Regrets

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

Story by Mel

.

Cerita ini diilhami dari banyak kisah sebelumnya, maaf bila banyak kesamaan – mohon tidak di-flame :)

Please enjoy

.

.

Various places, Amsterdam

Mata biru indah itu mengerjap lalu memicing ia tidak suka diperlakukan seperti ini, wajah tampan hanya berjarak beberapa centimeter di depannya sama sekali tidak lagi membuatnya terpesona. Saat ucapan selamat pagi keluar dari bibir lawannya, membuatnya semakin kesal, Ia berusaha bergerak, namun tubuh mungilnya seolah terkunci.

"Apa yang Akashi-kun lakukan? Mengapa aku ada di tempat tidurmu?, singkirkan tanganmu Akashi-kun!" diucapkan dengan ketus setengah sesak. Memang beberapa menit sebelumnya, tubuh Kuroko mulai bergerak pertanda akan bangun, menjadikan tangan itu semakin erat mendekap. Sosok bersurai merah tidak rela kalau akan dijauhi lagi.

"Kau tidak menjawab salamku, Tetsuya!" Iris rubi masih tertutup kelopaknya.

"Akashi-kun!"

"Tenanglah, sepuluh menit lagi, Tetsuya!"

"Kau tinggal pilih Akashi-kun, kotegaeshi, tenchinage atau ignite pass?" Akashi menjawabnya dengan menggumam tidak jelas. 'Apakah yang dua itu teknik dalam aikido? Karena ignite pass adalah cara Tetsuya mengoper bola basket dengan kekuatan telapak tangannya, hee… kau ingin memukulku, melukaiku, Tetsuya, tak apa asal kau tidak pergi dariku.' Lirih batinnya berucap.

Handphone yang ternyata sudah di-charge atas kebaikan hati Akashi berdering pelan. Susah payah ia lepas dari dekapan tangan kokoh itu. "Akashi-kun, tolong menyingkirlah! Aku harus mengangkat telepon!" setengah berseru. Wajah manis itu masih saja datar. Membuat Akashi gemas.

"Selamat pagi senpai, ya...ah pesanmu, maaf tadi malam aku ketiduran, ya...oh..."

Akashi melesakan kepalanya ke bantal yang baru ditinggalkan Kuroko, harum vanila masih tertinggal di sana. "Kau mengesalkan sekali Mayuzumi-saan!" suaranya menggeram teredam bantal yang masih ia hirup wanginya.

"Apa yang kau lakukan dengan pakaianku?!" Matanya horor menatap t-shirt longgar dan celana kebesaran yang dikenakannya. Ia takut Akashi melakukan sesuatu pada dirinya. Ia amati tubuhnya mulai dari kening, disibaknya surai biru hingga bidang datar putih di atas alisnya tampak, pipi, leher, selangka, ia perhatikan pantulan dirinya pada cermin oval setinggi satu meter dengan penyangga berkaki tiga, di samping walk in closet, lalu v neck itu ditarik ia longokkan kepalanya ke dalam, Akashi terkekeh melihat tingkah Kuroko yang kekanakan, jauh dari kesan seorang mahasiswa magister yang sedang menyusun tesis, berusia pertengahan dua puluh.

"Seperti aku tertarik pada tubuhmu saja, harusnya kau berterimakasih karena sudah membantumu menggantikan baju dan meminjamkan bajuku." Wajah rupawan dengan rambut biru mencuat ke sana kemari membuat pemandangan indah di kamar yang sebagian besar bernuansa merah. Ia ingin menarik lengan putih itu dan menghempaskannya berbaring di sampingnya lagi. Lalu kegiatan lainnya sebagai bonus, tapi Akashi cepat menghapus khayalan mesumnya. Ia tidak mungkin memperlakukan sosok kesayangan seperti itu, kecuali mengecupinya tentu saja.

"Aku numpang mandi, Akashi-kun!"

"Mau mandi bersama, Tetsuya?"

Wajahnya mengerut, sebal, tapi tetap saja manis dimata sepasang rubi. "Tidak jadi!" Diambilnya pakaiannya yang terlipat diatas nakas.

"Tetsuya mau kemana? Jangan pergi, hey! kau masih bau!" Tapi Kuroko tak peduli. Ia bergegas meninggalkan apartemen itu. 'Ah Tetsuyaku memang lain dari yang lain, sangat-sangat spesial!' Sesal kembali menyeruak di dadanya. Perih. Aku memang bodoh, telah melepaskannya, menyakitinya, hati yang biasanya lembut sekarang keras, dan sulit untuk ditembus, terlebih kini ada senpai kelabu disisinya. Kepalan tangan beberapa kali menghantam kasur. Aargh…

Jarak apartemen Kuroko memang tidak jauh, karena Akashi sengaja memilih apartemen mewah untuk bisa dekat dengannya, bahkan dari sini ia bisa melihat jendela kamar Tetsuya-nya yang sekarang selalu ditutup gorden, tidak mengijinkan ia mengintip kegiatan si biru langit di tempat paling pribadi itu.

.

"Selamat pagi senpai." Sapanya halus, wajah tampan itu tampak berseri setelah tadi lelah menunggu sosok mungil yang sekarang berdiri disampingnya.

"Selamat pagi Kuroko, bagaimana istirahatmu?" Mata kelabu lebih segar dibandingkan kemarin. Kuroko hanya tersenyum, tidak mungkin ia mengatakan kalau tadi bangun tidur berada di tempat Akashi.

"Bagaimana lukamu senpai, masih sakit kah?" Mayuzumi menggeleng, dan sepertinya obat paling manjur untuknya adalah bertemu dengan sosok yang kini duduk di depannya.

"Senpai, dimana oba-san?"

"Mereka dalam perjalanan dari apartemen ke sini."

"Selamat pagi Chihiro! Eh...Kuroko kau sudah ada disini, dimana Akashi?" Suara Nijimura sesaat setelah pintu terkuak. Kuroko tidak menjawab hanya mengulum senyum.

Tidak sampai lima menit, seorang suster membawakan sarapan, Chihiro mengernyit, tidak suka dengan makanan itu.

"Aku akan menyuapimu, selama tanganmu belum bisa digunakan." Kata Nijimura, ia menerima baki dengan empat hidangan yang berbeda dari suster dengan rambut burgundy sebahu. Tapi Mayuzumi Chihiro menggeleng. "Tidak, aku tidak mau makan!" tangannya menjauhkan baki itu dari depan wajahnya.

"Senpai, harus banyak makan biar cepat sembuh, mau aku yang suapi?" tangan mungil itu mengambil baki dari tangan Nijimura, satu suapan ia sodorkan

"Aaah..." Mayuzumi membuka mulutnya, menguyah perlahan. Hidung mancungnya mengernyit, lidahnya tidak suka dengan rasa makanan yang hambar itu. Tapi ini kesempatan yang langka disuapi pujaan hati.

Satu sendok...

Dua sendok...

Tiga sendok...

Nijimura hanya merutuki adegan di depannya. Matanya mengerling sebal.

"Heeh, hampir habis, mengapa kau mau disuapi Kuroko? Sedang aku kau tolak!" Ada nada tidak suka. Mayuzumi hanya merotasi bola matanya.

"Padahal kita sudah dijodohkan dari kecil, harusnya kau hargai aku." Lirih Nijimura berkata, namun sampai pada dua pasang telinga di ruang rawat itu. Kuroko menoleh, sedang wajah Mayuzumi memerah. Marah! Ia ingin merobek bibir seksi milik Nijimura lalu menendang pria bersurai hitam itu keluar jendela.

"Ooh..." Bisik Kuroko. Entah mengapa hatinya tercubit. Ngilu. Mayuzumi terlihat semakin marah. "Kuroko..." Tapi wajah datar itu berusaha tersenyum. "Ha'i senpai." ia mengangkat sendok, sup dengan sedikit kuah hendak ia suapkan. Berusaha tenang, bukankah ia ingin menjadikan Mayuzumi sebagai nii-sannya saja. Kepala Mayuzumi menggeleng. Manik abu lekat menatap iris biru yang sedikit meredup.

Diam-diam Nijimura mengabari Akashi, mengatakan bahwa Kuroko berada di OLVG Hospital. Akashi janji akan segera ke sana.

Kuroko berusaha sewajar mungkin di depan senpainya. Sampai akhirnya ia merasa waktunya untuk pergi. Ia merasa suasana yang melingkupi ruangan itu tidak lagi nyaman.

"Senpai, aku harus ke museum Van Gogh, ada data yang harus aku ambil dari kurator di sana." Ucapnya sambil beranjak dari kursi yang didudukinya namun secepat itu tangan kanan Mayuzumi meraih tangan kecil Kuroko, mencegah ia pergi. Mayuzumi mengerang merasakan tarikan pada bahu kanannya yang terluka. "Senpai, jangan memaksakan diri!" Kuroko khawatir.

"Jangan pergi!" cegahnya. Tapi dengan alasan bahwa ia harus menyelesaikan tesisnya, ia pun pamit. Wajah Mayuzumi sulit diartikan. Mata kelabu itu terluka.

"Hiro, kau kenapa, nak?" sapa bundanya beberapa saat setelah Kuroko pergi, wanita itu mengusap pipi berahang tegas itu. Wajah bungsu Mayuzumi terlihat sendu.

"Shuuzou, apa yang terjadi?" Suara kakaknya meninggi, mata kelabu yang lebih tua memicing. Bagaimana pun Chihiro sudah dewasa tapi untuk ibunya ia tetaplah kesayangannya, dan untuk Hikaru tetap adik kecilnya. Pria bersurai hitam itu menggeleng. Dia bingung akan bicara apa pada mereka. Ia tahu Chihiro tidak pernah mencintainya dan Kuroko Tetsuya sekarang adalah sosok yang menjadi penghambatnya.

.

Dengan menggunakan bis dari halte di depan OLVG selama dua puluh menit, pria mungil itu sampai di dekat museum Van Gogh, menyusur jalan kecil yang terbentang lurus membelah halaman berumput, langkahnya mengarah pada bangunan berbentuk lingkaran, setengahnya dari tembok dengan tekstur berkotak-kotak berwarna abu tua, dan dinding setengah lingkarannya lagi disusun dari kaca bening, sehingga obyek yang ada di dalam sana terlihat jelas. Kompleks museum ini cukup luas, di belakang gedung bulat tersebut terdapat bangunan dengan arsitektur serupa kotak dan kubus. Di depannya tampak taman bunga, yang kesemuanya bunga matahari yang sedang mekar.

Karya Vincent Van Gogh terpajang dengan anggun pada dindingnya. Mata dimanjakan dengan warna cerah pada setiap lukisan yang didominasi warna kuning dan biru.

Pelukis pasca imperialis ini sepertinya senang melukis manusia dan bunga, terutama bunga matahari.

Kuroko melewati museum shop yang menawarkan banyak merchandise.

Setelah urusannya beres dengan kurator di ruang kerjanya yang berada di gedung berbentuk kubus, ia melangkahkan kakinya ke gedung bundar, duduk pada bangku yang disediakan. Menatap satu persatu lukisan yang terpajang. Saat ini ia ingin sendiri, berjalan kemana kakinya melangkah.

Kuroko melanjutkan langkahnya, tak jauh dari sana tampak Rijksmuseum, di halaman depan berumput terdapat tulisan berukuran besar I amsterdam, huruf I am berwarna merah, sedangkan huruf sterdam berwarna putih. Para turis selalu menyempatkan diri berfoto di sana.

Penampakan gedung yang saling bertolak belakang, bangunan museum Van Gogh sangat futuristik, sedang Rijksmuseum terlihat sangat klasik seperti gedung abad pertengahan pada umumnya. Ia ingat pertama kali ke museum itu dengan senpainya, mengambil gambar lukisan yang dipajang untuk tugasnya. Diam-diam Kuroko mengambil gambar senpainya yang tengah menatap lukisan dengan serius, dengan angle yang membuat sosok tinggi itu terlihat bertabur cahaya dari lampu sorot yang banyak dipasang pada plafon. Ia menggigit bibir bawahnya.

Lalu café teras itu, Ia mengambil satu meja untuknya sendiri. Sama seperti waktu itu. Seorang pelayan mendatanginya, menyodorkan menu. Tak lama pilihannya diantarkan.

Ia menyesal baru mengetahui senpai kesayangannya telah di jodohkan. Perhatian tulus dan pengorbanan yang diberikan Mayuzumi setidaknya membuat hatinya hangat. Sedikit berharap. Salah Kuroko sendiri tidak menyelidiki statusnya, rasa sesal lebih dalam lagi karena membiarkan satu rasa berkembang dalam diri senpainya.

'Maafkan aku senpai' batinnya sendu. Namun sekarang semuanya seperti berguguran. Seperti kelopak merah muda bunga sakura yang tertiup angin, terbang entah kemana. Menyisakan kekosongan yang menyesakkan. Menyesal tidak menjaga hatinya. Sedikit banyak dia pun jatuh hati pada senpainya. Kembali ia menggigit bibir bawahnya.

Teleponnya berdering pelan. Sebuah nomor tidak dikenal tertera pada layar handphone-nya. Ia biarkan terus berdering, tidak tertarik untuk mengangkatnya. Tapi karena terus menerus berbunyi, akhirnya ibu jarinya mengusap ikon telepon berwarna hijau.

"Moshi-moshi..."

"Tetusya, dimana sekarang?" suara bariton itu langsung masuk ke gendang telinganya.

"Akashi-kun, ada apa?"

"Katakan saja Tetsuya, dimana kau sekarang!" suara tegas kembali bertanya. Belum sempat Kuroko menjawab, mata biru indah itu menangkap sosok bersurai crimson tengah mendekat. Ia menghela nafas.

"Akashi-kun." Saat ia duduk di depannya. Akashi tahu wajah datar itu menyimpan sesuatu. Ia tatap lekat.

"Apa ada sesuatu di wajahku, Akashi-kun?"

"Hmm sepertinya aku lihat seseorang sedang patah hati." Godanya.

"Tidak lucu Akashi-kun! Sok tahu sekali." Ujar Kuroko.

.

Tadi saat Akashi baru selesai mandi handphonenya berdering, Nijimura Shuuzou menghubunginya, keningnya berkerut, tambah berkerut lagi setelah mendengar apa yang dikatakan senpainya saat di sekolah dulu.

"Aku ingin kita saling bantu membantu, Akashi!" Ucap Nijimura. Akashi menyeringai. Ia senang ada jalan yang akan memuluskan rencananya untuk mendekati dan mendapatkan hati Tetsuya-nya kembali.

Dari Nijimura, Akashi tahu bahwa dua keluarga telah sepakat untuk menjodohkan Shuuzou dan Chihiro sewaktu mereka kecil. Entah apa alasannya.

Kuroko yang menurut keduanya patah hati pasti akan mudah untuk didekati.

Akashi duduk di depan pria mungil yang menyibukkan diri dengan laptop silvernya. Segelas vanilla shake menguarkan harum, bercampur dengan harum kayu manis dari sepotong ombitjkoek diatas piring porselen putih masih utuh belum tersentuh.

Akashi menatap wajah rupawan yang kini menggunakan kacamata minus, serius menatap layar tipis empat belas inci. Lalu jemarinya menari pada keyboard. Ia harus segera menyelesaikan bab empat, pembahasan panjang yang didukung data dan teori, sementara bab kelima sudah bisa ia simpulkan. Telaah mendalam membuat tesisnya berhalaman sangat tebal. Belum lagi dukungan gambar dan data, serta hasil observasi, juga wawancara dari para informan yang ia pilih untuk mendukung penelitiannya, dengan triangulasi agar mendapat hasil yang valid.

"Good job, Tetsuya, your research is very comprehensive!" puji promotornya, Professor Muellen, Ph.D. saat bimbingan terakhir, tinggal melengkapi dan membuat kesimpulan.

Kuroko bertekad ingin segera menyelesaikan studinya, lalu pulang, niat untuk melanjutkan pendidikan di progam doctoral ia tunda dulu, atau mungkin akan ditempuh di tempat lain.

Kuroko sibuk dengan dunianya sendiri, mengabaikan sosok yang ada didepannya, seluruh atensi hanya pada isi tesis.

"Tetsuya!" suara sedikit nyaring, karena merasa diabaikan, dengan enggan bola matanya bergulir, menatap si pemanggil nama. Seolah bertanya 'ada apa Akashi-kun?'

"Sudah tengah hari apa Tetsuya tidak lapar?" ia menjawab dengan gelengan, lalu melirik ombitjkoek. "Aku rasa kue itu cukup untuk makan siangku." Matanya kembali ke layar.

"Tetsuya, bahkan kue itu belum mengisi perutmu." Ada nada khawatir pada kalimat Akashi. Tarikan bibir sewarna coral membentuk garis. Dering pelan teleponnya mengalihkan perhatiannya.

"Ya, senpai?" ia beranjak menjauhi meja dan Akashi yang meliriknya dengan tidak senang. Rongga mulutnya menggeram 'lagi lagi dia' rutuknya. Kuroko bersandar pada tiang lampu di tepi trotoar. Alat komunikasi menempel ditelinganya, terkadang ia tampak mengangguk, tangan kirinya bersidekap di dada. Akashi melihatnya dari kejauhan. Ia ingin sekali merebut handphone itu lalu melemparnya agar Kuroko tidak lagi dihubungi Mayuzumi.

'Apa yang harus aku lakukan, Tetsuya?' lirih batinnya berkata, matanya tak lepas dari sosok mungil itu. Sesaat kemudian ia kembali ke tempat duduknya.

"Apa ada sesuatu yang terjadi, Tetsuya?" yang ditanya hanya menggeleng. "Senpai hanya memintaku bertemu setelah pekerjaanku selesai." Ucapnya datar. Kembali rasa sebal merasuki hati Akashi.

"Akashi-kun, tiba-tiba saja aku merasa lapar, aku ingin makan yang lebih berat dari itu." Jarinya menunjuk pada kue berwarna coklat dengan wangi kayu manis. Mata beriris runcing mengerjap, tanpa berpikir ia mengangguk.

"Baiklah, kau mau makan apa, Tetsuya?" binar pada mata merahnya tampak menyala. Pria mungil itu sedikit memiringkan kepalanya, "Entahlah, tapi saat ini aku ingin makan onigiri." Dua kedipan dari mata rubi itu, berpikir, ia ingin memberikan sesuatu yang terbaik untuk Tetsuyanya. Beberapa pilihan mampir di otak pintarnya, satu resto menjadi pilihan terbaik.

Banyak restoran Jepang yang ada di Amsterdam yang Kuroko tahu. Tapi pada saat Akashi membawanya ke tempat ini, mata biru langitnya terkagum-kagum. Hosokawa kitchen and bar, adalah sebuah tempat yang nyaman, hampir di semua sudut tampak elegan, merupakan perbaduan restoran Jepang dengan bar. Pemiliknya seorang chef kenamaan dari Jepang, Hiromichi Hosokawa.

Keduanya disambut penuh hormat, apalagi pada sosok pria berambut crimson. Mereka tahu siapa Akashi Seijuurou, dilayani bak seorang anggota monarki Jepang, dengan memilihkannya meja terbaik. Pelayan menawarkan beberapa pilihan minuman mahal beralkohol, tapi kesemuanya ditolak.

"Akashi-kun, tidak apa kalau kau mau." Bibir pria berambut merah itu tersenyum, bukan senyum bisnis.

"Kalau Tetsuya tidak minum, maka aku pun tidak." Ujarnya.

Setelah memesan, berbagai macam makanan tersaji. Binar pada biru langit tampak nyata, dan itu membuat Akashi benar-benar senang. Ia mampu membuat mata itu bersinar, senyumnya dikulum.

"Ithadakimassu…" ucap keduanya sesaat sebelum melahap hidangan yang disajikan.

"Hmm…ini enak sekali…" matanya terpejam membentuk bulan sabit kembar, bibirnya tersenyum walau tipis. Membuat Akashi terpana melihatnya.

Akashi memancing agar si biru muda mau bercerita banyak, terutama tentang tesisnya, dulu, kalau Kuroko bicara tentang seni ia akan mengubah ke topik yang lain. Tapi tidak dengan sekarang, tidak dengan hari ini, ia begitu menikmati perbincangan dengan Tetsuya-nya.

Ia seperti ditarik pada dunia yang dijalani Kuroko, segala macam tentang seni dan sastra. Ia sangat menyukainya sekarang. Jeda sejenak. Sepertinya Kuroko menyadari sesuatu. "Bukankah Akashi-kun tidak menyukai bidangku, maaf aku sudah terlalu banyak bicara." Akashi gelagapan. "Tidak, kau salah Tetsuya, waktu itu…waktu itu aku hanya merasa kau lebih mempedulikan seni yang tidak aku mengerti, daripada aku." Jawabnya jujur. Kedua alis mata Kuroko terangkat. "Tapi setelah tahu, ternyata itu sangat menyenangkan." ucapnya serius, dan dari semua itu, saat melihat Kuroko Tetsuya menikmati dunianya menjadikan ia berlipat kali lebih indah. Ekspresinya nyata.

"Apa yang Tetsuya pikirkan?" mata rubi seolah menyelidik, ia mungkin tengah memikirkan senpainya. Sudut bibir sewarna coral terangkat sedikit pada ujungnya.

"Aku akan pulang Akashi-kun." Mata rubi memicing, tiba-tiba saja otaknya loading lambat. "Maksudmu?" tanyanya. "Tesisku hanya tinggal finishing, aku akan mengerjakannya di rumah, pada saat sidang nanti aku akan kembali ke Leiden." Tiba-tiba Akashi merasa seperti akan ditinggalkan lagi.

"Bukankah lebih baik menyelesaikan tesismu di sini, lalu sidang, terus wisuda. Saat pulang sudah semuanya beres." Ia jelas tidak mau ditinggalkan, akan sepi di Belanda tanpa Tetsuya.

"Aku sudah rindu okaa-san, tou-san, obaa-san, juga Nigou." Seulas senyum terpahat di wajah datarnya.

"Tetsuya, apa kau menghindari senpaimu?" selidik Akashi. Mata sewarna langit mengerjap. Ia menyembunyikan wajahnya dengan surai birunya, menundukkan kepala, menata hatinya.

"Aku tidak mau jadi orang ketiga, Akashi-kun." diiringi helaan nafas. "Ya, aku rasa Mayuzumi-san akan baik-baik saja, Nijimura senpai pasti akan menjaganya." Ucap Akashi, Kuroko mengangguk setuju.

.

Hari itu Kuroko diantar Akashi ke bandara Schiphol, baru saja ia menjejakkan kakinya di pelataran, lengannya ditarik seseorang. "Mayuzumi senpai!" tubuh mungilnya dipeluk erat, tak ingin melepaskannya. "Jangan pergi, Kuroko, tinggallah lebih lama!" bisiknya. Bahunya yang masih dalam proses penyembuhan berdenyut, tapi tidak ia pedulikan. Ia kecupi puncak kepala biru muda itu.

Akashi dan Nijimura menyaksikan semuanya hanya bisa diam, bagaimana pun mereka menaruh simpati pada pria bersurai kelabu.

"Senpai, kau harus lebih menjaga Mayuzumi-san. Kau harus bisa menghapus Tetsuya dari pikirannya." Bisik Akashi.

"Lalu bagaimana denganmu?" balas Nijimura. Akashi tersenyum, "Aku akan selalu ada untuk Tetsuya, senpai, setidaknya sekarang aku akan menyelesaikan kuliahku dulu di sini." Kening Nijimura bergelombang.

"Apa dia sudah menerimamu lagi, hnn?" kejarnya. Bibir Akashi menyeringai.

"Aku akan membuat kesempatan itu dengan caraku sendiri." Ujarnya percaya diri.

Hari itu Kuroko Tetsuya kembali ke tanah kelahirannya. Ia hanya berharap semuanya akan baik-baik saja.

.

.

fin or tbc ?

.

.


Note:

Finish or to be continue ya reader tachi ?

Terimakasih sudah bersedia meluangkan waktu untuk membaca, follow, favorit, dan memberikan review.

Luv yu all…

Mel~

Happy akakuro week