Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Warning: OOC, OC(s), typo(s), shonen-ai, semi canon / canon modified.

~First Date~

.

.

"Deidara."

Getaran suara dari bisikan Sasori membuat Deidara bergidik. Bibir Sasori yang menyentuh daun telinganya juga sama sekali tidak membantu Deidara untuk menenangkan detak jantungnya.

Deidara tak menjawab. Ia tak mampu melakukannya. Kalaupun ia memaksa, dirinya yakin ia tak bisa mengucapkan kata dengan baik. Antara terbata dan suara bergetar, ia tak berani memastikannya. Sebaliknya yang ia lakukan hanyalah menatap langit biru yang sedari tadi menjadi saksi atas apa yang terjadi di antara mereka berdua. Sasori, Sang Danna yang sangat ia sayangi dan hormati itu baru saja memberikannya ciuman pertamanya di sebuah padang rumput yang begitu indah.

"Kurasa kita harus melanjutkan perjalanan sekarang." Sasori kembali berbisik.

Saat itulah kenyataan menghampiri Deidara membuat pemuda itu tersentak kaget. Mereka masih memiliki sebuah misi yang harus mereka selesaikan dan Deidara sesaat yang lalu benar-benar melupakannya.

"Um...tentu," sahut Deidara gugup.

Menyeringai melihat betapa menggemaskannya Deidara saat seniman ledakan itu gugup, Sasori menarik dirinya menjauh dari Deidara kemudian menolong pemuda beriris biru itu untuk berdiri dengan cara menarik tangannya. Saat mereka berdua sudah berada di posisi berdiri, poni Deidara kembali jatuh menutupi wajah kirinya.

"Kita diberi waktu satu hari penuh untuk menyelesaikan misi ini. Jika kita menyelesaikan misi sebelum waktu yang ditentukan habis, kita bisa menghabiskan waktu untuk melakukan hal lain," ucap Sasori.

"Benarkah?" tanya Deidara dengan wajah bersemangat. Dalam waktu sepersekian detik, Deidara yang gugup berubah menjadi Deidara dengan semangat menggebu. Ini merupakan salah satu hal yang membuat Sasori semakin tertarik untuk mempelajari sisi terdalam Deidara.

Sasori mengangguk. "Kita bisa pergi ke tempat yang kau inginkan dan menghabiskan waktu bersama."

"Kencan, un?"

Tersenyum tipis, Sasori mengangguk.

Deidara berusaha menahan diri untuk tidak melompat-lompat di tempat atau berteriak senang. Walaupun kencan bukanlah sebuah kewajiban bagi pelaku kriminal seperti mereka, tetapi tak dapat dipungkiri kenyataan bahwa Deidara—yang merupakan manusia biasa—membutuhkan setidaknya sedikit perlakuan yang sama dengan pasangan kekasih pada umumnya. Sasori mengerti kebutuhan Deidara ini dan mencoba untuk memberikannya. Ia pun sebenarnya tidak berpengalaman dalam percintaan, namun tidak ada salahnya untuk mencoba. Selagi hidup masih bisa ia nikmati, ada baiknya untuk membuatnya lebih indah.

Membiarkan secercah cahaya manerangi ruang gelap dalam hatinya bukanlah sesuatu yang buruk.

.

.

"Satu ruangan untuk dua orang," ucap seorang pria berambut hitam pendek bermata ungu Amethyst kepada seorang gadis ber-yukata biru muda yang berdiri di belakang meja. Sedangkan seorang pria berambut cokelat tua berdiri di belakang pria yang memesan ruangan tadi seraya mengamati sekelilingnya dengan iris hitam miliknya.

Setelah gadis tadi menyebutkan nomor kamar dan menyerahkan kunci kepada pria tadi, kedua pria itu melangkah ke kamar yang dikatakan oleh gadis tadi. Ketika pria berambut hitam menutup pintu, ia mendapatkan sebuah tatapan tajam dari rekannya.

"Ada apa?" tanyanya datar.

"Ini tidak akan jadi menyenangkan, un," ucap pria berambut cokelat tua tadi seraya melipat kedua lengannya di depan dada.

Poofff

Kepulan asap mengelillingi tubuh pria berambut cokelat muda tadi. Saat kepulan asap mulai memudar, sosok pria berambut pirang terlihat menatap partner-nya dengan ekspresi kesal.

Pria beriris ungu tadi mengerutkan dahinya. "Deidara, tetap pertahankan penyamaranmu sampai mereka mengantarkan makan malam ke kamar ini."

"Tapi, Danna!" Deidara merebahkan tubuhnya di futon. "Aku tidak suka menyamar menjadi orang lain, un."

Memutar bola matanya, Sasori berucap, "Baiklah. Tapi saat mereka datang nanti kau harus bersembunyi di kamar mandi."

Deidara menutup matanya dengan lengan kanannya. "Mereka akan membawa makan malam sekitar satu jam lagi 'kan? Biarkan aku beristirahat dulu, un."

Sasori hanya bisa mengangguk.

Misi sudah mereka selesaikan. Karena Sasori sudah menjanjikan setelah misi selesai mereka akan menghabiskan waktu bersama, jadi Deidara tak keberatan mengikuti rencana Sasori dalam menyelesaikan misi. Dalam rencana Sasori tersebut, Deidara dilarang untuk menggunakan ledakannya agar tidak menarik perhatian banyak orang. Dengan kata lain, ya, Sasori menyelesaikan misi mereka sendirian sedangkan Deidara hanya mengamati. Membunuh shinobi yang memata-matai Akatsuki bukanlah hal yang sulit bagi Sasori. Ia hanya perlu membunuh shinobi itu di dalam rumahnya lalu mengemasnya sedemikian rupa sehingga terbunuhnya Akira terkesan seperti sebuah kejadian bunuh diri. Dengan begitu, tidak akan ada yang akan mencurigai Akatsuki. Menguntungkan bagi Akatsuki, juga menguntungkan bagi Sasori dan Deidara. Karena alasan ini lah, Pein sang ketua Akatsuki lebih mempercayai misi pembunuhan diam-diam ini pada Sasori yang selalu bergerak tenang dan teratur. Selain Sasori, ketua Akatsuki juga sering mempercayakan misi sejenis kepada tim Itachi dan Kisame, karena Itachi juga bergerak tenang seperti Sasori.

Setelah mereka menyelesaikan misi, Sasori meminta Deidara untuk menyamar menjadi orang lain dengan jurus dasar yang hampir dimiliki oleh semua ninja, hanya untuk berjaga-jaga karena mungkin saja salah satu penghuni penginapan ini mengetahui mereka berasal dari Akatsuki jika mereka tidak menyamar. Lalu Sasori membawa Deidara ke sebuah penginapan yang kecil dan sederhana hanya untuk menginap satu malam. Mereka memang sudah terbiasa tidur di alam terbuka, namun ia ingin sesekali memanjakan Deidara.

Sasori—yang masih menyamar sebagai pria berambut hitam tadi—duduk di futon yang tergelar di lantai, tepat di sebelah Deidara yang tengah tertidur lelap. Sasori tak bisa menatap wajah manis Deidara karena lengan kanan pemuda itu menutupinya. Tatapan matanya kini beralih ke dada Deidara yang bergerak naik turun secara teratur. Senyum tipis terukir di bibir pria dewasa itu saat melihat malaikat kecilnya tertidur. Tidak bermaksud untuk hiperbola, hanya saja Deidara memang terlihat seperti malaikat di mata Sasori. Dengan rambut pirang panjangnya yang terurai bagai benang emas, mata biru secerah langit biru dengan sinar keabuan yang elegan, tubuh ramping yang terpahat sempurna, dan senyum yang bisa mencerahkan hari-hari Sasori. Wajar bukan jika ia menganggap Deidara adalah malaikat kecilnya?

Tenggelam dalam kekagumannya pada Deidara, Sasori tidak menyadari satu jam telah berlalu. Bunyi ketukan pintu lah yang menariknya dari dunia kecilnya. Pria itu melirik pintu kemudian melirik Deidara yang masih terlelap. Tidak ingin mengusik tidur partner-nya, Sasori memutuskan untuk mengambil selimut yang terlipat di sisi bawah futon kemudian menutupi tubuh Deidara hingga ke kepalanya. Setelahnya ia bangkit berdiri untuk membuka pintu.

"Saya datang membawa makan malam, tuan," ucap seorang gadis ber-yukata merah muda—yang membawa sebuah nampan berisi hidangan makan malam di atasnya—seraya tersenyum ramah pada Sasori.

Sasori hanya mengangguk seraya sedikit menggeser posisinya memberi ruang bagi gadis itu untuk masuk ke ruangannya. Matanya terus mengamati gadis yang meletakkan beberapa jenis makanan, dua gelas air putih, sebotol sake, dan dua cangkir kosong di atas meja. Setelah menatanya dengan rapih, gadis itu bangkit berdiri kemudian menunduk menunjukkan rasa hormat pada Sasori sebelum berlalu pergi.

Setelah menutup pintu, bunyi 'poff' terdengar saat kepulan asap mengelilingi tubuh samaran Sasori. Beberapa detik kemudian tubuh aslinya kembali.

"Danna?"

Sasori bergumam 'hm?' pelan pada Deidara yang kini menatapnya dengan mata setengah terbuka. Selimut yang sedari tadi menutupi seluruh tubuhnya termasuk kepalanya, kini turun ke lehernya.

"Makanan sudah siap. Kau bisa menghabiskan semuanya," ucap Sasori seraya melirik hidangan yang sudah tertata rapih di atas meja.

Menoleh ke arah lirikan mata Sasori mengarah, Deidara terkesiap melihat begitu banyak makanan tertata di sana. Matanya kembali melirik Sasori seolah bertanya-tanya mengapa ada begitu banyak makanan di atas meja. Mengerti pertanyaan di mata Deidara, Sasori mengangkat bahu seraya berucap, "Mereka tidak tahu aku bukan manusia."

Setelah mengangguk pelan, Deidara menguap dan mengusap-usap matanya yang belum sepenuhnya terbuka.

"Lebih baik kau mandi dulu sebelum makan malam," saran Sasori yang kini mengambil posisi duduk di futon tempat Deidara berbaring.

"Baiklah un..." ucap Deidara enggan. Masih dengan mengusap mata, ia bangkit berdiri dan melangkah menuju kamar mandi. Karena ia tidak membawa handuk, jadi ia akan mengenakan handuk yang telah disediakan oleh pihak penginapan.

Sasori kini bisa mengamati isi kamar dengan jelas. Kamar ini tak terlalu besar. Ukuran yang cukup untuk dua orang. Kamar dengan lantai kayu ini dilengkapi dengan sebuah lemari pakaian di sebelah kanan pintu, dua futon di lantai masing-masing dilengkapi dengan bantal dan selimut, dan sebuah meja makan. Pintu kamar mandi terletak tepat di sisi kiri kamar. Sedangkan sebuah jendela yang cukup besar berada di sisi kanan kamar. Sangat sederhana, namun jauh lebih baik daripada kamar di markas mereka yang begitu tertutup seolah tak mengizinkan udara untuk masuk.

Berselang sepuluh menit kemudian, Deidara keluar dari kamar mandi dengan selembar handuk putih terikat di pinggangnya. Tetes demi tetes air masih mengalir di kulitnya juga ujung rambutnya yang tergerai hingga menetes di lantai kayu kamar tersebut. Sasori sedikit menggelengkan kepalanya, sepertinya lain kali Sasori akan mengajari Deidara bagaimana cara mengeringkan diri dengan handuk.

Bersenandung kecil, Deidara melangkah menuju tasnya untuk mengambil sesuatu yang sepertinya cukup privasi—terlihat dari caranya menyembunyikan benda itu dari Sasori. Kemudian ia melangkah mendekati lemari pakaian dan membukanya untuk mengambil sebuah yukata berwarna biru muda. Sedikit mengigit bibir bawahnya, ia menoleh ke belakang, mendapati Sasori tengah mengamatinya.

"Hmm...Danna, kurasa kau harus berbalik sebentar."

Sasori memutar bola matanya tetapi tetap mengikuti apa yang Deidara inginkan. Dilipatkan kedua lengannya di depan dadanya, masih tak mengerti mengapa Deidara harus malu padahal mereka berdua sama-sama pria.

"Sudah selesai." Deidara mengumumkan.

Sasori mengangguk dan berbalik, mendapati Deidara yang mengenakan yukata biru muda tengah berjalan mendekati meja makan. Matanya sedikit melebar melihat hidangan yang tersaji di sana. Dua mangkuk ramen, sepiring dango, sepiring sushi, sebotol sake, dan dua gelas air putih. Sayang sekali ia harus menikmatinya sendirian.

"Kurasa aku tidak bisa menghabiskan semuanya, Danna," ucapnya yang kini duduk di dekat meja makan tersebut.

"Kau tidak perlu menghabiskannya," ujar Sasori yang memutuskan untuk melepas jubah hitam bercorak awan merah dari tubuhnya. Ia melihatnya dengan rapih lalu meletakkannya di lantai dekat futon.

"Maukah Danna...menemaniku, un?" tanya Deidara harap-harap cemas.

Sasori—yang kini tengah mengambil sebuah yukata berwarna sama dengan yukata yang Deidara kenakan dari dalam lemari—menoleh ke arah Deidara, mendapati Deidara menatapnya dengan tatapan mata yang tidak memperbolehkan penolakan. Seraya mengenakan yukata tersebut, Sasori menjawab, "Baiklah."

Deidara tersenyum lebar, menunggu Sang Danna untuk bergabung dengannya di meja makan walaupun ia tahu Sasori tidak akan ikut makan bersamanya. Tak lama menunggu, Sasori duduk di sisi meja yang berhadapan dengan Deidara. Masih mempertahankan senyum lebar di bibirnya, Deidara menyalakan sebuah lilin di atas meja dengan menggunakan sebuah korek kayu. Ruangan yang sedari tadi gelap kini terlihat sedikit terang karena cahaya lilin yang menerangi.

Tatapan mata Sasori melembut saat melihat raut bahagia yang Deidara tunjukkan. Terlintas dalam benaknya untuk bisa menikmati makan malam ini dengan Deidara karena menurutnya hal itu bisa menyempurnakan rasa senang yang Deidara rasakan. Namun apa daya, dirinya tak lagi memiliki sistem percernaan yang dimiliki manusia.

"Ittadakimasu, un!" seru Deidara seraya mengatupkan kedua tangannya.

Sasori mengangguk dan tersenyum tipis, matanya sama sekali tak berkedip saat melihat Deidara yang bersemangat melahap makan malamnya.

.

.

Mata biru Deidara menatap taburan bintang di langit gelap dari jendela kamarnya, sebuah senyum terukir sempurna di bibir tipisnya, sejuknya angin malam yang berhembus dari luar membuatnya ingin memejamkan mata, dan sepasang lengan yang kuat melingar di sekeliling pinggangnya—menjaganya untuk tetap hangat. Punggungnya bersandar pada tubuh lain yang menjaganya, kepalanya ia sandarkan pada bahu kokoh kekasihnya. Samar-samar disela bisikan angin malam ia dapat mendengar ritme dari detak jantung pria yang tengah disandarinya.

"Tempat seperti apa yang ingin kau kunjungi besok pagi?" tanya Sasori yang mengistirahatkan dagunya di puncak kepala Deidara.

"Hmm..." Deidara bergumam, menikmati kenyamanan yang saat ini ia rasakan. "Yang pasti tempat terbuka dan bukan di desa ini, un."

Sasori mengangguk seraya mengeratkan pelukannya di pinggang Deidara. Ia tak bisa merasakan kehangatan tubuh Deidara yang bersandar di tubuhnya, memang. Namun hanya dengan mengetahui kenyataan bahwa Deidara berada di dalam pelukannya, sudah lebih dari cukup baginya. Tak ada yang lebih istimewa dari memiliki Deidara seutuhnya, menggenggamnya erat dan menjaganya bagai sebuah karya seni yang tak boleh tergores sedikitpun.

"Sepertinya ada satu tempat yang menurutku begitu menarik, tapi kita harus berangkat sepagi mungkin," ucap Sasori.

"Pagi? Sepagi apa?" tanya Deidara seraya sedikit mendongak untuk menatap wajah Danna-nya.

Sasori menunduk untuk membalas tatapan kekasihnya. "Sebelum matahari terbit."

Deidara mengerutkan dahinya. "Kenapa harus sepagi itu, un?

"Karena tempat itu begitu sempurna jika kita mengunjunginya pagi hari. Atau kau ingin aku mencari tempat lain agar kau bisa tidur lebih lama, hm?"

Setelah menimbang-nimbang sejenak, Deidara akhirnya mengambil keputusan. "Bangunkan aku besok pagi, Danna."

Sasori tersenyum tipis. Direndahkannya wajahnya untuk mengecup puncak hidung Deidara. "Tentu. Tapi kau harus tidur lebih cepat."

Deidara membalikkan tubuhnya di dalam pelukan Sasori sehingga kini ia bisa bertatapan langsung dengan partner-nya. Dengan sedikit berjinjit—mengingat Sasori lebih tinggi darinya—Deidara memberi sebuah kecupan ringan di pipi Sasori.

.

.

Sasori masih menatap lekat wajah polos Deidara yang masih terlelap di futon-nya yang hangat. Berbeda dari hari-hari sebelumnya, kali ini karena Sasori tidak membawa peralatan untuk membuat kugutsu, ia hanya bisa menghabiskan waktu dengan menatap wajah Deidara yang masih tertidur. Ia tidak keberatan, tentu saja. Wajah seniman ledakan yang telah menghilangkan entah berapa nyawa itu terlihat begitu polos dan tak berdosa saat ia tidur. Wajah manis namun terkesan maskulin itu sama sekali tak membuat Sasori bosan. Namun sepertinya kini ia harus rela mengalihkan tatapannya dari wajah Deidara karena sudah waktunya bagi mereka untuk meninggalkan penginapan itu agar bisa segera berangkat menuju tempat yang Sasori maksud.

"Deidara." Sasori berbisik, berusaha membangunkan Deidara yang masih terlelap.

Seperti biasa, Deidara sangat sulit dibangunkan.

"Deidara, sudah saatnya berangkat," ucap Sasori.

"Ngg...sebentar lagi, Danna," gumam Deidara seraya mengubah posisi tidurnya sehingga kini ia tidur memunggungi Sasori.

"Kau benar-benar seorang bocah," bisik Sasori seraya beranjak untuk merapikan seluruh perlengkapan mereka, kemudian memasukkan tas yang mereka bawa ke dalam Hiruko yang semalam ia keluarkan dari gulungan. Setelah yakin semua perlengkapan mereka sudah masuk ke dalam Hiruko, Sasori melepaskan yukata yang ia kenakan lalu menggenakan jubah Akatsuki miliknya.

Sedikit menggelengkan kepala, ia mendekati Deidara yang masih tertidur di balik selimut yang hangat. Dengan sangat perlahan—seolah mencoba untuk tidak mengusik tidur lelap Deidara—ia melepaskan yukata yang Deidara kenakan kemudian segera menggantinya dengan jubah Akatsuki milik seniman pecinta ledakan itu. Setelahnya, ia mengangkat dan menggendong Deidara bridal style. Refleks Deidara memeluk leher Sasori dan membenamkan wajahnya di perpotongan leher Sasori. Pengendali kugutsu yang terkenal mematikan itu tersenyum tipis melihat tingkah manja partner-nya.

Tanpa menimbulkan bunyi yang dapat membangunkan Deidara, Sasori masuk ke dalam Hiruko dengan membawa Deidara di lengannya. Walaupun ruang di dalam Hiruko cukup sempit, namun setidaknya cukup untuk dua orang. Sasori duduk di dalam Hiruko dan memposisikan Deidara untuk duduk di pangkuan Sasori; punggung Deidara bersandar pada dada Sasori.

Sasori menggerakkan salah satu jarinya, menggerakkan benang chakra yang tak terlihat untuk menutup Hiruko. Setelahnya, jemarinya yang lain bergerak sehingga Hiruko kini bergerak cepat ke arah jendela kemudian melompat ke luar. Menyeringai tipis di dalam Hiruko, Sasori meninggalkan penginapan tersebut tanpa diketahui oleh pihak penginapan.

Hiruko bergerak cepat di gelapnya malam, menelurusi hutan dan mendaki sebuah bukit yang cukup tinggi dalam waktu yang cukup singkat walaupun dengan ukuran tubuh yang besar. Sepertinya keahlian Sasori dalam mengendalikan kugutsu tidak dapat diragukan sama sekali.

Setelah tiba di tempat tujuannya, Sasori kembali membuka Hiruko dan membawa Deidara keluar dari kugutsu berukuran besar itu. Masih dengan menggendong Deidara, Sasori duduk di rerumputan hijau yang basah oleh embun pagi. Ia memposisikan Deidara dengan posisi yang sama dengan posisi di dalam Hiruko tadi.

"Deidara, kita sudah sampai," bisik Sasori tepat di telinga Deidara.

"Huh? Lima menit lagi, Danna..." gumam Deidara seraya bergerak untuk mencari posisi yang lebih nyaman dalam pangkuan Sasori.

Sasori menyeringai saat sebuah ide terlintas di kepalanya. Sebelum melaksanakan ide tersebut, ia menatap lurus ke depan, menatap indahnya langit hitam yang perlahan berubah warna menjadi jingga kemerahan. Sasori mengigit pelan daun telinga Deidara, cukup keras namun tidak sampai melukai kulit tipis tersebut.

Deidara memekik terkejut, seketika ia membuka kedua matanya.

Ia lebih terkejut lagi saat mendapati sebuah pemandangan yang luar biasa indah tepat di depan matanya. Matahari tengah bergerak perlahan meninggalkan singgasananya dengan memamerkan cahaya jingga bahkan mendekati merah, menerangi langit di ufuk timur yang semula hitam legam. Berbagai warna yang menghiasi langit berbintang terlihat bagaikan sebuah fenomena alam yang jarang dilihat oleh manusia, layaknya aurora. Warna jingga, kuning, dan merah yang menghiasi langit terlihat menari-nari di bola mata Deidara.

"Kau menyukainya?" suara bisikan di telinganya membuat Deidara tersadar dirinya tidak sendirian. Ditolehkan kepalanya ke belakang hanya untuk memastikan bahwa benar Sasori lah yang berada di belakangnya, bukan orang lain. Begitu ia yakin, ia mengembalikan fokus pandangannya pada Sang Surya yang perlahan menyapa dunia dengan pesonanya.

"Aku sangat menyukainya, Danna. Ini sangat indah dan seni."

Sasori mengangguk menyetujui dan tersenyum puas.

Mereka menikmati pemandangan matahari terbit dari atas sebuah bukit yang tinggi. Mata mereka benar-benar terfokus pada pesona alam yang membius. Sebuah Maha Karya Sang Pencipta. Sasori ingin mengabadikan momen berharga ini dalam ingatannya. Tak akan pernah ia lupakan sebuah momen di mana ia mengapresiasi karya seni tak ternilai bersama dengan seseorang yang juga bagaikan sebuah karya seni baginya.

Deidara pun menikmati setiap detiknya. Tak seperti Sasori yang merekam momen ini dalam ingatannya, Deidara membiarkan semuanya berlalu begitu saja. Karena menurutnya seni memang keindahan sesaat. Keindahan ini pun akan segera berakhir saat Matahari sudah terbit dengan sempurna. Akan tetapi, walaupun Deidara tidak mencoba menyimpan momen ini di dalam memori otaknya, momen ini tetap akan menjadi kenangan yang berharga baginya secara alami.

"Danna." Deidara berucap setelah Matahari terbit secara sempurna. Langit tak lagi dipenuhi dengan warna jingga, kuning, dan merah. Warna yang tertinggal di langit saat ini hanya warna biru, ya, warna langit itu sendiri. "Danna selalu memiliki selera tinggi."

Sasori tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tertawa pelan setelah mendengar apa yang Deidara katakan. Meski pemuda itu berusaha untuk terdengar serius, namun kata-kata yang dipilihnya terdengar kurang sesuai sehingga berhasil memancing tawa pelan Sasori.

"Tentu saja. Seleraku selalu tinggi, bukan? Terutama tentang seni," sahut Sasori seraya menyeringai.

Deidara tersentak saat menyadari kesalahan dalam ucapannya. Ia tidak bermaksud mengatakan bahwa selera Sasori tinggi dalam hal yang berhubungan dengan seni, karena baginya seleranya lah yang lebih tinggi.

"M-maksudku bukan itu, un! Selera yang kumaksud itu dalam memilih tempat!" protesnya seraya berbalik dan menjauhkan dirinya dari Sasori sehingga kini ia duduk di rerumputan yang basah, tidak lagi berada di pangkuan Sasori yang nyaman.

"Kau beruntung saat ini aku sedang tidak ingin berdebat," ucap Sasori. "Tapi, dari caramu berbicara, sepertinya kau sangat menyukai tempat ini, huh?"

Deidara mengangguk dengan pipi memerah. "Un, aku sangat menyukainya. Lain kali Danna harus lebih sering mengajakku ke tempat ini," sahutnya seraya menatap sekelilingnya. Rerumputan yang luas dengan beberapa pohon tumbuh di tengahnya, juga hadirnya beberapa tanaman dengan bunga yang bermekaran.

"Tentu," sahut Sasori.

Mendengar jawaban Sasori, Deidara segera memeluk Sang Danna dengan cepat.

"Arigatou, Danna!"

Walaupun sedikit terkejut dengan pelukan erat Deidara yang tiba-tiba itu, namun akhirnya Kalajengking Pasir Merah ini tersenyum dan membalas pelukan Deidara.

_TBC_

Words: 3028.