Hai, readers... Maaf untuk keterlambatan update... Author lagi kehabisan ide ;(

nah, tanpa basa-basi lagi, HAPPY READING~

Chapter 7

"Kira-kira mereka berhasil apa tidak ya?"

Matahari telah condong ke barat ketika Natsu, Lucy, Erza, Gray, dan Happy telah selesai menyelesaikan misi mereka, dan sekarang sedang menyusuri jalanan batu Kota Magnolia untuk sampai ke markas serikat mereka. Natsu sejak tadi tak henti-hentinya mengulang-ngulang pertanyaan yang sama tentang misi Wendy, Carla, dan Toushiro.

"Berhentilah khawatir," kata Erza kalem. "Lagipula Wendy bisa jaga diri; dia 'kan Dragon Slayer! Mungkin mereka akan pulang terlambat, sih. The Cursed Eye buronan Negara, walau mereka tidak semuanya penyihir.

"Tapi The Cursed Eye 'kan lumayan berbahaya," kata Lucy cemas juga.

"Bagaimana kalau ada apa-apa dengan Carla?" tanya HappY, gelisah.

"Sudahlah," kata Gray tenang, mereka ternyata telah sampa di depan markas. Tangan Gray telah siap mendorong terbuka pintu kayu ek itu. "Kalau ada apa-apa kita pasti akan tahu."

Mereka berlima pun masuk ke dalam aula yang ramai, dengan Natsu yang kembali menemukan semangat dalam suaranya dan berseru lantang, "Kami pulang!" namun, nada panjang seruan Natsu itu menggantung begitu saja. Ia ternganga melihat obyek di depannya. Wendy sudah pulang, sedang dikelilingi anggota Raijinshuu dan sang Master.

"Wendy!" seru Natsu kaget, membuat gadis itu menoleh. Namun si rambut biru itu menyunggingkan senyum riang. Segera Tim Natsu mendatangi Sky Dragon Slayer itu.

"Bagaimana kau bisa pulang lebih cepat dari kami?" tuntut Gray.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Lucy. "Tidak luka?"

"Bahkan kalau mau dibilang kena debu saja tidak," kata Laxus, mengetukkan jari ke meja bar dengan jengkel, aneh sekali.

"Apa yang terjadi?" tanya Erza ingin tahu. "Semuanya baik-baik saja?"

"Semuanya oke," kata Carla, mendengus kecil. "Kurang lebih ada lima puluh anggota The Cursed Eye, semuanya sudah masuk bui. Misi sukses."

"Bagaimana?" tanya Natsu sangat heran.

"Beberapa Sky Dragon's Roar, Sky Dragon's Fist… dan Toushiro-nii memakai pedangnya – mata pedangnya dibalik – dan mantra-mantra yang belum kuketahui sebelumnya. Aku juga tak menyangka kami bahkan tak perlu mencarinya, jadi waktu kami tak banyak terbuang. Kurang dari satu jam, semua selesai."

"Lima puluh lebih? Kalian berdua? Lalu dimana Toushiro?"

"Hitsugaya. Berapa kali aku harus bilang padamu untuk memanggilku begitu, Dragneel? Dan kami tidak berdua, tapi bertiga."

Mereka semua, kecuali Master Makarov menoleh. Toushiro menuruni tangga lantai dua dengan wajah tanpa ekspresi, kendati matanya tertuju pada Natsu. Ia telah menanggalkan jubahnya; katana-nya masih terpasang disangga kain yang sewarna dengan matanya.

"Kau masih saja memanggilku Dragneel! Natsu! Panggil Natsu dong!"

Toushiro tak berkata apa-apa. Ia terus melangkah menuruni tangga dan berjalan mendekati kelompok di dekat meja bar itu.

"Jadi bagaimana kau dan Wendy dan Carla menyelesaikannya dengan cepat?" tanya Natsu segera.

"Ya begitulah," kata Toushiro pendek. "Mereka semua besar badannya saja; otot mereka lebih berisi dari otak mereka. Lagipula…"

"Aku tanya bagaimana caranya!" seru Natsu tak sabar.

"Seperti duel dengan Pantherlily itu," kata Toushiro kalem. "Tebas sana… tebas sini… Kurasa aku tidak sengaja mematahkan bebarapa rusuk, padahal mauku hanya membuat mereka pingsan…"

Beberapa anggota Fairy Tail tercengang, tak menyangka mendengar respon seperti itu.

"Cuma itu? Tidak pakai sihir es?" tanya Laxus sarkastik, mengangkat alis. Toushiro menggeleng. "Wendy bilang kau memakai mantra-mantra. Apa itu?"

"Bantuan yang menguntungkan," kata Toushiro pendek. Ia berbalik, hendak pergi meninggalkan tempat itu.

"Tunggu! aku be-!"

Natsu terkesiap kaget saat tangannya menyentuh bahu Toushiro. Secara mengejutkan si mungil berambut putih itu bertindak agresif; ia berbalik dengan cepat dan membanting Natsu ke lantai. Semua mata langsung memandang mereka, terkejut. Bahkan Toushiro pun tampak agak kaget.

"Oh, wow," komentar Elfman perlahan

Natsu mengangkat wajahnya, tampak kaget sekali. Namun, seringai melebar sampai taringnya yang runcing terlihat.

"Uh-oh," kata Lucy pelan.

"Itu tantangan duel! Lawan aku, Toushiro!" Natsu melompat bangun dan langsung berusaha menerjang si rambut putih yang bergerak gesit menghindarinya. Jadi, alih-alih menghantam tinjunya ke Toushiro, pukulan Natsu membuat kursi kayu melayang dan menghantam Elfman.

"OI!" teriak Elfman, melempar kursi itu asal saja dan mengenai Gray dan Gajeel. Segera saja kekacauan menjalar dengan cepat ke seluruh aula. Dengan Natsu-Gray-Gajeel yang menjadi pusat kerusuhan, keramaian tercipta di seluruh bagian aula utama itu. Lempar-lemparan benda menghiasi udara; sesekali percikan api dan es melambung tinggi di atas kepala orang-orang itu.

"Dia jadi lupa tujuan awalnya," kata Freed, mengerling ke arah Toushiro yang berdiri di sampingnya, sedang mengangkat alis saking herannya dengan tingkah anggota Fairy Tail yang menciptakan kerusuhan yang sama, malah menyaingi kerusuhan Divisi 11.

"Baguslah. Aku tidak mau menghajarnya; seharusnya dia tidak mengagetkanku…"

"Kau kaget hanya karena ditepuk begitu?" Laxus mengangkat alis, heran.

Toushiro mengangkat bahu. "Refleks saja."

"Anak aneh," komentar Laxus pelan. "Aku masih ingin tahu tentang kemampuanmu dengan mantra yang disebutkan Wendy tadi. Seingatku sewaktu kau duel dengan Lily kau tidak gunakan mantra apapun."

"Keterampilan khusus, itu disebut kidou – demon art – penerapan sejumlah mantra dengan cara mengalirkan energi spiritual menjadi bentuk tertentu, yang sifatnya bisa jadi mengikat, melindungi, menyembuhkan, sampai menghancurkan. Aku sudah menjelaskan dengan singkat sebelumnya; ada dua jenis kidou,bakudou; biasanya sebagai mantra pengikat atau fungsi defensif, lalu hadou; fungsi destruktif, dan yang belum kuberitahukan, Tanpa Nama; tak ada perapalan khusus atau penamaan untuk kidou jenis ini, biasanya untuk pengobatan. Untuk hadou dan bakudou, masing-masing memiliki sembilan puluh sembilan mantra, yang mana semakin besar angkanya semakin rumit penguasaanya, namun semakin kuat juga efeknya, apalagi jika diucapkan dengan mantra penuh."

Semua yang mendengarkan penjelasan itu; Master, Erza, Mirajane, Lucy, Wendy, dan Laxus dan Raijinshuu terdiam, terpana.

"Bagaimana kau mempelajarinya?" tanya Mirajane ingin tahu.

Toushiro mengerjap cepat. Ia tampak ragu, sebelum menjawab. "Rahasia."

"Apa?!" dengking Laxus. "Kenapa tidak beritahu saja?!"

"Hanya sampai sini yang perlu kalian ketahui. Jika lebih jauh kalian mengetahuinya, aku tak yakin bisa menangung konsekuensi yang lebih berat dari yang sudah kulakukan."

"Apa?" Semuanya memandang Toushiro dengan terkejut; kericuhan masih terjadi, melatarbelakangi keheningan mendadak di meja bar.

"Apa maksudmu?" tanya Erza dengan alis nyaris menyatu. "Ada apa sebenarnya?"

"Tidak ada apa-apa," kata Toushiro datar, berbalik untuk pergi. Namun, Erza melihat, dalam kilatan yang cepat, sebentuk emosi muncul di kedua mata turquoise si rambut putih. Sang Titania mengenali emosi itu. Ia pernah memilikinya saat ia bermaksud melawan Jellal Fernandez seorang diri.

"Toushiro," bisik Erza, pelan sekali. Yang dituju tampaknya tak mendengar, mulai melangkah pergi.

"Apa masalahmu? Kenapa kau ini?" tanya Mirajane bingung.

"Tidak ada apa-apa." Toushiro berhenti dari langkahnya, namun tidak berbalik untuk bicara dengan mereka. "Berhentilah bertanya, dan aku juga tak akan membiarkan kalian terlibat. Selamat sore."

Detik berikutnya, dengan kecepatan tak terduga, si rambut putih telah lenyap; hanya pintu depan yang mengayun menutup sebagai bukti kalau dia melewatinya untuk meninggalkan aula yang masih ramai.

"Kenapa dia sebenarnya?" tanya Lucy dengan sangat bingung, masih menatap pintu depan.

"Apa dia benar-benar tidak menceritakan apapun padamu, Gramps?" tanya Laxus.

Makarov menggeleng. "Tapi sepertinya jelas anak itu punya masalah. Masalah yang cukup serius."

Mirajane menemukan Toushiro berdiri bersandar pada selusur pagar beranda lantai dua Markas Fairy Tail. Ia menatap langit malam yang berwarna biru tinta bertabur bintang yang memayungi Kota Magnolia yang tak kalah gemerlap. Namun Strauss tertua dari tiga bersaudara itu bisa melihat bahwa cantiknya malam tidak dinikmati oleh mata si anggota terbaru Fairy Tail itu. Mirajane hampir mengira kalau Toushiro tidak menyadari kehadirannya, sampai Toushiro, masih menatap langit, berkata dalam nada rendah.

"Ada apa, Strauss?"

"Kukira kau tidak tahu kalau itu aku," kata Mira, tersenyum. Gadis itu ikut berdiri, di samping Toushiro. Hanya saja obyek tatapannya adalah kerlipan lampu jalanan di bawahnya.

"Aku bisa merasakan kehadiranmu," kata Toushiro datar.

"Erza bilang ini adalah tempat favoritmu untuk melihat sekitar jika kau ada di Markas. Semuanya mencemaskanmu."

"Tak ada yang perlu dicemaskan. Aku baik-baik saja."

"Tapi yang tadi sore…"

"Lupakan saja, itu bukan apa-apa."

Mira menatap tampak samping pemuda mungil di sampingnya. Tak ada ekspresi apapun yang tampak di wajahnya yang masih mendongak menatap langit, tak ada pula apapun yang bisa menjadi petunjuk di matanya yang kosong. Toushiro tampaknya menolak mengizinkan siapapun mengetahui lebih jauh tentang dirinya. Ini agak mencemaskan bagi Mirajane. Ia datang untuk mendekati Toushiro, untuk mencari tahu apa yang membuat si rambut putih tampak jauh lebih dingin dari Gray Fullbuster.

Mirajane menghela napas.

"Tentu saja setiap anggota Fairy Tail memiliki rahasia yang tak ingin mereka ketahui," kata Mira pelan, tanpa mengetahui kalau Toushiro mengerjap, agak terkejut, namun mendengarkan kata-katanya. "Semuanya punya cerita tersendiri, cerita senang bahkan sedih, yang mereka bawa bahkan sebelum mereka menjadi anggota keluarga Fairy Tail. Kami semua, tentu saja tak akan mengorek cerita itu, kecuali setiap dari mereka siap untuk memberitahukannya pada kami." Mira tersenyum tipis. "Tentu saja beberapa dari kisah mereka membuat kami kaget, Master saja sampai nyaris kena serangan jantung. Tapi itu sesuatu yang tak bisa kita kendalikan, 'kan. Masa lalu. Itu semua sudah terjadi. Itu tak mengubah apapun. Semua masih anggota serikat. Masih Peri Fairy Tail. Masih keluarga. Begitu juga kau."

"Bagaimana jika aku kriminal?" tanya Toushiro pelan. "Dan aku bisa melibatkan kalian dalam masalah?"

Mira tertawa kecil. "Imajinasimu bagus juga. Tapi kau masih terlalu muda untuk diburu Dewan Sihir." Toushiro beruntung Mira tak melihat ekspresi wajahnya yang mengeras. Seandainya kau tahu, Mira, itu bukan imajinasi, itu realita… "Tapi, Toushiro, Master selalu mengatakan pada kami, selama yang kita ikuti adalah cahaya, sekalipun kita bekas narapidana, kita masih mendapat tempat di rumah bernama Fairy Tail."

Mira mendapati kedua mata turquoise itu menatap lurus ke arahnya. Mira menyadari sesuatu di sana, dan itu menghetak kesadarannya. Toushiro bukan anak biasa. Mana mungkin ada anak biasa menyiratkan ketakutan sekaligus pengharapan di matanya, yang perlahan-lahan meredup, seakan tirai telah turun untuk menyembunyikannya.

"Kalian menerima terlalu mudah, Fairy Tail itu," kata Toushiro dengan suara kering.

"Karena hanya penerimaan yang bisa kami berikan, pada setiap mereka yang memiliki tanda ini," kata Mira, tersenyum pengertian, menyentuh tanda serikat pada lengan Toushiro yang tertutupi shihakusou-nya. "Itulah gunanya teman. Keluarga. Kami menerima kelebihan mereka, juga kelemahan mereka. Jika kita bersama-sama, kita, Fairy Tail, bisa lebih kuat dari yang pernah dibayangkan. Lebih dari yang banyak orang pikir tentang peri."

"Waktu misi tadi siang," kata Toushiro pelan, menatap lampu menara jam nun jauh di sana. "The Cursed Eye mengatakan bahwa Fairy Tail tak lebih dari kumpulan peri-peri." Toushiro entah kenapa merasa direndahkan saat perampok itu menghina serikat ini, padahal ia baru bergabung empat hari di sini.

"Tentu saja Fairy Tail adalah kumpulan peri-peri," kata Mira ramah.

"Kenapa 'Peri'? Kenapa 'Ekor Peri'? Jika seperti yang dikatakan mereka semua, jika serikat ini adalah serikat kuat, kenapa harus nama itu? Maaf," kata Toushiro segera, melihat alis putih gadis di depannya terangkat, heran. "Aku hanya ingin tahu…"

"Semua anggota baru pasti menanyakan hal itu, jangan cemas," kata Mira, masih dengan keramahan yang sama. Ia memandang langit. "Fairy Tail – Ekor Peri. Kenapa harus nama itu? Memangnya peri punya ekor? Bahkan, adakah peri itu? Bagaimana menurutmu?"

Mira menolehkan kepalanya yang cantik ke arah Toushiro, tersenyum misterius.

"Aku tidak tahu," kata Toushiro, bingung.

"Tepat sekali! Tak ada yang tahu tentang itu! Sebuah misteri, itulah Fairy Tail. Kita dihadapkan banyak misteri di dunia ini, eh? Misteri yang mendorong kita untuk menemukan, mencari jawaban untuk pertanyaan yang ada dalam kehidupan. Sebuah perjalanan, petualangan. Petualangan tanpa akhir! Itulah Fairy Tail!" Mirajane menatap Toushiro yang matanya melebar. "Filosofi itu yang menjadi dasar eksistensi serikat sihir ini, yang sudah berdiri hampir berabad-abad lamanya. Kami lebih dari sebuah serikat, lebih dari perkumpulan penyihir yang membutuhkan tempat bernaung dari kesebatangkaraan, dari kesepian, dari kesendirian. Kami tak memerlukan nama gagah untuk membuktikan keberadaan kami. Jika keberadaan kami berarti untuk siapa saja, terutama mereka yang memiliki tanda itu dalam diri mereka, fisik ataupun di jiwa mereka, itu sudah cukup. Fairy Tail akan kuat bersama mereka, mereka akan kuat bersama Fairy Tail. Dengan itulah kami bisa terus ada, dan terus bertambah kuat."

Toushiro tak menyangka mendapatkan penjelasan seperti itu. Jika saja, kata Toushiro dalam hati dengan getir. Jika saja ia memiliki teman seperti itu sejak ia datang ke Soul Society, sejak ia tahu ia tinggal di Junrinan, sejak ia tahu betapa menyakitkannya sendirian… Bisakah ia menjadi kuat dengan seperti itu? Bisakah ia mempertahankan temannya seperti itu? bisakah ia melindungi semua yang berharga untuknya? Terlambatkah ia untuk berharap?

Sebuah kilatan keperakan melesat cepat di langit berbintang di atas menara Fairy Tail.