Warning : Mature Contents. OOC.
.
.
[Ino]
Aku melihat Sakura keluar dari kamarnya pagi ini lengkap dengan mantel panjang dan mengenakan topi rajutnya yang menutupi sebagian rambut sebahunya. Dia tidak menatapku dan hanya melewatiku yang sedang duduk di ruang tengah sambil menikmati kopi pagiku. Aku mengernyitkan dahi menatapnya.
"Sakura? Mau ke mana?" tanyaku bingung.
Sakura berhenti dengan sikap kaku dan hanya menatapku dengan tatapan dingin. Aku semakin mengernyitkan dahi menatapnya.
"Aku akan pulang ke Jepang hari ini..." katanya singkat.
"Oh? Kenapa mendadak sekali?" tanyaku kaget sekaligus heran.
"Urusanku sudah selesai.." jawab Sakura seraya berlalu dan masuk ke kamar mandi.
Aku terdiam untuk beberapa saat sambil mengerjapkan mata berkali-kali. Sakura agak berubah dua hari ini. Dia menjadi lebih diam dan banyak mengurung diri di kamar. Tentu saja itu aneh. Sakura tidak pernah betah tinggal lama dalam satu waktu apalagi mengurung diri di kamar. Jadi menurutku aneh sekali kalau tiba-tiba dia bersikap seperti ini padaku. Apa dia marah padaku karena aku tidak pulang dan lupa meninggalkan kunci apartemen dua hari yang lalu? Tapi Sakura juga baru muncul setelah aku sudah membersihkan apartemen pagi harinya, dan dia muncul dengan wajah pucat dan sudah menatapku dengan pandangan dingin yang seolah menatapku seperti orang asing. Aku bahkan tidak berani bertanya dari mana dia malam sebelumnya. Sakura langsung masuk kamarnya dan tidak keluar sampai makan malam.
Dan wajar saja kalau aku kaget dan luar biasa heran kalau hari ini dia tiba-tiba bilang akan pulang ke Jepang dengan ekspresi wajah datar. Karena setahuku, dia belum menyelesaikan laporannya. Aneh 'kan?
Sakuraa keluar dari kamar mandi beberapa saat kemudian, dan aku segera meneguk kopi di cangkirku dan bersikap seolah semua normal seperti biasanya. Sakura tidak menyapaku dan hanya berjalan melewatiku sebelum akhirnya masuk ke kamarnya lagi.
Ponselku yang sejak tadi tergeletak di atas meja kerjaku tiba-tiba berbunyi dengan keras dan membuatku sedikit terlonjak. Aku tidak tahu kenapa aku harus terlonjak dan merasa kaget dengan tiba-tiba, tapi mungkin hanya perasaanku saja.. sikap Sakura yang dingin itu membawa suasana hening yang ganjil sejak dua hari yang lalu.
Aku bangkit dari dudukku dan segera mengangkat ponsel yang berdering makin keras itu. Aku tahu dari siapa telepon itu. Suara dering khusus untuk panggilan dari Sai.
"Hallo, Sai-kun. Ada apa?" tanyaku tanpa basa basi.
"Ino.. Bisa kau ke sini sebentar?" suara Sai terdengar aneh.
"Kenapa?" tanyaku penasaran.
"Begini.. Aku tidak tahu kenapa dia tiba-tiba ke sini. Tapi aku tidak tahu caranya mengatasi seorang gadis yang menangis. Bisakah kau ke sini sekarang?" tanya Sai dengan nada tidak sabar.
"Apa maksudmu? Gadis yang menangis siapa?" aku bertanya dengan nada agak sinis.
"Hei! Jangan marah dulu.. Gadis ini, Park Yoo Ri. Dia tiba-tiba menghubungiku dan menangis di depanku. Aku tidak tahu apa masalahnya.. Tapi dia bilang, sepertinya Sasuke sedang ada masalah serius," kata Sai.
Aku mengerutkan kening heran.
"Oh.. Baiklah.. Tapi, ada apa dengan Sasuke-kun?" tanyaku mulai penasaran.
"Aku juga tidak tahu. Kau cepat ke sini.. Aku tidak paham apa yang dikatakan gadis ini," kata Sai.
"Iya, iya.. Aku akan segera ke sana..." kataku. Aku menutup teleponku dan segera mengambil jaketku.
Sesaat aku menatap pintu kamar Sakura yang tertutup rapat. Ada perasaan ragu untuk meninggalkan Sakura tanpa memberitahunya. Ah, tapi memberitahunya pun sepertinya hanya akan ditanggapi dengan sikap dingin. Jadi, aku segera keluar dari apartemen setelah memakai mantel dan menyambar tas berpergianku yang masih tergeletak di kursi kerjaku.
.
.
.
Sendai. Jepang. Jaman Edo.
Sakura menatap keluar jendela untuk beberapa saat sebelum dia menutup jendela kamarnya dengan berat hati. Salju turun agak lebat malam ini dan membuat jalanan setapak di samping kamarnya dipenuhi dengan salju yang menumpuk. Hutan di seberang kamarnya kelihatan kering dan mencekam, karena pepohonnya belum ditumbuhi daun sejak musim gugur dan menyisakan ranting-ranting yang mencuat ke segala arah. Salju menumpuk di masing-masing ranting dan membuat suasana hutan itu terkesan semakin dingin dan mencekam. Sakura menghela napas panjang. Dia lalu menutup jendela kamarnya dan suasana kamarnya yang hangat kembali menyelimutinya. Sekali lagi dia menghela napas panjang sebelum beranjak ke tempat tidur. Dua pelayan wanita yang merapikan tempat tidurnya langsung menyingkir saat Sakura berjalan ke tempat tidur berkelambu itu.
"Tempat tidurnya sudah selesai, Nona.." ujar salah satu pelayan yang kelihatannya lebih muda dari Sakura. Sakura menatap gadis itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Dia akan mengorbankan apapun yang dimilikinya kalau dia bisa bertukar posisi dengan gadis ini saat ini.
"Tuan Muda Hyuuga akan segera kemari..." kata gadis itu seraya membungkukkan badan untuk undur diri. Sakura ingin menahannya dan memintanya untuk tinggal di sini menemaninya. Tapi itu tidak mungkin.
Ini bukan rumah keluarga Senju, di mana dia bisa meminta apa saja para pelayan. Ini adalah rumah keluarga Hyuuga. Sakura memejamkan mata seraya menghela napas panjang.
Dia lelah sekali setelah melakukan upacara panjang di hari pernikahannya dengan anak sulung keluarga Hyuuga seharian ini. Bukan ini yang dia inginkan. Dia tidak pernah menginginkan pernikahan ini. Walaupun Hyuuga Neji adalah pemuda yang menarik dan menjadi idaman banyak gadis di kota ini, tapi Sakura bukanlah salah satu gadis yang mengidolakannya. Dia tidak mencintainya. Dia mencintai orang lain yang sekarang berada jauh darinya.
Sakura menunduk, menatap kedua tangannya yang kini menggenggam yukatanya dengan erat. Ada sesuatu yang mengganjal tenggorokannya yang rasanya sakit sekali. Bahkan untuk sekedar menarik napas saja rasanya sulit sekali. Bayangan wajah Sasuke memenuhi kepalanya saat ini. Berbagai pertanyaan memenuhi pikirannya saat ini. Sedang apa Sasuke saat ini? Apa surat yang dia titipkan pada Kabuto kemarin sampai padanya? Hah.. Tapi mengingat salju yang turun terus menerus beberapa hari ini, rasanya tidak mungkin. Sakura kembali membuang napas dengan berat.
Terdengar ketukan pelan di pintu kamarnya dan suara seorang pemuda terdengar setelah itu.
"Sakura-san, aku masuk.."
Sakura membeku di tempatnya. Dia menatap jendela kamarnya dengan ragu. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa aku harus kabur sekarang? Oh, tidak... batinnya mulai bergejolak tidak karuan.
Pintu terbuka dan seorang pemuda bertubuh tinggi masuk ke kamarnya dengan sebuah senyuman mengembang di wajahnya. Rambut hitam panjangnya yang tadi digelung rapi ke atas sekarang sudah dibiarkan tergerai begitu saja. Mata lavendernya menatap Sakura dengan tatapan lembut. Sakura mengangguk membalas tersenyum dengan senyuman tipis. Pemuda Hyuuga bernama Neji yang sekarang sudah menjadi suaminya ini hanya menatapnya dengan tatapan lembut. Dia lalu duduk di samping Sakura dan itu semakin membuat Sakura membeku di tempatnya.
"Ada apa, Sakura-san? Apa kau sakit?" tanya Neji lembut.
"Eh? Tid-tidak..." jawab Sakura kikuk.
"Lalu? Kenapa kau pucat? Apa kau kelelahan karena upacaranya sepanjang hari?" tanya Neji lagi. Dia menatap Sakura dengan tatapan cemas. Gadis itu mengangguk pelan.
"Ah.. Mungkin.. Iya.." jawab Sakura ragu.
"Ah, aku mengerti... Tapi, kau tidak lelah 'kan untuk malam ini?" tanya Neji lagi.
"Eh?" Sakura menatap Neji dengan tatapan penuh tanya.
"Bukankah kita sudah menjadi suami istri? Ya.. Kau tahu.. Apa yang dilakukan suami istri setelah upacara pernikahan selesai.. Tanda kalau kita sudah jadi pasangan suami istri.." jawab Neji.
Sakura mulai mengerti dan dia menelan ludah dengan susah payah.
"T-tunggu, Neji-san.. Begini.. Aku rasa tidak bisa sekarang," sahut Sakura cepat-cepat.
Neji menatapnya penuh tanya.
"Maaf.. Tapi aku sedang.. Kau tahu, urusan perempuan setiap bulan.." jawab Sakura cepat-cepat. Dia melempar senyum minta maaf kepada Neji.
Ada segurat kekecewaan di wajah Neji. Tapi dia berusaha menyembunyikannya. Dan itu membuat Sakura sedikit merasa bersalah. Karena dia telah berbohong pada pemuda baik hati ini. Tapi bagaimanapun juga, Sakura sama sekali tidak menaruh rasa apapun padanya.
Neji berdiri dari tempatnya dan dia menatap Sakura untuk beberapa saat.
"Aku rasa kau mungkin kelelahan. Istirahatlah.." ujar Neji dengan lembut. Dia menunduk dan mengecup kening Sakura untuk sesaat sebelum akhirnya berjalan keluar dari kamar Sakura. Setelah pintu tertutup dan Sakura memastikan Neji sudah menjauh dari kamarnya, baru dia bisa bernapas lega.
Kali ini mungkin dia bisa bernapas lega, tapi dia tidak bisa selamanya membohongi Neji seperti ini terus. Lama kelamaan, lambat laun dia harus membiasakan diri untuk membaur dengan kehidupan di sini dan menjadi salah satu keluarga ini. Dan tentu saja.. melupakan Sasuke.
Sakura mengusap wajahnya dengan frustasi. Meminta kamar sendiri dan harus menghadap ke hutan ini saja sudah membuat banyak orang curiga, apalagi kalau dia harus menjauh dari Neji terus menerus. Apa sampai di sini saja? Apa memang dia harus menyerah sampai di sini? Tidak bisa begini terus menerus.
Sebuah suara ketukan pelan membuat tubuhnya membeku untuk beberapa saat. Sakura diam tak bergerak. Lalu dia mendengar lagi, sebuah ketukan pelan, tiga kali.. Bukan berasal dari pintu kamarnya. Tapi dari jendela kamarnya. Sakura mengenal nada ketukan ini. Lalu terdengar lagi. Kali ini lebih keras.
Sakura segera beranjak dari tempatnya dan dengan langkah tergesa dia berjalan menuju jendela kamarnnya. Dadanya mulai berdegup tidak karuan dan dia membuka pengganjal jendelanya dengan tidak sabar. Jendelanya terbuka lebar dan udara dingin yang menusuk tulang mulai menampar pipinya saat dia membuka jendela kamarnya. Sakura tersenyum samar saat dia melihat sosok tinggi yang sangat dikenalnya berdiri tepat di samping jendelanya. Wajahnya tertutup kain hitam panjang yang menutupi sebagian tubuhnya. Tapi Sakura sangat mengenalinya.
"Kau datang?" tanyanya. Sosok itu menurunkan tudung kepalanya dan wajah Sasuke yang putih pucat langsung menyambutnya dengan senyum tipisnya.
"Boleh aku masuk, Nyonya Hyuuga?" tanya Sasuke sopan.
"Kalau kau memanggilku dengan panggilan itu sekali lagi, aku tidak akan membukakan jendela ini untukmu," kata Sakura kesal. Dia mundur ke belakang dan membiarkan Sasuke masuk ke kamarnya sebelum akhirnya dia menutup lagi jendela di belakangnya.
Ruangan itu menjadi hangat dan sedikit hening saat Sakura menutup jendela kamarnya. Tidak ada yang bicara di antara mereka, dan bahkan Sasuke masih membelakangi Sakura untuk beberapa saat sebelum akhirnya memberanikan diri bertatapan dengan Sakura.
"Jadi.. Kenapa kau ingin aku menemuimu malam ini, Sakura?" tanya Sasuke kemudian.
Sakura tidak menatapnya. Dia hanya menatap jendela kamarnya yang sudah tertutup dan tidak berani menatap laki-laki di depannya ini.
"Apa tidak boleh?" tanya Sakura ragu-ragu.
"Bukan begitu.. Tapi kau sudah menikah. Dan tidak pantas untukku..."
"Aku tidak peduli!" potong Sakura cepat-cepat. Dia sendiri kaget dengan suaranya yang menjadi sekeras itu. Tapi dia sudah menahan dirinya sendiri selama beberapa hari ini.
Sasuke menatap Sakura kaget. Ada sebuah ketegasan di mata gadis di depannya ini. Antara sebuah ketegasan dan sebuah keputus asaan yang bercampur jadi satu.
"Sakura..." Sasuke tidak melanjutkan kata-katanya.
"Aku tidak pernah menginginkan ini. Kau tahu itu.. Aku tidak bisa memilih. Dan harus tetap seperti ini..." ujar Sakura putus asa. Dia menahan segala luka yang kini bercokol di tenggorokannya.
Sasuke tidak berkata apa-apa.
"Kau sendiri yang bilang 'kan? Aku milikmu.. Kau ingat itu? Aku sudah menjadi milikmu. Dan akan tetap seperti itu. Katakan seperti itu sekali lagi, Sasuke.." kata Sakura dengan pandangan memohon ke arah Sasuke. Laki-laki itu balas menatap Sakura iba. Sasuke tidak bisa mengelak kalau beberapa hari ini hanya gadis ini yang memenuhi pikirannya, dan hatinya sangat terluka saat tahu kalau pernikahannya dengan anak saudagar itu tetap dilaksanakan.
Dia menatap Sakura lekat. Gadis itu sudah berani menatapnya sekarang. Dan untuk sesaat mata mereka saling bertatapan satu sama lain tanpa ada satu pun kata yang terlontar. Sasuke merasa ada sesuatu yang berdentum-dentum dengan keras dalam dirinya saat melihat Sakura menatapnya dengan tatapan lembut seperti itu. Dia tahu dia seharusnya tidak boleh melakukan ini. Sakura sudah menjadi milik orang lain sekarang. Tapi dia tidak bisa mengabaikan perasaannya yang mulai menguasai dirinya saat ini.
Sasuke mendekati Sakura dan hampir memeluk tubuh gadis itu saat dia menyadari sesuatu dan langsung mengurungkan niatnya.
"Kenapa?" Sakura bertanya padanya.
"Kau sudah jadi istri orang lain.." jawab Sasuke kemudian.
"Itu benar. Tapi perasaanku tetap sama. Kalau aku masih mencintaimu. Dan tidak ada yang bisa menggantikannya.." kata Sakura.
Sasuke menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya benar-benar merengkuh tubuh gadis itu dengan erat seolah tidak ingin melepaskannya. Dia memang tidak bisa membohongi perasaannya kalau dia sangat mencintai gadis itu, apapun yang terjadi. Sakura ikut melingkarkan kedua tangannya mengelilingi tubuh laki-laki itu dengan erat.
Sasuke kemudian meraih wajah Sakura untuk mencium bibir gadis itu sebelum dia menyadari sesuatu. Sasuke menahan keinginannya dan hanya menatap Sakura tanpa mengatakan apa-apa. Dia tidak bisa melakukan ini.
"Kenapa?" tanya Sakura lembut.
Sasuke tidak menjawab. Dia menghindari tatapan mata Sakura tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sebuah usapan lembut menyentuh wajahnya yang dingin dan membuatnya mau tak mau kembali menatap wanita muda di depannya itu. Sakura masih menatapnya lekat denga mata hijau emeraldnya yang indah.
"Ini hari pernikahanku. Buat aku merasakan menjadi seorang pengantin.." kata Sakura. Dia mengusap wajah Sasuke dengan lembut sebelum akhirnya meraih tangan Sasuke dan mendekatkan ke tubuhnya yang hanya berbalut yukata. Dia mengarahkan tangan Sasuke untuk menyentuh dadanya.
"Apa kau keberatan kalau kita mengulanginya lagi malam itu?" tanya Sakura dengan suara pelan yang lebih menyerupai bisikan yang menggoda di telinga Sasuke. Sasuke merasakan sensasi aneh di dadanya. Dia merasakan desir lembut yang berubah menjadi degupan kencang yang makin lama makin kencang dan membuncah tidak karuan dalam dirinya. Sebelum dia sempat berbuat sesuatu, Sakura sudah meraih wajahnya dan mendekatkannya ke wajahnya dengan cepat sebelum akhirnya mencium bibirnya rapat-rapat.
"Malam ini... dan juga malam-malam selanjutnya.. Aku tetap menjadi pengantinmu.." bisik Sakura setelah melepas ciumannya.
Sasuke merasa semua darah di seluruh tubuhnya mulai menggelegak tidak karuan. Organ intim di pangkal pahanya sudah berdenyut-denyut teringat dengan malam panas mereka beberapa hari yang lalu. Sekali lagi, dia menginginkan wanita di depannya ini lebih dari apapun. Semua yang dimilikinya.. Dengan tidak sabar dia mengangkat tubuh Sakura dan menjatuhkannya dengan lembut ke atas tempat tidurnya, membuat yukata yang dipakai wanita ini sedikit tersingkap. Sasuke tidak peduli dia berada di mana sekarang, dan kenyataan kalau Sakura sudah menjadi milik orang lain membuatnya semakin kesal. Tidak! Sakura tetap milikku! Batinnya tegas. Dan hanya aku yang bisa menyentuhnya seperti ini.. batinnya.
Tangannya mulai menarik kelambu di samping tempat tidur dan membuat kelambunya menutupi sekeliling tempat tidur, sementara bibirnya mulai mencium bibir Sakura dengan penuh hasrat.
"Aku akan membuatmu mendesah dan meneriakkan namaku lagi, Sakura.. Tidak peduli kau istrinya siapa sekarang.." kata Sasuke, di sela-sela ciumannya. Kedua tangannya mulai menyingkap yukata yang dipakai Sakura dan membuat tubuh Sakura terlihat sepenuhnya.
Sasuke menyeringai saat melihat wajah Sakura yang mulai memerah dan napasnya yang sudah tersengal karena ciuman panas mereka.
Tangan Sasuke mulai menyentuh bagian-bagian sensitif di tubuh Sakura.
"Dan ini.. semuanya adalah milikku.." katanya seraya meraih salah satu payudara Sakura dan meremasnya dengan gemas. Sakura mengerang tertahan.
"Lakukan.. Apapun yang kau mau..." desahnya.
Sasuke kembali menyeringai lebar. Mata hitamnya menatap tubuh Sakura dengan penuh kelaparan. Dia memang seorang vampir. Tapi dia tidak menginginkan darah wanita ini untuk kepuasaannya. Dia menginginkan tubuhnya, cintanya dan hasrat mereka untuk bersatu.
Dan malam yang dingin itu pun menjadi malam yang panas dan panjang untuk mereka.
Tidak ada yang tahu apa yang terjadi di dalam kamar itu sepanjang malam, kecuali seorang laki-laki yang sekarang duduk di sebuah ranting besar di salah satu pohon di hutan dekat rumah itu. Laki-laki itu tidak bergerak, dan hanya menatap kamar yang pencahayaannya mulai meredup itu dengan tatapan dingin.
"Cepat atau lambat... Kalian akan berakhir juga nanti..." katanya pelan.
Dia berdiri di atas dahan pohon itu, dan dengan gerakan cepat, secepat kibasan jubah hitamnya, laki-laki itu bergerak melesat pergi dari tempat itu.
.
.
.
Seoul. Saat ini..
[INO]
Aku menatap gadis di depanku dengan tatapan penuh kebingungan. Tapi gadis di depanku ini hanya menunduk dan tidak menatap ke arahku. Aku menatap Sai dengan tatapan penuh tanya dan hanya dibalas dengan tatapan sama bingungnya denganku. Sai angkat bahu sambil menggeleng dengan wajah polos.
"Yoo Ri-ssi.. Bisa kau ulangi perkataanmu tadi?" tanyaku sopan.
Gadis di depanku akhirnya mengangkat wajahnya dan menatapku dan wajah penuh penyesalan. Wajah cantiknya kelihatan lebih cantik tanpa make up seperti ini.
"Ah, aku benar-benar menyesal, Ino-ssi.. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Sasuke-kun sudah berubah. Benar-benar berubah.." jawab Yoo Ri dengan raut wajah muram. Aku mengernyitkan dahi menatapnya.
"Berubah bagaimana? Apa sikapnya padamu tidak seperti dulu?" tanyaku hati-hati.
Yoo Ri mengangguk mantap.
"Iya. Tapi.. Sepertinya ada yang salah dengannya.." katanya ragu-ragu.
"Ada yang salah bagaimana maksudmu?" tanyaku lagi.
Yoo Ri berdehem pelan.
"Begini.. Awalnya, mungkin karena sikapku yang mulai agak sedikit menjauh darinya. Maksudku, iya.. Aku sudah berencana akan memutuskan hubungan ini. Karena, aku rasa.. sifat kami terlalu sama. Dan karena desakan orangtuaku agar dia cepat-cepat melamarku, tapi aku rasa Sasuke-kun belum sama sekali memikirkan hal itu. Sedangkan aku hanya ingin kepastian. Dan lagipula, kami sama-sama keras dan sama-sama egois, jadi.. Aku pikir, aku harus segera mengakhiri hubungan ini. Lalu kami mulai menjauh satu sama lain. Dan aku mulai dekat dengan mantan kakak tingkatku di universitas. Tapi bukan itu! Maksudku, aku pikir Sasuke-kun sudah tahu tentang ini.. Dan dia juga punya pikiran yang sama denganku.." jelas Yoo Ri panjang lebar.
"Lalu.. Apa masalahnya?" tanyaku lagi.
"Sikap Sasuke-kun.. agak aneh. Di lain waktu, dia adalah Sasuke-kun yang biasa, yang selalu tersenyum pada semua orang yang ditemuinya. Tapi di waktu-waktu yang lain, dia tiba-tiba menjadi pendiam dan tidak banyak bicara. Bahkan seperti tidak memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Dia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri. Aku hanya berpikir, mungkin Sasuke-kun sedang ada masalah di kantornya. Tapi setelah aku bertanya pada Sai, pekerjaannya baik-baik saja. Makanya aku jadi cemas," jelas Yoo Ri. Raut kecemasan tergurat jelas di wajahnya.
"Apa Sasuke-kun sedang punya masalah serius? Mungkin dia tidak mau memutuskan hubungan denganmu. Keluargamu sudah mengenalnya 'kan?" aku menduga.
"Tidak. Sasuke-kun tidak mempermasalahkan hal itu. Hanya saja.. Begini.. Aku tidak sengaja menemukan sebuah surat saat aku berkunjung ke apartemennya beberapa waktu yang lalu," kata Yoo Ri. Dia menatapku dengan sikap salah tingkah.
"Surat? Surat apa? Dia tidak dipecat dari pekerjaannya 'kan?" aku menoleh ke arah Sai yang balas menatapku dengan tatapan kaget.
"Tidak. Bukan itu.. Tapi surat kunjungan. Aku rasa.. Yang dia kunjungi adalah dokter muda yang baru-baru ini membuka praktik medis di dekat apartemennya. Dokter Shino Aburame, seorang psikiatris muda yang bekewarganegaraan Jepang," Yoo Ri mengakhiri kata-katanya dengan menatapku penuh cemas.
Aku mengerjapkan mata sekali.
"Psikiatris? Kenapa dia harus mengunjungi seorang psikiatris?" tanyaku heran.
"Aku tidak tahu. Makanya, itu alasan kenapa aku mencemaskannya. Sasuke-kun tidak pernah seperti ini semenjak aku mengenalnya 2 tahun yang lalu. Dia berubah banyak akhir-akhir ini," sahut Yoo Ri.
"Bukankah.. seseorang akan pergi ke psikiatris, kalau dia merasa ada yang tidak beres dengan dirinya? Kondisi kejiwaannya? Yang aku lihat di televisi seringnya seperti itu.." kata Sai tiba-tiba.
"Apa itu maksudnya, Sasuke-kun sedang mengalami masalah yang sangat berat sampai harus pergi ke seorang psikiatris?" tanyaku.
"Aku tidak tahu. Tapi.. Mungkin kemungkinannya seperti itu.." jawab Sai seraya angkat bahu.
Dering ponsel tiba-tiba terdengar dari dalam tasku. Aku segera mengeluarkan ponselku dan melihat layar ponselku dengan dahi berkerut. Nomor asing?
"Siapa?" tanya Sai. Aku menggeleng sebelum akhirnya aku angkat juga ponselku.
"Halo.." kataku.
"Ah, Ino!" sebuah seruan terdengar dari seberang. Aku mengenal suara ini.
"Sakura?" tanyaku memastikan.
"Ne! Ini aku.. Di mana kau sekarang?" tanya Sakura dengan nada terburu.
"Aku menemui Sai. Ah, maaf tidak sempat berpamitan padamu. Aku buru-buru tadi," jawabku.
"Apa maksudmu?" Sakura balas bertanya.
"Kau bertanya aku di mana 'kan? Aku pikir kau tidak akan mendengarku, makanya aku langsung pergi tanpa bilang padamu," jelasku.
"Apa?" suara Sakura semakin meninggi.
"Sakura, ada apa?" tanyaku. Entah kenapa, aku tiba-tiba merasa ada yang tidak beres dari nada bicara Sakura. Lagipula, kenapa dia tidak menelponku dari ponselnya sendiri?
"Ino.. Dengar. Ini aku, Sakura. Begini, kalau aku ceritakan di sini, kau tidak akan percaya. Percayalah padaku.. Aku perlu tahu kau ada di mana. Aku benar-benar tidak tahu harus ke mana setelah ini. Untung saja aku hapal nomor ponselmu," kata Sakura dengan nada tidak sabar.
Tiba-tiba aku merasa tengkukku merinding.
"Sakura.. Apa yang kau bicarakan?" tanyaku ngeri.
"Aku tersesat. Aku tidak tahu aku berada di mana sekarang. Tasku tidak ada, begitu juga dengan ponselku. Untung ada gadis baik hati yang mau meminjamiku ponsel. Jadi aku bisa menghubungimu. Bisa kau jemput aku sekarang? Aku mohon.." suara Sakura terdengar memohon.
"Sakura! Jangan bercanda! Apa yang kau bicarakan?" aku merasa kesal dengan tiba-tiba. Aku sedang tidak ingin main-main saat ini, sementara gadis di depanku ini sedang meminta bantuanku.
"Apa? Main-main apa? Aku benar-benar tersesat sekarang. Ada orang jahat yang membawaku ke tempat ini," Sakura balas berkata dengan nada agak keras di seberang sana.
"Tentu saja kau main-main. Baru tadi pagi kau bilang padaku akan pulang ke Jepang, hari ini.. Sekarang kau bilang tersesat. Apa kau salah naik pesawat atau bagaimana?" sahutku dengan agak gusar.
Hening untuk beberapa saat. Aku tidak mendengar suara Sakura dari seberang, hanya suara laju kendaraan sedang berlalu lalang yang terdengar.
"Sakura?"
"Ino.. Aku belum pulang ke sana selama dua hari ini.." jawab Sakura pelan.
"Aish~! Kau bercanda lagi.. Hei~! Kau akan pulang ke Jepang jam berapa?" tanyaku enteng.
"Kumohon, sekarang pergi ke apartemenmu dan tahan Sakura yang ada di sana untuk tidak segera pulang ke Jepang. Aku mohon. Kita bertemu di sana. Mengerti?"
Aku belum mengucapkan apapun tapi telepon di seberang sudah dimatikan dan aku hanya mengernyitkan dahi menatap ponselku sendiri.
"Ada apa, Ino?" tanya Sai. Dia menatap khawatir ke arahku.
"Sai.. Apa seseorang bisa berubah menjadi orang lain dalam waktu singkat yang drastis?" tanyaku. Ada sebuah ketakutan yang tiba-tiba menyusup masuk ke dalam perasaanku.
"Eh?" Sai menatapku penuh tanya.
"Sai.. Sepertinya aku harus segera pulang ke apartemen," kataku seraya bangkit dari tempat dudukku dengan buru-buru.
"Akan aku antar," kata Sai.
"Tapi Yoo Ri-ssi?" aku berbalik dan menatap gadis itu dengan tatapan bingung.
"Aku akan pulang saja.. Terima kasih sudah mau mendengarku," kata Yoo Ri.
"Kalau aku bertemu Sasuke, nanti akan aku tanyakan padanya. Kau tenang saja.." kata Sai mencoba meyakinkan.
"Ah, iya.. Terima kasih.." Yoo Ri membungkukkan badannya sebelum akhirnya pamit undur diri. Sementara aku segera bergegas keluar dari kantor perusahaan kopi ini dengan langkah terburu. Pikiranku mulai dipenuhi dengan pertanyaan tentang Sakura.
Ada apa ini sebenarnya?
.
.
.
Sendai. Jepang. Masa Edo.
Sakura terbangun dari tidurnya pagi ini karena merasakan rasa mual yang hebat di perutnya. Dia membuka matanya dan melihat sekeliling kamarnya masih kosong dan gelap. Tempat tidur di sampingnya kosong dan jendela kamarnya terbuka sedikit. Sakura mendesah pelan. Dia mencari-cari yukatanya yang semalam dilempar begitu saja ke sembarang tempat. Yukatanya kini teronggok di sudut kamarnya. Dengan gerakan buru-buru dia menutupi tubuh telanjangnya dengan yukata itu dan segera berlari ke pojokan kamarnya. Ada sebuah baskom kayu sebagai tempat air hangat untuk merendam kakinya. Sakura merasakan perutnya mulai bergejolak dengan hebat dan rasa mual kembali menyerangnya. Dia tidak tahan lagi. Gadis itu segera memuntahkan isi perutnya berkali-kali.
Apa yang terjadi denganku? Batinnya bingung.
Dia merasakan rasa mual lagi dan mulai muntah lagi dengan hebat.
"Nona.. Nona, apa yang terjadi?" seorang gadis muda masuk dan menghampiri Sakura dengan tergopoh. Raut kecemasan tampak di wajahnya.
Sakura hanya mengibaskan tangannya ke arah gadis itu sambil masih terus memuntahkan isi perutnya.
"Nona, kau sakit?" tanya gadis itu lagi.
"Aku tidak tahu..." jawab Sakura pelan. Dia terdiam. Menunggu rasa bergejolak di perutnya.
"Sudah tiga hari ini Anda seperti ini setiap pagi.. Apa perlu dipanggilkan tabib?" tanya gadis pelayan itu.
"Tidak perlu.." sahut Sakura lelah.
"Tentu saja perlu. Kau harus segera diperiksa!" terdengar suara seorang laki-laki di belakang mereka. Sakura tercekat. Dia melihat Neji sedang mengawasinya dengan pandang penuh kecemasan.
Sakura tidak bicara apa-apa saat Neji menghampirinya dan memegang dahinya.
"Panggilkan tabib. Wajahmu pucat sekali, Sakura.." katanya.
"Aku punya tabib langgananku. Rumahnya di pinggiran hutan di seberang. Namanya Kabuto. Aku mau dia yang memeriksaku," sahut Sakura cepat-cepat.
Neji mengernyitkan dahi menatapnya. Tapi Sakura tidak menggubrisnya. Dia bahkan tidak berani menatap mata Neji secara langsung.
"Baiklah. Panggil dia.." perintah Neji pada pelayan wanita itu dengan sikap angkuh.
.
.
.
Kabuto menatap Sakura dengan pandangan sulit diartikan. Tangannya masih memegang pergelangan gadis itu dengan sikap tegang. Sementara keluarga Hyuuga sedang menunggunya di belakangnya. Mereka menunggu hasil pemeriksaan yang dia lakukan sejak tadi. Tapi Kabuto tidak berani memberitahukan pada mereka apa yang sedang terjadi pada Sakura sekarang. Kabuto sangat tahu apa yang sedang terjadi sekarang. Dia masih menatap Sakura, meminta penjelasan padanya. Tapi gadis itu hanya balas menatapnya dengan tatapan bingung.
"Ah, maaf.. Saya rasa, saya perlu melakukan pemeriksaan lebih mendalam. Kalau Anda berkenan, bolehkah hanya saya yang berada di ruangan ini bersama Nona Hyuuga? Saya harus melakukan beberapa metode modern untuk mengetahui detail penyakitnya," kata Kabuto, seraya berkata dengan sopan kepada keluarga Hyuuga.
Neji Hyuuga kelihatan tidak senang. Tapi wanita separuh baya yang sepertinya ibunya itu berhasil membujuknya untuk keluar ruangan. Setelah memastikan kalau tidak ada satupun orang yang ada di ruangan itu selain dirinya dan Sakura, barulah Kabuto berani bertanya pada Sakura.
"Apa yang terjadi selama ini, Sakura?" tanyanya tajam.
"Eh?" Sakura menatapnya dengan tatapan kaget sekaligus bingung.
"Kau sedang mengandung sekarang..." jawab Kabuto singkat.
Sakura kelihatan kaget dan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Matanya membelalak menatap Kabuto dengan kaget.
"Benarkah?" tanyanya terbata.
"Itu bukan anak Neji Hyuuga 'kan?" Kabuto berkata tajam padanya.
Gadis itu tidak menjawab.
"Katakan.. Anak itu bukan anak manusia murni. Detak jantung yang aku rasakan.. berbeda dengan detak jantung manusia pada umumnya. Anak itu.. Anak Sasuke 'kan?" Kabuto menatap Sakura tajam.
Sakura tidak bisa menghindari tatapan itu. Dia hanya menunduk menatap selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.
"Jadi benar? Ah, sudah aku duga!" Kabuto berseru dengan putus asa.
"K-kenapa?" Sakura bertanya dengan takut-takut kepadanya.
"Kau tahu, Sakura... Sekali seorang vampir tumbuh di rahim seseorang, entah itu rahim vampir atau manusia, dia tidak akan bisa dibunuh dengan cara apapun. Hanya pasak perak dan air suci yang bisa membunuhnya. Jadi, anak itu akan terus tumbuh, sebelum kau menusuknya dengan pasak perak yang diberi air suci," jelas Kabuto.
Sakura tercenung di tempatnya.
"Dan bukan itu saja.. Kau adalah manusia, dan anak itu memiliki darah vampir yang suka meminum darah manusia. Selama ada dalam kandunganmu, seorang bayi juga butuh asupan makanan. Dan bayi vampir selalu butuh darah manusia, dan itu darahmu.. Anak itu akan terus menerus mengisap darahmu, Sakura... Seharusnya kau turuti kata-kataku. Dari awal aku sudah bilang 'kan? Tidak ada yang bisa kalian lakukan. Kecuali kau juga menjadi salah satu dari kami," kata Kabuto dengan nada frustasi.
Sakura menarik napas dalam-dalam. Dia memejamkan mata dan merenungkan kata-kata Kabuto.
"Bawa aku pergi dari tempat ini, Kabuto-san.." katanya kemudian.
"Apa?" Kabuto menatapnya kaget.
"Aku ingin anak ini tetap tumbuh dalam diriku dan lahir di dunia ini. Tapi aku masih ingin mempertahankan diriku sebagai seorang manusia," kata Sakura pelan.
"Itu sama saja kau bunuh diri, Sakura. Aku tidak akan membiarkannya. Anak itu tidak membutuhkan waktu lama berada dalam kandunganmu. Dalam beberapa minggu, dia sudah akan lahir di dunia ini. Dan selama itu juga, darahmu akan habis dihisapnya.." kata Kabuto.
"Kabuto-san.. Aku mohon.. Keluarga Hyuuga akan mencurigaiku kalau aku terus berada di sini. Mereka akan tahu ini bukan anak Neji. Aku dan Neji belum pernah sekalipun berhubungan intim. Kalau aku tetap berada di sini dengan anak ini yang terus tumbuh, kemungkinan besar mereka akan membunuh anak ini dan juga.. Sasuke," Sakura menatap Kabuto dengan pandangan memohon. Matanya yang biasanya menyiratkan ketegasan sekarang hanya dipenuhi keputus asaan. Kabuto terdiam dan hanya menatap Sakura dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Aku akan memberitahu Sasuke tentang ini.." kata Kabuto.
"Jangan.. Jangan memberitahunya. Jangan mengatakan apapun padanya.. Biarkan.."
"Apa katamu?" Kabuto menyela. "Itu anak kalian berdua.."
Sakura menunduk.
"Aku tahu.. Tapi biarkan saja.. Sasuke akan berbuat nekat kalau dia sampai tahu ini. Aku tidak mau, dia juga ikut diasingkan oleh ayahnya karena ini.. Kabuto-san.. Aku mohon, bawa aku dari tempat ini. Secepatnya.." Sakura menatap Kabuto dengan tajam. Ada desakan kuat dalam pandangan matanya yang membuat tabib muda itu akhirnya mengangguk tanpa mengucapkan apa-apa.
.
.
.
TBC.
Sepertinya banyak yang bingung yang sama alur ceritanya, ya? *garuk2 punggung*
Jadi, Sasuke yang sekarang itu reinkarnasi dr Sasuke jaman dulu. Baca aja sampai chapter terakhir. Bakal terpecahkan misterinya saat udah tamat (ya, iyalah!)
Makasih buat review'nya yaaa?
