Previous on…
"hei, kau ingin tahu sebuah rahasia?" kata Sakon akhirnya memecah keheningan diantara kami.
"tentang?"
"tentang aku dan Sasuke yang melibatkanmu."
"ha? Apa? Beri tahu aku!"
"Sasuke pernah menyukaimu."
"HA?"
.
.
Menangislah Untuk Tersenyum
.
.
Intermesso …
.
"Yang itu.."
Angin berhembus hampir setiap saat di ketinggian ini. Aroma mekar bunga sakura masih tercium meski april telah berakhir. Awal tahun pelajaran telah dimulai. Seragam SMA masih tercium bau toko, bau baru yang khas.
"Matamu tidak buta 'kan, Sas?" Sakon turun melompat dari pilar bangunan, ke sisi Sasuke. Lalu melompat lagi ke atas tembok pembatas, ikut mengamati apa yang diamati oleh Sasuke dari atas gedung parkir setengah jadi ini.
Sasuke berdecak tanpa arti. "ada yang salah ya dengan anak itu?"
"emm… tidak juga. Hanya saja dia berkacamata."
"lalu? dia yang mengobatiku waktu itu 'kan?"
"ha? Kapan?"
Sasuke tidak menjawab. Matanya sibuk mengamati setiap gerak sosok mungil di bawah sana. Di mata Sasuke, semua gerakan yang dibuat sosok di bawah sana selalu terlihat lucu. Bagaimana anak itu berjalan, menoleh, melambai dan tersenyum. Lebih dari itu, Sasuke suka rambut merahnya yang tergerai cantik.
.
.
.
Clack.. clack.. clack.. tetes demi tetes air turun dari ujung rambut. Akibatnya, keramik UKS jadi basah dan kotor oleh tanah yang berubah menjadi lumpur. Bau amis telur tercium dimana-mana. Terik matahari yang berhasil menerobos jendela dan jatuh tepat di kepalanya membuat suasana semakin menjadi gila. Karin tetap berdiri dengan kepala menunduk, mengabaikan hawa panas musim panas. Kedua tangannya mengepal menahan emosi.
"sudah… kau bilang : tidak apa-apa 'kan?" kata Sai enteng sembari mengacak-acak lembut rambut Karin dengan handuk UKS.
Karin tidak menjawab. Bukan tak tahu jawaban, tetapi kini dirinya sedang berusaha menahan luapan emosi. Jika memaksakan diri untuk berkata-kata, mungkin dia akan meledak dalam tangis. Dia tak mau menunjukkan wajah menangis terus menerus di hadapan Sai, seorang kakak kelas yang mencintainya.
"Kenapa aku tak boleh menegur dia?" kata Sai lagi, pergerakan tangannya berhenti. Sai tidak berusaha mengelap tangannya yang kini kotor dan berbau amis dari sisa pecahan telur di kepala Karin. Dia malah nampak senang dan terlihat ingin membuat tangannya menjadi lebih kotor lagi.
"..unn.. betsu ni.."
"kenapa?" Tanya Sai sekali lagi dengan penegasan.
Beberapa saat Karin terdiam. Menyadari, dia harus memilah-milah kata yang tepat untuk dilontarkan selanjutnya. Jika salah sedikit saja, mungkin dia akan membuat Sai marah.
"tidak apa-apa, Senpai…" akhirnya kata Karin singkat, sesingkat-singkatnya.
"berapa kali dia melakukan ini padamu?" kini suara Sai terdengar dingin, tidak seperti biasanya.
"tidak sering. Makanya, tidak apa-apa…"
"ini bukan soal kau tidak apa-apa, ini soal TINGKAH DIA PADAMU!" Sai meraung. Membuang handuk di tangannya lalu berlalu pergi meninggalkan ruang UKS.
"Senpai!" Karin menahan tangan Sai. Meremasnya kuat-kuat dan tak mempedulikan jika kukunya melukai tangan Sai.
"..Sakon.. ukh! Sakon.." Karin kesusahan melanjutkan kalimatnya. Emosinya belum stabil. Dirinya sedang terapung-apung antara senang, terharu, dan benci. Sekuat tenaga menahan air mata.
"lepas, aku akan menghajarnya sebelum dia pergi." Nada Sai makin terdengar dingin.
"dia menyukaiku, senpai.." kini Karin tidak bisa bersembunyi lagi, suaranya terdengar serak dan sumbang.
Teg! Satu kalimat itu, sebuah alasan... terdengar tidak masuk akal, namun meyakinkan.. suara lembut Karin yang lemah yang membuatnya menjadi sebuah fakta kuat.
"che! Heh.. hah.. ha-ha-ha Jangan bercanda, Karin! Seseorang yang menyukaimu tidak akan mempermalukanmu di depan umum seperti ini…"
"Sakon punya cara sendiri untuk mengungkapkannya…"
Sai tertegun. Menatap tanpa arti wajah Karin yang tenggelam dalam tundukan kepala. Rambut merah panjangnya nyaris menutupi seluruh bagian wajah dan selewat nampak seperti sodako dengan warna rambut baru.
"bagaimana kau yakin, Karin?" Tanya Sai tidak terlalu peduli. Dia tak menginginkan jawaban. Dia menginginkan kebenaran dalam hati Karin. Sai takut jika hati Karin berpaling dari Sasuke ke seseorang lain, dan seseorang itu bukanlah dirinya… itu akan berarti perjuangannya selama ini hanya sia-sia.
"..Sakon itu.. Sakon itu.."
Sai menunggu dengan sabar. Menghadap ke Karin dan melepas cengkraman anak itu. Dia mulai berfikir seberapa imutnya tindakan Karin. Anak perempuan yang sangat pemalu.
"dia orang baik!" tegas Karin.
Dan Sai mengerti seberapa sulit usaha Karin untuk mengungkapkan kalimat-kalimat pendek yang dirasa Karin itu membuatnya malu. Sai suka bagian itu. Sai suka ketika kedua pipi Karin semu kemerahan. Sai suka cara Karin menyembunyikan semburat merah muda di pipinya. Sai suka semua itu.. semua bagian yang ada pada diri Karin.
Srrashh… jari-jari Sai menyusup diantara helaian rambut Karin. Rambut yang lembab dan tak tercium aroma khas shamponya. Aromanya hilang karena dicuci mati-matian bekas lemparan 4 butir telur mentah. Ulah Sakon.
"itu yang tidak bisa ku mengerti…" kata Sai dengan nada seperti biasa, membuat Karin menaikkan kepalanya, menatap lurus mata Sai. "aku tidak bisa mengerti kenapa kau menganggap teman kepada orang yang telah berbuat jahat padamu."
"he… ehe… hehe… karena aku orang bodoh.." jawab Karin enteng. Kemudian dia tersenyum dan membiarkan Sai mengacak-acak rambutnya yang lembab berbau anyir.
.
.
.
Chapter 7
Nara Shikamaru
~Kohan44~
.
.
.
Kendaraan berlalu lalang di luar sana. Sesekali mata Karin beralih dari pemandangan di luar jendela kafe ke jam tangannya. Detik demi detik berlalu. Jarum pendek nyaris mendekati angka tiga, dan itu semakin mendekatkan Karin pada kepanikan. Kepalanya berputar-putar antara pemandangan luar, jam tangan dan meja seberang, meja dimana Sakon dan menejernya berada.
"geez…" ini yang entah ke berapa kalinya Karin menggeram kesal menunggu Sakon selesai berdebat dengan menejernya.
Setelah Karin setuju dengan ajakan Sakon di ruang parkir untuk mengobrol dan minum kopi sambil membicarakan rahasia antara Sasuke – Sakon, Si Tuan Charming itu malah bertemu menejernya di kafe. Pertemuan itu berakhir dengan teguran dan perdebatan soal schedule Sakon hari kemarin dan hari ini yang terganggu. Menejernya itu persis sekali dengan Shikamaru yang suka marah-marah jika sudah menyangkut rapat percetakan buku. Oh, ngomong-ngomong soal Shikamaru, Karin jadi sedikit was-was. Walaupun Karin terlihat cuek dan kurang peduli dengan tugasnya, sebenarnya ada perasaan takut yang disembunyikan, takut dipecat. Karin tak tahu pekerjaan apa yang harus dia cari selanjutnya jika Shikamaru memecatnya.
Dua menit berlalu dari sejak terakhir kali Karin melirik jam. Ini tidak bisa ditoleransi. Seberapa besar rasa penasarannya terhadap rahasia, tetap rasa takut dipecat yang paling besar. Akhirnya Karin membenarkan syal lalu beringsut pergi dari tempat duduk. Tak menghiraukan Sakon, ia berjalan lurus menuju pintu keluar, menerobos angin musim dingin. Berlari-lari kecil menuju terowongan stasiun kereta api.
Setelah membeli tiket, Karin menunggu kedatangan kereta dengan rajin sambil menggenggam cemas ponselnya. Dari semenjak tiba di ruang parkir apartemen Sakon, Shikamaru tidak menghubunginya. Mungkin ini pertanda buruk. Biasanya, Shikamaru minimalnya akan memberikan sebuah pesan teks tentang ancaman jika Karin terlambat dua detik saja.
Tepat diantara kecemasan dan kebimbangan untuk menelepon Shikamaru, kereta tiba di hadapan Karin. Karin segera memasukkan kembali ponselnya dan melupakan kecemasan untuk sementara waktu.
.
.
Nara Shikamaru berdecak kesal ketika tak menemukan warna merah yang selalu menjadi target bentakannya. Dua hari tanpa si rambut merah, itu hampir sama seperti dua hari menahan emosi. Entah sejak kapan, tetapi keberadaan Karin begitu mempengaruhi gejolak emosinya. Bagaimana dia bisa lebih lega jika ada Karin, dan dia akan lebih uring-uringan jika Karin tak ada.
Jam menunjukkan 01.56 siang. Sejauh ini, Karin tidak menunjukkan tanda-tanda keberadaannya. Detik selanjutnya, Shikamaru merasa dirinya bodoh karena telah memberikan izin cuti sampai jam 3 nanti. Perizinan yang memang bodoh. Cuti kok cuma beberapa jam? Untung saja kemarin malam dia bertemu dengan Karin di pinggir jalan. Walau pun itu hanya kejadian yang tidak disengaja. Lebih ke semacam takdir, mungkin, dan entah 'untung' untuk apa tadi malam Shika bertemua Karin.
Beberapa telepon berdering. Volumenya ada yang besar dan kecil, tergantung dari jarak telepon itu ke Shikamaru. Hampir semua telepon berdering bergantian. Mengusik pikiran Shikamaru yang semberawut. Belum lalu lalang orang-orang kantor. Shikamaru tak habis pikir, apa saja yang dilakukan mereka sampai harus bolak-balik melewati mejanya? Itu makin membuat matanya pusing.
Kembali dia berusaha focus terhadap pekerjaan. Menyunting storyboards yang sudah diberi perubahan oleh bawahannya. Ada kerutan di kening Shikamaru, juga ada keringat. Bukan kerutan dan air keringat biasa.
"GAH!" Shikamaru berseru frustasi sembari melempar lembar naskah cerita ke atas meja. Beberapa kali dia berputar di kursi sambil memijit ringan keningnya. Kembali tangannya meraih ponsel dekat cangkir kopi. Melihat layar ponsel tersebut dan tak menemukan apa-apa selain gambar seorang bocah 4 tahun dengan rambut blonde pendek. Shikamaru menaruhnya kembali. Menunggu jam 3 tiba itu lebih lama dari yang ia bayangkan. Lebih lama dari menunggu kelahiran seorang anak.
Shikamaru beringsut dari kursi, bergegas keluar kantor setelah mengambil mantel, mengacuhkan tatapan curiga dari bawahannya. Ia tak peduli jika dirinya dinilai buruk oleh bawahan, selama atasan Shikamaru menganggapnya baik-baik saja, semuanya tidak menjadi masalah.
Di pinggir kedai dekat persimpangan jalan, seorang wanita muda dengan 4 kunciran unik berdiri manis. Wajahnya tidak nampak kesal saat menunggu. Mungkin itu karena yang ditunggu adalah sesuatu yang istimewa. Shikamaru tergopoh-gopoh menghampiri wanita muda tersebut.
"Sudah lama menunggu?" kata Shikamaru dengan nafas sedikit tersengal-sengal. Si Wanita Muda menggeleng singkat seraya mengajak masuk ke dalam kedai.
"Maaf jika kau menunggu lama di cuaca seperti ini." Kata Shikamaru lagi.
"Apa kau tidak melihat gelenganku barusan?"
Shikamaru tak menjawab dan malah duduk manis di salah satu bangku sebelum bangku tersebut diisi oleh seseorang lain. Beberapa saat Shikamaru mengacuhkan wanita di sebelahnya dan sibuk memilih menu yang disediakan kedai. Wanita yang di sebelahnya pun nampak tak begitu mempermasalahkan. Sepertinya, ini hal yang sering terjadi pada si Wanita. Maka, Si Wanita pun ikut memilih menu.
"Ehm," si Wanita mendehem pendek. Bukan karena ada sesuatu di tenggorokannya atau dia sedang terkena flu-batuk, melainkan untuk meluruskan inti pertemuan ini.
"Oh, bagaimana kabar Mahiru?" kata Shikamaru akhirnya, membicarakan perempuan lain.
"dia baik-baik saja. Mungkin tahun depan aku akan memasukkannya ke TK." Jawab Si Wanita dengan kepala tak berhenti bergerak antara mengangguk, berputar ke kiri dan kanan. Entah canggung atau meresa kedinginan.
"kau tidak meninggalkan dia sendirian di rumah 'kan?"
"tidak! Tentu saja tidak! Di rumah ada temanku yang menjaganya. Aku tidak mungkin membawa Mahiru di cuaca sedingin ini."
"un.. benar, sepertinya salju akan turun hari ini."
Keheningan mengisi kembali. Shikamaru tak nampak canggung sama sekali. Berbeda dengan wanita di sebelahnya. Wanita yang dulu pernah menjadi istri Shikamaru dan memberikan seorang anak perempuan bernama Mahiru.
"kau yakin akan memberikan Mahiru pada ku?" kata Shikamaru.
"kenapa? Kau ayahnya 'kan?"
Beberapa saat Shikamaru diam, memberikan sedikit jeda. "maksudku, kau tau kan.. pekerjaan dan sikap malasku?"
"menurutku, kau bukan tipikal ayah yang akan menelantarkan anaknya hanya karena pekerjaan. Apalagi malas.."
"che! Khekhe.." Shikamaru terkekeh singkat. "kau masih mempercayaiku walaupun kita sudah setahun bercerai?"
"itu tidak merubah fakta tentang kau adalah ayah dari Nara Mahiru."
Shikamaru tersenyum singkat dan tidak memberikan jawaban apa-apa lagi. Dari awal, ketika mantan istrinya, atau kita sebut saja Temari, meminta Shikamaru untuk merawat anak mereka, Shikamaru langsung menjawab 'ya' tanpa banyak keraguan. Bukan tanpa alasan kenapa Temari mempercayakan Mahiru pada Shikamaru, dan begitu juga sebaliknya. Shikamaru punya perhitungan sendiri saat mengambil keputusan.
"kenapa kau tidak mencari ayah baru untuk Mahiru? Yaa.. setidaknya Mahiru tidak kehilangan sosok ayah."
"bagaimana pun juga, ayahnya kan kau.."
"maksudmu, kau ingin membuang Mahiru padaku, begitu?"
"untuk apa aku membuang anakku sendiri? Aku sedang sibuk mengurusi kuliyah dan kerja part time. Jika kau butuh uang untuk keperluan Mahiru, bilang saja padaku." Temari memberikan alasan setengah berbohong.
Shikamaru tidak menjawab lagi, cukup tersenyum. Di saat itulah pesanan siap, dan tanpa berkata-kata, hanya membisikan "itadakimasu.." dalam volume kecil, mereka berdua mulai menyantap hidangan. Membiarkan topik pembicaraan tertunda sedikit lebih lama.
"ku dengar, kau sedang dekat dengan salah satu bawahanmu." Temari kembali membuka forum pembicaraan.
"ada masalah?"
Temari menggeleng pendek. "Jika kau akan menikah dengannya, pastikan dia akan berlaku baik pada Mahiru." Katanya kalem tanpa lepas dari sumpit dan hidangan.
Shikamaru terbatuk-batuk tersendat makanan. "kau benar-benar ingin membuang Mahiru?" kata Shikamaru cepat-cepat, merasa tidak percaya pada mantan istrinya ini.
"aku tidak berkata begitu." Jawab Temari polos. "aku hanya tidak mau kau lupa pada Mahiru. Tidak apa-apa kau lupa padaku, aku tidak peduli. Tapi jika Mahiru, lain lagi ceritanya.."
"emm…" Shikamaru pura-pura berfikir sambil memain-mainkan sumpitnya. "dia itu.. orang yang kasar. Kurang ramah pada anak-anak, sering melalaikan tugas, dan bukan tipe perempuan yang senang memasak." Jawab Shikamaru asal. Sebenarnya dia tak tahu siapa yang sedang dibicarakannya.
"ha? Kau bermaksud menjelek-jelekkan dia di hadapanku, hah? Calon istrimu yang baru?"
"tidak.. aku hanya mengatakan yang sebenarnya agar kau bisa tahu, dia akan berlaku baik atau tidak pada Mahiru."
"kau tidak ingin merawat Mahiru ya?"
"aku hanya mengatakan apa yang sebenarnya." Shikamaru mengulangi. "Jika dia bukan yang terbaik, aku bisa mencari perempuan lain…"
"bagaimanapun juga, yang terbaik bagi Mahiru adalah aku, ibunya." Jawab Temari enteng, berhasil mengundang tawa tertahan dari Shikamaru. "apa yang kau tertawakan, heh?"
"haha.. maaf, tidak ada.. hanya saja.. bagaimana ya jika kita menjadi suami-istri lagi?"
"aa~" Temari tidak menjawab. Membiarkan suaranya bergelombang dalam kata yang tak jelas. Dia sedang membohongi dirinya sendiri, bertingkah munafik bahwa dia tak menginginkan Shikamaru sebagai pendamping hidupnya lagi. Andai saja yang meminta cerai bukanlah dirinya, dia akan meminta Shikamaru kembali.
"lalu, apa yang membuatmu menyukai perempuan itu, hah?" kata Temari lagi.
"emm.. apa ya?" Shikamaru kembali berpura-pura berfikir. "mungkin karena dia kuat dalam menghadapi tekanan, menyelesaikan apa yang menjadi tugasnya walaupun membutuhkan waktu lama dan nampak tidak akan berhasil sama sekali. Tegas, berani bertanggung jawab, dan… cuek."
"kau tidak sedang mengarang sifat seseorang 'kan?"
"tidak. Memangnya terdengar begitu ya?"
"aku pikir satu-satunya alasan logis adalah seperti… umm.. karena dia itu cantik dan muda."
"hahha" Tawa Shikamaru meledak. "apa kau merasa cantik?"
"e?" beberapa saat Temari tertegun, mencerna pertanyaan Shikamaru. Begitu sadar, dirinya sontak menyikut pinggang Shikamaru. "tentu saja aku cantik! Makanya kau mau menikahiku! Iya 'kan?"
"yaa… jadi, kau tahu jawabannya 'kan?" Shikamaru menyimpan sumpitnya. Merapikan diri lalu berkata mantap. "kapan aku bisa mengambil Mahiru?"
"nanti malam, sekitar jam 7."
"emm… baiklah. Aku akan ke rumah untuk menjemput Mahiru. Pastikan dia memakai jaket tebal, oke?" Temari mengangguk enteng. "baiklah, aku pergi duluan.. makanannya biar aku yang bayar. Sampai nanti!"
Begitulah mereka berpisah, perpisahan yang singkat dan tidak terlalu hangat. Tapi, untuk ukuran mantan suami-istri yang cerai karena sebuah masalah, mereka sangat akur dan rukun.
Shikamaru melihat jam tangannya, pukul 15.05. oh, waktu tiba-tiba terasa cepat bergerak. Shikamaru mempercepat langkah, mengabaikan suhu yang semakin rendah. Dia harus cepat-cepat tiba di kantor sebelum seseorang yang berjanji akan berada di kantor pada jam 3 tepat tiba. Bagaimanapun juga, butuh sekurang-kurangnya waktu sepuluh menit dari kedai ke kantor, dan Shikamaru tidak mungkin tiba sebelum 15.10.
Di salah satu persimpangan jalan, di bawah lampu jalan, Shikamaru melihat sosok yang—mungkin— tadi ia bicarakan bersama mantan istrinya, seorang gadis muda berdiri di depan mini market bersama laki-laki seumuran bermotor sport. Hati Shikamaru mencelos ringan, di susul rasa sakit yang seolah-olah tak beralasan. Seluruh tubuh Shikamaru tiba-tiba saja melemas dan tak bergeming.
Melihat bagaimana si gadis itu tersenyum, sangat menjelaskan bahwa laki-laki di hadapannya bukan hanya sekedar seorang lak-laki. Laki-laki itu berkemungkinan adalah kekasihnya. Shikamaru memperhatikan laki-laki yang ada di depan gadis tersebut, lalu berfikir pesimis. Dirinya hanya duda yang kebetulan masih dalam umur muda. Sempat-sempatnya dia berfikir untuk menarik perhatian gadis muda yang begitu polos. Itu nyaris tidak layak bukan?
Beberapa kali Shikamaru menggeleng singkat dan menarik kedua sudut bibirnya. Memulihkan fikiran meski luka dalam hatinya tidak pulih dalam waktu itu juga. Kembali dia berjalan, kali ini dengan tujuan berbeda dengan sebelumnya. Sepasang kaki panjang membawa Nara Shikamaru mendekati gadis tersebut.
.
.
.
Karin turun dari motor sport putih yang tadi malam senantiasa mengantarnya ke tujuan yang sangat jauh. Buru-buru dirinya merapikan diri di depan kaca jendela mini market tanpa peduli beberapa mata yang kebetulan lewat memperhatikannya.
"Kenapa tidak bilang dulu kalau mau pulang? Aku kan bisa mengantarmu dari Ikebukuro." Kata si pengendara motor.
"aku takut mengganggu pembicaraanmu dengan menejer." Jawab Karin tanpa menghentikan aktifitasnya.
Jika Sakon tidak terlihat sangat sibuk seperti saat di kafe tadi, pasti Karin akan meminta Mr Charming tersebut mengantarnya sampai kantor. eh, siapa sangka… Sakon menyusulnya ke stasiun kereta pemberhentian dari Ikebukuro ke Kyoto. Lalu mengantarkan Karin sampai sini.
"oh, jadi kau tidak mau tau soal rahasia aku dan Sasuke ya?"
Tiba-tiba Karin berhenti dari aktifitasnya. Perlahan menoleh ke arah Sakon. Memberikan tatapan lurus tak berarti. "dia hanya masa lalu. Yang harus ku pikirkan sekarang adalah masa depan. Begitu kan?"
Sakon tertawa kecil sembari memainkan helm di tangannya. "Shit! Aku termakan kata-kataku sendiri" gumamnya pelan.
"hahaha" Karin tertawa lantang. "sudahlah… ngomong-ngomong, terimakasih untuk tumpangan singkatnya. Oke, aku pergi dulu!"
"eh, Karin!"
Karin kembali berbalik. Menunggu kalimat selanjutnya dari Sakon.
"Ya? Ada apa lagi?"
"kenapa aku tidak boleh mengantarmu sampai kantor?"
"Karena Isamine Karin sudah terlambat!" jawab suara bass lain. Karin agaknya terkejut begitu seseorang menaruh telapak tangan di atas kepalanya. Begitu pula dengan Sakon. Tentu saja Sakon kaget ketika seseorang yang lebih tua dari Karin tiba-tiba saja bertingkah seolah sangat mengenal Karin.
"Karin, dia ayahmu ya?" Tanya Sakon dengan nada super polos. Tentu saja, nada tersebut mendapat sambutan semburan kesal dari si Pak Tua.
"Enak saja! Kau pikir aku setua apa, HAH?" Raungnya seperti biasa dengan cara khas yang biasa dia lakukan pada Karin.
"e-eh! Tenang, Bos! Tenang! Sstt!" kata Karin, berusaha menenangkan. Buru-buru Karin beranjak mendekati Sakon. Namun, sebelum Karin dapat meraih Sakon, si Pak Tua menarik tangan Karin.
"kau terlambat, Isamine Karin!"
"heii!" Sakon turun dari motor. Dalam gerakan cepat, dia memutus pegangan si Pak Tua.
"aku tidak tahu siapa kau, tapi berhentilah bertindak kasar, Tua!" Sakon maju selangkah di depan Karin, siap berkelahi dengan lawan.
"Cih! Hei, Karin," kata si Pak Tua. "aku tidak tahu siapa anak ini, tapi jika kau belum menyelesaikan tugasmu yang menumpuk, kau akan ku pecat.." ancamnya.
Karin terbelalak lalu buru-buru menunduk dalam. "maaf!" serunya, sementara si Pak Tua berlalu pergi.
"siapa yang tadi itu?" Tanya Sakon.
"Atasanku, BAKA!" Dalam gerakan cepat Karin menjitak kepala Sakon dan berlari menyusul atasannya.
Shikamaru melirik singkat bawahannya yang kini tergesa-gesa mengimbangi langkah-langkah besarnya. Ada perasaan jengkel saat berhadapan dengan anak muda tadi, anak muda yang tak sengaja Shikamaru dengar Karin memanggilnya Sakon. Ini bukan masalah dirinya disebut tua, itu sudah menjadi hal biasa. Ini soal… apa ya tepatnya?
.
.
.
Kecanggungan tercipta. Uchiha Sasuke menjaga tatapan tajamnya secara intens. Tak mengurangi hawa dingin yang ia ciptakan. Kembali sikapnya seperti 6 tahun lalu, sewaktu ia masih SMA. Sementara itu, Naruto tak berusaha berkata-kata, hanya menjaga kepalanya tetap tertunduk.
"Kenapa kau tidak mengatakan soal ini padaku sebelum semua ini terjadi?"
"aku pikir, kau sudah tahu. Kau menyewa FBI kan?" jawab Naruto enteng seraya berdecak melecehkan. Ini memang terdengar konyol 'kan? Menyewa FBI? Apakah itu tidak kekanak-kanakan?
Sasuke mendengus seraya tertawa singkat, lalu menghela nafas berat. "sebenarnya aku tidak pernah menyewa FBI sekali pun. Mereka teman-teman satu gengku sewaktu SMA." Sasuke diam, memberi jeda untuk kalimat selanjutnya. "lagipula, untuk apa aku menyewa FBI? Aku percaya padamu, kau pasti baik-baik saja dan setia menungguku pulang, iya kan?"
Nafas Naruto tercekat. Ia takut hari ini terjadi, ia takut cinta Sasuke menjadi lebih besar. 6 tahun itu waktu yang lama untuk menghilangkan jejak seseorang dalam kehidupanmu. Selama 6 tahun Naruto mengalami banyak pertemuan, mengenal banyak orang yang tak terduga. Bukan tidak mungkin cinta itu bisa hilang. Naruto malah ragu jika Sasuke masih mencintainya sama seperti masa SMA dulu.
Pernyataan gombal jika kau masih mencintai orang yang selama 6 tahun ini tidak pernah kau temui.
.
.
.
Lexicon
Betsu ni : nothing (tidak ada hubungannya denganmu)
.
Terimakasih untuk semua dukungan dan kesetiaan kalian sampai sejauh ini^^
Aku sangat senang, terimakasih… untuk seterusnya, mohon kerja samanya! ^_^
