oOo
Main Cast : Luhan, Sehun.
Rate : M
Gendre : Hurt, Drama, Romance.
Length : Chapter
PS : FF ini adalah GS untuk para UKE dan seperti sebelumnya, main cast lain akan muncul dengan bertambahnya Chapter. FF ini hasil inspirasiku sendiri. Jadi aku mohon dukungan reviewnya^^ menerima saran ataupun keritikan tapi menolak bash! Happy reading^^
.
.
.
.
.
"Sehun.." Baekhyun menghampiri Sehun yang tengah duduk bersitirahat di sela shooting CF yang ia lakukan. Wajah Baekhyun penuh dengan gurat gelisah yang sama sekali tidak membuat Sehun tertarik untuk melihatnya.
"Tolong beri aku izin untuk menemui Luhan sebenatar.." Baekhyun menatap penuh permohonan pada Sehun. Sejak Baekhyun mendapati kabar kalau Luhan di pecat ia belum sempat untuk bertemu dengan Luhan karna jadwal Sehun yang sangat padat, dan Baekhyun benar benar di buat hawatir saat menerima pesan dari Minseok kalau Luhan sedang di rawat di rumah sakit. Baekhyun ingin menemui Luhan sekedar melihat keadaan sahabatnya.
Sehun terdiam sejenak dan menggeleng sebagai jawaban. Baekhyun menatap kesal sekaligus sedih pada Sehun. Bagaimanapun Baekhyun tetaplah bawahan Sehun yang bekerja untuk Sehun dan harus menuruti perkatan Sehun dan sialnya tidak ada sela waktu yang bisa Baekhyun curi hari ini karna jadwal Sehun yang hampir full dua puluh empat jam.
"Aku mohon Sehun.." Baekhyun kembali mengiba. Melakukan hal yang sangat jarang ia lakukan pada Sehun. Berharap Sehun akan memberinya izin walaupun hanya satu jam.
"Pekerjaan mu menjadi dua kali lipat sekarang karna sahabat gelandanganmu! Jadi jangan berfikir kau akan mendapatkan izin dariku!" Sehun menatap tegas pada Baekhyun yang berdiri di hadapannya. Baekhyun mendengus sebal. Sia-sia ia mengiba, Sehun memang bukan manusia.
"Aku tidak perduli, aku akan pergi dengan izinmu atau tanpa izinmu. Luhan sedang membutuhkanku sekarang dan aku lebih menyayangi sahabatku di bandingkan dengan pria egois sepertimu!" Baekhyun berjalan keluar dari ruang make up Sehun. Bantingan pintu bisa Sehun dengar dari arah belakangnya.
Sehun memijat pelipisnya yang terasa berenyut oleh fikiran-fikiran yang masih bersarang dalam benaknya. Luhan, satu nama itu yang memenuhi benak Sehun sejak tadi pagi dan Baekhyun justru membuat benaknya terasa semakin rumit. Semua kesibukan yang Sehun fikir akan mengalihkan segala hal yang menganggunya tidak cukup ampuh untuk mengusir Luhan dari dalam benak dan hatinya. Justru Sehun merasakan perasaan yang mengganjal dalam hatinya menjadi semakin besar ketika ia mencoba untuk mengusirnya. Sehun tidak tahu kenapa perasaan ini muncul dengan Luhan yang menjadi penyebabnya. Luhan bukan orang special dalam hidupnya dan juga bukan orang berarti untuk dirinya. Luhan hanya wanita miskin yang sempat membuat harga dirinya tercorang.
Sehun mengusap wajahnya kasar dan keluar dari dalam ruang make up. Sehun bisa seharian di hantui wajah Luhan jika terus berada di dalam ruangan kosong. Mata Sehun menangkap sosok Bomi yang menjadi partnernya kali ini. Sehun tersenyum dan menghampiri Bomi dengan senyum ramahnya.
"Mau minum teh bersamaku ?"
Bomi sedikit tercengang dan mengangguk dengan senyum tipis penuh binar bahagia di matanya. Tentu, tidak ada selebrity wanita yang tidak menyukai seorang Oh Sehun. Bomi menjabat uluran tangan Sehun dan di sambut kecupan manis pada punggung tangannya. Bomi bisa merasakan dadanya berdebar menggila karna perlakuan Sehun.
.
.
Suara dari pagutan bibir Sehun dan Bomi terdengar nyaring untuk telinga masing-masing. Ajakan minum teh bersama hanyalah topeng yang Sehun gunakan, pada kenyatannya mereka berakhir terkurung di dalam bilik toilet dengan tubuh saling mendekap dan lidah yang saling berbelit.
Bomi mengusak helaian rambut belakang Sehun dengan mata terpejam. Menikmati bibir Sehun dan remasan tangan Sehun pada payudaranya. Sehun menyesap kuat bibir Bomi, mencoba memancing hasratnya yang tidak kunjung datang seperti biasanya. Ciuman ini terasa hambar bagi Sehun, ciuman ini tidak semanis saat ia melakuakknya dengan Luhan. Luhan! Wajah Luhan kembali berputar dalam benak Sehun membuat Sehun frustasi dan di buat gila karnanya. Sehun melepaskan semua sentuhannya pada Bomi. Tatapan Sehun terlihat datar, membuat Bomi menyeringit kebingungan.
"Ada apa Sehun.." Bomi mengelus dada Sehun dan terkejut saat Sehun menampik tangannya dengan kasar.
"Kau sama sekali tidak menggairahkan.."
Bomi terdiam, mencoba mencerna perkatan Sehun. Sehun merapihkan penampilannya dan keluar dari bilik toilet, meninggalkan Bomi yang terus memanggil namanya dengan kencang.
.
.
Setibanya di rumah sakit. Baekhyun segera berjalan menuju ruang rawat yang sudah Minseok beritahukan. Baekhyun membuka pintu rawat Luhan dan mendapati Luhan tertidur dalam kegelisahan yang jelas tersirat pada raut wajahnya. Mata Luhan terpejam erat dan kerutan di keningnya jelas kentara dengan keringat yang menetes dari pelipisnya.
"Chris.."
"Luhan.." Baekhyun menepuk pelan pipi Luhan yang mengigaukan nama Chris.
"Jangan tinggalkan ibu.."
"Luhan!" Baekhyun menyentak tubuh Luhan membuat Luhan terbangun dari tidurnya secara tiba-tiba. Luhan menatap kosong pada Baekhyun yang berada di depannya dengan penuh keterkejutan. Otaknya terasa kosong dan itu sedikit membuat Luhan blank.
"Kau tidak apa apa ?" Baekhyun menatap cemas pada Luhan. Baekhyun sudah mendengar semua cerita dari Minseok kenapa Luhan bisa terbaring dengan kondisi selemah ini.
"Hanya mimpi.." Luhan bergumam pelan dan menarik nafasnya, mencoba menormalkan debaran jantungnya yang menggila.
"Chris di mana Baek ?" Luhan menatap Baekhyun penuh dengan sorot kehawaitan. Bahkan orang pertama yang Luhan ingat adalah putranya walaupun ia sendiri berada dalam kondisi tidak baik.
"Dia masih berada di kamarnya Lu.. sebentar lagi Chris akan menjalani operasi"
Luhan menarik pergelangan tangan Baekhyun untuk melihat jam yang terpasang di sana. Sudah pukul Sepuluh pagi. Luhan menghela nafasnya. Dia sudah cukup lama tertidur. Baekhyun sontak menahan Luhan saat Luhan akan beranjak dari ranjang inapnya.
"Kau mau kemana Luhan? keadaanmu belum pulih"
"Aku harus menemui Chris, Baek.. dia membutuhkan ku sekarang"
Baekhyun terdiam dan hanya membiarkan Luhan beranjak dari ranjang. Baekhyun tidak bisa mencegah karna apa yang Luhan ucapkan benar. Chris membutuhkan sosok ibunya sekarang. Baekhyun mengikuti Luhan dari belakang dengan membawa infuse yang masih terpasang pada nadi Luhan.
Luhan yang berjalan tergesa bersama Baekhyun segera menuju ruang rawat Chris. Luhan semakin merasa gelisah seiring tumit kakinya yang melangkah. Luhan melihat emergency stretcher yang di dorong keluar dari ruang inap Chris.
"Astaga.." Minseok berjingkat kaget saat ada seseorang yang menggeser tubuhnya. Luhan tidak menghiraukan keterkejutan Minseok, dan segera menggenggam tangan kecil putra semata wayangnya dengan terus mengikuti arah emergency stretcher di dorong.
"Chris.. Ibu ada di sini sayang, kau harus kuat. Jangan tinggalkan Ibu.." Luhan mengecup punggung tangan Chris dengan linangan airmata yang kembali membasahi pipinya. Melafalkan doa di setiap hembusan nafas yang ia hirup untuk putra kecilnya. Baekhyun hanya berjalan mengekor di samping Luhan dengan perasan gelisah yang tidak kalah dari apa yang Luhan rasakan. Baekhyun berharap penderitaan Luhan bukan akan bertambah tapi akan berakhir setelah hari ini berlalu. Begitupun dengan Minseok. Minseok tidak ada hentinya memohon pada tuhan agar Chris bisa kelaur dengan selamat dari ruang operasi.
Langkah Luhan terhenti saat semua perawat yang berada di sekitarnya menghentikan langkahnya tepat di depan pintu ruang operasi. Memberi Luhan waktu untuk sedikit berinteraksi dengan anaknya. Luhan mengusap puncak kepala Chris dan mencium keningnya. Mengirimkan segala kekuatan yang ia miliki untuk Chris.
"Suho, tolong lakukan yang terbaik"
Suho mengangguk, menepuk pelan pundak Luhan dan masuk menuju kamar operasi yang sudah siap. Minseok menuntun Luhan untuk duduk di kursi yang di sediakan untuk menunggu di susul Baekhyun yang terus berada di samping Luhan. Luhan hanya menatap nanar pada tubuh Chris yang sudah menghilang di balik pintu di hadapanya.
"Kau tidak perlu hawatir Luhan.. percayalah, semuanya akan menjadi baik untuk Chris"
Luhan mengangguk dan menunjukan senyuman tipisnya pada Minseok.
"Terimakasih Min"
Minseok mengangguk, setelahnya Minseok berjalan keluar dari ruang operasi. Pintu utama ruang operasi tertutup, menyisakan Baekhyun bersama Luhan yang duduk di depan pintu kamar operasi. Luhan meremas tangannya yang terasa berkeringat karna rasa cemas yang terasa menggerogoti dirinya. Baekhyun tidak ada hentinya mengusap tangan Luhan dengan saling mengucap doa di dalam hati untuk keselamatan Chris di dalam sana.
Jam berputar dengan begitu lamban untuk Luhan. Sudah tiga jam berlalu sejak Chris di bawa memasuki kamar operasi dan itu terasa seperti bertahun-tahun lamanya. Luhan bersama Baekhyun duduk dengan segala kecemasan yang tidak pernah menghilang di setiap detiknya. Menunggu, kapan pintu bercat putih di hadapan mereka akan terbuka.
Baekhyun menoleh dan mendapati Luhan melamun. Baekhyun menggenggam tangan Luhan namun itu tidak membuat Luhan balik menatapnya. Baekhyun bisa dengan jelas melihat sorot kehawatiran dari mata Luhan yang terus menatap pintu di hadapannya. Pintu itu bukan hanya sekedar pintu operasi bagi Luhan tapi pintu itu seperti pintu yang akan menunjukan masa depannya. Masa depannya bersama Chris atau. Luhan menggeleng dan menangkup wajahnya. Chris tidak akan meninggalkannya.
Baekhyun merengkuh Luhan dalam pelukannya dan mengusap lembut lengan Luhan.
"Chris akan keluar dengan keadaan selamat Lu, kau tidak perlu hawatir"
Luhan menggeleng. Semua orang selalu mengatakan hal yang sama tanpa mereka tahu kalau ucapan seperti itu hanya membuat ketakutannya menjadi semakin besar. Luhan mengerti kalau mereka hanya ingin membuatnya tenang tapi mereka tida bisa merasakan sepenuhnya apa yang ia rasakan. Anaknya sedang berbaring mempertaruhkan nyawanya dan Luhan tidak akan bisa untuk tidak hawatir.
"Chris akan selamat Luhan kau harus yakin itu!"
Luhan terteguh. Baekhyun mengucapkannya penuh dengan keyakinan besar dan itu seperti memberi kekuatan tersendiri untuk Luhan. Yah, anaknya akan selamat. Chris akan sembuh. Luhan mengangguk dan tersenyum kecil walau airmatanya masih menetes. Luhan memeluk Baekhyun yang duduk di sampingnya.
"Terimakasih Baek karna kau selalu berada di sampingku.."
Baekhyun mengangguk dan mengelus rambut panjang Luhan.
"Aku membawa makanan untuk kalian.."
Baekhyun dan Luhan menoleh pada Minseok yang datang dengan dua piring berisi Gimbab. Baekhyun menerima tanpa canggung karna dia memang lapar dan perut adalah hal utama yang harus lebih dulu di utamakan dalam keadaan apapun. Luhan tersenyum kecil. Harus berapa kali Luhan berucap syukur atas kehadiran para sahabatnya di tengah-tengah segala kesulitan yang ia miliki.
"Terimakasih Min.."
"Terimaskih Eonni.." Baekhyun tersenyum dengan pipi menggembung membuat Minseok terkekeh kernanya. Minseok berada di usia dua tahun lebih tua dari Luhan ataupun Baekhyun tapi Minseok menolak untuk Luhan panggil 'Eonni' mengingat setatus Luhan jauh lebih tinggi dari dirinya. Luhan adalah seorang Ibu dan dirinya hanya wanita single yang tidak kunjung mendapatkan pasangan dan Minseok hanya merasa canggung jika Luhan memanggilnya 'Eonni'.
"Tidak masalah. Makanlah Luhan kau harus mengisi perutmu.." Minseok menegur saat Luhan tidak kunjung memakan Gimbab yang ia bawakan.
"Benar Lu, Chris akan sedih jika melihat kau lebih kurus dari sekarang"
Luhan tertawa pelan setelah mendengar gurauan Baekhyun. Dengan tanpa minat hanya untuk menghormati sahabatnya Luhan mulai menyumpit Gimbab di piringnya dan memakannya dengan pelan.
"Tapi Lu.. dari mana kau mendapatkan uang untuk biaya operasi Chris ?" Baekhyun bertanya dengan tetap focus pada Gimbab di piringnya. Baekhyun cukup penasaran tentang ini, sejak tadi ia hanya menunggu moment yang pas untuk bertanya pada Luhan. Baekhyun tidak sadar kalau pertanyaannya membuat Luhan ataupun Minseok terdiam membeku di tempatnya.
Baekhyun menoleh saat tidak kunjung mendapatkan jawaban dan menatap heran pada Luhan dan Minseok.
"Kalian tidak papa ?"
"Hah..?" Minseok tersadar lebih dulu dan tertawa kecil dengan canggung. Minseok melirik pada Luhan yang masih membatu di tempatnya. Tentu Minseok tidak memberitahu Baekhyun tentang 'Itu' dan Minseok faham kalau Luhan sekarag tengah di landa kebingungan untuk menjawab pertanyaan Baekhyun.
"Eeemmm Baek.. apa Gimbabnya enak ? Itu buatanku omong-omong" Minseok mencoba mengalihkan perhatian Baekhyun dan berhasil. Baekhyun menatapnya dengan pandangan tidak percaya.
"Kau jangan berbohong Eonni.. kau hanya bisa menyuntik, memukul, membentak dan Aw..!" Baekhyun berseru sakit saat Minseok dengan sayangnya memberi cubitan pada lengan Baekhyun. Luhan tersenyum setelah keadaan kembali terasa normal untuknya, tidak terasa mencekam seperti ia tengah di adili di persidangan. Baekhyun memanyunkan bibirnya pada Minseok yang hanya tersenyum tanpa rasa bersalah.
"Dan mencubit! Pantas tidak ada seorang priapun yang ingin menjadi kekasihmu Eonni"
"Yak!" Minseok hampir akan memukul kepala Baekhyun. Dia sangat sensitive jika menyangkut tentang kekasih. Tapi urung Minseok lakukan saat mendengar suara dentingan pintu kamar operasi yang di buka.
Baekhyun dan Luhan sontak berdiri dari duduknya. Dada Luhan berdebar cepat saat melihat emergency stretcher yang di dorong keluar dari kamar operasi. Emergency stretcher itu melewati Luhan, Baekhyun dan juga Minseok. Luhan menatap seorang pria yang terbaring di sana yang Luhan yakini adalah pendonor Chris. Wajah itu terasa tidak asing untuk Luhan tapi Luhan tidak ingat apapun tentang pria itu.
"Luhan, Itu Chris" Minseok berseru membuat perhatian Luhan teralih pada emergency stretcher lainnya. Luhan meremas tangannya, melafalkan doa semoga bukan kabar buruk yang ia dapatkan.
"Chris.." Luhan mencegat para perawat yang mendorong emergency stretcher untuk berhenti, Luhan hanya ingin melihat kondisi anaknya. Luhan sedikit merasa lega saat mendapati Chris masih bernafas dan membiarkan perawat untuk kembali membawa Chris menuju ruangan rawatnya.
"Bagaimana kondisi Chris ?" Luhan segera menyambut kedatangan Suho dengan pertanyaan.
"Operasinya berjalan lancar walau Chris sempat kekurangan darah dan kritis tapi syukurlah, Tuhan masih mempercayakannya padamu.."
Tiga wanita cantik yang berada di hadapan Suho menghela nafas lega secara bersamaan. Luhan sdikit terhuyung kebelakang saat merasakan beban terbesarnya tiba-tiba terangkat dari tubuh tubuhnya. Minseok dengan sigap memegang bahu Luhan agar Luhan tidak terjatuh.
"Lalu bagaimana dengan keadaannya sekarang ?"
Suho tersenyum dan mengelus puncak kepala Luhan. Bentuk appraisesnya pada semua perjuangan yang sudah Luhan lakukan.
"Kemungkinannya untuk sembuh sebesar sembilan puluh persen. Sepuluh persennya hanya untuk pemulihan"
Luhan, Baekhyun dan Minseok tersenyum lebar. Tanpa sadar satu tetes airmata mengalir dari pelupuk mata Luhan sebagai bentuk syukur dari kabar baik yang ia dengar. Baekhyun memejamkan matanya dan mengucapkan syukur karna kehawatirannya tidak menjadi kenyataan. Begitupun dengan Minseok, Minseok bersumpah akan semakin rajin datang ke gereja setiap minggunya karna Tuhan tidak menjadikan dunia ini menjadi neraka bagi Luhan.
Luhan memeluk Suho dan Suho sambut dengan senang hati.
"Terimakasih untuk yang sudah kau lakukan.."
Suho tersenyum dan menepuk bahu Luhan.
"Berterimakasihlah pada pria yang sudah mendonorkan sum-sum tulangnya untuk Chris"
Luhan mengangguk dan melepaskan pelukannya dari Suho.
"Chris sembuh Lu.." Minseok tersenyum gembira dan memeluk Luhan di susul Baekhyun yang memeluk Luhan dari arah lainnya.
"Ya, anakku sembuh Min.." Luhan tertawa riang dengan di linangi airmata kebahagian bersama Minseok juga Baekhyun. Mereka melompat-lompat bersama sebagai perayaan kecil kebahagian yang akan Luhan sambut. Kebahagian yang Luhan rasakan seolah bisa menular pada siapapun yang melihatnya. Suho ikut tertawa kecil, Luhan yang seperti ini baru pertama kali ia lihat sejak dua tahun lalu mengenal Luhan dan Suho berucap syukur pada Tuhan karna tidak mengambil harta terbesar yang selama ini Luhan jaga menggunakan nyawanya.
Luhan tidak menyangka hari ini akhirnya datang dalam kehidupannya. Hari di mana ia sudah tidak perlu di hantui ketakutan, kesedihan dan kehawatiran yang setiap detiknya mampu membuatnya tidak sanggup bernafas. Chris, anaknya akan hidup layaknya anak normal lainnya, Chris akan bersekolah dan bisa bermain dengan bebas bersama anak-anak sebayanya, bukan lagi hanya bermain dengan mainannya. Chris bisa berlari tanpa takut sendinya akan terasa linu dan bisa tertidur pulas tanpa di hantui rasa sakit yang bisa membangunkannya.
Luhan memejamkan matanya dalam rengkuhan dua sahabatnya. Rasa bahagia yang Luhan rasakan begitu besar sampai Luhan tidak mampu menggambarkannya dengan ungkapan. Semua yang sudah ia korbankan terasa tidak memiliki arti apapun dengan apa yang Luhan dapatkan. Kesembuhan Chris. Senyum ceria Chris dan tawa gembira Chris akan segera kembali menghiasi harinya. Chris anaknya bisa memulai apapun yang sudah ia lewatkan dan melakukan apapun yang ia inginkan. Senyum lebar yang sangat jarang menghiasi bibir Luhan kini terukir dengan indahnya. Seolah senyum itu tidak akan cukup untuk menggambarkan apa yang Luhan rasakan.
-Kau akan menyambut hari-hari baikmu Chris..- Luhan.
.
.
Malam menjelang dan Chris belum bangun tersadar. Luhan sempat merasa hawatir sampai berkali-kali menghampiri Suho tapi Suho hanya mengatakan. Kalau itu normal karna tubuh Chris sedang menyesuaikan dengan kondisinya sendiri dan meminta Luhan hanya untuk bersabar menunggu. Sejujurnya, Luhan bukan dalam keadaan yang bisa bersabar untuk menunggu. Sekarang dia ingin cepat melihat mata Chris terbuka dan mendengar suara putra kecilnya. Luhan tidak akan bisa sepenuhnya percaya kalau Chris dalam keadan baik jika Chris tidak kunjung bangun dari tidurnya.
Baekhyun sudah kembali bekerja sejak dua jam lalu karna Sehun yang menghubunginya dan kini tinggalan Luhan sendiri. Duduk di sisi ranjang Chris, mengelus pelan tangan putranya yang sudah mulai terasa kembali menghangat. Kondisi Luhan sudah jauh lebih baik, kabar gembira yang ia dengar seakan mampu menyembuhkannya dalam sekejap. Luhan merasakan tubuhnya sudah tidak terasa lemas hingga Luhan tidak membutuhkan infuse lagi untuk memulihkan kondisi tubuhnya.
"Luhan.. pria yang mendonorkan sum-sum tulangnya untuk Chris sudah tersadar"
Luhan menoleh pada Minseok yang datang. Luhan mengangguk, mengambil buah-buahan yang sudah ia beli dan berjalan bersama Minseok menuju ruangan di mana pria yang sudah berbaik hati mendonorkan sum-sum tulangnya untuk Chris berada. Luhan memasuki kamar yang memiliki nomor 89 dan segera mendapati pemandangan sesosok pria yang duduk menyender di atas ranjang. Minseok menutup pintunya dan pergi meninggalkan Luhan.
"Apa kau pria yang bernama Lee Donghae ?"
Pria itu tersenyum dan mengangguk kecil. Luhan mendudukkan dirinya di kursi samping ranjang Donghae, meletakan buah-buahan yang sudah ia beli di atas nakas dan menatap Donghae dengan penuh rasa terimakasih.
"Terimakasih kau sudah menolong anakku.."
"Tidak masalah Lu.."
Luhan memincingkan matanya. Seingatnya ia belum memperkenalkan diri pada Donghae, lalu dari mana Donghae tahu namanya ? Donghae tertawa kecil saat menyadari arti tatapan Luhan. Dengan canggung, Donghae menggaruk belakang kepalanya.
"Aku tahu namamu dari doctor Suho.."
"Aaa.." Luhan mengangguk mengerti dan tertawa kecil bersama Donghae. Luhan teringat sesuatu dan segera mengambil amplop berisi uang sebanyak 75 juta won untuk Donghae. Itu harga yang sudah Suho dan Donghae sepakati.
"Ambillah.." Luhan menyodorkan amplop coklat itu pada Donghae dengan senyum simpulnya yang tidak terlepas. Donghae menatap sendu amplop yang ada di hadapannya. Bukan ini tujuannya tapi dia tidak bisa menolak jika tidak ingin di curigai. Donghae merubah mimic wajahnya dan menerima amplop pemberian Luhan.
"Aku merasa sungkan menerima uang dari wanita cantik sepertimu" Tawa merdu Luhan kembali menyapa telinga Donghae dan ia menyukai bagaimana cantiknya Luhan saat tertawa. Donghae tersenyum lega, sekarang dia tidak harus selalu melihat wajah sendu Luhan.
"Itu sudah menjadi milikmu.."
"Luhan !"
Luhan dan Donghae menoleh cepat pada Minseok yang datang secara tiba-tiba.
"Ada apa Min ?"
"Chris bangun, dia menangis dan mencarimu"
"Benarkah!" Reflek Luhan berdiri saat mendengar ucapan Minseok.
"Aku harus pergi. Terimakasih atas bantuanmu" Luhan membungkuk dan segera berlari bersama Minseok. Menyisakan Donghae yang hanya menatap kecewa pada bayangan Luhan yang sudah menghilang.
"Kau tidak ingat denganku Luhan.." Donghae bergumam kecil. Donghae menoleh pada ponselnya yang bergetar. Satu pesan di terima dari adiknya.
'Hyung.. kau baik ? Apa aku sudah bisa mengunjungimu..'
.
.
Luhan segera memasuki kamar rawat Chris. Airmata Luhan dengan sendirinya menetes saat melihat Chris menangis di atas ranjang dengan di pegangi oleh beberapa perawat. Luka operasi Chris masih belum kering dan Chris belum di perbolehkan untuk banyak bergerak.
"Chris.." Luhan menghampiri Chris dan memeluk Chris yang masih terbaring di atas ranjang. Semua perawat melepaskan jagalannya pada tangan dan kaki Chris saat melihat Chris sudah tidak memberontak.
"Ibuuu.." Chris menangis dan memeluk leher Luhan dengan erat. Luhan mengecupi puncak kepala Chris dengan kebahagian yang membuncah saat bisa kembali mendengar suara anaknya.
"Punggung Chris sakit buuu"
Luhan sedikit menjauhkan jaraknya dari tubuh Chris dan mengusap airmata Chris dengan penuh kelembutan.
"Sakit itu akan hilang.. Chris bisa menahannyakan ?"
Chris terdiam dengan mata lurus menatap mata Luhan, sesekali Chris akan mengusap sendiri airmatanya. Luhan mengecup kening Chris dan mengelus rambut Chris.
"Kau adalah anak Ibu.. Chris harus bisa menahannya"
Chris mengangguk walaupun genangan airmata masih menumpuk di pelupuk matanya. Luhan tersenyum membuat satu tetes airmata terjatuh dari pelupuk mata Luhan. Chris melihatnya dengan pandangan tidak suka.
"Ibu jangan menangis, Chris tidak suka melihat Ibu menangis"
Luhan terkekeh dan mangusap airmatanya sendiri.
"Ibu menangis karna Ibu bahagia sayang. Apa Chris mau Ibu gendong ?"
Mata Chris yang berkaca-kaca dalam sekejap memudar saat mendengar tawaran Luhan. Chris mengangguk antusias dan segera melingkarkan tangannya di leher Luhan. Dengan hati-hati Luhan menggendong Chris, beberapa perawat membantu dan Minseok membenarkan letak infuse Chirs agar darah Chris tidak naik keatas. Luhan sedikit menggerakan tubuhnya untuk menina bobokan putra kecilnya. Luhan mengecupi puncak kepala Chris yang dengan nyaman bersandar pada dada Luhan. Pelukan seorang Ibu adalah tempat terbaik untuk setiap anak, begitupun untuk Chris. Semua rasa perih yang sempat ia rasakan hilang saat Luhan mendekap hangat tubuhnya. Perlahan sorot cerah mata Chris meredup dan Chris terlelap dalam gendongan Luhan.
"Dia tertidur Lu.." Minseok berbisik dengan senyum yang tidak lepas dari bibirnya. Luhan sedikit melirik dan tersenyum lebar saat melihat wajah damai putranya yang sudah terlelap.
"Mulai hari ini kau bisa terus tidur dengan nyenyak Chris.." Luhan berbisik di telinga Chris dan mencium berkali-kali puncak kepala Chris tanpa bosan. Kelegaan dan kebahagiaan yang Luhan rasakan seolah mengangkat semua kesulitan hidup Luhan. Luhan merasakan tubuhnya terasa ringan hingga mampu membuat Luhan merasakan dirinya berada di atas awan. Luhan berharap tidak akan ada lagi hal buruk lainnya yang harus ia hadapi. Luhan ingin hidup bahagia walaupun itu hanya bersama Chris.
Celah kecil pintu ruang inap Chris tertutup dengan pelan. Sesosok Sehun dengan menggunakan masker dan hoddie yang menutup rapat wajahnya berjalan menjauh dari ruang inap Chris. Setiap ketukan sepatu Sehun berbunyi adalah gambaran dari kerisauan hati Sehun yang berkecamuk. Berniat ingin meredam rasa hawatirnya pada Luhan dengan diam-diam melacak keberadaan Baekhyun saat ia menelfonnya beberapa jam lalu. Sehun justru mendapatkan kenyataan yang cukup membuatnya terkejut hingga Sehun merasa tidak sanggup untuk bernafas.
(Anak nona Luhan menderita 'Leukemia limfotik' dan dia baru saja sadar setelah menjalani operasi donor sum-sum induk..)
Perkataan seorang perawat yang sempat Sehun tanyai beberapa menit lalu –setelah ia tanpa sengaja melihat Luhan yang mencoba menenangkan Chris yang menangis- kembali terngiang di benak Sehun. 'Leukemia limfotik'. Apa mungkin Luhan menggunkan uang darinya untuk biaya operasi Chris ? Jadi pendonor yang sempat Sehun dengar adalah donor untuk Chirs ?.
Sehun memukul kemudi mobilnya sendiri dengan frustasi. Haruskah ia merasa berdosa karna sudah menjadi monster di hadapan seorang Ibu yang tengah berjuang menyelamatkan anaknya ? Tapi itu bukanlah kesalahannya. Luhan tidak mengatakan apapun tentang ini sejak awal hingga ia tidak mengetahui alasan yang membuat ia menjual diri padanya . Selama ini Sehun mengira Luhan membutuhkan Tiga ratus juta won hanya untuk keperluan pribadi seperti wanita-wanita lainnya. Sehun tidak menyangka kalau uang itu untuk di gunakan sebagai biaya operasi anaknya. Sehun fikir hal semacam ini hanya ada di dalam sekenario Drama atau Film. Tentang kasih sayang seorang Ibu pada anaknya dan perjuangan seorang Ibu untuk anaknya atau lain sebagainya. Tapi Luhan menunjukan pada dirinya kalau itu bukan hanya sekedar cerita fiksi yang di tulis untuk membuat orang-orang menangis. Luhan menunjukan kasih sayang seorang Ibu kepada anaknya yang sesungguhnya.
Sehun memejamkan matanya dan menyender pada kursi mobil miliknya. Tidak bisa di pungkiri kalau ia merasa sedikit bersalah pada Luhan. Perasaan ini yang hanya pernah ia rasakan satu kali dalam hitungan usianya kembali muncul karna Luhan. Sekarang apa yang harus ia lakukan. Mengubur harga dirinya untuk meminta maaf pada Luhan atau tetap menjungjung tinggi harga dirinya dan hanya diam mengubur perasaan laknat ini ?
Sehun menghidupkan mobilnya dan pergi meninggalkan rumah sakit yang ia datangi.
.
.
Sehun bersama Baekhyun seperti biasanya tengah di sibukan dengan kegiatan keartisan Sehun. Sekarang Sehun tengah beristirahat di sela menunggu bagianya untuk pengambilan gambar. Baekhyun dengan cekatan mencek segala hal yang Sehun butuhkan agar tidak kerepotan saat akan di gunakan. Sehun terus menatap Baekhyun yang berdiri di hadapannya.
"Baek"
"Hemmm"
"Sudah berapa lama kau berteman dengan Luhan ?"
Baekhyun menoleh cepat pada Sehun. Selama ini Sehun tidak pernah menanyakan hal-hal semacam ini padanya. Walaupun Sehun banyak meniduri wanita tapi Sehun tidak pernah menanyakan apapun tentang mereka pada Baekhyun dan ini adalah yang pertama kalinya Baekhyun melihat Sehun tertarik pada hidup orang lain. Baekhyun menatap Sehun penuh selidik. Apa Sehun sedang merencanakan sesuatu ?.
"Ehem.." Baekhyun berdehem kecil untuk menormalkan sikapnya dan kembali focus pada kegiatannya.
"Untuk apa kau bertanya ? Itu bukan urusanmu.."
"Apa Luhan memiliki orang tua ?"
"Kau fikir Luhan menetas dari telur ayam ?"
"Di mana suami Luhan, apa mereka sudah bercerai ?"
Baekhyun mendengus dan kembali menoleh pada Sehun. Sehun menatap lekat pada Baekhyun. Menunggu jawaban Baekhyun tentang pertanyaannya.
"Aku tidak akan menjawab pertanyaanmu.."
"Tidak masalah.."
"Yak! Harusnya jika kau ingin tahu kau bisa lebih baik untuk membujuk" Baekhyun menatap jengkel dan hampir memukulkan sepatu yang tengah ia pegang pada kepala Sehun. Sehun hanya mengedikkan bahunya acuh. Memejamkan matanya dan menyenderkan kepalanya dengan nyaman pada sandaran kursi.
Baekhyun menatap lekat pada Sehun. Sehun benar-benar memiliki sifat sekeras batu. Dia bertanya tapi terlihat seperti tidak ingin tahu. Terkesan tidak perduli pada jawaban apapun yang akan ia dapatkan. Baekhyun menyabarkan hatinya dan kembali focus pada kegiatannya.
"Aku mengenal Luhan sejak Lima belas tahun lalu, saat keluargaku pindah ke China.."
"Luhan orang China ?" Sehun sedikit tidak menyangka tentang ini.
Baekhyun mengangguk pada Sehun yang masih memejamkan matanya.
"Lalu sejak kapan dan kenapa dia pindah ke Korea ?"
Baekhyun terdiam. Sulit untuknya menjelaskan tentang masa lalu Luhan karna itu bukanlah haknya untuk membongkar rahasia Luhan. Baekhyun menoleh pada Sehun dan mendapati Sehun sudah membuka matanya.
"Dia pindah empat tahun lalu saat mengandung Chris dan soal alasan kenapa dia pindah aku tidak bisa menjawab. Itu bukan hakku untuk berbicara"
"Lalu di mana Ayah dari bocah itu ?"
Tatapan Baekhyun berubah menjadi sendu membuat Sehun sedikit merasa penasaran dengan alasan kenapa Baekhyun menjadi terlihat sedih.
"Entahlah.. akupun tidak tahu di mana Ayah, Chris berada" Baekhyun mengambil tempat di samping Sehun dengan tatapan menerawang jauh pada kejadian empat tahun lalu.
oooooooooooooooooooo
09 – Feb – 2011. 08 : 25 AM CST.
Baekhyun dengan nafas menderu membuka pintu gudang yang sudah sangat ia hafal letaknya. Mata Baekhyun menatap gelisah pada setiap sudut tempat dan telinganya bisa mendengar isakan samar- samar dari balik tumpukan kardus yang berjejer. Baekhyun tanpa ragu segera mendekat.
"Luhan!"
"Baek.."
Baekhyun memeluk Luhan dan tangisan pilu Luhanpun kembali pecah dalam pelukkan Baekhyun. Baekhyun menangkup wajah Luhan yang sangat terlihat kusut dengan aliran airmata yang terus membasahi pipinya. Baekhyun menatap penuh rasa hawatir pada kondisi sahabatnya.
"Apa yang terjadi Lu.. kenapa bisa seperti ini ?"
Luhan menggeleng. Diapun tidak tahu kenapa bisa sampai seperti ini.
"Aku tidak tahu Baek.. Pria itu muncul tiba-tiba"
Baekhyun segera memakaikan cardigan miliknya pada Luhan untuk menutupi dress Luhan yang sudah terkoyak. Airmata Baekhyun tanpa sadar menetes saat matanya bisa melihat bekas kiss mark di leher Luhan namun dengan cepat Baekhyun menghapusnya. Luhan hanya akan menjadi semakin lemah jika ia ikut menangis. Tugas Baekhyun sekarang menemani Luhan dan menguatkan Luhan bukan ikut terhanyut dalam tangisan Luhan.
"Tenanglah.. Ayo kita keluar dari tempat ini" Baekhyun membantu Luhan untuk berdiri dan merangkul bahu Luhan yang masih bergetar karna tangisannya. Luhan berjalan mengikuti Baekhyun dengan sedikit menahan rasa sakit pada daerah kewanitaannya.
Bunganya layu dalam tangan seorang pria yang dengan tega merampasnya secara kejam. Luhan tidak akan memaafkan pria itu jika suatu saat Tuhan menakdirkan mereka bertemu dalam sebuah ketidak sengajaan sekalipun. Luhan membenci pria itu. Pria berengsek yang tidak memiliki hati dan perasaan.
oooooooooooooooooooo
"Yang aku tahu hanya Luhan sangat membenci Ayah, Chris. Bahkan dalam keadaan terburuk sekalipun Luhan tidak ingin mencari Ayah, Chris sekedar untuk meminta pertanggung jawaban. Dia selalu mengatakan lebih baik terkubur bersama Chris dari pada harus menemui Ayah, Chris"
Sehun terdiam. Matanya dengan lekat menatap wajah Baekhyun yang menyiratkan kemarahan, kesedihan dan keseriusan. Hatinya tanpa alasan berdenyut sakit saat mendengar perkataan Baekhyun. Ada sesuatu yang Sehun rasakan tapi Sehun tidak tahu itu apa. Seperti sayatan tipis tapi dalam yang membuatnya merasakan kesakitan secara pelan namun cukup membuatnya sulit bernafas.
-Ada apa dengan diriku ?- Sehun.
.
.
.
.
.
To be continue..
CHAP 7. Jeng, Jeng. Jeng.. ha ha ha. Ga sabar buat liat reaksi kalian sama Chap ini. Yang ngira dan takut Chrisnya mati, aku ga sekejam itu ko^o^ Akukan baik ha ha ha. Tapi maaf ya, HunHanya di sini kurang, emang di sini lebih focus ke Chrisnya aku rasa. Kalian bahagia seperti Luhan yang bahagia ga ? Ikut seneng atau malah sedih ? Ayo luapkan perasan kalian di kolom review. Ada anak baru muncul, si ikan mokpo kesayangan. Lee dongek. Siapakah Donghae itu ? Na Na Na /Nyanyi di pinggir Got/
Banyak yang baper ya? Hahaha Luhannya udah bahagia ko tapi ga tau di chap-chap nanti masih bahagia apa engga /ketawa setan bareng Sehun/
Ada beberapa yang tanya FF ini akan sampai berapa Chap. Aku ga tauuuuuu, seselesainya aja jadi belum ada bayangan berhenti di Chap berapa, kenapa emang? Udah bosen ya TT
Juna Oh, Oh Juna Oh. Maaf kan aku ya hahaha kebalik doang, biasa hilap lol dua kali, semoga ga ada yang ketiga ya.
Buat salah satu Guest. Kenapa namanya ga ada di Thanks to. Ada ko, tu PARA GUEST, kamu reviewnya pake akun guest jadi aku ya tulisnya kan gitu^^
HwangRere27. Aku ga tau alamat Emaile mu say^^
bella . bdbebell. Nama FFn mu ada ko di dokumentku, udah aku tulis jadi kalo ga ada FFn berarti yang hapus. Karna FFn suka hapus kata-kata yang kalo dempet gitu, jadi buat nama FFnmu sekarang aku kasih sepasi^^
Chap kemarin masih pada banyak yang bilang kurang pajang ha ha ha jadi harus sepanjang apa dong ni FF? NC di chap kemarin ada yang suka ada juga yang engga. Beberapa malah pada di skip karna ga kuat katanya, jadi apa NCnya HOT ? Atau Luhannya yang bikin ga nana? Tapi bagusnya jangan di skip kalo mau di skip, skip bagian adegannya aja, kalo narasi yang aku tulisnya jangan.
Aku seneng kalo FF ini bisa jadi kesadaran juga untuk diri masing-masing kalo kasih sayang seorang Ibu itu sangat mahal, lebih mahal di banding apa yang ada di dunia ini^^ Jujur ya padahal aku ga dapet Itu selama 23 tahun hidup dudududu /curhat colongan/ jadi FF ini juga sebagai pelarian supaya aku ga mikir yang engga-engga^^
Aku mau say hay untuk para pembaca baru, Hayyy kalian semua. Namaku Eky, kalian bisa panggil terserah apa aja yang enak. Terus baca dan review ya, jangan berhenti buat review supaya akunya makin semangat buat nulis. Aku juga ga nyangka ni FF bisa jebol 500 review di Chap 6 TT terharu tau ga. Aku itu pengen punya FF yang bisa tembus 1K reviewnya, semoga FF ini bisa bikin keinginanku tercapai ya. Jadi ayo dong bantu aku dengan review kalian^^
Buat yang follow dan favoritin ni FF juga bener-bener terimakasih ya, kalo belum sempet review, aku tunggu reviewnya ya^^
Thanks to :
Junita761 | Rosy Phantomhive | danactebh | LittleJasmine2 | Sarrah HunHan | dyodomyeon | nadazaaiko | xoexoxo502 | Jung vhyii | BiEl025 | hunnaxxx | Nurul999 | nutnutnut | auntyjeje | hunexohan | cissy | nunnaparkhuang | xoos94 | Light-B | HunHanCherry1220 | ceszyy | Vianna Cho | Rusa Beijing LH7 | noVi | Deerwolf19 | deerhanhuniie | DBSJYJ | rikha-chan | Oh Titan | ruixi1 | SyiSehun | NHselu | Lisasa Luhan | yeollowfishh14 | BabyByunie | Siti722 | deermykrishan | Xxian | ChagiLu | HunLu502 | odultluluexo | Baby niz 137 | ElisYe het | ParkNada | bella . bdbebell | joohyunkies | Ludeer | chooco | Tdkdiketahuisiapanamanya | Oh Grace | zoldyk | luhaneyy | kimaerinuna520 | choikim1310 | fysanaa | OHSEHUNXILUHAN | Juna Oh | Kim124 | Richjoonmoney | hunrene904 | tinywild | NopwillineKaiSoo | anisaberliana94 | Okta HuHan | Sanshaini Hikari | igineer | IndahOliedLee | ohandeer | Seravin509 | Reechan07 | nisaramaidah28 | laabaikands | deva94bubletea | LisnaOhLu120 | cho min ah | MeriskaLu | MissPark92 | xobechan56 | Angel Deer | SenNunna | sanmayy88 | Selenia Oh | babybabyun | NaruSuke99 | Kim YeHyun | lusi tan | Yessi94esy | kawaiinunung | khalidasalsa | HwangRere27 | Just AngEl | hunhandeep | satanSEKAI | exolv | Wiwiet | oh ana7 | daebaektaeluv | Arifahohse | vietrona chan | para Guest | - The secret past chap 6.
Buat yang review di PM juga, makasih ya. Dan kalo ada yang ga kesebut, maaf ya tapi aku baca ko review kalian. I love youlah buat kalian semua! Aku tunggu review untuk chap ini demi kelanjutan chap selanjutnya^^
Oh ya, aku ada post FF baru, judulnya Black rose. Ada yang udah baca pasti, kalo ada yang belum baca, silakan cek tapi jangan lupa sama reviewnya. FF itu Oneshot dan kebanyakan pada minta sequel. Aku lagi nimbang-nimbang sambil nunggu respon lainnya.
Ok See you di next Chap! Jump! Jump! Jump! Jump! We are HHS^^
