Lalalala~ Chapter 7…aah..akhirnyaa… ^_^
Chapter 7. Trying to Survive
Tsuna tidak bisa berpikir jernih, pikirannya masih terus terbayang-bayang soal ciumannya tadi pagi bersama Giotto. Oh bukan! Bukan ciumannya, tapi ciuman Giotto. Tsuna tidak pernah meminta Giotto menciumnya sekalipun, iya kan? Giotto lah yang memulainya. Tapi untuk apa sih dia melakukan itu?
Ayolah Tsuna, hentikan terus memikirkan hal itu!!! Jerit Tsuna dalam hati.
Sarapan pagi itu berlangsung sepi, hanya suara dentingan sendok garpu dan piring yang terdengar. Mungkin mereka masih shock karena melihat boss mereka yang biasanya kalem, cute dan lemah lembut itu marah-marah. Tsuna melirik Gokudera yang seperti biasa duduk di sampingnya, wajahnya dipenuhi plaster dan tangan kanannya pun dililit perban, dia berulang kali bersujud meminta maaf setelah peristiwa kemarin. Malamnya, Mukuro..(setelah dipaksa Chrome) juga ikut minta maaf. Bahkan Yamamoto yang tidak ada sangkut pautnya juga datang meminta maaf, katanya dia merasa bersalah karena tidak bisa melerai mereka.
Apa kemarin marahku keterlaluan ya?
Tsuna mengalihkan pandangannya pada Giotto yang juga duduk di sampingnya, lalu tiba-tiba dia teringat ciumannya lagi. Maka buru-buru Tsuna menoleh sebelum wajahnya mulai memerah.
Meja makan keluarga Vongola masih terasa sepi. Kemarin Ryouhei megirim surat, katanya dia baru akan pulang besok, Lambo juga jarang sarapan bersama mereka, biasanya dia mengambil jatah sarapannya lalu memakannya di tempat lain, bersama I-pin. Hibari tidak pernah sarapan bersama mereka sekalipun, selain karena dia tidak menyukai kerumunan orang, Hibari juga punya base nya sendiri, tak jauh dari Vongola Head Quarter. Omong-omong tentang Hibari…Tsuna sudah menyerah, dia merelakan Hibari untuk Chrome. Keduanya saling menyukai satu sama lain dan dia juga sudah tidak memiliki harapan lagi untuk mendapatkan Hibari.
"A-anu…" Tsuna memulai pembicaraan. Terkadang keramaian saat makan juga penting. "S-setelah ini, bagaimana kalau kita mengadakan acara bersama-sama?"
"Kalau Juudaime bilang begitu, aku setuju." Gokudera yang pertama kali setuju dengan usul Tsuna, sedangkan yang lain tampak masih berpikir-pikir lagi.
"Boleh juga, Tsuna." Sahut Yamamoto, dia sudah kembali ceria seperti biasanya. "Bagaimana kalau kita mengadakan pesta barbeque?"
"Bagaimana kalau kalian piknik ke gunung?" salah satu usul tiba-tiba terdengar. Semua orang menoleh dan mereka melihat Reborn berdiri sambil bersandar ke dinding, kedua tangannya terlipat di depan dada, pose itu adalah khas gaya coolnya Reborn selain menurunkan topi fedora hitamnya.
"Piknik ke gunung?" tanya Chrome.
"Ya, karena ini musim semi, bunga-bunga sedang bermekaran sekarang, kalian juga bisa mengadakan pesta barbeque juga di sana."
"Kedengarannya menarik." Seru Yamamoto bersemangat.
"Oya, boleh juga." Sahut Mukuro. Yang lainnya segera setuju, termasuk Tsuna.
"Bagaimana denganmu Giotto?" tanya Reborn.
"Ah, maaf, aku janji akan membantu Spanner dan Giannini memperbaiki mesin TYL Bazooka." Jawab Giotto dengan berat hati. Beberapa orang nampak kecewa karena Giotto tidak ikut, terutama Tsuna. Padahal rencananya dia mau meminta nasihat untuk melupakan Hibari.
"Jangan khawatir, Souichi sedang menanganinya sekarang."
"Eh? Souichi sudah kembali?" tanya Tsuna terkejut. "Kapan?"
"Heh, saat kalian sedang berada di taman kemarin sore." Jawab Reborn. Wajah Tsuna memerah. Reborn tahu dia dan Giotto sedang bersama-sama di taman kemarin, apa dia juga tahu kalau mereka berciuman? Oh, semoga tidak…
"Kalau begitu aku akan ikut piknik." Kata Giotto akhirnya.
Pukul 10 pagi, semuanya sudah siap dan berkemas. Tsuna memakai kaos Oranye dan jaket putih, dengan celana cokelat gombrang dan sepatu kets warna hijau pucat. Dia duduk di bangku halaman depan bersama Giotto dan Chrome, sementara itu Yamamoto dan Mukuro memasukkan barang-barang ke dalam mobil. Akan ada dua mobil yang mereka kendarai untuk sampai ke gunung. Salah satunya mereka isi dengan barang-barang piknik dan sebagainya.
"Jadi begitulah, Juudaime akan pergi sebentar. Kalau ada apa-apa hubungi nomorku." Kata Gokudera kepada dua orang mafioso yang mengangguk. Selama Tsuna dan yang lainnya pergi, kedua orang itu bertugas menjaga Vongola Head Quarter sampai mereka kembali.
Lambo dan I-pin sudah masuk ke dalam mobil, nampaknya mereka sudah tak sabar untuk pergi. Anak-anak memang selalu bersemangat. Anak-anak? Ya, mereka kan baru berumur 10 tahun ingat?
Tak lama kemudian Reborn datang, seperti bisanya berpakaian serba hitam dengan topinya yang setia menutupi rambutnya, terkadang juga menutupi matanya…
"Reborn, lama sekali!" gerutu Tsuna yang kemudian berdiri untuk menyambutnya. Giotto dan Chrome juga ikut berdiri.
"Aku butuh waktu lama untuk membujuknya agar dia mau ikut serta." Jawab Reborn.
"Eh? Membujuk siapa?"
Tak lama kemudian terdengar suara derung mobil dari kejauhan, Tsuna dan yang lainnya menoleh, dilihatnya mobil Ferrari hitam melaju kencang dan berhenti tepat di depan mereka.
"Membujuk dia." Ujar Reborn. Kusakabe turun dari mobil dan membukakan pintu penumpang. Tsuna yang lemot saja langsung menyadari siapa yang dimaksud Reborn.
"Kyo-san, kita sudah sampai." Kata Kusakabe. Hibari Kyoya turun dari mobil dengan lagak super coolnya, kalau saja di sana banyak perempuan, mereka pasti menjerit-jerit bahagia (termasuk author).
"H-H-Hibari-san!" pekik Tsuna, kaget namun senang karena Hibari yang selama ini menolak untuk melakukan kegiatan bersama-sama akan ikut piknik. Hibari menoleh, namun hanya sedetik matanya menangkap sosok Tsuna, ia langsung memalingkan wajahnya. Tsuna langsung pesimis dan tersenyum sedih.
Hibari-san bahkan tidak ingin melihat wajahku.
Giotto menatap wajah Tsuna yang murung, kemudian berpaling menatap Hibari dengan tajam, saking tajamnya tatapan Giotto, sampai-sampai Hibari merasakan ada aura permusuhan yang menyelubunginya, dia berbalik untuk mengetahui dari mana sumber aura itu. Hibari langsung mengeluarkan death glarenya ke arah Giotto, namun Giotto tidak bergeming. Baru kali ini ada orang yang tahan dengan death glare Hibari, selain Reborn.
Tidak ada orang yang menyadari aura permusuhan mereka selain Kusakabe. Ya wajar saja, Kusakabe sering bersama-sama dengan Hibari dan dia sudah tahu seluk beluk atasannya itu. Dia tidak terpengaruh oleh death glare milik Kyo-san, inikah kekuatan Vongola Primo? pikir Kusakabe.
"Baiklah, cukup." Reborn tiba-tiba berdiri di antara mereka, menghentikan 'perang tatapan maut' di antara keduanya. "Ayo lekas pergi sebelum terlalu siang."
Hibari berbalik dan bergumam "Cih!" pelan lalu masuk ke dalam Ferrari hitamnya lagi.
"Wow, pasti menyenangkan kalau Hibari ikut, iya kan Tsuna?" komentar Yamamoto sambil menepuk bahu Tsuna. Tsuna hanya tersenyum.
"Huh, untuk apa sih Reborn-san mengundangnya segala?" Gerutu Gokudera. "Orang itu pasti hanya akan membuat suasana jadi tidak nyaman!"
"Hahaha, kalau begitu aku akan membuatmu nyaman, Gokudera." Ujar Yamamoto sambil mengacak-acak rambut silver Gokudera. Walau samar, Tsuna bisa melihat wajah Gokudera sedikit memerah.
"Bodoh! Aku tidak butuh!" protes Gokudera sambil menepis tangan Yamamoto dari rambutnya. Mereka mulai beradu argumen lagi dan Tsuna hanya bisa tertawa. Seandainya saja dia bisa seakrab itu bersama Hibari…Tapi..sudahlah, lupakan dia.
"Apa yang kalian lakukan di sana? Kita akan berangkat!" seru Reborn. Gokudera, Yamamoto dan Tsuna langsung masuk ke dalam mobil, sementara Giotto masih berdiri di tempat, seperti memikirkan sesuatu. Reborn menghampirinya. "Kau juga cepat masuk ke mobil!" titah Reborn.
"Kau merencanakan sesuatu." Gumam Giotto serius. "Benar kan?"
Reborn tidak menjawab, dia hanya menyeringai sambil berbalik dan berjalan menuju mobil.
"Mungin." Bisik Reborn pelan. Giotto menghela nafas dan masuk ke dalam mobil.
Perjalanan mereka ternyata cukup jauh, entah di mana gunung yang Reborn maksud? Tapi suasana di dalam mobil ternyata tidak sesepi yang dibayangkan Tsuna. Mobil pertama diisi oleh Reborn, Yamamoto, Tsuna, Giotto, Gokudera, Chrome, Lambo, dan I-pin. Reborn menjadi navigator perjalanan, Yamamoto yang menyupir. Di bangku tengah, Tsuna, Gokudera, dan Giotto mengobrol membicarakan apa saja yang akan mereka lakukan kalau sudah sampai nanti. Di bangku belakang Chrome, Lambo dan I-pin sibuk melihat pemandangan gunung sambil bernyanyi-nyanyi riang. Hal ini mengingatkan Tsuna betapa jaranganya dia mengajak anak-anak bermain ke luar karena dia selalu sibuk mengerjakan pekerjaannya. Bicara tentang pekerjaan, bukankah tadi pagi Tsuna sempat berencana membereskan ruang kerjanya? Ah, sudahlah. Lagipula piknik adalah idenya Reborn. Tapi benar juga, untuk apa Reborn mengajaknya piknik? Biasanya dia tidak pernah membiarkan Tsuna bermain-main sebelum menyelesaikan tugasnya. Apa Reborn merencanakan sesuatu?
Di belakang mobil yang Tsuna tumpangi, Mukuro bertugas menyupir mobil yang membawa barang-barang mereka. Dia sempat mengeluh sebelum berangkat, kenapa hanya dia yang tidak semobil dengan Tsuna?
Dibelakang mobil Mukuro, ada Mobil Ferrari hitam Hibari yang mengikuti mereka. Tentu saja Kusakabe yang menjadi supirnya. Hibari di bangku tengah, duduk manis (?) dengan mata tertutup. Moodnya sempat memburuk sebelum pergi tadi, sampai-sampai dia ingin sekali memukul sesorang untuk dijadikan pelampiasan.
Beberapa menit kemudian akhirnya mereka tiba di gunung yang ternyata suangaat indah. Tak jauh dari mobil tempat mereka terparkir terdapat sungai lengkap dengan air terjunnya. Bau pohon pinus segera tercium saat mereka turun dari mobil, menikmati keindahan alam yang jarang mereka rasakan.
Ketika Yamamoto baru saja akan menurunkan barang bawaan mereka, Reborn berkata dengan suara misterius.
"Baiklah kalian semua, ikut aku sebentar." Yamamoto tidak jadi menurunkan barang bawaannya dan mengikuti Reborn yang memimpin jalan, mereka menjauh dari mobil, berhenti di dekat sebuah pohon Oak yang besar.
"Gokudera, aku minta satu dinamit." Ujar Reborn.
"Eh? Untuk apa?"
"Berikan saja padaku!" Gokudera memberikan salah satu dinamitnya pada Reborn tanpa banyak tanya lagi. Tsuna dan yang lainnya menatap kebingungan saat Reborn menyulut dinamit itu dan melemparnya ke arah…
MOBIL??!!
Suara 'DHUAAAR' yang keras membuat beberapa burung terbang ketakutan. Di saat Tsuna dkk masih shock karena mobil yang membawa peralatan mereka meledak, Reborn menembaki ban mobil Hibari dan mobil yang tadi ditumpangi Tsuna.
"REBORN! Apa yang kau lakukan!" teriak Tsuna. Untunglah mereka memarkir mobil di jalan setapak yang tidak ada pohonnya. Jadi tidak menyebabkan kebakaran hutan.
"Bertahan hidup." gumam Reborn watados sambil memasukkan pistolnya ke balik jas hitamnya. "Itu yang akan kita lakukan di sini."
"A-APAAA?!!"
Mulut mereka menganga, speechless dengan apa yang baru saja mereka lihat dan mereka dengar. Masih untung Reborn hanya meledakkan satu mobil, mobil Hibari dan mobil mereka yang satu lagi, diparkir cukup jauh dengan mobil yang meledak, utuh, namun bannya kempes.
"J-jangan bercanda! Aku tidak mau bertahan hidup di hutan seperti ini!" Tsuna merogoh saku celana dan mengambil handphonenya, dia berniat mengubungi seseoramg di Vongola Head Quarter, namun tak ada sinyal.
Oh benar juga, ini di gunung…
"Reborn mulai gila!" jerit Lambo. Tsuna setuju dengan komentarnya kali ini, dari awal dia memang merencanakan sesuatu. "Aku tidak mau mati kelaparan!"
"Kalau kalian tidak ingin mati kelaparan, bertahan hiduplah." Kata Reborn lalu mulai berjalan menjauhi mereka, pergi entah ke mana. Lambo mulai menangis membayangkan dia akan kelaparan, Chrome dan I-pin menghiburnya.
"Hahaha, seprtinya ini akan menarik." Komentar Yamamoto.
"Bodoh kau yakyu-baka! Jangan tertawa di saat-saat seperti ini!" gertak Gokudera. Mereka, lagi-lagi beradu argumen, tapi kali ini Tsuna tidak tertawa melihatnya.
"Kufufu, kalau begitu kita harus berusaha bertahan hidup bersama-sama, Tsunayoshi-kun!" Mukuro tiba-tiba saja melingkarkan lengannya ke pinggang Tsuna.
"M-Mukuro!" Tsuna langsung bergidik merinding, namun tak kuasa untuk melepaskan genggaman Mukuro yang kuat melilit pinggangnya.
"HOI! Kau nanas sialan! Lepaskan tanganmu dari Juudaime!" Gokudera yang tidak rela Juudaime-nya disentuh-sentuh Mukuro langsung mengeluarkan dinamitnya. Namun Yamamoto menarik lengan Gokudera. "Apa-apaan kau Yakyu-baka? Lepaskan aku."
"Maa, maa Gokudera, kalau kau melempar dinamitmu, hutan ini akan terbakar." Kata Yamamoto kalem.
"Tapi aku harus—" kata-kata Gokudera terpotong saat dia mendengar suara 'PLETAAK' yang keras. Tsuna terbelalak kaget karena lengan Mukuro tiba-tiba melonggar dan dia terpental ke tanah. Seseorang telah menghajar Mukuro.
"Mukuro-sama!" Chrome segera menghampiri Mukuro. Ketika Tsuna berbalik untuk melihat penolongnya, Giotto berdiri sambil tersenyum dan menggaruk-garuk kepala.
"Oh, maaf tanganku licin." Kata Giotto. Tsuna menoleh ke arah Mukuro yang baru saja berdiri. Giotto telah melempar Mukuro dengan sesuatu.
"Kau..apa yang mengenaiku tadi?" tanya Mukuro sambil mengusap bagian belakang kepalanya yang terasa sakit.
"Hanya ini." Giotto menunjukkan sesuatu di tangan kirinya. Sesuatu yang kecil berwarna cokelat tua. Itu adalah buah pinus. Bagaimana mungkin dilempar dengan buah pinus bisa sesakit ini? Pikir Mukuro.
"Bagus Giotto-sama! Kau tidak perlu ragu menghajar si kepala nanas brengsek itu!" seru Gokudera sambil mengacungkan jempol. Giotto dan Yamamoto tertawa, Tsuna hanya tersenyum kecut, Mukuro masih mengusap kepalanya sambil dinasehati Chrome untuk tidak menggoda Tsuna. Sedangkan Hibari…lagi-lagi dia menatap Giotto dengan penuh kebencian, kedua tangannya menggenggam erat tonfa yang entah sejak kapan sudah ia pegang. Intuisi Giotto merasakan aura kebencian kali ini, dia berpaling mendelik ke arah Hibari, kemudian tersenyum mengejek seolah-olah mengatakan: 'heh…maaf ya, aku lebih cepat'.
Hibari merapatkan giginya, dia ingin sekali membunuh laki-laki pirang yang dengan sengaja membuat emosinya naik itu. Dia ingin memukul wajahnya, menghancurkan setiap tulangnya, menggigitnya sampai mati, memasukkan mayatnya ke dalam tong dan mengisinya dengan semen lalu ia tenggelamkan di samudera atlantik. Biar dimakan hiu sekalian!
"Kenapa Hibari?" tanya Giotto, masih dengan senyum 'mengejek' yang menghiasi wajahnya. Tsuna dkk menoleh ke arah Hibari yang masih berdiri dan mendeath glare Giotto. Bajingan ini sengaja membuatku marah, geram Hibari dalam hati.
"A-ada apa Kyo-san?" tanya Kusakabe. Dari raut wajahnya saja, Kusakabe menyadari atasannya itu sedang dalam moodnya yang terburuk.
"Tetsu!" Hibari berpaling ke arah Kusakabe. "Siapkan ban cadangan, aku mau pulang!"
"T-tapi Kyo-san, ban cadangan hanya ada satu, sedangkan Reborn-san menembak dua ban."
'DUAAAAAK' Hibari menghajar Kusakabe dengan tonfanya sekuat tenaga, di meluapkan seluruh kekesalannya dalam satu pukulan dan Kusakabe terpental beberapa meter hingga menabrak pohon. Tsuna menjerit histeris saat melihat darah keluar dari hidung dan mulut Kusakabe. Dia dan Yamamoto segera berlari untuk menolongnya.
"Kusakabe-san, kau tidak apa-apa?" tanya Tsuna khawatir.
"A-aku t-tidak apa-apa." Jawab Kusakabe sambil mengelap darah yang keluar dari sudut bibirnya. Yamamoto membantu Kusakabe berdiri.
"Kenapa kau memukulnya?" tanya Tsuna, setengah berteriak ke arah Hibari yang kemudian mendeath glarenya. Tsuna merasa takut, namun dia tidak terima bila Hibari memukul seseorang tanpa alasan yang jelas di depan matanya.
"Sudahlah Sawada-san, aku tidak apa-apa. Lagipula Kyo-san memukulku karena aku lalai." Ujar Kusakabe.
"T-tapi—"
"Cih, sudah kubilang kan? Orang itu hanya membuat suasana menjadi tidak nyaman!" gerutu Gokudera.
Beberapa jam kemudian, semuanya duduk berkumpul membentuk lingkaran, kecuali Hibari. Mereka memutuskan mengadakan 'rapat dadakan' untuk membahas soal mencari makanan karena mereka sudah mulai kelaparan dan tak ada makanan yang bisa diselamatkan dari mobil mereka yang meledak. Reborn yang menjadi penyebab semua ini juga pergi entah kemana dan meninggalkan mereka begitu saja. Setelah berbagai usul disampaikan, akhirnya dibuatlah sebuah keputusan.
"Baiklah," kata Giotto, karena dia yang paling tua, Giotto bertanggung jawab menjaga Tsuna dan Guardiannya agar bisa hidup di hutan. "Kalau begitu, Gokudera, Yamamoto, Lambo dan Mukuro mencari sesuatu yang bisa dimakan, aku dan Tsuna akan mengumpulkan kayu bakar, Kusakabe, Chrome, dan I-pin bagian membuat makanan, lalu Hibari.." Giotto menoleh ke arah Hibari yang sepertinya tidak ingin mendengarkan. "Kau bertugas mencari cara agar kita bisa menghubungi Vongola Head Quarter." Hibari tidak menanggapi, dia malah memalingkan wajahnya. Mungkin Giotto belum mengetahui prinsip Hibari: 'tidak ada orang yang memberiku komando!'
"Ada yang keberatan?" tanya Giotto. Semuanya menggelengkan kepala.
"Aku keberatan." Reborn tiba-tiba saja muncul. Semua orang memasang ekspresi yang sama di wajah mereka, ekspresi yang seolah-olah mengatakan: Dari-mana-saja-kau?! Mau bertanya juga percuma, Reborn tidak akan memberitahunya.
"Oh, apa yang membuatmu keberatan?" tanya Giotto.
"Kalau kalian mencoba mencari cara untuk menghubungi Vongola Head Quarter, itu percuma saja. Tidak ada alat komunikasi yang bisa dipakai." kata Reborn sambil mendekati Giotto. "Selain itu, Lambo belum punya skill untuk mencari makanan di alam bebas." Tutur Reborn.
"Baiklah, jadi bagaimana usulmu?"
"Aku akan merubah susunan pembagian tugasnya." Jawab Reborn. "Yang mencari makanan Gokudera, Mukuro, lalu ditambah kau…Giotto, karena kau pasti sering berada dalam situasi seperti ini dan kau bisa mengajari mereka. Lalu yang mencari kayu bakar cukup dua orang, Tsuna dan Hibari."
"EEEEH?!" pekik Tsuna. Kenapa dia harus setugas dengan Hibari sih? Kenapa Hibari tidak dengan Chrome atau Kusakabe saja? Uukh…sial sekali…mana mood Hibari sedang jelek.
"Dan sisanya memasak." Lanjut Reborn.
"Ng, aku juga ikut masak?" tanya Yamamoto.
"Ya, karena kau sering membantu ayahmu di restoran dulu. Kau bisa memotongi bahan makannya." Yamamoto mengangguk, tapi dia merasa sedikit kecewa karena tidak setugas dengan Gokudera. Sebaliknya, Gokudera senang karena akhirnya dia bisa terlepas dari Yamamoto yang selalu mengikutinya.
"Kalau kalian sudah mengerti, cepat laksanakan tugas masing-masing!" Semuanya segera melakukan apa yang diperintah Reborn, bahkan Hibari yang tidak suka diperintah-perintah juga menurutinya. Chrome dan Kusakabe sibuk mencari sesuatu yang bisa dijadikan perkakas memasak dari sisa-sisa mobil yang meledak. Sementara Giotto memperhatikan Tsuna yang berjalan bersama Hibari ke arah hutan yang lebih dalam.
"Apa ini rencanamu yang sebenarnya?" tanya Giotto. Reborn menoleh.
"Kenapa kau tampak tidak senang? Bukankah kau sendiri yang bilang untuk membantu Tsuna?"
Giotto termenung sebentar mendengar kata-kata Reborn. Benar, dia memang pernah bilang kalau dia akan membantu mendekatkan hubungan Tsuna dengan Hibari.
"Atau kau mulai menaruh perasaan spesial pada Tsuna?" tanya Reborn lagi, dia menyeringai. Giotto tidak suka itu, saat Reborn menyeringai seperti itu, seolah-olah Reborn menyudutkannya.
"Tentu saja tidak," jawab Giotto. "Aku tetap akan mendekatkan mereka."
"Lalu kenapa kau memanas-manasi Hibari seperti tadi?"
"Aku hanya ingin memberinya pelajaran karena dia telah membuat Tsuna menangis." Jawab Giotto lagi. Reborn membenahi topinya lalu memasukkan tangan kirinya ke dalam saku.
"Semestinya kau yang harus banyak belajar, Giotto." Setelah mengatakan itu, Reborn pergi meninggalkan Giotto yang masih samar-samar menangkap perkataan laki-laki yang sok misterius itu.
"Giotto-sama! Ayo kita cari bahan makanan sebelum gelap!" teriak Gokudera dari kejauhan. Giotto menoleh.
"Oh, iya!" Dia berjalan menghampiri Gokudera, tapi kata-kata Reborn barusan masih menggema di kepalanya. Apa maksudnya aku harus banyak belajar? Pikir Giotto. Tidak ada hal yang harus ia pelajari tentang percintaan, dia mengerti semuanya. Dan dia akan membuktikannya pada Reborn dengan mendekatkan Tsuna dan Hibari.
Fuaaah…
Ceritanya belum jelas ya? Gomen, soalnya ini aku ketik di laptop waktu aku lagi piknik…hahah, piknik dijadiin inspirasi fanfic. Rencananya di chapter ini aku mau ngeluarin 1827, tapi kayanya di chapter 8 deh… ^^'
