Another Love Story about Kyumin….
~Song For You~
.
.
.
Author :
ISungyi a.k.a billy quint
Cast :
Lee Sungmin
Cho Kyuhyun
Kim Jungmo
Lee Donghae
Kim Ryeowook
Eric Moon
Masih banyak cast lain nanti
Genre :
Drama, Romance
Rated : T
Warning :
Genderswitch
TYPO(S)
.
.
.
*Chapter 7*
Kyuhyun hanya bisa menundukkan kepalanya di depan meja makan besar yang ada di dalam mansionnya. Ia telah mengganti triningnya dengan pakaian mahal yang menunjukkan kelas sosialnya. Di depannya duduk seorang yeoja anggung dengan selembar roti gandum dan selai kacang kesukaannya. Kyuhyun mendesah pelan menuntut perhatian, tapi yeoja paruh baya itu seolah tuli dan terus mengolesi rotinya dengan gaya khas kebangsawan.
"Berteriaklah kalau kau marah padaku." Kyuhyun menggeram frustasi. Wanita terhormat itu menghentikan aktifitasnya. Menatap Kyuhyun melalui ekor matanya. Bibir kecilnya hanya mengulum senyum namun tidak berniat untuk menjawab rengekan anak kesayangannya tersebut.
"Eomma!" Kyuhyun sedikit berteriak kali ini, membuat yeoja paruh baya itu meletakkan rotinya di atas piring.
"Dokter Cho Kyuhyun. Apa kau masih anakku sekarang?" suara nyaring itu terdengar menggema. Kyuhyun menatap tajam wajah cantik eommanya. Wanita itu memang cukup mengerikan, ucapannya yang ketus dan juga tegas terkadang membuat Kyuhyun kewalahan. Namun di sisi lain, dia tahu bahwa eommanya itu sangat menyayanginya.
"Aku minta maaf. Banyak hal yang harus aku lakukan belakangan ini." Heechul, wanita anggun itu terdiam, menunggu puteranya melanjutkan ceritanya. Namun setelah beberapa menit menunggu Kyuhyun tidak kunjung melanjutkan ceritanya. Heechul hanya bisa mendesah pelan, kemudian mengalihkan pandangannya dari Kyuhyun. Kembali mengolesi roti gandumnya dengan selai kacang.
"Kau masih mengingatnya? Karena itu kau tidak pulang beberapa hari ini?"
Kyuhyun mendongak, seketika ia teringat akan sesuatu. Ia teringat akan akar masalah kenapa dia bisa terjebak dalam situasi aneh ini. Kyuhyun tidak heran eommanya bertanya tentang itu.
"Jangan menatap eomma seperti itu Kyuhyun-ah, apa kemarin kau benar-benar menghabiskan waktu di luar hanya untuk melupakan kenangan hari itu?" Kali ini Kyuhyun terkejut melihat ekspresi kasihan dari paras cantik eommanya. Pemuda tampan itu hanya bisa tersenyum miris di depan eommanya. Ini sudah hampir 7 tahun, tidak heran eommanya ingat betul hari di mana ia akan menjadi sosok yang paling rapuh dan terluka karena kenangan sakit hatinya 7 tahun silam. Untuk sekian detik Kyuhyun merasa sangat bersalah kepada eommanya.
"Kyuhyun-ah~"
"Aku tidak apa-apa eomma." Kyuhyun memotong ucapan eommanya. Wanita cantik itu menatap lembut kedua hezel putera semata wayangnya.
"Akan lebih baik jika kau cepat-cepat mendapatkan wanita dan mengenalkannya pada eomma."
Kyuhyun hampir tersedak kopi ketika eommanya mengucapkan kata-kata itu, "Apa eomma akan menerima siapapun wanita yang aku kenalkan pada eomma?"
Heechul menatap Kyuhyun dengan tatapan curiga, namun beberapa detik kemudian ekspresi wanita cantik itu kembali berubah angkuh, "Tergantung pada wanita seperti apa yang kau ajak untuk menemui eomma." Tutupnya singkat tanpa berniat untuk membuka pembicaraan kembali dengan puteranya. Kyuhyun terdiam sesaat, apakah dia benar-benar siap mengenalkan Sungmin pada eommanya? Kyuhyun harus memikirkan hal itu bukan? Karena pemuda itu telah berjanji untuk menikahi Sungmin, meski orang yang diajaknya menikah sama sekali belum berniat untuk menerimanya.
.
.
.
Donghae menghentikan mobilnya di depan sebuah apartemen tua. Disebelahnya, duduk seorang yeoja imut dengan wajah polosnya. Ia berusaha melepaskan seatbelt yang melingkar di tubuhnya.
"Apa ini tempat tinggal Sungmin?" Donghae menatap heran pada bangunan nyaris roboh yang ada di depannya. Bukan bermaksud menghina, tapi tempat tinggal Sungmin memang jauh dari kata layak menurut orang kaya sepertinya.
"Nde, dia tinggal di lantai 2. Kau mau masuk ke dalam?" Tawar Ryeowook masih dengan nada cerianya. Donghae menatap sekilas wajah menggemaskan lawan bicaranya. Namja cassanova itu hanya tersenyum simpul sembari menggelengkan kepalanya.
"Aku rasa Sungmin tidak akan nyaman dengan kehadiran orang asing di rumahnya."
Ryeowook mengangguk pelan kemudian bergerak untuk membuka pintu mobil, "Eum,, gomawoyo Donghae-ssi." Ucapnya malu-malu kemudian beranjak dari tempat duduknya.
Donghae tersenyum tulus sembari melambaikan tangannya dari dalam mobil, memberi tanda agar yeoja manis itu segera masuk sementara dia akan menunggunya sampai dia benar-benar menghilang.
"Apa semua teman Sungmin memiliki wajah manis seperti itu?" Donghae bergumam pelan sembari menertawakan dirinya sendiri. Namja tampan itu kemudian memilih untuk tidak terlalu mengindahkan fantasinya dan memilih untuk melajukan mobilnya meninggalkan apartemen Sungmin.
.
.
.
Ryeowook mengetuk pintu rumah Sungmin, menunggu sebentar sampai sang pemilik rumah membukakan pintu untuknya.
"Apa yang membawamu ke sini?" Tanya Sungmin setelah mendapat pelukan hangat dari sahabatnya.
"Kau baik-baik saja?" Ryeowook menjawab pertanyaan Sungmin dengan pertanyaan. Sungmin memilih untuk mengendikkan bahunya dan mengajak Ryewook untuk duduk di sofa ruang tamunya.
"Aku mencemaskanmu Min. Kau terlihat sangat pucat. Apa kau sudah makan?"
Sungmin hanya menanggapi kecemasan Ryeowook dengan senyuman seadanya. Masalah yang menimpa Sungmin benar-benar telah mengubah tabiat dari yeoja cantik itu. Untuk pertama kalinya kedua sahabatnya itu tenggelam dalam keheningan. Baik Ryeowook maupun Sungmin seperti berada di dua alam yang berbeda. Sungmin tidak berniat untuk membuka pembicaraan, sementara Ryeowook juga bingung harus berkata apa.
"Wook~"
"Min~"
Kedua sahabat itu saling menatap canggung, "Kau dulu Min" ucap Ryeowook mempersilahkan.
"Kau datang dengan siapa? Aku lihat sebuah mobil tadi di depan rumah."
"Oh, aku datang dengan Lee Donghae, apa kau mengenalnya?" Sungmin menggeleng lemah, "Dia adalah teman dari Cho Kyuhyun."
Sungmin menaikkan sebelah alisnya, "Sejak kapan kau berteman dengan Cho Kyuhyun dan temannya?"
"Oh,, itu.. Kami pernah bertemu dengannnya secara tidak sengaja ketika kau pingsan waktu itu dan hari ini kami tidak sengaja bertemu lagi di café." Ryeowook tidak sepenuhnya berbohong, meski bagian bertemu-tidak-sengaja-hari-ini merupakan kebohongan. Dia tidak ingin Sungmin mengetahui tentang alasan Donghae menemuinya untuk mencari informasi tentang dirinya dan Jungmo.
Sungmin percaya saja dengan ucapan Ryeowook, dia juga tidak ingin capek-capek mengurusi masalah itu. Kepalanya sudah terlalu penuh dengan masalah-masalahnya dan dia sama sekali tidak berniat untuk menambahnya lagi.
"Kau belum menjawab pertanyaanku Min. Apa kau baik-baik saja?"
Sungmin menatap kedua iris kelam sahabatnya, menyadari adanya kecemasan di dalam sana."Aku baik-baik saja Wookie-ya. Jangan khawatir."
Ryeowook mendesah pelan, "Aku tidak menyangka Jungmo setega itu. Aku hampir ingin membunuhnya kemarin. Dia bilang sangat mencintaimu, tapi dia malah melukaimu. Aku sangat membencinya Min, aku tidak ingin dia berada dekat-dekat denganmu. Aku~" Ryeowook tak sanggup meneruskan kata-katanya. Air matanya sudah menggenang membasahi kedua matanya dan mengalir membentuk sungai kecil di pipi putihnya, "Mianhae" ucapnya sembari menghapus kasar air matanya.
"Hiks,,, kenapa semua ini menimpamu Min? Kau begitu baik, begitu berbakat. Tapi kenapa dia melakukan itu kepadamu? Hiks.."
Sungmin terdiam, kalau saja dia bisa menjawab pertanyaan itu. Sejujurnya Sungmin juga ingin tahu, tapi harga dirinya menolak untuk mendengar penjelasan dari pria yang telah menghancurkannya. Dia sudah muak, dan memilih untuk menghapus jejak dari pria yang baru saja ia laporkan kepada lembaga permasyarakatan di kota Seoul itu.
"Min? Lee Sungmin? Apa kau melamun?"
Sungmin menerjapkan kedua matanya, "Eoh? Aniya. Wookie kau mau minum sesuatu? Akan kubuatkan akkh~" Sungmin sedikit berjingkat ketika perutnya tiba-tiba terasa nyeri. Ryeowook melebarkan kedua matanya kemudian bergegas mendekati Sungmin.
"Kau tidak apa-apa? Apa perutmu terasa sakit? Apa aku harus menghubungi Donghae dan memberitahu Kyuhyun?"
Sungmin menatap marah ke arah Ryewook. Yeoja mungil itu seketika menutup rapat mulutnya.
"Setidaknya Kyuhyun adalah seorang dokter." Ujar Ryeowook berusaha memberikan argumen yang rasional di depan Sungmin.
"Tapi tidak kepadanya. Ryeowook aku tidak mau melibatkan orang asing di dalam masalah ini." Sungmin sedikit meninggikan suaranya. Meski itu terdengar nyaris seperti cicitan karena ia masih menahan sakit di perutnya.
Kini ganti Ryeowook yang melotot tak suka, "Kyuhyun bukan orang asing Min. Terima atau tidak dia adalah ayah dari bayi itu."
Sungmin tidak ingin memperpanjang pembicaraannya dengan Ryeowook. Yeoja manis itu kini hanya terfokus pada rasa nyeri yang mendera perutnya. Bahkan kini rasa sakit itu juga mulai terasa di sekitar pinggul dan selakangannya. Sungmin berusaha menarik nafas dalam-dalam, sementara Ryeowook membantu mengipasi tubuh Sungmin yang mulai berkeringat. Setelah beberapa detik, wajah Sungmin kembali memerah, yeoja itu tidak lagi memegangi perutnya. Ryeowook menyadari perubahan wajah Sungmin dan segera mengambil segelas air hangat untuk sahabatnya.
"Minumlah ini akan membantu membuatmu tenang."
Sungmin menerima segelas air putih pemberian Ryeowook dan segera meneguknya. "Gomawo." Ucapnya kemudian meletakkan gelas yang telah kosong itu di atas mejanya.
"Sekarang apa rencanamu? Aku tidak ingin mengatakan ini kepadamu Min, tapi setelah kau keluar dari club semalam. Produser Eric Moon mencarimu."
Sungmin hampir melupakan hal itu. Semalam dia baru saja menandatangani kontrak debutnya bersama dengan rumah produksi tempat Eric bekerja. Wajar jika Eric mencarinya. Tapi sekarang apa yang bisa dia lakukan? Siapa yang tahu jika akhirnya dia harus mengalami hal mengerikan ini?
"Min? Kau mendengarku?"
Sungmin menelan berat salivanya, "Entahlah, aku masih belum memikirkannya."
"Kau tidak akan melakukannya kan? Bayi itu berhak hidup Min." Ucap Ryeowook sembari menatap iba ke arah perut datar Sungmin, menunggu reaksi Sungmin yang masih datar dan tidak ada tanggapan.
.
.
.
Lebih dari 30 menit lalu Ryeowook meninggalkan rumahnya dan dia –Lee Sungmin- masih belum juga bergerak dari tempatnya. Kedua matanya menatap ke luar jendela. Memikirkan banyak hal yang dia sendiri juga tidak tahu di mana ujungnya.
Bayi itu berhak hidup Min
Sayup-sayup suara Ryeowook terdengar di gendang telinganya. Entah apa yang menggerakkannya, jari-jari Sungmin kini mulai bergerak lembut mengelus perut datarnya. Meski tatapannya kini masih terpaku pada gumpalan awan putih yang menggantung indah di langit depan jendela rumahnya. Perlahan butiran air mata mulai jatuh membasahi kedua pipinya. Sungmin menangis terisak, "Apa yang harus eomma lakukan padamu baby?" lirihnya nyaris tanpa suara.
.
.
.
Kyuhyun melangkahkan kaki jenjangnya melintasi koridor rumah sakit. Baju putihnya dibiarkan berkibar mengikuti setiap gerakan langkah kakinya. Kacamata tebal yang menggantung di sekitar wajahnya sama sekali tidak mengurangi kadar ketampanan natural yang menjadi miliknya. Kyuhyun sesekali tersenyum ketika beberapa pasien, pengunjung bahkan suster-suster mulai berjajar dan memamerkan senyuman menggoda ke arahnya.
"Dokter Cho, anda sudah ditunggu." Suara nyaring Jessica terdengar di telinga Kyuhyun ketika ia melintasi meja kerja sekretarisnya.
"Terima kasih nona Jung." Ujarnya lembut kemudian masuk ke dalam ruang kerjanya.
Donghae bangkit dari tempat duduknya ketika melihat Kyuhyun memasuki ruangannya. Pemuda berwajah kekanakan itu memperhatikan wajah lelah Kyuhyun yang masih sibuk menggantungkan baju putihnya di tiang mantel. Donghae kembali duduk di kursinya ketika Kyuhyun mengisyaratkan dirinya untuk kembali duduk. Meski mereka sahabat, norma kesopanan harus tetap dijaga bukan?
"Jadi, kau mendapatkan sesuatu?" Kyuhyun melepas kacamata tebalnya. Menatap Donghae yang kini duduk berhadapan dengannya.
"Aku tidak yakin apa kau akan suka mendengar cerita ini. Tetapi percayalah kepadaku, Sungmin benar-benar gadis yang malang."
Kyuhyun menyimak dengan baik setiap kata yang dilontarkan Donghae. Sesekali rahangnya menegang karena marah, kedua matanya melebar nyaris tak percaya pada kronologis cerita yang disampaikan Donghae. Kyuhyun menggeram, kedua tangannya terkepal erat hingga menyebabkan seluruh buku jarinya memutih.
"Apa kau tahu di mana si berengsek itu sekarang?" Kyuhyun nyaris berteriak ketika menanyakan hal tersebut.
"Entahlah, Ryeowook juga tidak bisa menemuinya setelah malam itu. Mungkin dia memilih untuk kabur." Tebak Donghae kemudian menyeruput kopi yang disiapkan sekretaris Kyuhyun untuknya.
"Pengecut" geram Kyuhyun kesal. Pikirannya kini melayang pada kondisi Sungmin malam itu. Kyuhyun bisa merasakan bagaimana kecewa dan terlukanya Sungmin karena perbuatan Jungmo. Tiba-tiba saja rasa ingin melindungi itu kembali muncul di dalam hatinya. Namun yang menjadi masalah adalah sikap Sungmin yang masih enggan menerima niat baiknya.
"Ah,, satu lagi. Ini soal kehamilan Sungmin."
Kyuhyun seketika tersadar dari lamunannya, "Ada apa dengan kehamilannya?" Tanya Kyuhyun protektif.
"Kurasa Jungmo juga berencana untuk menggugurkan kandungan Sungmin."
"Mwo?"
"Ada perusahaan rekaman yang berniat mendebutkan Sungmin sebagai penyanyi. Jungmo yang mengenalkan Sungmin dengan produser itu. Dan setahuku syarat-syarat menjadi seorang penyanyi yang akan debut adalah, tidak terikat hubungan, belum menikah, dan jelas tidak boleh hamil. Bukankah itu strategi yang sempurna untuk mendorong Sungmin melakukan aborsi?"
Kyuhyun menatap nyalang ke depan. Tangan kanannya yang bebas digunakan untuk meremas kertas-kertas yang berserakan di depannya, "Si berengsek itu benar-benar ingin mati."
"Lalu sekarang apa rencanamu? Kau benar-benar ingin menikahinya?"
Kyuhyun menghela nafas panjang, "Sungmin masih belum mau menerimaku." Bisiknya nyaris tanpa suara.
"Lalu ibumu? Bagaiamana dengan nyonya Heechul yang terhormat? Apa dia akan mau menerima Sungmin?"
Kyuhyun menatap kosong ke arah Donghae. Dia juga belum memikirkan tentang itu. Ucapan ibunya pagi itu benar-benar membekas di pikirannya. Apa benar ibunya akan mau menerima kehadiran Sungmin? Seorang penyanyi bar, bukan dari golongan atas dan telah berbadan dua.
.
.
.
Ryeowook akan segera berangkat ke bar tempat ia bekerja ketika secara tidak sengaja kedua iris kelamnya menangkap sesosok wanita yang tidak asing untuknya. Wanita itu Nampak canggung dengan pakaian tebal yang melindungi tubuh kurusnya. Rambutnya yang hampir memutih terlihat sedikit berantakan. Ryeowook berjalan mendekatinya untuk memastikan, jemari lentiknya bergerak untuk menepuk pelan bahu wanita itu.
"Leeteuk ahjumma?" Ryeowook berteriak keras. Yeoja paruh baya itu tersenyum tulus di depan Ryeowook. Yeoja manis itu segera memeluk ibu dari sahabatnya itu.
"Bagaimana ahjumma bisa berada di Seoul? Apa Sungmin tahu ahjumma akan datang?"
Leeteuk menggeleng lemah, "Aku belum memberitahunya. Apa Sungmin baik-baik saja? Aku sangat mencemaskannya."
Ryeowook menundukkan kepalanya, apa firasat seorang ibu memang selalu sekuat ini? Tentu saja Leeteuk bisa merasakan penderitaan Sungmin. Sekalipun sahabatnya itu tidak pernah memberi tahu ibunya.
"Ryeowook-ah, apa ada masalah?"
"Aniya ahjumma. Aku bisa mengantar ahjumma ke rumah Sungmin. Aku rasa dia akan senang melihat ahjumma."
Leeteuk menatap keraguan di mata Ryeowook. Entah kenapa wanita itu merasa ada yang disembunyikan oleh Ryeowook. Meski yeoja itu berusaha memperlihatkan senyuman cerianya, tetap saja itu tidak bisa menipu mata seorang ibu sepertinya.
"Kau baik-baik saja? Apa terjadi sesuatu?"
Ryeowook memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Leeteuk. Yeoja manis itu segera menghentikan taksi dan membawa Leeteuk untuk menemui Sungmin. Sebisa mungkin ia mengalihkan pembicaraan selama di perjalanan. Ia merasa bukan haknya membicarakan masalah Sungmin kepada ibunya. Setelah 15 menit berlalu. Mereka telah sampai di depan rumah Sungmin. Ryeowook segera membimbing Leeteuk untuk masuk ke dalam bangunan tua itu.
Tttok ttok ttok
"Sungmin-ah,, kau di dalam?"
Tttok ttok ttok
Leeteuk menunggu dengan cemas, Sungmin tidak kunjung menjawab panggilan mereka. Ryeowook berusaha memasang wajah tenangnya, meski sebenarnya dia juga merasa cemas. Dengan perlahan, Ryeowook membuka gagang pintu rumah Sungmin.
Ceklek
Pintu itu terbuka lebar. Ryeowook tak bisa melihat apapun karena kondisi ruang tamunya yang gelap gulita. Yeoja manis itu meraba dinding rumah Sungmin. Mencari saklar lampu untuk menerangi ruang tamu itu. Dan ketika lampu itu menyala, Ryeowook mendapati tubuh Sungmin telah tergeletak di bawah lantai. Leeteuk menjerit keras, terlebih lagi ketika ia melihat banyak darah yang merembes keluar dari paha Sungmin.
"Sungmin-ah, kau tidak apa-apa sayang?" Leeteuk menangis memeluk puterinya.
Sungmin menerjapkan kedua matanya. Yeoja itu belum sepenuhnya hilang kesadaran. Wajahnya mengisyaratkan kesakitan yang amat sangat. Sungmin terus saja memegangi perutnya. Air matanya keluar karena menahan sakit yang terus menerus mendera tubuh bagian bawahnya.
Ryeowook segera menghubungi Donghae. Ada gunanya dia menyimpan nomor ponsel Donghae. Ia tak harus menunggu lama sampai Donghae menjawab panggilannya.
"Donghae-ssi, bisakah kau datang ke rumah Sungmin sekarang? Aku tidak yakin tapi sepertinya Sungmin mengalami pendarahan." Ryeowook terdengar sangat panik. Yeoja manis itu hampir menangis ketakutan membayangkan hal-hal buruk yang terjadi pada Sungmin ataupun bayinya.
.
.
.
Donghae segera menghubungi Kyuhyun sesaat setelah Ryeowook menghubunginya. Dengan gerakan secepat kilat dia memutar arah menuju ke rumah Sungmin. Sementara Kyuhyun segera loncat dari tempat duduk nyamannya di rumah sakit. Pemuda tampan itu segera meraih kunci mobilnya dan bergerak secepat yang dia bisa untuk menuju ke rumah Sungmin.
Butuh waktu 10 menit bagi Kyuhyun untuk sampai di tempat Sungmin. Pemuda itu segera menutup sembarangan pintu mobilnya dan melangkah masuk ke dalam rumah Sungmin.
"Bagaimana keadaannya?" Kyuhyun segera bergerak mendekati Sungmin. Pemuda tampan itu bergerak menurut nalurinya untuk memeriksa denyut nadi Sungmin yang mulai melemah. "Kita harus segera membawa Sungmin ke rumah sakit."
"Apa yang terjadi?" Donghae segera menyusul ke dalam rumah Sungmin.
"Hyung, syukurlah kau datang tepat waktu. Ryeowook-ssi apa kau bisa menyetir?"
Ryeowook mengangguk cepat.
"Bagus. Hyung, berikan kunci mobilmu pada Ryeowook, biarkan dia mengikuti kita dari belakang. Kau bersamaku untuk membawa Sungmin. Dia harus segera mendapat perawatan."
Donghae segera mengikuti perintah Kyuhyun. Pemuda tampan itu segera membawa Sungmin di dalam gendongannya. Leeteuk hanya bisa pasrah melihat puterinya dibawa pergi oleh orang yang belum dikenalnya. Ryeowook membantu Leeteuk berdiri dan segera membawa wanita paruh baya itu masuk ke dalam mobil dan mengikuti mobil Kyuhyun.
Donghae melajukan audi A7 sport black milikKyuhyun dengan kecepatan tinggi. Sesekali namja itu melihat kaca spion untuk mengecek keadaan Sungmin. Kyuhyun terlihat tak kalah cemasnya. Namja tampan itu bahkan mengabaikan celana mahalnya terkena noda darah yang terus merembes keluar dari kewanitaan Sungmin.
"Bertahanlah. Kita akan segera sampai." Bisik Kyuhyun cemas.
Sungmin hanya bisa merintih dan memeluk pinggang Kyuhyun erat, "Appo.." rintihnya menangis di antara dada bidang Kyuhyun.
"Tenanglah, kau akan baik-baik saja." Kau harus baik-baik saja Lee Sungmin.
.
.
.
Kyuhyun segera berlari membawa Sungmin ke ruang gawat darurat. Beberapa suster sangat terkejut melihat Kyuhyun tengah menggendong seorang wanita, terlebih lagi melihat kondisi celana dan baju Kyuhyun yang penuh dengan bercak darah.
"Dokter Kim tolong segera bantu aku." Teriak Kyuhyun setelah meletakkan Sungmin di atas tempat tidur. Dokter yang berusia jauh lebih tua itu menunduk patuh dan segera memeriksa kondisi Sungmin. Kyuhyun sedikit terengah. Beberapa suster segera datang dan membantu Dokter Kim untuk merawat Sungmin.
Kyuhyun mengamati setiap langkah yang dilakukan Dokter Kim. Sesekali ia melihat Sungmin berteriak kesakitan dan menangis. Kyuhyun mengepalkan kedua tangannya. Kyuhyun sedikit tersentak ketika Jessica datang mendekatinya, "Ini perlengkapan anda Dokter Cho." Ujarnya sembari menyerahkan masker, baju steril dan sarung tangan kepada Kyuhyun.
Suster yang juga merangkap menjadi sekretaris Kyuhyun itu segera ikut bergabung dengan tim dokter. Sementara Kyuhyun segera memakai perlengkapannya dan berdiri di dekat Sungmin. Kyuhyun menggenggam tangan Sungmin. Ia bisa merasakan kesakitan yang dialami Sungmin ketika yeoja itu meremas tangannya dengan sangat keras. Kyuhyun hanya bisa berdoa sekarang. Dia tidak ingin kehilangan Sungmin dan bayinya. Dia ingin agar mereka berdua bisa tetap hidup.
.
.
.
Ryeowook berlari secepat yang dia bisa menuju ke unit gawat darurat tempat Sungmin dibawa. Sesampainya di sana dia hanya bisa melihat Donghae yang terus berjalan mondar mandir dengan wajah cemas.
"Donghae-ssi!" Ryeowook menghampiri namja tampan itu.
"Kyuhyun sudah membawanya. Dia sudah ditangani. Kau tidak perlu cemas." Seolah tahu apa yang akan ditanyakan Ryeowook, Donghae menjelaskan tentang keadaan Sungmin. Setelah beberapa saat, Donghae baru menyadari keberadaan wanita paruh baya yang tengah berdiri di samping Ryeowook.
Ryeowook menyadari jika dia belum sempat mengenalkan yeoja itu kepada Donghae maupun Kyuhyun. "Dia adalah Leeteuk ahjumma. Sungminnie eomma-yeyo"
Donghae segera membungkuk memberi hormat, "Donghae imnida." Ucapnya memperkenalkan diri.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa puteriku bisa mengalami pendarahan seperti itu?" isaknya meminta penjelasan. Donghae dan Ryeowook saling berpandangan, keduanya tak bisa lagi mengelak. Ryeowook memeluk bahu Leeteuk, membawa wanita yang masih cantik itu untuk duduk.
"Aku akan menjelaskan semuanya kepada ahjumma. Mianhae karena tidak langsung memberi tahu ahjumma." Ucap Ryeowook ikut terisak. Leeteuk hanya terdiam menyimak setiap perkataan Ryeowook. Matanya yang telah berarir semakin basah karena air mata. Sesekali wanita itu meremas dadanya yang terasa sesak. Puteri kecilnya mengalami hal yang begitu berat, sementara dia sebagai eomma sama sekali tidak menyadarinya. Leeteuk merasa gagal, merasa malu sebagai seorang eomma.
.
.
.
Sementara itu Kyuhyun mulai bisa bernafas lega. Kondisi Sungmin mulai stabil dan pendarahannya telah berhenti. Dokter Kim hanya bisa menatap kagum pada sosok Sungmin. "Kita beruntung karena kondisi ostium-nyabelum terbuka, dia dan bayinya sangat kuat. Dia telah melewati masa kritis Dokter Cho. Dia dan bayinya selamat."
Kyuhyun tidak bisa menghilangkan ekspresi leganya. Pemuda tampan itu menatap wajah pucat Sungmin yang juga tersenyum kearahnya. Kyuhyun mengusap lembut pucuk kepala Sungmin.
Sungmin menggerakkan tangan pucatnya, mengusap pelan perut ratanya. Dia hampir saja kehilangan bayinya. Dan perasaan takut kehilangan itu benar-benar membuatnya semakin kuat untuk mempertahankan bayinya.
Kyuhyun memperhatikan gerakan tangan Sungmin, "Bayimu sangat kuat. Dia berusaha untuk tetap bertahan di dalam rahim ibunya. Kau beruntung karena memilikinya."
Sungmin menatap Kyuhyun lembut, ia benar-benar bisa melihat ketulusan dari mata Kyuhyun. Sungmin tersenyum lembut, meraih tangan Kyuhyun dan meletakkannya di atas perutnya "Dia milikmu juga." Ucapnya singkat sukses membuat Kyuhyun membelalak terkejut.
"Lee Sungmin~~~"
.
.
.
Donghae hanya terdiam melihat Ryeowook dan Leeteuk saling memeluk dan menangis. Ia berusaha mengalihkan pandangannya dan memilih untuk menatap kelamnya langit malam tanpa bintang. Donghae menghela nafasnya ketika dia menoleh lorong sebelah kanan, kedua irisnya menatap sosok wanita anggun yang sedari tadi berdiri dan memperhatikan mereka.
"Heechul ahjumma?" gumamnya nyaris tak percaya.
Heechul menyadari tatapan Donghae. Wanita anggun itu memilih untuk berbalik dan meninggalkan rumah sakit. Donghae berniat untuk mengejar Ibu Kyuhyun, namun niatnya terhalang oleh bunyi derit pintu ruang gawat darurat yang tiba-tiba terbuka lebar.
"Bagaimana keadaan puteriku?" Leeteuk yang pertama bertanya kepada Kyuhyun. Pemuda tampan itu nyaris kehilangan tenaganya.
"Dia baik-baik saja. Sungmin dan bayinya selamat."
Leeteuk mendesah lega mendengarnya. Tanpa sadar wanita itu justru merosot ke bawah, menangis bahagia karena Tuhan masih melindungi Sungmin dan bayinya.
Kyuhyun masih berdiri tegang di tempatnya. Tangannya terkepal erat, jantungnya berdetak kencang sementara nafasnya terus memburu. Kyuhyun menatap Leeteuk yang masih menangis di atas lantai rumah sakit. Namja tampan itu berjongkok di depan eomma Sungmin. Matanya menatap tegas namun penuh kelembutan.
"Omonim, aku mohon serahkan Sungmin kepadaku. Aku akan berusaha menjaganya. Lagipula, aku adalah ayah dari bayi yang dikandung Sungmin."
Donghae melebarkan kedua matanya? Apa sahabatnya itu benar-benar serius dengan ucapannya? Tiba-tiba saja Donghae membayangkan wajah angkuh dari ibu Kyuhyun. Kau benar-benar sudah gila, Cho.
TBC
News flash : Keguguran (abortus) yang dialami Sungmin adalah Abortus mengancam
Biasanya terjadi di antara kehamilan timester pertama dan kedua awal. Tanda-tandanya; ibu mengalami kontraksi, perdarahan, dan bisa disertai keluarnya cairan. Janin bisa diselamatkan jika masih dalam kondisi baik dan ostium (lubang rahim) belum terbuka. Sebaliknya jika lubang rahim sudah terbuka, dokter tidak bisa berbuat banyak. Kemungkinan yang terjadi adalah abortus spontan.
Mungkin banyak yang merasa kalau chapter ini sedikit membosankan
Aku memang berniat membuat FF ini seperti cerita-cerita mellow drama ^^
Jika kalian berharap FF ini cepat berakhir, sepertinya kalian harus kecewa..
Terima kasih pada semua orang yang mau meluangkan waktunya untuk membaca FF ini..
Maaf jika masih banyak ketidaksempurnaan..
Terima kasih untuk reviewnya…
Karena aku masih bingung dengan cara membalas review, jika ada yang ingin ditanyakan bisa langsung lewat akun Twitter atau FB ^^
Terima kasih dukungannya untuk SFY ^^
(sby, 130626)
