Ricchan: Liburan selesai~ YOSH! WAKTUNYA KEMBALI BEKERJA! *semangat berapi-api*

All: SIAAAAAAP~

Ricchan: OKE! Sekarang chapter berikutnya adalah Painful Mistaken. Seperti yang sudah di janjikan, teman-teman Yuugi akan muncul.

Anzu/Jou/Honda/Ryou: YEEEY~

Jou: Akhirnya...setelah sekian lama aku menunggu, hari ini aku akan muncul untuk memikat para wanita yang membaca fic ini. Sehingga, Joe yang tampan, keren dan macho ini akan medapatkan banyak perhatian para wanita.

All/Me: *sweat drop*

Me: Oke. Ceritanya... #DEG! *nglirik Lillian & Alice* /Kalo begini...aku terpaksa.../ *make TOA* ATEEEEEM... LAVIIIII!

Atemu/Lavi: *nongol di depan Ricchan* Nan de?

Me: *bisik2 Lavi & Atemu*

Lillian/Alice: *ngangkat sebelah alis*

Atemu/Lavi: Wakarimashita.

Me: Tolong ye.

Atemu: Vasilissa... *gandeng tangan Lillian*

Lillian: Lho? Ngapain?

Atemu: Aku mau mengajakmu makan malam.

Lavi: *narik tangan Alice*

Alice: Oi, doushita no?

Lavi: Temenin aku buru Akuma.

Alice: Kan bukan misiku sekarang.

Lavi: Udah ikut.

Alice: Gaaaah!

Ricchan: Ok beres. *make TOA* MINNA! YUK KITA MULAI! *lihat sikon* Bismillah... ACTION!

NB: YGO DM from Master Kazuki Takahashi.


Chapter 6 : Painful Mistaken

Hari Senin, jam 06.30, Miyuki turun dari kamar dan menuju ke dapur untuk membuat sarapan pagi. Miyuki sudah mempersiapkan dirinya sebelum dia turun. Dia mengenakan baju merah berlengan panjang, celana jeans agak besar berwarna putih dengan 4 saku masing-masing 2 saku di sebelah kanan dan kiri. Dia mengenakan pakaian seperti itu karena hari ini dia latihan dance di tempat agencynya. Dia membuat masakan yang sederhana namun sangat cepat karena dia harus tiba di agencynya jam 07.30 karena jarak rumah dan agencynya lumayan jauh. Tak lama Yugi turun dari kamar dan menuju ke dapur dengan sikon masih sedikit mengantuk.

"Ohayou, nee-chan." ucap Yugi sambil mengucek mata.

"Ohayou, Yugi. Tumben bangun jam segini?"

"Aku kan harus bantu nee-chan buat minuman hangat."

"Hihihi…sugoi…ternyata kau tahu kalo aku membutuhkanmu."

"Nee-chan hari ini mau latihan ya?"

"Un. Kau mau ikut ke agencyku?"

"Sebenarnya sih mau tapi gomen hari ini Joey, Tristan, Tea, dan Ryo mau berkumpul di sini. Kemarin mereka pulang dari Hokkaido."

"Oh…daijoubu. Lagipula kan masih ada waktu. Kau bisa ke agency kapanpun kamu mau. Oh ya, kapan gitu kamu ke agency, aku kenalkan Akari kepadamu."

"Akari?"

"Temenku yang sempat ngobrol sama kamu lewat telpon pas kamu lagi nunggu pesawat itu lho."

"Oh…ya aku ingat. Cewek yang dijuluki maknae kan?"

"Un. Ya paling gak kau dan Akari bisa lebih akrab lagi kalo ketemuan."

"Uhm…baiklah nanti aku pikir lagi hari yang pas untuk ketemu dengannya. Oh ya, nee-chan nanti di antar sama Yami-kun atau bareng sama tetangga atau berangkat sendiri?"

"Untuk sementara ini mungkin aku bareng sama tetangga atau berangkat sendiri juga gak apa-apa kan kemarin Yami habis kena sesak nafas kan. Aku gak mau dia kenapa-kenapa."

"Kenapa nee-chan gak jenguk ke rumahnya aja?"

"Gak sekarang Yugi. Mana mungkin aku datang sendiri ke sana. Lebih baik kalo dia yang mengajakku ke rumahnya. Lagipula kita belum sempat ke makam untuk ziarah."

"Nee-chan benar. Besok kita ke makam aja tapi jam berapa nee-chan selesai latihan?"

"Hem…kalo besok aku selesai latihan jam 12an. Aku bisa minta ijin kok ke Aiko-sensei. Kan kalo masalah keluarga pasti diijinin."

"Ya juga sih. Aku buatkan teh hangat ya."

"Hai. Ini masakannya mau jadi kok."

Selesai memasak, Miyuki mempersiapkan piring makan untuk masakannya, 2 cawan, 2 pasang sumpit kemudian membawanya ke meja makan. Miyuki memindahkan masakannya ke piring makan dan menaruhnya di meja makan. Lalu mengambil nasi dari magic jar ke 2 cawan itu dan menaruhnya di meja makan, terakhir dia menaruh 2 pasang sumpit masing-masing di ke 2 cawan tersebut dan dia duduk di kursi makan sambil menunggu minuman hangat yang di buatkan Yugi. Tak lama Yugi selesai membuat 2 cangkir teh hangat dan membawakannya di meja. 1 cangkir untuk sang kakak, 1 cangkir untuk sang adik.

"Siip…udah selesai persiapan makannya dan sekarang kita makan" kata Yugi kemudian menepuk kedua tangannya. "Itadakimasu" ucapnya lalu makan.

Sedangkan Miyuki ingin meminum teh hangat dulu baru dia memulai makan. "Itadakimasu" katanya sambil menepuk kedua telapak tangannya.

Setelah 5 menit mereka makan, secara bersamaan mereka selesai makan. "Gochisousama." ucap mereka bersamaan. Yugi minum teh hangat sedangkan Miyuki membersihkan bibirnya dan kemudian berdiri dan mengambil piring, sumpit, cawan dan cangkirnya untuk di cuci di wastafel. Yugi pun menyusul Miyuki dengan cara yang sama. Setelah mencuci, Yugi dan Miyuki keluar dari dapur bersama-sama. Miyuki kembali ke kamarnya untuk mengambil handphone, topi putih dan sepatu kats berwarna putih dan bergaris merah kemudian mengunci kamarnya dan turun ke ruang tamu. Sedangkan Yugi sedang duduk-duduk di ruang tamu sambil menonton tv.

"Yugi, aku berangkat dulu ya. Mungkin aku udah di tunggu di luar." kata Miyuki sambil memakai sepatu katsnya di dekat pintu depan.

"Ok. Hati-hati." jawab Yugi sambil berlari ke tempat sang kakak.

"Ittekimasu" ucap Miyuki sambil berjalan keluar.

"Itterasai" sahut Yugi sambil melambai tangan.

Miyuki berangkat dari rumah dan bertemu dengan tetangga yang secara kebetulan mau berangkat.

"Ohayou, Miyuki-san." ucap tetangga sambil membungkuk.

"Ohayou mo." balas Miyuki sambil membungkuk hormat.

"Mau berangkat latihan ya?"

"Hai." jawab Miyuki sambil tersenyum.

"Kebetulan sekali kita mau berangkat. Gimana kalo barengan? Kan arah kita sama."

"Ano…daijoubu desu ka?"

"Daijoubu. Saa, ikimasho."

"Hai."

Miyuki masuk ke mobil tetangga dan berangkat bersama.

"Miyuki-san? Hari ini tumben kamu gak di jemput sama Yami-san?"

"Iie. Mengingat kejadian kemarin, saya rasa Yami masih belum sehat total. Saya takut dia kenapa-kenapa."

"Begitu. Gak kamu telpon dia biar tahu keadaan dia."

"Saya tidak berani mengganggu istirahatnya. Lebih baik saya menunggu informasi keadaan dari dia sendiri."

"Semoga saja Yami-kun sehat seperti kemarin."

"Hai."

Setelah 30 menit perjalanan, sampailah di agency JH. Miyuki kemudian turun dan berjalan ke kursi supir.

"Arigatou gozaimasu." ucap Miyuki sambil membungkuk hormat

"Kamu yakin untuk pulang sendiri? Apa aku jemput kamu aja?"

"Daijoubu. Saya bisa pulang sendiri kok."

"Baiklah. Ittekimasu."

"Itterasai" sambil membungkuk hormat, tak lama mobil tetangganya berangkat. Miyuki kemudian berbalik arah dan melihat gedung agencynya. Kemudian dia menghela nafas panjang untuk menenangkan dirinya. 'Yosh! Hari ini aku harus semangat. Ganbatte!' pikirnya kemudian dia berjalan menuju gedung agency JH.

Setelah dia sampai di ruang latihan, Miyuki membuka pintu dan masuk ke dalam. Di dalam ruangan sudah ada 2 orang yang menunggu di sana.

"Ohayou, minna-san." ucap Miyuki sambil membungkuk.

"Ohayou, Miyuki." balas Aiko-sensei.

"Ohayou, Miyu-nee." balas Akari.

"Lho kok hanya Aiko-sensei dan Akari aja? Yang lain kemana?" tanya Miyuki sambil berjalan mendekati mereka berdua.

"Ri-nee belum datang" jawab Akari.

"Dua cewek idiot pun juga belum datang" jawab Aiko-sensei agak malas.

Tentu saja Ririn memang anggota yang paling telat kalo datang. Sedangkan June dan Ditta, mereka terkadang datang terkadang tidak karena June sebagai leader sedangkan Ditta adalah temannya. Miyuki tidak berpikiran seperti itu karena June adalah leader dan dia tidak berani memaksa kehendak June walaupun Miyuki adalah wakil dari leader.

"Hem…mumpung mereka belum datang, gimana kita latihan step by step aja dulu tanpa musik?" tawar Aiko-sensei.

"Aku setuju, sensei" jawab Miyuki dan Akari semangat.

"Ok deh."

Mereka bertiga berdiri dan menaruh barang mereka di pinggir ruang. Kemudian mereka berjalan ke tengah ruangan dengan posisi mereka masing-masing. Mereka melakukan senam pemanasan sebelum latihan di mulai. Setelah pemanasan mereka siap untuk latihan.

"Ready?"

"Hai." jawab Miyuki dan Akari bersama.

Saat mereka mulai latihan tiba-tiba…

BRAAAAAK….

Suara pintu terbuka dengan kencang sehingga membuat Miyuki, Akari dan Aiko-sensei terkejut dan menoleh ke arah suara itu. Dan ternyata Ririn datang dengan sikon terengah-engah.

"Apa aku telat?" tanya Ririn. Yang lain hanya menggelengkan kepala. "Fyuh…untunglah aku masih sempet." lanjutnya sambil berjalan masuk dan menaruh barang di pinggir ruangan.

"Kok telat, Ririn?" tanya Miyuki.

"Aku tadi ada sedikit masalah sama okaasan."

"Kau itu, mau sampai kapan kau keluar dari masalah dengan ibumu, Rin?" tanya Aiko-sensei.

"Gomenasai, Aiko-sensei. Aku bener-bener gak bisa hadapi okaasan dengan mudah. Aku harus nurut perintah okaasan. Harus bantu okaasan prepare buat ramalannya. Okaasan gak akan lepasin aku gitu aja kalo aku gak nyelesein bantu-bantunya." jelas Ririn sambil memohon ke Aiko-sensei.

"Haaah…ya sudahlah. Ayo cepat pemanasan." perintah Aiko-sensei.

"Lho mana si Queen Devil dan temennya?" tanya Ririn sambil pemanasan.

"Entahlah, dia belum datang." jawab Miyuki.

"Haaah…tuh cewek kebangetan deh! Enak banget dia gak dateng latihan. Mentang-mentang leader gitu. Dasar! Kau juga kenapa memilih June sebagai leader. Tahu sendiri sifatnya kayak gimana."

"Tapi kan udah telanjur, Rin. Gak mungkin diubah lagi. Paling gak nunggu dia berubah dan sadar dengan posisinya."

"Miyuki…Miyuki…kau emang terlalu lemah ya jadi wakil. Kalo aku jadi kau, aku gak akan segan-segan nyeret dia dari rumah ke sini. Dia aja udah kebangetan kayak gitu dan pastinya dia gak akan berubah gitu aja. Bukan tambah baik tapi tambah parah!" ejek Ririn.

"Ririn, udah jangan bahas itu lagi! Kita latihan dulu. Kalo sampai kalian berantem, aku gak akan mau melatih kalian paham?" marah Aiko-sensei ke Ririn.

"Yang dikatakan Aiko-sensei benar. Lebih baik kita melupakan masalah itu untuk sementara. Kita fokus latihan dulu. Mungkin yang kau katakan itu juga ada benarnya. Gomen."

"Cih…! Baiklah, aku maafkan. Untung kau sahabatku. Kalo gak, aku pasti gak akan maafin kamu."

"Arigatou, Ririn" ucap Miyuki sambil tersenyum.

"Baiklah kita mulai latihan" kata Aiko-sensei, namun tiba-tiba handphone Aiko-sensei berbunyi yang bertanda ada sms. Aiko berjalan ke tempat tasnya dan mengambil handphone untuk membacanya. Saat dia membaca, dia hanya menghela nafas panjang dan menggelengkan kepala. Miyuki, dkk. merasa ada sesuatu yang paling Aiko-sensei malas menanggapinya. Kemudian Aiko-sensei memasukkan handphonenya ke dalam tas dan kembali ke tengah ruangan.

"Nan desu ka?" tanya Miyuki.

"Kita langsung latihan tanpa mereka berdua" jawab Aiko.

"Maksud sensei, June dan Ditta?" tanya Miyuki to the point.

"Un. Mereka bilang ada urusan." jawab Aiko.

"Heh! Urusan? Urusan apaan? Paling-paling dia males. Seperti yang kuduga sebelumnya. Cewek kayak June emang gak pantes jadi leader." ejek Ririn sambil tersenyum sinis.

"Rin, tolong jangan mengejek June lagi! Walaupun dia gitu, dia kakak tertua kita di 'Freyja'." ucap Miyuki.

"Terserah." ucap singkat Ririn sinis.

"Ok…minna, kita langsung latihan berempat aja. Aku sebagai posisi June. Nah, kita mulai." ucap Aiko-sensei. Tak lama mereka memulai latihan tanpa June dan Ditta.

MIYUKI'S HOUSE

Kita beralih ke Yugi. Seperti yang di katakan Yugi bahwa 4 kawannya akan datang berkumpul ke rumahnya. Yugi sudah mempersiapkan dirinya dan sekarang dia hanya duduk di ruang tamu menunggu kawan-kawannya datang.

KRIIIING…KRIIIING…

Suara bel yang menandakan para sahabat Yugi telah datang. Yugi langsung berjalan ke speaker mini itu.

"Dare ga?"

"Yo Yug, ini aku Joe dan yang lainnya."

"Ok. Chotto."

Kemudian Yugi berjalan ke pintu depan dan membukanya. Di sana sudah ada 4 kawannya, yaitu Joey, Tea, Tristan dan Ryo. Yugi membuka gerbangnya dan mempersilahkan masuk ke dalam rumahnya.

"Shitsurei shimasu…" ucap 4 kawan Yugi sambil berjalan masuk ke dalam rumah menuju sofa tamu.

"Duduklah." kata Yugi mempersilahkan duduk kepada kawannya. "Aku senang kalian datang kemari. Gimana pekerjaan kalian di sana? Udah beres?"

"Tentu saja udah." jawab 4 kawan bersamaan.

"Tumben kau langsung tuntas Joe. Biasanya kau kewalahan masalah pekerjaan."

"Enak aja. Dulu emang aku begitu, tapi sekarang aku udah bisa mengatasi semuanya dengan sempurna." kata Joe sedikit sombong.

"Apanya? Paling-paling kau merengek minta bantuan Ryo atau aku untuk menuntaskan tugasmu." ejek Tristan.

"Aaarghh…udahlah. Walaupun aku begitu, paling gak aku sedikit-sedikit bisa menghadapinya. Apa kau gak merasa kasihan sama sahabatmu ini?" kesal Joey.

"Udah…udah…. Oh ya, aku buatkan minuman dingin untuk kalian." kata Yugi sambil berdiri.

"Yugi, biar aku aja yang buatkan. Kau duduk di sini aja." kata Tea sambil berdiri.

"Ah arigatou, Tea." ucap Yugi sambil tersenyum kemudian duduk kembali.

"Dou ita" balas Tea sambil tersenyum kemudian berjalan ke dapur untuk membuat minuman.

"Ngomong-ngomong, Miyuki-san dimana?" tanya Ryou.

"Nee-chan sekarang sedang latihan di agencynya." jawab Yugi.

"Sugoi nee…. Asyik ya kalo jadi idol. Udah terkenal, banyak fans, bisa go international, keliling dunia juga. Seandainya aku begitu…" kata Joey kemudian membayangkan dirinya sebagai idol terkenal, dikerumuni para fans wanita, keliling dunia, punya uang banyak, dan go international. Tak lama Joey tertawa aneh karena bayangannya yang kemungkinan tidak akan terjadi. Yang lain hanya bersweat drop ke Joey.

"Haaah…mana mungkin kau bisa jadi seorang idol, Joe. Kau aja masih belum bisa mengatur jadwal pekerjaanmu dengan kuliahmu, kau masih keteteran masalah tugas, apalagi kalo kau jadi idol, jadwalnya malah tambah gak karuan tahu. Aku yakin kau pasti langsung pingsan di tengah jalan." ejek Tristan lagi.

"Kau ini…setidaknya dukung sahabatmu ini donk! Walaupun bayanganku sebagai idol kemungkinan 90% gagal tapi apa salahnya sih mencoba!"

'Tanpa kau coba pun, kau udah gak di terima duluan.' pikir yang lain sambil bersweat drop.

"Minuman sudah siap." kata Tea sambil membawa minuman dingin di atas meja. Kemudian duduk kembali di sofa.

Mereka secara bergantian mengambil gelas dan minuman dingin dan kemudian meminumnya.

"Segaaaarrrr…." ucap Joe.

"Amaii…." ucap Ryou.

"Tea, arigatou nee udah membuatkan minuman dingin untuk kita. Pas sekali manisnya." puja Yugi dengan senyum.

"Dou ita." balas Tea.

"Tumben banget kau buat minuman dingin yang pas. Biasanya kau membuatnya kadang-kadang manis, kadang-kadang kurang manis, malah pernah ada rasa air tawar." ejek Tristan agak aneh.

TWITCH…!

muncul sebuah kedutan di kepala Tea, kemudian melirik Tristan dengan senyum iblis. "Aku dengar lho omonganmu." katanya sambil berdiri dan berjalan ke arah Tristan.

"Tri…Tristan…lebih baik kau segera mi…minta maaf deh." ucap Joey sambil berbisik.

"Ngapain aku minta maaf. Emang nyatanya kok." jelas Tristan dengan enteng.

TWITCH…!

muncul lagi kedutan di kepala Tea. Tangannya mengepal sangat erat. Kemudian mendekati Tristan dan Joey. Joey yang tahu situasi Tea langsung menelan ludah.

"Go…gomen…. A…aku rasa sudah ter…terlambat. Le…lebih baik kau si…siapkan mentalmu, Tristan." kata Joey agak ketakutan kemudian menghindari Tristan.

Tea duduk di sebelah kanan Tristan yang sedang asyik minum. Kemudian Tristan menaruh gelasnya di atas meja kemudian melihat Joey, Yugi dan Ryou sedikit demi sedikit menjauh darinya. Tristan merasa aneh dan bingung apa yang terjadi kepada ketiga sahabatnya, dia tak menyadari bahwa ada seorang yang dari tadi mengeluarkan deathglare ke arahnya.

"Nan de?" tanya Tristan aneh. 3 sobatnya hanya menggeleng-gelengkan kepala kemudian mereka menunjuk ke arah sesuatu di sebelah kanan Tristan.

"Tristan…"panggil Tea. Tristan yang merasa penasaran kemudian perlahan-lahan melirik ke kanannya. Dia langsung diam kaku dan ketakutan melihat Tea yang sudah mengeluarkan deathglare dan melirik ke arahnya dengan senyum iblis yang sangat mengerikan. Kemudian Tristan hanya menelan ludah karena sudah terlambat baginya untuk menghindar dari Tea. Dan akhirnya…

KRAAAAK…

"EEEEHHHHKKK…." suara Tristan tercekik karena dia dicekik oleh Tea. Tea mencekik leher Tristan dengan lengan kirinya sangat erat. "I…IT…ITAIII…TEA…EEEEEHHHKKK…OHOOK…"

"Gimana, enak kan Tristan?" ucap Tea sambil mencekik leher Tristan dan tidak lepas dari ekspresi iblisnya. "Dengar ya, Tristan sayang…. Kapan-kapan aku buatkan minuman yang super duper special untukmu. Aku buatkan minuman dengan air yang masih mendidih, ditambahkan minyak goreng, darah, kotoran hewan, dan lain-lain. Aku harap kau meminumnya sampai habis ya, sayang." tambah Tea.

'Ya ampun, Tea udah mulai kambuh lagi penyakit iblisnya. Ya Tuhan…kami berdoa kepadamu agar Tristan baik-baik saja saat menghadapinya.' doa 3 kawannya dalam hati. Bagaimana tidak, Tea begitu mengerikan bagi geng Yugi. Walaupun Tea cantik, tomboy, pintar, enerjik tapi dia punya sisi kegelapan yang sangat mengerikan. Bahkan 4 cowok temannya kewalahan menenangkannya kalo dia sudah mengeluarkan penyakit iblisnya. Karena itu 4 cowok berjanji tidak akan membuat Tea kembali kambuh dari penyakitnya. Namun untuk hari ini, salah satu dari 4 cowok yaitu Tristan telah melanggar janjinya dan menghadapi Tea yang dalam sikon penyakit iblisnya kambuh. Yang bisa dilakukan yang lainnya hanya berdoa keselamatan Tristan.

"A…AMPUN…TEA…OHOOOK…"

"Lebih baik kau segera minta maaf pada Tea" kata Ryou.

"Dan kau harus mengakui kesalahanmu, Tristan" ikut Joey.

"Yang dikatakan Ryou dan Joe benar. Lebih baik kau segera melakukannya, Tristan. Kami takut kau akan pingsan." tambah Yugi.

"Aha…jadi bagaimana, Tristan sayang? Kau mau minta maaf dan mengakui kesalahanmu atau kau ingin mendapatkan siksaan neraka dariku setelah ini?" tanya Tea masih mencekik Tristan.

"HAI…GO…GOMEN…TE…TEA…. A…AKU SALAH. A…AKU G…GAK AKAN NGULANGI LA…GI. AM…PUN TE…TEA…"

"Apa Tristan sayang? Suaramu gak kedengaran. Tolong diperbesar lagi suaramu biar aku dan yang lainnya mendengar penyesalanmu."

"GO…GOMEN…OHOOOKK…TEA!" ucap Tristan agak keras.

"Kurang jelas."

"GOMENASAI YANG MULIA TEA!" teriak Tristan.

"Bagus." balas Tea kemudian melepas cekikannya dari leher Tristan. Tristan langsung terbatuk-batuk setelah lepas dari cekikan Tea yang membuat dia sesak nafas. "Aku rasa untuk kali ini kau kumaafkan. Tapi lain kali kalo kau mengulanginya lagi, aku akan langsung menyiksamu di dalam nerakaku, paham Tristan sayang?" tambahnya kemudian duduk kembali ke sofa di sebelah Tristan. Tristan hanya mengangguk takut dan kembali ke posisi duduk semulanya. Yugi, Ryou dan Joey kembali duduk di sofa.

"Yugi, gimana kau udah liburan kemana aja sama Miyuki-senpai?" tanya Tea setelah deathglarenya hilang.

"Aku belum kemana-mana sih. Tapi kemarin sempat ada acara di kompleks ini."

"Acara?" tanya 4 kawan bersamaan.

"Un. Sebenarnya ada 3 acara tapi dijadikan satu pada hari minggu kemarin."

"Apa aja itu?" tanya Ryou.

"Yang pertama pastinya acara untuk kedatanganku, kedua untuk album nee-chan yang baru, ketiga untuk sahabat baru nee-chan."

"Sahabat baru?" tanya 4 kawan.

"Hai. Teman nee-chan satu agency. Sama-sama idol tapi temannya ini solo."

"Yang aku ingat sih, Akari-san dan Ririn-san. Apa bukan mereka?" tanya Tristan.

"Bukan. Sahabatnya itu cowok kok."

"Cowok?" kaget 4 kawan lagi.

"Eh…eh…seperti apa orangnya" tanya Tea penasaran.

"Dia mirip denganku tapi versi kerennya. Dia tinggi bahkan lebih tinggi dari nee-chan. Cakep, kaya, baik gitu."

'Versi Yugi yang keren?' pikir 4 kawan sambil membayangkan wajah Yugi yang lebih keren, lebih tinggi, lebih cakep dan kaya.

"Tapi ada perbedaannya kok."

"Perbedaan?" tanya 4 kawan.

"Selain tinggi badan, warna mata dan rambutnya juga berbeda."

"Emangnya matanya berwarna apa?" tanya Tea.

"Nanti kalian lihat aja sendiri. Tapi aku gak tahu nanti nee-chan pulang sendiri atau dijemput sama temannya."

"Siapa namanya?" tanya Ryou.

"Hi-mi-tsu" jawab Yugi sambil tersenyum.

"Haaah…dasar kau Yug, suka-suka banget ngerahasiain dari kita." jengkel Joe.

"Hehehe…tentu saja. Kalo aku cerita sekarang mana seru. Aku emang suka bikin orang penasaran kok." jelas Yugi sambil tertawa kecil.

'Kira-kira seperti apa ya cowoknya? Katanya cakep, baik, kaya, idol juga. Nanti aku tanyain deh dia jomblo gak ya. Moga-moga aja jomblo. Kalo jomblo langsung tancap gas nembak tuh cowok. Gyaaa…aku gak sabar nih.' pikir Tea sambil kegirangan.

'Ngapain Tea seneng-seneng sendiri? Apa jangan-jangan Tea suka sama temennya Miyuki-san? Jangan sampe itu terjadi. Moga-moga aja cowok itu gak setampan aku.' doa Tristan berharap di dalam hati.

"Hem…lebih baik kau ceritakan aja tentang pestamu kemarin." pinta Ryou.

Akhirnya, Yugi mulai menceritakan ceritanya saat dia bertemu dengan sahabat kakaknya.

AGENCY JH

Setelah lama mereka latihan, akhirnya Miyuki, Ririn, Aiko dan Akari istirahat di dalam ruang latihan.

"Ok minna, untuk hari ini kita istirahat dulu. Satu setengah jam lagi kita latihan ok?" ucap Aiko-sensei setelah mematikan tapenya.

"Arigatou gozaimasu." jawab anak didiknya bersama-sama.

"Dou ita. Aku istirahat di ruang lain ya." kata Aiko-sensei. 3 anak didiknya hanya mengangguk mengerti, kemudian sang guru keluar dari ruang latihan dan sekarang yang ada di dalam ruang adalah 3 anak didiknya.

"Haaah…capenya…" ucap Ririn.

"Iya cape." ikut Akari.

"Gimana kalo kita ke ruang depan beli minum di mesin minum?" tawar Miyuki.

"Ide bagus. Yuk kesana!" kata Ririn.

Ririn, Akari dan Miyuki berjalan menuju ruang depan untuk membeli minuman. Sesampainya di sana Miyuki langsung terdiam, sedangkan Ririn dan Akari mendekati mesin minum itu. Mereka mengambil kaleng minuman secara bergiliran. Setelah itu Ririn dan Akari menoleh ke arah Miyuki yang masih berdiri diam yang jaraknya agak jauh dari mesin minum.

"Nee…Ri-nee, Miyu-nee kenapa? Kok dia diam begitu." tanya Akari aneh.

'Kenapa dia diam begitu? Mungkinkah…' pikir Ririn kemudian dia berbicara. "Dia sedang mengingat kejadian hari jumat malam sabtu kemarin."

"Nani ito ka?" tanya Akari penasaran.

"Miyuki…" panggil Ririn.

"Hai…" sahut Miyuki sadar dari lamunannya.

"Kau pasti mengingat hari itu saat kau bertemu dengan Yami kan?" tanya Ririn to the point.

"Ihihihi... Gomen nee aku tiba-tiba ngelamun dan diam begitu aja." kata Miyuki sambil berjalan ke mesin minum dan membeli teh dingin.

"Ah…sudah kuduga kau masih mengingat kejadian itu ya." kata Ririn sambil duduk di kursi sebelah mesin minum. Diikuti oleh Akari dan duduk di sebelahnya.

"Masih ingat sih." ucap Miyuki sambil duduk di kursi yang sama namun di tengah.

"Emangnya gimana hubunganmu sama Yami?" tanya Ririn

"Ya seperti kemarin saat pertama kali bertemu. Tapi ada beberapa hal yang selalu membuatku deg-degan dan membuatku nyaman."

"Nan de?" tanya Akari.

"Hi-mi-tsu" ucap singkat Miyuki.

"Haaah…beneran kan pasti dirahasiain." kesal Ririn.

"Iya nih, Miyu-nee pelit." tambah Akari.

"Hihihi…bukannya pelit tapi aku kasih tahu alasannya kenapa aku rahasiain." kata Miyuki sambil tertawa kecil. Ririn dan Akari mendekatkan diri ke Miyuki untuk mendengarkan alasan Miyuki. "Karena kalian masih di bawah 19 tahun, jadi masih belum saatnya untuk kukasih tau." jelas Miyuki.

"Hyaaa…cape deh." ucap Akari dan Ririn kemudian menjauh dari Miyuki dengan mengembalikan posisi duduknya.

Tak lama handphone Miyuki berdering. Dia mengambil handphone dari saku jeansnya dan melihat list yang tertulis 'Calling…Yami'. Setelah mengetahui bahwa yang menelponnya adalah orang yang dia sukai, dia berlari masuk ke lorong meninggalkan 2 sahabatnya dan menuju ke ruang latihannya dan melihat di dalam ruangan tidak ada seorang pun di sana. Kemudian dia menerima telponnya.

"Moshi…moshi…Yami?"

"Moshi…moshi…hime. Kok lama banget angkat telponnya. Lagi sibuk ya?"

"Iie. Aku tadi pindah tempat dari ruang depan ke ruang latihan."

"Ngapain pindah tempat? Kan bisa nerima telpon di sana."

"Ada Ririn dan Akari."

"Dou shita no?"

"Ehm…gak enak aja aku terima telponmu pas ada mereka berdua."

"Gak masalah kan kalo mereka mendengar telpon kita."

"Iya tapi aku yang gak mau, Yami"

"Hai…hai…aku ngalah. Sekarang kau sedang apa? Bukannya kau sedang latihan, kan?"

"Un, tapi sekarang lagi istirahat. Ini lagi minum teh dingin dari mesin minum ruang depan."

"Oh…. Iya ya kok rasanya aku ingat kejadian itu."

"Ke…kejadian apa?"

"Saat kita pertama kali bertemu. Saat kau hampir terjatuh dan aku menolongmu. Waktu itu wajah kita hampir berdekatan bahkan hampir bersentuhan. Wajahmu langsung memerah. Dan sebenarnya aku ingin langsung menciummu tapi aku gak berani mendadak menciummu tanpa aku mengenalmu lebih dekat dulu. Kau ingat kan, hime?"

Miyuki langsung mengingat kejadian waktu itu yang membuat dia kaku diam dan malu karena wajahnya dan wajah Yami berdekatan. Dan otomatis wajah Miyuki langsung memerah sekarang. "Ya…Yami…aku mohon jangan mengingatkanku tentang hal itu."

"Hehehe…. Dou shite, hime? Aku yakin wajahmu sekarang merah kan".

"…"

"Apalagi kejadian kita saat di kamarmu kemarin. Kau terlihat mendesah geli saat aku mencium lehermu."

Miyuki langsung memegang leher kirinya dan wajah Miyuki bertambah merah. "Mo…mou Yami…. Kumohon jangan bahas itu lagi."

"Ehehehehe…aku seneng banget menggodamu seperti ini. Entah mengapa aku tambah semakin mencintaimu, Hime. Tapi mungkin aku harus meminimalkan rasa cintaku kepadamu karena kau hanya sebatas rekan dan 'orang terpenting'ku."

"Itu gak benar. Walaupun hubungan kita hanya rekan dan aku adalah 'orang terpenting'mu, bukan berarti kau meminimalkan rasa cintamu padaku. Kau boleh mencintaiku sesuai dengan keinginanmu. Aku juga…aku juga sangat mencintaimu saat kita pertama kali bertemu. Entah kenapa rasa cintaku padamu begitu besar bahkan aku merasa cinta kita melebihi cinta sebagai rekan."

"Maksudmu, cinta kita sebagai kekasih begitu?"

"Hai. Demo, watashitachiha tada no douryou to shitede wa naku, koibito no touridesu. Mungkin kau merasa hubungan kita begitu istimewa sampai-sampai kita seperti pasangan kekasih, tapi gomen nee perasaanku saat ini belum bisa sepenuhnya menerimamu sebagai kekasihku. Daijoubu desu ka?"

"Un, wakarimashita. Daijoubu, Hime."

"Arigatou, Yami. Gomen nee aku bilang gitu lagi padamu. Aku takut kau membenciku dan meninggalkanku. Anata o hontou ni aishiteimasu."

"Iie. Aku gak akan membencimu dan gak akan meninggalkanmu lagi. Omae o hontou ni aishiteimasu."

Saat Miyuki mendengar kata itu dari Yami, Miyuki begitu bahagia dan senang. Dia belum pernah mendengar kata itu sebelumnya dari orang yang sangat dia cintai. Tubuhnya gemetar hebat, dia pun menahan air matanya agar tidak keluar dari matanya yang berwarna biru Montana.

"Hime…Dou shita no? Daijoubu ka? Nai teru no?"

"Iie. Daijoubu. Aku hanya senang dan bahagia aja. Karena baru kali ini ada orang yang aku cintai selain keluargaku mengatakan kata itu padaku."

"Sudah…sudah…aku mohon jangan menangis lagi ya. Ntar ilang senyum malaikatnya lho!"

"Mou…Yami jangan mulai lagi deh!"

"Hehehehe…aku sebenarnya ingin melihatmu tersenyum bahagia tapi kau masih latihan sedangkan aku masih di rumah."

"Ah daijobu ka? Gimana udah enakan?"

"Un. Daijobu. Aku udah enakan dari kemarin dan aku sekarang sudah pulih setelah cukup lama istirahat. Kau nanti pulang jam berapa? Aku usahakan untuk menjemputmu dan mengantarmu pulang."

"Gak usah. Aku pulang sendiri, kok."

"Onegai, Hime. Hari ini aku ingin melihat wajahmu saat tersenyum."

"Demo kau masih sakit."

"Udah aku bilang kalo aku udah enakan. Tapi aku ingin sekali melihat senyum malaikatmu itu, Hime. Aku yakin senyumanmu akan membuatku bisa melupakan rasa sakit yang ada di dalam tubuhku ini. Onegai, hime."

"Baiklah kalo gitu tapi jemput aku setelah latihan kedua aja."

"Un. Oh ya, apa June ada di situ dan ikut latihan?"

"Wa arimasen. Yang hadir hari ini hanya aku, Ririn, Akari dan Aiko-sensei. Memangnya kenapa kau tanya June?"

"Nandemonai. Aku hanya tanya aja. Kalo gitu nanti aku jemput kamu jam 12 siang ok."

"Demo, ada teman-temannya Yugi yang sekarang lagi ngumpul di rumahku."

"Daijoubu. Aku juga ingin tahu seperti apa sahabat-sahabat Yugi."

"Baiklah kalo gitu. Aku tunggu di depan agency ya."

"Un. Aku pasti udah di sana sebelum kamu keluar. Jya, Hime. Aishiteru."

"Jya. A…aishiteru, Yami.".

Setelah telpon ditutup, wajah Miyuki semakin memerah. Dia begitu senang memiliki 'orang terpenting' seperti Yami yang begitu mencintainya apa adanya. Tiba-tiba tak terduga 2 sahabatnya muncul ke ruang latihan dengan tertawa kecil.

"Wah…wah…. Seneng banget nih telpon-telponan sama 'orang terpenting'nya." rayu Ririn.

"Un, wajah Miyu-nee juga memerah tuh. Apalagi tadi bilang 'aishiteru' ke Yami-nii." goda Akari.

"Ah Miyuki. Kau begitu cantik, mempesona bak malaikat. Aishiteimasu" kata Ririn sambil mengenggam kedua telapak tangan Akari dan berhadapan dengan Akari.

"Aishiteimasu, Yami." ucap Akari sambil melakukan hal yang sama yang sama.

"Mou…" ucap Miyuki malu.

"Bolehkah aku menciummu, Miyuki?" tanya Ririn.

"Ah Yami, boleh aja." balas Akari.

"Cho…chotto…." ucap Miyuki saat wajah Miyuki semakin memerah. 'Haduh…mampus…. Oh My God…sesuatu tolong hentikan mereka berdua…' doa Miyuki dalam hati sambil gelisah kemudian…

"Ririn…. Akari…."

Ririn dan Akari menghentikan aksinya dan menoleh ke arah sumber suara itu. Miyuki pun juga menoleh ke arah suara yang ternyata Aiko-sensei sudah berdiri di samping Ririn dan Akari.

"Eh…Aiko-sensei…" kata Ririn dan Akari.

"Ngapain kalian, hah? Pake megang-megang tangan juga. Kalo mau pacaran di luar aja sana. Kalian ini bikin malu agency aja." marah Aiko-sensei.

"Gomenasai, Aiko-sensei" ucap Ririn dan Akari sambil bersujud.

"Ayo kita latihan lagi! Ngurus June sama Ririn aja kewalahan sekarang ngurus Ririn sama Akari yang kayak gini. Haaah…. Ampun deh. Ririn emang trouble maker."

"Gomenasai, Aiko-sensei. Kami gak akan ngulangi lagi." menyesal Ririn dan Akari.

Miyuki tertawa kecil karena Aiko-sensei datang menyelamatkannya, jika tidak terpaksa dia yang harus mengurus 2 adiknya ini.

YAMI'S MANSION

Kita pindah ke Yami. Dia mempersiapkan dirinya untuk menjemput sang kekasihnya. Dia mengenakan kaos coklat muda dan ditutupi kemeja lengan panjang berwarna coklat muda, celana jeans panjang berwarna hijau-kebiruan, dan sabuk hitam yang melingkar di pinggangnya. Setelah bersiap-siap, dia turun ke turun tangga.

"Mahaad…!" teriak Yami memanggil butlernya.

"Saya disini Yang Mulia Pharaoh" jawab Mahaad di samping tangga lantai bawah.

"Tolong siapkan mobil Mazda RX-7."

"Anda ingin kemana hari ini?"

"Aku ingin menjemput Freyja dan mengantarnya pulang."

"Demo, Anda baru saja sehat. Daijoubu desu ka, ooji-sama?

"Daijoubu."

"Baiklah, saya siapkan dulu. Saya sudah siapkan coklat hangat untuk Anda di ruang tamu."

"Ok. Arigatou, Mahaad."

"Dou itashi mashite, ooji-sama." kata Mahaad sambil keluar menuju bagasi.

Yami menuju ruang tamu untuk meminum coklat hangat. 5 menit kemudian Mahaad kembali menemui Yami.

"Yang Mulia Pharaoh, mobil Anda sudah saya siapkan."

Yami setelah menghabiskan coklat hangatnya kemudian berjalan ke Mahaad. "Mana kuncinya?" tanyanya sambil menengadah telapak tangan kanannya ke Mahaad. Mahaad memberikan kunci mobil ke Yami. "Ittekimasu." katanya berjalan meninggalkan Mahaad.

"Itterasai, Ooji-sama" ucap Mahaad sambil membungkuk hormat.

Yami menuju mobil RX-7 warna biru miliknya. Dia masuk dan menyalakan mobilnya dan berjalan meninggalkan mansionnya.

AGENCY JH

Back to Miyuki. Mereka selesai latihan tepat jam 12 siang. Aiko-sensei, Miyuki dkk. sedang mengistirahatkan diri mereka di dalam ruangan sambil duduk.

"Latihan kalian semakin lama semakin bagus. Aku bangga dengan kalian. Pertahankan itu ya!" kata Aiko-sensei.

"Arigatou, sensei." ucap Miyuki, dkk.

"Baiklah, aku pulang dulu ya. Suamiku udah menunggu di luar. Ingat pesanku pada kalian ok." ucap Aiko-sensei.

"Hai." ucap 3 anak didiknya bersamaan.

"Untuk Ririn, jangan buat ulah lagi, mengerti?" ucap Aiko-sensei sambil menasehati Ririn.

"Hai, sensei" jawab Ririn malas.

"Jya-nee". ucap Aiko-sensei.

"Jya mata" balas Miyuki, dkk.

Aiko-sensei berjalan meninggalkan mereka bertiga di dalam ruang. Ririn dan Akari kembali mengambil tas mereka di pinggir ruang.

"Yuk, kita pulang. Cape banget nih." ucap Ririn.

"Un. Setelah latihan cukup lama, gak kerasa udah jam segini." ucap Akari.

"Miyuki, kau ingin pulang bersama kami?" tanya Ririn ke Miyuki.

"Ah, iie. Aku dijemput seseorang." jawab Miyuki.

"Dijemput sama Yami-nii ya, Miyu-nee?" goda Akari.

"Da…darimana kau tahu?" tanya balik Miyuki.

"Kami tadi menguping pembicaraan Miyu-nee dengan Yami-nii lho saat Miyu-nee menelpon." jawab Akari.

"Ba…baka! Kalian gak boleh nguping pembicaraan orang."

"Habis kami penasaran kok tiba-tiba Miyu-nee lari kembali ke ruang latihan pas handphone Miyu-nee bunyi. Jadi kami mengikuti Miyu-nee deh!" jelas Akari sangat jujur.

Ririn langsung memukul kepala Akari. "Baka! Ngapain kau bilang tadi, Akari?"

"Gomenasai. Akari lupa." ucapnya sambil mengelus kepalanya yang dipukul Ririn.

"Akari…! Ririn…! Udah cukup! Aku gak suka tindakan kalian tadi! Padahal kalian selalu dan pasti aku ceritakan tentang ini tapi kalian malah menguping pembicaraan orang. Ririn, kau udah berumur 18 tahun dan seharusnya sikapmu lebih dewasa. Akari, kau seorang maknae seharusnya kau gak mengikuti tindakan buruk tadi dan kau harusnya melarang Ririn untuk menguping. Aku tahu kalian penasaran dan khawatir terhadapku tapi tindakan kalian tadi bikin aku marah sama kalian. Aku gak suka tahu!" marah Miyuki.

"Go…gomenasai. Akari salah. Akari gak seharusnya ngikut tindakan Ri-nee tadi. Akari terlalu penasaran. Gomenasai, Miyu-nee. Jangan marahin kami" kata Akari sambil menunduk salah.

"Aku yang salah bukan Akari. Aku yang mengajaknya untuk menguping pembicaraanmu. Akari sempat melarangku tapi aku tetep ingin menguping. Aku terlalu egois dengan tindakanku yang sembrono. Gomen, Miyuki." ucap Ririn sambil membungkuk.

"Baiklah, kalian aku maafkan tapi aku gak ingin kalian melakukan hal itu lagi. Janji?" ucap Miyuki sambil mengangkat jari kelingking ke arah mereka berdua.

"Janji" balas Ririn dan Akari sambil berjalan ke arah Miyuki dan mengangkat jari kelingking mereka dan menyentuhnya ke jari kelingking Miyuki.

Tiba-tiba ada suara sms dari handphone Miyuki. Kemudian Miyuki mengambilnya di saku dan membaca is isms itu.

'From : Yami

Hime, aku sudah sampai di depan Agency JH. Aku pake mobil Mazda RX-7 warna biru.'

'For : Yami

Hai, chotto matte bentar lagi aku ke sana.'

"Dare ga?" tanya Ririn.

"Yami. Dia udah menungguku di depan Agency." jawab Miyuki.

"Cie…cie…dijemput nih sama sang kekasih. Senangnya." goda Ririn.

"Dia belum aku jadikan pacar kok. Kan aku masih 'orang terpenting'nya." ucap Miyuki.

"Iya deh. Yuk kita keluar bareng." ajak Ririn.

Miyuki, dkk. berjalan bersama keluar dari gedung Agency. Agak jauh dari Agency terlihat mobil Mazda RX-7 berwarna biru dan seseorang yang sedang bersandar di pintu mobilnya menunggu seseorang. Miyuki langsung berlari ke arah orang itu dan diikuti oleh Ririn dan Akari.

"Yami….!" teriak Miyuki sambil berlari ke arah Yami. Yami pun menoleh ke sumber suara dan mendapati sang dewi yang sangat dia cintai. Tanpa diketahui oleh Yami, Miyuki langsung memeluknya. Entah sengaja atau tidak sengaja Miyuki melakukannya pada Yami dan pastinya di saksikan oleh 2 sahabat Miyuki.

"Hi…hime…kenapa kau…" ucap Yami terbatah-batah karena kaget dengan tindakan Miyuki.

Setelah Miyuki sadar apa yang telah dia lakukan, tiba-tiba dia melepas pelukannya dan wajah Miyuki kembali memerah. "Go…gomen. Ti…tiba-tiba aja aku memelukmu."

"Ehem…ehem…mesra banget meluknya." goda Ririn.

"Bikin iri aja nih." tambah Akari.

"Hooo…jadi kalian belum pernah melakukan ini sama sekali." ejek Yami.

"Belum, emang kenapa? Peduli amat." jawab sadis Ririn.

Yami menyeringai ke arah 2 sahabat Miyuki, kemudian mendekati Miyuki dan memeluk Miyuki begitu erat sehingga wajah Miyuki dan Yami hampir bersentuhan. Ririn dan Akari kaget dengan tindakan Yami terhadap Miyuki. Miyuki hanya terdiam kaku dengan wajah masih merah. "Hehehehe…aku rasa mumpung kalian belum dapat pasangan, aku bisa membuat kalian makin iri kepada kami dan aku yakin kalian gak akan bisa melupakan kejadian ini." kata Yami dengan nada iblis.

"Ja…jangan macam-macam sama Miyuki!" peringat Ririn marah.

"Macam-macam? Aku sih gak masalah. Lagipula aku melakukannya ataupun gak itu tergantung dari gadis yang aku peluk ini." jelas Yami. 2 sahabatnya begitu kaget mendengar pernyataan Yami, termasuk Miyuki sendiri. Miyuki belum pernah bilang seperti itu ke Yami malah Yami yang sering menggoda Miyuki sehingga Miyuki kalah terhadap Yami.

"Ya…Yami…na…nani ito ka?" tanya Miyuki bingung.

Yami menoleh ke arah Miyuki dengan ekspresi seductive. "Ara…jadi kau lupa ya? Bukankah kau pernah memintaku untuk melakukan apapun kepadamu? Apa aku harus mengatakan kejadian waktu itu saat aku di rumahmu?" tanya Yami hampir to the point.

Miyuki yang mengingat kejadian saat Miyuki ingin tidur di atas tubuh Yami saat Yami sedang sakit. Miyuki langsung menggelengkan kepala dan membungkam mulut Yami dengan telapak tangan kirinya. "Ja…jangan bilang! Ku…kumohon…!".

"Me…memangnya apa yang kau lakukan, Miyuki?" tanya Ririn tidak percaya.

"I…itu…"

"Hi-mi-tsu" jawab Yami sambil mengedip mata ke 2 sahabat Miyuki.

"Nani?" kaget Ririn dan Akari.

"Hehehe…umur kalian masih belum cukup untuk mengetahui hal seperti itu. Tunggu saat kalian udah umur 19 tahun dan punya pasangan masing-masing, aku yakin kalian akan tahu nanti. Yuk, kita pulang Miyuki." ucap Yami sambil membuka pintu mobil untuk Miyuki.

"Go…gomen nee, aku pulang dulu. Aku gak mau masalah ini tambah jadi besar. Jya-nee." pamit Miyuki kemudian masuk ke dalam mobil.

"Yami, awas kalo sampe kamu apa-apain Miyuki! Aku gak akan maafin kamu!" marah Ririn.

Yami berjalan ke pintu sopir dan membukanya, sebelum masuk Yami menampakkan senyum iblis kepada mereka berdua. "I…don't…care…" ucap singkat Yami kemudian masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobil.

Ririn yang mengetahui ucapan Yami langsung marah dan mengepalkan tangannya. Akari yang melihat sikon Ririn berusaha menenangkan Ririn.

"Ri-nee?" ucap Akari khawatir.

"Daijoubu. Ayo kita pulang" balas Ririn dengan menutup setengah wajahnya. Akari dan Ririn pulang bersama dengan naik bis.

YAMI & MIYUKI

Masih perjalanan mengantar sang dewi, Yami hanya tertawa kecil karena senang melihat 2 sahabatnya kesal terhadapnya, sedangkan Miyuki masih diam dan agak marah dengan kelakuan Yami terhadapnya saat dilihat oleh 2 sahabatnya.

"Hime, kau kenapa diam aja?" tanya Yami yang sedang masih menahan tawanya.

"Bisa kau hentikan tawamu yang menjijikan itu?" tanya balik Miyuki agak marah.

"Nani ito ka? Tertawa menjijikan?" tanya Yami berubah menjadi agak marah.

"Ya, emang kenapa? Aku benci melihat kelakuanmu yang menjijikan itu di depan dua sahabatku." kesal Miyuki.

Yami hanya terdiam dan menundukkan kepala sehingga wajahnya tertutup poni rambutnya. "Baiklah kalo gitu" ucap Yami langsung mengarah ke jalan lain.

"Chotto... Kenapa kau belok ke arah lain? Kan tadi itu jalan ke arah ke rumahku." marah Miyuki. Yami diam tidak menjawab ucapan Miyuki. Wajah Yami menutup setengah karena tertutup poninya. "Hentikan mobilnya!." Miyuki mulai takut karena Yami mengajaknya ke suatu tempat yang sepi. "Kore wa doko ni?" tanya Miyuki takut.

Yami kemudian keluar dari mobil dan berjalan ke pintu mobil Miyuki dan membuka pintunya.

"Keluar!" ucap Yami marah.

"Apa-apa'an kau, Yami?" tanya Miyuki juga marah.

"Kau keluar atau aku memaksamu keluar!" bentak Yami.

"Baiklah." ucap Miyuki kemudian keluar. Yami langsung menarik tangan Miyuki dengan kasar. "Ya…Yami…! Lepaskan! Sakit tau!" ucap Miyuki kesakitan. Namun Yami tidak menghiraukannya. Dia tetap membawanya menjauh dari mobil dan menuju ke pohon besar. Yami langsung mendorong tubuh Miyuki dan menekannya di pohon. Miyuki merasa kesakitan atas tindakan Yami terhadapnya. "Yami…lepaskan! Sakit, Yami!".

"Aku gak akan melepaskanmu karena kau sudah membuatku marah!"

"Nani ito ka? Membuatmu marah?"

"Kau lupa? Kau bilang aku untuk menghentikan tawa menjijikanku ya kan?"

"Memang. Aku tahu kau bermaksud seperti itu tapi aku benci dengan tindakan menjijikanmu di depan kedua sahabatku. Aku masih memperbolehkanmu seperti tadi tapi setidaknya kita bisa melakukannya saat berdua. Kau tahu kan mereka masih belum saatnya untuk tahu masalah seperti itu dan seharusnya kau gak melakukan itu. Kau benar-benar cowok rendahan."

"Heh, rendahan ya?"

"…"

"Kau tahu, aku melakukan itu karena aku suka menggoda terhadap orang lain dan aku tahu batasannya. Tapi yang gak kusangka adalah baru kali ini ore no hime mengatakanku cowok menjijikan dan cowok rendahan? Enteng banget kau bilang gitu! Mungkin aku harus memberitahukanmu bahwa aku…" ucap Yami kemudian mendekatkan wajahnya ke dekat telinga kiri Miyuki dan melanjutkan ucapannya "Bisa melakukan hal yang lebih rendahan dan lebih menjijikan kepadamu sekarang ini." ucapnya. Mata Yami semakin menghitam.

Miyuki terkejut mendengar ucapan Yami. Miyuki gemetar ketakutan. Miyuki berusaha memberontak namun gagal karena cengkraman Yami begitu kuat. "Lepaskan aku! Kalo kau gak melepaskanku, aku akan berteriak!"

"Hehehehehehe…. Lakukan saja sebisamu, tapi kau tidak akan bisa melakukannya karena aku bisa membuatmu gak bisa berteriak maupun berontak. Asal kau tahu, kali ini aku akan memberimu hukuman yang lebih menyeramkan dari yang kau tanggung kemarin. Aku yakin, kau pasti tidak akan bisa melupakannya."

"Nani?"

Yami kemudian menenggelamkan wajahnya ke leher Miyuki. "Tenang aja, ini gak akan lama dan pasti akan menyenangkan jika kau menurut." Yami langsung mencium dan menjilat leher, kemudian menjilat telinga dan menggigitnya agak kasar.

"Nnn…Yami…Yameru yo..." desah Miyuki. Yami tidak menghiraukannya dan melanjutkannya ke bahunya. Dia menjilat bahu Miyuki dan tak lama dia menggigit bahu dengan kasar. "Aaaaaahhhhkk…" jerit Miyuki kesakitan dan bahu Miyuki berwarna merah karena gigitan Yami.

Mata Miyuki mulai berkaca. Miyuki mulai tak tahan dengan tindakan Yami. Namun sayang jika dia berteriak, Yami akan terus melakukan hal yang lebih kasar dari ini. Padahal Yami belum pernah melakukan hal ini dengan kasar malah lebih lembut dan dengan rasa cinta. Namun hari ini hanya karena masalah kecil dan kesalahan Miyuki, Yami berubah seperti iblis yang haus dan ingin memangsa gadis tanpa ampun. Miyuki terus mendesah dan menangis. Yami mencium pipi Miyuki yang telah di basahi oleh air mata.

"Sssshhhh…jangan menangis ya? Tenang ini pasti akan cepat selesai dan pastinya kau tidak akan ada tanggungan hukuman lagi jika kau menurut untuk hari ini aja." ucap Yami kemudian melanjutkannya dengan mencium Miyuki dengan kasar.

Yami terus mendorong dan melumat bibir Miyuki untuk memberi ijin lidahnya masuk ke dalam mulut Miyuki, namun Miyuki tak mengijinkan Yami dengan terus mengunci mulutnya rapat-rapat. Miyuki mulai kehabisan nafas tapi dia tetap menutup mulutnya. Yami mulai kewalahan membuat Miyuki mau membuka mulutnya. Yami langsung melumat dan menggigit bibir bawah Miyuki dan spontan Miyuki membuka mulutnya dan Yami langsung memasukkan lidahnya dan memainkan lidahnya dengan lidah Miyuki unuk mendapatkan hak dominant. Miyuki tentunya tak akan bisa menjadi dominant karena Yami begitu hebat dan kuat saat perang lidah. Yami terus melumat bibir dalam Miyuki tanpa ada satupun yang terlewat. Mereka saling bertukar nafas dan akhirnya mereka mulai kehabisan nafas. Yami terpaksa melepaskan ciumannya.

"hah…hah…hah…" nafas Yami terengah-engah.

"Ya…Yami…hah…ku…mohon…jangan…kau…hah…hah…teruskan… lagi…"

"Aku…gak akan…berhenti…sebelum aku…menghukummu...sampai tuntas…"

"Gak…ja…jangan…kumohon…gomen…aku gak akan mengulanginya lagi…"

"Aku sudah memaafkanmu tapi…hukuman harus…dilanjutkan…"

"Jangan Ya…mmph…" ucap Miyuki terpotong. Yami mulai melumat mulut Miyuki lagi. "Ya…Yammph…haaah…stop…aaaahh…" ucap Miyuki saat Yami melumatnya. Desahan Miyuki semakin membuat Yami membabi buta melumatnya dan membuat akal sehatnya menghilang.

Salah satu tangan Yami melepaskan cengkramannya dan mulai meraba kaki samping Miyuki kemudian membuka satu kancing baju Miyuki yang paling atas. Miyuki terperanjat kaget dengan tindakan Yami. Miyuki semakin tidak tahan dengan tindakan Yami yang udah kelewatan.

"Hehehe…tenang ya, rasanya akan nikmat kok." ucap Yami setelah melepas ciumannya.

Kemudian dia kembali mencium leher depan Miyuki perlahan-perlahan turun ke tubuh bagian atas Miyuki. Miyuki yang tahu akan hal itu, entah apa yang terjadi terhadapanya tiba-tiba dia memegang tangan Yami yang mencengkram tubuhnya lalu melepaskan cengkraman Yami dengan mendorong Yami, spontan Yami kaget dan terjatuh ke bawah. Yami terkejut dengan tindakan himenya. Saat Yami hendak berdiri, tiba-tiba Miyuki menampar wajah Yami begitu keras sehingga Yami kembali jatuh. Yami mengelus pipi kiri Yami yang memerah akibat tamparan dari himenya. Kemudian Yami menoleh ke arah Miyuki dan yang didapatkannya adalah wajah Miyuki menangis, marah, benci yang begitu besar terhadapnya. Memang benar Miyuki begitu marah dan membenci tindakan Yami karena tindakan Yami yang sudah melebihi batas. Yami terkejut dan tersadar akan tindakannya tadi. Dia melakukan hal terbejat yang pernah dia lakukan kepada himenya, padahal dia tak ingin menyakitinya namun karena pikiran jahatnya yang telah menguasai dirinya dia dengan mudah melakukan hal itu kepada himenya dan pastinya dia tidak memaafkan tindakannya itu. Dia perlahan berdiri dan mendekati Miyuki. Dia mencoba untuk menyentuh Miyuki namun Miyuki menepis tangan Yami dengan kasar dan memandang Yami dengan tatapan benci.

"Apa kau sudah puas?" tanya Miyuki sambil menangis dan mengenggam kancing atas bajunya.

"Hime…"

"Apa kau sudah puas memperlakukanku seperti ini, hah?"

"A…aku…"

"Kau…padahal kau adalah 'orang terpenting'ku dan kau menganggapku demikian. Aku sangat mencintaimu, sangat mempercayaimu tapi apa nyatanya? Ini balasanmu terhadapku? Balasan dengan mengambil keuntungan dari tubuhku? Apa ini yang kau inginkan sebenarnya, Yami?"

"I…itu…"

"JAWAB PERTANYAANKU, YAMI?"

"Gomen, hime! Maafkan aku…! Aku sebenarnya gak ingin melakukan ini. Entah mengapa tiba-tiba aku seperti itu. Aku benar-benar gak tau, hime." ucap Yami menyesal.

"Gak tau? Heh…kau emang gak tau tapi aku tau ekspresimu saat kau mulai melumat diriku! Kau kasar! Kau gak berperasaan! Dengan mudahnya kau merebut sedikit demi sedikit dari diriku! Padahal aku gak ingin seperti itu tapi kau malah melakukannya. Kau pervert! Kau bahkan lebih buruk dari sampah! Aku membencimu, Yami!" ucap marah Miyuki kemudian pergi meninggalkan Yami.

Yami yang terkejut mendengar kata Miyuki, Yami langsung berlari ke arahnya dan bersujud di hadapan Miyuki. "Aku mohon maafkan aku. Aku…aku menyesal dengan tindakanku tadi. Kumohon maafkan aku…" ucap Yami mulai menangis.

"Kau tahu, aku sangat berharap padamu karena…kau adalah orang yang suatu saat nanti…akan menjadi kekasihku. Aku berdoa kepada Tuhan agar harapanku terkabul dan aku yakin Tuhan pasti akan mendengarkan harapanku. Tapi sayang, harapanku mulai tergoyah karena kelakuanmu terhadapku tadi. Coba saja kalo kau tidak seperti itu, aku semakin percaya dengan harapanku, aku rasa itu percuma karena perasaanku mulai muncul rasa benci terhadapmu, kepercayaanku mulai hilang, aku gak tahu lagi apa bisa memaafkanmu atau tidak." ucap Miyuki kembali berjalan meninggalkan Yami namun Yami menghentikan langkah Miyuki dengan memeluk salah satu kaki Miyuki.

"Jangan…aku mohon jangan tinggalkan aku. A…aku menyesal atas tindakanku yang rendahan. A…aku terlalu emosi saat aku…mendengar amarahmu tadi. Aku…aku gak bisa mengendalikan emosiku. Aku minta maaf. A…aku gak akan mengulangi lagi." ucap Yami sangat rapuh dan akhirnya Yami mengeluarkan air mata penyesalannya. Namun Miyuki tidak merespon bahkan tidak menoleh ke arah Yami. Yami mulai ketakutan, tubuhnya gemetar, dia takut jika Miyuki benar-benar membencinya. "A…aku mohon, hime. A…aku minta maaf. A…aku masih sangat mencintaimu, membutuhkanmu dan menyayangimu. Aku…aku gak bisa hidup tanpamu. Kumohon jangan…tinggalkan aku lagi. Aku mohon, jangan membenciku. Aku takut kehilanganmu lagi. Aku sangat takut kehilangan gadis yang sangat aku cintai. Aku gak mau kehilangan gadis yang sudah lama aku cari sepertimu, karena hanya kaulah yang bisa menyembuhkan rasa sakit ini, yang mampu mengisi hatiku yang kosong dan hampa seperti ini, yang memiliki kehangatan yang murni, yang memiliki kebaikan seperti seorang dewi. Aku mohon, hime. Kumohon…ukkhh…" tambahnya.

"Bangunlah, Yami."

Yami terkejut mendengar kata Miyuki dan dia tahu Miyuki kini tidak marah lagi namun dia masih takut jika Miyuki membencinya. Kemudian Yami bangun tapi dia tak berani berhadapan dengannya maupun menyentuhnya. Dia hanya diam berada di belakang Miyuki. Miyuki melirik ke arah Yami dengan wajah separuh tertutup dengan poninya.

"Tolong antarkan aku pulang."

"Chotto…aku mengantarmu pulang? Tapi aku belum tahu apakah kau memaafkanku atau tidak. Ah…gak dimaafkan juga gak apa-apa toh seharusnya aku gak layak dapat maaf darimu. Tapi apa kau masih membenciku?" ucap Yami namun Miyuki hanya terdiam. "Kumohon Miyuki, jawab aku. Aku gak dimaafkan pun gak apa-apa tapi aku takut kau membenciku. A…aku takut jika itu terjadi. Jangan tinggalkan aku…jangan membenciku…aku takut…" ucap Yami mulai menangis. Kedua tangannya memegang kepalanya, dia menggelengkan kepalanya, matanya menutup erat dan air mata mengucur kembali di kedua pipinya. Dia benar-benar takut jika itu terjadi. Dia ingin sekali berteriak namun suaranya serak karena dia menangis begitu lama. "Maafkan aku…aku bodoh…aku idiot…aku pervert…aku iblis! Aku…aku gak bisa memaafkan diriku sendiri jika aku…menyakitimu. Maaf…maaf…maafkan a…" ucapnya terpotong saat kedua tangannya dilepaskan dari kepalanya dan di genggam erat oleh Miyuki dan Miyuki mencium bibir Yami dengan lembut, kedua tangannya dia lingkarkan di leher Yami. Yamipun perlahan-lahan melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Miyuki dan membalas ciuman Miyuki dengan lembut dan hangat.

Cukup lama mereka berciuman, akhirnya mereka melepas ciuman mereka dan memeluknya dengan hangat. Kedua tangan Miyuki dilingkarkan di punggung Yami, dan kepala Miyuki disandarkan di dada Yami. Sedangkan tangan kanan Yami memeluk tubuh Miyuki dan tangan kiri Yami mengelus rambut panjang Miyuki dan mencium kepala Miyuki dengan lembut.

"Aku sudah memaafkanmu, Yami"

Yami terkejut mendengar balasan Miyuki yang begitu lembut. Yami melepas pelukannya perlahan dan Miyuki menghadap ke Yami begitu juga Yami menghadap Miyuki.

"Kali ini aku memaafkanmu karena emosi kita berdua. Aku tahu emosimu begitu kuat sampai kau gak bisa menahannya jadi aku juga sudah memahami emosimu. Aku gak akan membencimu. Aku juga sangat mencintaimu, membutuhkanmu dan menyayangimu. Aku juga gak bisa hidup tanpamu selamanya. Aku juga gak ingin kehilanganmu karena kau adalah orang yang akan menjadi kekasihku nanti. Aku akan tetap mempercayaimu. Tapi aku ingin kau jangan mengulangi hal itu lagi. Bisa kan?"

"Bisa. Aku janji gak akan mengulangi lagi. Kalo aku mengulangi lagi, aku akan pergi dan gak akan muncul dihadapanmu lagi."

"Jangan bilang begitu. Aku sudah cukup mendengar janjimu yang gak akan mengulangi lagi, itu sudah membuatku percaya lagi kepadamu. Kau bukan idiot, kau bukan iblis. Setiap orang pasti tidak akan lepas dari kesalahannya. Besar maupun kecil pasti ada asalkan kita bisa sadar dan secepatnya memperbaiki lagi, atau kita bisa menyadarkan diri kita satu sama lain dengan cara yang bisa diterima, aku yakin pasti kesalahan akan hilang jika kita membantu satu sama lain. Jadi, suatu saat nanti jika aku melakukan kesalahan, tolong ingatkan aku dengan cara menasehatiku, dan begitu juga sebaliknya."

"Un, kau benar, hime. Arigatou hime karena kau sudah memberiku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku."

"Aishiteru, Yami" ucap Miyuki sambil tersenyum indah.

"Aishiteru mo, hime" ucap Yami membalas dengan senyuman lembut.

Tak lama, Miyuki dan Yami berjalan ke mobil. Yami mengantar Miyuki ke rumahnya dan mereka pun melupakan masalah ini.

TBC


Ricchan: CUUUUT! SUGOI! ARIGATOU MINNA!

All: HAI!

Joe: Akhirnya~ Tinggal upload ke fb, nunggu komen dari para fans wanita. Pasti mereka akan meneriakiku dengan sebutan 'Ah, Joe-sama, kau tampan sekali.' lalu aku bilang 'Terima kasih, Ladies.' *ketawa nista*

All: *sweatdrop*

Ricchan: /Ngarep amat./ Oh ya... *lirik Miyuki & Yami*

Yami/Miyuki: ...

Ricchan: *lirik Yuugi*

Yuugi: *smsan sama Luna*

Ricchan: Haah~ Yang lain gimana ya? Moga2 gak ngamuk. Oke, bales review.

From Gia-XY:

Ricchan: Eman sengaja gue suruh June meranin kayak cewek antagonis di sinetron. - nyatanya gue super benci hal berbau sinetron.

June: Gue gak pernah sama sekali dapat peran jahat. Paling ngepas ntuh Lucia Luffer.

Lucia: ...

Yami: *ketawa nista* Tentu donk. Gue gitu.

Ricchan: Kalo sampe pacar lu kenapa2, gue gak bisa nolongin lu dari mbak2nya lho.

Yami: Iye2.

Ricchan: Udah ketemuan sama anak tercinta kok *seneng*nari2*

Yuugi: Eh...i-iya...arigatou.

Heba: Udah kok.

Ricchan: Arigatou~

From Runa:

Ricchan: Tumben lu pake penname 'Runa'. Biasanya pake punyanya anak gue.

Yami: SOMPRING LU! GUE BUKAN TONG SAMPAH TAU!

Ricchan: *ngakak glundungan*

Miyuki: Eh, masa? - Gak nyadar.

Ricchan: Oi...gue garapnya pas sore habis buka puasa non.

Yuugi: Monggoh aja di kepret tapi ada yg ngelindungin aku kok.

Ricchan: Ah iya2 bener. Arigatou Reviewnya.

~PENGUMUMAN~

Ricchan: *make TOA* BERITA GEMBIRA! BERITA HEBOH!

All: Nande?

Ricchan: BERITA GEMBIRANYA...MI AYAM UDAH BISA NGOMONG LAGI & 4 BULAN LAGI IMOUTO BAKAL NIKAH SAMA MI AYAM!

All: Congrat Heba~

Heba: A-arigatou, minna.

Atemu: Hiks...ternyata kau mendahuluiku Aibou. Huwaaaaaa... #BLETAK

Lillian: *ngibasin tangan habis mukul kepala Atemu*

Yami: Hebat. Selamat ye, Imouto.

Tima: Bikin iri aja.

Yuugi: Aku gak boleh kalah sama Imouto.

Ricchan: BERITA HEBOH! RUNA YG NGAKU-NGAKUNYA GAK SUKA COWOK TERNYATA PUNYA TUNANGAN LHO~

All: NANIII?

Ricchan: JA...JANG...! INILAH ORANGNYA!

Kuroshiro: Master, tolong ralat. Aku masih pacaran sama Runa.

Ricchan: Tapi lu mau tunangan kan?

Kuroshiro: Tapi aku belum minta ijin sama anak Master.

Ricchan: Tinggal ngomong aja apa susahnya sih.

Kuroshiro: O-ok.

Ricchan: Udah Chapter 6. Masih banyak chapter lagi. Kudu finish secepatnya biar bisa ganti story.