Batasku

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pair : Kakashi H. x Sakura H.

Rated : T+

Warning : Ide pasaran, Gaje, Ooc, EYD berantakan, Typo dimana-mana

Don't Like Don't Read

Happy Reading ^^

Chapter 7

Sasuke sudah membulatkan tekadnya untuk datang ke tempat ini, lelaki itu mengeluarkan secarik kartu nama dari saku jas yang ia kenakan. Onyx miliknya melihat alamat yang tertera dikartu tersebut dengan saksama untuk memastikan ia sudah datang ke tempat yang benar.

Jeritan gadis-gadis menggema di sepanjang koridor rumah sakit yang ia lewati, semua mata memandang ke arahnya dengan takjub, bahkan sampai ada yang meneteskan air liurnya, pesona Uchiha memang tidak bisa diremehkan.

Ia berhenti di meja resepsionis, sambil tetap memainkan ponselnya ia bertanya datar "Bisa bertemu dengan dokter Hinata Hyuuga?"

Dengan mata berbinar sang resepsionis menganggukan kepalanya, "Dengan tuan..?"

"Sasuke Uchiha." Jawabnya datar.

"Mari saya antar, tuan."

Sasuke Uchiha mengikuti kemana sang resepsionis membawanya pergi, ia sudah membuat janji dengan sang dokter jadi tak perlu menunggu lama. Mereka berhenti di depan ruangan dengan pintu berwarna lavender di ujung lorong, kemudian resepsionis dengan warna rambut merah itu mengetuk pintu di depannya sebanyak tiga kali.

"Dokter Hinata, tuan Sasuke Uchiha sudah datang" Ucapnya ramah.

"Biarkan dia masuk, Tayuya" Balasnya tanpa mengalihkan matanya dari dokumen yang ada di tangannya.

Terdengar langkah kaki menggema di ruangan serba putih itu, wangi maskulin khas lelaki menyapa indera penciumannya. Wanita yang sudah menjadi dokter di usia muda itu mengalihkan perhatiaanya dari dokumen di tangannya, sebelum kemudian berdiri dan menjabat tangan pasiennya.

"Selamat pagi Uchiha-san" Sapa Hinata ramah.

"Hn" Jawab Sasuke datar seperti biasanya.

Hinata kembali mendudukan dirinya setelah berbasi-basi sebentar, "Saya Hinata Hyuuga, saya yang akan−"

"Bisa kita mulai sesi konselingnya?" Ujar Sasuke tak memberi kesempatan sang dokter untuk menyelesaikan ucapannya.

"Ah, baiklah, kau bisa menceritakan padaku apa yang kau rasakan saat ini, apa yang membuat mu cemas atau apa yang membuat mu takut, apapun itu." Balasnya sembari tersenyum lembut. Kenyamanan pasien adalah hal yang harus ia utamakan sebagai seorang psikiater.

"Aku−" Pertama kali dalam hidupnya, seorang Sasuke Uchiha ragu dengan apa yang akan ia katakan. Selama ini semua orang tahu siapa ia, tak sedikit pun ucapannya terdengar ragu-ragu.

"Pelan-pelan saja, tidak perlu terburu-buru" Kembali sang dokter tersenyum ramah.

Sasuke menundukkan kepalanya dan memejamkan kedua onyxnya, terlihat berusaha mengumpulkan keberaniannya menyampaikan hal yang mungkin merupakan rahasia terbesar dalam hidupnya. Hinata menunggu dengan sabar. Tak berapa lama kemudian lelaki itu mendongakkan kepalanya, matanya yang terpejam perlahan terbuka.

Sasuke Pov

Namanya Haruno Sakura, ia gadis yang cantik dan penuh semangat. Aku mengenalnya karena ia bersahabat dengan si dobe Naruto. Ia sama seperti kebanyakan wanita yang ku kenal, memuja ketampananku, tapi Sakura sedikit berbeda, dia terlihat tulus mencintaiku, bukan semata karena wajah dan hartaku.

Beberapa bulan mengenalnya membuat aku benar-benar yakin bahwa dia mencintaiku, itu terlihat dari matanya saat menatap ku malu-malu, tak jarang ku lihat pipinya bersemu merah saat tak sengaja aku balik memandangnya. Aku mungkin tak banyak bicara seperti Naruto, namun kedua mataku memperhatikan semua gerak-geriknya, tawanya yang renyah, senyumnya yang malu-malu saat memandangku, semua itu aku perhatikan dengan diam-diam.

Suatu hari di penghujung musim semi dia memintaku menjadi kekasihnya, dan tentu saja aku menerimanya, aku juga menyukainya meskipun selama ini aku terlihat biasa saja.

Satu bulan, dua bulan, hubungan kami tak pernah ada masalah, semuanya berjalan sebagaimana mestinya, meskipun aku tak bisa sering-sering bersamanya, ia tak masalah tak pernah sedikitpun mengeluh.

Hingga, suatu malam aku melihatnya bersama dengan laki-laki lain, aku tidak tahu siapa laki-laki itu, karena memang selama ini aku tak pernah menanyakan siapa saja temannya. Aku mengikuti mereka sampai di depan apartemen Sakura. Ku pikir laki-laki itu hanya mengantarkan Sakura, tapi ternyata dia mengantarkannya hingga masuk ke apartemen kekasihku.

Kalau kau bertanya bagaimana aku bisa menyimpulkan hal tersebut, jawabannya gampang, lelaki itu tak pergi setelah mereka sampai di lobby apartemen, tebakanku benar kan?

Keesokannya aku mendatangi Sakura di apartemennya, aku membentaknya, mengatakan hal kasar yang seharusnya tidak aku katakan.

"Sasuke, i-ini tidak seperti yang k-kau—"

Sakura berusaha menjelaskan semuanya padaku, tapi−sekali lagi egoku lah yang berkuasa.

"Kakashi-sensei adalah dosenku dulu, d-dan juga sahabatku aku bertemu dengannya di halte bus saat aku mau pulang, d-dia tidak tega kalau aku pulang sendiri.. Semalam sudah jam 23.45 Sasuke. Demi Kami-sama!"

Kakashi? Apa lelaki yang kulihat semalam bersamanya itu? Jadi, namanya Kakashi? Dia mengatakan bahwa lelaki itu mantan senseinya, tapi apakah ada mantan sensei yang mengantarkan pulang hingga masuk ke apartemen? Apakah aku salah bila aku tidak percaya? Sekali lagi egokulah yang lebih mendominasi.

"S-sasuke sakit—"

Aku bahkan mencengkeram rambutnya kasar, sungguh aku tak ingin melakukannya, namun kemarahan sudah menguasai akal sehatku, rintihannya tak ku dengar sama sekali. Aku juga menghempaskan tubuhnya hingga membentur sudut meja, aku bahkan bisa melihat pelipisnya mengeluarkan darah−tapi aku tak peduli.

Setelah itu aku meninggalkannya seorang diri, bukannya aku tak peduli padanya, tapi− aku hanya tak ingin melakukan hal yang lebih dari ini, aku benar-benar tak ingin menyakitinya. 'Maaf' hanya itu yang bisa aku ucapkan, meski tidak aku katakan langsung padanya, aku yakin kekasihku akan mengerti.

Sasuke Pov End

"Apa kekasih mu tak menjelaskan siapa lelaki itu?" Tanya Hinata sembari mencatat hal-hal yang menurutnya penting.

"Dia−menjelaskan semuanya, hanya saja aku sudah tak bisa mendengar apa pun, aku sudah tidak bisa berpikir jernih" Jawab Sasuke−menundukkan kepalanya lagi.

"Setiap kali ada masalah, bagaimana kalian mengatasinya?" Tanya Hinata−lagi.

"Aku−selalu meninggalkannya seorang diri setelah melampiaskan emosiku padanya, aku sakit melihat ia menangis, tapi emosiku menutupi akal sehatku."

"Apa setelah itu kau meminta maaf padanya, Uchiha-san?"

"Ya, setelah emosiku reda, aku meminta maaf padanya dan memeluknya. Aku benar-benar menyesal memperlakukan Sakura dengan kasar, makanya aku datang padamu Hyuuga-san. Aku ingin berubah demi gadis yang ku cintai"

"Aku mengerti, kita akan melakukan sesi konseling tiga kali dalam seminggu, nanti aku akan meminta Tayuya menyesuaikan dengan jadwal mu, Uchiha-san." Ucap Hinata mengakhiri sesi konseling perdana mereka.

"Hn" Ujar Sasuke datar.

"Boleh aku meminta nomor ponselmu?" Ucap Sasuke tiba-tiba.

Hinata yang sedang mencatat menghentikan gerakkannya tiba-tiba, ia mendongakkan kepalanya, tak sengaja iris pearl miliknya memandang langsung onyx di depannya−terpesona, "T-tentu saja" Jawabnya terbata-bata, bahkan kebiasaannya saat sedang malu pun tidak berubah walapun ia sekarang seorang psikiater terkenal.

.

.

.

"Forehead, temani aku makan siang." Ujar Ino setengah memaksa sahabat pinknya.

"Hm" Jawab Sakura malas sembari berdiri dan melangkahkan kakinya mendekati Ino yang berdiri tak jauh dari meja kerjanya.

"Ada apa dengan wajahmu, Forehead? Aku bahkan bisa mengira berapa hari kau tidak tidur" Ujar gadis itu kemudian.

"Kau seperti paranormal saja, Pig." Ujar Sakura tertawa sumbang mendengar tebakan sahabatnya tepat sasaran.

"Haha, tentu saja, fufufu" Ucap Ino percaya diri.

"Ayo" Ajaknya kemudian.

.

.

.

"Tapi, apa yang kau katakan itu benar, Pig, beberapa hari ini aku tidak bisa memejamkan mataku." Ujar Sakura sambil mengaduk-aduk jus yang ia pesan.

"Memangnya apa yang sudah terjadi padamu? Bukan seperti kau yang biasanya." Ino menimpali.

"Aku−entahlah" Sakura mengedikkan bahunya.

"Apa maksudmu, Forehead?" Gadis itu yakin ini ada hubungannya dengan Kakashi atau Sasuke, tapi ia ingin sahabatnya sendiri yang mengatakan.

"Seperti ada yang hilang dari ku, Pig." Sakura meminum jusnya tanpa minat.

Ino menaikkan sebelah alisnya bingung, tapi ia tak mengatakan apa pun, memberi sahabatnya waktu untuk kembali melanjutkan ceritanya.

"Aku sudah terbiasa dengan kehadiran sensei, Pig, dan sekarang sensei telah meninggalkanku dan memilih bersama wanita itu." Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya−menyembunyikan air mata yang entah sejak kapan sudah meluncur mulus di pipinya. "Aku tidak tahu apa yang bisa aku lakukan tanpa sensei. Sensei selalu ada saat aku membutuhkannya, dia selalu memelukku saat Sasuke menyakitiku, dia bahkan selalu ada saat keadaan ku tidak stabil" Lanjutnya lagi.

"Kenapa kau cemas? Bukankah ada kekasihmu, Sasuke?" Ujar Ino enteng, ia sengaja memancing Sakura agar mengatakan perasaannya yang sebenarnya.

"Ini berbeda, Pig, kau tak akan pernah mengerti. Aku−aku tidak rela melihat sensei bersama wanita itu, t-tapi..." Sakura tak melanjutkan ucapannya.

"Sekarang jawab dengan jujur Sakura, apa yang kau rasakan saat Kakashi-sensei meningglkan mu?" Tanya Ino menatap dalam manik emerald sahabatnya.

"Seperti ada yang kosong Ino, aku bahkan sering memimpikan sensei, dan disini−" Gadis itu mencengkeram dadanya "−terasa sakit."

"Kau menyukainya Sakura!" Ujar Ino mantap, sembari memegang erat kedua bahu Sakura.

Deg!

'A-aku menyukai Kakashi-sensei?' Batin Sakura.

"Forehead, kau baik-baik saja, kan?" Ino menggoyangkan kedua bahu Sakura−panik.

"A-aku menyukai sensei?" Ujar gadis itu seperti orang bodoh.

"Ya, aku yakin kau menyukainya" Ino kembali meyakinkan.

.

.

.

Sakura mengusap-usap bahunya sendiri, berusaha menghalau hawa dingin yang ia rasakan. Ia menunggu bus yang akan membawanya ke apartemen, namun sudah satu jam menunggu tak ada satu pun bus yang lewat, taksi pun tak ada sama sekali, sedangkan hari sudah semakin sore dan ia menggigil kedinginan.

Ia mengulurkan tangannya menyentuh tetesan air hujan yang tak juga menunjukkan tanda-tanda akan reda.

Sakura menghembuskan nafas lelah, "Ah, mungkin aku harus menerobos hujan."

Bunyi decakan air dapat ia dengar saat kaki jenjangnya menginjak air yang menggenangan di jalan yang ia lalui, badannya basah kuyup. Tiba-tiba gadis itu menghentikan langkahnya, suara Ino tadi siang terngiang di telinganya, 'Benarkah yang Ino katakan? Aku menyukai Kakashi-sensei?' Ujar Sakura pada dirinya sendiri.

Gadis itu menengadahkan wajahnya melihat langit, matanya terasa perih saat tetesan air hujan mengenai iris emeraldnya. Kemudian, ia menjatuhkan tubuhnya yang terasa dingin, ia menangis sesenggukan, gadis itu bersyukur berada di bawah guyuran hujan, setidaknya orang lain tak tahu ia sedang menangis sendirian.

Flashback on

"Kenapa aku tidak membawa payung, sih?"Sakura menepuk dahi lebarnya sendiri. "Harusnya aku tidak percaya begitu saja ramalan cuaca tadi pagi." Gadis itu terus saja menggerutu sepanjang koridor kampus yang ia lewati.

Tanpa membuang waktu ia menerobos hujan agar segera sampai di apartemennya yang terasa lebih hangat, gadis itu mencoba menghalau air hujan dengan telapak tangannya−yang sebenarnya tidak berguna sama sekali.

"Dasar bodoh, apa yang kau lakukan?"Bentak seseorang yang berada tepat di samping Sakura.

Suara yang terdengar familiar menyapa gendang telinga gadis itu, ia menengokkan kepalanya ke asal suara, mata heterokrom senseinya lah yang pertama kali ia lihat.

"S-sensei" Lirih Sakura.

"Pegang ini" Ujar Kakashi datar.

Sakura memegang payung yang Kakashi sodorkan, sedangkan lelaki itu melepas jaket yang sedang ia kenakan dan memakaikannya di tubuh dingin gadisnya.

'Hangat dan wangi sensei' Batin Sakura saat jaket senseinya berpindah ke tubuhnya.

"Sensei tidak bawa mobil?" Tanya Sakura sambil mengeratkan jaket yang ia kenakan.

"Hn" Balas Kakashi.

Gadis itu tidak tahu saja, kalau Kakashi sengaja meninggalkan mobilnya di kampus demi bisa berduaan dengan gadisnya lebih lama, kehujanan pun tidak masalah baginya.

Kakashi merangkul bahu kanan Sakura dan mengeratkan pelukannya, "Apa masih dingin?"

"T-tidak."

Mereka melangkahkan kakinya pelan, saling berbagi kehangatan dibalik dinginnya tetesan air hujan.

Sakura menggosok kedua telapak tangannya agar lebih hangat, ia sudah mengganti bajunya yang basah dengan piyama, selimut pink kesayangannya membungkus seluruh tubuhnya yang bergetar kedinginan.

"Minumlah" Kakashi menyodorkan segelas coklat hangat pada gadis di depannya.

Lelaki itu mendudukkan dirinya di sebelah gadis yang di sayanginya, ia mengenakan pakaian yang memang sengaja Kakashi tinggalkan di apartemen gadisnya.

"Jangan bersikap bodoh lagi." Kata Kakashi sembari mengusap surai pink Sakura.

"Hm" Balas Sakura sambil menyesap susu coklat kesukaannya. Ia membiarkan tangan Kakashi mengusap rambutnya, karena hal itu sudah terbiasa lelaki itu lakukan padanya.

Hachu!

"Hahaha" Kakashi tergelak melihat gadisnya bersin sekeras itu.

"Jangan tertawa, sensei!" Seru Sakura kencang, tangannya sibuk mengelap hidungnya yang tersumbat dan berlendir.

Kakashi mengambil tissue yang ada di tengah meja, sebelum kemudian mengelap hidung Sakura dengan telaten tanpa rasa jijik sedikitpun. Sakura tertegun mendapati hal yang senseinya lakukan, mungkin jika orang lain melihat, mereka bisa berpikir bahwa Kakashi dan Sakura adalah sepasang kekasih, namun sayangnya Kakashi dan Sakura hanyalah sebatas sahabat.

"Setelah ini minum obat mu dan beristirahatlah, aku tidak ingin kau sakit, Saki." Ujarnya kembali mengusap surai Sakura.

Apa yang baru saja Kakashi katakan tidak gadis itu lakukan, karena sekarang ini gadis itu sedang terlelap di pangkuan Kakashi.

"Dasar" Kata Kakashi tersenyum sembari mengusap pipi pualam gadis yang dicintainya.

Kakashi memperbaiki selimut yang membungkus tubuh Sakura, ia tidak ingin gadisnya kedinginan. Perlahan, lelaki itu juga memejamkan kedua netranya, menyusul gadisnya ke alam mimpi. Ia tidak menyesal meninggalkan mobilnya dan berakhir dengan kehujanan, kalau akhirnya bisa menghabiskan waktu berdua dengan gadisnya seperti sekarang ini.

.

.

.

"Sensei.. Hiks" Suara tangisan Sakura di ujung telpon membuat Kakashi terbangun dari acara malas-masalan yang biasa ia lakukan diakhir pekan.

"Hei, apa yang terjadi, Saki?" Tanya pria itu khawatir.

"Sasuke-kun.. Hiks.. Membatalkan janji kencan kami, sensei." Adu gadis itu pada Kakashi.

"Hah" Kakashi menghembuskan napas kasar, 'Lagi-lagi bocah itu menelantarkan, Saki-ku.'

"Sensei!" Seru Sakura lagi.

"Hm"

"Aku− hiks.. "

Kakashi paling tidak bisa melihat Sakura menangis, itu adalah hal yang paling menyakitinya "Kau dimana sekarang?"

"A-ku di taman Tokyo, sensei."

"Jangan kemana-mana, aku ke sana sekarang." Putus Kakashi akhirnya.

Sesaat setelah mematikan sambungan telpon, Kakashi menyambar jaket yang digantung di belakang pintu kamarnya, kemudian mengambil kunci mobil di atas nakas, ia tak ingin gadisnya menunggu terlalu lama.

Sakura menggosokkan kedua telapak tangannya agar lebih hangat, udara dimusim dingin benar-benar membuatnya hampir mati kedinginan. Kepala pink-nya menoleh mencari keberadaan senseinya, beberapa saat yang lalu ia kembali mengganggu istirahat sang sensei.

"Apa yang kau lakukan di sini, Saki?" Suara baritone Kakashi menyapa gendang telinganya, disusul dengan jaket hangat yang membungkus tubuhnya yang bergetar kedinginan.

"..." Sakura menggelengkan kepala pinknya, ia lebih memilih mengeratkan jaket yang membungkus tubuhnya dari pada harus menjawab pertanyaan lelaki di sebelahnya.

Kakashi memeluk lengan kanan Sakura dan membawanya meninggalkan taman Tokyo yang hampir tertutupi salju−seluruhnya.

Pria itu menyerahkan segelas susu panas yang baru saja ia pesan dan mengangsurkannya pada gadis merah jambu yang masih menggigil kedinginan, "Kau baik-baik saja?"

"Hm" Sakura mengangguk meski air mata terlihat masih berderai.

"Jangan menangis" Ucap Kakashi sembari menyeka liquid bening yang berderai di pipi Sakura.

"Sasuke-kun, dia−"

"Stt.. tenanglah, ada aku di sini, Saki" Ujar Kakashi, sebelum kemudian membawa tubuh dingin Sakura dalam dekapannya yang hangat.

Flashback Off

Sakura memasuki ruang kerja Ino dengan terburu-buru, ia ingin segera memberitahu sahabatnya apa yang sedang ia rasakan.

"Pig!" Seru Sakura kencang sembari membuka pintu ruang kerja Ino dengan kasar. Gadis itu bahkan mengabaikan tatapan heran perawat yang melintas di depan ruangan Ino.

Mendapati kelakuan sahabat kecilnya, Ino hanya memutar kedua bola matanya malas, "Kau bisa merusak pintunya, Forehead!"

"Ah, gomen ne" Sakura menangkupkan telapak tangannya seakan meminta maaf sedangkan kedua emeraldnya berkaca-kaca bersiap untuk menangis.

"Sudahlah, lupakan−" Ino mendengus "Apa yang membuat mu datang ke ruangan ku sepagi ini?"

Sakura memegang kedua telapak tangan sahabatnya kemudian berseru senang, "Sekarang aku sudah sadar Ino, a-aku mencintai sensei." Namun sedetik kemudian ekspresi senangnya berubah drastis "Tapi−" Ujarnya ragu.

Ino menunggu Sakura melanjutkan kata-katanya, ia mengernyitkan dahinya−bingung.

"Aku tidak mau merebut milik orang lain, Pig." Ujar Sakura mengakhiri kebisuan yang beberapa saat lalu melandanya.

'Apalagi sekarang?' Batin Ino frustasi.

"Aku mengerti, Forehead, tapi bukankah kau dan Kakashi-sensei saling mencintai?" Katanya memastikan.

"Tapi sensei sudah menjadi milik Karin-san, Pig." Gadis merah jambu itu mengatakan dengan nada putus asa.

"Aku mengerti, tapi aku yakin sensei masih sangat mencintaimu, berjuanglah, Forehead!" Seru Ino menyemangati sahabatnya.

"Tapi itu akan menyakiti Sasuke-kun dan Karin-san."

Ino masih tak menyerah untuk menyadarkan Sakura akan perasaannya, "Tapi kalau kau tak berjuang, kau dan senseilah yang akan menderita seumur hidup, sudah saatnya kalian bahagia, Forehead!"

Sakura mengalihkan emeraldnya memandang ke arah jendela, "Terkadang−aku membayangkan, andai saja aku tak bertemu dengan Sasuke-kun, mungkin−" tak terasa liquid bening mengalir membasahi pipi pualamnya.

"Masa lalu tidak bisa diubah Forehead, tapi masa depan masih bisa, jadi sebelum kau menyesalinya seumur hidup, kau harus berjuang" Untuk yang kesekian kalinya Ino memberi suntikan semangat untuk sahabatnya.

Sakura mengusap pipinya yang penuh air mata, gadis itu memandang manik aquamarine sahabatnya dalam, "Tapi bagaimana kalau sensei tidak mau menerimaku?"

"Aku yakin sensei masih sangat mencintaimu, percayalah padaku."

.

.

.

Sasuke mencium buket bunga mawar yang ia bawa, ia sudah tidak sabar untuk memberikannya pada kekasihnya−Sakura.

Seperti biasa, sepanjang jalan yang ia lalui penuh dengar teriakan gadis-gadis yang terpesona padanya, 'Haruskah aku memakai masker saja?' Batin Sasuke narsis.

Ia sudah tiba di depan apartemen kekasihnya, ia tak perlu mengetuk pintu agar Sakura membukakan pintu untuknya, ia sudah biasa masuk ke apartemen kekasihnya sesuka hati karena ia tahu password apartemen Sakura.

Pria itu menutup pintu apartemen dengan perlahan, tak ingin Sakura menyadari keberadaanya−ia ingin memberikan kejutan pada kekasih merah mudanya itu.

Sasuke tak mendapati kekasihnya di ruang tamu atau pun di ruang tengah, padahal biasanya gadisnya itu akan menghabiskan waktunya menonton dorama kesukaannya di ruang tengah. Tak mau menduga-duga lagi, Sasuke akhirnya memutuskan untuk melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamar gadisnya.

Sasuke sudah berada di depan kamar gadisnya, beberapa langkah di depannya dapat ia lihat kekasihnya sedang mengepak baju dalam koper, sayup-sayup ia mendengar Sakura sedang berbicara dengan seseorang melalui ponsel namun ia tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Tak membuang waktu lagi, Sasuke berjalan dengan langkah tergesa menghampiri gadisnya, ia tidak ingin apa yang ia pikirkan menjadi kenyataan.

"Kau mau ke mana?" Tanya Sasuke mencekal lengan Sakura kasar.

"S-sasuke-kun?" Jawab Sakura terbata, ia tidak menyangka Sasuke akan datang ke apartemennya.

"Jawab!" Tak sedikitpun melepaskan tangannya dari lengan gadis di hadapannya.

"Lepaskan aku, Sasuke-kun" Sakura berusaha menghempaskan lengannya dari cengkeraman kuat Sasuke.

"Katakan! Apa yang akan kau lakukan dengan baju-baju itu" Ujar Sasuke melirik tumpukan baju yang belum seluruhnya Sakura masukan ke dalam koper.

"Aku−ingin kita mengakhiri ini semua, Sasuke-kun."

"Apa maksudmu?" Cengkeraman Sasuke mengendur dengan sendirinya, ia terlalu terkejut dengan apa yang baru saja kekasihnya katakan.

"Gomen Sasuke-kun, aku−mencintai orang lain" Sakura menunduk saat mengatakan hal yang baru beberapa hari ini ia sadari.

"Sejak kapan?" Tanya Sasuke sembari mengulurkan tangannya berusaha mengusap pipi kekasihnya.

"Aku−tidak tahu sejak kapan, tapi yang pasti sekarang aku sadar kalau aku mencintainya, jadi ku mohon lepaskan aku, Sasuke-kun" Ucap Sakura dengan air mata berderai.

"Kau tidak bisa melakukan ini semua, sayang!" Seru Sasuke kencang. "Aku bahkan sudah membuang harga diriku untuk pergi ke psikiater, itu semua aku lakukan untuk mu, dan sekarang kau mau meninggalkan ku?" Ujar Sasuke frustasi, lelaki itu bahkan sudah meremas surai ravennya sendiri.

"S-sasu-kun, ku mohon jangan seperti ini." Sakura memegang kedua lengan Sasuke berusaha menghentikan tindakan lelaki itu.

"Maaf, sayang− maaf karena menyakitimu selama ini" Sasuke menundukkan kepalanya dalam, "Aku tidak akan melakukannya lagi" Janjinya. "Jadi, jangan pergi." Ujar Sasuke putus asa. Kalau hal ini bisa membuat kekasihnya tetap tinggal, ia tak masalah bahkan jika harus membuang semua harga dirinya.

Sakura bimbang, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Gadis itu tidak tega meninggalkan Sasuke sendiri, haruskah ia mempertahankan Sasuke lagi? Bisakah Sakura percaya pada lelaki itu kali ini? Namun, bayangan Kakashi yang menatapnya terluka membuat gadis itu kembali yakin pada keputusannya kali ini, ia harus meninggalkan Sasuke, sekarang atau tidak sama sekali.

"Gomen ne, Sasuke-kun, aku−tidak bisa" Sakura berbalik dan mengambil kopernya dengan tergesa, gadis itu bahkan sudah melupakan tumpukan baju yang belum seluruhnya ia masukan dalam koper.

Gadis menuruni anak tangga dengan tergesa, ia tidak ingin Sasuke menanyakan kemana ia akan pergi.

"Sakura!" Sasuke berteriak sekuat tenaganya, dengan harapan kekasihnya itu akan mendengar dan berbalik kembali padanya.

Tubuh Sasuke lunglai seketika, ia tidak menyangka akan ada saat dimana Sakura akan pergi meninggalkannya, selama ini ia berpikir bahwa kekasihnya itu teramat sangat mencintainya, hingga takkan pernah meninggalkannya apa pun yang terjadi. Namun, ternyata kesalahannya teramat besar hingga orang sesabar Sakura pergi meninggalkannya demi lelaki lain. Ia tidak menyangka rasanya akan sesakit ini. Apakah sudah terlambat untuknya berubah dan meminta Sakura kembali?

T.B.C

A/N :

Baiklah aku ngaku salah telah menelantarkan fic ini, sampai baru sekarang bisa update dan mungkin ini sangat jauh dari harapan #siapajugayangnanya

Terima kasih buat adekku (Cadis E Raizel) yang selama ini mendampingi kakak yang lebay ini#ngelapingus

Dan, buat imoutoku (Miss Hyuuga Hatake) katanya mau discus? Kok gak bbm nee-chan sih? Nee-chan udah nungguin sampe ngiler tau #Hoek #guling2

Cadis E Raizel :

Aku tak mungkin meninggalkan wanita yg mencintaiku demi gadis yg mengabaikanku...
ITU APA WOIIII! TEGA SEKALI KAU HANCURKAN HATI ADEK BANG!
Apa itu scene yg kakak fikirkan sejak semalam... Tak cukupkah air mataku terkuras habis dengan cerita angsty sejak semalam (yg sialan bikin ketagihan).
TAPI KENAPA MALAH JADI BAPEER GINI /ngais tanah!
Oh, akan kutunggu lanjutannya lagi, sedang aku menangis dulu. Hiks..hikss..hikss.
NEXT KILAT AND GANBARIMASHOUU

Itu bukan apa-apa, hanya ungkapan kekecewaan Kakashi

Gomen sudah menghancurkan hati adek yang rapuh #lebay

Bukan itu scene yang aku pikirkan semalem suntuk sampe guling2 #apalagiini

Mungkin belum cukup :P

Udah berapa banyak tanah yang kamu kais dek :P

Ini udah dilanjut ya, semoga tidak mengecewakan, walaupun aku merasa sangat jauh dari kata pantas #nangisguling2

Nadia kara annabele :

Senpai saya mau nanya sebenar'nya pair fanfic ini KakaSaku atau SasuSaku, saya merasa sakura terlalu labil dalam perasaan'nya dan tidak menghargai perasaan Kakashi...saya harap kedepan'nya Sakura bisa menentukan secara pasti perasaan'nya dan yang paling penting gimana akhir dari chapter ini Happy ending atau Sad ending

Kakasaku #nunjuk ke atas

Kalau Saku gak labil gak ada konfliknya dong dan mungkin fic ini udah end dari jauh2 hari..

Apakah sudah terlihat di chapter ini?

Happy ending kok, soalnya aku penganut aliran happy ending

PHI hatake :

sakuuu...knp egois bnget mo 22-nya(mintadichidoriapa)...msa udah gede msih labil(klo g slh udah jd dokterkan?) ...noh ambil aja sasu bngkus trus bwa kakashinya bwat phi aja dr pd tersiksa mlu kan kasian iyakan,,,iyakan,,,,...#kedipkedipmodusinauthor# semangat trus y thor update kilat...

Dia gak egois kok, cuma galau aja menentukan perasaannya, huhuhu

Wajarkan kalo labil, semua umur ada kok sisi kelabilannya...

Gak dong, Kashi buat aku :P

Gomen gak bisa kilat, dan gomen ficnya masih jauh dari kata pantas..

Sup Miso :

Aduh knp Sakura gitu sih... bkin gregetan aja. Hufftt... ttp aja aku gk tega liat Saki sedih. Masa Sakura dbkn mnderira sih author T-T *peluk sakura

Saku lagi galau mungkin?

Menderita mana? Saku apa Kashi? Hayo#ngedip2

Miss Hyuuga Hatake :

Duh, gomen baru review nee m(_ _)m dan menurutku chap ini makin greget, penulisannya juga udah bagus menurutku, walopun ada beberapa typo di tanda baca :v ntar kita discuss aja kek biasa nee XD

dan... WHAT THE WHAT, KENAPA SAKU NYEBELIN BANGET DI SINI? KENAPA DIA NINGGALIN KASHI DEMI SASU SIH? APA KURANGNYA KASHI? /capslock jebol/ XD ah, mungkin memang kashi kurang berjodoh sama saku ')

Ya gpp kok, imouto, terima kasih pujiannya

Apanya yang discus, kamu aja gak bbm nee-chan

Sabar, sabar, dia kan lagi labil imouto, kurangnya? Gak tau aku juga kurang apaan

Harus jodoh dong

Miss Hyuuga Hatake :

Sas, lu jahat banget sih ama Saku? Saku juga kenapa balik ke Sasu? Kenapa nggak Kashi aja? Heuheuheu

Pukpukpuk

Sabar, imouto, ini udah sadar kok

Miss Hyuuga Hatake :

Rasanya aku nggak terima Kashi digituin, serius ') kenapa cowok seganteng Kashi harus tersiksa sih? Kenapa, Ya Tuhan? T_T
Kashi mending sama dedek aja sini daripada sakit hati mulu /dibuang/ :v

Sabar ya, ini demi kepentingan cerita nee-chan, pisss ^^V

Itu udah ada Karin yang siap mengobati luka hati Kashi

Oh ayolah imouto, Kashi udah lama gak ke rumah nee-chan nih, jadi dari pada ke kamu, mending Kashi yang gantengnya cetar membahana ke rumah nee-chan aja #ngedipinmatakeKashi

Miss Hyuuga Hatake :

Duh, chap ini bikin baper ') Saku kapan mata hatinya dibuka, sih? /apaandeh/ Kashi juga, mending sama aku aja sini /plak/ XD
ditunggu chap selanjutnya nee XD

Masa sih bikin baper?

Ini hati Saku udah terbuka

Di bilang kashi sama nee-chan aja, masih aja modus kamu tuh!

Ya, ini udah up, semoga tidak terlalu mengecewakan

Btw, Imouto, kamu ngapain review sebanyak ini coba? #mikir