Between Friendship and Love
.
KyuMin
.
EYD berantakan, amatir, typo(s), GS, OOC, DLDR
.
This fanfiction belongs to me but the characters belong to themselves
.
Demam Kyuhyun telah sembuh. Sekarang lelaki itu sudah bisa beraktivitas seperti biasa, kecuali sekolah. Mereka sedang dalam masa liburan. Kyuhyun yang baru selesai mandi itu buru-buru mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Setelah pakaian terpasang rapi pada tubuhnya, ponsel Kyuhyun berdering. Lelaki itu segera mengangkat panggilan pada ponselnya. "Yeoboseyo?"
"Jadi kau sudah memilih, Kyuhyun?" Itu suara Kibum. Memang Kyuhyun tidak melihat nama si penelepon. Dia sedang buru-buru.
"Memilih apa?"
Terdengar helaan nafas berat dari seberang. "Kau sudah memilih cintamu atau persahabatanmu?"
Memilih diantara keduanya itu? Haruskah ia memilih salah satu diantara kedua pilihan tersebut?
"Jangan katakan kalau kau masih bimbang. Kurasa kau telah memilih. Kau memilih Sungmin."
"Aku belum memilih siapapun."
"Lalu kenapa kau mengirimi pesan pengakuanmu pada Siwon kemarin? Kau tahu? Siwon kecewa padamu. Kau dianggap merebut orang yang ia cintai."
"Aku merebut Sungmin darinya, begitu? Apa-apaan dia?! Dia, kan tahu kalau aku memang menyukai Sungmin dari awal. Meskipun aku masih mengelak saat itu."
"Iya, aku tahu. Kemarin dia bilang padaku. Memang awalnya Siwon mengiramu menyukai Sungmin, tapi karena kebodohanmu saat acara ulang tahun sekolah yang mengatakan kalau lagu yang kau nyanyikan itu untukku, jadi dia pikir dia salah. Menurutnya kau masih menyukaiku."
Semua karena kebodohan Kyuhyun. Itu benar. Kyuhyun yang lamban dalam memahami perasaannya sendiri dan hal paling bodoh yang membuat lelaki itu kesal adalah saat acara ulang tahun sekolah. Kyuhyun juga tidak tahu kenapa bisa dia berkata begitu. Tanpa sadar lelaki itu berteriak.
"Ya! Kau mau membuatku tuli, hah?!"
Kyuhyun langsung meminta maaf pada Kibum. Dia benar-benar lupa kalau dirinya sedang menerima telepon. Setelah itu sambungan terputus. Kyuhyun mendudukan dirinya di kursi meja belajarnya.
Benarkah aku telah memilih Sungmin?
.
.
.
Siwon mengajak Kibum untuk bertemu di depan gerbang sekolah mereka. Siwon sudah datang daritadi, tetapi Kibum belum juga menampakkan batang hidungnya. Siwon melihat arlojinya. Sudah lima belas menit menunggu dan yang ditunggu belum datang. Untung saja Siwon itu penyabar.
Empat menit kemudian Kibum akhirnya tiba. Gadis itu mengejutkan Siwon yang sedang duduk di trotoar dengan kopi panas di tangannya.
"Ya! Kibum-ah! Untung saja kopi ini tidak tumpah ke bajuku."
"Hehe maaf, maaf. Kau sudah lama menunggu, ya?"
Pertanyaan yang keluar dari mulut Kibum membuat Siwon mendengus kasar. Kibum tahu kalau dirinya telat selama sembilan belas menit. Namun gadis itu ingin memastikan apakah Siwon bosan atau tidak karena menunggunya. Jika lelaki itu menjawab iya, berarti dia bosan. Jika tidak, ya tidak bosan.
Siwon tidak menjawab pertanyaan yang menurutnya konyol itu. Dia memasuki mobilnya dan memberi kode pada Kibum untuk masuk ke dalam mobil. Kibum yang mengerti pun segera masuk ke mobil Siwon.
.
.
.
Mereka berdua telah sampai di depan rumah Sungmin. Kibum yang menyuruh Siwon untuk pergi ke rumah Sungmin. Siwon tadinya tidak mau, tetapi karena bujukan dan komentar-komentar lainnya yang memberi motivasi, akhirnya Siwon mau.
Kibum yang sudah turun terlebih dulu segera memencet bel rumah besar itu. Suara bel menggema diseluruh rumah bahkan sampai halaman. Belum ada tanda-tanda pintu pagar terbuka. Kibum memutuskan untuk memencet bel lagi.
Tak lama datang seorang wanita yang diketahui adalah pelayan rumah. Wanita yang sudah berumur itu mempersilahkan Kibum dan Siwon untuk masuk setelah ia membuka gerbang.
Kini mereka berdua telah duduk di kursi ruang tamu rumah itu. Tak lama Sungmin datang sambil membawa minuman untuk mereka. Sungmin sudah terbiasa mandiri. Sejak ditinggal adik tersayangnya, Sungmin menjadi pribadi yang mandiri. Dulu Sungmin terkenal sebagai anak manja di rumah. Adik lelakinya, Sungjin, yang memanjakan sang kakak. Sungjin selalu memanjakan Sungmin meskipun ayah dan ibunya melarang. Menurut Sungjin wajar jika perempuan manja. Karena terlalu dimanjakan, Sungmin pun menjadi malas dan agak kurang ajar.
Sungmin menjadi pribadi yang mandiri dan bisa dibilang cuek, karena Sungjin juga. Kematian Sungjin membuat Sungmin terpuruk. Empat tahun lalu kecelakaan hebat menimpa keluarganya. Saat sedang dalam perjalanan menuju Busan, mobil yang mereka tumpangi tidak sengaja tertabrak truk besar dari belakang. Karena truk itu masih berjalan, otomatis mobil tersebut ikut jalan dan menabrak mobil lain yang berada di depan. Semua penumpang dan supir selamat, kecuali Sungjin. Dia meninggal di tempat karena tergencet.
Kembali pada Sungmin yang sudah duduk di depan Siwon dan Kibum. "Ada apa kalian kesini?" Tanya Sungmin ramah. Perkiraan Siwon adalah Sungmin akan memutuskan pertemanan mereka karena ungkapan rasa cintanya pada gadis itu dan Sungmin akan menjauhinya. Ternyata tidak. Sungmin tidak berbuat begitu.
Kibum melirik ke arah Siwon yang masih terdiam. Tangan kanannya menyenggol Siwon. Kibum menyuruh Siwon untuk berbicara. Namun Siwon masih tetap diam.
"Kami -maksudku, aku kesini untuk menemani Siwon. Ya, dia butuh penjelasan kenapa kau malah pergi begitu saja setelah Siwon mengungkapkan perasaannya padamu."
Sungmin mengernyitkan dahinya. Sejak kapan Kibum tahu soal itu. Atau mungkin Siwon yang memberitahunya. Sungmin memanggil Siwon yang sedaritadi diam sambil mengamati lantai rumahnya.
"Maafkan aku, Siwon-ah. Maaf karena waktu itu aku malah pergi begitu saja. Aku bingung. Aku harus merespon apa padamu saat itu. Jujur saja selama ini belum ada laki-laki yang menyatakan perasaannya padaku, kecuali kau-"
"-dan Kyuhyun." Potong Siwon.
Sungmin terkejut. Bagaimana bisa Siwon mengetahuinya. "Kau tahu?"
"Jelas saja aku tahu. Kyuhyun yang mengatakannya padaku."
Untuk apa Kyuhyun memberitahu Siwon? Agar terjadi perang, begitu? Bodoh sekali Cho Kyuhyun itu.
"Lalu sekarang bagaimana?" Kibum mengeluarkan suaranya.
"Hm... maaf aku tidak bisa membalas perasaanmu, Siwon-ah.." ucap Sungmin sehalus mungkin agar tak menyakiti Siwon.
"Karena kau telah jatuh cinta pada Kyuhyun, kan?"
Tak hanya Sungmin yang terkejut, Kibum juga. Mereka berdua sama-sama menatap Siwon yang masih saja betah memandangi lantai rumah itu. Baru saja Sungmin ingin mengeluarkan suaranya, seseorang datang.
"Kyuhyun?" Suara Kibum berhasil membuat Sungmin dan Siwon mengalihkan perhatian mereka. Kini mereka bertiga menatap seseorang yang diketahui bernama Kyuhyun itu.
"Ada apa kau ke sini?" Tanya Siwon dengan tangannya yang mulai terkepal.
"Aku ingin menjemput Sungmin-"
"-sudah kuduga." Siwon tertawa sinis. Ketiga sahabatnya itu mulai merasa ada yang tak beres. Kemudian Siwon berdiri dan pergi meninggalkan ketiga sahabatnya itu. Tanpa pamit pada si pemilik rumah, Siwon memasuki mobilnya dan pergi.
"Acara hari ini dibatalkan saja." Ujar Sungmin kembali duduk di kursi. "Hari ini memang aku dan Kyuhyun akan pergi, tapi tidak berdua. Kami ingin mengajak kau, Kibum dan Siwon. Sayangnya ada yang salah paham."
"Maaf, Min.."
"Tidak perlu meminta maaf, Kibum-ah. Aku juga yang salah. Diawal aku tidak menjelaskan pada kau dan Siwon."
Karena acara pergi bersama dibatalkan, Kyuhyun dan Kibum pamit pulang. Setelah kepulangan mereka, Sungmin berlari ke kamar tidurnya, lalu mengunci pintu kamar itu. Di dalam, Sungmin sedang menangis. Itulah mengapa dia tidak mau jika menjalin pertemanan dengan laki-laki. Ujung-ujungnya pasti ada yang menyukai dirinya. Ini bukan pertama kalinya bagi Sungmin, ini sudah kedua kalinya. Masih ingat cerita dichapter 3? Dimana Sungmin menceritakan kisah sedihnya pada Kyuhyun.
Laki-laki teman smp Sungmin juga punya sahabat dan mereka bertiga berteman. Sungmin menceritakan kejadian yang menimpa dirinya pada teman lelaki yang merupakan sahabat dari orang yang hampir menodainya itu. Dan mereka memutuskan untuk tidak bersahabat lagi.
Sekarang, Sungmin kembali menjadi pelaku dimana ia memutuskan hubungan persahabatan antara Kyuhyun dan Siwon. Gadis itu tidak mau dianggap jahat. Ini memang bukan kesalahannya, tetapi dia tetap merasa bersalah. Dialah penyebab hancurnya persahabatan Kyuhyun dan Siwon.
.
.
.
"Arggh!" Kyuhyun melempar helmnya sembarang. Cho Ahra, sang kakak, yang melihatnya langsung mengambil helm tersebut dan menghampiri Kyuhyun.
"Apa-apaan kau ini? Jika sedang marah jangan lampiaskan kemarahanmu pada benda-benda mati, contohnya helm ini. Kau tahu kalau kau belum bisa mencari uang, kan? Kalau kau sudah bisa mencari uang, kau boleh membanting atau membuang barang sesukamu."
Setelah berkata demikian, Ahra menyerahkan helm itu pada Kyuhyun. Lalu gadis itu masuk ke dalam rumah. Kyuhyun membenarkan perkataan kakaknya itu. Membuang ataupun membanting barang saat marah memang tidak baik. Tapi itu sudah jadi kebiasaan Kyuhyun setelah ibunya meninggal.
Kyuhyun duduk di kursi panjang yang berada di halaman depan rumahnya. Dia membuka galeri yang ada di ponselnya dan membuka salah satu foto di galeri tersebut. Foto dirinya bersama ketiga sahabatnya sedang tersenyum bahagia. Kyuhyun memperbesar wajah Siwon yang ada di foto tersebut. Lalu ia menggeser layar sedikit ke kiri dan ia mendapati wajah Sungmin.
"Kenapa jadi serumit ini?!"
.
.
.
Siwon menghempaskan tubuhnya di atas kasur empuknya. Lelaki itu memejamkan mata sejenak. Terdengar suara ketukan pintu kamarnya dan kemudian suara sang ibu yang memanggil dirinya. Siwon beranjak untuk membuka pintu.
"Ada Kibum di bawah. Cepat kau turun." Setelahnya, sang ibu turun ke lantai satu meninggalkan Siwon yang masih betah berdiri di depan pintu kamarnya.
.
.
.
Siwon menuruni anak tangga rumahnya. Dilihatnya sang ibu sedang bersenda gurau dengan Kibum. Siwon terpana melihat Kibum yang sedang tertawa.
Ternyata Kibum sangat cantik jika sedang tertawa. Kenapa aku baru menyadarinya?
"Siwon-ie, kenapa melamun disitu? Cepat ke sini." Suara ibunya menyadarkan dirinya. Siwon pun segera beranjak dari tempat awalnya.
Setelah Siwon duduk di kursi ruang tamu rumahnya itu, ibunya permisi ke belakang. Kibum dan Siwon mempersilahkan. Dan kini tinggal mereka berdua yang berada di ruang tamu. Siwon menanyakan alasan kenapa Kibum datang ke rumahnya.
"Aku ke sini karena kau. Kau bodoh atau apa, sih? Jangan seperti itu jika sedang bertamu. Oh, iya. Ternyata Sungmin ingin mengajak kau, aku dan Kyuhyun pergi bersama. Dan kau langsung pulang begitu saja." Itulah jawaban dari pertanyaan Siwon atas kedatangan gadis itu ke rumahnya.
"Dan ada lagi. Kau meninggalkanku begitu saja. Kau tahu? Aku jadi pulang sendiri." Ucap Kibum sebal
"Kau tidak bareng Kyuhyun?"
"Tidak. Dia tidak langsung pulang. Katanya dia ingin pergi ke suatu tempat yang sangat rahasia. Berlebihan."
Siwon jadi merasa bersalah pada Kibum. Lelaki itu meminta maaf pada Kibum, "Maafkan aku, Kibum-ah..."
Kibum menggelengkan kepalanya, "Sudah tak apa. Lebih baik sekarang kita pergi bersenang-senang. Aku bosan melihatmu murung seperti itu."
Siwon terkejut. Baru pertama kalinya dia diajak pergi oleh seorang perempuan. Biasanya dia yang mengajak perempuan pergi. Tapi ada benarnya juga ajakan Kibum. Daripada dirinya harus mengurung diri, tidak makan dan terus bersedih, lebih baik bersenang-senang. Siwon mengiyakan ajakan Kibum. Dan sekarang mereka berdua sedang dalam perjalanan ke taman hiburan.
.
.
.
Kyuhyun melepaskan jaket tebalnya dan menggantung jaket tersebut di belakang pintu kamarnya. Dia sendirian di rumah. Ayahnya dan kakak perempuannya sedang keluar mencari uang. Ahra, kakak perempuan Kyuhyun, memang sudah bekerja di sebuah perusahaan sebagai manager. Kadang Kyuhyun berpikir ingin mengalahkan kakaknya itu. Kalau soal kecerdasan, Kyuhyun yang menang. Ahra juga cerdas, namun tak secerdas adik laki-lakinya. Yang membuat Kyuhyun iri dengan kakaknya adalah karena Ahra selalu beruntung.
Kyuhyun mengambil ponselnya dan menghubungi Sungmin. Saat nada sambung telah terdengar, Kyuhyun jadi teringat sesuatu. Bagaimana Sungmin bisa tahu kalau dirinya ada di pemakaman ibunya? Tak lama terdengar suara Sungmin diseberang sana.
"Ada apa, Kyu?" Suara Sungmin serak. Seperti habis menangis.
"Kau habis menangis, Ming?"
Sungmin tak perlu menjawab. Dirinya tanpa sadar terisak pelan dan tentu saja terdengar di telinga Kyuhyun. Kyuhyun semakin yakin kalau Sungmin habis -tidak- sedang menangis.
"Kau kenapa menangis, Ming?"
"Maafkan aku, Kyuhyun.. aku benar-benar minta maaf.." Sungmin kembali menangis diseberang sana. Kyuhyun mengetahuinya karena Sungmin berbicara sambil menangis.
Lagi. Kyuhyun kembali melihat -tidak- mendengar Sungmin menangis. Ingin Kyuhyun menghampiri Sungmin dan menenangkan gadis itu. Tapi tidak. Kyuhyun akan semakin terluka jika melihat Sungmin menangis dihadapannya. Mendengar saja sudah membuat hatinya sakit.
"Uljima.." Hanya kata itu yang dapat Kyuhyun keluarkan. Kyuhyun jadi teringat ibunya sewaktu sedang menelepon dirinya sambil menangis dan meminta maaf. Dan Kyuhyun hanya mengatakan untuk tidak menangis. Sama seperti ini.
"Maaf, Kyuhyun.." Isakan Sungmin semakin terdengar kencang dari seberang sana.
"Ming, kau kenapa meminta maaf?"
"Karena aku, kau dan Siwon jadi seperti itu."
"Tidak. Itu bukan salahmu. Itu salahku. Aku yang salah, Ming. Jangan meminta maaf lagi, oke?"
Di seberang sana Sungmin menggelengkan kepalanya. Seandainya saja Kyuhyun dapat melihatnya, pasti dia akan mengulangi perkataannya barusan.
"Ming, tenangkan dirimu dulu. Nanti kalau sudah, aku akan menghubungimu lagi."
Sebelum Kyuhyun benar-benar memutuskan sambungan telepon, dia kembali berkata, "Dan satu lagi. Kau tidak perlu meminta maaf. Aku yang salah." Setelahnya sambungan telepon terputus.
Kyuhyun duduk di kasurnya dan merenung. Sungmin yang jelas-jelas tidak bersalah sama sekali merasa sangat bersalah dan bahkan meminta maaf. Sedangkan Kyuhyun yang membuat keadaan jadi rumit seperti itu tidak merasa bersalah sama sekali.
"Aku harus menemui Siwon." Kyuhyun mengambil jaket tebalnya yang ia gantung di belakang pintu. Setelah memastikan pintu rumah terkunci rapat, Kyuhyun pergi dengan motornya.
.
.
.
Sayangnya orang ingin Kyuhyun temui sedang berada di Everland bersama seorang gadis cantik berkulit putih seperti salju yang sedang mengambil gambar melalui kamera DSLRnya itu. Kibum sedang asyik dengan kegiatan potret-memotret. Everland adalah tempat kedua yang dia dan Siwon kunjungi.
Siwon memilih duduk di kursi yang berada tepat di belakang Kibum. Laki-laki itu tidak begitu suka fotografi bahkan tak mahir dalam mengambil gambar. Foto hasil jepretan Siwon selalu buram. Itu mengapa dirinya tak suka fotografi.
Kibum yang merasa puas dengan hasil jepretannya itu duduk disebelah Siwon. "Hei, Won-ah. Mau mencoba foto?" Kibum menyerahkan kameranya itu pada Siwon.
Siwon menggeleng. "Aku tidak mahir dalam memotret, Kibum-ah. Kau bahkan telah mengetahuinya dari dulu."
Kibum tertawa. Gadis itu memang tahu kalau Siwon tidak mahir dalam hal memotret. Tapi jika memotret diri sendiri sepertinya Siwon juaranya.
"Tapi kalau selca kau jagonya, ya?" Ledek Kibum yang setelahnya gadis itu tertawa. Siwon memasang wajah cemberutnya. Tawa Kibum makin menjadi.
"Berhenti tertawa, Kibum-ah!"
Bukannya berhenti, tawa gadis itu makin meledak-ledak. Siwon yang sudah kesal mengambil roti yang ada dalam saku jaketnya dan memasukkannya ke dalam mulut Kibum yang masih menganga lebar itu. Kibum tersedak karena ulah Siwon. Sekarang gantian Siwon yang tertawa.
"Ya! Kau ingin membuatku mati tersedak, eoh?!" Omel Kibum setelah menelan roti yang ukurannya bisa dibilang besar mengambil air minumnya dari dalam tas berwarna putih itu dan meminumnya.
"Akhirnya kau berhenti tertawa juga." Ujar Siwon. Laki-laki itu memberikan tanda damai dengan jarinya. Kibum memutar bola matanya malas.
"Sudah sana cepat memotret. Aku ingin tahu apakah ada perubahan atau tidak." Kibum menyerahkan kameranya pada Siwon yang langsung menerimanya.
"Kalau blur jangan ditertawakan." Siwon berdiri dan mendekati salah satu pohon yang ada di sana. Setelah itu dia mengambil gambar pohon tersebut. Siwon kecewa dengan hasil jepretannya. Kalian pasti sudah tahu bukan bagaimana hasilnya?
Siwon kembali ke tempat duduknya dan menyerahkan kamera itu pada pemiliknya. Kibum melihat hasil jepretan Siwon dan tak lama gadis itu tertawa. Siwon hanya menghela nafasnya.
"Mau kuajarkan caranya?" Tawar Kibum pada Siwon. Terlihat laki-laki itu sedang berpikir.
"Jangan kebanyakan berpikir. Kau mau atau tidak?"
Siwon akhirnya menganggukkan kepalanya tanda setuju. Kibum menarik tangan Siwon dan mengajaknya berjalan-jalan untuk mencari objek yang tepat untuk diambil.
"Kau lihat pohon yang ada disebelah sana?" Tanya Kibum sambil menunjuk pohon yang ia maksud. Siwon mengangguk.
"Sebentar lagi salju yang ada di atas daun yang ada di sana akan jatuh. Kau coba ambil gambar itu." Kibum kembali menunjuk daun yang dia maksud. Siwon melihatnya dan benar. Salju yang ada di atasnya akan turun.
"Arahkan kamera pada daun itu. Kau atur jarak yang ingin kau ambil." Siwon mengikuti arahan yang diberikan Kibum. Dia mulai mengarahkan kamera itu pada daun tersebut. Lalu Siwon mengatur jarak yang diinginkan.
"Setelah ketemu jarak yang tepat, kau tahan nafasmu. Cari fokus yang tepat. Kau masih terus menahan nafasmu sampai kau menjepretnya. Setelah selesai mengambil gambar itu, kau boleh bernafas lagi."
Siwon kembali mengikuti arahan yang diberikan Kibum padanya. Setelah dirasa tepat, Siwon mulai mengambil gambar daun itu.
"Ada lagi. Saat kau akan mengambil gambar, kau tidak boleh langsung menekan tombol itu dengan cepat. Tekan dengan perlahan dan kau masih harus menahan nafasmu."
Siwon mulai menekan tombol yang digunakan untuk mengambil gambar. Ia tekan dengan perlahan dan akhirnya..
Jepret!
Siwon melihat hasil fotonya. Berhasil. Dia berhasil memotret salju yang turun dari daun itu. Hasilnya juga lumayan bagus. Kibum yang melihatnya juga puas. Tidak sia-sia dia mengajarkan Siwon. Setelah itu Siwon jadi terus memotret apa saja yang ingin dia foto.
Timbul ide jahil Siwon. Saat Kibum sedang memandangi orang-orang yang berlalu lalang, Siwon mengarahkan kamera ke arah Kibum.
"Kibum-ah."
Kibum menoleh dan bunyi kamera yang sedang memotret itu terdengar. Siwon tertawa melihat wajah Kibum yang dia ambil. Kibum menatap tajam Siwon.
"Awas kau, Choi Siwon!"
.
.
.
Kyuhyun kembali ke rumah setelah tahu kalau Siwon tidak ada di rumahnya. Kyuhyun teringat sesuatu. Dia ingin menghubungi Sungmin. Diambilnya ponsel hitam miliknya dan ia mulai menghubungi Sungmin. Tersambung, tetapi tak diangkat oleh Sungmin.
Setelah cukup lama menghubungi Sungmin yang tak diangkat itu, Kyuhyun memutuskan untuk pergi ke rumah Sungmin. Laki-laki itu kembali memakai helmnya dan meninggalkan rumahnya.
.
.
.
"Sungmin sedang pergi ke pemakaman, Kyuhyun-ah."
Pemakaman? Siapa yang meninggal?
Seakan bisa membaca pikiran Kyuhyun, ibu Sungmin kembali berbicara, "Adiknya Sungmin yang meninggal."
"Kalau begitu terima kasih, Ahjumma. Saya permisi."
Kyuhyun sudah berada di jalanan dengan motornya. Ia jadi rindu pada ibunya. Kyuhyun memutar arah tujuannya dari rumah ke pemakaman.
Lelaki itu telah sampai di parkiran pemakaman. Sebelum memasuki pemakaman, Kyuhyun membeli sebuket bunga untuk ibunya. Setelahnya dia mulai berjalan masuk ke pemakaman.
Ketika hampir dekat dengan makam sang ibu, Kyuhyun melihat seorang gadis sedang menunduk di samping sebuah makam. Makam itu tepat berada di depan makam ibunya. Kyuhyun merasa seperti mengenal sosok gadis itu. Dan benar saja, tak lama gadis itu berdiri dan mulai berjalan ke arah pintu pemakaman.
Itu Sungmin.
"Lee Sungmin.." Merasa dipanggil, Sungmin menoleh dan mendapati Kyuhyun yang sedang berdiri dengan sebuket bunga di tangannya.
"Kau rindu pada eommamu, ya?" Tebakan Sungmin benar. Kyuhyun sedang rindu pada ibunya. Kyuhyun mengangguk sambil tersenyum.
"Kau selalu benar tentangku, Ming." Ujar Kyuhyun sambil berjalan mendekati Sungmin.
"Mau pulang bersama nanti?" Tawar Kyuhyun pada Sungmin.
"Tidak, Kyu. Aku ke sini membawa mobil. Jadi, tidak mungkin kalau aku meninggalkan mobil, ya kan? Haha."
Kyuhyun tahu kalau Sungmin sedang mencoba terlihat baik-baik saja dihadapannya. Sayang sekali usaha Sungmin gagal. Kyuhyun tahu gadis itu tidak sedang baik-baik saja. Dia habis menangis dan air matanya membekas dikedua pipinya.
"Baiklah kalau begitu. Aku duluan, Kyu." Setelah Kyuhyun mengiyakan, Sungmin pergi dari sana. Kyuhyun menatap kepergian Sungmin. Setelah sungmin benar-benar menghilang dari pandangannya, Kyuhyun berjalan ke arah makam ibunya.
.
.
.
Hari ini adalah hari pertama mereka masuk sekolah di tahun ajaran baru. Sekolah kembali ramai dengan murid-murid dan guru-guru yang sudah berada di sana.
Ruang osis sedang ramai. Mereka sedang memberikan kejutan untuk sang ketua yang berulang tahun tiga minggu yang lalu, tepatnya tanggal satu Januari.
Tak hanya di ruang osis, Sungmin juga mendapat kejutan ketika menginjakkan kakinya di kelas. Sungmin berterima kasih pada teman-temannya.
Sungmin merasakan suasana mendadak canggung setelah ia duduk di kursinya. Jelas saja, serong tempat duduknya itu adalah tempat duduk Kyuhyun dan Siwon. Mereka berdua sedaritadi tidak berbicara satu sama lain. Rasa bersalah itu kembali hinggap di hati Sungmin.
.
.
.
Jam istirahat makan siang telah berbunyi sejak sepuluh menit yang lalu. Mereka berbondong-bondong pergi ke kantin hanya untuk membeli makanan yang dapat menghangatkan tubuh mereka dan juga minuman yang hangat. Salju masih turun diluar.
Kyuhyun memantapkan hatinya. Hari ini ia akan mengaku pada Siwon secara langsung. Lelaki itu telah memilih. Kyuhyun memilih Sungmin. Kyuhyun juga akan memberitahu Kibum setelahnya.
Siwon sedang bersama Kibum di kantin. Mereka sedang bersenda gurau di sana sambil sesekali memakan makanan yang mereka beli. Kyuhyun memberanikan dirinya. Setelah dirasa seluruh keberaniannya telah terkumpul, Kyuhyun melangkahkan kakinya.
Kini Kyuhyun telah berada di samping meja dimana Siwon dan Kibum berada. Kibum langsung menyapa Kyuhyun dan menyuruh laki-laki itu untuk bergabung. Namun Kyuhyun menolak. Kyuhyun beralih pada Siwon yang sedaritadi hanya diam.
"Aku akan mengakuinya, Siwon-ah. Aku menyukai Sungmin. Bahkan telah mencintainya. Setelah ini terserah kau mau mengataiku apapun atau bahkan menjauhiku. Aku memang pantas diperlakukan seperti itu. Aku telah menyukai orang yang kau sukai. Itu tidak sepantasnya dilakukan oleh seorang sahabat, iya kan?"
Siwon tetap diam tak merespon. Kibum jadi kasihan pada Kyuhyun. Rasanya Kyuhyun ingin menangis sekarang juga. Didiamkan seperti itu rasanya tidak enak.
"Maafkan aku, Siwon-"
"Kau tak perlu meminta maaf, Kyu." Siwon memotong ucapan Kyuhyun. "Aku yang seharusnya meminta maaf padamu. Aku yang salah. Dan soal menyukai Sungmin. Kau yang telah lebih dulu menyukainya. Aku tahu itu. Tapi aku malah menyukai orang yang sama. Perasaan sukaku itu tidak dapat ditahan, Kyu. Awalnya memang sudah kutahan, tapi makin lama perasaan itu semakin membesar dan akhirnya aku tak dapat menahannya."
Siwon berdiri dan memeluk Kyuhyun. "Aku tidak akan menjauhimu atau pun mengataimu apapun itu. Kita tetap sahabat. Dan kita akan selalu bersama. Tidak ada lagi yang harus kita sembunyikan."
Setelah berkata demikian, Siwon melepaskan pelukannya. Kyuhyun terlihat senang. Ia tetap bersahabat dengan Siwon. Dan sampai nanti pun akan tetap begitu.
"Kyuhyun. Kejarlah Sungmin sampai dapat. Aku yakin kau pasti bisa mendapatkannya. Jangan pernah mengatakan kata menyerah. Kalau sampai kau mengatakannya, kau bukan sahabatku lagi."
Kyuhyun bingung dengan Siwon. Siwon menyuruh dirinya untuk mengejar Sungmin. Apa mungkin Siwon sudah tidak menyukai Sungmin? Tidak mungkin.
"Kenapa diam saja? Kau mau Sungmin direbut yang lain?"
"Aku hanya bingung, Won-ah. Kenapa kau menyuruhku seperti itu. Apa kau sudah tidak menyukai Sungmin lagi?"
Siwon tertawa pelan. "Tidak. Dia hanya pantas denganmu. Dan aku telah mempunyai seorang kekasih."
Kyuhyun terkejut. "Kekasih? Sejak kapan? Dan siapa dia?"
"Iya. Sejak liburan sekolah. Dia itu taksiranmu dulu."
"Kibum?!"
"Hei, Kyu. Tak perlu sampai seterkejut itu. Kau jelek tahu." Kibum tertawa setelah mengejek sahabatnya sendiri.
Kyuhyun berdecak. "Aku serius tahu. Bagaimana bisa? Kibum, kan tak normal."
"Apa maksudmu mengataiku tak normal, Cho?" Kibum tak terima dengan kata-kata Kyuhyun yang mengatai dirinya.
"Ya habis kau tak pernah bercerita tentang seorang laki-laki. Dan sepertinya kau tidak menyukai laki-laki. Kukira kau lesbi ternyata tidak."
"Aku memang tidak pernah menceritakan soal siapa orang yang kusukai pada siapapun. Cukup aku yang tahu. Dan dulu memang aku tak suka pada siapapun. Kau tahu? Cinta bisa tumbuh karena terbiasa. Pada saat liburan, aku sering bersama Siwon. Awalnya, sih memang biasa saja. Tetapi kelamaan aku rasa aku menyukainya."
"Kau tidak malu mengatakan itu?"
"Untuk apa malu? Orangnya saja sudah tahu."
Kyuhyun menggelengkan kepalanya. Dia beranjak dari tempat duduknya untuk membeli makanan dan membawanya ke meja tempat dimana dia dan kedua sahabatnya itu duduk tadi. Mereka bertiga pun makan bersama.
.
.
.
Kyuhyun dan Sungmin telah berada di lapangan parkir sekolah. Sungmin masih terus berbicara soal Siwon dan Kibum yang menjadi sepasang kekasih itu. Kyuhyun malas membahasnya. Laki-laki itu sudah bosan. Pasalnya Sungmin sedaritadi membicarakan itu terus.
"Sekarang pakai helmmu dan naik ke motor." Kyuhyun menyerahkan helm merah muda pada Sungmin. Sungmin memakainya dan menaiki motor Kyuhyun. Kemudian mereka berdua pergi meninggalkan sekolah yang mulai sepi itu.
.
.
.
Motor berwarna hitam milik Kyuhyun itu telah sampai di depan rumah Sungmin. Sungmin pun turun dari motor dan menyerahkan helm pada Kyuhyun. Sungmin mulai membuka gerbang rumahnya.
Kyuhyun ingin melakukan hal yang dirasa cukup gila baginya. Disepanjang perjalanan, Kyuhyun memang memikirkan hal itu. Tapi ia takut Sungmin akan menjauhinya.
Hati dan tubuh Kyuhyun berlawanan. Hatinya mengatakan jangan melakukannya, tetapi tubuhnya mengatakan iya. Kyuhyun turun dari motornya. Ia menarik tangan Sungmin dan Sungmin menoleh. Sungmin terkejut dengan apa yang ia dapat setelahnya. Kyuhyun mengecup bibirnya. Mata gadis itu terbelalak lebar. Sungmin langsung menarik dirinya.
"Apa yang kau lakukan?" Sungmin menatap Kyuhyun kecewa.
"Maafkan aku, Ming. Aku mohon maafkan aku." Kyuhyun merasa sangat bersalah. Ia tidak bisa mengontrol keinginannya. Kyuhyun benar-benar merasa bersalah. Seharusnya ia mengikuti hatinya bukan keinginannya.
Sungmin langsung masuk ke dalam rumahnya setelah gerbang itu berhasil di buka dan telah ia kunci kembali. Kyuhyun merasa sangat bodoh saat ini. Ia tahu setelah ini Sungmin akan menjauhinya.
"Kau bodoh, Cho. Kau bodoh!"
.
.
.
TBC
selesai juga chapter 6nya!^^ aku ingin mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan^^ tak lupa terima kasih buat readers semuanyaa~ semoga ga bosen sama ceritanya, ya? oh, iya. selamat liburan juga!^^ makasih buat readers yang udah review, kalo gitu boleh minta reviewnya lagi? :)
Thanks to:
JeongHyun137, kiikyunnie, Cho Hyun Ah Sparkins 137, dewi. k. tubagus, Guest, abilhikmah, beebee ming, chominhyun, PaboGirl, choleerann, KyuMinElfcloud, Shin, anakyumin, SEungyo, hanna, jihyunelf, jouley. peetz, Anggunyu, Guest, borntobesnower, missapple05, Sera Lee, Snow1215, ajid kyumin, kyuxmine, ratu kyuhae, melee,
Dan
Silent readers
*mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan pen name kalian
