YOU
Konnichiwa minna-san :3 Ahiru-chan lagi nih~ makasih ya buat review kalian :D aku senyum-senyum sendiri bacanya hehe 'w')b. Ah untuk info, boleh panggil aku Ahiru-chan aja kok hehe~ sebelumnya maaf kalau ada kesalahan ketik, bahasa, ooc yaaa. Nah selamat dinikmati fic nya :3 semoga dimengerti dan menghibur :D
Chapter 7.
Reader's POV~
"Otou-san, Ada apa?" tanyaku kaget dengan kedatangan otou-san yang sangat mendadak.
"Otou-san ada perlu denganmu. Kita masih punya waktu sampai jam sembilan nanti, kemasi barangmu dan kalau sudah temani aku berkeliling."
Aku menuruti kata otou-san dan mengemasi pakaian dengan cekatan. Biasanya otou-san sangat sibuk dengan pekerjaannya sebagai pemilik sekolah ber-asrama putra di Nagoya. Sayang sekali bukan, ayah punya sekolah putra tapi anaknya perempuan~ maka dari itu aku dimasukkan sekolah putri disana. Namun tetap saja kelakuanku seperti laki-laki. Saat otou-san tahu aku memukul laki-laki itu sampai koma, ia malah bangga karena aku bisa mengalahkan laki-laki dan memiliki pertahanan yang kuat. Oka-san? Ka-san sudah lama meninggal karena kecelakaan.
Kami berjalan menyusuri kota ini dengan pemandangan malam yang sebelumnya jarang kuperhatikan. Kami mampir untuk makan di restoran lalu membeli oleh-oleh seakan-akan kami ini turis yang tak pernah berkunjung ke kota ini.
"(first name)-chan, kamu bisa menari seperti itu? Hahaha," kata otou-san sambil melihat pertiunjukan tari yang sedang digelar di taman.
"engga bisa lahh, coba otou-san saja yang menari seperti monyet yang itu,"
"ah tidak sopan," kata ayah mengacak rambutku.
"hehehe, tidak apa. Yang penting sehat,"
"haha, kamu ini bisa saja."
Lalu kami pulang ke Nagoya menaiki pesawat malam. Diatas pesawat, otou-san tiba-tiba menanyakanku,
"Ah, (first name)-chan, aku mau bertanya sesuatu."
"apa?"
"apa... kamu sedang dekat dengan seseorang?"
"maksudnya?"
"apa kamu punya pacar?"
"..." aku diam tidak bisa menjawab. Entah kenapa malu untuk mengakuinya, tapi kenapa harus malu?
"tidak apa, jujur saja. Kali ini otou-san tak akan menhajarnya."
"... mmm, ada. Namanya Akashi seijuuro." Kyaaaa! Rasanya entah kenapa senang sekali menyrbut sei adalah pacarku.
"... Akashi seijuuro-kun ya, bagaimana anaknya?"
"mmmm, dia baik, ah seperti tou-san yang suka mengacak rambutku, perhatian dan manis..." aaah, wajahku memerah.
"hooo, ganteng?"
"ga-ganteng," aku mengangguk lalu menutupi wajahku yang memerah.
"kamu senang?"
"se-senang," kataku malu-malu.
"tapi otou-san tidak bisa menyetujui nya..."
"kenapa?" aku kaget dengan pernyataan ayah yang tiba-tiba.
"kamu akan otou-san jodohkan dengan anaknya teman tou-san." Hayama-kun?
"hayama-kun?"
"bukan, mau ya (first name)-chan... ini demi kepentingan kita,"
"ga mau."
"(first name), jangan egois."
"apaan sih, udah ah aku ngantuk." Aku kesal karena tiba-tiba tou-san berkata seperti itu.
Lalu aku berpura-pura tidur sampai tiba di Nagoya. Bagaimana mau tidur sungguhan? Aku sangat khwatari dengan nasibku, bagaimana dengan sei? Baru saja aku mendapat kebahagian bersama dengan Sei satu hari dan aku harus melepasnya begitu saja? Yang benar saja.
-skip-
"okaerinasai ojou-sama," aku disambut dengan hangat oleh maid yang mengerti dan mengurusku sejak ka-san meninggal. Sedangkan tou-san mendidik ku seperti laki-laki, agak aneh kan. Aku langsung tidur karena tidak mau berurusan lagi dengan tou-san.
-skip-
Pagi saat sarapan,
"(first name)-chan, kamu inget ga teman tou-san yang suka beliin kamu ikan emas?"
"ga. Teman tou-san banyak," sigh, mau bahas itu lagi.
"haaa, sayang sekali ya. Tapi, aku mau kamu dengar dengan perlahan,"
"apa?" suara tou-san menjadi pelan dan agak berat.
"tou-san ditipu olehnya. Hutangnya dilimpahkan ke tou-san, karena sangat banyak bisa-bisa sekolah yang tou-san dan ka-san bangun dengan sekuat tenaga ditutup untuk bayar hutang itu," hah? Bagaimana aku tenang mendengarnya?
" lalu? Orang itu dimana?" minta kuhajar dia.
"dia? Kabur entah kemana. Sudahlah, satu-satunya cara ayah harus membayarnya,"
"satu-satunya? Ada cara lain kan?"
"iya sih, tapi kan kamu ga mau?"
"memangnya cara lainnya..."
"perjodohan itu. Dengan anak sahabat kecil tou-san yang direktur perusahaan *peep*. Maka dari itu, pikirkan lagi ya," setelah itu ayah pergi bekerja. Bagaimana ini? Kalau begini, kerja keras ka-san dulu sia-sia dong? Sekolah, rumah, siswa, maid, pak satpam rumah, tukang kebun, dan yang lain akan hilang?
Aku memutuskan pergi ke pinggir sungai untuk berfikir dengan lebih jernih.
"ojou-sama mau ke mana?" tanya satpam.
"tepi sungai,"
"kata tuan anda tidak boleh keluar, bahaya." Hanya dengan kata-kata itu aku menyerah ke luar? Aku ke belakang rumah dan memanjat tembok lalu kabur. Sesaat setelah meloncat, Sei menelponku.
"(first name)..." suara sei, suara yang tidak kudengar dari beberapa jam yang lalu tapi sudah membuatku ingin kembali ke kyoto untuk mendengarkannya bicara saja.
"ada apa sei?" aku sangat senang Sei menelponku disaat terburukku seperti ini.
"...tidak, hanya ingin dengar suaramu. Bagaimana kabarmu?"
"kurang baik disini," kataku terus berjalan ke arah sungai.
"kenapa?" sepertinya sekarang sei sedang membuat kopi di ruang ketua osisnya.
"... tapi nanti kau marah." Aku takut sekali Sei marah karena berita ini dan dai akan bertindak sesuatu.
"aku tidak akan marah."
"...janji?"
"aku janji, untuk apa aku marah kepada orang yang sangat kusayangi?" "kata-katanya membuatku tenang entah kenapa.
"baiklah, Sei, aku dijodohkan dengan laki-laki yang aku tak tahu dia itu siapa."
"hm? Kamu tolak?"
"... belum. Tapi aku tidak bisa menolaknya."
"kenapa?"
"kalau aku menolak, tou-san akan bangkrut. Ka-san di surga juga akan sedih melihat tou-san bangkrut,"
"..."
kami berdua hening. Kami hening cukup lama sampai aku mengira Sei sudah menutup telponnya namun rupanya belum.
"Sei, aku akan tutup telponnya kalau kau hen—"
"jangan. Kalau begitu..."
"kalau begitu kenapa Sei?"
"...kita putus saja."
Putus? Yang benar saja. Baru 2 hari lalu kami pacaran dan sekarang putus? Baru aku merasakan 2 hari kebahagiaan yang sudah lama kunantikan... harus berakhir?
"... ma-ma-maksudmu?"
"sudah selesai. Semoga kau bahagia dengannya nanti,"
lalu sambungan dimatikan. Aku mencoba menelponnya berulang kali tapi tidak diangkat, ku e-mail tidak juga dibaca.
Sudah selesai? Gampang sekali kamu bilang menit yang lalu kamu bilang sayang dan sekarang membuangku? Aku hanya bisa menangis di tepi sungai, berharap kata-kata Sei hanya mimpi.
Akashi's POV~
Sigh, aku ini apa-apaan sih? Bukan aku, tapi apa-apaan situasi ini? Kenapa di waktu yang bertepatan seperti ini sih?
/flashback malemnya/
Setelah (first name) pulang, rupanya otou-sama sudah ada di meja makan menunggu ku untuk makan malam.
"ah, tou-sama. Konbanwa," kataku sambil menarik kursi untuk makan di depannya.
"kamu terlihat bahagia," singgung nya yang melihat senyum kecil diwajah ku.
"ah, iya. Akhir-akhir ini nasibku baik," yang kumaksud nasib adalah keadaanku dengan (first name) tentunya.
"heee, perempuan tadi siapa Seijuuro?"
"tou-sama berpapasan dengannya ya? Namanya (full name)."
"iya, aku berpapasan dengannya. Ia sopan dan cantik, siapa mu?"
"pacar ku." aku merasa bangga untuk memperkenalkan (first name) sebagai pacarku.
"oh, tapi ayah sudah menjodohkanmu dengan perempuan lain." Aku kaget dan berhenti makan.
"maksud tou-sama?"
"putuskan dia, turuti perintahku. Ini demi kebaikanmu."
"tidak bisa begitu." aku menatap wajah ayah dengan kesal.
"bisa. Oka-sama juga pasti senang," aku tidak terima dan melempar pisauku ke wajahnya namun ia menghindarinya.
"seijuuro, sikapmu. Sudah, minggu depan kita akan berangkat ke Tokyo untuk bertemu dengan calonmu,"
"tidak mau."
"seijuuro! Turuti perintah ku, jangan buat ku malu dengan tindakan egois mu!" tou-sama menaikan nada suaranya dan membuatku kesal. Aku menyudahi makan ku dan naik ke kamarku merencanakan untuk pergi ke Nagoya menemui (first name) setelah pulang sekolah.
/flashback end/
Namun karena aku sangat ingin mendengar suaranya di pagi hari seperti biasa, aku menelponnya dan mendapati ia juga diposisi yang sama denganku. Aku tak mau melepaskannya tadinya, namun ia bilang tak bisa menolak karena ayahnya. Aku yang tadinya bermaksud membatah otou-sama untuk sekali dalam seumur hidup demi (first name), namun ia malah rupanya lebih tak bisa lagi. Lalu kuputuskan saat itu juga, marilah kita bahagia di jalan kita masing-masing. Lagi pula, belum banyak kenangan yang kami buat.
Reader's POV~
Aku bukan perempuan cengeng yang menangis dan tidak melakukan apa-apa. Aku kembali lagi ke rumah dan memakai seragam Rakuzan, membawa tas, dompet, hp, dan kunci apartemen. Aku pergi kembali ke Kyoto menaiki kereta karena tidak terima dengan pernyataan Sei.
"ah, (last name)-san bukannya kamu sekarang di Nagoya?" sambut Sasaki saat aku melewati kelas. Aku tidak menggubrisnya dan langsung saja melesat ke ruangan Sei.
"(last name)?" ia mengikutiku dan beberapa temannya juga, namun aku tidak peduli. Aku Hanya ingin menghadap Sei sekarag.
"Seijuuro!" aku membuka pintu ruang ketua osis dan mendapatinya sedang duduk di salah satu jendela.
"(first name)? Kamu ngapain disi—" aku datang menghampirinya, mengangkat kerahnya dan menyudutkannya ke tembok.
"apa maksudmu selesai?"
"maksudku seperti apa yang terdengar."
"semudah itu?" seluruh tubuhku bergetar karena marah.
"sudah lupakan saja. Lagipula baru dua hari lalu kita bersama, kalian liat apa?" Sei melempar gunting ke pada orang-orang yang mengintip kejadian ini dan mereka semua kabur.
"lupakan? Baru dua hari? Apa... kamu tahu... dua hari itu... adalah hari, waktu dan saat yang berharga untukku? Apa... kamu tidak merasakan perasaan yang sama?" aku merasa sedih dan lemas. Aku melepaskan cengkramanku dikerahnya dan terduduk lemas.
"..." ia hanya mentapku dengan tatapan yang aku sendiri tak mengerti apa maksudnya. Aku menatapnya sambill terduduk di lantai dan tanpa sengaja menjatuhkan air mata. Aku dapat melihatnya menatapku dengan... perasaan bersalah?
"jadi benar, hanya aku saja yang menganggap semua ini spesial ya," aku tersenyum pilu dan berdiri lalu pergi ke depan pintu. Saat aku mau keluar, ia menutup pintunya dari belakangku. Tubuhku diputar olehnya sampai menatap wajahnya dan ia menciumku dengan lembut. Aku hanya bisa pasrah dan bingung, aku menangis entah bahagia atau sedih.
"(first name), maafkan aku." Lalu ia melanjutkannya.
"sei," aku memeluknya dan menangis.
"(first name), kamu juga harus mengerti. Aku di posisi yang sama denganmu. Lebih baik, kita berpisah saja,"
kata-kata itu merupakan kapak yang menebang pohon harapanku yang sudah mulai tumbuh kembali untuk Sei. Aku hanya bisa tersenyum getir,
"wagata," kali ini aku berusaha menerima yang ada dengan kepala dingin dan tidak dengan emosi seperti biasanya. Rupanya, maksud dari ciuman dan minta maaf tadi bukanlah untuk menumbuhkan harapan dan memulai dari awal. Namun maksud Sei untuk memudahkan kami untuk berpisah, bodoh. Apanya yang mudah idiot? Aku hanya bisa tersenyum getir dan pergi dari situ
Akashi's POV~
Setelah itu, ayahnya yang sudah memiliki perasaan ia akan kesini datang untuk menjemputnya untuk pulang ke Nagoya. Begitu pula denganku, kembali pulang ke rumah mempersiapkan perjodohan yang direncanakan ayah. Selesai sudah kisahku dengannya melalui ciuman tadi, ciuman perpisahannyang terasa manis sekaligus pahit.
Hari-hari medekat ke perjodohan itu, 3 hari sebelumnya aku diberi tahu data terbaru tentang perempuan ini. Kenapa terbaru? Aku juga tidak mengerti. Anaknya berambut coklat tua lurus panjangnya mendekati bokong. Seorang anak pengelola lembaga pendidikan yang dibuka 15 tahun lalu, hobinya olah raga dan menulis, bakatnya memasak, tingginya 162 cm. Hmm? Rambut panjang coklat tua dan bisa memasak? Seperti (first name) saja, hanya rambut (first name) sepinggang dan kriting.
Semakin hari aku semakin ingin menemui (first name) lagi. Aku sangat merindukannya, namun tak mau membuatnya repot dengan menelponnya atau mengiriminya e-mail. Rasanya aku ingin memeluk dan menciumnya saat ini juga. Ah, aku ingat dia bilang 2 hari yang berharga itu. Tentu saja berharga, semua waktu ku yang kupakai untuk bersama dengannya selalu berharga. Ah, kira-kira, bagaima pasangan (first name) ya? Apa fisiknya juga hampir mirip denganku?
-Hari perjodohan-
Aku sudah menunggunya datang bersama tou-sama di sebuah restoran mewah di Tokyo. Hmm, dari sini ke Nagoya cukup dekat kalau menemuinya... Ah, aku tak bisa menemuinya, aku tidak boleh menemuinya seenaknya yang nantinya hanya membuatnya sakit hati. Kami sudah menunggu selama setengah jam, namun tidak muncul-muncul juga. Perempuan ini, mirip dengan (first name) juga, suka terlambat. Mudah-mudahan aku bisa menerimanya seperti (first name).
Aku melihat seorang bapak-bapak dan pelayan mendekat ke arah kami, di belakangnya ada seorang wanita mengenakan gaun selutut berwarna pink mengenakan kardingan yang manis. Rambutnya yang lurus digulung asal-asalan namun terlihat cocok dengannya. Aku tetap tak bisa melihat wajahnya karena ia berada di belakang bapak-bapak itu dan ia menunduk. Sepertinya aku mengenali sepatu, gaun, tas kecil, dan perhiasan yang ia kenakan itu.
"ah! Aka-kunn~~ konbanwa, ini anak perempuanku," ya Tuhan aku tak percaya ini. Jangan menunduk, angkat kepalamu dan lihat kami!
"ah iya, konbanwa. Ini anak lelaki ku, Seijuuro." Astaga, kenapa kamu tidak mengangkat kepalamu setelah mendengar namaku? Apa kamu tak mendengarnya karena takut melihat orang lain yang akan ada di depanmu?
"Akashi Seijuuro desu. Yoroshiku." Kataku pada paman itu lalu menunduk. Hei, kau tidak dengar?
"ayo perkenalkan dirimu anakku." Paman itu menyiku nya dan ia mengangkkat dagunya. Ia melihatku dengan tatapan yang sangat terkejut lalu melihat tou-sama dan paman itu satu per satu dengan tidak percaya.
"wa-watashi wa (full name) desu. Yoroshiku onegaishimasu!" lalu ia menunduk dan berusaha tenang. Menurutku itu malah membuatnya terlihat canggung sih haha dasar (first name). Aku senang, karena orang yang dimaksud adalah (first name).
"kalian satu sekolah kan?" rupanya tou-sama sama sekali tidak ingat dia adalah perempuan yang ia temui di dekat rumah minggu lalu.
"iya nih, apa kalian pernah berbicara?" kami berdua hanya canggung dan mendengarkan mereka berbicara. Setelah makan, kami disuruh untuk ke atas (outdoor) dan berbicara untuk mengenal diri satu sama lain. Untuk apa tou-sama? Kami sudah saling kenal.
"jadi?" tanyaku langsung pada (first name)
"Akashi bodoh. Kalau tahu itu kamu, aku akan menerima dengan senang hati." Katanya dengan mata yang legah. Aku bisa melihat kantung mata yang disamarkan itu, rupanya seminggu ini dia banyak menangis.
"hahaha. Hei, kamu sering nangis ya?"
"ah tidak," lalu memalingkan wajah.
"hei, (first name) jangan panggil aku Akashi lagi dong."
"kan ceritanya kita ga kenal, Akashi payah." Lalu ia mengembungkan pipinya
"heee, aku payah yaaa."
"ittai i-ittaiii Akashi!" kataku memencet pipinya yang mengembung itu.
"hahaha, lalu, kenapa kau pakai semua barang dariku?"
"... aku tak mau melepaskannya, sama aja dengan perasaanku. Ternyata melepaskan perasaanku itu susah sekali, karena ini pertama kalinya aku merasakan ini."
"heee, kalau begitu, mau kita ulang dari awal? Bersama selamanya tentu"
"bersama... selamanya?"
"selamanya."
"kali ini... ga bakal putus lagi kan?"
"ga akan, aku janji" lalu aku memegang pipinya dan mendekat padanya, seperti biasa aku menciumya dengan lembut. Aku sangat merindukan saat-saat ini, rasanya aku sangat bahagia.
"hei, aku mau liat rambutmu yang katanya lurus."
"lepas saja," katanya lalu balas bergantian menciumku. Baru pertamakali ia menciumku seperti ini, aku memegang kepalanya dan melepaskan rambutnya, memeluknya dan meciumnya lagi. Menghabiskan waktu berdua, menciumnya di tengah dinginnya malam membawa suasan kembali panas dan membiarkan lidah kami saling bertautan satu sama lain. Aku turun ke lehernya dan baru saja mau menciumnya, namun ponsel ku berbunyi.
"apa kalian sudah selesai mengenal satu sama lain?" pesan singkat ayah. Kami berdua melihat pesan itu lalu tertawa.
"hihi, untuk seterusnya yoroshiku," katanya tersenyum lebar.
"yoroshiku," aku mengecup keningnya.
"Akashi, ayo turun." Katanya menarikku, aku menciumnya sekali lagi dan berkata,
"jangan panggil aku Akashi. Nanti kamu juga akan dipanggil Akashi," wajahnya memerah seakan baru menyadarinya.
"aaahh sudahlah, sei ayo turun! Kita lomba, yang kalah besok gendong keliling Rakuzan!" lalu ia berlari seperti anak kecil. Aku mengaku, aku dalam seumur hidup baru kali ini salah. Karena dia. Karena kamu. Aku salah kita akan selesai, sebaliknya kita akan membuat selembaran nanti aku salah lagi tidak apa, asal yang membuatku salah itu kamu. Hanya kamu yang boleh dan bisa.
END
Taa-daaa~ bagaimana akhirannya? Aneh ya? Aduh aku juga rasa ada yang salah di chapter ini entah kenapa 'w'`)Ah yang udah baca, review, fav, follow makasih banyak yaaa ^^ aku sangat senang kaget ga sama akhirannya? Heheehe. Ah aku mau bikin kaget sekali lagi, sebetulnya fic ini based on mimpi-mimpi waktu ketiduran pas Ujian Sekolah sama Ujian Negara yang lalu (tapi ada yang kutambahin sihh) :D
selanjutnya, aku mau buat fanfic midorima desuu. Kalau mau baca silahkana yaa, mohon midorima ini aku bikin mengingat temenku yang satu ini suka bgt sama si mido. Juga buat siapa aja yang suka sama mido, ato kisedai ayo knb aku bakal buat ini desuu :3 . Mudah-mudahan bikinnya selancar aku bikin fic ini yaa, mohon dukungannya *bow*
Yanagi Ahiru
