THAT BOSS
MainCast: Luhan, Sehun, Kris, Exo
Pairing: Hunhan and Others
Rated: T++
Warning: typo bertebaran
Boyslove, yaoi, DLDR
enjoy
.
.
Chapter 7
"YAK! KALIAN MAU MENUNGGU SAMPAI AKU MEMASUKINYA?" raung Sehun kesal. Hyungdeul yang yang dari tadi membisu, akhirnya kelabakan sendiri. "mi-mianhe. Kami.. pergi dulu." Kata Kyungsoo lalu membalikkan badannya. Diikuti para member lain yang saling bertubrukan.
Sehun mendesah frustasi. Kenapa disaat ia ingin berduan dengan luhan PASTI hyungnya mengganggu.
"Sehun.. sebaiknya.. aku pergi dulu" Celetuk Luhan takut takut. Wajahnya memerah menahan malu. Sehun mengangguk setuju. Si pria bermata rusa itu tersenyum manis lalu melangkahkan kakinya pergi. Baru beberapa langkah, Sehun sudah memanggilnya lagi. Luhan tersenyum, apakah Sehun ingin mengecup keningnya sebelum mereka berpisah seperti dulu?
Pria itu diam beberapa detik, menahan senyumannya lalu membalikan badan. "ya?" Tanya nya berlagak polos. Sehun menghampirinya dengan smirk terbingkai di wajah. "pasti dia mau menciumku lagi" batin Luhan, ia mati matian menahan bibirnya agar tak tertarik membentuk senyuman.
"Lu…" kata Sehun saat si albino sudah berdiri di dekatnya. Sehun membungkukan badannya sedikit, membisikkan sesuatu pada Luhan. Jantung Luhan berdegup kencang. Apa Sehun akan mencumbunya lagi?
"kau…." "ya? Apa?! Aku tampan? Sexy? Kau menginginkanku lagi?" batin Luhan.
"kau… lupa memakai bajumu."
Hening sebentar. Luhan memandang ketubuhnya perlahan.
Benar juga. ia masih telanjang tanpa sehelai benang apapun. "cepat pakai bajumu. Atau aku tusuk hole mu dengan penisku sekarang" bisik Sehun, kemudian menarik kembali wajahnya sambil tersenyum jahil. Luhan menelan ludahnya susah payah.
"A-AKU MAU MANDI LAGI!" elaknya. "begitukah? Kalau begitu ayo kita mandi bersama!" mata Luhan terbelalak ngeri. Tidak. Dia tidak bisa mandi bersama Sehun sekarang. Ia harus menyelamatkan bokongnya.
"tidak jadi! Aku mau mandi dirumahku saja!" damprat Luhan. Pria itu segera mengenakan pakaiannya dengan tergesa gesa sementara Sehun yang berdiri tak jauh di depan Luhan, memperhatikan pria itu sambil tersenyum geli.
"aku pergi!" kata Luhan jutek sambil membalikan badannya, bersiap untuk pergi. Belum sempat melangkah, Sehun menahan lengan Luhan. "apa lagi?!"
CHU~ sebuah kecupan mendarat di bibir Luhan. Luhan mengerjap ngerjapkan matanya lucu. "sampai bertemu lagi, Chagi. Jangan cemburu lagi ne?" kata Sehun lembut. "kau benar benar mengerikan saat cemburu" lanjutnya bersungguh sungguh sambil memandang Luhan horror. Sehun tidak bercanda. Luhan yang sedang cemburu, sangat mengerikan.
"biar saja!" Sembur si Pria lebih pendek lalu pergi dan menghilang dibalik pintu meninggalkan Sehun yang terkekeh. Luhan benar benar membuatnya jatuh hati. Terus menerus.
.
.
Kyungsoo berjalan masih dengan matanya yang terbelalak. Kai sampai takut mata kekasihnya akan menggelinding keluar. Sementara Baekhyun menggeleng gelengkan kepalanya, tak percaya ia harus melihat kejadian menjijikan itu lagi. Lalu Chanyeol.. raut wajahnya masih panik dengan mata yang semakin membulat dan mulut yang sedikit terbuka. Pria paling tinggi itu sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, banyak pertanyaan berkecamuk di benaknya saat melihat dongsaeng nya tadi "ti-tidak mungkin" batin pria itu ngeri.
"Baekkie?" bisik Chanyeol pada Baekhyun yang sedang melangkah cepat cepat di sampingnya. Tak ada sautan. Mungkin pria bermata sipit itu masih shock dengan kejadian tadi?
"pu-punyaku.. masih lebih besar dari punya Sehun kan? iya kan?! penisnya tak sebesar punyaku kan Baek?" tanya Chanyeol dengan nada sedikit memohon, mencoba meyakinkan dirinya bahwa si maknae tidak mengalahkan ukuran penis kebanggannya. Mendengar pertanyaan Chanyeol, Baekhyun tersentak, ia menoleh ke semenya itu, matanya menyipit sambil menggeleng tak percaya. Bisa bisanya Chanyeol bertanya seperti itu. mana sempat Baekhyun lihat!
Si uke mendengus lalu mempercepat langkahnya, meninggalkan Chanyeol yang kebingungan dibelakang.
.
.
Akhirnya EXO pun sampai di dorm mereka, setelah mandi, para member berkumpul untuk makan malam. Entah kenapa, suasana di meja makan itu sangat berbeda. Baekhyun dan Chanyeol tidak berisik, Kai menghindari tatapan Sehun dan Kyungsoo juga tidak mengeluarkan aura menyeramkan seperti biasanya. Apakah… mereka sudah berbaikan? Tidak mungkin. Kiamat pasti sudah dekat jika Kyungsoo dan Baekhyun berbaikan.
Namun, akhirnya aura menyeramkan terasa juga. bukan nya dari Kyungsoo melainkan dari orang yang dari tadi diam dengan tatapan tajam… Oh Sehun. Tidak seperti biasanya maknae mereka begini. Sehun boleh saja bertingkah dingin dan minim expresi di depan kamera. Tapi tidak di dorm. Saat mereka bersama tanpa sorotan kamera Sehun akan bersikap manja. Dan sekarang, si albino itu jauh dari kata manja.
Chen memperhatikan satu persatu para member. alisnya bertautan kebingungan.
"ada apa dengan kalian?" Tanya Chen dengan suara nyaringnya sambil mengunyah.
"ah ti-tidak"
"iya, tidak apa apa"
"semuanya baik baik saja"
"iya benar! Sangat baik baik saja"
Jawab Chanyeol, Baekhyun, Kai, Kyungsoo saling bersahutan. Chen menyipitkan matanya. Jawaban mereka malah semakin menjelaskan kalau ada sesuatu hal yang tidak "baik-baik saja"
Chen memandang keempatnya lalu ke Sehun bergantian beberapa kali. Ia diam sebentar. Tiba tiba si muka kotak itu tau penyebab aura mengerikan dari Sehun ini. "ASTAGAAAAAA!" seru Chen sambil tersenyum lebar. Para member memperhatikannya.
Dan troll itu tertawa tawa sendiri "kau kenapa Chen? Akhir akhir ini kau sering tertawa, aku mencemaskan kesehatanmu" kata Lay khawatir. Mungkin lebih tepatnya kesehatan mental Chen? Ya. Para member juga mencemaskan kesehatan mental Chen dari awal mereka bertemu.
"Tingkah kalian yang aneh ini dengan Sehun yang berubah pendiam, sepertinya aku tau apa yang terjadi" katanya penuh penekanan. Chanbaek Kaisoo membatu.
"ada apa memangnya?"
"KALIAN PASTI MEMERGOKI SEHUN LAGI! BENARKAN?!"
"ti-tidak! Bukan begitu!" "iya. Mana mungkin!" "ka-kau aneh aneh saja" "tidak ada apa apa. Benarkan Hun?" Tanya Kai mencoba kerjasama dengan teman sebaya nya itu. Sehun hanya diam. Ia menyeruput minumnya lagi.
"aku sudah selesai. Aku kembali ke kamar duluan." Kata Sehun dingin sambil bangkit dari bangkunya. Para member lain memperhatikan kepergian Sehun dengan tatapan heran. Setelah yakin bahwa Sehun cukup jauh, Baekhyun buru buru menolehkan pandangannya pada Chen.
"kau tau tidak, dia hampir melakukan 'itu' dengan Luhan-hyung!" bisik Baekhyun pada Chen bersemangat. Seolah ia baru saja memberi tahu berita bahwa Sehun adalah siluman. "tidak mungkin!" balas Chen masih berbisik dengan mata terbelalak. pria itu tak bisa menyembunyikan ekspresi kagetnya. Sayang suara mereka terlalu nyaring untuk disebutkan sebagai bisikan. Akhirnya Suho dan Xiumin mau tak mau juga ikut mendengar.
"betul Chen! Telat sedikit saja pasti… sesuatu akan terjadi!" timpal Chanyeol. sementara Kai menutup kupingnya, tak mau ikut ikutan. Dan Kyungsoo memutuskan melanjutkan makan malamnya. Tak mau bergabung dengan para idiot ini.
.
.
Sehun merebahkan dirinya di ranjang. Ia akan mengatur rencana untuk membunuh hyung hyungnya nanti. Sehun merogoh saku lalu mengambil ponselnya. Mungkin berbicara dengan Luhan akan membuat mood nya lebih baik.
"annyeong Chagi.. kau sedang apa?" belum beberapa lama, pesan LINE nya sudah dibalas oleh Luhan. Sehun mengernyit. Cepat sekali.
"Hai kekasihku yang tampan. Aku sedang duduk memikirkanmu. Kau sendiri sedang apa?"
Kerutan di dahi Sehun semakin dalam. Apa yang baru saja menghantam otak Luhan? Tapi alih alih mempertanyakannya lebih lanjut, Sehun memutuskan untuk tidak perduli.
"aku juga sedang memikirkanmu. Terlebih soal yang tadi. Aku benar benar kesal dengan hyung ku karena telah menganggu kita."
"mengganggu kita?"
"iya. Kalau saja mereka tidak datang, aku pasti sudah memasukimu Lu. Hahaha"
Hening lama sekali. Nyaris saja Sehun memutuskan untuk mengakhiri obrolan dan segera tidur, sampai sebuah notifikasi pesan LINE masuk ke ponselnya.
"Hun kita perlu bertemu."
.
.
Luhan baru saja kembali ke mansionnya malam itu, ia segera duduk di meja makan, menemani Kris yang sedang makan malam sambil memainkan ponselnya.
"dari mana saja kau?" sembur Kris tanpa melepaskan pandangan dari ponsel begitu Luhan mendaratkan bokongnya di bangku. "ada urusan" sahut Luhan sambil mencomot beberapa makanan di meja makan kemudian mengunyah nya.
"begitukah? Urusan apa?" Luhan terdiam. Ia teringat kejadian tadi di kamar mandi dengan Sehun. Buru buru pria itu menelan makanannya dan menoleh dengan kecepatan kilat ke arah Kris.
"Kris! Aku manly kan?" tanya nya penuh keyakinan. Kris melirik kakanya dengan malas, "hey bodoh. Ibu saja menganggapmu cantik, bagaimana bisa kau berpikir kau manly?" katanya sambil menyuap sepotong daging ayam ke mulutnya.
"aku serius!"
"dan apa kau pikir aku terlihat sedang tidak serius." Kris menatap Luhan dengan raut malas. Sang kakak mendengus. Adiknya tidak bisa diajak kompromi.
"memangnya ada apa?" Luhan diam. Sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat menceritakan kejadian dikamar mandi itu. ya. Diantara segala kejadian di kamar mandi bersama Sehun, yang terakhir bukanlah hal mudah untuk dibicarakan dengan Kris.
"sudah lah lupakan saja. aku mau mandi dulu. Kutitip ponselku ya. Nona Chang mungkin akan menghubungi, kalau dia mencariku, kau bilang saja nanti aku hubungi dia lagi. Kubiarkan ponselku tidak ku lock." Kris mengangguk tanpa melihat Luhan. Tak lama setelah Pria itu masuk ke kamarnya, Kris sudah menyelesaikan makan malamnya. Lelaki tinggi itupun memutuskan untuk menunggu dikamar kakaknya.
Sedang asik asiknya tiduran dikasur Luhan sambil bermain game di ponsel milik pria bermata rusa itu, Sebuah notifikasi pesan LINE masuk. Itu dari Sehun. Kris diam sebentar, menimbang nimbang sesuatu. Apa tidak apa apa menjawab pesan Sehun?
"ah, Sehun akan menjadi kakak iparku. Ini tak akan menjadi masalah" batin Kris dan ia pun membalas pesan Sehun tanpa sepengetahuan sang penerima bahwa ia bukan Luhan.
Semua baik baik saja sampai sebuah pesan dari Sehun mengagetkannya hingga terduduk. Mata Kris terbelalak. Beberapa detik kemudian Luhan keluar dari walking closet dikamarnya.
"kau. Benar benar harus menjelaskan sesuatu padaku!" kata Kris penuh penekanan pada Luhan yang sedang menghampirinya sambil mengeringkan rambut. Ia memandang horror kakaknya itu.
"a-apa maksudmu.?"
Kris melemparkan ponsel Luhan ke pemiliknya, dengan sigap pria itu menangkap ponselnya dan mencoba mencari tau apa yang Kris maksud. Matanya melebar begitu membaca pesan LINE yang terpampang di layar ponsel.
"ASTAGA!"
"Yak! Apa yang kau lakukan! Tak sopan membaca pesanku!" damprat Luhan kesal.
"habis kau bilang tidak apa apa" sahut Kris masih memandang Luhan dengan tatapan horrornya. Helaan nafas Luhan dengan kepalanya yang tertunduk menunjukan bahwa spekulasi Kris benar. Adiknya makin membulatkan matanya. Menatap kakanya tak percaya.
"astaga! Kau benar benar melakukan hal itu?! bagaimana rasanya?!" Luhan menjatuhkan dirinya di Kasur.
"nah itu dia Kris. Aku hampir saja melakukannya. Ta-tapi…"
"tapi?"
"tentu saja aku tidak mau! Kan seharusnya aku yang memasukinya!" kata Luhan kekeuh dengan pendiriannya. Dia itu Manly. Dia yang harusnya memasuki. Kris tak percaya dengan perkataan Luhan barusan.
"Ge! Bicara apa kau? Malah awalnya aku pikir ibu salah melahirkanmu. Seharusnya kau terlahir sebagai perempuan kau tau? Wajahmu terlalu cantik untuk laki laki."
"aku harus apa?" Luhan mendesah frustasi.
"oke. Dengarkan adikmu yang pakar soal cinta ini. Cobalah kau berkencan dengannya ge. Aku pikir dengan berkencan kalian bisa lebih mengerti satu sama lain. Kau juga bisa tau bagaimana kau bersikap di dekatnya. Lagipula jika dipikir pikir apakah kau tidak merasa terlalu terburu buru jika langsung ke tahap itu? ingat. Kau ciuman saja belum pernah." Jelas Kris.
"lalu sekarang aku harus bagaimana?"
"ajaklah dia bertemu" kata Kris mantap sambil melipat tangannya. Memuji dirinya atas kehebatannya soal cinta.
"lalu? Masa aku yang harus mengajaknya kencan!"
"bukan begitu bodoh! Astaga kau ini, apa otakmu juga sekecil badanmu?!" damprat Kris. Luhan melemparkan death glare pada adiknya. Sempat sempatnya si tiang itu menghinanya disaat pembicaraan sangat serius seperti ini. Kris berdehem, melanjutkan omongannya kembali.
"maksudku, bertemu dan jelaskan bahwa kau tidak mau terlalu cepat!"
Luhan menimbang nimbang saran dari Kris. "baiklah kalau begitu!" katanya kemudian. Hening sebentar saat Luhan sedang mengetik pesan pada Sehun untuk memintanya bertemu. Sampai suara Kris menginterupsinya.
"omong omong. Memangnya, sebesar apa miliknya? Apa lebih besar dari milikmu?" Luhan menatap adiknya dengan tatapan datar. Si tinggi itu terus saja mengoceh.
"ah. Kalau itu sih sudah pasti, kalau dengan milikku ba-" dan sebuah handunk yang mendarat dimuka Kris, menghentikan ocehannya.
Luhan menoleh begitu ponselnya bergetar. Pesan masuk dari Sehun.
"baiklah." Kata Sehun dalam pesannya.
.
.
Hari ini, Sehun dan Luhan berjanji untuk bertemu digedung X.I dan disinilah mereka sekarang, diruangan Luhan. Saat itu si pria bermata rusa sedang duduk di mejanya memandangi berkas yang sebenarnya tak begitu ia perhatikan. Sampai sekertarisnya, Nona Chang mengatakan bahwa Sehun sudah sampai di depan.
Luhan pun menyuruh si albino masuk. Beberapa kali ia mengatur nafasnya. Merasa gugup karena bayang bayang kemarin masih saja menghantuinya. Khusus nya saat bayangan penis Se-ah itu dia, lelaki itu sudah datang.
Sehun masuk dengan senyumnya yang luar biasa tampan. Luhan berdehem sebentar. "duduklah.". "apa ini? Kau bicara formal pada kekasihmu sendiri?" kata Sehun dengan nada menyindir namun akhirnya duduk juga. Luhan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"tidak Sehun. Hanya saja aku tidak pernah bertemu kekasihku di ruang kerja."
"kalau begitu, dimana biasanya kau bertemu kekasihmu." Luhan terkekeh. "dikamar mandi."Sehun tersenyum, ia paham dirinya sedang disindir.
"Baiklah. Begini Hun-ah. Soal kemarin…" "ah iya. Apa kau mau melanjutkannya disini? Ku yakin hyungku masih cukup waras untuk tidak mendobrak masuk ke ruanganmu" kata Sehun bersemangat. Luhan gelagapan.
"bukan begitu. Aku pikir.. kita perlu… berkencan. Kau tau? Seperti pasangan pada umumnya." Sehun mengerjap ngerjapkan matanya.
"kencan?"
"iya. Kurasa kita harus berkencan dulu. Aku merasa ini sedikit terburu buru jika kita langsung ke tahap itu." jelas Luhan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sehun terdiam. Luhan memperhatikan kekasihnya itu. aneh sekali. Responnya tak seperti yang ia harapkan
"kenapa Sehun?" tanya Luhan khawatir. Apa Sehun sakit?
"tidak… tidak ada apa apa." Sahut Sehun mencoba senormal mungkin.
"baiklah. Jadi. Apakah kau setuju?"
"tentu. Akan aku bawa kau ketempat yang bagus!" Sehun tersenyum. "kencan? Bagaimana aku mengajak Luhan kencan kalau aku tidak pernah berkencan sebelumnya!" batin pria itu dibalik senyumnya yang mulai memudar.
ooo
suatu malam setelah menyelesaikan perform di sebuah acara, Sehun langsung menghilang, ia bilang pada manager dia ada urusan sebentar dengan Luhan dan pulang larut.
Ia sudah mempersiapkan segalanya, setelan yang ia pakai, memesan restoran mahal dengan wine terbaik. Tak lupa juga sebuket bunga. Luhan adalah kekasih (pertama) nya. Dia juga merupakan orang terpandang, Sehun ingin memberikan kesan yang indah untuk Luhan.
Sehun sampai lebih dulu direstoran, ia menunggu kekasihnya dengan sabar. Tak menyadari sedari tadi ia pergi, ada orang yang memperhatikannya.
Tak lama Luhan datang dengan tampilannya yang tampan dan juga manis. Melihat sang kekasih yang sedang berjalan menghampirinya, Sehun berdiri sambil tersenyum.
"selamat malam Lu." Katanya canggung. Harusnya mereka berdua saling mengecup pipi, bukannnya membatu karena terpana. "du-duduklah" . dan kedua pria itupun duduk saling berhadapan. Mengaggumi ciptaan tuhan yang indah di depannya.
"bagaimana harimu Sehun?" Tanya Luhan berbasa basi.
"baik. Meskipun sangat padat, Tapi aku menikmatinya. Kau sendiri?"
"benarkah? Aku senang mendengarnya. Akhir akhir ini aku sedang sibuk sekali. Maaf jika tidak bisa datang di penampilanmu."
"tak apa apa Lu. Aku mengerti" sahut Sehun, sambil menggenggam tangan Luhan di depannya dan tersenyum. Luhan merasakan jantungnya berdegup kencang sekali.
seorang pelayan pun datang menghampiri mereka, memberikan menu mewah untuk keduanya.
"ah.. aku ingin ke kamar mandi sebentar Hun" kata Luhan saat keduanya sudah memesan makanan. Sehun mengangguk. Tak beberapa lama, seorang gadis menghampiri meja Sehun. si albino mendongak, ia kaget saat mendapati perempuan berbalut gaun cantik yang sedang berdiri di depannya
"selamat malam Sehun-ah." sapa wanita itu, Irene. Sehun kelabakan. Akan sangat runyam jika Luhan mendapati Irene sedang berada disini
.
.
"a-apa yang kau lakukan disini?" tanya Sehun, belum sempat wanita itu menjawab, sebuah suara yang sangat Sehun kenal menyapa telinga mereka berdua.
"Nona Bae?" tanya Luhan kebingungan. Irene menoleh.
"selamat malam Luhan-sshi. Maaf mengganggu acara kalian, tapi aku kemari atas permintaan Yi Fan-sshi." Kata Irene dengan tenang, seolah keberadaannya tidak salah sama sekali.
"benarkah?" alis Luhan bertautan.
"iya dia memintaku kemari. Menemani kalian berdua."
Luhan berdehem, mencoba menjaga sikapnya. Ia tak ingin kehilangan kendali dan melempar meja kearah wanita ini. Tidak. Tidak didepan Sehun.
"du-duduklah. Silahkan pesan makananmu nona Bae, kami sudah memesan duluan." Kata Luhan kemudian. Sementara Sehun melempar pandang takut takut Kearah Luhan.
"baik, terima kasih."
Irene mengintip ke sebuket Bunga yang Sehun sembunyikan di sebuah paper bag, didekat kursinya.
"ah, Hun? Apakah itu bunga untukku?" Sehun tersentak kaget. Ia kelabakan. Bagaimana ini, ini bunga untuk Luhan.
"i-ini un-" Irene memberikan tatapan "turuti saja!" Sehun menelan ludahnya. "iya, ini untukmu" kata si albino sambil memberikan sebuah bunga tadi untuk Irene. Gadis itu tersenyum senang. Sementara Luhan hanya meminum minumannya dengan gusar.
"terima kasih Sehun. Kau memang terbaik." Sehun hanya tersenyum pahit. Ia tau Luhan akan membunuhnya nanti
Makan malam dilewati dengan Canggung. Irene dan Sehun yang berbincang sementara Luhan sibuk dengan pikirannya. Apa yang diinginkan Kris. Bagaimana bisa ia mengirim Irene ke acara kencan Luhan padahal ia lah yang mengusulkan kencan itu awalnya.
"A.. aku sepertinya harus pulang." Kata Luhan pelan. Sehun membelalakan matanya. Tidak. Kencannya belum selesai.
"nona Bae, Tuan Oh. Aku permisi. Terima kasih untuk makan malamnya" kata Luhan sambil bangkit dan menaruh beberapa lembar uang dimeja. Membayar pesanannya sendiri.
pria itu pergi dengan langkah gusar. Ia keluar dari restoran itu dan menuju mobilnya. Luhan harus membunuh adiknya itu.
ooo
"XI YI FAAAAAAAAAAANNNNNNNNNNNNNN!" raung Luhan begitu Ia menginjakkan kakinya di mansion. Ia terus melangkah dengan raungan yang tak berhenti.
"XI YI FA-" puk. Sebungkus snack berukuran besar mendarat di muka Luhan diiringi suara Kris yang menyahut santai "aku disini bodoh."
Luhan menoleh, adik gilanya itu sedang berleha leha diatas sofa di depan TV ruang keluarga mereka, dengan berbungkus bungkus makanan ringan yang menimbunnya. Kris Nampak tak sadar dengan bahaya yang sedang menanti. Pria itu masih sibuk menonton TV tanpa menoleh ke Luhan.
Luhan memungut snack yang dilemparkan Kris kearahnya dengan gusar, lalu mendekat dengan langkah besar besar dan nafas yang memburu.
"APA YANG KAU LAKUKAN BODOH!" Damprat Luhan sambil melemparkan kembali snack itu kearah muka Kris. Kris yang tak siap dengan serangan tiba tiba langsung tersentak kaget hingga terduduk. Membuat bungkusan makanan ringan yang menimbunnya jatuh berserakan.
"apa maksudmu?!"
"untuk apa kau mengirim Irene disaat kencanku dengan Sehuuuun! Kupikir kau dipihakku!" sembur Luhan sambil melipat tangannya dan menjatuhkan dirinya diatas kursi dekat situ.
Kris menghela nafasnya, tau kakak tak warasnya ini tak akan mengerti.
"dengar ya pendek, aku melakukan ini untukmu!" Luhan mendengus. Ia memungut satu snack dilantai, membukanya dan mulai memakannya dengan gusar. Luhan sedang emosi, ia harus mengalihkan amarahnya kalau tidak sudah pasti ia mencekik Kris sekarang.
"kau kan tau jika Sehun dan Irene masih dalam kontrak untuk menutupi skandal sebelumnya. Coba pikirkan lah apa tanggapan masyarakat jika mereka melihat mu berdua dengan Sehun. Makan malam romantis. Disebuah restoran mewah di Beijing!."
Luhan mendengarkan penjelasan Kris dengan seksama, mulutnya masih sibuk mengunyah.
"saat aku mendapat kabar ada orang yang melihat mu dan Sehun pergi ke sebuah restoran mewah. Dan duduk semeja berdua. aku terpaksa mengirim Irene kesana karena itu solusi terbaik. Jika yang ku kirimkan adalah Bodyguard asumsi masyarakat akan semakin kuat terhadapmu! Luhan-ge, EXO memang baru debut di China, tapi kau tau sendiri respon masyarakat bagaimana. Apa kau tidak berfikir bagaimana jika mereka melihat Sehun bersama dirimu. Mereka tau tentangmu Luhan. Ini negara mu sendiri! Sudah pasti beritanya akan tersebar. Dan kau ingin menimbulkan asumsi masyarakat yang tidak tidak?"
Tiba tiba Luhan terdiam. Kunyahannya melambat. Kris ada benarnya.
"semua keputusan ada ditanganmu. Membatalkan Kontrak Sehun-Irene dan Berpacaran dengan segala rintangan, atau melanjutkan kontrak ini dan ya… seperti yang kau tau, memaklumi Sehun dan Irene untuk menutup nutupi dirimu."
Luhan menghela nafasnya. Hubungan ini tak semudah yang ia kira.
"Belum saatnya kau untuk bersama Sehun. kau tau sendiri maksudku kan. Banyak yang harus kau lewati lebih dulu." Luhan mengangguk , ia paham benar maksud Kris barusan.
"baiklah akan aku pikirkan."
Hening diantara keduanya. Sampai tiba tiba mata Kris baru menyadari sesuatu.
"kau… memakan cemilanku." Kata Kris pelan.
Luhan mengambil suapan terakhir lalu berkata "nih kukembalikan" lengkap sambil melempar Snack itu kearah muka Kris, membuat isinya jatuh berserakan kemana mana. Yang lebih pendek langsung bangkit dan kembali kekamar. Meninggalkan Kris yang menatapnya datar dengan seonggok kripik nyasar dirambutnya.
Inikah cara dia membalas setelah Kris membantunya? Hebat sekali Xi Luhan.
.
.
"maaf Sehun. aku hanya melakukan sesuai yang diperintahkan Yi Fan-sshi dan managerku." Kata Irene benar benar menyesal. Keduanya saat itu berada di dalam mobil, didepan dorm EXO, Irene mengantar Sehun pulang. Ia sudah menduga sebenarnya, apa hubungan Luhan dan Sehun. Tapi wanita itu tidak mau terlalu ikut campur.
"tak papa Noona. kalau begitu aku masuk dulu. Terima kasih telah mengantarku pulang. Sampai jumpa." Dan Sehun turun dari mobil, melangkah gontai ke pintu masuk dormnya.
Baru saja ia masuk selangkah kedalam dorm itu, suara managernya sudah menyambut pulang si Maknae.
"kenapa kau tidak bilang bahwa kau berkencan dengan Luhan!" sembur Manager-nim sambil bersedekap. Ia jelas jelas sedang marah. Sehun menghela nafasnya.
"kan aku sudah bilang hyung-nim, aku akan pergi menemui Luhan." Kata si maknae sambil berjalan ke sofa dan menjatuhkan dirinya disana.
"tapi kau tidak mengatakan apa apa soal Kencan, Oh Sehun!" manager-nim mengekorinya di belakang, masih dengan omelannya. Tak menyadari bahwa Chanyeol, Chen dan Baekhyun menguping dari lantai atas.
"beruntung Yi Fan-Sshi mengambil langkah Terlebih dahulu! Kalau tidak, beritamu pasti sudah tersebar di internet sekarang!"
Sehun hanya menyenderkan kepalanya, ia lelah. Lelah dengan kerjaan, lelah dengan harus bersembunyi,lelah tertekan. Ia hanya ingin bersama Luhan. Kenapa itu sulit sekali?
Manager-nim menghela nafasnya, ia memandang Sehun lekat lekat. Tak tega juga sebenarnya, namun si maknae sudah bertindak salah.
"istirahatlah. Aku akan menemui Nona Chang besok, memastikan semua baik baik saja."
Sehun bangkit dan berjalan dengan gontai. Baru beberapa langkah, manager-nim membuka suaranya lagi. "Sehun. jangan pernah ceroboh lagi. jika tidak, tuan Kim dan Tuan Lee di Korea akan marah besar. Bersabarlah sampai X.I memberikan keputusan lebih lanjut." Lanjut manager-nim dengan nada membujuk. Sehun hanya membalikan badannya lalu mengangguk mengerti. Dan si maknae itu berjalan ke tangga, bersiap menuju kamarnya di lantai dua.
Sadar bahwa Sehun sedang bergerak menghampiri mereka, the beagles line segera membubarkan diri, masuk dengan terburu ke kamar mereka.
ooo
Sehun dipanggil keruang rapat X.I siang itu, ia sebenarnya sedikit tau tentang siapa yang akan ia temui dan apa yang akan dibahas. Berkali kali ia menghela nafasnya. Merutuki tindakan ceroboh semalam.
Sehun masuk ke ruang rapat, disana hanya ada Nona Chang, Manager nya, Manager red Velvet dan Irene.
"silahkan duduk tuan Oh" kata Nona Chang. Sehun duduk di sebuah bangku masih dengan raut bingungnya. Luhan, seharusnya pria itu juga disini kan? seketika prasangka buruk melandanya.
.
.
.
Luhan sedang duduk di ruangannya, sibuk dengan berkas penting yang membanjiri meja. Tapi, pikiran pria itu terbang entah kemana dari beberapa jam yang lalu. Memikirkan jalannya rapat yang berlangsung di sebuah ruangan yang hanya berbeda lantai dari ruangan miliknya.
Sedang sibuk sibuknya (mencoba) memperhatikan berkas berkas, telefon di mejanya berdering, Nona Chang meminta izin untuk masuk yang lalu dipersilahkan oleh Luhan.
Pintu pun terbuka, wanita cantik yang berumur beberapa tahun lebih tua darinya itu berjalan menghampiri dengan sebuah map yang ia bawa. Menandakan rapat bersama Sehun sudah selesai.
"bagaimana?" tanya Luhan sambil mempersilahkan Nona Chang duduk dibangku di depannya.
"berjalan lancar Tuan Muda, anda hanya perlu menandatangani berkas ini, sebagai persetujuan." Luhan mengangguk sambil meraih map berwarna hitam yang dibeirkan oleh Nona Chang. Pria itu membuka map tersebut, membaca ulang berkas yang dimaksud, mendapati tanda tangan Sehun dan Irene di kertas itu, sebagai tanda bahwa keduanya setuju atas keputusan Luhan.
Setalah menanda tangani berkas itu, Luhan meminta Nona Chang untuk meninggalkannya sendiri. Luhan termenung beberapa saat. Ini pilihannya. Ia siap menerima segala resiko atas keputusannya ini.
Beberapa jam yang lalu.
"Tuan Muda Xi telah memutuskan untuk menghentikan kontrak perjanjian kalian berdua. Beliau merasa cara pengalihan perhatian ini tidak efektif. Oleh karena itu, tuan muda Luhan dan tuan muda Yi Fan akan mencari jalan keluar lain." Jelas Nona Chang sambil menyodorkan sebuah map hitam untuk keduanya. Para manager yang sudah briefing lebih dulu pun menjelaskan secara detail maksud dari tuan Luhan. Mereka juga awalnya tidak menyadari bahwa Luhan akan memutus kontrak ini.
Namun, mau bagaimana lagi. sang petinggi sudah memberi titah. Irene dan Sehun hanya harus menurut.
"terima kasih atas kerja sama selama ini Sehun-ah" kata Irene sambil tersenyum begitu keduanya sudah menanda tangani berkas itu.
"aku juga Noona. Maaf membuatmu repot dengan tingkahku."
Dan saat itulah penyamaran Sehun dan Irene sebagai kekasih, berakhir.
ooo
Luhan sudah yakin dengan pilihannya. Ia akan tetap berpacaran dengan Sehun secara sembunyi sembunyi sampai waktunya tepat. Namun ia tidak akan membiarkan orang lain dekat dengan Sehun meskipun hanya pura pura.
Tidak akan pernah.
Tiba tiba ponsel Luhan berdering, Sehun memanggilnya. Pria itu tersenyum kecil sebelum mengangkat panggilan itu.
"hai cantik. kau mau mendengar ceritaku hari ini?" kata Sehun di sebrang.
"yak! Aku ini laki laki! Aku tampan" kata Luhan pura pura merajuk, Sehun hanya terkekeh "tapi, baiklah, apa itu."
"aku baru saja dipanggil keruang rapat dan mendengar kabar bahwa…. bosku memutus kontrakku dengan Irene Noona"
"benarkah?" kata Luhan pura pura terkejut. Sehun sedang menyindirnya rupanya.
"iya.. aku jadi berfikir, apakah itu disebabkan karena dia cemburu?"
.
.
Sehun sedang berjalan keluar dari gedung X.I dengan ponsel menempel ditelinganya. Senyuman bahagia terbingkai di wajahnya yang tampan. Ia selalu senang jika berbicara dengan Luhan. (kecuali saat pria itu sedang cemburu luar biasa)
"percaya diri sekali kau" Sembur Luhan di sebrang sana
"lalu apa kau punya pendapat yang lain?"
"kenapa kau tak tanyakan langsung saja padanya sambil makan siang?"
"hmmm baiklah. Aku akan menunggunya 15menit lagi di restoran dekat Kantor. Aku harus bergegas, sebentar lagi aku ada persiapan sebelum perform. Dan aku juga yakin dia juga sedang sibuk"
"baiklah. Selamat menikmati makan siangmu." Dan sambungan dimatikan. Sehun bergegas pergi menuju sebuah restoran yang dimaksud. Ia akan menunggu Luhan disana.
.
.
Luhan sedang merapihkan meja sampai tiba tiba si pintu ruangannya terbuka dan Kris masuk begitu saja kedalam. Kris mengernyit. Sang Kakak sedang bersiap dengan senyuman aneh yang membingkai wajahnya "kau mau kemana ge?"
"makan siang dengan kekasihku.." sahut Luhan santai sambil melewati Kris begitu saja. Kris hanya memandangi kepergian Luhan dengan heran.
Kris baru saja selesai menandatangani berkas yang diberikan Nona Chang. Ia berniat mengunjungi sang kakak untuk menganggunya. Tapi, Luhan malah meninggalkannya begitu saja.
"ah… aku semakin terbuang" Desah si pria tinggi itu, merasa sedikit kehilangan.
ooo
Dan disinilah Luhan, disebuah restoran dekat kantor bersama Sehun. keduanya sedang berbincang ringan. Sehun dan Luhan merasa lega. Entah untuk alasan apa.
"kau tau, kau sangat berbeda semalam." Kata Luhan begitu memperhatikan Sehun yang ada di depannya. Si albino ini tampak jauh lebih santai ketimbang semalam. Bukan dalam hal berpakaian, namun Sehun bisa dengan mudah bercerita tentang apa saja. beda sekali saat mereka kencan di restoran.
Sehun yang saat itu sedang meminum minumannya, mendongak kearah pria yang tersenyum di depannya. "berbeda?"
"iya. Malam itu kau seolah menjadi Sehun yang lain. Bukan Sehun menyebalkan yang aku kenal" kata Luhan meledek. Sehun tertawa renyah sambil mengaduk minumannya. Ia berhenti, lalu menatap Luhan dengan senyumnya.
"itu karena aku… ingin membuatmu terkesan Luhan. Kau adalah kekasihku. Aku ingin yang terbaik untukmu. Apalagi kau bergelimang harta sejak lahir, tak mungkin kan aku mengajakmu berkencan dengan hanya makan dipinggir jalan?" kata Sehun tulus.
agak miris sebenarnya, karena Sehun mengira Luhan orang yang seperti itu. padahal, pria kaya raya ini tak pernah sesumbar dengan hartanya. Meskipun ia bergelimang harta Luhan tidak pernah pilih pilih dan menghamburkan uangnya untuk hal tak perlu.
Tapi hal itu tidak berlaku dengan Kris. Beranjak dewasa,Kris dikelilingi banyak wanita. Dan si bodoh itu salah memilih perempuan untuk menjadi pacarnya. Luhan masih ingat ketika Kris membelikan sebuah griya tawang mewah pada pacarnya yang baru seminggu ia kencani. Saat itu sang adik masih duduk di bangku akhir SHS, begitu ayahnya mengetahui transaksi pengeluaran Kris minggu itu yang dianggap tak wajar, Tuan Xi mengamuk dan mengirim Kris ke Korea begitu sang adik lulus sekolah. Luhan sangat sedih di minggu awal kepergian Kris. Ia berharap adiknya dapat menemukan wanita (atau pria) yang baik. Seperti ia yang mendapatkan Sehun. Karena Sehun mencintainya sangat tulus (iya kan?)
Dan tiba tiba, sebuah ide muncul dibenak pewaris utama X.I China entertainment itu.
ooo
"gantikan aku dikantor, aku ada urusan." Kata Luhan sambil melangkah terburu kearah Kris yang sedang sarapan di mejanya. Kris menoleh kearah Luhan. Pria itu mengernyit heran, kenapa Luhan belum bersiap? Luhan memang sudah mandi dan berganti baju, tapi ia tidak mengenakan pakaian kerja biasanya, melainkan pakaian pergi bergaya casual.
"kau mau kemana?!" tanya Kris heran masih dengan mulutnya yang penuh.
"aku ingin mengganti kencanku yang kau hancurkan." Kata Luhan lalu menyambar jus diatas mejanya dan segera meminumnya cepat cepat.
"dan kemana kau akan pergi?"
"rahasia" Luhan menaruh gelasnya dimeja, dan segera balik badan lalu bergegas pergi sambil berteriak: "jangan mengacau di kantor! Sampai jumpaaaa" yang terdengar semakin pelan seiring langkah kakinya yang menjauh.
.
.
Semua member EXO sedang sarapan bersama saat itu (kecuali Kai yang tertidur kembali dimeja makan) sementara Manager-nim sudah pergi pagi pagi sekali. Hari ini mereka tidak ada jadwal setelah kegiatan melelahkan akhir akhir ini. Beruntung sekali bisa menikmati hari hari santai ditengah padatnya jadwal mereka.
Tiba tiba, suara bel terdengar, menandakan mereka kedatangan tamu. "Soo, buka pintu nya sana!" kata Baekhyun sok perintah.
"kenapa harus aku!" Kyungsoo mendelik kearah Baekhyun yang duduk tak jauh darinya
"karena kau yang paling dekat dari pintu."
"kenapa tidak kau saja?"
"aku jauh!"
"apa apaan itu. kau hanya berjarak 1 meter jauhnya dariku bodoh!"
"sudah, aku saja yang buka." Lelah dengan perdebatan Baek-Soo yang hampir selalu terjadi setiap hari, Xiumin akhirnya mengalah. Member EXO yang paling tua itupun segera bangkit menuju pintu masuk.
"selamat pagi, bisa kah aku bertemu dengan Sehun?" kata Luhan ramah saat pintu baru saja terbuka. Xiumin mengerjap ngerjapkan matanya. Sedikit tak percaya dengan kedatangan tamu tiba tiba ini.
"ah.. Selamat pagi Luhan-sshi. Silahkan masuk." Kata Xiumin sambil membungkuk sopan, Luhan pun melangkahkan kakinya ke dorm EXO itu.
"kami sedang sarapan bersama. Kau ingin bergabung?" ajak Xiumin ramah. Luhan mengangguk sambil tersenyum. Yang lebih tua memandu Luhan ke ruang makan dimana para member EXO berada.
Suasana sarapan dimeja makan EXO itu dihiasi oleh obrolan, ledekan, canda dan tawa dari setiap member. Luhan tersenyum kecil. Berbeda sekali dengan suasana sarapan di Mansionnya. Ia akan melewati makan pagi sendirian, Tuan XI sangat sibuk. Kadang kala ibunya akan menemani jika sosialita itu tidak sibuk. Tapi Luhan beruntung,Semenjak Kris ada di China, setidaknya sang adik selalu menemaninya makan.
Sehun lah yang pertama kali menangkap sosok Luhan di dekatnya. Pria itu membatu. Antara percaya dan tidak percaya Luhan ada di dormnya.
"kita kedatangan tamu penting" kata Xiumin mencoba menyadarkan para member. Dongsaengnya itu pun langsung menoleh kearahnya dan tersentak begitu melihat Luhan berdiri disamping Xiumin. Kai bahkan tidak mengantuk lagi.
"se-selamat pagi, Luhan-sshi. Suatu kehormatan anda datang ke dorm kami" Kata Suho sambil berdiri.
"pagi. Sudah kubilang panggil aku Luhan-hyung saja."
"duduklah. Ayo sarapan bersama." Dan si paling tua mengajak tamunya duduk. Xiumin cukup bijak dengan bangkit dari kursinya yang berada di samping Sehun dan pindah ke kursi lain, mempersilahkan Luhan untuk duduk disamping kekasihnya.
"annyeong. Selamat pagi Sehunnie." Kata Luhan ramah sambil duduk disamping Sehun yang masih membatu
"pa-pagi." Sehun tergagap.
"kau.. sedang apa disini?" tanya Sehun begitu ia sudah menguasai dirinya kembali.
"ah.. aku ingin mengajakmu pergi. Aku sudah mengecek jadwalmu, hari ini kau kosong kan?." Sehun kembali terdiam. Mengajaknya pergi? Pergi kemana? Sehun tak sadar dari tadi para member mencuri dengar pembicaraan mereka.
"begitukah? Baiklah… aku akan bersiap. Kau sarapanlah Terlebih dulu" kata Sehun sambil bangkit, para member yang tadinya sibuk mendengarkan, langsung pura pura sibuk sendiri. Chanyeol dan Baekhyun yang pura pura sedang saling menyuapi. Chen yang sibuk mengajak bicara Xiumin, Kai dan Kyungsoo yang melanjutkan makan, lalu Suho yang sedang berbicara pada…. Ah.. iya, tidak ada yang mendengarkan Suho karena member lain sedang sibuk sendiri sementara Lay… masih ada didunianya sendiri.
"A-" baru saja Luhan membuka suara, para member (minus Lay) langsung menghentikan kegiatan mereka dan menoleh secara bersamaan. "YA?" Sahut semuanya bersemangat.
"ah.." Luhan berdehem sebentar. "begini Suho-sshi. Bolehkah aku mengajak Sehun pergi ke-"
"BOLEH! SILAHKAN! Apapun untukmu Luhan-sshi, kau boleh mengajak Sehun pergi ke…. Ke…." Luhan menunggu kata kata selanjutnya dari Leader EXO yang memotong ucapannya barusan dengan kelewat semangat.
"maaf.. kemana tadi?"
"ke tembok besar China di Mutianyu. Aku akan mengantarnya pulang sebelum malam" Lanjut Luhan, Suho hanya mengangguk angguk sementara Baekhyun mengingat ngingat dengan baik kemana maknaenya akan pergi.
Tak lama Sehun pun turun dengan pakaian rapih. "sudah siap?" tanya si albino. Luhan mengangguk.
"baiklah, kalau begitu. Aku pergi dulu Hyung. Aku akan tiba sebelum manager-nim pulang. Sampai jumpa." Dan keduanya pun beranjak dari ruang makan dan menghilang dibalik dinding.
.
.
"kau mengganti mobilmu?" tanya Sehun bingung begitu melihat mobil Luhan yang terparkir di depan dorm berbeda dengan mobil Sport yang Luhan pakai biasanya ke kantor. Pria itu sengaja memakai mobilnya yang lain. Masih kendaraan bagus, namun tidak semahal biasanya.
"tidak. Aku pakai mobil lain. Aku lebih suka kemana mana dengan mobil ini sebenarnya" jelas Pria bermata rusa itu. Sehun mengangguk angguk. "yasudah, karna kau sudah menjemputku, biarkan aku yang menyetir!"
"memangnya kau tau kita mau kemana?"
"tidak. Tapi kan kau bisa memberi tahu."
"baiklah kalau begitu." Dan Sehun pun menangkap kunci mobil yang dilemparkan Luhan padanya. Kedua pria itu masuk ke dalam mobil sambil tersenyum.
"jangan lupa memakai ini saat turun nanti" kata Luhan sambil memberikan sepasang kaca mata hitam untuk dirinya dan Sehun. Sehun mengernyit.
"aku tau kau public figure dan kita tidak akan bisa menikmati kencan sebagai pasangan umumnya. Tapi, itu tidak masalah bagiku, Sehun. Aku mengerti" kata Luhan tulus sambil tersenyum.
Sehun yang melihat itu, hanya menarik kepala Luhan mendekat, lalu mengecup bibir Luhan.
"gomawo, Chagi" dan si albino itu pun menancap gas mobilnya, tak sabar untuk berkencan dengan Luhan
.
.
Sementara itu….
Saat suara pintu terbuka dan kembali menutup, menandakan Sehun dan Luhan sudah keluar dari Dorm, Baekhyun segera melemparkan tatapan penuh arti pada Chanyeol dan Chen yang duduk di dekatnya. Chen-yeol mengangguk dengan tatapan serius lalu ketiga nya melesat ke kamar masing masing.
Sementara member lain hanya menatap mereka bingung. Tak lama, ketiganya turun dengan pakaian serba hitam. Lengkap dengan masker, topi dan kacamata.
"ka-kalian mau kemana?" tanya Suho bingung.
"menyelamatkan Sehun!" sahut Baekhyun mantap, seolah ingin mengatakan bahwa Luhan seorang kanibal dan Sehun dalam bahaya.
"a-apa maksudmu? Kau mencurigai Luhan-sshi?" sekarang Xiumin yang kebingungan.
"Bukan begitu Hyung!. Semalam aku mendengar acara kencan Sehun gagal total. Aku ingin memastikan acara kencan Sehun berjalan lancar!. Kau tau sendiri kan, Sehun belum pernah berkencan sebelumnya. Bagaimana kalau dia melakukan hal bodoh? Atau diseran sasaeng fans?"
"terakhir kali ku cek, kau lah yang selalu menganggu dan akhirnya menggagalkan acara keduanya." Kata Kyungsoo tajam dengan tatapan datarnya.
"bicara apa kau!"
"Soo benar hyung, ku yakin akhirnya akan sama saja." nah, Kim Jongin malah ikut ikutan menyerang Baekhyun. Sungguh pasangan yang romantis
"bolehkah aku ikut?" seketika suasana hening begitu Lay membuka suaranya. Chanbaek saling pandang, sampai tiba tiba si muka kotak sudah membuka suara lebih dulu.
"tentu! Ayo Hyung segera bersiap!" kata Chen. Dan Lay pun bangkit dengan riang ke kamarnya, bersiap untuk acara jalan jalan yang (ia pikir akan) sangat menyenangkan.
"Lay hyung akan memberi tahu kita jalannya! Memangnya kau tau dimana tembok Mutinanu?!." Bisik Chen pada Chanbaek yang menatapnya penuh tanda tanya.
"Mutianyu Chen" kata Baekhyun mengoreksi. "sama saja bagiku" sahut Chen tak perduli.
"jika kau ajak Lay ikut, aku juga ikut!" Suho, menatap mereka sambil melipat tangannya. Keinginannya adalah titah. Tidak bisa diban-
"TIDAK!" sahut ChanBaekChen bersamaan dengan tegas.
Tahkan…
"kenapa?" Suho mendelik tak suka.
"karena Manager-nim sedang tidak ada, apakah kau mau meninggalkan Minseok Hyung dan Kaisoo sendirian di dorm? Hyung kan Leader. Kau harus menjaganya." Terima kasih Chanyeol, kau memberikan elakan yang tepat saat dibutuhkan
"lalu bagaimana dengan kalian?"
"ah.. kami kan ada Lay hyung" sementara si subyek yang sedang diperbincangkan sejak tadi, baru saja menuruni tangga dan menghampiri beagles line dengan tatapan polos. Ia sudah siap.
"yasudah, kami berangkat dulu. Sampai jumpa." Kata Baekhyun buru buru sebelum Suho menahan mereka lebih lama. Keempatnya keluar dari dorm, menuju mobil fasilitas EXO yang diberikan oleh X.I.
"mari kita beraksi!" sahut Chanyeol mantap, sambil bersiap mengemudi. Baekhyun dan Chen mengangguk mantap.
"nanti, kita mampir kerumahku dulu bagaimana? Bertemu ibuku! Pasti dia senang." Celetuk Lay bahagia. Sepertinya ia belum tau tujuan misi ini. Dan perjalanan menuju Mutianyu dihiasi dengan ocehan Lay tentang rumahnya.
ooo
"wahhh tempat ini keren!" kata Sehun senang. Keduanya sudah sampai di Tembok Besar Mutianyu dan sedang melihat lihat pemandangan. Baru beberapa langkah, mata Sehun menangkap sesuatu.
"ayo kita naik cable car Lu!" Luhan membelalakan matanya. Oh tidak. Jangan Cable car.
"ti… tidak kita jalan kaki saja." katanya mencoba menutupi ketakutannya.
"akan makan banyak waktu jika jalan kaki. Aku harus tampil nanti malam." Luhan terdiam, matanya bergerak gerak gelisah."bagaimana ini?" batinnya.
"ayolah Lu. Aku janji suatu saat akan mengajakmu mendaki di tempat yang tak kalah indah di Korea." Kata Sehun berjanji. Sebenarnya Sehun tak yakin juga apakah Luhan sanggup mendaki dengan kaki pendeknya. tapi jika mereka menghabiskan waktu disini terlalu lama, ia akan terlambat pulang dan manager-nim akan membunuhnya.
Tak tahan dengan tatapan memohon Sehun, Luhan akhirnya mengalah juga. Dengan langkah gemetar, Sehun dan Luhan memasuki Cable car.
"Waaa Lihat itu." kata Sehun terpana, melihat pemandangan diluar kaca yang sangat indah. Tak menyadari bahwa Luhan sedang duduk disampingnya dengan mata terpejam dan kepala tertunduk. Menahan rasa takut yang merayapi dadanya.
"wah bagus sekali." Gumam si albino. Sadar dengan Luhan yang tiba tiba pendiam, Sehun menoleh kearah kekasihnya itu. ia mengernyit heran
"Lu… kau kenapa?" Luhan diam saja. masih dengan posisi yang sama. Pria itu mencoba mengelak dengan menggeleng samar sebagai jawaban bahwa ia baik baik saja. namun Sehun cukup mengerti apa yang sedang terjadi pada kekasih nya ini.
"kau takut ketinggian ya?" Luhan masih bergeming. Sehun menghela nafasnya. Mengapa ia bisa bodoh sekali mengajak Luhan naik Cable Car!
"kenapa kau tidak bilang!"
"aku ingin membuatmu bahagia." Cicit Luhan. Sekarang giliran Sehun yang terdiam. Si albino memandang Luhan yang duduk disampingnya, mati matian menahan rasa takut. Rasa bersalah dan bahagia tiba tiba hinggap dihati Sehun.
"bersamamu saja sudah membuatku senang Luhan" kata Sehun lembut dengan Senyumnya yang tampan, Luhan mendongakkan kepalanya. Memandang Sehun yang tersenyum. "tenang.. ada aku disini Lu." Dan si albino menarik pria disampingnya untuk mendekat, memeluk Luhan dengan penuh kasih sayang.
.
.
Perjalanan menyeramkan itupun berakhir. Keduanya berjalan jalan.
"sebenarnya.. aku tak tau mengapa kau tiba tiba mengajakku kencan dadakan seperti ini." Kata Sehun sambil memandang pemandangan sambil menyenderkan dirinya di tembok besar itu.
"aku merasa bersalah soal kencan kita malam itu Hun." Luhan ikut menyenderkan dirinya disamping Sehun. Memandangi pemandangan indah di depannya.
"harusnya aku yang merasa bersalah." Luhan menggeleng. "tidak. Bukan salahmu. Aku yang menyetujui kontrak kerjasama kalian. Kau dan Irene harus terpaksa berpura pura. Sedangkan aku malah cemburu buta padamu. Aku egois sekali" lanjut pria yang lebih pendek sambil tertawa remeh. Sehun memandang Luhan lekat lekat.
"Hun.. aku ingin bertanya."
"tanyakan saja Lu."
"ehm… a-apa yang kau rasakan jika sedang bersamaku?" tanya Luhan malu malu. Sehun tertawa renyah. Ia diam sebentar, menatap Luhan yang merona malu di depannya.
"bahagia."
"hanya itu saja?"
"kau mau aku menulis buku tentangmu, begitu?"
"bu-bukan. Awalnya ku pikir kau akan…." Luhan kelabakan. mencari kata kata yang pas. "Kupikir kau akan memuji muji ku" batinnya.
"aku merasa bahagia bersama mu Lu. Karena jika bersamamu, kau membuat diriku lengkap, kau datang dan memberikan sebuah perasaan hangat yang menjalar di dadaku. Kau membuatku kesal, bingung, rindu, khawatir, senang dan nyaman disaat yang sama. Karena itu kau sangat penting bagiku dan aku akan menjagamu." Kata Sehun tulus. Luhan terdiam, tak sadar sebuah senyum terhias diwajahnya.
"apa kurang panjang? Jika kau memintaku menjelaskan lebih panjang lagi, kupikir aku harus mencari buku puisi dulu." Kata Sehun meledek. Luhan terkekeh.
"hmm.. sebenarnya masih kurang panjang. Tapi aku bisa memaklumi."
"Hun, aku boleh minta sesuatu padamu?" "wah. Kau banyak maunya ya! Baiklah, apa itu?"
Luhan mendengus. Lalu menatap kembali Sehun dengan senyum lembut. "jadilah dirimu sendiri. Kau tak perlu mengajakku ke restoran mewah untuk membuatku bahagia Hun. Karena apapun tentangmu akan selalu membuatku bahagia."
Sehun tersenyum, sambil mengelus rambut Luhan yang lembut dengan penuh cinta. Pertemuannya dengan Luhan merupakan salah satu hal terbaik dalam hidupnya.
"ayo, kita jalan jalan" ajak Luhan, lalu keduanya pun pergi Melihat lihat makanan ringan, souvenir dan berbagai aksesoris yang dijual.
Tak sadar bahwa keempat orang yang baru sampai sedang berada di dekat mereka.
Chanyeol, Baekhyun dan Chen merasa sia sia mengajak Lay. Karena setelah mengoceh, pria itu jatuh tertidur dan susah sekali dibangunkan. Akhirnya dengan Bahasa China yang pas pasan dan ke sotoy-an Chanyeol, mereka tak kunjung sampai di Mutianyu. Mereka malah berputar putar entah dimana.
Beruntung Lay akhirnya bangun juga dan membawa mereka ke salah satu gerbang masuk ke tembok cina lewat Gubeikou. Dan disinilah keempatnya, kebingungan bagaimana mencari Luhan dan Sehun.
"oke. Kurasa kita harus turun ke Mutianyu." Kata Chanyeol sok tau sambil melihat ponselnya. GPS mungkin? Kenapa tidak daritadi sibodoh itu menggunakannya?!
"baiklah. Kita naik Cable car saja biar cepat." Usul Baekhyun. Baru saja mereka melangkah, tiba tiba Lay malah beranjak kea rah yang berlawanan.
"Hyung kau mau kemana?" tanya Chen bingung.
"ah.. ada Souvenir disana, aku mau lihat" Chen hampir mengiyakan begitu saja kemauan Lay sampai tiba tiba ia mengenali sosok yang berdiri tak jauh dari Lay. Kedua sosok itu menggunakan kacamata hitam, namun bertahun tahun tinggal bersama, Chen tau jelas bahwa sosok berkacamata itu adalah Sehun. Dan sudah pasti disampingnya adalah Luhan.
"HYUNG!" Chen membelalakan matanya lalu dengan sigap mengejar Lay, menahan tangan hyungnya sebelum Sehun dan Luhan menemukan mereka.
"Eh? Ada apa Chen? Kau juga mau ikut? Baiklah kalau begitu, ayo!" Lay baru saja mau melanjutkan langkahnya tapi sudah ditahan oleh si muka kotak itu. Chen menggeleng. "ada Sehun dan Luhan disitu! Kita harus bersembunyi!" bisik Chen. Lay mengerjap ngerjapkan matanya tidak mengerti.
"nanti Kujelaskan Hyung. Ayo!" lalu dengan Segera Chen membawa Lay jauh jauh dari situ. Menghampiri Chanyeol dan Baekhyun.
"Sehun dan Luhan ada disana!" kata Chen pada Chanbaek sambil berjalan kearah mereka.
"hah! Yang benar kau?"
"iya! Mereka disana!"
"memangnya kenapa kita harus bersembunyi dari Sehun? Kan pasti sangat menyenangkan jika bersama." Tanya Lay keheranan. "ah.. soal itu.." Chanyeol menatap Baekhyun dan Chen sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Meminta bantuan pada keduanya.
"mereka sedang berkencan Hyung. Kita harus memastikan kalau tidak ada yang menggangu" jelas Baekhyun jujur, tak tau diri bahwa mereka lah yang sebenarnya menggangu. Lay mengangguk angguk. Entah dia mengerti atau tidak.
"baiklah. Kalau begitu." Katanya kemudian.
.
.
Sedang asik asiknya melihat souvenir tiba tiba perasaan Sehun mendadak jadi tidak enak. Luhan menatap si albino bingung. Kenapa Sehun? Jangan jangan dia juga punya phobia? Tapi pada apa? Masa iya pada Souvenir? Pertanyaan terus bermunculan di benak Luhan.
"kau baik baik saja?" tanya Luhan khawatir. Sehun tersentak. Buru buru ia menguasai dirinya lagi. "ah.. tidak apa apa Luhan. Ayo kita jalan lagi" kata Sehun. Ia tak mungkin memberi tahu Luhan dan membuat pria itu panik. "me-mengapa aku merasa seperti sedang diikuti" batinnya. Ya. Bertahun tahun tinggal bersama hyungnya dan berkali kali diganggu, radar sensitif Sehun meningkat. Ia bisa mendeteksi keberadaan para hyungnya yang menyebalkan jika mereka ada disekitar Sehun.
Si albino mengedarkan pandangannya, mencoba mencari sumber yang membuat perasaannya seperti ini. Namun, Sehun memutuskan untuk melanjutkan langkahnya mengikuti Luhan sebelum pria itu mencurigainya lagi. membuat pandangan Sehun luput dari keempat sosok yang sedang bersembunyi di balik stand souvenir dekat situ.
"huf. Hampir saja" kata Baekhyun segera berdiri diikuti yang lainnya. Dan mereka pun kembali mengikuti diam diam.
.
.
Sisa kencan seharian itu dilewati Sehun dengan perasaan waspada. Contohnya setiap berhenti disebuah penjual souvenir ia akan mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Memastikan baik baik bahwa tidak ada ancaman. Dan saat itu juga, ChanBaek dan Chen akan berkamuflase seperti seorang turis, membalikan badan mereka, bersembunyi dibalik orang lain dan semacamnya. Sementara Lay akan selalu salah fokus dan Baekhyun lah yang akan menariknya untuk bersembunyi. Dan saat Sehun sudah berjalan kembali dengan Luhan, keempatnya akan mengikuti sambil mengedarkan pandangan, bersiap jika ada yang menganggu acara kencan si maknae.
Semuanya baik baik saja sampai tiba tiba…
Lay menghilang.
Chanyeol, Baekhyun dan Chen awalnya tak begitu panik karena Lay adalah orang China, ia bisa bertanya dengan mudah. Tetapi bagaimana jika Sehun dan Luhan yang menemukan Lay lebih dulu? Nah itu baru masalah gawat.
Dan akhirnya, ChanBaekChen memutuskan untuk menyudahi pengintaian mereka dan mencari sang Hyung tercinta. Chanyeol mencoba menelfon Lay, namun ponsel hyungnya itu mati. Hebat sekali.
"aishh.. kalau tau begini, sebaiknya Lay hyung menunggu di dorm saja. ini salah mu Chen!" sembur Baekhyun
"yak! Kenapa salahku!"
"kau yang menyutujuinya ikut"
"tapi kau yang tadi sedang bersamanya! Mangapa kau bisa lupa 'menaruh'nya dimana"
"KAU PIKIR LAY HYUNG BARANG!" Chen dan Baekhyun terus saja berdebat. Sampai akhirnya Chanyeol menghentikan kedua pria pendek ini.
"Sudah hentikan! Ayo lebih baik kita cari hyung sebelum Suho menggantung kita." Ah iya benar juga, ChenBaek hampir lupa bahwa Suho akan murka jika mereka menghilangkan kekasihnya.
Lama sekali mereka mencari, tapi hasilnya nihil. Chanyeol, Baekhyun dan Chen memutuskan untuk kembali ke mobil mereka. Baru saja mau melangkah, mata ChanBaekChen terbelalak kaget begitu melihat Sehun dan Luhan sedang berada tak jauh dari mereka. Buru buru keduanya bersembunyi disebuah stand kosong dekat situ.
.
.
"ah, kurasa aku harus kembali sekarang." Kata Sehun sambil melihat jam tangannya. Luhan mengangguk mengerti. Yang lebih tinggi menghentikan langkahnya, membuat langkah Luhan juga terhenti.
"aku sangat senang hari ini. Terima kasih Luhan." Kata Sehun lembut sambil menatap Luhan dengan senyum khasnya.
"sama sama Sehun."
"maaf jika kita hanya bisa bersama sebentar."
"tak apa apa." Dan keduanya masih terpaku dengan senyuman masing masing.
"baiklah ayo kita pergi. Nanti kau terlambat" kata Luhan. Baru saja mau melangkahkan kakinya, Sehun meraih tangan Luhan. Yang lebih pendek menoleh, menatapnya bingung.
"Lu, Bolehkah aku menciummu?" Luhan kelabakan. "ditempat ramai begini?"
"hanya kecupan kilat." Pinta Sehun. Luhan mengangguk malu malu. Baru saja Sehun menangkup pipi Luhan dan bersiap menciumnya, tiba tiba suara berisik dibelakang menginterupsinya.
Sehun menoleh, mendapati kempat pria yang baru saja terjatuh saling tindih dijalan dengan seorang ibu ibu yang mengamuk dalam Bahasa China. Sehun menyipitkan matanya, mencoba melihat lebih jelas keempat pria yang terlihat familiar itu.
Semuanya menjadi jelas begitu keempat pria itu menengok kearahnya.
Hening beberapa saat.
"kami bisa jelaskan" kata Chanyeol. Dan suasana kembali mencekam.
Flashback:
Saat itu, ChanBaekChen sedang sibuk bersembunyi disebuah kios yang (mereka pikir kosong). Sampai tiba tiba suara yang mereka kenal menyapa telinga ketiganya.
"kalian sedang apa?" ChanBaekChen terlonjak kaget. Mereka menoleh dan mendapati Lay sedang berjongkok dibelakang dengan botol minum ditangannya.
" astaga Hyung! Kau membuatku kaget!" desis Baekhyun sambil mengusap dadanya
"kau darimana saja hyung?" tanya Chen mengintrogasi
"aku baru saja membeli minuman. Lalu aku lupa kalian dimana. Jadi aku berkeliling saja dulu. Omong omong kalian sedang apa disini?"
"lihatlah," sahut Chanyeol, sambil menunjuk Hunhan dengan dagunya.
Keempatnya masih memandang HunHan dengan seksama sampai sebuah suara asing menyapa telinga mereka. Suara wanita dengan Bahasa China. Lay menoleh, mencoba menjelaskan pada si wanita gemuk yang marah marah tapi tak didengar.
Lay terus terusan mencoba menjelaskan dengan Bahasa China, Chen meminta keduanya untuk memelankan suara mereka sementara Chanbaek menatap Chen-Lay vs Godzilla betina lalu HunHan secara bergantian.
Tiba tiba, wanita gemuk itu dengan mudah menarik mereka keluar dari stand miliknya, mengakibatkan keempatnya jatuh tertindih di jalan.
"appooo" "aishhh.." "ah.. ibu pemilik stand Itu galak sekali." "bokongku…" begitulah kira kira keluhan mereka. Sampai tiba tiba mereka baru menyadari keberadaan Sehun dan Luhan tak jauh dari situ. Sontak keempatnya menoleh dan menemukan Luhan yang membelalakan matanya serta Sehun yang…. Siap membunuh mereka.
"kami bisa jelaskan" hanya kata kata itulah yang meluncur dari mulut Chanyeol. Berharap kalimat tersebut bisa menyelamatkan hidupnya dari amukan sang maknae.
Flashback end.
Chanbaek, Chen dan Lay buru buru bangkit dan menghampiri mereka.
"Lu, kau pulanglah ke rumah. Aku akan pulang dengan mereka" kata Sehun sambil mencoba tersenyum. Luhan tersenyum mengerti. "tunjukan dimana kalian memarkir mobil. Aku ingin pulang" lanjut Sehun sambil menoleh dengan tatapan tajam pada Hyung hyungnya.
"a-ah I" Baekhyun gelagapan.
"sekarang Baekhyun hyung." Kata Sehun penuh penekanan.
"ba-baiklah. Kalau begitu kami permisi" dan Chanbaek, Chen dan Lay pun berpamitan. Kelima member EXO itu akhirnya pergi meninggalkan Luhan yang masih memandangi mereka.
Malas mengambil mobilnya di Mutianyu, Luhan memutuskan pulang dengan kendaraan umum dan membiarkan supir yang mengambil mobilnya.
ooo
"Hun.. mengertilah. Kami hanya ingin menjagamu. Kami tak mau kencanmu diganggu fans gila" kata Chanyeol menjelaskan sambil menyetir. Sesekali ia menatap sang maknae dari kaca spion tengah.
"tapi diganggu oleh Hyung gila" batin Sehun. Sehun hanya melipat tangannya di dada, menatap pemandangan diluar kaca mobilnya.
Ia harus menyusun sebuah rencana.
.
.
Kelima nya sampai di dorm, baru saja membuka pintu Sehun sudah melangkah besar besar kekamarnya.
"kau baik baik saja?" tanya Kyungsoo saat berpapasan dengan Sehun, namun si maknae hanya mengacuhkan hyungnya dan terus berjalan.
"dia.. ngambek?" gumam Kyungsoo. Kai yang sedang disampingnya langsung menoleh ke empat orang yang masuk tak lama setelah Sehun masuk.
"pasti tebakanku benar!" kata Kai sambil melipat tangannya di dada. Ia sudah paham sekali dengan apa yang terjadi. Dan benar saja saat makan malam, aura Sehun kembali dingin.
Terima kasih Chanyeol Baekhyun dan Chen. Kalian memperkeruh keadaan. Lay? Tidak. dia tidak salah. Lay terlalu polos untuk disalahkan.
ooo
Saat itu sudah jam makan malam, Luhan baru sampai di Mansionnya dan bargabung dengan Kris yang sudah lebih dulu duduk di meja makan.
"bagaimana keadaan kantor?"
"baik baik saja. aku tak sebodoh yang kau kira." Jawab Kris santai. Luhan mengangguk angguk. Para maid terlihat sedang hilir mudik menyiapkan berbagai macam makanan.
"lalu, kencanmu bagaimana?" Luhan terdiam. Mengingat kembali acara kencannya dengan Sehun barusan.
"begitulah." Kris mengernyit. Apa maksudnya?
"lalu? Kau sudah menentukan posisi mu?"
"posisi?"
"Uke atau seme." Luhan yang saat itu sedang minum sampai terbatuk batuk mendengar kata kata Kris barusan
"kan tujuan dari kencan ini untuk mencari tau bagaimana kau bersikap di dekatnya!" Kris memutar bola matanya malas. Astaga, dia tidak paham paham.
"soal itu…." Luhan menggantungkan kalimatnya, mengingat kembali kencannya barusan "aku rasa aku sudah tau Kris."
"aku juga sudah menebak itu ge. Sejak kau lahir aku sudah tau kau lebih condong kemana"
"hey bodoh. Bagaimana bisa itu terjadi! Kau adikku! Saat aku lahir, kau belum lahir!"
Oh iya, Kris lupa, si pendek ini adalah kakanya.
ooo
saat itu Luhan sedang sibuk diruangannya. Sampai telfon dimejanya berdering. Sekertarisnya baru saja mengatakan bahwa ada orang yang mencari Luhan. Namun bukan itu yang membuat Luhan heran, melainkan siapa orang yang dimaksud. Byun Baekhyun. Anggota EXO. Luhan mengernyit bingung. Namun tetap mempersilahkan Baekhyun untuk masuk.
"selamat siang Luhan-sshi. maksudku Luhan Hyung. Maaf menganggumu" kata Baekhyun ah sambil membungkuk sopan begitu dirinya sudah berhadapan dengan bos besar X.I itu.
"ah, ada apa Baekhyun-ah. Ada yang bisa kubantu?" Luhan mempersilahkan Baekhyun duduk. Pria yang lebih muda darinya itu duduk dengan kikuk.
"be-begini.. kami ingin mengajakmu makan malam hari ini didorm kami jika kau berkenan."
"makan malam?"
"i.. iya. Hari ini hari ulang tahun D.O! Ia akan masak banyak sekali makanan. Dan karena hyung sudah menjadi kekasih Sehun, hyung juga bagian dari kami, jadi.. apakah hyung bersedia datang?"
Luhan mengerjap ngerjapkan matanya. Apa ia tidak salah dengar? Luhan menimbang nimbang ajakan Baekhyun. Bukannya apa, tapi besok pagi sekali ia ada rapat penting dengan beberapa petinggi untuk project yang lain bersama Nona Chang. Kris tidak bisa menggantikannya karena ini bukan mengenai EXO.
Tapi melihat Baekhyun yang sedikit memohon ia jadi tidak tega. Mungkin berkunjung sebentar tidak apa apa.
"oke. Baiklah kalau begitu." Katanya kemudian. Baekhyun tersenyum yang terlihat sangat… lega?
"Kalau begitu aku permisi dulu. Terima kasih Luhan-hyung. Sampai jumpa nanti malam" kata Baekhyun lalu segera pamit keluar ruangan. Begitu pintu tertutup ia menghampiri Chanyeol yang sedang menunggu diluar.
"bagaimana?" tanya Chanyeol begitu melihat Baekhyun. "Satansoo pasti akan membunuhku" sahut Baekhyun masih terus berjalan dengan Chanyeol yang sedang mencoba mensejajarkan langkah mereka.
.
.
Flashback
Sudah malam saat itu di Dorm mereka. Sehun, yang tidur sendirian selama di China, sedang sibuk memikirkan sesuatu. Ia masih kesal dengan acara kencannya yang dirusak tadi (dan beberapa kali sebelumnya.)
Dengan sigap, ia segera bangkit dari kamar, menuju kamar hyungnya yang paling berisik. Begitu sampai di depan pintu kamar Chanbaek, Sehun tidak mengetuk lebih dulu dan langsung membuka pintu yang tidak terkunci itu begitu saja.
Memperlihatkan Chanyeol dan Baekhyun yang tengah dalam pergulatan panas mereka. Dengan posisi yang sangat (dari pandangan Sehun) menjijikan.
Baekhyun yang sedang mendesah hebat dengan mata terpejam saat Chanyeol menusuk holenya, buru buru membelalakan matanya begitu mendengar pintu menjeblak terbuka.
"YAKKKK!" teriak si paling pendek sambil menendang dada Chanyeol, membuatnya menjauh. Tak siap dengan tendangan itu si tinggi jatuh terjengkang dari kelabakan, lalu matanya menangkap keberadaan Sehun. Chanyeol terbelalak.
"SEDANG APA KAU DISINI?!" raung Chanyeol kesal. Baekhyun buru buru menarik selimut, sementara Chanyeol menutup kejantanannya dengan bantal.
"ku tunggu kalian di ruang TV." Sahut Sehun singkat lalu beranjak pergi. Menghilang dibalik dinding. Chanbaek yang masih membatu hanya melempar pandang heran. Tapi si maknae usil malah kembali lagi, mengusap ngusap dagunya seolah sedang menilai.
"punyamu besar juga Hyung." Katanya sambil tersenyum remeh. Lalu pergi begitu saja. Meninggalkan Chanbaek yang merona. Lalu terdengar teriakan dari keduanya.
Ahhh… indahnya balas dendam.
Chanyeol dan Baekhyun turun dengan enggan. Begitu mereka melangkah ke ruang TV, Chanyeol dan Baekhyun mendapati Sehun, Kai dan Kyungsoo yang sedang duduk. Tapi ada yang aneh, Kaisoo tampak….. kesal?
Pantas saja kesal, Sehun mengganggu Kaisoo yang sedang bermesraan di dapur. Kyungsoo saat itu sedang sibuk memberikan oral Sex pada Kai. pria itu hampir saja sampai pada klimaksnya tapi si albino gila ini malah memergokinya dan meminta mereka ke ruang TV segera. Yeah, Karma berlaku kawan.
"ah. Duduklah Hyung" kata Sehun santai begitu melihat Chanbaek, seolah ia tidak pernah mempergoki Hyungdeul sebelumnya. Chanbaek duduk didekat Kaisoo. Menghadap Sehun yang duduk sendirian, berlagak seperti bos besar.
"cepat katakan, ada apa!" kata Baekhyun gusar sambil memalingkan pandangannya. ia masih malu menatap maknaenya ini.
Sehun mendengus. "Kalian berhutang padaku."
"hutang? Apa maksudmu?" Chanyeol mengernyitkan dahinya bingung.
"kalian selalu saja mengganggu acara ku. Sebagai gantinya kalian harus membantuku."
"hey. Itukan salahmu sendiri! Kenapa selalu bermesraan ditempat umum. Kau tau tidak, aku bahkan takut ke kamar mandi beberapa hari terakhir karena terbayang bayang kenangan menjijikan itu!" Sembur Kai tak terima. Ia selalu punya kenangan buruk saat melihat kamar mandi. Dan semua itu karena Oh Sehun.
"NAH! Aku ingin mengajak Luhan ke tempat yang private. Aku ingin mengajak nya ke dorm. Dan kalian harus membantuku. Jangan sampai manager nim atau Suho-hyung mengganggu!"
"mwo?! Kau mau melakukan itu disini?! Kenapa tidak di hotel saja sih" "Sehun ini sudah gila rupanya" batin Baekhyun
"dengar ya hyungku yang cerewet, jika aku bisa aku pasti sudah melakukannya. Tapi Luhan orang terpandang di China, dan Aku juga masih diam diam berpacaran dengannya. Jika kami kehotel, pasti ada orang yang mengenali kami! Apa kau mau berita ini tersebar dan membuat gempar?!"
"dan bagaimana caranya tuan sok pintar?" desis Chanyeol tajam.
"entahlah.. kalian cari cara sendiri." Sehun mengangkat bahunya sambil melipat tangan di dada, tak peduli.
"SHIROOOO. AKU TIDAK MAUUUUUU" Kata Kai sebal. Ini semua bukan salahnya. Ia hanya terjebak dalam situasi tak menguntungkan (berkali kali.) mendengar Kai yang menolak, ketiga hyungnya menoleh tajam kearah Kai.
Awalnya Kai tak mengerti maksud dari hyungdeul itu, tapi Kai baru ingat. Sehun akan merengek jika permintaannya tidak di penuhi. Si maknae akan ngambek berhari hari dan itu bukanlah hal yang bagus. Baru saja Kai sadar, Sehun sudah berganti raut dan mulai…
"hyungdeull! Kalian harus membantukuuuuuu!jeballlllllll~~~" Rengek si Maknae yang semakin lama semakin kencang. Kyungsoo mendesah
"yasudah. Aku dengar manager nim akan pergi besok dari siang. Kami akan mencoba menggeret Luhan-hyung ke dorm besok." Kata si mata Belo itu kemudian. Mau tak mau ia menyanggupi permintaan maknaenya ini. Ia harus menyelamatkan gendang telinganya dari rengekan Sehun.
"ahhh! Gomawo Hyung! Kau terbaiiiiik!" Sehun bahagia sekali. memang Kyungsoo-hyung lah yang paling menyayanginya.
"jangan lupa beri tahu Chen-hyung juga ya, aku belum menemukannya" kata Sehun santai. Chen dan Minseok saat itu sedang pergi keluar. Beruntung sekali mereka.
Flashback end.
.
.
Chanyeol dan Baekhyun kembali dengan peralatan ulang tahun yang begitu banyak. Kaisoo yang sedang menunggunya mengernyit heran. Baekhyun pun menjelaskan mengapa ia membawa banyak peralatan ulang tahun. Ia reflek beralibi bahwa Kyungsoo sedang berulang tahun. Melenceng jauh dari rencana awal yang hanya mengajak Luhan untuk makan malam sementara Chen akan mengajak Suho(dan juga Lay, karena Suho tak akan mau pergi tanpa Lay) pergi berkeliling selama Sehun melakukan urusannya dengan pria malang itu.
"aku tak punya pilihan lain!" Baekhyun membela diri begitu melihat Kyungsoo memberikannya death glare yang menyeramkan. "aku akan menggorok leher si sipit ini nanti." Batinnya
.
.
Ruang makan dorm EXO saat itu menjadi sangat meriah dengan hiasan dimana mana. Balon, pita, tulisan selamat ulang tahun dan sebagainya. Sehun sedang mondar mandir menunggu Luhan, Chanyeol, Baekhyun, Kai, Chen dan Xiumin sedang sibuk menata semuanya. Sementara Kyungsoo sedang duduk dengan mahkota kertas di kepalanya. Kyungsoo menyumpahi Baekhyun di dalam hati, kenapa si sipit itu harus membeli peralatan ulang tahun kekanak kanakan seperti ini?!
Namun tuan Byun Baekhyun beralibi bahwa ini demi mendalami peran. Ya. Byun Baekhyun dengan Logika tololnya.
Tiba tiba, bel berbunyi, semua orang kecuali Kyungsoo menoleh kearah sumber suara. "biar aku saja." Kata Xiumin sambil berjalan kearah pintu.
"selamat malam." Sapa Luhan ramah sambil membawa bingkisan yang Xiumin tebak adalah sebuah kado.
"selamat malam Luhan-sshi. Silahkan masuk" kata XIumin dan tuan muda Xi itupun masuk.
"beberapa member kami sedang pergi karena ada keperluan mendesak." Kata Xiumin terpaksa berbohong, Luhan mengangguk angguk.
Dan akhirnya mereka pun sampai diruang makan yang berhias pita pita norak.
"ah.. D.O-ya, selamat ulang tahun." Kata Luhan sambil memberikan kado pada si orang yang (berpura pura) sedang ulang tahun. Kyungsoo meraih kado itu dengan kikuk.
"a-ah.. gomawo Luhan-hyung. Duduklah" kata D.O mencoba senormal mungkin.
Hening beberapa saat sampai akhirnya mereka memutuskan makan malam.
Rencana berjalan dengan lancar saat itu. Tapi, tiba tiba, suara pintu menjeblak terbuka membuat semua member menoleh panik. Luhan memandang mereka keheranan.
"astaga. Mereka seharusnya belum kembali" bisik Baekhyun pada Chanyeol. Chanyeol mengangguk cepat dengan ekspresi paniknya.
Suara langkah semakin terdengar menandakan si subjek sudah mendekat.
Jantung para member seolah melambat. Astaga, bagaimana jika manager-nim pulang, gagal sudah rencana Sehun.
Langkah semakin mendekat..
Dekat…
Dekat…
Dan…
Sesosok Lay baru saja tiba dengan tampang kagetnya, menatap ruang makan yang sangat ramai dan para member dengan pakaian rapih serta Luhan disana.
"a-ada apa ini?" Tanya si Unicorn polos. Keadaan masih hening.
"kenapa dia bisa disini?!" bisik Kai. Chanyeol menggeleng. Kenapa semua member suka berbisik padanya sih? Apa karena telinganya yang paling besar jadi dia bisa mendengar bisikan dengan jelas?!
"ah.. duduklah Lay-hyung. Kita sedang merayakan ulang tahun D.O. kau ingat kaaaaan?" kata Chanyeol kemudian dengan nada memberi kode. Lay mengerjap ngerjapkan matanya.
"begitukah?" sepertinya Lay tak sadar bahwa ulang tahun Kyungsoo sudah lewat 1 bulan yang lalu. Lay pun melangkah ke Kyungsoo "Waaah kalau begitu, selamat ulang tahun ya D.O. apa yang sedang kau inginkan? Aku akan memberikannya sebagai hadiah" lanjut Lay sangat ramah sambil memeluk Kyungsoo yang tak siap.
"bunuh Baekhyun. Itu yang kumau sebagai hadiahku" batin Kyungsoo. Namun si mata belo akhirnya mengatakan "terima kasih Hyung. Doamu saja sudah Cukup"
Lay melepaskan pelukannya, ia terdiam. Seolah sedang berfikir keras.
"tapi.. kenapa aku baru tau kau ulang tahun?" gumam Lay.
"ah. Mungkin kau lupa. Hehehe" sahut Xiumin mencoba menyelamatkan keadaan. "maafkan dia Luhan-sshi. Lay sangat pelupa" kata Xiumin kemudian pada Luhan. Ia tak sepenuhnya berbohong.
Makan malam pun kembali dilanjutkan.
Setelah suasana sudah kembali kondusif, Sehun memberikan kode pada Kyungsoo. yang langsung ditanggapi oleh si mata burung hantu itu
"oh iya, aku akan mengambil minuman." Kata Kyungsoo sambil melesat mengambil botol wine. Saat ia kembali dan menuangkan wine itu di gelas Luhan, dengan sengaja Kyungsoo sedikit menyenggol gelas itu sampai isinya tumpah dan mengenai baju Luhan
"astaga maafkan aku Luhan-hyung" kata Kyungsoo pura pura kaget. sementara Luhan yang tersentak hanya memundurkan dirinya. Kyungsoo mengambil tissue mencoba Membersihkan noda dibaju Luhan. Sehun yang duduk di samping Luhan ikut ikutan membantu.
"tak apa D.O. sudah lah." Kata Luhan meminta Kyungsoo untuk berhenti mengelap bajunya. Ia merasa tidak enak. "tapi ini salahku."
"tidak apa apa. Sudah lah." Kata Luhan bersungguh sungguh. Kyungsoo pun menghentikan gerakannya. "Lu, sebaiknya kau ganti baju. Nanti kau sakit." kata Sehun.
"ta-tapi. Aku tak bawa baju salin."
"kau bisa pakai bajuku." Luhan menimbang nimbang saran Sehun. Ia tak enak dengan member lain. "sudah tak apa, kajja" akhirnya Luhan pamit meninggalkan meja dan mengikuti Sehun keatas. Si pria bermata rusa tak tau bahwa ia baru saja masuk ke jebakan Sehun..
.
.
Warning: Content rated M
.
.
Sehun membuka pintu kamarnya, Luhan masuk lebih dulu, lalu Sehun menyusul. Si albino menutup pintu kamarnya lalu menguncinya. Bunyi pintu terkunci mencuri perhatian Luhan, si pria lebih pendek menoleh ke Sehun. "kenapa dikunci?" Tanya nya heran.
"kau tak mau kan Hyungku masuk saat kau ganti baju." Sahut Sehun santai sambil melipat tangannya di dada. Luhan mengangguk. Alasan yang logis. "bukalah bajumu, aku akan menyiapkan baju." Luhan mengalihkan pandangannya dari Sehun,mencoba menenangkan jantungnya yang mulai menggila. Membuka baju di depan Sehun, ditambah mereka ada dikamar sekarang membuat Luhan jadi teringat akan sesuatu.
Dengan Canggung pria itu membuka kancing dan melepaskan kemeja hingga tubuh nya topless. Sadar dengan sesuatu hal yang janggal, Luhan menoleh kembali ke Sehun. Pria itu belum juga beranjak.
"Hun? Katanya kau mau mengambil baju?" namun si albino hanya membatu sambil memandang Luhan intens. Luhan merasakan ada yang aneh dari tatapan itu. "Se-sehun, kau mau apa?" Tanya Luhan panik, begitu ia melihat Sehun berjalan mendekat kearahnya masih dengan tatapan yang tajam.
"aku mau dirimu." Katanya dengan suara berat menahan gairah. Dan dalam hitungan detik Sehun sudah maju dan melumat bibir Luhan dengan lembut. Luhan membelalakan matanya. Namun setelah beberapa pagutan, ia terhanyut dalam suasana.
Luhan membalas pagutan Sehun yang melumat lembut bibirnya. Lama kelamaan, lumatan Sehun menjadi lumatan menuntut. Ia memiringkan kepalanya mencari posisi terbaik untuk merasakan bibir manis Luhan.
Sehun memagut bibir Luhan dengan rakus. Pria itu bisa merasakan bibirnya basah dan menebal. Ciuman ini berbeda dengan ciuman mereka sebelumnya. ia bisa mengetahui bahwa Sehun benar benar bernafsu. Hal itu wajar mengingat Sehun selalu dibuat 'nanggung' jika sedang bersama Luhan.
Si maknae mengigit bibir Luhan, meminta izin yang kemudian direspon baik oleh sang pemilik bibir. Sehun memasukan lidahnya kemulut luhan, bertarung lidah beberapa saat, kemudian menariknya kembali.
Dengan tergesa Sehun mendorong Luhan hingga terjatuh diatas kasur. Si albino segera membuka kemejanya sendiri dengan cepat, lalu menindih dan kembali meraup bibir Luhan. Merasa tak puas, Sehun turun ke leher putih Luhan, mencium, menjilat dan menyesap sehingga meninggalkan Kiss mark yang pasti tak akan hilang dalam beberapa hari. Tubuhnya seolah bergerak sendiri begitu ia mengalungkan tangannya di leher Sehun dan menjambak pelan rambut si albino, menyalurkan rasa nikmat yang membuat kejantanannya menegang. Sehun? Jangan ditanya. Juniornya sudah bangkit sejak ia melihat Luhan telanjang dada
Sebuah lenguhan lolos dari bibir Luhan
"eunghh." Mendengar itu Sehun semakin gencar melakukan serangannya. Jantung Luhan berdegub cepat. Astaga! Apa yang Sehun lakukan padanya?
Bibir Sehun turun ke dada Luhan, meraup nipple Luhan yang menggoda. Menyesapnya bagai bayi yang kelaparan.
"ssshh.."
"eummm"
Setelah selesai dengan breast feeding, Sehun bangun dan melepas celana Luhan sampai underwearnya. Ia melemparkan begitu saja kain yang menutupi kejantanan mungil Luhan yang menegang. Sehun menatap Luhan sambil melemparkan smirk yang membuat si pria bermata rusa merona.
Dalam hitungan detik Sehun mengulum junior Luhan, membuatnya bergerak gelisah.
"ahhhh… eghh… faster" oke, permintaan Luhan adalah titah baginya. Sehun memaju mundurkan kepalanya dengan cepat, mengulum penis Luhan dengan Khusyuk. Sesuatu membuat perutnya tergelitik. Beberapa menit berlalu dengan kuluman Sehun yang begitu bersemangat, Luhan menyemburkan spermanya kedalam mulut Sehun yang langsung ditelan oleh pria itu.
Luhan terduduk. Ia tau apa selanjutnya. Sehun menurunkan celananya dengan terburu, lalu mendekatkan juniornya ke wajah Luhan. Pria itu sempat terbelalak melihat ukuran penis Sehun yang (ia pikir) semakin membesar.
"come on Lu." Desis Sehun penuh gairah. Luhan memasukan penis Sehun dan mengulumnya, penis itu penuh sekali di mulut Luhan. Ia bahkan tersedak beberapa kali namun ia tahan.
"arghhh! Deeper baby" racau Sehun sambil menghentakkan pinggulnya agar juniornya semakin masuk kedalam. Mata Luhan berair. Sial! Kenapa miliknya bisa sebesar ini.
"ahhhh" Luhan terus saja mengulum penis Sehun, mendengar Sehun meracau penuh nikmat membuatnya senang. Ia pun semakin bersemangat untuk menghisap lebih dalam. Beberapa kuluman sampai akhirnya sperma menyembur di mulut Luhan.
Keduanya terengah.
Sehun meraih tangan Luhan, memintanya untuk duduk mendekat dan menatap kedua matanya.
"Lu. Aku ingin melakukan itu jika kau mengizinkanku" kata Sehun sambil menahan nafsu nya yang sudah diubun ubun. Luhan tertunduk malu. Sehun bahkan meminta izin padanya. Ia benar benar menginginkan hal itu.
"aku ingin memasukimu Lu" jelas Sehun. Tak ingin Luhan menolak seperti waktu itu hanya karena ia pikir dirinya lah yang seharusnya memasuki.
Anggukan samar pun menjadi jawaban dari Luhan. Sehun diam, menunggu Luhan benar benar mengizinkannya. "lakukanlah. Aku milikmu"
Dan jawaban itu membuat Sehun tersenyum senang. Tanpa ba bi bu lagi, Sehun menarik Luhan, meminta pria itu memeluknya.
"tahanlah." Bisik Sehun sambil sedikit mengangkat pinggul Luhan. Luhan mengeratkan pelukannya di leher Sehun, sampai sesuatu melesak masuk ke hole nya yang belum pernah tersentuh. Luhan memekik kesakitan.
Sehun memasukan jarinya ke Hole Luhan, mencari titik kenikmatan laki laki itu. Terus begitu sampai ia mendengar pekikan Luhan menjadi sebuah desahan. Begitu ia menyentuh sesuatu yang ia cari, lenguhan Luhan semakin jelas terdengar.
"aaah~~" Sehun tersenyum.
Si albino melepaskan pelukannya. "berbaliklah." Luhan menurut. Sehun meminta Luhan untuk menungging. Luhan sudah tau apa yang akan terjadi setelah ini. Sehun meraih sebuah botol dibawah tempat tidurnya. Cairan pelumas yang sudah ia siapkan tadi siang.
Dengan sigap ia membuka tutupnya, menuangkan ke tangannya lalu ia gosokan ke batang penisnya. Sehun mengocok penisnya pelan. Saat si kebanggan sudah mengeras dan siap, ia mendekatkan dirinya pada bokong Luhan.
"bersiaplah" katanya pelan. Luhan meremas seprai Sehun, ia memejamkan matanya rapat rapat, menunggu sesuatu yang ia tau pasti.
Dan terjadilah.
"arghh. Sakit Hun" kata Luhan dengan mata sedikit berkaca kaca. Ini jauh lebih sakit dari jari Sehun tadi. Penis Sehun sangat besar, merobek hole nya begitu saja. Perih sekali. namun membuat dirinya merasa lengkap disaat yang sama.
"tahan sayang" Sehun berucap pelan sambil melesakan penis nya semakin dalam. Luhan mengigit bibirnya. Ini sangat sakit. dengan perlahan, Sehun menggerak gerakan pinggulnya. Memaju mundurkan penis nya di dalam Hole Luhan.
"shhhh ini nikmat Lu." Dan si albino itu semakin cepat menusuk nusukan penisnya di Hole Luhan. Rasa sakit yang dirasa Luhan perlahan menghilang berganti dengan rasa nikmat yang tak dapat dijabarkan.
"eumm… ah.. Sehun…"
"yes. Call my name baby"
"Sehun.. fa-faster" Sehun menusuk nusukan penis nya lebih cepat. Membuat ranjang mereka berderit. suara kecepak antara kulit dengan kulit menghiasi kegiatan panas mereka.
"ahh~ ahhh ~" Luhan semakin meracau tak jelas. Sementara Sehun menggeram penuh nafsu. Keringat membanjiri tubuh mereka. begitu terus sampai Luhan merasakan sesuatu akan meledak dalam dirinya.
"Se-Sehun.. ah-aku mau ke.. keluar" dan di detik kemudian, sperma Luhan menyembur ke kasur sang Seme. Tak Lama Sehun pun menjemput klimaksnya dengan menyemburkan miliknya ke dalam hole Luhan.
Keduanya terengah. Sehun menarik badannya, melepaskan tautan intim mereka berdua. Ia menarik Luhan untuk duduk di dekatnya. Si albino menatap Luhan yang kelelahan. Ia mengusap keringat di dahi Luhan sambil tersenyum tampan.
"gomawo Lu. Saranghae" kata Sehun lembut lalu mengecup kening Luhan. Membawanya untuk berbaring diatas kasur.
"wo ai ni. Oh Sehun" sahut Luhan dan keduanya pun terlelap, tak perduli dengan bekas sperma dari pergulatan panas mereka yang mulai mengering. Sehun lelah, Luhan juga. dan menghabiskan malam diranjang yang sama sambil berpelukan merupakan hal indah untuk menutup hari mereka yang melelahkan.
ooo
Di lantai bawah Kyungsoo, Kai, Chanyeol, Baekhyun, Xiumin dan Lay yang dari tadi ditinggal Sehun hanya bisa mendengar desahan Luhan sambil memakan makanan sisa "acara ulang tahun Kyungsoo" dalam diam.
Xiumin tampak kikuk, Lay tidak perduli (atau mungkin tidak sadar?) sementara Chanyeol dan Kai mulai gelisah, mereka sudah menempeli uke mereka, meminta untuk kembali kekamar dan menagih jatahnya. Namun Baek-Soo menggeleng tegas. Mereka harus mengawasi kalau kalau Manager-nim dan Suho pulang.
Chan-Kai hanya mempoutkan bibirnya dan mendesah pasrah.
Tiba tiba.. ada hal janggal yang terbesit di benak mereka.
"oh iya Hyung… kok kau pulang duluan?" Tanya Kyungsoo. Xiumin tersentak. Ia juga baru sadar kenapa Lay bisa pulang duluan.
Yang ditanya hanya mengerjap ngerjapkan matanya tak mengerti.
"Lay, kau seharusnya bersama Chen dan Suho kan. Dimana mereka?" Tanya Xiumin heran. Lay menepuk jidatnya, ia baru menyadari sesuatu.
"aigooo~ aku lupa aku pergi dengan mereka." para member menatap Lay tak percaya.
"astaga. Hyung meninggalkan mereka?"
"mereka pasti mengkhawatirkan hyung!"
Xiumin memijit pelipisnya sambil menghela nafas. Apakah tidak ada satupun dongsaengnya yang waras? "yasudah aku akan mengabari Chen dulu" kata Xiumin bersiap menelfon. Tapi Chanbaek langsung menggeleng cepat. Memberikan tatapan "kalau kau bilang nanti Suho pulang!"
Xiumin mendesah. "tapi jika tidak dikabari, mereka tidak akan pulang. Kau tau sendiri bagaimana Suho jika Lay hilang" bisik Xiumin. Chanbaek menghela nafasnya. Ia tak bisa membantu Sehun lebih jauh. Berdoa saja Suho tidak memergoki mereka.
Xiumin meraih ponselnya dan segera menelfon kekasih trollnya itu.
"yeobo-"
"minseokkie! Gawat! Lay hilang! aku sudah menelfon nya tapi ponselnya tak aktif. Astaga, bagaimana ini." Sembur Chen panik begitu panggilan baru diangkat.
"Lay ada dirumah."
"m-mwo?!"
"iya… dia pulang sendiri."
"lalu Sehun bagaimana?"
Xiumin memutar bola matanya "jangan ditanya. Dia baik baik saja. Jauh lebih dari baik baik saja malah."
"astaga! Dia enak enakan disana sementara aku harus menghadapi Suho yang sudah mulai menggila! Ia menangis tak karuan! Dia pikir Lay kabur darinya dan pulang kerumah. Meninggalkan EXO begitu saja."
Si pipi bakpau terkekeh. Bagaimana bisa Suho berfikir seperti itu. "yasudah. Bersabarlah. Kau hati hati disana Jongdae. Jangan pulang larut. Ku tutup duluya. Sampai jumpa dirumah."
"sampai jumpa dirumah, saranghae"
Dan panggilan pun ditutup.
ooo
Luhan beruntung. Malam itu, Suho yang baru pulang terlalu lelah untuk menyapa semua member. Ia langsung bergegas ke kamar Lay dan memeluki lelaki itu yang sedang tertidur pulas. Sementara manager-nim harus bertolak ke Korea karena ada keperluan mendesak.
Pagi pagi sekali, Sehun mengantar Luhan pulang ke mansionnya. Kris yang tidak bertemu kakaknya semalaman mengintrogasi pria itu begitu mereka bertemu di kantor. Namun cengiran aneh Luhan menjelaskan apa yang terjadi semalam. Seketika Kris memandang Luhan dengan tatapan jijik, horror namun bahagia.
Karena apa yang membuat Luhan bahagia, ia juga bahagia (kecuali jika hal itu ada hubungannya dengan mengusili Kris.)
Beberapa bulan berlalu. Sehun dan Luhan akan menyempatkan makan bersama disela sela kesibukan mereka. sesekali jika Luhan sanggup ia akan datang ke perform artisnya yang diselenggarakan di segala penjuru China dan beberapa Negara tetangga. Dan saat EXO tampil ia akan menari nari sambil bernyanyi dibelakang panggung dengan Kris.
Orang orang hanya menganggap itu bentuk support dari boss kepada bawahannya. Tak berfikiran bahwa Luhan sedang menjalin hubungan dengan salah sati artisnya
.
.
Hari itu, Tuan Xi Huizhong, ayah Luhan, baru kembali dari Jepang. Luhan, Kris, Nona Chang dan penanggung jawab yang lain memiliki jadwal rapat dengan Tuan besar Xi. Membahas perkembangan project dengan S.M ent ini.
"dengar. Kau harus profesional Kris. Ayah yang kau temui di ruang rapat bukan ayah saat dirumah. Jadi jaga sikapmu" kata Luhan mengingati begitu sang Xi bersaudara sedang berjalan tergesa di koridor kantor, bersiap menuju ruangan dimana rapat penting akan digelar. Kris mengangguk mengerti.
Luhan, Kris, Nona Chang dan penanggung jawab yang lain duduk berdekatan. Tak lama tuan besar Xi masuk dengan karismanya, diikuti oleh sekertarisnya dan bawahannya yang lain.
Rapat pun berlangsung. Tuan Xi melempar pertanyaan mendetail ke Luhan selaku penanggung jawab utama dan Kris (yang oleh Luhan diangkat) sebagai representatif Luhan. Tuan Xi membaca berkas di depannya dengan seksama.
"baiklah. Aku cukup puas dengan progress ini. Segera atur jadwal untuk pertemuan dengan pihak S.M dengan agenda pembahasan penggabungan perusahaan. X.I dan S.M sudah merencanakan ini jauh hari. Aku tak mau waktu semakin terbuang" titah tuan besar Xi. Yang lainnya mengangguk patuh.
"kalau begitu. Rapat cukup sampai disini. Terima kasih atas waktunya."
"dan… Luhan. Bisakah aku bicara berdua denganmu?" lanjut Tuan Xi. Kris mengernyit heran. Namun ia tak begitu peduli, Luhan memang selalu mendampingi ayahnya dalam urusan kerja.
"baik tuan." Sahut Luhan.
Para peserta rapat pun membungkuk hormat dan segera pamit keluar ruangan. Meninggalkan ayah dan anak itu berdua.
Tuan Xi menyenderkan badannya ke kursi, menatap Luhan sambil tersenyum kecil.
"apakah kau masih ingat kenapa S.M mengajukan kerjasama dengan kita? Ayah pernah memberi tahumu."
"masih ingat ayah. Saham S.M terancam menurun drastis. Banyak skandal dan berita miring tentang perusahaan yang muncul ke permukaan. Namun, kemampuan artis mereka tak diragukan lagi. Itulah sebabnya ayah menyetujui untuk bergabung dengan S.M. menyelamatkan talenta talenta tersebut."
Tuan Xi mengangguk angguk, "betul. Kau tentu tau bagaimana dunia entertainment diluar sana kan Luhan? Ayah ingin Xi tetap dengan prinsip nya. profesional dan jujur. Hal itulah yang akan kita tanamkan pada artis artis kita. Memberikan fasilitas sesuai dengan apa yang mereka hasilkan tanpa mengeksploitasi mereka."
Luhan mendengarkan penjelasan ayahnya baik baik. Ia sudah tau bagaimana perusahaannya. Untuk apa sang ayah memberi tahunya lagi?
"Luhan. Ayah minta, kau terus ingat itu. Tetaplah profesional." Kata tuan Xi serius sekali.
"baik ayah." Luhan menatap wajah ayahnya sambil tersenyum. Meyakinkan bahwa semua baik baik saja, meskipun hatinya merasa sedikit bersalah.
"kalau begitu,kembali lah, adikmu pasti sedang menggoda artis artis baru sekarang"
"baiklah kalau begitu. Aku permisi ayah." Baru saja berjalan beberapa langkah, suara Tuan Xi terdengar kembali.
"Luhan?" Luhan membalikan badannya. Menunggu kalimat selanjutnya yang ingin dikatakan sang ayah.
"ayah percaya padamu"
Dan Luhan pun membalas dengan senyuman lalu beranjak pergi. Tanpa menyadari sang ayah menatap lekat lekat punggungnya yang mulai menjauh.
.
.
.
TBC
A/N:
Halooooo. Maaf aku baru bisa update heheheh.
Untuk adegan di tembok China aku ga begitu paham soal gate nya jadi mohon maklum ya Chingudeul, aku ngarang aja sih soal ada penjual disana. Abis aku belum pernah kesana (mungkin kalian mau ngajak aku? Huehehee)
Humor akan berkurang perlahan karena sudah mulai masuk ke konflik. Dan soal s.m yang banyak skandal blab la bla. Aku bukannya mau ngejatuhin, ini murni hanya untuk keperluan cerita.
Kenapa aku kadang manggil D.O kadang Kyungsoo. Kyungsoo hanya untuk narasi dan panggilan sesame member, sementara member menyebut nama D.O jika sedang bersama orang lain (kalo ketuker tuker, ya maap aku bikinnya sehari doang ni:" ga sempet edit. Buru buru)
Adegan NC kurang hot? Mian.. ff ini rate nya T, bukan itu yang akan aku tonjolin.
TAPI AKU BARU UPDATE FF HUNHAN RATE M LOOOH. Silahkan di check chingu, SEXY LU. (review jangan lupa ya)
Sekali lagi maaf kalau ga sempurna, byk typo dan semacamnya. Terima kasih udah baca. Jangan lupa reviewnya. Kalau bisa kasih pendapat ya Chingu atau masukan atau request (?) karena kalau Cuma 'next' aku bingung kalian suka atau engga ._.
Hehe kalau begitu, terima kasih. Gomawo:*
Yehet!
-moza:*
