Disclaimer : All Characters belong to Masashi Kishimoto

a/n : Terima kasih pada para reader ffn yang masih betah nongkrongin fic ini 2000 view sudah terlewati. Semoga cerita chapter ini masih menghibur kalian. Walau author masih sangat ragu apa cerita ini sudah oke atau tidak karena minimnya feedback tapi author akan tetap belajar menulis dan membaca ff buat mengisi waktu.

alwi akri : Makasih sudah meningalkan review, jadi semakin semangat aku menulisnya.

Warning : Adik-adik yang di bawah umur 18 tahun tolong jangan dibaca ya, Ada adegan dewasa

.

Chapter 7

Seperti Film Action

.

.

Suasana begitu mencekam ratusan orang-orang terkenal di konoha terjebak didalam ruangan bersama dua orang terrorist bersenjata lengkap. Deidara melihat seorang pria bergerak menuju pintu keluar. Dengan sigap dia mengarahkan senjata dan menarik pelatuknya. Pria itu terkapar, peluru menembus kepalanya. Suara jeritan dan isak tangis ketakutan pun mulai terdengar.

Ino masih duduk di lantai, Dia tidak menyadari kulitnya tergores serpihan kaca yang terbang akibat impact ledakan. Rasa takut mengalahkan rasa sakit. Wanita itu memeluk dirinya dan mencoba menutup pikirannya agar tidak terpengaruh dengan kengerian yang tengah terjadi. Ia mencari sesuatu untuk menguatkannya dan tetap tenang. Kemudian matanya melirik Sai, 'bagaimana bisa dia masih tampak tenang di tengah situasi seperti ini'

"Bila kalian berani mencoba kabur, nasibmu akan sama seperti dia" Teriaknya pada orang-orang.

Pria berambut pirang itu kembali mengalihkan perhatiannya pada Sai yang berdiri di hadapannya. Deidara kemudian mengacungkan pistolnya pada Sai, " Akan terlalu baik bilang aku langsung membunuhmu. Kita butuh sesuatu yang lebih seru" Lalu mata birunya menemukan sosok Ino yang duduk di dekat Sai "Hm.. Bagaimana bila aku membunuh burung kecil mu dulu"

Wajah Sai tetap impassive mendengar ancaman Deidara "Wanita itu tak ada hubungannya denganku"

"Begitu" Deidara melangkah mendekati Ino dan berjongkok. Tanganya meraih dagu wanita yang tengah gemetaran itu. Mata biru sipitnya mengamati wajah wanita itu dengan seksama. "Cantik, Kau bisa menjadi model untuk salah satu masterpiece ku"

Sai merasa amarahnya mulai mendidih "Jangan sentuh dia"

"Ah,Ah… Apa yang bisa kau lakukan Shimura? Melindunginya? Kau hanya orang lemah. Ingat kau gagal menyelamatkan kakakmu" ujarnya tertawa "Jangan Khawatir aku tidak akan mengikatkan bom pada wanita ini dia terlalu cantik untuk dibuat hancur berantakan"

"Kau…" Sai mengepalkan tangannya mencoba tidak termakan provokasi Deidara, bertindak gegabah bukanlah pilihan. Posisi Sai saat ini tidak menguntungkan. Dia tidak bersenjata yang dia bisa lakukan hanyalah mengulur waktu. Berharap Kakashi dan Yamato segera datang.

"Apa mau Akatsuki kali ini?" Tanya Pria berambut hitam itu.

Mendengar nama Akatsuki, Sasuke Uchiha yang membaur di tengah kerumunan membuat rencana. 'Mungkin dua orang itu tahu dimana Itachi' Sasuke yakin dua teroris itu akan memberinya informasi.

Pertanyaan Sai dijawab Deidara dengan acuh, "Mana aku tahu mereka mau apa, aku hanya anak buah" Mata birunya memandang Kerumunan orang dengan bosan dia pun mulai menembaki orang-orang.

Sai hanya bisa melihat korban berjatuhan dengan geram. Dia seharusnya melindungi rakyat konoha.

Sasori berdiri di dekat pintu masuk mengamati keadaan diluar, Dia tidak melihat sosok Sasuke menyelinap ke kamar mandi. Aktor laga ternama itu beruntung menemukan sebuah pintu khusus karyawan yang mengarah menuju tangga darurat. Dengan cepat dan senyap dia menuruni anak tangga keluar dari gedung itu menuju mobilnya. Dari bawah kursi penumpang dia menarik sebuah koper hitam dan mulai merakit senjatanya. Memiliki Senjata api adalah hal illegal di Konoha tapi bila menjalani hidup seperti Sasuke memiliki sebuah senjata adalah kewajiban. membunuh atau dibunuh.

Sasuke tidak sabar ingin berjumpa sang kakak yang dia kira telah mati. Keluarga Uchiha adalah Keluarga berlatar militer. Ayah dan kakek Sasuke berpangkat jendral bintang lima dan Itachi sangat cemerlang di akademi, Dia langsung direkrut menjadi angota pasukan khusus. Bila saja tragedi itu tidak terjadi, mungkin Sasuke sekarang juga akan menapaki karir yang sama. Sayang berkat Itachi dia mendedikasikan seluruh hidupnya hanya untuk satu misi membalas dendam.

Kembali di dalam gedung, Suasana tambah mencekam, jumlah mayat yang tewas tertembak bertambah.

"Deidara, Sebaiknya kau hentikan main-main mu kita sudah membuang banyak waktu" Sasori menghardik rekannya.

"Tunggu sebentar lagi Sasori" Deidara pun melepaskan tembakan yang mengenai seorang wanita tua. Wanita itu langsung tewas. "Katakan padaku dimana Sasuke Uchiha, Bila tidak kalian akan aku tembaki satu persatu"

Sakura muak melihat tingkah dua penjahat itu, Kalau dia akan mati hari ini ya sudahlah dia tidak akan mati sebagai pengecut. Wanita berambut pink itu berdiri " Sasuke sudah pergi sebelum kalian datang" ujarnya lantang.

Deidara mengalihkan pandangannya pada wanita berambut pink itu "Ah Wanita yang pemberani, Lihat apa yang aku hadiahkan untukmu" Deidara mengarahkan laras pistolnya ke wanita itu dan Sakura menutup mata. Bersiap menyambut kematiannya.

"Hentikan Deidara" Teriak rekannya yang berambut merah. "Kita tidak berada disini untuk permainan konyol mu, Kita sudah membuang banyak waktu. Cepat keluar dan ledakkan tempat ini"

Pria berambut pirang itu menurunkan senjatanya "Baik, tapi aku bawa wanita Ini" Deidara menarik lengan Ino dan menyeretnya.

"Sai.." Wanita pirang itu menatap Sai memohon, Iris aquamarine nya pucat bibirnya gemetar dan kulit indah wanita itu berdarah

Melihat wanita pirang itu tengah diseret, Sai tidak bisa tenang lagi. Dia berlari menerjang Deidara yang membelakanginya mencoba menjatuhkannya, tapi dengan cepat Deidara berbalik dan menarik pelatuk pistolnya. Terdengar suara letusan dan pria berambut hitam itu tergeletak di lantai.

"Tidak….. Sai…." Teriak Ino histeris.

Suara Sirene terdengar meraung-raung. Mereka sudah dikepung tapi pasangan penjahat itu masih terlihat santai.

"Bila kau beruntung, Kau tidak akan mati hari ini Shimura" Deidara menyeringai lebar

Sai mengangkat wajahnya, Dia mencoba berdiri tapi kaki kanannya tertembak.

"Kalian punya waktu lima menit untuk menemukan bom nya, Bila kalian tidak berhasil seluruh gedung ini akan hancur, Adios Shimura" Lalu Deidara dan Sasori pergi membawa paksa Yamanaka Ino sebagai sandra.

"cih, mengapa harus bom waktu Deidara, Kau bisa membuat sesuatu yang lebih praktis" Keluh Sasori

"Nah, Ketegangan itu adalah element dari karya seniku. detik-detik sebelum ledakan akan terasa atmosfer kengerian, ada keindahan dari kepanikan, teriakan dan kekacauan yang pada akhirnya terbungkam oleh suara ledakan yang dashyat. Kau mengerti ini seperti sex dan mencapai klimaks"

Ino bergidik melihat dua pria yang bercakap-cakap soal membunuh ratusan orang layaknya membicarakan cuaca 'Apa mereka masih manusia' pikir wanita itu.

.

.

Kakashi Hatake dan Yamato bersama ratusan anggota militer dan kepolisian Konoha mengepung bangunan itu mereka menunggu di pintu depan, Beberapa anggota juga telah menyusup lewat jalan belakang.

"Menyerahlah, Kalian terkepung" Yamato memberi perintah dengan pengeras suara.

Deidara menodongkan pistolnya ke kepala Ino "Kalau kalian menembak, Wanita ini akan mati"

"Kakashi?" Yamato meminta pertimbangan rekannya.

"Biarkan Saja mereka pergi. Kita punya urusan yang lebih penting"

Yamato mengangguk.

"Tugaskan orang untuk membuntuti mereka!"

Yamato mengambil walkie talkie nya dan mengirim perintah.

Kedua penjahat itu menyeret dan melemparkan Ino kedalam mobil dan pergi. Mereka tidak menyadari sepasang mata hitam tengah mengamati mereka. Sasuke menyalakan mesin mobilnya dan membuntuti anggota akatsuki itu.

Para petugas masuk kedalam gedung. Kakashi menemukan Sai terkapar dilantai.

"Sai, Kau tidak apa-apa" Kakashi membantunya berdiri.

"Bom akan meledak empat menit lagi, Kita harus menemukannya"

"Yamato Evakuasi orang-orang dari tempat ini segera, Beri Info agar orang-orang tidak melintas dan beraktifitas di area ini, Kita tidak punya banyak waktu" Teriak pria berambut perak itu.

Tim penjinak bom menyisir gedung tersebut mereka berpacu dengan waktu. Pakkun anjing milik Kakashi Hatake mencoba mengendus bau bahan peledak

"Deidara pasti meletakan bom di salah satu patung dalam gedung ini. Aku pernah menghadapinya" Sai dipapah seorang angota kepolisian. kaki kanannya berlumuran darah.

Ruang pencarian pun dipersempit, Tinggal dua menit Pakkun mengongong dia menemukan Bom pada patung replika dari lukisan the birth of venus yang terletak di tengah-tengah lobby. Timernya menunjukan sisa waktu 60 detik, Tim penjinak bom sedang berusaha mematikan timernya.

Akhirnya, setelah memotong salah satu kabelnya. Timer itu berhenti dan bom tidak jadi meledak. Mereka semua merasa lega.

Proses evakuasi masih dilakukan, Sakura menghampiri Sai "Boleh kulihat luka mu"

Sai mengangguk, Dia mengenal gadis itu waktu masih berada di akademi militer, Sai kerap menjadi pasien di rumah sakit dan Sakura adalah mahasiswa ke dokteran yang sedang magang di Rumah sakit militer. Mengapa dia tiba-tiba menjadi artis. Hanya sakura yang tahu.

"Lukanya tidak dalam tapi pelurunya harus di keluarkan" Kau harus lekas ke rumah Sakit.

Tak lama kemudian terdengar suara ledakan yang keras dari tempat lain, Kepulan asap hitam terlihat dari arah pusat perbelanjaan Konoha Square

"Sial, Kita kecolongan bagaimana intel kita bisa tidak tahu soal ini" Kakashi begitu marah. Dia dan Yamato dengan segera menuju lokasi pemboman.

"Bagaimana dengan Ino" Shikamaru panik luar biasa.

"Aku berjanji akan menyelamatkannya Shikamaru" Dia berusaha menenangkan Pria bermarga Nara itu, sementara dirinya sendiri tidak tenang. 'Ino bertahanlah' Sai berdoa dalam hati.

.

.

Mereka berada di rute menuju Kota Suna. Jalanan ini sepi saat malam hari, Satu-satunya cahanya hanya penerangan lampu jalan karena dikanan kirinya adalah gurun pasir yang tidak berpenghuni. Sasori melihat kaca sepion mobilnya, "Kita diikuti"

Sebuah mobil hitam menguntit mereka dengan jarak cukup dekat.

"Hum.. Aku tembak saja" Deidara menunkan kaca jendelanya dan mulai menembaki mobil itu.

Sasuke tidak gentar dengan lihai dia menyetir menghindari hujan peluru yang di muntahkan senjata Deidara, Lagi pula mobilnya anti peluru dia akan baik-baik saja selama rodanya tidak tertembak. Sasuke selalu melatih fisik dan kemampuannya dengan keras. Dia bahkan tidak pernah mengunakan stuntment dalam aksinya sungguh ironis, aksi kebut-kebutan dan tembak-tembakan yang dia mainkan di layar kaca. Kini terjadi di kehidupan nyata.

Ino Yamanaka meringkuk di kursi penumpang, Wanita itu berdoa agar seseorang muncul untuk menyelamatkannya.

Tembakan Deidara berhenti, Sepertinya dia kehabisan peluru. Dia mengunakan moment ini untuk melepaskan tembakan ke arah roda belakang mobil mereka yang melaju dengan kecepatan tinggi. Akurasi tembakan uchiha sangat sempurna. Satu tembakan tepat sasarn dan mobil yang dikendarai anggota akatsuki itu pun oleng. Sasori berusaha mengontrol laju mobilnya tapi gagal. Pria berambut merah itu tidak bisa melakukan apapun. Mobil tipe sedan itu akhirnya tergelincir dan terjebak dalam pasir. "Sekarang apa kita tidak bisa keluar, ini bukan mobil off road?" Tanya Pria berambut merah itu pada rekannya.

"Gampang" Deidara menyerahkan Pistol Ak-47 pada Sasori "Kita bunuh dia"

.

.

Sai tengah ditangani oleh dokter di rumah sakit pusat konoha. Rumah sakit begitu sibuk menerima banyak korban pemboman, Puluhan orang tewas dan ratusan orang luka-luka. Peluru yang bersarang di kakinya telah dikeluarkan. Sai memaksakan diri berjalan terpincang-pincang Dia menemukan Sakura yang tengah menangani orang-orang yang mangalami luka ringan.

"Kau tahu dimana Uchiha?" Sai harus menemukan Ino segera.

"Aku tidak tahu" Sakura mengeleng "Tapi aku melihat dia menyelinap ke kamar mandi saat penembakan terjadi" lanjutnya.

Pria berambut hitam itu yakin Sasuke pasti membuntuti kedua anggota Akatsuki itu. Karena Sasuke begitu terobsesi untuk menemukan Itachi. Pria itu meraih telpon gengamnya dan menelpon Yamato

"Maaf apa ada info soal keberadaan mereka"

"Belum ada Sai, Saat ini markas sedang mengumpulkan semua informasi. Kita kecolongan tidak seorang pun menduga serangan ini, bahkan informan kita di Akatsuki tidak mengetahuinya"

"Bisakah kau melacak keberadaan Sasuke Uchiha Aku yakin dia membunti mereka" Pinta Sai pada mantan mentornya.

"Maaf Sai aku tidak bisa membantu mu, kau bukan lagi bagaian dari kami, Saat ini statusmu adalah orang sipil. Aku bahkan tidak bisa membagi informasi yang bersifat sensitive pada mu" jelas Yamato

Sai menghela nafas, Dia harus menyelamatkan Ino bagaimanapun caranya "Bisakah aku mendapatkan pekerjaan ku kembali" Tanya nya pada Yamato

"Datanglah ke markas dan kita diskusikan disana"

Sai tiba di markas pusat. Dia mengkonsumsi obat penahan sakit dengan dosis tinggi agar bisa berjalan walau terpincang-pincang. Beruntung darah sudah berhenti merembes dari jahitannya. Kakashi dan Yamato telah menunggu di ruang rapat.

" Selamat datang kembali Ink-man" Pria berambut perak itu menyerahkan sepucuk senjata api padanya.

Sai menimbang berat senjata itu ditangannya. Sudah tiga tahun dia tidak menyentuh benda itu. 'Apa aku masih bisa menggunkannya' pikir pria itu

"Apa pendapat mu Sai, Kita harus menemukan Sasori dan Deidara" Tanya Yamato

"Bisakah kita melacak keberadaan Sasuke? Besar kemungkinan Dia sedang bersama mereka"

Kakashi mengangguk dan memerintahkan team IT untuk melacak keberadaan pria itu. .

Tidak lama kemudian mereka mendapatkan jawaban.

"Sai, Mobil Sasuke berhenti di rute Suna-Konoha. Masuk akal bila mereka melarikan diri ke suna. Itu kota asal Sasori" Yamato membaca tracking GPS yang mereka install diam-diam di mobil sasuke. Bahkan handphone pria itu juga mereka sadap.

Mengapa mereka mengawasi tiap gerakan Uchiha bahkan sejak dia masih kecil. Pertama karena itu permintaan pribadi Itachi Uchiha dan Gubernur ke-3. Lalu Danzo Shimura pejabat militer konoha berpendapat Sasuke dapat menjadi ancaman laten bagi keamanan Konoha

"Kita harus segera kesana, Yamato persiapkan helicopter" Perintah Kakashi

Sai heran mengapa mobil Sasuke tidak bergerak, Dia khawatir Pria itu sudah tewas dan dia akan kehilangan jejak.

Sai, Yamato dan Kakashi mempersiapkan persenjataan mereka dan berjalan menuju helipad.

.

.

Sasuke masih duduk didalam mobilnya mengawasi pergerakan duo akatsuki itu. Bila dia keluar sekarang mereka akan memberondongnya dengan peluru 'Cih, Situasi ku tidak menguntungkan dua lawan satu' Baku tembak di tempat terbuka seperti ini sangat berbahaya. Tidak ada tempat untuk bersembunyi. Belum selesai berpikir rententan tembakan mengarah pada kaca depan mobilnya. Dengan sigap Sasuke merunduk di bawah dashboard mobil. Kaca dan lampu mobilnya pecah berkeping-keping.

" Orang itu pasti sudah mati, tapi kita masih butuh kendaraan untuk sampai Suna" Ucap Pria berambut pirang.

"Biar aku periksa, Mungkin mobil orang itu bisa kita pakai" Sasori berjalan menuju mobil Sasuke

Suara tembakan berhenti, Ino memberanikan diri melihat situasi dari kaca belakang mobil yang pecah dan retak. Wanita itu melihat mobil jeep hitam yang familiar 'Itu mobil Sasuke, Apa Sasuke membuntuti mereka?' melihat kondisi mobil itu Ino merasa putus asa 'Oh tidak, Sasuke mungkin terbunuh'

Sasori berasumsi siapapun yang mengemudi pasti sudah mati karena tidak ada indikasi gerakan dari dalam mobil tersebut. Dia dengan ceroboh langsung membuka pintunya. Sasuke yang merunduk dengan cepat melepaskan lima tembakan beruntun. Peluru-peluru itu bersarang di dadanya. Sasori roboh terlentang di pasir.

'Satu jatuh, tinggal satu lagi. Dia butuh pria itu hidup-hidup'

Melihat rekannya tewas. Deidara melepaskan tembakan membabi buta. Sasuke terdesak tapi dia masih mencoba berlindung di dalam mobilnya. Lalu dia mendengar suara helikopter.

"Deidara menyerahlah Kau sudah terkepung" Yamato memberikan peringatan.

Dua helikopter terbang rendah, Sai berdiri di pintunya membidikan senapannya pada pria berambut pirang itu. Mata hitamnya mencari tanda keberadaan Yamanka Ino

Merasa terpojok Deidara menjatuhkan senjatanya dan mengangkat tangan. Kedua helikopter itupun mendarat.

Ino merasa lega, Sekarang dia selamat.

'Ah sial pasukan konoha datang. Sekarang bagaimana aku bisa mendapatkan informasi' Merasa situasi sudah aman Sasuke keluar dari mobil. Dia akan bertanya sekarang. Sebelum mereka mebawa Deidara pergi.

Yamato, Sai dan Kakashi turun dari helikopter tetap membidikan senjata mereka pada Deidara. Pria berambut pirang itu benar-benar terkepung dari segala sudut. Lalu dia melihat sosok Sasuke uchiha bergabung dengan tiga pria tadi.

"Oh ternyata kau Sasuke Uchiha, Hampir saja aku berhasil menghadiahkan mayat mu pada Itachi"

"Jadi kau tahu dimana Itachi?"

Pria berambut pirang itu tertawa "Tentu saja, Tapi kau tidak akan mendapatkan informasi dari mulutku"

Ino memandang keluar, Dia melihat tiga orang bersenjata dan Sasuke Uchiha mengerumuni penculiknya. Dia tidak dapat mendengarkan percakapan mereka. Air mata Ino mengalir dia menemukan sosok pria berkulit pucat diantara mereka 'Sai masih hidup' Dia merasa lega dan luar biasa bahagia tapi hal itu tidak berlangsung lama.

Deidara mengambil granat dari sakunya , "Biarkan aku pergi atau kita semua akan mati disini" Deidara bersiap menarik kunci granat di tangannya.

Pria berambut pirang itu berdiri membelakangi Sai, Dia tidak menyadari Sai tengah menarik pelatuk pistolnya. Belum sempat Deidara melemparkan granatnya, Sebuah letusan terdengar dan peluru bersarang di punggungnya.

"Itu untuk Shin" Ucapnya Dingin.

Pria itupun roboh tidak bernyawa.

"Apa yang kalian lakukan" Teriak Sasuke "Sekarang aku kehilangan informasi berharga"

"Sasuke Uchiha, Kau ikutlah dengan kami. Aku akan menceritakan apa yang aku tahu soal Itachi" Ujar Kakashi.

Melihat situasi sudah aman Yamanaka Ino turun dari mobil. Sai memandang wanita itu. kondisinya tidak begitu buruk hanya luka gores dan lebam. Lalu Sai tersenyum merasa beban terangkat dari bahunya.

Ino berlari ke arah pria itu, Dia lega menemukan wajah yang familiar, enam jam terakhir penuh darah dan kengerian. Betul betul menguras energy dan mentalnya. Hari ini bagaikan sebuah film tapi ini real, tidak ada sutradara yang berteriak cut, darah dan mayat yang bertebaran itu nyata, luka-lukanya juga nyata. Wanita itu memeluk Sai dan menangis sejadi-jadinya meluapkan semua emosi yang dia alami

Sai memeluk wanita itu dan membelai rambutnya "Ayo kita pulang" Bisik Pria itu pada Ino.

.

.

Tiba di markas pusat Kakashi membawa Sasuke keruangannya, Dia sebenarnya ragu untuk menceritakan rahasia ini pada Sasuke. Karena Itachi lah yang seharusnya bercerita tapi Kakashi merasa Sasuke berhak tahu sebuah kebenaran.

"Itachi tidak pernah menghianati Konoha tapi keluarga Uchiha lah yang berkianat"

"Apa maksud mu?, Itachi membunuh orang tua ku di depan mataku sendiri" Tangan Sasuke mengepal marah trauma saat itu tidak akan pernah hilang. Dia akan membalaskan dendam pada Itachi dan membunuhnya.

" Dia melakukannya untuk menyelamatkanmu dan nama Uchiha. Dengar Sasuke, Ayah mu adalah panglima militer tertinggi dan dia berencana melakukan kudeta dan berniat mengulingkan pemerintah. Itachi tidak setuju dengan rencana itu lalu dia melaporkan semua pada Danzo dan Gubernur Hiruzen. Jadi untuk mencegah timbulnya perang saudara Itachi membunuh orang tuanya sendiri"

"Aku masih tidak mengerti " Sasuke menunduk memegang kepalanya mencoba memahami Itachi.

"Bayangkan apa yang terjadi bila masyarakat tahu ayah mu merencanakan kudeta, Nama Uchiha akan tercoreng dan kau akan di anggap putra pengkianat, Jadi Itachi memutuskan bahwa dialah yang akan menjadi penjahatnya sehingga kau bisa tetap menyandang nama Uchiha dengan kepala tegak, Itachi mengorbankan dirinya demi kau dan konoha"

"Aku tidak peduli, Apapun alasannya Itachi membunuh orang tua ku dan Aku akan tetap mencarinya" Sasuke berdiri dan meningalkan ruangan itu. Semakin besar motivasinya untuk bertemu kakaknya, Ya keputusannya sudah bulat dia akan bergabung dengan Akatsuki.

.

.

Matahari telah terbit ketika Sai dan Ino tiba di rumah, Mereka berdua merasa lelah setelah semua yang terjadi tapi mereka berhasil membersihkan diri sebelum berbaring di tempat tidur. Luka Ino telah dirawat dan Sai mendapatkan perban baru. Mereka berdua tahu mereka butuh tidur tapi setelah semua yang terjadi kantuk tak kunjung tiba.

"Apa kamu baik-baik saja Gorgeous" Wanita yang tengah duduk diranjangnya masih terlihat pucat. Dan sedikit gemetaran. Kulit tangannya lebam dan pipinya tergores kaca. Sai menelusuri luka itu dengan ibu jarinya.

Wanita itu tersenyum merasakan perhatian Sai pada dirinya "Aku baik-baik saja,tidak usah khawatir Sai luka ini tidak akan berbekas. Aku sangat takut ketika penjahat itu menembak mu"

"Aku tidak apa-apa Ino, mungkin aku akan berjalan terpincang-pincang selama beberapa bulan" Sai pernah mengalami yang lebih parah.

"Siapa kau Sai Shimura" Mata besar Ino menatap Sai penuh tanda tanya.

"Kau tahu Danzo Shimura?"

Ino mengangguk

"Pria itu memberikan ku nama keluarga, Aku tidak ingat masa kecilku dan orang tua kandungku. Aku di besarkan oleh Danzo dan dilatih untuk menjadi seorang prajurit" Sai tidak ingin bercerita lebih detail tentang masa lalunya, tapi dia punya pertanyaan yang sangat penting "Apa kau takut padaku? Tangan ini sudah membunuh banyak orang"

Pertanyaan itu membuat mata aquamarine Ino terlihat sendu, Dia meraih dan mengengam tangan pria yang untuk pertamakalinya terlihat ragu. "Tidak, aku tidak takut padamu sama sekali"Ino ingin menghapus keraguan itu.

"Maafkan aku Ino, Kamu mengalami semua ini karena aku gagal melindungimu"

"Sshtt…"Wanita pirang itu meletakan jari telunjuknya di bibir Sai membungkam pria berambut hitam yang tengah menyalahkan dirinya "Sai, kau telah menyelamatkan ku dan jangan berpikir kurang dari itu"

Ino memandang Sai dengan intense. Dia butuh sesuatu untuk mengalihkan pikirannya dari gambaran darah dan mayat yang berserakan Dia ingin pria itu menyentuhnya memberikan kehangatan dan mengingatkannya ada emosi selain rasa takut. Ino membutuhkan pria itu sekarang.

Kedua tangan hangat wanita itu meraih dan menangkup wajah pria di hadapannya. Ino bergerak mendekat menyentuhkan dahinya pada dahi pria itu. Bibir mereka hanya terpisah beberapa senti saja Sai diam terpaku merasa terkejut ketika hembusan nafas wanita itu mengelitik bibirnya. Pandangan mereka terkunci. Mata hitam kelam dan Biru turquoise bertemu. Hasrat yang selalu ada dalam diri mereka memangil meminta untuk dilepaskan. Jantung Ino berdegup kencang. Ia merasa tidak yakin dan gugup seperti halnya gadis perawan, wanita itu ingin membuat Sai mengerti dan merasakan apa yang tengah dia rasakan "Sai, terima kasih" Bisiknya lirih dan menghapus jarak diantara mereka dengan sebuah kecupan.

Ciuman Ino tidak terasa manis seperti ketika pertama kali Sai mencicipi bibir itu. Sai merasakan keterdesakan dan rasa putus asa seolah wanita itu sedang berdiri diujung kewarasannya dan memohon padanya untuk membawa dirinya kembali. Tidak Ino tidak perlu memohon padanya karena Sai selalu menginginkannya. Kebutuhannya atas wanita yang seindah bunga dan seterang matahari ini telah menghapus semua ketenangan jiwanya.

Dia menarik Ino dalam pelukannya. Sai membalas ciuman Ino dengan gairah yang selama ini dia ingkari. Hari ini dia hampir kehilangan Ino. Sai tahu bila itu sampai terjadi dia akan menyesalinya seumur hidup. Kali ini dia tidak akan menahan diri. Sai ingin merasakan dan Yamanaka Ino membuat Sai merasakan sesuatu untuk pertamakalinya.

Bibir mereka bertaut dan saling memagut. Ibu jari Sai membelai kulit sensitive di belakang telinganya dan terdengar erangan serak dari bibir pinknya yang penuh. Bibir dingin pria itu perlahan turun menelusuri leher seputih susu yang jenjang meninggalkan jejak kemerahan yang tidak akan hilang dalam beberapa hari kedepan.

Ino memejamkan mata, syaraf-syarafnya merespon kenikmatan yang diberikan pria itu. "Sai.." Ino merintihkan nama pria itu. Kali ini dia sedang tidak bermimpi. Sai kembali menghujani bibir gadis itu dengan ciuman dan berhenti sesaat. Mereka berdua mengambil nafas pendek yang goyah. Nafsu menghiasi mata wanita itu tapi tidak satu emosipun tersurat pada mata kelam Sai Shimura setelah menciumnya seperti itu. Ino merasa sedikit kecewa.

.

.

Sai menyisir rambut panjang wanita itu dengan jari-jarinya. Dia tidak akan melupakan wajah penuh gairah wanita itu yang ditujukan hanya untuknya.

"Ino, apa kau yakin ini yang kau inginkan?"

Wanita itu mengangguk. Dengan sekali sentakan Sai menanggalkan gaun sutra tipis yang Ino kenakan.

Sai mengamati sosok telanjang di duduk hadapannya "Kau begitu cantik"

Wajah Ino merona "Sai, Biarkan aku menyentuhmu"

Sai menuruti permintaan ino dan melepas bajunya. Ino menahan nafas melihat pemandangan di hadapannya. Tubuh Sai yang kurus terpahat sempurna. Kulitnya yang pucat dihiasi banyak bekas luka yang begitu jelas terlihat dalam cahaya matahari. Di mata Ino pria itu menakjubkan untuk dilihat. Jari-jarinya menelusuri setiap bekas luka yang melintang di dada pria itu. Ino bertanya-tanya dalam hati mungkinkah suatu hari dia akan tahu setiap kisahnya.

Sai menangkap tangan wanita itu dan menciumnya. Dengan lembut dia membaringkan Ino di ranjang. Dia tidak berpikir dua kali untuk menjelajahi tiap sudut dan lengkungan tubuh wanita itu dengan bibirnya yang ahli.

Ino hanya bisa mendesah, merasakan belaian tangan Sai diantara kedua kakinya. Dia merasa terbakar sesuatu dalam dirinya memohon untuk diisi. Jari-jarinya dengan lembut menyentuh bagian paling intim dari dirinya. Wanita itu merasa semua indranya menjadi lebih sensitive.

"Sai, Please" Ino memohon.

Sai tersenyum, dan berdiri untu menanggalkan satu-satunya artikel pakian yang memisahkan dirinya dengan wanita itu. Kemudian menindih wanita itu "Kau siap" Mata hitamnya memandang wajah merona Yamankan Ino meminta persetujuan.

Wanita itu menganguk, Sai menghadiahkan sebuah ciuman sebelum menyatukan tubuh mereka. Dia mengerang tertahan. Ino terasa basah, lembut dan hangat. Sai menyukai apapun yang dia rasakan saat ini. Ino merintih merasakan Sai mulai bergerak perlahan. Perlahan-lahan tempo meningkat, yang terdengar hanya desahan nafas dari dua insan manusia yang tengah terbungkus dalam nafsu. Keringat membanjiri tubuh mereka yang bergerak ritmis dalam sinkroni. Semua itu berakhir dalam sebuah nada crescendo. Ino merasakan dirinya mencapai Klimaks dan dia pun memekikan nama pria yang telah menyelamatkannya.

Sai tersenyum puas melihat wajah Ino yang terlihat lelah dan merona dan Segera menyusul wanita itu berlari menuju puncak kenikmatan. Sai mengecup kening wanita itu. Mereka berpelukan dalam kesunyian menikmati sisa euphoria sebelum akhirnya jatuh tertidur. Bagi Sai Sex tak pernah terasa begitu manis seperti saat ini.

.

.

Kedua pasangan itu terbangun karena bel pintu rumahnya berdering terus-menerus. Sai bangun dan mengenakan celananya. Mencari tahu siapa yang datang ke rumahnya siang bolong begini. Ino yang juga terbangun segera meraih jubah tidurnya. Rambutnya acak-acakkan dan kulitnya masih merona. Bekas ciuman di lehernya merupakan bukti kegiatan liar mereka tadi pagi.

Sai berjalan terburu-buru siapapun yang sedang di depan pintunya sepertinya sedang tidak sabaran

Pintu terbuka dan Shikamaru berdiri disana terlihat sangat khawatir. Dia datang bersama pria yang sepertinya familiar, Mata turquoise dan rambut pirang panjang yang diikat menjadi pony tail. Wajah pria itu tak kalah khawatirnya dengan Shikamaru.

Ino muncul dari kamar tidur Sai, Mata indahnya membesar melihat sosok yang berdiri di ambang pintu. Tidak percaya

"Ayah?"