Disclaimer : Touken Ranbu milik DMM and Nitroplus
AN : Frangipani omake.
Maaf kalau ada karakter yang out of character.
Omake ini berbasis dari cerita Frangipani dengan saniwa lima tahun yang tinggal bersama para touken danshi dalam setting modern.
Mungkin bakal membahas sebagian toudan yang tidak tersorot dalam cerita Frangipani.
Warn : Chara Death
Lahir dan besar di China, Doudanuki Masakuni tak terlalu senang memakai nama manusianya. 田正同—Tian ZhengTong atau boleh dipanggil Denzell Tian tidak terlalu dekat dengan ayahnya. Ayahnya hanya pegawai negeri sipil tingkat rendah. Namun gajinya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya yang hanya terdiri dari tiga orang.
Kebijakan wajib satu anak cukup membantu bagi beberapa orang namun juga merepotkan di sisi lain. Lahir dan menghabiskan masa kecil di Yunhe, Masakuni sangat suka bermain di luar dari matahari di terbit sampai matahari terbenam. Kulitnya pun mulai sedikit terbakar. Namun keluarga Masakuni pindah ke Beijing karena pekerjaan ayahnya yang di pindah ke ibukota. Di satu sisi, meskipun ayahnya sibuk demi mereka, Masakuni sangat menyukai ibunya.
Ibunya—wanita itu bukanlah saniwa. Hanya manusia biasa. Wanita itu bernama王秀兰-Wang Xiu Lan-Rika Wang. Rika, seperti wanita pada umumnya, menyukai coklat dan diam-diam menyukai perhatian dari suaminya meskipun itu hanya hal-hal kecil. Rika Wang, seperti seorang ibu pada umumnya, sangat menyayangi putranya dan berjuang demi keluarganya.
Masakuni sangat menyayangi wanita itu. Hanya saja, ayahnya adalah saniwa. Dan seperti saniwa pada umumnya, usia ayah Masakuni tidak panjang. Namun takdir berkata lain. Rika Wang tewas akibat kecelakaan di jalan. Supir mabuk, kata publik. Namun tak lama setelah itu, ayahnya meninggal—tak lama, seminggu setelah ibunya meninggal. Berbekal harta warisan, Masakuni didiktekan wasiat keduanya untuk ke Jepang.
Ayahnya sudah mengatur segalanya, dari asrama dan sekolah dan pertimbangan lainnya. Masakuni hanya bisa menghela nafas sebelum akhirnya masuk ke asrama itu.
"Kakaka! Anak baru?" tanya Yamabushi yang dulu masih remaja.
Waktu itu, hanya ada Yotsune-san dan Rei belum ditinggal pergi oleh ayahnya.
"Ohh! Calon adik siapa ini?" tanya Mitsutada yang sedikit lebih muda dari Yamabushi.
"Main denganku yuu!" teriak Shishiou.
Doudanuki ingat bagaimana ramainya dia disambut para tachi. Hanya karena dia uchigatana, bersama Yamanbagiri, Ookurikara, Souza dan Mutsu, mereka langsung dianggap anak-anak. Yotsune-san sendiri malah terus memanggil mereka semua 'bocah'. Iya, Yotsune-san yang dulu pernah terlihat keren dan tampan—karena tiap manusia pernah muda.
Souza masih sama—pasif agresif, Ookurikara tetap lebih suka menyendiri atau hanya latihan dengan Yamanbagiri. Mutsu sendiri lebih memilih bersosialisasi dengan manusia dan berkutat dengan teknologi masa kini daripada bermain dengan para touken danshi lainnya. Yamabushi, Mitsutada dan Shishiou saat itu terus mengeluhkan banyaknya tugas dari guru dan merepotkannya mengurus banyak hal yang berkaitan dengan manusia.
Masakuni besar di asrama dan entah kenapa, Shishiou dan Mutsu memang lebih menyenangkan di ajak bicara daripada Souza dan Yamanbagiri. Ookurikara memilih menyendiri namun dia memberi pengecualian bagi Yamanbagiri dan Mitsutada. Souza sendiri lebih memilih diam dan menanti pedang Samonji lainnya.
Dan tak lama, pedang lain pun bermunculan. Para tantou yang sudah cukup umur untuk masuk sekolah, Ichigo yang transfer, Uguisumaru dan Tsurumaru yang datang ke Jepang jauh-jauh dari Russia, Kousetsu dari Osaka dan Sayo dari Shizuoka, sebagian besar pedang terlihat canggung pada awalnya.
Puncak kecanggungan itu adalah ketika Nagasone bertemu Mutsu pertama kalinya di kehidupan ini.
"Kamu lagi?!" teriak mereka berdua.
"Apa yang kamu mau, bocah Tosa?!"
"Kamu sendiri, pembunuh?!" teriak Mutsu.
"Kamu sendiri?! Kamu cuma pedang hiasan!" teriak Nagasone.
"Hey, ada apa ini ribut-ribut?" tanya Iwatooshi.
"Mereka bertengkar!" lapor Jirou.
Yotsune-san menghukum Nagasone dan Mutsu. Mereka berdua dilarang masuk asrama sampai mereka bisa setuju dalam sepuluh hal. Doudanuki melihat Yotsune-san yang menyuruhnya untuk mengikutinya. Doudanuki mengikuti arahan si bapak kos.
"Nih, taruh ini di kamar Nagasone dan Mutsunokami. Mereka bisa kena sengatan dingin kalau mereka tak langsung mandi air panas dan kamu tahu sendiri mereka berdua itu kadang lalai kalau mengurus diri sendiri." kata Yotsune-san seraya memberikan hand warmer dan botol air panas kepada Doudanuki.
"Kenapa tak lakukan sendiri, Yotsune-san?" tanya Masakuni.
"Kalau aku baik sedikit pada mereka, nanti mereka ngelunjak! Aku saniwa sementara kalian karena itu kalian mesti mendengar perintahku meskipun cuma sementara!" tegas Yotsune-san.
Doudanuki mengangguk. Karena, dia tak peduli siapa pun saniwanya. Yang penting adalah dia bisa bertarung. Seperti apa yang diharapkan penciptanya.
Bertarung.
Bertarung.
Bertarung.
Masakuni melihat rekan-rekannya selesai membereskan musuh. Kapten mereka menyuruh untuk kembali dan tugas mereka malam itu pun selesai. Dia melihat Reijin tertidur di sofa. Mata gadis itu terbuka dan Masakuni langsung tahu kalau dia adalah persona saniwa.
"Bertarung bukan tujuanku menghidupkanmu dalam tubuh itu, Doutanuki Masakuni." tegas saniwa Reijin.
"Bertarung adalah tujuan aku diciptakan." kata Masakuni.
"Ya, memang bertarung adalah tujuan kau diciptakan. Tapi bukankah kau bisa beleha-leha? Maksudku, memang bagus bekerja keras tapi kau bisa juga beristirahat sejenak. Istirahat sejenak, menikmati makanan, minum minuman enak dan bersosialisasi dengan pedang lain. Kulihat, temanmu hanya Otegine, Mutsu dan Shishiou. Itu pun karena mereka mau berlatih denganmu. Bagaimana kalau kau mengajak yang lain latihan denganmu?"
"Itu saran atau perintah?"
"Perintah. Buatlah teman dengan latihan. Kurasa kau boleh mulai dari Mikazuki." kata saniwa.
Bertarung.
Bertarung.
Bertarung.
Darah berceceran.
Suara dentingan besi pedang mereka.
Menghindar ke kanan.
Kiri. Musuh akan menyerang kiri yang terbuka.
Besi bertemu besi.
Tarian pedang itu terhenti.
Tanpa suara, Masakuni bisa merasakan kesakitan.
Pedang musuh berhasil menembus pertahannya.
Pedang itu dicabut.
Darah kembali berceceran.
Sebagian menetes mengikuti gravitasi.
Kaki Masakuni menyerah dan tubuhnya roboh meskipun dia berusaha keras menahan rasa sakit. Dia masih tak mau menyerah. Dia tak ingin mati semudah ini. Dengan tenaga terakhirnya, dia menggunakan pedangnya dan menusuk punggung musuh sebelum menarik pedangnya, membiarkan darah muncrat dari tubuh itu. Tubuh Masakuni jatuh begitu saja. Tanpa adanya tenaga dari tubuh ini maupun jiwanya.
Masakuni menatap langit biru gelap. Dia ingat bagaimana ibunya selalu memanggil namanya dengan lembut dari dapur dan ayahnya selalu menanyakan apakah dia senang di sekolah atau tidak. Pandangan Masakuni mulai gelap. Darah sudah terlalu banyak mengalir keluar dan simbol pedangnya rusak. Masakuni mendengar suara kaptennya berteriak sayup-sayup. Masakuni hanya bisa melihat langit malam yang berbintang.
"Papa, mama! Langitnya berbintang!"
"Kamu suka sekali langit berbintang ya?"
"Um!"
"Mama juga suka."
"Kenapa?"
"Karena langit berbintang mengingatkan mama akan kamu dan papa!"
"Aku sayang mama!" kata Masakuni yang masih enam tahun.
"Langit berbintang, hm?"
"Ayah juga suka?"
"Yah...kamu dan ibumu. Kalian berdua lahir di hari berbintang. Dan aku bertemu kalian di hari berbintang."
Pasangan ayah anak itu terdiam sejenak.
"Masakuni."
"Ya, ayah?"
"Aku sayang sekali padamu. Papa bangga padamu."
Itu sebelum keduanya meninggal. Masakuni ingin tertawa. Ironis. Dia juga akan mati dalam cuaca saat dia lahir.
'Ayah, ibu...maafkan aku.' batinnya.
Langit terlihat makin hitam dan matanya terasa berat—sisa kesadarannya menghilang. Tak tahan, dia pun menutup matanya.
Maaf atas update yang super telat. Author kena final exam, jadi engga bisa lanjutin nulis fanfic. (kalo engga keenakan nulis terus engga belajar kan gawat, lol)
