The Journal
.
.
.
Character : Do Kyungsoo, Kim Jongin.
And others.
Disclaimer : The character belong to God, but This story and Plot belong to BYEOLBAEK.
.
.
.
.
.
"Kyungsoo, seorang mahasiswa yang tak sengaja menemukan sebuah Journal di gudang aneh mulai muncul semenjak Kyungsoo membaca Journal itu. Teror dan Ancaman, membuat hidup Kyungsoo tak tenang"
.
.
.
.
.
.
Gelap.
.
.
Dingin
.
.
Dua kata yang dapat Baekhyun katakana saat tak tahu ini dimana. Bahkan untuk melihat sesuatu pun ia tidak bisa. Tubuhnya menggigil. Keringat dingin mengalir dari pelipisnya. Nafasnya sedikit terengah.
"Hah ..Hah .. C-chanhh ..yeol .."
Ia memeluk dirinya erat. Suhu yang ia rasakan semakin lama semakin dingin
"D-dinginhh ..Hah ..Chanhh ..Chanyeolhh"
'Tap ..Tap .. Tap'
Suara langkah kaki menggema di ruangan gelap itu.
Baekhyun bersikap was-was. Jantungnya berdegup cepat "C-channie?"
'Kringg ..Sreet ..Kringg'
Wajah Baekhyun menegang. Suara ..Apa itu?. Ia meremas lengan sweaternya kuat dan menggigit bibirnya agar tak mengeluarkan suara.
'Tap ..'
'Deg'
Jantung Baekhyun seakan berhenti. Ia merasakan seseorang berhenti tepat di hadapannya. Dengan perlahan, ia menoleh ke atas. Pandangannya sarat akan ketakutan. Badannya masih menggigil dan peluh kini membasahi dahi dan lehernya.
"Baekhyunnie .."
.
.
.
.
"ANDWAE!"
Chanyeol terperanjat. Ia bangkit dari sofanya dan berjalan cepat kearah tempat tidur. Baekhyun tengah terduduk disana, bahu dan dadanya naik turun. Nafasnya tak beraturan.
"Baekhyunnie, ada apa?"
Baekhyun menggeleng keras. Nafasnya masih terengah. Seluruh tubuhnya di banjiri keringat. Matanya melirik gelisah kesana kemari.
"Hey Hey, ada apa sayang?"
Chanyeol mencoba menenangkan tunangannya itu. Ia meletakan tangannya di ke dua pipi Baekhyun, memaksa namja itu untuk menatapnya. Baekhyun menatapnya, air mata menggenang di pelupuk matanya. Ia memeluk Chanyeol dengan erat.
"C-chanyeol .."
"Sst .. sst .. Aku disini Baby .."
Chanyeol memeluk Baekhyun dan mengusap surai lembut itu dengan sayang
"Ada apa, heum?"
Ia mengecup pelan pipi Baekhyun dan menatap namja manis itu, tangannya masih setia mengusap surai Baekhyun.
Baekhyun mulai tenang. Dadanya berhenti naik-turun digantikan dengan suara nafas yang teratur. Ia menyadari satu hal. Ia tengah berada di UKS. Kemudian ia menatap dalam mata bulat Chanyeol, pandangannya sarat akan ketakutan kemudian ia menunduk.
"A-aku .. Bermimpi buruk .."
Chanyeol menghela nafasnya kemudian tersenyum kecil. Kedua ibu jarinya mengusap dahi Baekhyun lalu mengecupnya
"Itu hanya mimpi .. Percayalah .."
Kemudian ia menyatukan dahi keduanya. Mereka saling bertatapan, Baekhyun menatap Chanyeol ragu namun senyuman Chanyeol membuat hatinya sedikit tenang. Ia mengangguk mengerti kemudian tersenyum kecil.
"Ayo kita pulang .."
Chanyeol menjauhkan dirinya lalu mengambil tasnya dan tas milik Baekhyun
"Kau bisa berjalan?"
Raut wajahnya berubah khawatir saat melihat Baekhyun yang sedikit meringis sembari memegangi kepalanya.
Baekhyun menggeleng ragu "Aku .. Bisa. Hanya saja-Akh!" Ia kembali memegangi kepalanya yang terasa sangat pening.
Chanyeol segera menghampiri tunangannya itu kemudian mengusap pundaknya pelan "Ku gendong, oke?" Ia kemudian meletakan tangannya diantara kaki Baekhyun dan tengkuknya lalu mengangkatnya.
Baekhyun hanya bisa terdiam. Ia sebenarnya tidak ingin merepotkan Chanyeol karena wajah kelelahan Chanyeol terlihat sangat jelas dimatanya. Namun apa boleh buat .. Keadaan memaksanya ..
Ia mengalungkan tangannya di leher Chanyeol saat Chanyeol mulai berjalan membawanya "Chanyeol .."
Bisikan lembut itu hanya dibalas oleh sebuah gumaman dari mulut Chanyeol.
Baekhyun tersenyum tipis "Trimakasih .." Ia memberi jeda sejenak "Maafkan .. Aku merepotkanmu .."
.
.
.
.
'Cklek'
Kai menutup pintu ruang kimia dengan perlahan. Ia masih tak percaya apa yang baru saja terjadi padanya. Ia menghela nafasnya kemudian bersandar pada tembok, pikirannya kembali pada percakapannya dengan wanita misterius itu. Kyungsoo … Apa yang menyebabkan wanita itu menghantui kekasihnya?
.
"Bukan salahku Kim JongIn .. Kyungsoo menemukan sesuatu miliku yang berharga .. Dan aku telah bersumpah. Siapapun yang berhasil menemukan barang itu akan terkena kutukanku jika dia tidak berhasil membantuku .."
.
Alisnya berkerut saat menemukan kejanggalan pada ucapan wanita itu.
Sesuatu? … Yang berharga?
"Kyungsoo hyung tidak pernah bercerita apapun tentang itu .."
Kai bergumam pelan. Kemudian kembali\ memikirkan ucapan wanita itu.
.
"… terkena kutukanku jika dia tidak berhasil membantuku …"
.
"Membantu .. ya .."
"KAI-AH!"
Sebuah teriakan membuatnya menoleh. Ia terkejut dengan pelukan tiba-tiba yang menubruk tubuhnya. Tubuh mungil kekasihnya kini tengah memeluknya erat, nafasnya juga terengah-engah tak teratur seperti habis berlari, ia juga menyembunyikan wajahnya di dadanya. Kai membalas pelukan tersebut, kemudian ia mendongakan kepalanya melihat Lay dan Luhan yang juga terengah-engah.
"Kalian … Ada apa ini, hm?"
Ia bertanya dengan nada lembut sembari mengelus surai hitam milik Kyungsoo. Lay dan Luhan menoleh bersamaan, kemudian keduanya saling bertatapan dan menggeleng pada Kai.
"Kamihh .. hahh .. Tanyakan saja pada Kyungsoo .."
Kai kemudian kembali menunduk melihat kekasihnya yang masih belum mau menunjukan wajahnya.
"Kyungsoo .. hyung? Ada apa ini? Kenapa kalian terengah-engah seperti ini?"
Kai mencoba mengangkat wajah Kyungsoo namun Kyungsoo menolak dan menggelengkan kepalanya. Pelukannya pada tubuh Kai semakin mengerat, ia mengepalkan tangannya. Meremat kaos bagian belakang kekasihnya.
"Hyung .. ayolah. Jangan membuatkku bingung"
"Hiks .."
Suara isakan kecil terdengar dari Kyungsoo dan itu membuat Kai sedikit panik saat menyadari bahu kekasihnya bergetar disertai dengan suara isakan yang semakin jelas terdengar. Kyungsoo mendongak, menatap Kai dengan mata bulatnya sudah berlinang air mata.
"Hks .. K-kai-ah .."
Suaranya serak dan … bergetar. Seperti orang yang ketakutan akan sesuatu. Pelukan mereka perlahan terlepas. Kai menghapus jejak air mata di pipi Kyungsoo kemudian menangkup kedua pipi tembam itu.
"Katakan padaku .. ada apa, hm?"
Kai dapat melihat ada ketakutan yang besar di dalam mata Kyungsoo. Apa .. ini karena wanita itu?
"Hyung .."
Kai kembali berucap pelan. Namun kekasihnya tak kunjung berbicara. Mereka masih saling bertatapan. Kyungsoo sangat ragu untuk mengutarakan apa yang dirasanya saat ini. Perasaan takut, terancam, bingung dan masih banyak lagi, semua bercampur hingga ia tak tahu bagaimana menyampaikannya.
Kyungsoo kembali menunduk. Ia pusing dengan semua kejadian yang ia alami sejak saat itu. Sejak dirinya menemukan buku journal milik wanita bernama Yoona itu. Ia memejamkan matanya sejenak, rasanya tubuhnya ringan sekali. Dan selanjutnya, hanya teriakan samar dari Kai, Luhan dan Lay yang terdengar olehnya.
.
.
.
.
"Jadi … Kyungsoo hyung tiba-tiba berlari begitu saja?"
Lay mengangguk. Ia menatap Kyungsoo yang kini terbaring di ranjang UKS. Kemudian kembali menatap Kai yang duduk di hadapannya.
"Ya .. dan ada sesuatu yang aneh terjadi sebelum ia berlari"
Kai yang sedari tadi menatapi kekasihnya yang terbaring kini menoleh pada Lay. Ia menatap Lay dengan penuh Tanya.
"Aneh?"
Lay mengangguk.
"Kau tahu? Tumbuhan gantung yang ada di ruang terbuka hijau tiba-tiba terjatuh dan hampir mengenai Kyungsoo jika saja Luhan tidak datang dan mendorongnya"
Kai terbelalak kaget.
"Tumbuhan gantung? M-maksudmu pot-pot yang besar itu terjatuh? Bukankah itu sudah sangat kuat?!"
Lay menggeleng.
"Aku tidak tahu. Itu tiba-tiba terjatuh … dan yang sangat aneh adalah tanah-tanah pot itu bergerak sendiri .. dan …"
Kai menatap Lay dengan serius, menungguk kalimat apa yang selanjutnya keluar dari mulut Lay.
"Dan membentuk namamu, Kai"
Kai menoleh pada Luhan yang sudah selesai mengurus Kyungsoo.
"Apa maksudmu, Luhan hyung?"
Luhan berjalan kemudian mendudukan dirinya di samping Lay. Ia bersandar pada sofa dan menatap Kai.
"Namamu, Kai. Namamu Kim JongIn, bukan?"
Wajah Kai terlihat sedikit menegang. Perlahan, ia bersandar pada sofa yang ia duduki. Semua kejadian ini, apa terjadi karena wanita itu? Entah mengapa firasatnya selalu tertuju pada wanita itu. Ia mengusap wajahnya kasar kemudian menatap langit-langit ruangan tersebut.
Luhan menghela nafasnya dan Lay bersandar pada sofa. Jujur saja, mereka sangat lelah karena mengejar Kyungsoo tadi. Kini Kyungsoo pingsan dan itu membuat mereka kebingungan dengan apa yang terjadi pada teman mereka. Ditambah kejadian aneh yang terjadi di ruang terbuka hijau tadi.
"Hyung .."
Luhan dan Lay menoleh bersamaan pada Kai. Kai masih menatap langit-langit ruangan tersebut, suaranya terdengar sangat lirih.
"Apa .. Yang harus aku lakukan?"
.
.
.
.
Chanyeol menyetir mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali ia menoleh pada Baekhyun yang sedari tadi diam dan hanya memandang keluar jendela. Baekhyun … tidak biasanya seperti ini. Karena tak tahan dengan keterdiaman yang terjadi di mobilnya, Chanyeol menepikan mobilnya di bahu jalan.
"Baekhyunnie …"
Baekhyun masih terdiam. Chanyeol memegang pundaknyan kemudian memaksa Baekhyun untuk menatapnya. Mata Chanyeol membulat saat menemukan mata indah milik tunangannya tersebut menangis.
"Baekhyun-ah … Ada apa?"
Baekhyun menggeleng kemudian menghapus air matanya.
"A-aku tak apa-apa"
Baekhyun mencoba memberikan senyum terbaiknya walaupun matanya jelas berbohong. Chanyeol menggeleng kemudian mengusap pelan surai Baekhyun.
"Kau jelas tidak bisa membohongiku"
Baekhyun menunduk. Apa ia harus berbicara yang sesungguhnya pada Chanyeol? Tapi ia tidak ingin merepotkan Chanyeol lebih banyak lagi. Sudah cukup banyak ia merepotkan Chanyeol. Ia tak ingin Chanyeol terbebani dengan apa yang tengah ia pikirkan saat ini.
"Byun Baekhyun. Aku berbicara padamu"
Oh tidak .. Jika Chanyeol sudah menyebut nama marganya itu bertanda jika Chanyeol sedang benar-benar serius. Dengan ragu Baekhyun mengangkat kepalanya. Matanya bertatapan langsung dengan mata Chanyeol.
"C-chan … A-aku-"
'Buk!'
Ucapan Baekhyun terhenti akibat sebuah benda menabrak jendela depan Mobil milik Chanyeol. Chanyeol dan Baekhyun menatap bersamaan objek yang menabrak jendela tersebut.
"Chanyeol! Itu burung!"
Baekhyun segera keluar disusul dengan Chanyeol.
Baekhyun melihat Burung yang nampaknya tengah sekarat, ia menutup mulutnya karena kondisi burung tersebut yang mengenaskan. Sebelah sayapnya hilang entah kemana dan kepalanya pun patah. Namun, ada sesuatu yang menarik perhatian keduanya. Sebuah gulungan kertas kecil di kaki burung tersebut.
Chanyeol dan Baekhyun saling bertatapan. Kemudian Chanyeol mengambil gulungan kertas tersebut dan membuang burung yang kini sudah tak bergerak itu. Chanyeol membuka gulungan kertas itu kemudian menatap Baekhyun dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan. Baekhyun kemudian mendekat karena ia sangat penasaran apa isi yang ada di dalam kertas tersebut. Dan merekapun membacanya bersamaan.
"Semua yang kau sayangi … akan mati …"
.
.
.
.
Kyungsoo terbangun dari tidurnya. Ia memegang kepalanya yang terasa berat, perlahan ia mulai bangun dan melihat kesekelilingnya, oh … ia terbaring di ranjang uks. Kemudian pandangannya tertuju pada tiga orang yang tertidur di sofa yang tidak jauh darinya. Ia menjadi sedikit tidak enak pada ketiga orang itu. Mereka terlihat sangat kelelahan terlebih lagi wajah mereka. Lay meringkuk di atas sofa, Luhan memalingkan wajahnya dan Kai yang mendongak keatas. Dan Kyungsoo hanya bisa tersenyum samar melihatnya.
Kyungsoo menoleh pada jendela yang ada tak jauh darinya. Kampusnya sudah gelap. Mungkin sudah malam. Kyungsoo kemudian mencoba menggerakan tubuhnya dan turun dari atas ranjang, menghampiri teman dan juga kekasihnya.
'Crakh'
Alis Kyungsoo merkerut saat kakinya menapak pada lantai. Apa ia baru saja menginjak genangan air? Kepalanya menunduk perlahan dan seketika matanya terbelalak. Oh astaga! Bagaimana bisa lantai putih itu berubah menjadi genangan …darah?! Begitu pekat dan berbau menyengat, membuat Kyungsoo ingin mengeluakan seluruh isi perutnya. Tapi .. tunggu. Dari mana arah darah itu?
Kyungsoo kembali mengangkat kepalanya, jakunnya naik turun. Oh jangan bilang ia sedang berhalusinasi … lagi. Matanya kemudian menangkap asal muasal darah tersebut. Dan matanya kembali membulat.
Oh tidak … tidak … TIDAAAK! Darah itu berasal dari sofa, dimana teman dan kekasihnya tengah tertidur. Kyungsoo bergerak cepat mengabaikan pusing yang menyerang kepalanya. Ia menggapai pundak Luhan dan sedikit mengguncangnya.
"L-luhan hyung .. Luhan hyung .."
Ia terus mengguncangkan tubuh itu namun tak ada jawaban apapun dari Luhan. Itu membuat Kyungsoo panik kemudian ia menangkup kedua pipi Luhan agar menghadap padanya.
"…"
Kyungsoo tidak dapat mengeluarkan suaranya. Mulutnya terbuka lebar. Matanya membulat dan berkaca-kaca. Ia berhasil membuat kepala Luhan menoleh padanyanya. Ya, hanya kepalanya. Tidak dengan tubuhnya.
"Lu …han hyung?"
Kyungsoo bergetar dangen kepala Luhan yang ada di tangannya. Dan dengan tiba-tiba mata Luhan terbuka memperlihatkan mata hitam yang sangat gelap.
"Hai Kyunggie … Bagaimana .. tidurmu?"
Mulutnya menyeringai. Menyeramkan sekali.
"AAAAAAKH!"
Kyungsoo berteriak kencang dan dengan reflek melemparkan kepala tersebut entah kemana. Tubuhnya bergetar ketakutan kini hanya ada tubuh Luhan yang ada di hadapannya. Dan tanpa kepala. Kemudian iamenatap tubuh Lay dan Kai bergantian. Apa … mereka juga sama seperti Luhan?
"L-lay hyung … K-kai-ah …"
Lay membuka matanya dan Kyungsoo kembali dikejutkan karenanya. Lay mungkin lebih baik dari Luhan karena hanya kehilangan satu mata dan mulutrnya yang sobek. Kyungsoo perlahan mundur karena ketakutan. Terlebih saat Lay menyeringai lebar padanya.
"Kau kenapa kyunggie? Apa kau takut dengan kami?"
Kyungsoo semakin melangkah mundur saat Kai menoleh padanya. Ia menutup matanya rapat-rapat. Kondisi Kai bisa di bilang lebih parah dari Luhan dan Lay. Kai yang sekarang ada di hadapannya sama persis dengan yang ia lihat di ruang kimia kemarin. Ia menunduk. Tubuhnya bergetar takut.
"P-pergi .. Jangan menggangguku .. Kumohon .."
Ia berbisik pelan. Mereka semua terdiam. Tiba-tiba genangan darah yang ada di bawah kakinya terasa menggelembung. Kyungsoo memperhatikan dengan seksama gelembung tersebut dan dengan perlahan wajah –kepala Luhan keluar dari sana sembari menyeringai. Mata hitamnya dan seringaiannya membuat Kyungsoo takut. Namun saat ia hendak bergerak. Ada sebuah tangan entah dari mana yang memegangi masing-masing kakinya. Dan Kyungsoo pun dapat mencium bau amis darah yang sangat tercium dari belakang tubuhnya.
"Hyung .."
Kyungsoo merinding saat mendengar suara kekasihnya dari belakang. Dan dengan tiba-tiba Kai mencengkram tubuhnya sehingga ia berdiri tegak, sama sekali tak bisa bergerak. Mata bulat Kyungsoo terbelalak saat menyadari tak jauh di hadapannya, Lay sudah bersiap dengan gergaji mesin yang menyala di tangannya.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN?! LEPASKAN AKU! KUMOHON LEPASKAN AKU! PERGI!"
Kyungsoo mencoba bergerak dengan brutal namun tetap saja tubuhnya tertahan sehingga ia tidak bisa bergerak kemanapun.
"KUMOHON LEPASKAN AKU! KUMOHON!"
Mata Kyungsoo sudah berlinang suaranya menjadi serak. Namun itu tidak membuat mereka melepaskan Kyungsoo. Ia dapat melihat dengan jelas bagaimana Lay menyeringai dengan lebar.
'Trak'
"AAARRRGGHH!"
Kyungsoo berteriak sangat kencang saat merasakan sakit yang teramat sangat di kaki kanannya. Ia menangis kencang kemudian menoleh pada kakinya yang ternyata sudah patah.
"Kau … Mati …"
Ucapan ketiga orang tersebut adalah ucapan yang terakhir Kyungsoo dengar sebelum akhirnya gergaji mesin membelahnya menjadi dua bagian dan mengeluarkan semua isi yang ada di perutnya.
.
.
.
.
.
"Hyung! Oh astaga! Hyung dengar aku! Bangun! BANGUN!"
Kai terlihat begitu panik saat Kekasihnya bergerak-gerak gusar dan berteriak-teriak histeris. Luhan dan Lay bahkan sedikit kesusahan untuk menaha gerakan Kyungsoo yang benar-benar sangat kuat.
"HYUUUNG! KUBILANG BANGUN! HYUNG!"
Kai semakin panik karena sekarang Kyungsoo seperti ditarik oleh sesuatu hingga tubuhnya sedikit terangkat dan teriakannya semakin menjadi-jadi. Kai menatap Luhan dan Lay bergantian kemudian mengangguk dan seketika Luhan dan Lay melepaskan pegangannya pada Kyungsoo.
Kai langsung menarik Kyungsoo kedalam pelukannya dan menciumnya dengan lembut. Kai mengusap punggung Kyungsoo dengan perlahan kemudian tanpa diduga, gerakan-gerakan Kyungsoo berhenti. Mulutnya pun sudah tidak mengeluarkan teriakan lagi, hanya suara nafas terengah-engah yang terdengar samar karena Kai tengah menciumnya.
Kai melepas ciumannya. Ia mengusap dahi Kyungsoo yang berkeringat. Dan membawa Kyungsoo kembali ke pelukannya. Kai menatap Luhan dan Lay bergantian.
"Hyung … Aku tahu, ada yang tidak beres dengan semua ini …"
Hening …. Mereka hanya saling bertatapan ….
.
.
.
.
"Jadi … apa yang membawamu kemari, Lu?"
Sehun duduk dengan tenang di kursi kerjanya. Ia menatap Luhan yang kini tengah menunduk dengan kedua tangannya yang saling bertautan. Entah apa yang menyebabkan Luhan datang padanya saat ia sedang membereskan data-data universitas di perpustakaan.
"S-seonsaengnim …"
Luhan bersuara kecil. Ia nampak gugup sekali saat mata elang Sehun menatapnya seakan mengintimidasinya. Ada yang ingin ia sampaikan pada Sehun. Ini berkaitan dengan apa yang Kai ceritakan padanya saat di uks tadi dan juga kejadian aneh yang terjadi hari ini.
Sehun berdiri dari duduknya kemudian menghampiri Luhan dan mengelus rambutnya pelan. Ia duduk di atas meja tepat di hadapan Luhan. Ia dapat merasakan kegugupan dari anak itu.
"Luhan … Katakan padaku ada apa, hm?"
Sehun kini bersuara lembut. Beruntunglah perpustakaan sudah ia tutup sehingga tak ada seorangpun yang dapat melihat kedekatan mereka yang terasa tidak wajar. Sehun memegang kedua pipi Luhan memaksakan anak itu untuk menatapnya meskipun ia dapat melihat wajah mahasiswanya itu memerah.
"S-sehunnie …"
Luhan mencoba memalingkan wajahnya. Ia tidak bisa terlalu lama menatap wajah Sehun karena wajahnya akan selalu memerah dan disertai degup jantungnya yang tak teratur. Dengan sikap Sehun yang seperti ini malah membuatnya semakin gugup.
Jika kalian bertanya apa kedua orang itu memiliki hubungan. Tentu saja jawabannya iya. Sehun adalah salah satu dosen muda yang mengajar sejarah dan Luhan adalah asistenya. Sebuah keuntungan bagi Sehun mempunyai asisten yang manis dan begitu cerdas ditambah dengan selisih umur mereka yang hanya terpaut 3 tahun. Membuat Sehun bisa menjadikan Luhan miliknya dengan mudahnya.
Sehun menghentikan aksinya dan melepaskan tangannya pada pipi Luhan kemudian tersenyum kecil sembari mengusak pelan rambut Luhan. Ia terkekeh pelan kemudian kembali ke kursi kerjanya. Luhan mendongak menatap Sehun.
"Hunnie …. Bolehkah aku meminta sesuatu?"
Sehun mengangguk, ia bersandar pada kursinya.
"Katakana pa yang kau inginkan, Lu"
Luhan terdiam sejenak. Ia menggigit bibir bawahnya, antara ya atau tidak untuk mengucapkan sesuatu yang ia inginkan. Namun kemudian ia kembali menatap Sehun.
"B-bisakah aku … mengetahui sejarah universitas ini?"
.
.
.
.
.
.
.
~To Be Continue~
.
.
.
.
.
Oh my~ Maafkan saya, saya tahu ini sudah lama tidak di lanjut. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya karena saya akan melaksanakan Praktek Kerja Nyata jadi saya benar-benar tidak ada waktu untuk memikirkan kelanjutan dari semua ff yang saya punya.
Mungkin kalian akan kecewa dengan kinerja saya yang kurang baik sebagai author. Jadi saya mohon maaf sebesar-besarnya pada kalian dan sangat berterima kasih pada kalian yang masih mengingat ff ini ^^
...
Daaan ~ seperti biasa, saya meminta maaf atas segalakekurangan yang adadalam chapter ini.Sayahanyamanusiabiasa yang tidakbisaterlepas Dari typo.
Trimakasih pada kalian yang sudah setia membaca danmengapresiasi The Journal.Sayatahu, ffinimasihsangatbanyakkekurangan.Jadi, sayasangatmengharapkan saran kalian semua.
.
.
For the last~
.
.
.
Mind to review ^^?
