Battle Music!

.

Disclaimer : all characters in this story aren't mine. Vocaloid, © Yamaha and crypton future media inc. ^^ but this story is originaly MINE! Don't you dare to copy this, okay? :) . . . HEY, I'M SERIOUS

.

Warning : OOC(maybe), some typo, bahasa sehari-hari, GJ, ini bakal panjang sepertinya?, dll~

.

Don't like? Don't read :)

.

Like? Review~ ;D

.

.

Chapter 7

.

.


"kalo gitu kita masuk aja." Rin pun langsung membuka pintunya.

Betapa terkejutnya mereka saat memasuki kamar itu.

"AAAAAAAAA? !"

Kamar mereka sudah berantakan dan terdapat sampah bungkus makanan di lantai berserakan.

"s-siapa yang melakukan ini semua?" tanya Miku.

Rin terbelalak saat melihat siapa yang ada di atas kasur.

"HEY KAU!" Rin menudingkan jarinya pada salah satu cowok di atas kasur itu.

Yang merasa di tunjuk pun bertanya.

"hm? Gue?" tanyanya sambil menunjuk dirinya sendiri.

"TURUN LO!" bentak Rin pada cowok yang berwajah mirip dengannya itu.

"apa mau lu?" tanya Len dengan santainya sambil turun dari kasur itu.

"mau gue? Gue mau tau, lu ngapain di sini? Ini kamar gue!" Rin emosi.

"oh.. kamar lu. Kita salah kamar ternyata. kalo gitu, guys, kita pindah." Ajak Len pada Kaito, Oliver, dan Gumiya.

"HEI! KEMBALI KAU! BERESIN KAMAR GUEEE!" teriak Rin.

Tapi Len hanya melambaikan tangannya dan tetap pergi.

"dasar cowok nyebelin! Rese! Songong! So keren! Sebel gue!" Rin ngomel-ngomel.

"s-sabar sedikit Rin.." ucap Miku.

"kita bisa laporin ini ke Defoko-san kan?" usul Lenka.

Tanpa mencari, Defoko ternyata sudah datang ke kamar mereka.

"apa-apaan ini? Kalian baru saja datang, tapi sudah membuat tempat ini berantakan?" ucap Defoko.

"e-etto.. Defoko-san… ini bukan salah kami.." Gumi berusaha menjelaskan.

"tadi ada cowok-cowok yang datang ke sini dan membuat tempat ini berantakan.." jelas Yuki.

"tak usah mengelak. Tak ada bukti kan kalo cowok yang sudah mengacak-acak kamar kalian ini?" ucap Defoko.

Mereka terdiam.

"tapi.. kami ga bohong.. tadi—"

"sudah! Kalian di hukum! Sore ini, kalian harus membereskan taman belakang! Tak ada yang membantah! Atau kalian ku keluarkan. Mengerti?" ucap Defoko.

Mereka tak ada pilihan lain selain menurut.


Sore itu, sore pertama mereka di sana, mereka harus membersihkan taman belakang perusahaan itu sesuai perintah Defoko.

"aah! Menyebalkan! Kenapa begini sih!" gerutu Miku sambil menyapu taman itu.

"udahlah. Jangan ngomel mulu. Lu udah ngomel terus daritadi. Cape gue dengernya." Ucap Lenka yang sedang memegangi pengki untuk Miku.

"kenapa Defoko-san tidak mau mempercayai kita sih.." ucap Gumi yang sedang mengumpulkan sampah-sampah di taman itu.

"mungkin karena kita tak memiliki bukti.." ucap Yuki yang sedang membantu Gumi.

Sementara mereka masih ngomel-ngomel, hanya Rin yang diam tanpa suara sambil menyapu taman itu.

'si Rin kok ga kedenger sih suaranya daritadi?' pikir Miku.

'padahal daritadi kita semua udah ngomong, si Rin kok ga ada ngomong-ngomong nya sih?' pikir Gumi.

'mungkin Rin tadi ngomong? Tapi gue ga bisa denger apa-apa kalo Miku di sebelah gue ngomel terus!' pikir Lenka.

"kakak Rin.." panggil Yuki.

"…." Rin hanya diam sambil terus menyapu.

"Rin?" panggil Miku.

"..kalau kalian pikir gue ga ngomel, kalian salah besar! Gue daritadi ngomel-ngomel mulu dalem hati. Cape gue kalo harus ngomel-ngomel pake suara." Akhirnya Rin pun menjawab.

Setelah sekitar sepuluh menit,

"taman nya luas banget! Kalo gini.. kapan beres nya?" ucap Lenka.

"kita bagi tugas aja deh ya?" usul Gumi.

"iya, aku dan Lenka akan menyapu di sana ya." Miku dan Lenka pun pergi ke bagian taman yang lain.

"kalo gitu aku dan Yuki akan mengambil sampah di sana. Rin, kau tak apa sendiri di sini?" tanya Gumi.

"ga apa-apa. Gue emang lagi pengen sendiri." Ucap Rin.

Gumi dan Yuki pun pergi ke bagian taman yang lainnya.

Ketika Rin sedang menyapu taman itu, tiba-tiba..

"uhh.. sedikit lagi.. semangat Rin!" Rin menyemangati dirinya sendiri.

"iya sedikit lagi. Sini gue bantu." Ucap seseorang sambil membuang sampah di situ.

Rin masih bingung saat melihat sampah yang baru saja di jatuhkan orang itu.

'siapa ini? Darimana asalnya sampah ini?' pikir Rin yang sedang membungkukkan badannya untuk menyapu itu.

Rin pun mendongakan kepalanya untuk melihat siapa yang membuang sampah di situ.

"kau!"

Sementara cowok itu hanya tersenyum saja.

"lu ngapain sih di sini!" Rin pun bangun.

"gue? Bantu lu. Soalnya gue liat taman ini udah bersih, jadi gue kasih sampah lagi buat lu bersihin. Biar lu ada kerjaan."

"belom puas ya lu bikin gue susah? Ini tuh gara-gara lu tau ga!" Rin kesel.

"oh ya? Buktinya?" tanya Len.

'ah! kenapa aku baru inget sekarang!' pikir Rin.

"…ku pikir di kamar itu ada CCTV?" gumam Rin sambil tersenyum licik pada Len.

"heheh." Len tertawa garing.

"apa? Apa yang lucu?"

"CCTV? Helo~? Lu pikir gue se-bego itu apa? Gue juga kalo mau ngacak-ngacak kamar lo itu pasti gue nutupin CCTV nya dulu. Ahaha." Jelas Len.

"oh. Jadi benar ya? Len-san, kamu yang sudah mengacak-acak kamar Rin-san?" tanya Defoko yang sudah ada di belakang Len.

Sementara Len masih terdiam sambil membelakangi Defoko dan menatap Rin.

"ups~" ejek Rin sambil menjulurkan lidahnya pada Len.


"kak Gumi, sepertinya masih banyak di sana!" ucap Yuki sambil menunjuk sampah-sampah yang berserakan di pojok taman.

"ah.. iya.. kalau begitu aku akan membereskan di sana ya." Gumi pun pergi ke pojok taman itu.

Sementara Yuki membereskan di situ,

"ehm.. lagi ngapain?" tanya seseorang pada Yuki yang sedang mengumpulkan sampah-sampah.

'eh? siapa ini?' pikir Yuki.

Yuki pun membalikkan badannya dan melihat seorang anak cowok yang kira-kira seumuran dengannya.

"eh? siapa kau?" tanya Yuki.

"aku Gachapoid Ryuto. Kau Yuki kan?"

Yuki hanya mengangguk.

"ada apa kau ke sini?"

"aku hanya ingin..." Ryuto menggantungkan ucpannya.

"ingin?"

"berteman dengan mu." Ryuto memalingkan wajahnya yang sedikit memerah itu.

"eh?"


Gumi pun membersihkan sampah-sampah di pojok taman itu.

"ngapain kamu beresin sampah-sampah gitu?" tanya seorang cowok yang sedang duduk di kursi taman itu sendirian.

"eh?" Gumi kaget saat melihat cowok itu. jantungnya berdegup kencang dan mukanya memerah.

'c-cowok ini kan.. kalau ga salah kan namanya..' pikir Gumi.

"Gumiya." Gumiya mengulurkan tangannya pada Gumi mengajak bersalaman.

"eh.. i-iya. Aku Gumi. S-salam kenal."

"sepertinya kau kecapean ya? Kalau gitu, aku bantu ya?"

"eh? k-kamu mau bantu?"

Gumiya hanya diam dan mulai membantu Gumi. Sementara Gumi hanya tersenyum senang dan melanjutkan hukumannya itu.


"Miku! Kalo lu ngomel-ngomel terus, kapan selesainya nih!" bentak Lenka yang sudah kesal mendengar omelan Miku.

"ya abisnya gue kesel! EMANGNYA LU GA KESEL?" Miku membentak Lenka.

"ya sih.."

"KITA GA SALAH APA-APA TAPI KITA YANG DI HUKUM! NYEBELIN!" Miku masih ngomel-ngomel.

"…" Lenka hanya diam sambil masih memegangi pengki.

"LU BANTU GUE DONG! JANGAN DIEM AJA!" Miku sepertinya memang lagi nyari masalah atau apa nih.

"HEH! GUE KAN UDAH MEGANGIN NIH PENGKI BUAT LO!" Lenka membentak Miku balik.

"GANTIAN DONG! SEKARANG LU YANG NYAPU! CAPE GUE NYAPU MULU!"

"LU NGAJAK BERANTEM BANGET SIH!"

"GUE GA NGAJAK BERANTEM! LU YANG NGAJAKIN GUE BERANTEM!"

"LU GILA YA? !"

"LU YANG GILA!"

Miku dan Lenka pun berantem sampai akhirnya,

"fufufu.. dua orang cewek yang manis kalau di pandang.." ucap seorang cewek dengan twintail hitam.

Miku dan Lenka berhenti lalu melihat ke arah cewek itu.

"tapi sayang.. kelakuannya kamseupay." Lanjut seorang cewek lagi dengan rambut pirang panjang.

"heh! Lu ngomong apa barusan!" Miku kesel.

"fufufu.. kita pergi aja deh. Daripada ngeladenin mereka." Ucap cewek rambut hitam itu.

"iya. Nanti kita kebawa kamseupay loh." Ejek cewek berambut pirang itu.

"an***t! lu nyari masalah banget ya! Kita ga ada masalah ya sama lo!" Lenka pun mulai kesel.

Untunglah sebelum Miku dan Lenka menyerang dua cewek itu, Rin datang.

"Miku~ Lenka~" panggil Rin sambil berlari dengan imutnya ke arah mereka berempat.

"tunggu sebentar Rin. Kita ada masalah sama ni cewek." ucap Lenka sambil meng-glare kedua cewek itu.

"huh~ padahal gue ke sini mau ngasih tau kalo kita udah bebas dari hukuman dan boleh mandi sekarang. Ya udah deh~ aku mau ke Gumi sama Yuki. Daah~" Rin pun pergi.

"EH? KITA BEBAS HUKUMAN?" tanya Miku dan Lenka.

"iya~ si Len dan yang lainnya udah ketahuan. ayo sana mandi!" Rin pun pergi mencari Gumi dan Yuki.

Sementara Miku dan Lenka pergi sambil meng-glare kedua cewek itu sesaat.

"heh. Zatsune.. si cewek hijau itu, namanya sama dengan mu ya.." ucap cewek pirang itu.

"diam lah kau Seeu. Nama sih sama, tapi kelakuan beda jauh." Ucap Zatsune.


-di kamar nomer 2 –

Miku yang baru selesai mandi sedang mengaca itu tersadar akan sesuatu.

"Rin, si Gumi mana?"

"gatau tuh anak malah mau bantuin si Gumiya-san yang sekarang di hukum." Jawab Rin sambil mengeringkan rambutnya yang basah karena habis di keramas itu.

Tok tok

"hay semuaaa~~!" Teto langsung masuk ke dalam kamar itu. diikuti Rui yang sedang makan keripik.

"Teto.. kau ini main masuk saja. Untung kita lagi ga ada yang ganti baju.." Ucap Lenka sweatdrop.

"ehehehe~ maaf~" Teto hanya cengengesan.

"YUKI-CHAN~~ AYO CEPAT~ LIMA MENIT LAGI KTA HARUS KUMPUL~" teriak Miku.

"iya~ lima menit lagi aku keluar~" teriak Yuki.

"hah? Lima menit lagi Yuki keluar? TAPI LIMA MENIT LAGI KITA HARUS UDAH KUMPUL!" teriak Rin.

"ooh~ ya sudah aku keluar sekarang~"


Di aula utama, semua sudah berkumpul,

"terimakasih semuanya sudah mau datang tepat waktu. Kami hanya ingin memberitahukan kalo latihan kita akan mulai besok pagi. pukul lima pagi semua harus sudah berkumpul di halaman belakang. Kita akan mulai berolahraga." Ucap Kiyoteru.

"olahraga lagi…" Lui lemas.

"ahahaha~ sabar ya Lui~" Rin mengelus kepala Lui.

"eh?" muka Lui pun memerah.

'aaa! Cenat cenut guee!' teriak Lui dalam hati.

'cewek itu.. kenapa ngeliatin Lui sama Rin segitunya ya?' pikir Miku sambil melihat heran ke arah cewek berambut birumuda panjang.

"kapan makannya?" ucap Rui tiba-tiba yang sukses membuat Miku hampir meloncat kaget.

"sekarang kita akan makan malam terlebih dahulu. Setelah itu, langsung bersiap untuk tidur. Kita besok harus bangun pagi." Ucap Kiyoteru.


Mereka pun makan bersama di kantin.

"IA, apa kita harus mulai sekarang?" bisik Prima pada IA.

"entahlah. Sebaiknya kita tunggu saat yang tepat saja." Ucap IA.

"uuh~ padahal aku sudah tak sabar~" Prima menggembungkan pipinya.

"bersabarlah Prima. Ini waktunya tidak tepat. Sebaiknya kita tunggu saja. Sampai kita mendapat targetnya." Ucap Oliver.

"ingat! Kita harus rahasiakan ini dari Miki! Kalau Miki tau, dia pasti tak akan setuju!" bisik Oliver. Sementara IA dan Prima hanya mengangguk

'apa maksudnya itu..?' pikir Yuki yang tanpa sengaja mendengarkan omongan mereka.

Sementara di meja lainnya,

"ingat semua! Kita harus fokus pada impian kita untuk menjadi artis terkenal! Kita sudah dekat! Jadi… jangan sampai ada yang lengah! Maksudku.. jangan ada yang jatuh cinta pada seseorang disini. Karena menurut pengalamanku cinta itu bisa membuat seseorang jadi lemah dan rela mengorbankan apapun termasuk impiannya. Aku tak mau itu terjadi pada salah satu dari anggota kelompokku disini." Ucap Aoki dengan suara pelan.

"aku mengerti.. aku mengerti.." ucap Iroha sambil fokus pada kegiatan makannya.

Sementara Gumiya dan Gachapoid hanya terdiam. Mengingat mereka sudah mulai naksir sama salah satu cewek di situ.

"Momo-neechan!" bisik Yuki.

"ya?"

"ku rasa.. IA-san, Prima-san, dan Oliver-san itu menyembunyikan sesuatu.." ucap Yuki.

"Yuki.. berhentilah berkhayal dan berpikiran buruk pada orang." Ucap Neru.

"tapi aku dengar sendiri tadi!" bantah Yuki.

"sudahlah jangan ribut. Kita makan saja dengan tenang." Ucap Haku.

'huh! Semuanya tak mempercayaiku..' pikir Yuki.

"Luka~~" Gakupo duduk di sebelah Luka.

"Gakupo. Aku mau tanya, kenapa kamu bisa jadi juri di sini?" tanya Luka dengan memasang muka yang kebingungan.

"hmm.. kenapa yaa? Itu sih gampang! Gakupo bisa melakukan apapun agar tetap bersama Luka~" jawab Gakupo. "kalau Luka jadi juri di sini sedangkan Gakupo tidak, nanti kita akan jarang bertemu dong? Jadi.. aku pengen ikut jadi juri juga deh~" lanjut Gakupo.

Tiba-tiba Kiyoteru datang dan duduk di sebelah kanan Luka.

"aku ikut duduk ya." Ucap Kiyoteru.

"silahkan~" Luka tersenyum manis pada Kiyoteru, sementara Gakupo meng-glare nya.

Setelah semua selesai makan, semua pun bersiap untuk tidur.


-di kamar nomer 3 –

Semua sibuk dengan urusannya masing-masing. Rui yang masih makan cemilan, IA dan Prima yang sibuk sendiri, Meiko yang sedang membaca buku.

'uuh~ semua sibuk ya.. aku ngapain ya?' pikir Teto.

"Meiko-san~" Teto mendekat ke arah Meiko yang duduk di atas kasur.

"hm?" Meiko masih fokus pada bukunya.

"baca apa sih? Kayaknya serius banget?" Teto emang hobi ganggu orang.

"buku." Jawab Meiko sekenanya.

"aku boleh ikut baca?" tanya Teto dengan wajah yang berbinar-binar.

"hm. Asal jangan mengganggu ku."

"baiklah~ Rui-chan! Sini!" Teto menggerak-gerakkan tangannya memanggil Rui untuk ikut ke atas kasur juga.

"nah.. kalo gini kan rame~ kita bertiga baca buku bareng-bareng sambil makan cemilan bersama juga~" ucap Teto.

"IA-san dan Prima-san mau ikut juga?" tanya Teto.

"aku mau~!" saat Prima akan bergabung, IA menahannya dan memberi isyarat mata.

Prima yang mengerti maksudnya tak bisa apa-apa selain menurut saja.

'aneh.. mereka itu lagi ngapain sih? Kok sibuk sendiri? Ga mau bergabung.. huh ga asik.' Pikir Teto.

"Prima! Kau ini ingat tidak sih apa kata Oliver? Kita harus hati-hati dengan Teto-san!" bisik IA pada Prima.

"iya.. iya.."

"atau kau mau rencana kita gagal?"

"ngga.. ngga.."

"kalau begitu, jaga jarak dengannya!"

"sip.. sip.." Prima hanya manggut-manggut dan pergi tidur.

Sementara itu, tiba-tiba saja hp Teto bergetar menandakan ada sms.

"eh? siapa ya?" Teto pun membuka sms nya.


Teto, bagaimana kau di sana? Baik-baik saja? Kau sedang apa sekarang? Apa kau mendapat teman sekamar yang baik? Bagaimana guru di sana? Mereka baik padamu kan? Balas ya! Aku khawatir pada mu!

From : Ted


Sementara itu, jauh di sana..

Piip piip


Hai Ted! Aku baik-baik saja. Aku sedang membaca buku dan makan cemilan bersama Meiko-san dan Rui-chan! Teman sekamar ku baik kok! Guru-guru di sini juga ramah! Kau tak perlu mengkhawatirkan aku!

From : Teto


"tuh kan. Apa kubilang? Kau tak perlu mengkhawatirkan dia, Ted. Teto itu orangnya ramah, jadi dia pasti langsung punya banyak teman." Ucap Lily.

"tetap saja.. aku merindukannya.. aku ingin segera bertemu dengannya!" ucap Ted.

"nanti kalau mereka kalah, Teto juga akan pulang." Leon berusaha menenangkan Ted.

"aku tak bisa menunggu. Aku harus membuat kelompok itu kalah secepatnya.."


.

.

TBC~

Review please? :D

.


kalo review di chapter ini ada lima atau lebih... aku publish besok deh :D