Disclaimer: Franchise Saint Seiya (mau yang seri dan bagian manapun) bukanlah milik saya. Adapun pembuatan fan fiksi ini bukanlah untuk mencari keuntungan (finansial ataupun bukan), melainkan untuk mencari kesenangan belaka.


Jalan: Kambing Laut

Oleh masamune11


Chapitre VII

Algedi: Selamat Ulang Bulan

Dua puluh satu tahun sudah dirinya dilahirkan ke dunia. Tujuh tahun sudah dirinya dipilih oleh Capricorn, lima tahun semenjak mereka semua kehilangan dua orang yang menjadi mentor, guru, sekaligus kakak yang telah mendidik mereka semua, terutama gold saint paling senior saat ini. Dua tahun semenjak El Cid terjebak rutinitas anak-anak kecil yang berlarian keluar masuk kuilnya karena kerusuhan yang disebabkan adik dari salah satu sahabatnya. Seperti sekarang.

Setiap kali El Cid terbangun dari tempat tidurnya, tentunya tersembunyi dari ruang utama kuilnya sendiri, itu pasti bukan karena keinginannya sendiri. Selalu ada sosok kecil berumur sekitar 8 tahun yang berlari-lari naik-turun dari kuil di bawahnya hingga kuil si penuang air, kemudian berhenti di kuil yang ada di bawahnya. Sosok kecil tersebut melakukannya tanpa memberi salam, mungkin karena dia tahu bahwa masing-masing penjaga kuil di sana tidak akan melarangnya.

Memangnya siapa yang bisa melarang anak dari Leo Ilias sekaligus keponakan dari Sagittarius Sisyphus? Yang ada, mereka semua tunduk dengan bagaimana lucu dan menawannya sosok kecil tersebut—atau justru mengutuk keberadaan dari setan kecil yang pasti akan membangunkan El Cid setiap pagi hari, sebelum matahari terbit.

Hari ini bukan pengecualian.

"PAGI, EL CID!"

Itu saja cukup membuat Capricorn El Cid tersentak di tempat tidurnya dan mengubah posisi nyamannya menjadi duduk. Matanya boleh sedikit kabur karena dirinya masih setengah sadar, namun siluet kecil kecoklatan yang lewat di depan pintu kamar tidurnya cukup memberikan informasi bahwa tamu regulernya muncul kembali.

Dan sosok itu berlari secepat angin, menuju kuil-kuil yang ada di atas kuilnya sendiri. El Cid dapat merasakan perubahan cosmo di udara, juga rasa dingin yang menempel pada indra perabanya. Mungkin saat ini, Aquarius Dègel, salah satu saint yang akhirnya bergabung dalam jajaran emas, sudah kehilangan kesabarannnya dan tidak sengaja melampiaskan sedikit kemarahannya pada Regulus kecil. Itu hampir setiap kali terjadi, setiap pagi, dan setiap hari.

Oh, dan sosok kecil itu pasti akan kembali ke hadapannya untuk mengadu pada pamannya sendiri, namun, pertama-tama ia akan melapor pada El Cid terlebih dahulu dan—

"El Ciiiiiid...!"

—merajuk, layaknya anak kecil.

El Cid menahan diri dari memutar bola matanya, kemudian memanggil kembali zirah Capricorn yang tertidur di altarnya, sesuai dengan lokasi sebuah benda pusaka. Cloth tersebut, seperti biasa, memenuhi panggilan dari pemiliknya dan menempel kembali pada bagian-bagian yang semestinya. Setelah keluar dari ruang tidur, ia mendapati Regulus berdiri di depan ruang pribadinya, tengah menangis tersedu-sedu. Tangannya memegang sebuah kantung yang tampaknya dibekukan oleh si penuang air karena… sudah kehilangan kontrol.

El Cid menghela napas amat panjang; hari yang biasa, di kala musim dingin. Regulus yang menangis, dan dirinya yang harus mengurus anak dari Leo terdahulu sebelum bocah tersebut mulai melempar tantrum.


"Sisyphus, aku tahu kau memiliki misimu sendiri untuk dilaksanakan, namun…" alis El Cid naik, terutama ketika melihat Regulus yang tampaknya asyik dengan busur panah keemasan, senjata kebanggaan mereka yang memegang gold cloth Sagittarius.

Justru kelakuan Sisyphus lah yang membuat si kambing setengah heran; sosok tersebut tengah duduk dan memotong kecil-kecil bawang bombay. Dari jumlahnya saja (yang sebenarnya satu ranjang besar dan semuanya ada di bawah meja batu dapur Sagittarius), El Cid tidak bisa mengerti mengapa Sisyphus… melakukan apapun yang tengah ia lakukan. Memasak bukanlah forte dari saint yang satu ini.

Sisyphus menancapkan pisau daging-nya pada meja dapur, kemudian mengusap matanya karena perih. Bau bawang bombay memenuhi udara ruangan.

"…Ah, ya, terima kasih sudah menjaga Regulus pagi ini."

Jawaban tersebut jelas membuat kedua alis si Capricorn naik dan beradu satu sama lain. "…Sisyphus, kuharap kau sadar bahwa keponakanmu tengah bermain dengan busur panahmu. Dan demi Athena, kau lain kali harus lebih berhati-hati membawanya. Regulus belum diperbolehkan dalam lingkungan Sanctuary hingga ia menginjak umur 10 tahun…"

"Busur panah tak beranak tidak berbahaya bagi siapapun, El Cid. Dan tenang saja, anak itu mengerti…" sebuah senyum (atau justru seringai?) muncul pada fitur wajahnya. Sosok Sagittarius tersebut melepas celemek putih sedikit kumal yang menggantung pada lehernya, kemudian menaruhnya di atas kursi terdekat—sebuah kursi batu tempat Sisyphus biasa duduk dan membersihkan clothnya. "Regulus, kemarikan."

Si ponakan menuruti kata pamannya, tentu. Regulus memberikan kembali busur panah yang buka miliknya setelah beberapa kali memetik senar benda tersebut. Pengamatan El Cid setidaknya cukup untuk bisa melihat bahwa dahi Sisyphus berkedut setiap kali keponakannya memetik senar dari senjatanya. El Cid hanya bisa menyimpulkan bahwa si paman memiliki kesabaran yang lebih dari luar biasa. Sisyphus mencintai senjatanya, dan perlakuan tidak pantas seperti ini bisa membuatnya meledak dengan serangan Infinity Break.

El Cid memutuskan bawang bombay yang tengah Sisyphus potong-potong tadi menjadi topik yang lebih menarik daripada Regulus dan keluh kesahnya.

"Tumben kau memasak, Sisyphus," mata si kambing melirik ke arah pisau daging, kemudian pada bawang bombay cincang yang belum dikumpulkan dengan kelompok yang seharusnya. "Melatih kemampuan memasak? Atau jangan-jangan ada tamu yang akan datang—Sisyphus?"

Lucu bagaimana ceritanya wajah Sisyphus yang santai tadi kini berubah menjadi panik dan kalut. Lucu… karena Sisyphus bukan tipikal orang yang bisa mengubah dua sifat di ujung masing-masing spektrum secara berurutan.

"Ah… itu…"

Oh, dan matanya berputar di rongga seakan mencari alasan yang tepat. El Cid tidak akan heran jika apa yang dikatakan si pemanah adalah bohong; jika bohong sekalipun, ia masih bisa menangkalnya agar Sisyphus dapat mengatakan hal yang sebenarnya. Sagittarius sulit berbohong, terakhir ia cek.

"Itu?"

"Ini mau dijadikan persembahan untuk Athena-sama…"

Hening sesaat. Jika seseorang menyatakan El Cid kaget sekarang, kata yang lebih tepat justru terheran-heran… atau dalam padanan bahasa Inggris, speechless.

"…Sisyphus, aku takkan percaya jika Athena-sama menyukai bawang bombay, dalam jumlah besar seperti ini, tanpa diolah…" tangannya tidak sengaja mengelus pelipis yang sekarang mungkin sudah menegang kaku dan lelah, "lagipula, bagaimana bisa kita mempersembahkan sesuatu ketika orangnya belum turun?"

El Cid sedikit menyesal karena telah menyinggung hal tersebut. Sisyphus yang sempat kebingungan sekarang hanya bisa menghela napas panjang karena lelah. Satu hal jelas, tugas untuk mencari Athena memang jatuh pada si pemanah. Kenyataan bahwa tugasnya belum membuahkan hasil, ditambah tanggung jawab sebagai orang yang menjaga Regulus di Sanctuary… sebut saja, si pemanah yang satu ini memang sibuk bukan kepalang. Kepulangannya ke Sanctuary sekitar dua hari yang lalu saja cukup membuat kaget beberapa orang terdekatnya.

Intinya, membuat semangat si pemanah itu turun bukanlah langkah yang bijak.

"Sudahlah," timpal si kambing dengan napas panjang, "lebih baik aku sekalian turun untuk latihan pagi…"

El Cid tidak menunggu Sisyphus untuk mengizinkannya turun. Ia tidak butuh izin seorang gold saint yang setara dengannya untuk turun—meski memang ia harus melakukannya sesuai dengan izin per orang yang menjaga kuil bersangkutan. Satu hal yang tidak ia sadari adalah senyum Sisyphus ketika El Cid membalikkan tubuhnya, disusul dengan sebuah pesan mental kepada teman sekomplotnya. Tentunya, El Cid tidak tahu apa yang akan ia dapatkan hari ini.


El Cid memutuskan sebuah kesimpulan bahwa hari ini jelas aneh.

Pertama, beberapa menit setelah dirinya turun dari kuil Sagittarius, kuil Scorpio yang ada di bawahnya terdengar begitu sunyi hingga ia mempertanyakan keberadaan dari calon penerus Scorpio yang dikenal memiliki beberapa masalah fisiologi tubuh. Kardia—jika El Cid mengingat namanya dengan benar—memang memiliki masalah dengan panas tubuh dan jantungnya, meski kekurangan tersebut diimbangi oleh cadangan cosmo yang mudah ia ambil dari dirinya. Jika bukan karena itu, El Cid bahkan ragu jika Paus besar akan mengijinkan anak tersebut untuk mengikuti latihan-latihan untuk menjadi kandidat saint Scorpio sekarang.

Kedua, kuil Virgo sama sunyinya dengan kuil Scorpio. Meski penjaga terbarunya, Virgo Asmita, lebih memilih untuk berdiam diri di dalam kuilnya, El Cid bahkan tidak merasakan tarikan napas atau alur cosmo yang hanya mengenal hitam-putih hidup. Penjaga Virgo tampaknya memutuskan untuk pergi dari posnya lebih awal, entah untuk melakukan apa.

Ketiga, dua orang yang menghilang di tempatnya itu ternyata sedang berkumpul di kuil Cancer, bersama dengan si pemilik dan satu lagi bocah yang sepantaran dengan calon pemegang zodiak kalajengking. Lucu bagaimana ia melihat Cancer Manigoldo yang tengah mencincang daging sapi, Virgo Asmita menaburi daging tersebut dengan bawang putih dan rempah-rempah lain yang ia tidak tahu, dan Dègel yang tengah memberikan sebuah cosmo dingin untuk membuat daging yang tengah dipotong si kepiting tetap segar.

Kardia? Ia melihatnya berpangku tangan di sudut kuil sambil mencibir.

"…Pagi untuk kalian semua," ujarnya singkat dan pergi melewati mereka berempat tanpa berkomentar apapun. Mungkin jika ia berjalan lebih jauh lagi, ia akan menemukan Hasgard terguling dari kuilnya, turun hingga bertemu dengan tanduk besar si domba. Lucu bagaimana sekarang Kardia yang berdiri di hadapannya, mencoba untuk menghalangi El Cid untuk keluar dari kuil. "…aku ingin lewat, Kardia. Minggir."

"What, di sini kukira kau akan bertanya aneh-aneh. Tidak heran dengan Manigoldo yang anteng, Cid?" El Cid secara wajar mengangkat alis. Dipanggil dengan nama penuh merupakan salah satu kehormatan yang pantas dimiliki oleh seorang senior di jajaran tentara atas Athena. Kardia tampaknya belum mengerti konsep tersebut.

"Tidak, karena itu artinya aku bisa menjalani misiku lebih awal. Jadi, Kardia, minggir dari hadapanku, sekarang."

Jujur saja, jika bukan karena status Kardia sebagai calon penerus dan pengemban konstelasi Scorpio, mungkin El Cid akan memanggilnya sebagai bocah dibandingkan nama depan. Kardia yang berdiri di depannya tidak menunjukkan tanda-tanda hendak beranjak dari tempatnya. Sempat terbersit di kepalanya bahwa mungkin Manigoldo menyerahkan penjagaan kuilnya sendiri pada bocah yang belum bisa mengendalikan cosmonya sendiri dengan baik dan benar.

"Dia benar toh, Kardia. Menyingkir dari situ sebelum ditebas pedangnya~"

Jujur saja, jika bukan Manigoldo yang mengatakan baris kata tersebut, mungkin El Cid akan mengangguk pertanda setuju. Masalahnya, ini Manigoldo yang berbicara. Cancer Manigoldo tidak pernah mengajukan argumen yang terdengar mengalah, terutama pada bocah-bocah yang masih berusaha dan berjuang menjadi salah satu saint emas di bawah bimbingan dan panduan sang Paus.

Manigoldo tampak dengan kalem mencincang daging yang ada di hadapannya, kemudian menancapkan pisaunya di batu tempat dia meramu makanannya. Asmita sepintas berhenti, melirik ke arah si kambing jika ia memang benar-benar melihat dari belakang kelopak matanya. El Cid sempat berpikir bahwa mereka semua sudah gila karena sudah membiarkan Asmita, saint buta, untuk datang ke kuil ini dan mengerjakan sesuatu yang jelas sebaiknya tidak dikerjakan oleh dia yang cacat.

"Yaya, El Cid, kau boleh lewat—dan lakukan sebelum aku benar-benar mengirimmu ke dunia bawah," Manigoldo menggaruk kepalanya, kemudian melirik tajam ke arah bocah kalajengking yang masih berdiri di hadapan si kambing. "Oh, atau mungkin kamu ingin dikirim ke sana lebih dulu, bocah?"

Kardia tampak tidak puas dengan kegagalannya dalam mencegat si kambing hanya bergumam kesal, kemudian menyingkir dari hadapan El Cid. Saint yang bersangkutan justru hanya mendelik pada Manigoldo yang tingkahnya bahkan jauh dari definisi asli namanya sendiri.

"Siapa kau dan apa yang kau lakukan pada Manigoldo?"

"Hah?"

"…Dunia pasti berhenti berputar."

Manigoldo otomatis mendengus, "El Cid, tolong tahan semua racauanmu kali ini, sekarang. Kau tak melihatku sibuk memasak? Kecuali jika kau benar-benar ingin dikirim ke pintu gerbang kematian, sebaiknya kau menggerakkan kakimu dan pergi. Dari. Kuilku."

Orang yang ada di kuil tersebut bukan Manigoldo, karena yang bersangkutan tidak mungkin berbicara dengan lancar dan logis, tepat sasaran dan benar, serta dengan penekanan nada yang tepat. Kesimpulan tersebut memang cukup mengejutkan bagi nalarnya, namun El Cid memutuskan untuk tidak memikirkan hal tersebut lebih jauh. Jika memang Athena menginginkan hari aneh, jadi tolonglah dewa-dewi Olympus, ia akan melaluinya dengan baik.

El Cid meneruskan perjalanannya. Latihannya tidak bisa menunggu.


"Fuh, bagaimana akting-ku, Asmita? Luar biasa bukan?"

Virgo Asmita sudah mengantisipasi dialog ini jauh sebelum ia menjejak kaki di kuil kepiting. Alisnya naik; jari telunjuk kanannya jelas menunjuk ke arah Manigoldo, sementara wajahnya… sebut saja, ia cukup kesal dengan perlakuan yang ia dapat. Tangannya bahkan berhenti menaburi daging-daging cincang dengan bumbu yang sudah ia siapkan dengan bahan langsung dari India. "Kau hanya menghafalkan apa yang perlu kukatakan, Manigoldo. Semua orang bisa melakukan itu."

"Huh," si kepiting kembali menancapkan pisau dagingnya ke batu, menatap Asmita dengan ekspresi heran disertai kesal, "pada akhirnya kemampuan dalam membentuk nuansa lah yang menentukan kesuksesan rencana kita, Asmita, tidak hanya sekedar kata-kata belaka. Tuan Manigoldo ini kurang lebih menyelamatkan pesta kita semua, eh?"

Asmita hanya tersenyum, namun siapapun dapat mengetahui bahwa senyum tersebut tak lebih dari sebuah kamuflase—dipoles juga dengan unsur keangkuhan—untuk menutup maksud mengerikan yang tengah disembunyikannya. "Ah, tentu saja, karena Cancer Manigoldo si tukang main muka terampil, layaknya babun dan wajah ekspresifnya, eh?"

"Oh jelas, tentu saj—tunggu, ulangi?" Nada suara si saint Cancer tersebut meninggi, disertai dengan tangan yang mengambil pisau daging dan sepasang alis mata yang saling bertemu satu sama lain, "kau mengajak perang seribu hari, bocah?"

Alis si manusia paling dekat dengan tuhan naik. Kardia yang berdiri di sudut ruangan bahkan bisa merasakan percikan cosmo Asmita di udara kuil. "Kau minta dikirim ke neraka, kepiting?"

"Neraka? Hah! Sebelum kau dan ilusimu itu berjalan, kupastikan kau berdiri menghadap pintu kematian lebih dahulu, Virgo!"

Kardia hanya berharap bahwa dua saint emas yang ada di hadapannya ini memang hanya bermain-main dan tidak serius dalam perkataan mereka masing-masing. Jika si bocah pewaris konstelasi Scorpio ini ingin jujur, ia tidak ingin melihat ataupun menjadi saksi dari perang seribu hari, hanya karena sebuah hinaan. Jika saja Sisyphus sudah selesai dengan bawang bombay-nya dan turun ke sini untuk menghentikan mereka berdua…


"Capricorn El Cid meminta izin dari Taurus Hasga—maksudku, Aldebaran—untuk melewati kuil."

Tidak ada jawaban. El Cid mendecak pelan dan mencoba berpikir positif bahwa Aldebaran memang tidak mendengarnya. Siapa tahu yang bersangkutan masih tersesat di dimensi mimpi dan tidak bisa dibangunkan hanya dengan sekedar ucapan itu?

"Taurus Aldebaran," El Cid membunyikan suara baritonnya sekali lagi, kini lebih keras daripada sebelumnya, "Capricorn El Cid meminta izin untuk masuk."

Sekali lagi, tidak ada jawaban yang berarti. Namun, ketika El Cid mendengar sebuah hantaman keras di dalam kuil si Banteng, sosok tersebut memutuskan bahwa memang Aldebaran bukan dalam keadaan untuk dimintai izin. Lantas, El Cid masuk dengan secepat kilat. Bukannya menemukan orang yang ia cari, sosok tersebut justru menemukan pria berambut biru yang tampak familiar. Zirah emas yang melingkupi sosok pemuda tersebut sekiranya menjawab pertanyaan akan identitas orang tersebut… sekaligus menambah pertanyaan mengapa dia tengah membawa bungkusan-bungkusan kertas, entah isinya apa.

"Selamat pagi, Pisces Albafica," sapa El Cid, tentunya sembari menyunggingkan senyum formalitas. Sosok yang ada di hadapannya sontak terdiam, tampak kaget mungkin karena tidak mengantisipasi si kambing. Albafica terbatuk kecil, berusaha menguasai dirinya sekali lagi dari rasa kaget yang datang; terkadang, mendeteksi keberadaan orang lain yang ada di dekatnya (terutama mereka yang berada dalam jajaran emas dan lebih senior daripada dirinya sendiri) cenderung lebih sulit. Albafica menghela napas panjang dan memutuskan untuk menaruh barang bawaannya di lantai.

"Apa kamu melihat Has—maksudku, Aldebaran?" Tanya si penjaga kuil ke-10 tersebut sembari melihat sekelilingnya. Cosmo dari si banteng memang masih menempel dengan tembok dan lantai, sedikit menyatu dengan cosmo milik pemuda yang ada di hadapannya. Mengetahui ini, sekali lagi alisnya terangkat. Aldebaran dan Albafica… apa yang menyebabkan mereka harus berdiam lama di sini?

"Ah, Aldebaran sedang… ng…"

Diam sebentar; bahkan dari gestur tidak yakinnya sosok tersebut, El Cid bisa menyimpulkan bahwa penjaga kuil Pisces tersebut menyembunyikan sesuatu. El Cid menghela napas panjang; Albafica yang bingung dalam berkata-kata di hadapannya? Perlu berapa keanehan lagi yang perlu ia lewati untuk bisa bertahan dari hari ini?

"…Lupakan. Sampaikan salamku pada Aldebaran, Albafica," potongnya lugas, kemudian berjalan kembali melewati si penjaga kebun mawar beracun Sanctuary, jelas tidak mengacuhkan ekspresi terganggunya ketika pelindung bahunya (yang notabene bertanduk) nyaris mengenai sosok tersebut. Kata-kata si kambing tentu tidak selesai sampai di sana. "Aku tahu kalian sedang merencanakan sesuatu. Saint Pisces tidak mungkin turun hingga ke kuil kedua tanpa sebab yang jelas, bukan?"

El Cid melewati kuil tersebut, meninggalkan sosok Albafica yang jelas tercengang karena deduksi El Cid, sekaligus lega karena sosok tersebut tidak menggubrisnya lebih jauh. Di sana, Albafica hanya menatap kantung-kantung berisi pasta kering yang baru ia dapat dari Rodorio, sejenak berpikir kepada siapa ia harus membawa ini dan memasaknya dengan benar, sebelum si Capricorn pulang, kembali ke kuilnya sendiri.

Oh, benar, memang Albafica memiliki rencana. Sayang saja El Cid tidak menggubrisnya lebih jauh.


Untuk menambah keanehan di dalam harinya, lagi, setiap kali ia melirik ke arah beberapa kandidat zirah legendaris yang diberkahi oleh Athena, ia selalu melihat kecerobohan, seakan tatapan matanya bisa membuat para kandidat yang ada melakukan kesalahan. Sebagai contoh, Tsubaki, salah satu di antara mereka yang tengah berlatih demi mendapatkan Vela bronze cloth, nyaris saja tertimpa batu sebesar lima kali tubuhnya ketika dia mencoba mengangkatnya sebagai bentuk latihan dan mendapati El Cid tengah mengamati gerakannya, sebagai mana seorang senior yang baik. Namun, tidak lebih dari beberapa detik kemudian, Tsubaki kehilangan keseimbangan dan nyaris menjatuhkan batunya—yang hanya menjadi kerikil karena El Cid dengan cepat menyabetkan cosmonya ke arah batu yang dimaksud.

Dan itu tidak hanya terjadi pada Tsubaki. El Cid memilih untuk tidak memikirkan hal tersebut lebih panjang dan fokus pada jalan menuju Sanctuary yang ada di hadapannya, penuh dengan anak tangga yang berhiaskan obor penuh wewangian pine dan sandalwood.

Yang terakhir terdengar salah, karena ia tidak ingat jalan di antara kuil zodiak memiliki begitu banyak obor aroma-terapi yang berjajar di kanan-kiri tangga.

El Cid lebih memilih untuk menyimpulkan bahwa ini termasuk dari serangkaian hal aneh yang muncul dalam hidupnya hari ini. Tapi setidaknya, ia menyukai keadaan ini dan memutuskan untuk mempercepat langkahnya. Malam hari di musim dingin jelas bukan pilihan yang tepat untuk berdiam diri di anak tangga.

Setiap langkah yang ia ambil untuk mencapai kuil tempat ia berjaga, El Cid menyadari perbedaan aroma dari satu kuil ke kuil lain. Satu cenderung pada kayu, kemudian diselingi dengan aroma mawar putih dibarengi dengan jebat setiap kali ia melewati kuil yang berbeda. El Cid tidak memikirkan aroma tersebut lebih jauh; mengapa pula ia harus memikirkannya ketika ia tahu bahwa aroma tersebut hanya akan mengingatkannya pada mentor-mentor yang sudah menunjukkannya sebuah jalan?

Kakinya berhenti melangkah ketika ia sampai di kaki kuil Virgo dan mulai merasa waswas. Semenjak kepulangannya, ia tidak melihat—ataupun merasakan—keberadaan dari rekan sesama saint emas, seakan mereka semua tiba-tiba dipanggil oleh Paus besar untuk menghadiri rapat, tanpa dirinya.

El Cid hanya menghela napas panjang dan memutuskan untuk menaiki tangga menuju kuilnya sendiri—dan mungkin terus hingga ke ruang pertemuan saint emas. Wewangian dari obor yang dibakar di pinggir tangga tidak membuatnya tenang, karena di setiap anak tangga yang ia pijak, El Cid tidak menemukan sosok penjaga kuil. Kakinya terus menaiki tangga, melewati kuil kalajengking—tidak menemukan sosok Kardia di sana.

Singkat kata, Kekhawatirannya bertambah begitu cepat hingga ia memutuskan untuk berlari. Namun, saat dirinya sampai di kaki tangga menuju kuil Sagittarius, matanya akhirnya menangkap sebuah figur, berdiri tidak jauh dari pintu masuk. Kilau emas dari sayapnya sedikit menenangkan hati, karena Sagittarius Sisyphus pasti memiliki penjelasan yang sesuai dengan keadaan ini.

"Sisyphus," sapanya, mencoba untuk tetap kalem yang perlahan berubah menjadi sedikit panik, "kau melihat yang lain?"

Si pemanah, anehnya, hanya tersenyum ke arahnya, "ya, kami menunggumu dari tadi."

"Menungguku?"

"Tidakkah kau tahu hari ini adalah hari titik balik matahari?"

"Dan hubungannya dengan semua ini?"

Sisyphus hanya menghela napas panjang, kemudian memberikan isyarat pada sahabatnya untuk menggerakkan kakinya kembali. "Kau akan mengerti sebentar lagi. Ayo."

Sosok itu memutuskan bahwa cepat atau lambat ia akan mengetahui kebenaran dari keanehan saat ini dan akhirnya berjalan bersama dengan sahabatnya itu, melewati kuil Sagittarius yang kosong. Satu set anak tangga lagi, dan mereka akan sampai di kuilnya sendiri. Satu set anak tangga yang membuatnya bertanya-tanya siapa yang ada di kuilnya, karena El Cid berani bersumpah bahwa ada beberapa kejutan—dan ledakan —cosmo dari arah kuilnya sendiri.

El Cid mengerling ke arah Sisyphus satu kali, melihat bagaimana sosok tersebut bergumam kesal, dan dengan cepat—mendahului si pemanah, bahkan—mendaki tangga yang ada di depannya hingga ia sampai di pintu depan—

—kemudian disapa oleh ruangan kuilnya, awalnya gelap mengikuti langit saat ini, dan kemudian menjadi terang karena obor-obor yang ada di sudut-sudut ruangan menyala terang. El Cid dapat melihat jelas sosok-sosok yang berdiri di pinggir ruangan—Asmita, Hasgard, Aspros, Manigoldo Albafica, Regulus kecil, Kardia, Dègel dan sang Paus—, memberikan sebuah senyum hangat—minus Manigoldo, Kardia, dan Regulus yang hanya menyengir bersama dari depan. Sebuah meja kayu panjang berdiri di depan mereka semua, di mana mangkuk besar berisi pasta dan saus daging, juga jajaran piring-piring kosong.

Yang berdiri di belakang semua itu adalah Paus yang telah menjaga dan menerimanya 11 tahun silam. Namun, yang pertama kali menjawab pertanyaannya sepanjang hari ini justru orang terakhir yang masuk ke dalam kuilnya.

"Selamat ulang tahun, Capricorn El Cid," ujar Sisyphus dari belakang, berhasil mengejar ketinggalannya, "semoga Athena terus membimbing jalan pedangmu."

Hening sepintas. Berkedip beberapa kali, kemudian menoleh dan memberikan sebuah tatapan heran semacam 'kau pasti bercanda'… adalah hal pertama yang dilakukan sosok tersebut.

"Sisyphus, ulang tahunku bukan pada hari titik balik matahari…"


"Jadi, mari kuringkas semuanya," mulai si kambing sekali lagi setelah rekan-rekannya berpesta pora di ruang kuilnya sendiri. El Cid memilih tidak menggubris mereka semua, toh dia berhasil menyudutkan si penyelenggara pesta—tiga sahabat yang telah bersamanya sejak awal dirinya menjejak Sanctuary: Sisyphus, Hasgard, dan Manigoldo.

Dan jujur saja, jika El Cid menginginkannya, ia bisa mendorong mereka bertiga dan menyaksikan pertunjukan saint-emas guling.

"Kalian berpikir karena aku lahir di bawah lindungan konstelasi Capricornus, ulang tahunku adalah hari awal musim dingin? Siapa yang mencetuskan ide ini?"

Dua pasang mata mendelik ke arah Manigoldo, sementara si tersangka hanya mendengus kesal. "O-oi! Kamu juga tidak pernah memberitahu kami kapan ulang tahunmu! Tapi yang jelas pasti dalam satu bulan ke depan, jadi…"

"Jadi kau menyebar gosip bahwa aku ulang tahun hari ini?"

"Feh, harusnya kau berterima kasih bahwa Manigoldo ini mengingatkan yang lain bahwa bulan kelahiranmu tidak jauh dari sekarang."

Capricorn tersebut hanya menghela napas panjang. Seharusnya ia mengantisipasi jawaban khas si kepiting. Pandangannya berpaling ke arah Hasgard dan kedua matanya menyipit. "Kau orang terakhir yang kupikir akan membantu Manigoldo menyelenggarakan ini, sungguh."

Hasgard melipat tangannya, kemudian tertawa terbahak-bahak di tempat, tentu saja disertai dengan senyum jumawanya itu. El Cid sendiri sudah lama dan sering melihat ekspresi dan sikap si banteng untuk bisa mengerti bahwa ia melakukannya demi kesenangan belaka… tanpa ada maksud buruk. "Aku hanya ingin membuat pesta untuk yang berulang tahun. Tapi benar, tidak pernah terpikirkan bahwa Manigoldo justru salah mengira tanggal lahirmu. Tetap saja, Cid," senyum jumawa masih bertengger pada wajahnya, bahkan ketika sadar bahwa dia salah, "kita tidak salah bulan, bukan? Maksudku, kau pasti lahir ketika matahari ada di daerah rasi si kambing, bung!"

El Cid hanya bisa menyunggingkan senyum, menghargai usaha Hasgard untuk menelaah dunia astronomi, meski hanya sedikit. Setahun lalu, mungkin sosok tersebut tidak akan mengerti mengapa seseorang bisa dilahirkan di bawah naungan sebuah konstelasi.

Matanya kembali bergulir dalam rongga tengkorak dan pandangannya terfokus sepenuhnya pada tersangka terakhir. "Jadi, bawang bombay itu untuk Athena-sama—?"

Suara bunyi piring pecah di belakangnya, bersamaan dengan teriakan Kardia, tajamnya cosmo Dègel, dan kalemnya Aspros. El Cid hanya memberikan senyum kecil dan berani bertaruh bahwa keponakan dari sahabatnya mungkin menjadi penyebab kekacauan di kuilnya.

"…aku menunggu ganti rugi darimu, Sisyphus, atas piring-piring yang dipecahkan keponakanmu," tangan si kambing terlipat di depan dada, dibarengi dengan sebuah senyum geli yang menghiasi wajah kaku. Sisyphus tampaknya tidak keberatan dengan proposisi tersebut… atau justru ia memiliki rencana lain.

"Tenanglah, Cid. Bukan piring kuilmu yang dia pecahkan," jawab si pemanah, "dan yah, kau sudah lihat sendiri ke mana bawang-bombay itu pergi sekarang, bukan?"

"Menjadi bumbu bolognaise, yang kalian anggap sebagai makanan khas Spanyol?"

Sisyphus hanya mengangkat bahu, sedikit menyenggol si kepiting yang masih berdiri diam di sebelahnya. Cancer Manigoldo hanya mendengus malu. "Yah, pesta ini juga cukup mendadak… tidak ada waktu untuk mengambil beberapa bumbu khas kampung halamanmu, jadi—"

PRAAANG!

"Bocah, hentikan itu!"

"…Kardia, terlalu keras—"

"Kalian babun-babun kecil… mau merasakan neraka lebih awal…?"

"Asmita… kau juga jangan mulai—"

"WEEEE! Memangnya apa yang keren dari rambut biru! Rambut cewek, rambut cewek~"

"UAPAAAA! SINI KAU, BOCAH TENGIK!"

"…Oh, demi dewa-dewi, hentikan atau kukirim kalian ke dimensi lain!"

"…Athena-sama, tolong kami…"

…dan diikuti beberapa suara piring pecah dan teriakan lebih lanjut dari kuilnya sendiri. Sisyphus sendiri hanya tersenyum canggung dan memutuskan bahwa menghentikan kekacauan di atas lebih baik daripada menjelaskan beberapa alasan mengapa mereka memilih spaghetti bolognaise sebagai menu utama pesta kali ini. El Cid hanya menghela napas panjang, kemudian memijit dahinya sekali lagi. Matanya memandang kembali tiga sosok yang menjadi penyebab semua ini. "Sebaiknya kita menenangkan mereka semua sebelum salah satu di antara mereka memulai perang seribu hari…"

Aldebaran lah yang pertama kali mengangguk dan bergegas naik ke kuil si kambing, sembari menarik si kepiting bersamanya. Manigoldo awalnya menolak, jelas tidak ingin dilempar ke dalam sana karena tahu bahwa dirinya akan terdorong untuk mengirim seseorang ke dunia bawah. Apalah daya, si banteng lebih kuat dan terus menariknya secara paksa (meski tidak terlihat demikian), meninggalkan sosok yang berulang bulan tersebut sendiri bersama si pemanah.

Rasi kepiting perlahan turun dari singgasana langit; sudah lewat tengah malam. Hari sudah berganti, jika memang hari ditentukan ketika matahari tepat di ufuk utara, masih tersembunyi karena Eos belum ingin muncul. Sisyphus memutuskan membantu dua sahabatnya, namun tidak lupa berpaling ke arah si Capricorn, seakan menjadikan penekanan bahwa mereka memang melakukan ini dengan tulus.

"Selamat ulang bulan, kalau begitu, El Cid. Semoga Athena-sama membimbing jalanmu, bahkan ketika beliau belum turun ke dunia ini."

Sebuah senyum tipis, namun memendam ketulusan yang sama. "Bukan, Sisyphus. Bukan hanya sekedar jalanku. Jalan kita semua."

Karena baginya, sahabat adalah mereka yang ada, di saat dibutuhkan ataupun tidak.

[To be Concluded in Chapter 8...]


A/N: Algedi adalah salah satu bintang yang ada dalam konstelasi Capricornus. Namanya mengakar dari bahasa Arab, Al-jaadi, yang artinya kambing. Dulu, bintang ini dilihat sebagai satu kesatuan, padahal Algedi terdiri dari dua bintang yang berbeda satu sama lain. Dalam astronomi modern, bintang ini memiliki nama Alpha (1 dan 2) Capricorni.

Oke, jika kemarin saya bilang bab sebelumnya merupakan bab terpanjang… sekarang sudah tidak lagi. **lirik word counter yang sampai angka 4000+**

Bab fiksi ini dibuat sambil melihat-lihat kembali peta bintang dan simulasi dengan bantuan Stellarium. Oh, ini penting, karena berkat perangkat lunak ini, saya bisa membayangkan pergerakan matahari di kawasan Yunani… dan tengah malam di sana ditandai dengan bagaimana rasi yang bertolak belakang dengan zodiak saat itu (yang notabene Capricornus) terbit dan terbenam. Artinya, Cancer terbit saat matahari terbenam.

Kritik? Saran? Tanggapan? Silakan layangkan ke kotak saran (maksudnya kotak review)~