CHAPTER 7
Title : As Long As I Live
Disclaimer : Prof. J.R.R. Tolkien's.
Betareader : Thanks to HeastCliff and Angelina, sisanya adalah kesalahan saya.
Rating : Akan lebih baik jika dikategorikan sebagai FanFiction 'R'.
Timeline : Awal musim semi, TA 151.
Summary : Erestor di tangkap oleh sekelompok Prajurit Peri yang di bayar mahal oleh seorang Penyihir Gelap di Greenwood bagian Selatan. (AU ; Angst-Friendship. No-Slash.)
Chapter WARNING : Very AU and a bit of the Walking Dead. (With my own imagination though :v)
Lord of Imladris itu menatap Raja dari kerajaan Peri tempatnya berada sekarang. Peri Sindar itu sedang berdebat dengan sengit bersama Glorfindel tentang darimana pasukan mereka akan mulai mencari Erestor, terlebih lagi dalam ultimatum dari Morazon, Elrond dan Thranduil harus datang kehadapan Morazon secara langsung.
"Elrond!" Panggilan dengan nada tajam dari Glorfindel membuatnya berkedip dan langsung memfokuskan kembali pikirannya pada peta yang terhampar dihadapannya.
"Thranduil, apa bagian Patroli terluarmu mencakup daerah pegunungan?" Tanya Elrond tiba – tiba yang membuat Thranduil sedikit kaget. Namun Raja itu kemudian menganggukkan kepalanya. "Ya, kurang lebih sampai sana, memang kenapa?"
"Jika patroli terluarmu sampai kedaerah itu, artinya tempat persembuyian Morazon mungkin ada di sekitar sana." Jawab Elrond yang mengutarakan pemikirannya.
"Mengapa demikian?"
"Lihat peta hutan ini, ada banyak gua bertebaran serta pepohonan rapat setelah pegunungan bukan? Menurutku itu tempat yang cocok untuk bersembunyi, dan kupikir gua – gua itu dapat dipakai sebagai tempat perlindungan oleh pasukan dalam jumlah yang cukup besar." Jelas Elrond dengan tenang. Dari ekspresi wajah Glorfindel dan Thranduil, lama kelamaan dua Peri itu seperti mengetahui apa rencana Elrond yang sebenarnya.
"Jadi maksudmu, bisa jadi di salah satu tempat itu Morazon bersembunyi?" setelah berkata demikian Raja itu kemudian mengangguk. "Kalau begitu kita bisa mengepung daerah itu dengan prajurit kita, setelahnya kita menyerang Morazon secara bersamaan."
"Tepat sekali!" Balas Elrond dengan senyum lebarnya. "Tapi aku tidak mengenal betul daerah disana, dan ini juga hanya sebatas gagasan saja, bagaimana menurutmu Glorfindel?"
"Aku setuju saja dengan rencana kalian berdua, namun jika boleh memberi saran, lebih baik menyisipkan satu regu kecil untuk masuk ke jantung dari tempat Morazon itu." Timpal Glorfindel yang mulai benar – benar serius. "Mungkin kita bisa membagi beberapa prajurit kedalam beberapa kelompok?"
Elrond menatap Thranduil untuk beberapa saat sebelum mengagguk tada setuju. "Ya, kita bisa lakukan itu. Tapi bagaimana dengan aku dan Thranduil?"
"Kalian berdua harus membaur bersama para Prajurit lainnya, biar aku dan Seledar yang menjadi Kapten dari pencarian ini. Dan setelah berhasil masuk ke tempat Morazon, kalian baru muncul. Bagaimana?" Saran Glorfindel dengan sebuah senyum rendah.
"Aku setuju dengan rencanamu, Glorfindel. Tapi aku tetap harus merapatkan hal ini bersama Seledar dan Keluargaku terlebih dahulu. Berikan aku malam ini untuk berbicara dengan mereka, besok baru kita mulai mecari Penasihatmu itu." Kata Thranduil yang sama seperti Elrond, terlalu sayang dengan keluarga mereka.
"Baiklah, setidaknya untuk saat ini kita sepakat untuk masuk ke daerah Morazon dengan cara seperti itu." Jawab Elrond dengan senyum.
Thranduil mengangguk sebelum pergi keluar dari ruang kerjanya terlebih dahulu, ia menyadari mungkin ada hal yang ingin dibahas oleh Elrond dan Glorfindel. Dan disamping itu, ia punya masalah yang harus ia selesaikan sendiri.
Setelah Thranduil keluar, Elrond menatap Kaptennya dengan mata seorang Penyembuh, instingnya mengatakan bahwa Peri berambut Emas dihadapannya ini butuh telinga yang baik untuk mendengarkan masalahnya.
"Bagaimana jika kita terlambat, Elrond?"
Glorfindel sudah bertanya sebelum Elrond berbicara, dan Balrog-Slayer itu berbicara langsung ke intinya dengan nada suara aneh.
"Kita tidak tahu, 'Fin.. Tapi jika ada orang yang mengetahui Erestor lebih baik dariku, itu adalah kau. Aku tahu hatimu masih yakin bahwa sahabatmu itu masih hidup. Lagipula masalah ini sepertinya melibatkan aku dan Thranduil juga." Kata Elrond yang kemudian tersenyum. "Menurutku Morazon menangkap Erestor adalah sebagai umpan, dan Peri yang sebetulnya Setan itu inginkan adalah aku dan Thranduil. Tetaplah memegang harapan dengan teguh, Glorfindel... Mungkin hanya itu yang akan membuat Erestor tetap hidup sampai kita menyelamatkannya nanti. Pasti." Jelas Elrond yang berdiri di depan Glorfindel.
"Semoga, Elrond, semoga..."
.
.
Erestor menatap kosong ke arah tembok batu dihadapannya, ia merasa aneh setelah memori suram dalam kehidupannya diputar dengan paksa oleh Morazon. Pikiran Advisor itu tidak mau tenang karena bayang – bayang dari masa lalunya.
Meski berusaha untuk tidak tenggelam dalam memori kelam hidupnya yang diputar oleh Morazon begitu saja, tetap saja wajah mereka akan terus menghantui pikirannya.
Ketika pintu selnya dibuka untuk kesekian kalinya, advisor itu diam saja, tidak bergerak sama sekali, hanya menatap kosong kedepannya. Bahkan ketika tangan kotor dua orc yang menariknya keluar menyentuh dirinya, ia hanya diam, seakan tidak peduli dengan apa yang akan dilakukan oleh dua monster itu.
Seakan tersentak, Erestor mengerjapkan matanya ketika tangan Morazon yang sangat dingin itu ditempelkan dipipinya.
"Sudah bangun, Sweet Prince?" Tanyanya dengan serigai tajam.
"Tidak mungkin..." Gumam Erestor yang membelalakkan matanya ketika yang berdiri didepannya ternyata bukan Morazon, melainkan Glorfindel. "Glorfindel?!"
"Ya kau bodoh, ini aku." Jawab sang Peri Vanyar dengan suara dingin yang membuat Erestor tersadar bahwa yang ada didepannya bukan Glorfindel yang sesungguhnya.
"Bukan." Kata Erestor pada akhirnya setelah diam beberapa saat. "Kau bukan Glorfindel." Katanya lagi seperti mantra. "Glorfindel yang kukenal tidak akan berkata sedingin itu kepada siapapun. Bahkan tidak pada diriku!" Bentaknya yang untuk keterkejutan dirinya sendiri, mendapatkan kembali semangatnya.
"Kau tidak percaya pada sahabatmu sendiri, Erestor?" Tiba – tiba saja suara dingin itu berubah hangat seperti jika yang ada didepannya benar – benar Glorfindel. "Aku sudah jauh – jauh kesini hanya untuk menyelamatkanmu, Erestor..."
Menatap kedalam mata berwarna Azure milik Glorfindel dengan tajam, advisor itu kemudian memejamkan matanya dengan konsentrasi penuh. Dia bukan Glorfindel. Pikirnya dalam – dalam, ia berterima kasih pada Galadriel yang pernah mengajarinya bagaimana cara melepaskan diri dari sihir hitam. Oh Eru, kuatkan hati ini untuk dapat melihat wujud Setan yang berdiri di depanku ini! Dengan penuh keyakinan, Erestor terus mengulang mantra itu sebelum membuka matanya dengan mantap.
Apa yang ia lihat membuatnya menyerigai tanpa sadar. Ekspresi wajah Morazon begitu kaget saat mengetahui bahwa sihirnya berhasil dipatahkan, dan bahkan dua orc yang sedari tadi memegangi lengan Erestor pun melepaskannya begitu saja seperti kaget karena sesuatu.
Sejenak, Erestor melihat kepanikan terukir jelas pada wajah Morazon sebelum dirinya maju dan mencekik leher Erestor dengan tangan kirinya. Mata merah milik Morazon seperti menyala ketika manta Advisor Ereinion itu menghempaskan kekuatan sihir yang ada dalam tubuhnya kedalam tubuh Erestor.
"Kau tidak kuat bukan?!" Teriak Morazon seperti kesetanan ketika bukan hanya wajah kesakitan yang ditunjukan oleh Erestor, melainkan sebuah senyum rendah yang membuat dirinya makin geram dan ingin segera mematahkan semangat dalam hati Peri itu.
"Kau salah." Bisik Erestor ditengah rasa sakit akibat gempuran sihir hitam yang dipaksa masuk kedalam tubuhnya itu. "Aku kuat." Senyum rendahnya melebar dan mengulangi tindakan sebelumnya, Erestor membiarkan seluruh energi milik Morazon masuk kedalam tubuhnya sebelum melepaskan semuanya begitu saja kesegala arah.
"Ukh!" Rutuk Morazon ketika menyadari kebodohan dirinya, Erestor bukanlah Peri lemah. Itulah kesalahannya karena sudah salah memperhitungkan kekuatan Peri Raven itu.
Ketika Erestor menghempaskan sihir gelap itu, sinar terang seperti pilar memancar ke atas menembus atap dari Hall itu. Bahkan Morazon terpental kebelakang dengan jarak yang cukup jauh.
"Sialan kau!" Teriak Morazon yang langsung bangkit dan menghampiri Erestor yang terkapar di lantai. Mata Peri itu terpejam dan di lehernya muncul bekas tangan Morazon yang memerah. Dari kondisinya saja Morazon tau bahwa Peri itu sudah pingsan.
"PELORON!" Panggil Morazon dan seketika Peri itu muncul dengan panik, sepertinya ia juga terkena efek dari sinar tadi. "Aku tidak akan menunggu Elrond dan Thranduil. Bawa Peri ini ke atap dan ikat dia di tiang yang menghadap langsung ke bulan." Bahkan Peloron pun bergidik ngeri ketika mendengar Tuannya berbicara. "Kita laksanakan upacaranya tepat saat purnama muncul dua hari lagi. Biarkan. Meski tidak sekuat seharusnya, setidaknya aku dapat membalaskan dendamku pada dua Lord itu."
.
.
Thranduil menatap dengan tajam ke arah Selatan. Sebuah pilar cahaya memancar tinggi dan membuat banyak Peri keluar dari Talan mereka hanya untuk melihat pilar cahaya itu.
"... Morazon." Gumam Thranduil penuh kebencian,Raja itu tidak menghiraukan tatapan penuh tanya ketika Peri berambut pirang pucat tersebut hampir berlari ke arah lapangan utama. Meski ia ikut berlari keluar, namun tidak seperti Peri lainnya, alasan sebenarnya ia keluar adalah karena ia pernah melihat kejadian ini ketika Perang di akhir Tahun Kedua dulu.
"Gawat!" Rutuknya sambil melihat sekelilingnya dan mencari tanda akan kehadiran kaptennya, Seledar.
"Tuanku!" Panggil Peri yang sedang dicari – cari oleh Thranduil itu, mimik wajah Peri berambut silver itu sama seperti dirinya, panik. "Pilar Cahaya itu, apakah dia yang membuatnya?"
"Sepertinya begitu, Seledar." Jawab Thranduil yang memicingkan matanya ketika cahaya itu hilang secara perlahan. "Siapkan lima puluh Prajurit terbaik yang ada sekarang. Temui aku di sini dalam satu jam." Perintah Thranduil yang langsung berputar dan bergegas masuk kedalam.
"Tapi mau apa kita, Thranduil?" Tanya Seledar yang terkadang memanggil sahabatnya itu dengan namanya saja.
Raja itu berhenti sejenak ditempatnya sebelum menoleh, matanya berkilat – kilat. "Berburu sekaligus mengunjungi teman lama." Jawabnya singkat.
.
.
Elrond megucapkan terima kasihnya pada seorang Pelayan yang tergopoh – gopoh memberi tahu dirinya bahwa ia harus bersiap dan pergi ke lapangan dalam satu jam untuk 'Berburu'.
Tidak sampai lima belas menit Lord itu sudah keluar untuk menuju kamar Glorfindel yang ada di seberang kamarnya.
"Lama sekali bersiapnya, Elrond." Kata Glorfindel yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya dengan pakaian lengkap. Keduanya melesat menuruni tangga menuju lapangan utama seperti kesetanan.
"Dua hari lagi purnama akan muncul, Elrond." Kata Glorfindel setelah keduanya tiba di lapangan, tampak beberapa prajurit Peri baik dari Imladris maupun Greenwood sudah berada di lapangan bersama kuda mereka. "Sepertinya Morazon mempercepat rencananya."
"Tu-tunggu dulu! Rencana apa?" Tanya Elrond dengan sebelah alis terangkat.
"Sama seperti waktu di Aliansi Terakhir, ia pergi diam diam untuk menyiapkan sihir itu bukan? Mengubah beberapa Peri bawahannya menjadi kau tahu... semacam Mayat Hidup. Meski jumlahnya tidak lebih dari sepuluh Peri, tetap saja membuat kita kerepotan." Kata Glorfindel dengan nada rendah, Vanyar itu tidak ingin ada Peri lain yang mendengar.
"Peloron salah satunya, Tuanku." Kata Asaren tiba – tiba. Sekretaris itu sudah berdiri tepat disamping Glorfindel dengan mata nanar. "Belakangan ini Kakak sering berkata bahwa Tuannya sudah kembali dan benar saja."
"Bukannya waktu itu sihirnya sudah hilang sepenuhnya? Tidak mungkin masih membekas! Lady Galadriel dan Lord Celeborn sendiri yang setengah mati membersihkan sihir itu dari mereka bukan?" Tanya Glorfindel yang kembali memutar otaknya untuk mencari jawaban yang tepat mengenai hal ini.
"Memang benar, Kapten. Tapi Lady Galadriel sepertinya tidak menghilangkan kutukan itu dari hati mereka." Jawab Asaren yang sedikit merinding.
"Beritahu apa yang kau ketahui, Asaren." Perintah Elrond yang benar – benar pusing dengan bertambahnya masalah satu demi satu.
"Saya tidak tahu pasti, tapi hanya Peloron yang masih terkena sisa kutukan itu. Enam Peri yang lain sudah berada di Valinor dan sisanya di Mandos." Jawab Asaren tenang. "Saya rasa satu – satunya cara untuk benar – benar menghilangkan sihir itu dari hati orang tesebut adalah melalui keluarga mereka sendiri dan harus didasari keinginan kuat penderita, setidaknya Peloron pernah berkata seperti itu."
"Tapi kenapa Kakakmu tidak terbebas dari sihir gila itu?" Tanya Glorfindel.
"Dia tidak mau. Dia lebih memilih Morazon ketimbang nyawanya sendiri." Balas Asaren sambil menghela nafasnya perlahan.
Elrond tiba – tiba menyadari bahwa Erestor tidak memiliki satupun keluarga kandung yang masih hidup di Middle–Earth, berarti satu – satunya cara adalah mengirim Advisor itu ke Valinor. "Tapi Erestor tidak memiliki keluarga kandung lagi di Arda!" Katanya dengan sedikit sedih. "Itu berarti kita akan kehilangan Erestor di Imladris..."
Glorfindel menggelengkan kepalanya. "Erestor masih punya diriku, Elrond." Jawab Vanyar itu mantap. "Aku bisa meminta tolong pada Lady Galadriel untuk mengikat jiwaku dengan Erestor sebagai saudara laki – lakinya. Peri bisa melakukan itu, membuat pertalian yang kuat, bahkan dengan yang bukan satu darah sekalipun."
Elrond menatap Asaren yang mengangguk dengan sebuah senyum. "Kami bergantung padamu, Glorfindel."
.
.
Thranduil mengecup kening istrinya dengan lembut, ia merasa sedikit bersalah karena memberi tahu secara mendadak kepada separuh jiwanya itu. "'Rin, maafkan aku harus pergi secara mendadak. Pilar Cahaya tiba – tiba muncul dan aku harus bergegas untuk menelamatkan Erestor." Kata Thranduil yang mengusap perut Tapelerin yang sudah membesar karena bayi yang dikandungnya sudah dalam usia kandungan sepuluh bulan, yang berarti tinggal dua bulan lagi sebelum kelahirannya.
"Tenang saja, Thranduil. Meski aku lebih memilih kau ada disini, kau juga harus membantu Elrond. Jangan mengalihkan punggungmu darinya, Lord itu membutuhkan bantuan kita sekarang Thranduil." Kata Tapelerin dengan sebuah senyum.
"Terima kasih, 'Rin. Aku tidak megikutsertakan Kelion kali ini, ia harus menjaga Ibu dan calon adiknya nanti." Ketika berkata demikian, semburat merah menghiasi pipi putih Ratu dari Greenwood itu.
"Terima kasih, Herven-Nin. Berhati – hatilah, aku yakin padamu, namun aku memiliki firasat bahwa Morazon sudah jauh lebih kuat dari sebelumnya."
.
.
Peloron mengikat Advisor itu di sebuah tiang di atap talan yang bebentuk datar itu, dengan kepala tengadah ke arah bulan yang hampir purnama, ia menyerigai. "Sebentar lagi kau akan menjadi salah satu dari kami, Erestor." Gumamnya sambil terus menatap langit.
"Kau akan merasakan kehebatan dari kekuatan mengerikan yang Tuan Morazon akan berikan kepadamu. Bahkan kau mungkin bisa mengalahkan Vanyar bodoh yang kau anggap saudaramu itu sendiri." Tawa rendah Peloron memecah keheningan, Peri tersebut lebih mengarahkan kata – kata tadi pada dirinya sendiri karena kenyataannya Erestor masih tidak sadarkan diri.
"Dan aku akan bisa membunuh Asaren dengan mudah." Kata Peloron yang menyunggingkan sebuah serigaian.
tbc.
Yak, kurang lebih segini dulu chapter 7 ini. Maaf rada berbelit dan telat dari waktu dimana saya harusnya sudah update /ditabok reader :v/ Review ditungguuu :3 -Luin.
