YOUR BODYGUARD

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Pairing: Naruto-Hinata slight Gaara-Sara, Naruto-Sara Kiba-Hinata

Genre: Romance/Fluff

Rated: T

A/N: typo(s), OOC, terinspirasi dari K-Drama DOTS, Bold Italic (Isi Chat), Bold (flashback) dan semua kesalahan yang tidak disengaja lainnya.

DON'T LIKE DON'T READ!

.

.

Nia Present

.

.

Naruto dan Hinata memasuki kamar rawat Gaara, hal itu membuat Sara bingung. Ah, sepertinya ini jam pemeriksaan pada Gaara. Jadi, Kaptennya membawa Dokter ke kamar Gaara.

"Dokter, kenalkan mereka juniorku. Junior dalam kemiliteran, umur kami sama, hanya beda 2 tahun dengan gadis cantik itu. Mereka Letnan Divisi 01 Sabaku No Gaara, dan Letnan dibagian kedokteran Hatake Sara, dan mereka itu sepasang kekasih," jelas Naruto sambil tersenyum memperhatikan Gaara dan Sara yang tidak mengerti.

"Tapi aku dan Kapten Naruto sempat bertunangan," ucap Sara polos. Hal itu membuat Hinata melirik ke arah naruto yang nyaris tepuk jidat.

"Ya, kami pernah bertunangan. Sekarang bukan lagi," jawab Naruto melirik Hinata.

"Terus kenapa kau mengenalkan mereka sedetail itu padaku?" Tanya Hinata yang sejujurnya ada perasaan senang karena sudah tahu status Sara dan Naruto.

"Agar kau tidak cemburu lagi," ucap naruto enteng.

"Sakura-san, bagaimana dengan Sakura-san, kapten?" Tanya Sara lagi polos.

Hinata kembali melirik sang Kapten, "Sakura?"

Naruto menghelanafas, "nanti aku kenalkan kau padanya."

.

.

"Jadi paseien yang dirawat itu bawahannya Naruto?" Tanya shizune pada gadis yang sedang memakan kentang goreng didepannya itu.

Hinata mengangguk, "yang kita lihat di lift itu bukan hal aneh bagi Naruto dan Sara, karena Sara adalah teman kecilnya jadi mereka sudah seperti saudara."

"Itu artinya, Naruto serius terhadapmu Hinata. Buktinya dia menjelaskan hal yang tidak kau ketahui," ucap Shizune yang merasa Hinata itu sangat beruntung. "Apa kau masih bingung?"

Hinata mengangguk, "begitulah."

.

.

Naruto berdiri didekat jendela kamar rawat Gaara, "jadi kau terluka saat melakukan Black Mission ya?"

"Ya, saat itu ada Gangster yang menyerang kami."

"Akatsuki?" Tanya Naruto lagi.

"Ya, komplotan Akatsuki."

Sara baru beres membeli minuman untuknya dan Naruto, tadi gadis itu sempat pergi ke kantin. Obrolan Gaara dan Naruto pun terhenti. Sara menghampiri sang Kapten yang sedang bersandar dekat jendela, "ini minuman jerukmu."

"Arigato.."

"Oh ya, sebenarnya tujuan naruto-nii mengenalkan kami pada Dokter cantik itu apa?"

Naruto membuka minuman kalengnya, "agar dia tidak salah paham, tadi sudah aku katakan'kan?"

"Kenapa?"

Gaara menghelanafas, "Sara pekalah, itu artinya Kapten kita sedang jatuh cinta pada Dokter Hinata."

Sara mengerjapkan mata beberapa kali, "te-terus Sakura-san?"

"Kami sudah putus dua bulan ini," jawab naruto lalu meneguk minumannya.

.

.

Tok Tok Tok

"Masuk," seru Shizune pada pelaku yang mengetuk pintu ruangannya.

"Dokter Shizune, ah kebetulan ada Dokter Hinata juga," ucap Ino setelah kembali menutup pintu ruangan Shizune.

"Ada apa, Ino?"

"Pengumuman hasil rapat telah ada," ucap Ino. "Ini list-nya," ucap Ino sambil menyodorkan print-an memo rapat. Shizune menerima memo tersebut dan membacanya.

.

.

Naruto melihat Hinata baru keluar dari ruangannya, lagipula hari sudah malam. Ah, berarti seharian ini Naruto berada di Rumah Sakit.

"Aku membawa mobil, kau pulang sendiri saja," ucap Hinata saat sampai pada pemuda yang ternyata menunggunya sedari tadi.

"Aku tidak membawa mobil, tadi aku ke sini bersama Sara," jawab Naruto sambil tersenyum.

"Ah kau ini, baiklah. Ini kunci mobilku," ucap Hinata sambil memberikan kuncinya. Mereka pun berjalan menuju lift. "Mulai besok aku tidak di Rumah Sakit lagi," ucap Hinata pelan.

"Kenapa?"

"Aku harus menjadi sukarelawan, aku akan pergi ke sebuah Desa kecil di kota Okinawa."

"Aku akan ikut, karena aku Bodyguard-mu."

Hinata menghentikan langkahnya, gadis itu tersenyum sangat lembut pada pemuda didepannya. Ini pertama kalinya gadis itu tersenyum lembut pada Naruto. "Karena itulah, aku ingin bicara serius denganmu, kapten."

.

.

Haripun cepat berlalu, matahari sudah terbit lagi. Saat ini, Hinata sedang berkemas di kamarnya. Ada Tenten dan Hanabi yang membantunya.

"kenapa harus ke Desa Ame?" Tanya Hanabi sambil memasukan alat make up sang kakak pada tas make up Hinata.

"Rumah Sakit Konoha membangun pembangkit listrik di sana, Desa itu sangat terpencil dari Okinawa. Jadi, Rumah Sakit Konoha ingin membangun pembangkit listrk dan membangun Rumah sakit sederhana disana," jelas Hinata sambil duduk di kasurnya.

"Berapa lama kau di sana?"

"Sampai proyek itu beres, mungkin 3 sampai 4 bulan."

Hanabi memeluk kakaknya,"aku akan sangat merindukan Neechan..."

.

.

"Naruto, maafkan aku."

Naruto yang sedang menyetir melirik pada gadis disampingnya. "Maaf untuk apa?"

"Karena aku tidak bisa menjalin hubungan lebih jauh lagi denganmu," ucap Hinata sambil menunduk. Dia bingung harus bagaimana? Dia hanya tidak ingin membuat pemuda disampingnya repot mengurusinya yang besok harus ke Okinawa. Dia tidak mau tiba-tiba ada kereta ambulance yang membawa Naruto sebagai pasien ke Rumah Sakit dimana dia bekerja. Dia tidak mau tersiksa hatinya karena harus khawatir saat naruto tak ada disisinya. Dia terlalu takut. Makanya selama ini dia sulit mengambil keputusan. Dan dengan perginya ke Okinawa, setidaknya dia bisa mengurangi rasa khawatir dan takutnya. Dia bisa menjauhi Naruto.

"Maafkan aku," ucap Hinata kini suaranya bergetar. Dia benar-benar tidak tega mengatakan ini pada pemuda yang selalu menjaganya.

Naruto menghentikan mobil, pemuda itu bisa mengerti. Walaupun sakit, tapi Naruto tak mau melihat Hinata bersedih karena dirinya. Tangan kanan Naruto menyentuh tangan Hinata yang terus meremas tasnya, "tidak apa."

Hinata menoleh pada pemuda disampingnya, dia melihat Naruto tersenyum hangat padanya.

"Tidak usah dipaksakan, kau jaga diri selama di Okinawa, jaga kesehatan juga," ucap Naruto sambil mengacak rambut Hinata sekilas.

Naruto menghelanafas, pemuda itu lalu mengambil kunci motornya dan keluar rumah. Mulai hari ini, dia akan setiap hari ke Batalyon. Tidak akan ada jadwal mengantar jemput sang Dokter seperti biasanya. Hal ini dia lakukan demi kebaikan hatinya dan juga hati sang Gadis.

.

.

"Naruto tidak akan lagi kesini, tadi malam Ketua kemiliteran meminta kita memutus kontrak, karena naruto harus fokus dengan Divisinya," jelas Hiashi pada Hinata yang sudah siap dengan kopernya.

'Maafkan aku, Naruto.'

"Hari ini kau akan diantar Kurenai ke Bandara, jaga dirimu selama di sana Hinata."

"Iya, Otousama."

.

.

Kushina menaruh coffe di meja kerja suami, suaminya ini lebih sering memantau pekerjaan semua bawahannya di rumah. Bukan berarti dia tidak pernah menengok bawahannya ke Batalyon.

"Sepertinya gara-gara aku mengirim Hinata ke Okinawa makanya Naruto-kun mengundurkan diri jadi Bodyguard-nya," ucap Kushina sambil duduk depan sang Suami.

"Tidak, sepertinya mereka memang ada masalah. Biarkan saja, kita lihat saja bagaimana kedepannya," jawab Minato yang menatap laptopnya.

"Bagaimana dengan Hiashi-san?"

"Dia mengikuti alur yang dimainkan Naruto dan Hinata, dia juga menunggu bagaimana hasilnya nanti."

.

.

Motor Naruto berhenti di lampu merah, pemuda itu entah kenapa jadi teringat bagaimana sang pengantin menaiki motornya. Pertemuan pertama mereka. Tanpa Naruto sadari, sebuah mobil berhenti dibelakangnya.

Hinata memperhatikan punggung sang pengendara motor, ada perasaan rindu dihatinya. Rindu memeluk punggung itu. Naruto pun menjalankan motornya, itu artinya lampu hijau telah menyala. Mobil Hinata pun mulai kembali melaju.

"Disaat tidak bersamapun, kita ditakdirkan bertemu," ucap Hinata pelan masih memperhatikan Naruto yang mengendarai motor dan menghilang karena menyalip kendaraan lain.

.

.

Tidak lebih dari satu jam, pemuda berparas tampan itu telah sampai di Batalyon. Memarkirkan motor, pemuda itu pun langsung membuka helm dan berjalan menuju markas Divisinya. Disepanjang jalan menuju tempatnya, dia berpapasan dengan tentara-tentara lain dan memberi hormat.

"Ohayou," sapa Sara yang baru keluar dari Divisi Medisnya dan melihat Naruto sedang berjalan.

"Ohayou mo," ucap Naruto menjawab sapaan Sara, lalu kembali berjalan. Sara mengikutinya dari belakang.

"Mulai tugas disini lagi?"

"Memangnya aku tugas di mana?"

"Hm... tugas khusus menjaga anak menteri'kan?"

Naruto membuka pintu markas Divisi 01, "sudah berakhir," jawabnya lalu disambut para bawahannya yang langsung memberi hormat.

.

.

Kiba mencari Hinata di UGD siang itu, namun gadis cantik itu tidak terlihat dimanapun. Kiba menepuk pundak seorang perawat yang lewat didepannya.

"Maaf, apa kau melihat Dokter Hinata?"

"Oh, Dokter sedang pergi menjadi relawan ke Kota Okinawa," jawab sang perawat.

"Okinawa?"

"Ya, lebih tepatnya ke Desa Ame," jawab sang perawat lalu pamit untuk melanjutkan pekerjaannya.

Kiba tersenyum licik, 'si pemuda pirang itu mana mungkin mengikuti Hinata sampai ke sana'kan?' ucapnya dalam hati lagi sambil keluar dari UGD. 'Ayo berangkat, Kiba!' serunya dalam hati.

.

.

To Be Continued

.

.