.

Bleach © Tite Kubo

Bleach Fanfic Story – Dragon Ice and Wolf of Black Snow

Valentine Day

-I do not own Bleach-

Don't Like, Don't Read

Warning : TYPO, OOC, OC, AU, Etc


- Chapter 7 -

(Hari -2 sebelum perayaan)

Hari perayaan semakin dekat. Di setiap lorong atau sisi kota banyak sekali para gadis yang sangat bersemangat untuk memberi cokelat dan berbagai macam kertas kado. Ada berjalan sambil tertawa atau berbisik-bisik. Beberapa berjalan terburu-buru untuk menghindari orang yang akan mereka berikan cokelat.

"Sepertinya semua semakin bersemangat, My Lord"

Toshiro tidak menjawab dan meminum tehnya. Akatsuki kembali ke mejanya lalu melanjutkan pekerjaannya lagi. Dia melirik pada meja Matsumoto yang kosong sejak pagi. Wanita itu benar-benar luar biasa, malas.

Keheningan keduanya dari pagi tiba-tiba pecah. Terdengar suara orang berjalan dengan cepat dari luar dan mendekat disusul pintu terbuka dengan keras dan kembali rusak. Toshiro bisa merasakan sakit kepala datang ketika melihat wanita berdiri didepannya.

"Taichou! Tolong coba ini!"

Matsumoto menunjukan sebuah cokelat dengan bentuk tak jelas. Toshiro mengerutkan alis, Matsumoto mengatakan mencoba yang berarti itu makanan. "Apa ini, Matsumoto?" tanya Toshiro.

"Ini sudah jelas cokelat, Taichou! Masa kau tidak tahu?"

'Cokelat?' tanya Toshiro pada dirinya sendiri. "Kenapa kau tidak mencobanya sendiri?" kata Toshiro, dia tidak yakin dengan kemampuan memasak Matsumoto. Wanita itu menggembungkan pipinya, "aku ingin mendengar pendapatmu, Taichou. Ayolah jangan malu-malu coba saja dulu!" dengan gesit Matsumoto mengarahkan cokelat itu ke mulut Toshiro.

"Ak—"

Matsumoto langsung memasukkan cokelat itu. wanita itu tersenyum lebar, Akatsuki tampak ingin menyelamatkan tuannya. "Bagaimana Taichou? Enak tidak? Aku membuatnya sendiri!" Kata Matsumoto. Toshiro terdiam sebentar sebelum menelan cokelat itu. Memang benar itu cokelat tapi tidak ada rasa manis khas cokelat yang ada malah...

"URGH!"

Toshiro hampir mengeluarkan isi perutnya dan meraih cangkir teh. 'Apa yang barusan?' pikir Toshiro, dia yakin Matsumoto mengatakan cokelat tapi ini bukanlah cokelat sama sekali. Matanya segera berpindah pada wanita itu "Matsumoto! Apa yang kau buat itu?!"

"Apanya? Tentu cokelat." Matsumoto mencoba sendiri cokelatnya dan pingsan kurang dari sedetik. (And she Out!)

.

Toshiro melirik tajam pada wanita yang sudah tidak sadarkan diri itu, "ini adalah terakhir kalinya aku mencoba hal seperti ini." "Lalu bagaimana dengan cokelat yang akan datang pada perayaan itu?" tanya Akatsuki memberikan segelas teh lainnya. Pemuda itu tersedak udara mengingat hal itu.

"Aku akan jauh-jauh dari Seireitei kalau seperti itu" jawab Toshiro.

Akatsuki tertawa kecil ditambah sedikit meringis, "My Lord, pagi hari itu juga kita ada sambungan pertemuan bulanan. Anda tidak bisa pergi.."

"S-sial..." kutuk Toshiro.

Toshiro tampaknya melupakan pertemuan itu. Kenapa hal itu bisa terjadi pada hari yang bersamaan. Sekarang kepala dan perutnya terasa sangat sakit karena ulah Matsumoto. "Anda ingin istirahat dulu, My Lord?" Akatsuki mendekat dan melihat sisa cokelat. Perlahan dia mengambil sedikit dan mencobanya di lidah, "Oy! Kau bisa keracunan, kau tahu?" Toshiro memperingatkan.

"Hm... Sepertinya tidak pakai susu, garam, esent dan apinya juga terlalu besar. Pantas saja rasanya menjadi seperti ini..." gumam Akatsuki "ya, memang membuat cokelat yang enak itu susah. Apalagi jika tidak ada buku petunjuknya."

"Kau berbicara seperti sudah pernah membuatnya..."

Akatsuki mengangkat satu alisnya, "bukannya aku pernah bilang kalau dulu aku juga pernah merayakan perayaan ini saat masih di dunia hidup?" "Benar juga... Kalau begitu sebaiknya kau berhati-hati jika memang berniat untuk memasak. Dan sebaiknya kita bereskan semua ini," Toshiro kembali duduk dan meminum tehnya. Rasa dari cokelat Matsumoto masih tertinggal di lidahnya, "kapan kau ingin mulai melukis?"

"Jika semua ini selesai, My Lord. Hanya tinggal mengirimkan saja, sore ini saya akan memulai memberikan warna dasar."

Toshiro tersenyum senang, "baguslah, beritahu aku kalau kau ingin memulainya. Tapi kupikir sebaiknya kau tidak berbicara apapun. Jika mereka ingin tahu, suruh mereka untuk bertanya langsung padaku."

"Yes, My Lord."

.

"Eh?"

Matsumoto membuka matanya, dia terbangun diatas sofa dengan kepala sakit seperti habis membentur sesuatu. "Bagaimana aku bisa disini?" tanya Matsumoto. Dia melihat sekeliling dan sadar hari sudah sore, tidak ada seorang pun diruangan ini.

"Tadi sebelumnya aku sedang membuat cokelat..."

Matsumoto melihat pada sebuah piring yang berisikan cokelat buatannya dan sebuah catata panduan singkat cara membuat cokelat. Dia membaca petunjuk itu dan tersenyum lebar. Tulisan tangannya sangatlah khas dan mudah diketahui. Wanita itu hampir terharu dan segera berseru senang.

"Arigatou! Akatsuki-chan!"

.

"Kau sengaja memberikan itu, bukan?" tanya Toshiro.

"Bagaimana pun jika tidak ada yang memberitahu, aku akan sangat kasihan pada Matsumoto" Kata Akatsuki sambil mengecat dinding kamar, Toshiro membantunya dengan sisi yang lain. "setidaknya dengan begini rasa itu tidak akan terulang, My Lord."

"Dan dengan begini Matsumoto akan mengetahui kalau kau bisa membuatnya. Mereka pasti akan mengincarmu juga kau tahu?" Akatsuki hanya tertawa, Toshiro kebingungan mengapa gadis itu tertawa tiba-tiba.

"Kenapa kau tertawa?" tanya Toshiro.

"My Lord..."

Akatsuki berhenti sebentar dan mengatur nafasnya "saya ingat ini bukan yang pertama kali saya diincar orang? Apa anda ingat yang pertama membuat saya menjadi pusat perhatian dan diincar orang adalah anda? Ketika kita di akademi dan mendapatkan Zanpakutou?"

Tangan Toshiro berhenti mengecat. Tak lama dia tertawa juga, yang memang pernah membuat Akatsuki menjadi pusat perhatian. "Ya kupikir memang benar. Terlebih kita sekarang juga menjadi incaran semua orang" kata Toshiro. "baiklah sekarang apa?" mereka berdua telah menyelesaikan semua dinding kamar dengan warna dasar.

"tentu saja kita harus menunggunya kering, My Lord" Akatsuki melihat sekeliling dan sadar akan sesuatu "aku baru ingat, anda akan tidur dimana?" "Apa maksudmu?" Toshiro ikut melihat sekeliling dan sadar kalau seluruh dindingnya basah sekarang. 'kenapa aku jadi pelupa seperti ini?' dia menggeram dalam pikirannya sendiri.

"Mau bagaimana lagi..." Toshiro meraih bantalnya dan berjalan keluar.

"Anda ingin kemana, My Lord?" tanya Akatsuki.

Toshiro terlihat sedang mencari baju tidurnya, "tentu saja, tidur. Aku akan tidur di sofa saja hari ini."

Akatsuki terlihat khawatir, "tapi My Lord, udara akan dingin hari ini."

"Tidak masalah, aku bisa mengatasinya." Jawab Toshiro

"Itu tidak bagus untuk kesehatan anda, My Lord" Akatsuki berpikir sebentar "My Lord mungkin saya memiliki jalan keluarnya" Toshiro melihat pada gadis itu "bagaimana kalau anda tidur di kamar saya? Kamar saya luas dan ini hanya satu hari. Udara malam tidak baik untuk anda jika tidur di sofa."

"Hm..." Toshiro diam sebentar.

.

.

.

Akatsuki berjalan ke kamarnya, rambutnya sedikit basah karena habis mandi. Hari semakin malam dan dingin, 'tidak ada yang bisa menyaingi selain mandi dan bersantai' pikir Akatsuki. Dia membuka pintu kamarnya dan melihat seseorang sudah berada dikamarnya. Gadis itu tersenyum, "anda tidak ingin mandi sebelum tidur, My Lord?"

"Tidak perlu, aku terlalu lelah" jawab Toshiro.

Akatsuki mengangguk mengerti dan menyiapkan futon-nya berjauhan dari Toshiro. Dia tahu tuannya tidak akan nyaman tidur bersama perempuan dalam satu kamar.

"My Lord, anda ingin lampunya nyala atau mati?" kata Akatsuki.

Toshiro berbaring, "matikan, aku tidak suka terang" Katanya sambil menutup mata. Tak lama kamar itu menjadi gelap, "selamat tidur, My Lord." Akatsuki berbalik pada arah yang berlawanan. "Hm... selamat tidur" jawab Toshiro.

.


.

Please Review!