya terpaku pada tubuh wanita yang berdarah dan lelaki yang berusaha mendekatinya dengan agak terseok. Lelaki itu menangis dan jeritan mulai banyak terdengar. Dari sudut matanya ia bisa melihat percikan yang menjalar di kabel lampu merah dan warna merah, kuning, hijau berubah menjadi hitam dalam sekejap.

Satu-satunya hal yang dapat mengalihkan perhatiannya dari darah yang mewarnai jalan di dekat tempatnya berdiri adalah suara keras antara besi yang saling bertumbuk, setidaknya ada empat mobil yang betabrakan di tengah-tengah perempatan jalan. Pada saat itulah, Rukia melihat apa yang menjadi alasan dari kejadian ini: seorang wanita, berkulit pucat dengan postur tubuh kecil dan sama sekali tidak membahayakan kalau bukan karena lintasan kilat yang tampaknya berasal dari tangannya, petir yang mengagetkan bergerumul di antara jarinya. Dia belum pernah melihat hal seperti itu sebelumnya, dan dia tidak bisa berhenti menatap wanita itu sampai seseorang mendorongnya jatuh ke trotoar karena dirinya menghalangi jalan.

Wanita pucat itu menarik seorang pejalan kaki yang ketakutan, meneriakkan omong kosong tentang keberadaan bayinya dan Rukia mulai mendapatkan perasan itu lagi, perasaan tidak enak di stasiun ketika segerombolan remaja mencoba untuk merampoknya. Rukia berkonsentrasi keras pada wanita itu, seperti apa yang selalu dilatihnya di lab. Dia tidak bisa memastikan apakah ini jenis situasi yang dimaksudkan Tatsuki-sensei untuk menggunakan kemampuannya, tapi ia tidak berada di lab itu lagi dan inilah keputusan yang dibuatnya sekarang.

Jika ia berada di lab itu sekarang, ia pasti sudah tersenyum bangga akan keberhasilannya ketika api mulai membakar gaun wanita pucat itu, tapi entah mengapa, sekarang dia tidak bisa tersenyum, seluruh tubuhnya gemetar bahkan setelah wanita itu berteriak panik memukul-mukul gaunnya mencoba mematikan api ditubuhnya dan lari membabi buta sampai ia menabrak bagian depan toko terlantar.

Kekacauan masih terjadi di ujung jalan, orang-orang panik dan berlari kesana kemari. Rukia mencoba berdiri, meraih tas plastiknya dan melihat ke sekeliling untuk terakhir kalinya sebelum bergegas kembali ke apartemen. Walaupun suara itu lebih pelan dibandingkan suara di sekitarnya, suara paling keras yang didengarnya adalah suara lelaki itu, berlutut di tengah jalan dan memeluk tubuh seorang wanita cantik, memohon dan menangis dengan darah yang mulai melumuri celananya.

Bayangan itu menghantui Rukia sepanjang perjalanan pulang.

.

.

Kakinya nyaris tidak ingin bergerak lagi, kelelahan dari mengintai targetnya yang selanjutnya. Renji hampir nyaris memaksanya untuk beristirahat sementara waktu setelah apa yang terjadi dengan Szayel, ia juga tak lupa mengatakan ia akan memikirkan langkah selanjutnya. Ichigo tahu benar dari cara Renji menasehatinya bahwa Renji menginginkan dirinya untuk berhenti tanpa harus benar-benar mengatakan kata 'berhentilah'padanya. Tapi dirinya tidak bisa berhenti. Renjilah orang yang pada awalnya membuat dirinya memulai hal ini dan Renji pula yang masih memberikannya pekerjaan untuk membuat dirinya tidak 'tersesat' lagi. Mungkin itu karena rasa bersalah pada dirinya, tetapi rasa bersalah itu juga sesuatu yang sudah lama dikubur dalam-dalam dalam benaknya oleh Ichigo.

Pintu lift tebuka di lantai apartemennya dan dengan segera dia melangkah ke koridor, tapi dia berhenti sebelum dia benar-benar sampai di depan pintu apartemennya, sesosok tubuh kecil duduk di lantai dengan meringkuk ke dinding. Butuh beberapa saat baginya sebelum menyadari hanya ada satu orang yang akan melakukan itu di sini. "Rukia?"

Orang itu mengangkat kepalanya. "Ichigo." Ucapnya sambil berusaha berdiri. Dia tampak gemetar, mata ungunya terlihat mendung. "Boleh aku berada di tempatmu untuk sebentar?" Suaranya terdengar agak serak.

Ichigo mengangguk, memutar gagang pintunya dan memimpin Rukia masuk kedalam, salah satu tangannya menepuk pundaknya lembut. "Apa kau mau minum?" Rukia menggeleng, duduk di pinggir tempat tidur Ichigo. "Apa kau bertengkar dengan Renji atau masalah lain dengannya?"

Sekali lagi, Rukia menggeleng. "Aku belum pulang."

"Belum?" Ulang Ichigo, melupakan minum yang diambilnya untuk dirinya sendiri dan duduk di sebelah Rukia. "Rukia, Apa yang terjadi?"

"Aku melihat orang-orang itu." Ucapnya pelan. "Orang-orang dengan… listrik."

Jawaban Rukia menjelaskan banyak hal tentang keadaanya sekarang, Ichigo memberinya tatapan simpatik, mengusap punggungnya dengan lembut. "Kau tidak terluka, kan?"

"Tidak." Rukia menyandarkan kepalanya di bahu Ichigo, menyebabkan Ichigo menelan ludah dengan gugup karena jarak yang terlalu dekat. "Aku melihat seorang wanita… mati." Ia menatap kosong ke depan seperti dia masih mengingatnya. "Ada banyak darah. Dan lelaki yang bersama wanita itu kelihatan benar-benar marah sekaligus bingung."

"Jadi itu yang terjadi." Ichigo melingkarkan tangannya di pundak Rukia, mencoba membuatnya merasa nyaman sebisa mungkin. "Semua orang akan sedih ketika seseorang yang mereka sayangi meninggal."

"Apa ada orang yang Ichigo sayangi meninggal?"

Dia harap Rukia menyimpan pertanyaan itu untuk dirinya sendiri, atau setidaknya bertanya pada Renji. Bukan padanya. Ichigo tidak perlu mengingat hal-hal yang sudah dikuburnya di bagian paling belakang pikirannya. "Ya." Adalah satu-satunya kata yang ia bisa ucapkan.

"Kalau aku mati, apakah Ichigo akan sedih juga?" Rukia mengangkat kepalanya dari bahu Ichigo, pandangan mata mereka bertemu.

Ia merasakan sesuatu yang aneh akan pertanyaan yang agak mengerikan itu, tapi bibirnya mengucapkan kata-kata itu tanpa disadarinya. "Tentu saja aku akan sedih." Pandangan Rukia melembut. "Kau seharusnya tidak memikirkan hal seperti itu."

"Baiklah." Gumam Rukia sebelum menjauhkan dirinya sedikit dari Ichigo. "Ichigo, kalau boleh, bolehkah aku," Dia menepuk pelan matras tempat tidur. "tidur siang sebentar?"

Biasanya, dia akan mempertanyakan mengapa Rukia merasa lelah padahal dia tidak melakukan banyak hal, tetapi karena hari ini ceritanya lain dan jika Rukia membutuhkan istirahat sebentar, Ichigo tidak bisa mengatakan 'tidak'. Dia mengangguk dan Rukia meringkuk dengan nyaman di atas tempat tidur Ichigo. Ini sesuatu yang dirindukannya sejak Rukia mulai tinggal dengan Renji – bagaimana ia kelihatan begitu nyaman ketika tidur, seperti anak kecil. Ichigo berpikir seharusnya ada sebuah kelinci putih empuk di sebelahnya.

Setelah suara napas Rukia stabil, Ichigo melangkah pelan mendekati sebuah laci di dapur yang jarang ia buka. Selama ini dia melupakannya, benda itu berada di sana sampai sesuatu terjadi dan hanya membukanya untuk mengingatkannya akan keberadaannya. Ia menarik laci itu. Terdapat sebuah foto terbingkai yang diletakkan terbalik di dalamnya. Dia ragu untuk mengambilnya, tapi pada akhirnya ia melakukannya, memegangnya dengan kedua tangan dan keluarganya balas menatapnya dari potret yang diambil karena ayahnya sangat menginginkan mereka foto bersama. Ya, Ichigo tahu dengan benar seperti apa perasaannya ketika kehilangan orang-orang yang disayangi.

Dengan segera ia meletakkan foto itu kembali ke dalam laci sebelum dia mulai berpikir terlalu banyak tentang mengapa mereka tidak di sini lagi sekarang. Sejak mereka meninggal – atau lebih tepatnya, sejak ia terbangun di ruangan darurat di bagian belakang bus Renji – dia tidak memiliki siapapun yang dipedulikannya (Renji menjadi pengecualian tentu saja).

Tapi kemudian Rukia muncul, 'tersandung' ke dalam hidupnya hanya karena Ichigo adalah orang yang terdekat dan paling dimengerti oleh Renji. Rasanya seperti pekerjaan yang sangat tidak enak pada awalnya – ketika ia masih takut dengan apa yang Rukia dapat lakukan – tapi sekarang, dengan jujur ia bisa mengatakan, dia tidak bisa membayangkan hal-hal yang telah terjadi tanpa keberadaan Rukia di sekitarnya. Sebanyak rasa suka sebagai teman dan ketergantungan dirinya pada Renji, Rukia; hanya dengan berada di ruangan yang sama dengannya saja, walaupun Rukia sedang merasa sedih atau tertidur dapat membuatnya merasa seperti seseorang yang 'normal' lagi. Setidaknya itu apa yang dirasakannya.

Ichigo duduk di pinggir tempat tidur, berhati-hati agar ia tidak mengganggu gadis yang telah tertidur. Dia menyingkirkan beberapa helai rambut dari wajah Rukia sebelum mendekatinya. Walaupun dia sekarang tertidur, Ichigo berharap dirinya bisa mengatakan hal yang mengganggu pikirannya, tapi tidak ada satupun yang dapat diucapkannya. Pikiran itu seperti lenyap terbawa angin dan tidak menyisakan apapun kecuali ciuman lembut yang diberikannya di sudut bibir Rukia. Dia kira dirinya akan merasa sedikit malu karena melakukannya, tapi kenyataannya dia tidak, bahkan ketika ia mulai bertanya-tanya bagaimana bibir Rukia terasa.

Rukia selalu tampak cocok berada di apartemen ini, seperti dia adalah bagian alami dari tempat itu. Rukia juga sebuah bagian yang tidak tergantikan dan terus berkembang dalam kehidupan Ichigo.

.

.

To Be Continued

.

.

Author's Tea Time!

Mariko Tomochin graduate. Mau nangis rasanya (chap ini selesai di minggu tomochin bakal graduate). Terus akun twitter mariko di delete ;_;

Setelah saya nangis abis-abis-tewas waktu nonton DVD 1830 m Tokyo Dome 3rd day my favorite girl's graduate ceremony (Atsuko Maeda), saya rasa saya akan nangis lagi. Walaupun Cuma abis-abisan. Mereka berdua irreversible. Saya sedih mariko-sama bakal brenti karir nyanyi… saya suka banget suara mariko dayo pas lagi solo part… ;-;

Saya hanyalah seorang newbie yang masih belajar, maukah kalian kasih review untuk membantu saya 'menyempurnakan' EYD atau entah apa aja untuk tulisan saya yang akan datang? XD

Terimakasih uda mau baca! :D