I Have A Love
Chapter 7
Happy reading^^~
.
.
.
.
Gemerlap cahaya lampu dari lantai dansa menjadi satu-satunya penerangan di tengah suasana temaram diskotik yang terletak di tengah kota seoul. Dentuman musik menggema seiring dengan hentakan demi hentakan tubuh sejumlah manusia yang meliukkan tubuhnya dilantai dansa. Pergerakan yang tak sepenuhnya beraturan, serta tawa yang terlontar menjadi pelengkap suasana 'dunia malam'.
Tak jauh dari lantai dansa, dua orang namja tampan belum beranjak dari tempat duduk mereka. Keduanya masih menikmati setiap tetes wine yang mengalir melalui tenggorokan. Menyesap cairan beralkohol itu dengan lamat-lamat, membuktikan kecintaan mereka pada minuman berkelas dengan harga selangit itu. Tentunya mereka tak sembarang memilih wine. Sesaat setelah memasuki tempat ini, donghae memesan wine terbaik yang tersedia disana.
Pemuda lainnya beberapa kali menolak tawaran donghae untuk turun ke lantai dansa. Sekedar melampiaskan gundah dengan menggoda wanita cantik yang kebetulan belum memiliki pasangan, namun ia menolak. Pemuda itu lebih memilih duduk diam dan memperhatikan orang-orang yang berdansa sebelum ia teringat sesuatu.
"ryeowook belum datang juga?" tanyanya dengan intonasi jengah. Dirinya dan donghae sudah satu jam di tempat ini dan tak kunjung melihat batang hidung yeoja muda berprofesi dokter tersebut.
Donghae mengangkat bahunya serampangan. "kau tahu sendiri dia tidak suka dunia malam. Aku berani bertaruh satu juta won jika dia datang" tantang donghae merasa yakin dengan pemikirannya. Bagaimana pun ryeowook itu yeoja baik-baik dan tidak pernah menyentuh minuman beralkohol. Tentu saja, karena yeoja itu dokter. Pastinya ia akan benar-benar menjaga kesehatan tubuh.
Kyuhyun membuang muka tak tertarik dengan tawaran donghae yang mengajaknya taruhan. Sangat tidak penting, menurutnya. Pikiran namja itu sudah kacau sejak meninggalkan apartemen. Satu-satunya pelampiasan kyuhyun hanya alkohol. Ia menatap sekeliling mencari sesuatu yang mungkin saja dapat menghiburnya malam ini.
"aish! Sial sekali!" namja berwajah stoic yang tadinya memandang sekeliling tanpa minat segera menolehkan wajahnya menatap donghae yang memekik. Sahabatnya itu memandang pintu masuk dengan tatapan kesal, mau tidak mau kyuhyun mengikuti arah pandang donghae. Sedangkan seorang yeoja imut yang menjadi objek pandangan keduanya melirik sekelilingnya dengan tatapan jengah. Ini pertama kalinya ia menginjakkan kakinya ditempat semacam ini. Biasanya ia hanya memenuhi permintaan para sahabatnya untuk bertemu dikafe atau beberapa tempat santai yang masih wajar lainnya. Kalau bukan karena suara berat kyuhyun terdengar seperti orang mabuk yang memintanya datang kesini sudah pasti ia menolak. Sayangnya ryeowook masih peduli pada sahabatnya itu. Ia tidak mungkin membiarkan donghae dan kyuhyun yang sama-sama mabuk menghabiskan sepanjang malam ditempat seperti ini. Otaknya masih mengingat jelas apa yang terjadi pada kyuhyun saat terakhir kali namja itu mabuk. Ia tak mau hal itu terulang lagi.
"satu juta ku melayang.. haish!" donghae menggerutu tak jelas dan mengutuki mulutnya yang begitu mudah melontarkan taruhan yang tak bisa dibilang sedikit seraya menelepon salah satu orang kepercayaannya untuk mengirim satu juta won ke rekening kyuhyun saat itu juga.
Kyuhyun tak menghiraukan gerutuan donghae. Ia juga tak terlalu peduli dengan uang yang akan ia terima nantinya, toh ia tak pernah kekurangan uang. Donghae tak membayarnya pun tak masalah. Pemuda itu melambaikan tangannya ke arah ryeowook, memberi tahu keberadaannya dimeja nomor 137. Tepat setelah melihat lambaian kyuhyun, yeoja dengan tubuh kecil itu berjalan mendekat. Melewati lantai dansa yang sesak itu dengan nafas terengah.
"ya Tuhan, mereka liar sekali.." gumam ryeowook setelah sampai dimeja kyuhyun dan donghae. Ia menggelengkan kepalanya saat kembali menoleh ke arah pasangan yang berciuman panas di lantai dansa. Seperti tidak punya malu saja!
Kyuhyun terkekeh geli melihat kepolosan ryeowook. "hal semacam itu sudah biasa.."
Dengan kasar ryeowook mendudukkan tubuhnya disofa, disampingnya ia disambut oleh wajah merengut donghae. "kenapa bocah ini?" kyuhyun menjawab pertanyaan ryeowook dengan gelengan.
"sudah ku transfer.." ucap donghae tak bersemangat dibalas dengan kekehan kyuhyun dan tatapan bingung ryeowook.
"sudahlah, aku tidak peduli. Dimana sungmin?" ryeowook melirik space kosong disebelah kyuhyun. Ia mengira kyuhyun juga mengajak sungmin ke tempat ini.
"di apartemen" jawab kyuhyun singkat. Untungnya namja itu belum terlalu mabuk, ia masih bisa menjawab pertanyaan dengan benar.
"sendirian? Kenapa tidak diajak?"
Donghae melirik ryeowook memberi isyarat agar yeoja itu tidak membahas sungmin. sedangkan ryeowook malah semakin penasaran. Keduanya memandang kyuhyun dengan tatapan yang berbeda. Donghae yang sudah diceritakan masalahnya menatap kyuhyun dengan was-was, berbeda dengan raut penasaran ryeowook meminta penjelasan dari namja berwajah pucat tersebut.
"untuk apa? Dia bukan siapa-siapa" jawab kyuhyun yang mulai merasa pusing. Namja itu menangkup kepalanya, berdesis lirih ketika kepalanya berdenyut. "lagi pula ia selalu menolak jika kuajak pergi bersama. Aku bosan dijauhi seperti itu, wook." Lanjut kyuhyun mengeluarkan kekecewaannya selama ini. Ia selalu bersikap baik-baik saja di depan sungmin walaupun hatinya merasa sakit menerima penolakan yang dilakukan sungmin. ia juga punya titik jengah. Tak selamanya ia bisa menahan kekecewaannya begitu saja.
belum lagi masalah pernikahan mereka yang harusnya sudah dilaksanakan sebulan yang lalu. Sungmin sendiri yang menolaknya, yeoja itu mengatakan ia masih butuh waktu. Kyuhyun mengabulkannya. Ia berhasil merayu appa dan eomma nya yang meminta mereka untuk segera melangsungkan pernikahan, orangtuanya memahami perasaan sungmin dan bersedia menunda. Semuanya demi sungmin, tapi yeoja itu seolah tak pernah menghargai apa yang kyuhyun lakukan. Biarlah ia mengungkapkan kekecewaannya sekarang, karena besok pagi ia akan kembali menjadi kyuhyun yang tak mampu mengungkapkan kekecewaannya dihadapan sungmin. entahlah, yang jelas ia tak ingin membuat sungmin kecewa kalau saja ia salah-salah bersikap. Kyuhyun merasa ... ia mulai menyayangi yeoja itu.
Ryeowook maupun donghae menatap kyuhyun khawatir. Sahabatnya itu sangat jarang menunjukan kesedihannya. Tapi kali ini kyuhyun berbeda. Pemuda itu terlihat sangat sedih, lebih tepatnya- kecewa.
.
.
.
.
Akhir pekan yang selalu dinantikan hampir seluruh umat manusia akhirnya datang. Kalau biasanya mereka akan beraktifitas sejak pagi, berbeda dengan saat ini. Kebanyakan orang memilih untuk bangun siang hari. Mengganti waktu tidur mereka yang kerap terpotong kala alarm berbunyi menandakan mereka harus bersiap untuk mulai beraktifitas. Tak jauh berbeda dengan dua sosok berbeda gender yang masih terlelap pagi ini.
Yeoja yang masih terlelap itu bergerak gelisah ketika perutnya mulai terasa ngilu. Kedua tangannya mengusap perut yang tak lagi datar itu dengan gerakan pelan dan teratur. Matanya masih terpejam, tak berniat untuk sekedar membuka mata mengingat ini adalah akhir pekan. Hampir saja ia terlelap lagi kalau ia tidak merasa mual tiba-tiba. Dalam satu kerjapan mata, tangannya beralih untuk menutupi mulut. Menahan apa saja yang bisa ia muntahkan saat itu. Ia beranjak, berjalan sempoyongan ke arah kamar mandi.
"hoekk.. hoekk..."
Sungmin merasakan de javu. Teringat kembali pada awal kehamilannya ketika ia masih sering mengalami morning sick. Biasanya akan ada tangan hangat kyuhyun yang mengusap punggungnya untuk meredakan mual yang ia rasakan. Ia butuh namja itu saat ini.
Kyuhyun masih terlelap kalau saja indera pendengarannya tak menangkap suara muntah dari arah kamar mandi. Dengan panik ia menyibak selimutnya kasar dan secepat mungkin menggapai pintu kamar mandi.
"min.. kau mual lagi?" tanyanya seraya mengusap punggung yeoja manis itu dengan lembut. Sungmin mengangguk lemah. Perutnya belum terisi apapun dan ini sangat menyiksa.
"perlu kita panggil ryeowook?" sungmin meraih lengan kyuhyun, menjadikan lengan kokoh itu menjadi topangan tubuhnya yang terasa lemas. Ia menggeleng, menolak tawaran kyuhyun.
"aku hanya butuh istirahat.." namja itu mengusap dagu sungmin, membersihkan sisa liur yang masih menetes disana. setelahnya ia merangkul sungmin, membantu yeoja itu untuk kembali berbaring di kasur. Baru saja kyuhyun akan beranjak untuk kembali duduk disofa sebelum tangan sungmin menahan pergerakannya. Ia beralih menatap sungmin, mengangkat alisnya seolah bertanya 'ada-apa?'
"a-aku... emm, temani aku disini kyu.." tidak berlebihan jika kyuhyun berkata jantungnya hampir copot mendengar permintaan sungmin, karena pada kenyataannya organ tubuh tersebut sontak berdetak tak karuan ketika sungmin melontarkan kalimatnya. Sungmin sendiri tidak tahu mengapa ia meminta kyuhyun untuk menemaninya, ia hanya merasa desakan itu menguar begitu saja, ia ingin berada dekat dengan kyuhyun.
Kyuhyun berdehem menghilangkan gugup. "baiklah.." namja tinggi itu menarik sebuah kursi, meletakkannya disamping ranjang dan mendudukkan tubuhnya disana. ia memperhatikan sungmin yang masih sibuk mengusap perutnya. Tak dapat kyuhyun pungkiri, ia sangat berharap dapat mengusap perut itu juga. Ia ingin merasakan pergerakan kecil dari bayi mereka. Tapi rasanya tidak mungkin.
"kau mau.. menyentuhnya juga?" tebak sungmin kala menyadari arah pandangan kyuhyun yang mengarah ke perutnya. Kyuhyun agak tersentak meski tak terlalu kentara, ia memandang sungmin ragu.
"bolehkah?"
Sungmin mengangguk, tak lupa dengan senyuman manis yang ia sematkan dibibir pinkishnya. Tak menunggu apapun, kyuhyun mengarahkan tangannya untuk menyentuh perut sungmin yang mulai membuncit. Buncahan bahagia terasa di dada kyuhyun ketika tangannya menggapai perut hangat sungmin, di dalam sana bayi mereka sedang bertahan hidup dan bergantung sepenuhnya pada sungmin. perlahan ia menggerakkan tangannya, mengusapnya dengan lembut dan tertawa kecil ketika merasa ada pergerakan kecil dari dalam.
Sungmin ikut tersenyum melihat wajah bahagia namja tampan yang sedang mengusap perutnya. Tak berniat mengagetkan, tangannya dengan perlahan menyentuh tangan kyuhyun dari atas. Kyuhyun menoleh ketika tangan sungmin bertumpu diatas tangannya.
"kau bisa merasakan ia bergerak?" sungmin membawa tangan kyuhyun ke arah pergerakan yang ia rasakan ditubuhnya.
"dia bergerak, min.." seru kyuhyun penuh haru. Ia secara langsung merasakan pergerakan buah hatinya. Demi apapun, kyuhyun tak pernah merasa sebahagia ini.
.
.
.
.
Bunyi bel dari arah depan mengalihkan perhatian keduanya dari tontonan didepan mereka. Kyuhyun berinisiatif untuk membukakan pintu dan membulatkan matanya ketika wajah sang eomma yang pertama kali ia lihat, dibelakang yeoja paruh baya itu hangeng yang masih berpakaian kantor terlihat merangkul pinggang heechul dan balas menatapnya.
"kalian mau apa?" tanya kyuhyun polos, merasa bingung karena tak biasanya sang ayah mau membagi waktu kerjanya untuk sekedar mampir ke apartemennya.
"ya! kau tidak mempersilahkan kami masuk dulu, bocah nakal?" heechul mengetukkan kipas tangan yang ia genggam ke kepala kyuhyun. Melampiaskan kekesalannya karena sikap kyuhyun yang 'kelewat sopan'.
Kyuhyun terkekeh sambil menggaruk belakang lehernya yang tak gatal. "masuklah.."
.
"kalian sudah menentukan tanggalnya?"
Dua orang yang merasa ditanya saling berpandangan. Setelahnya kyuhyun yang terlebih dulu memutuskan pandangan mereka lalu kembali menatap orangtuanya.
"kami belum memikirkan kesana.. sepertinya sungmin belum si-"
"aku sudah siap.. aku bersedia menikah dengan kyuhyun.." potong sungmin cepat. Kyuhyun langsung saja menatapnya bingung. Benarkah sungmin sudah siap menikah dengannya?
Sungmin mengangguk yakin seolah menjawab tatapan bingung kyuhyun. "masalah tanggal, aku serahkan pada kyuhyun saja.."
Kyuhyun membuka mulutnya ingin menjawab namun lagi-lagi ucapannya terpotong.
"bagaimana kalau tanggal 27 nanti? Kebetulan itu hari minggu.." usul heechul bersemangat. Disampingnya, hangeng menarik bahu heechul meminta sang istri untuk tak terlalu heboh.
"biarkan kyuhyun yang menentukan, yeobo.."
Sungmin tersenyum menanggapi. Ia merasa seperti memiliki orangtua lagi, hangeng dan heechul bersikap baik padanya. Tak jarang heechul mampir ke apartemen mereka- uhm. Tepatnya apartemen kyuhyun- tiap akhir pekan meskipun hangeng tak selalu ikut karena alasan pekerjaan. Perlahan ia merasa nyaman berada ditengah-tengah keluarga kecil ini, apalagi kyuhyun yang selalu bersikap lembut padanya. Tak dapat sungmin pungkiri, ia mulai merasa nyaman tinggal bersama namja yang lebih muda darinya itu.
Heechul mengerucutkan bibirnya kecewa. Ia hanya terlalu bahagia karena anak semata wayangnya akan menikah, bahkan tak lama lagi ia akan menimang cucu. Melihat perubahan raut wajah sang eomma membuat kyuhyun merasa tak enak.
"eum.. boleh juga. Aku setuju tanggal 27. Bagaimana min?"
"aku juga setuju dengan chullie eomma.." jawab sungmin yang disambut dengan senyum lebar heechul, merasa senang karena usulnya disetujui.
"cha! Kalau begitu kita sepakaaattttt~ eomma sudah menentukan perancang terbaik dari Jepang untuk pakaian pemberkatan dan resepsi pernikahan kalian.. kebetulan seminggu ke depan ia akan berkunjung ke korea.. temuilah perancang Lee minggu depan, ini alamatnya" seru heechul kelewat semangat seraya menyodorkan kartu nama sesorang yang ia sebut-sebut perancang lee, dibalas dengan kekehan dari kyuhyun dan sungmin yang mengambil alih kartu nama tersebut serta hangeng yang mencubit pipinya gemas.
.
.
.
.
"kau yakin min?" tanya kyuhyun tepat setelah dirinya dan sungmin memasuki kamar seusai mengantar kedua orangtuanya pulang. Pasalnya, ia merasa sikap kebersediaan sungmin terlalu tiba-tiba.
"ne.. kita fitting baju minggu depan kan?" kyuhyun mengangguk kaku. Bukannya tak senang mengetahui kenyataan kalau sungmin bersedia menikah dengannya, ia tidak mau munafik. Dirinya sangat senang ketika mendengar kata 'bersedia' dari bibir mungil calon istrinya itu, hanya saja kyuhyun tak ingin sungmin melakukan semuanya karena terpaksa. Bisa saja yeoja itu merasa tak enak dengan kedua orangtua kyuhyun dan akhirnya terpaksa menerima semuanya.
"min.. ini terakhir aku menanyakannya" keduanya terdiam sejenak. Yeoja berparas cantik itu memandang kyuhyun bingung. Ada apa lagi?
"kau benar-benar yakin ingin menikah denganku, min?" pandangan kyuhyun meredup ketika sungmin tak kunjung menjawab.
Tiba-tiba sungmin tersenyum manis lalu menganggukkan kepalanya mantap. "aku sangat sangat yakin, kyu. Aku tahu kau pria yang baik, tak ada salahnya jika aku memiliki suami yang tampan dan baik sepertimu.." ucapan sungmin diakhiri dengan kekehan yang memancing tawa ringan kyuhyun. Segera setelah berpandangan, kyuhyun memajukan tubuhnya dan merengkuh tubuh mungil sungmin dalam satu pelukan hangat.
"gomawo min.." kyuhyun menghirup dalam-dalam aroma tubuh yeoja yang sedang berada dalam dekapannya. Tak melewatkan sedetik pun saat-saat berharga seperti ini. Pelukannya semakin erat kala ia merasakan sungmin ikut membalas pelukannya dan berucap pelan.
"nado kyu.."
.
.
.
.
"hi, min.." sungmin tersenyum membalas sapaan siwon. Hari ini, genap sebulan setelah pertemuan mereka di kampus, namja tampan itu menyempatkan waktu setiap harinya untuk berkunjung ke kyunghee university di sela-sela jam makan siang demi bertemu dengan dirinya dengan alasan ingin makan siang bersama. Sungmin tak menolak, ia malah senang karena siwon masih mau memperlakukannya dengan baik seperti dahulu. Bedanya, ia sudah menganggap siwon sebagai oppanya lagi, bukan sebagai pasangan atau apapun yang lebih dari batas keluarga karena memang dari dulu pun sebenarnya ia lebih nyaman menjadikan siwon sebagai oppanya.
"kita makan dimana, oppa?"
"kau yang menentukan tempatnya, oppa ikut saja.." setelah menyerahkan keputusan pada sungmin, namja berpostur tubuh atletis itu menggandeng tangan sungmin menuju mobilnya yang terparkir indah di halaman kampus.
"hmm.. bagaimana kalau kita ke mamacita cafe? Aku dengar menu disana sangat lezat.." sungmin menolehkan wajahnya agar dapat memandang siwon, meminta persetujuan dari namja tinggi yang berjalan beriringan dengannya.
"baiklah.."
.
.
.
.
"pilihanmu tepat, min. makanan disini sangat lezat" siwon meneguk orange juice yang ia pesan setelah menghabiskan satu piring steak berukuran jumbo yang menjadi hidangan spesial di restoran mamacita.
Sungmin sendiri hanya mengangguk membenarkan pendapat siwon. makanan disini memang sangat lezat. Dirinya juga baru pertama kali mampir ke restoran ini, tadinya ia ingin mengajak kyuhyun mencicipi makanan disini nanti malam kalau saja siwon tak menyuruhnya menentukan restoran untuk mereka makan siang.
"ehm, bagaimana hubunganmu dengan kyuhyun?" siwon berucap pelan setelah dirasanya mereka sudah menyelesaikan kegiatan makan mereka dan ia ingin mengusir keheningan yang sempat tercipta.
"kami baik-baik saja. ada apa tiba-tiba menanyakan hal ini?" siwon tersenyum, dalam hatinya ia merasa kesal mendengar hubungan sungmin dan namja itu membaik.
"aku ingin bertanya saja.. oh iya, kalian belum menikah kan?" sungmin menggeleng membuahkan senyuman kemenangan terpantri di wajah tampan siwon. Namja itu merasa kesempatan untuk dirinya merebut sungmin masih ada.
"bagaimana kalau... ehm, maksudku bagaimana kalau kau meninggalkannya dan memulai semuanya dari awal lagi bersama oppa?" sungguh, sungmin tersentak mendengar tawaran siwon. Yeoja manis itu membulatkan matanya tak percaya. Melihat respon yeoja itu, siwon berdehem menghilangkan kecanggungan. Tangannya meraih tangan mungil sungmin dan menggenggamnya erat.
"kau tak perlu menjawabnya sekarang, min.. kau boleh memikirkannya dulu.." sungmin menatap tangannya yang berada dalam genggaman siwon, ia merasa tak nyaman. Bukan karena apa-apa, hanya saja dirinya tak lama lagi akan menikah dengan kyuhyun, ia hanya merasa tak seharusnya ia masih membiarkan siwon menggenggamnya seperti ini. Bahkan minggu depan dirinya dan kyuhyun akan fitting baju, tak baik jika ia memberikan harapan yang tak pasti pada siwon.
Mengerti tatapan sungmin kearah pautan tangan mereka membuat siwon perlahan melepas genggamannya dari tangan sungmin. namja itu cukup kecewa tapi ia berusaha menutupinya dengan tersenyum canggung.
"sepertinya sudah lewat jam makan siang. Oppa harus kembali ke kantor, bukan? dan aku.. a-aku masih ada mata kuliah yang lain. Aku permisi.."
Siwon menyadari penolakan tak langsung yang ia simpulkan lewat tingkah sungmin, namun ia tak mau menyerah begitu saja. matanya menatap punggung sempit sungmin yang mulai menjauh dengan tatapan sedih.
'aku belum siap kehilangan lagi, min...'
.
.
.
.
Kyuhyun bersender didepan kap mobilnya. Ia sedang menunggu sungmin pulang kuliah, seperti biasa ia akan menjemput sungmin untuk pulang bersama. Sebenarnya namja tampan itu menyadari tatapan kagum yang dilemparkan beberapa gerombolan yeoja padanya, bahkan ada yang berani berkedip genit kearahnya membuat kyuhyun risih namun kyuhyun berusaha mengabaikan yeoja-yeoja tak jelas itu. Ia hanya memikirkan tujuan utamanya berada ditempat ini dan senyum menawan tak terelakkan ketika mata onyx nya menangkap siluet sungmin dari kejauhan.
Ia sengaja melambaikan tangan agar sungmin menyadari keberadaannya. Kyuhyun terkekeh ketika melihat sungmin berlari kecil setelah melihat lambaiannya.
"kenapa berlari?" tanya kyuhyun seraya mengambil alih tas yang tadinya sungmin pegang, setidaknya ia ingin membantu sungmin membawa tas yang cukup berat itu mengingat buku-buku yang sungmin bawa hari ini cukup banyak.
Sungmin tak menolak sikap perhatian kyuhyun, ia sudah terbiasa diperlakukan layaknya putri oleh namja tampan didepannya ini dan sungmin akui ia merasa senang dengan ketulusan kyuhyun untuk bertanggung jawab padanya.
"tidak kenapa-kenapa, hanya ingin saja.." sungmin menyengir kecil membuat pipinya yang chubby semakin terlihat menggemaskan. Kyuhyun tak dapat menahan hasratnya untuk mencubit pipi sungmin.
"arraso.. bagaimana kalau kita makan... ehm, makan sore?" keduanya tertawa mendengar kalimat yang kyuhyun lontarkan. Sebenarnya kyuhyun ingin mengajak sungmin makan siang hanya saja saat ini sudah pukul setengah 4 sore dan sudah tidak bisa dibilang siang lagi.
"aku sudah makan tadi.." tolak sungmin halus, dia benar-benar sudah makan siang tadi bersama siwon dan yeoja itu masih merasa kenyang.
"kali ini saja min.. kau selalu menolakku kalau kuajak makan bersama diluar.." kyuhyun menatap sungmin dengan tatapan memohon membuat yeoja itu merasa tak enak untuk menolak lagi ajakan kyuhyun.
"baiklah.. berhenti cemberut, kau terlihat jelek" sungmin balas menatap kyuhyun dengan tatapan sinis yang dibuat-buat.
"hahaha.. aku tahu kau berbohong, min.. nyatanya aku tampan dalam keadaan apapun" ucap kyuhyun narsis membuat sungmin berdecih lalu mencubit pinggang namja itu karena sebal dengan kenarsisan kyuhyun yang semakin menjadi tiap harinya.
.
.
.
.
"kau serius tidak mau memesan makanan?" kyuhyun bertanya setelah memesan makanan untuknya pada salah satu pelayan. Ia sengaja mengajak sungmin ke restoran mamacita karena donghae menyarankannya tadi. Sahabatnya itu berkata kalau makanan direstoran ini sangat lezat dan kyuhyun berniat mencicipi menu di restoran ini bersama sungmin, sayangnya yeoja itu berkata kalau dia sudah makan.
Berbeda dengan sungmin yang masih terdiam tak percaya. Sejak dirinya dan kyuhyun menginjak tempat ini ia tak henti menggumamkan 'bagaimana bisa?' di dalam hatinya. Restoran ini sama dengan restoran tempat dirinya dan siwon makan siang tadi. Bagaimana bisa kyuhyun mengajaknya ke tempat ini juga?
"min, kau mendengarku tidak?" lamunan sungmin buyar saat kyuhyun bertanya sambil menipiskan jarak wajah mereka membuat sungmin sontak memundurkan wajahnya.
"a- aku dengar.." jawabnya singkat. Membuat kyuhyun semakin penasaran penyebab sikap sungmin yang agak berbeda.
"kau sebenarnya kenapa?" kyuhyun menatap wajah sungmin dengan intens.
"aku tidak apa-apa. Hanya saja.. ini tempatku makan siang tadi.." sungmin memutuskan untuk mengungkapkan hal yang ada dipikirannya sejak tadi.
"benarkah? Sangat kebetulan. Siapa yang mengajakmu kesini?"
"siwon mengajakku makan siang dan memintaku untuk menentukan tempat, kebetulan aku disarankan eunhyuk untuk mampir ke restoran ini, jadi ya... aku makan bersama siwon oppa disini" sungmin menjelaskan semuanya dengan hati-hati, ia tak ingin membuat kyuhyun salah paham. Dirinya murni hanya makan siang disini bersama siwon dan ia tak mau kyuhyun mengira yang macam-macam.
Kyuhyun tercekat saat sungmin menyebut nama siwon dan mengatakan kalau yeoja itu makan siang bersama namja yang sempat mengisi hari-hari sungmin. bagaimanapun kyuhyun takut suatu saat nanti sungmin akan kembali bersama namja itu mengingat terakhir kali namja itu berstatus sebagai calon suami sungmin.
"oh.." jawab kyuhyun singkat. Ia kecewa, tapi bisa apa dirinya? Tak mungkin ia melarang sungmin menemui namja itu lagi, ia takut sungmin mengira dirinya posesif dan kembali merasa tak nyaman jika bersamanya. Kyuhyun memilih untuk memendam kekecewaannya begitu saja.
"aku minta maaf jika kau tidak suka aku menemui siwon, tapi sungguh.. aku hanya makan siang bersamanya, tak lebih.." kyuhyun menatap sungmin dalam setelah mendengar penuturan yeoja itu. sungmin mencoba memberi pengertian padanya. Apa rasa cemburunya begitu kelihatan?
"aku tak bermaksud menghalangimu untuk berteman min, tapi bolehkah aku meminta agar kau tak terlalu dekat dengan siwon. Entahlah, aku dari awal merasa kurang suka dengan namja itu" sungmin ragu diawal karena ia sudah menganggap siwon seperti oppa kandungnya, bagaimana mungkin ia bisa memberi jarak pada namja itu? Tapi ia tak mau mengecewakan kyuhyun lagi, namja itu sudah terlalu baik padanya. setelah merasa yakin, sungmin menatap kyuhyun dengan senyuman yang tersemat dibibir pinkish nya dan mengangguk.
"aku akan mencobanya, kyu.."
Tak terelakkan buncahan bahagia sangat terasa di dada namja yang berbalut seragam sekolah SMA itu. Rasanya ia semakin menyayangi yeoja didepannya ini. sungmin semakin membuka hati padanya dan kyuhyun sangat bahagia akan hal itu, ditambah lagi jika ia mengingat hari pernikahan mereka yang tak lama lagi akan datang, ia merasa hidupnya semakin sempurna saja.
"gomawo, min.." ucap kyuhyun tulus.
"nado, kyu.." setelahnya kyuhyun mulai menyantap makanan yang ia pesan setelah pelayan mengantarnya ke meja mereka.
.
.
.
.
Kyuhyun mempercepat langkahnya saat melirik arlojinya yang menunjuk tepat pukul lima sore. Salahkan saja guru pendalaman materinya yang memberikan tugas tambahan sehingga kyuhyun dan teman sekelasnya baru bisa keluar dari kelas lima menit yang lalu. Tak mau membuang waktu semakin banyak dan membuat sungmin menunggu lebih lama, kyuhyun melajukan mobil sportnya dengan kecepatan yang luar biasa cepat. Tak menghiraukan beberapa suara klakson yang menyapa telinganya ketika ia menyelinap diantara rentetan kendaraan di tengah jalanan besar kota seoul.
"aish!" namja tampan berotak jenius itu memukul kasar kemudi didepannya kala mobil miliknya terpaksa berhenti karena lampu merah padahal ia sudah menginjak pedal gas sekuat tenaga tadi agar bisa melewati lampu merah tersebut.
Lima belas menit setelahnya ia menapakkan kaki di basement dan berlari kecil guna mencapai apartemennya. bukan pemandangan yang ia harapkan ketika ia membuka pintu depan. Sungmin yang sedang duduk di depan tv dengan pakaian rapi dan wajah yang merengut kesal tak ayal membuat kyuhyun salah tingkah. Sungguh, ia merasa tak enak membuat sungmin menunggu sekitar dua jam.
"kau sudah siap?" hanya pertanyaan basi-basi, paling tidak suasana akan mencair jika mereka saling berbicara bukan hanya saling menatap seperti tadi.
"kau menyebalkan. Mengapa tidak mengangkat panggilanku?" wajah sungmin semakin murung saja setelah melontarkan kekesalannya, yeoja itu meraih tas tentengnya lalu berjalan mendekati kyuhyun.
"mianhe min.. tadi aku berusaha secepat mungkin menyelesaikan tugas agar bisa segera kesini sehingga tak menghiraukan getaran di ponselku.." sungmin memanyunkan bibirnya singkat sebelum meraih tangan kyuhyun dalam genggamannya.
"baiklah, kali ini kau ku maafkan. Tapi lain kali aku akan memberikan hukuman, arraso?" ancam sungmin yang tidak terdengar menakutkan. Apalagi bibir yeoja itu mengukir senyuman kecil ketika mengucapkan ancaman tersebut, tanda bahwa yeoja itu tak sungguh-sungguh mengucapkannya.
Kyuhyun balas tersenyum sebelum mengacak rambut sungmin dengan sebelah tangannya yang bebas. "arraso, tuan putri..." sungmin terkikik mendengar jawaban kyuhyun, setelahnya sepasang yeoja dan namja itu berangkat menuju alamat yang tertera di kartu nama yang di berikan heechul minggu lalu.
.
.
.
.
Sungmin bersenandung pelan menyanyikan lagu lovely day versi akustik yang sudah menjadi lagu favoritenya sejak remaja.
" i wanna hold your hands.."
Kyuhyun menoleh saat sungmin menyanyikan bagian reff lagu romantis itu. Kyuhyun cukup hafal sebagian lirik lagu tersebut.
" i wanna kiss to your lips.."
Senyum menawan tersemat di bibir kyuhyun melihat wajah sungmin yang terlihat begitu menghayati. Kyuhyun mencoba mengingat lirik selanjutnya sebelum ikut bersenandung bersama sungmin.
" i wanna fall in love with you~"
Sungmin agak tersentak ketika kyuhyun ikut bersenandung, ia tak menyangka kyuhyun juga mengetahui lirik lagu ini. Spontan dirinya berhenti bernyanyi dan menoleh ke arah kyuhyun.
"kau tahu lagu ini juga?" kyuhyun mengangguk sebagai jawaban tanpa melepas pandangan dari jalanan didepan.
"sahabatku sering menyanyikan itu dulu. Ia bilang itu lagu kesukaan dongsaengnya.."
"benarkah?"
"ne.." kyuhyun menepikan mobilnya ketika merasa mereka sudah sampai di alamat yang mereka tuju.
"itu juga- "
Pembicaraan itu terputus begitu saja saat kyuhyun membuka pintu dibagian kemudi dan berlari kecil ke sisi kanan demi membukakan pintu untuk sungmin.
'lagu kesukaanku..' lanjut sungmin dalam hati. Ia segera turun dan mengikuti langkah kyuhyun yang sudah berada didepannya.
'kling~'
Bel yang menandakan pintu terbuka berbunyi setelah kyuhyun dan sungmin memasuki sebuah toko besar yang mereka yakini sebagai tempat fitting baju mereka. Segera setelah melihat meja receptionist, kyuhyun menggandeng tangan sungmin dan berjalan mendekat kearah penerima tamu tersebut.
"permisi.. bisa kami bertemu dengan perancang lee?"
"apa kalian tuan cho kyuhyun dan nona lee sungmin?" keduanya mengangguk membenarkan.
"silahkan masuk ke ruangan yang paling ujung, perancang lee sudah menunggu disana.." ucap sang penerima tamu mengarahkan seraya menunjuk ruangan yang ia maksud.
"oh.. kalau begitu terima kasih, kami permisi.." setelahnya sepasang calon suami istri itu melangkahkan kaki mereka beriringan. Kyuhyun merangkul pundak sungmin guna mempertipis jarak antara mereka, dibalas dengan senyuman sungmin.
"kyu, aku ke toilet sebentar.. kau duluan saja, aku akan menyusul"
"baiklah.." kyuhyun melepas rangkulannya dan melanjutkan langkahnya menuju pintu paling ujung dibangunan tempatnya berpijak saat ini.
'cklek'
"ah.. selamat datang tu-" ucapan salam itu sontak terputus ketika perancang lee menatap wajah namja yang berdiri di ambang pintu. Hatinya bergemuruh melihat orang yang begitu ia rindukan. Ingin rasanya ia berlari dan memeluk namja itu namun niatnya terhenti mengingat bagaimana terakhir kali ia meninggalkan sahabatnya itu begitu saja, tanpa berkata apa-apa sebelumnya.
"ki- kibummie?" kyuhyun merasa ada sebongkah batu besar yang tersangkut di tenggorokannya ketika mengucapkan nama itu. Nama yeoja yang sangat ia rindukan, bahkan kyuhyun tak menyangka ia bisa bertemu lagi setelah lima tahun yeoja itu menghilang tanpa kabar seperti ditelan bumi.
"kyunnie?"
Tanpa menunggu lama, kyuhyun melangkah cepat dan merengkuh tubuh kibum dalam sebuah pelukan yang sangat erat seolah melampiaskan rasa rindu yang begitu menyiksanya selama ini. Kibum yang memang merindukan kyuhyun juga membalas pelukan namja itu dengan pelukan yang tak kalah erat. Isakan kecil terdengar dari bibir kibum saat rasa rindu semakin membuncah di dada mereka, tanpa menyadari seorang yeoja yang berdiri mematung menatap keduanya. Tubuh yeoja itu bergetar hebat saat melihat wajah yeoja yang berada dalam pelukan kyuhyun.
"e-eonni?"
.
.
.
.
TBC/end?
Chaaaa~ update kilat gak nih hehe.. menurut saya sih udah kilat /plak/
Selamat datang untuk semua readers baru..
Makasih buat yang review dari chapter 1 sampe chapter 5 kemarin.. semoga kalian mau review lagi dan yang sebelumnya jadi silent readers bersedia memberi review mulai chapter ini..
Oh iya, sekedar info aja.. 'makin banyak review = makin cepet update'
Sudah cukup cuap-cuap nya..
Hope you like it!^^
