Room 07

Author :

Hidariwa

Casts :

Luhan, Oh Sehun, Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Kai, Kyungsoo, Kyung Ah, Yixing, Junmyeon

Genre :

Yaoi/Boys Love, Comedy, Fluff/Romance, Yadong (?), Mistery ( yang ini gak yakin )

Rated :

M

Length :

Chaptered

Pairing :

Hunhan, Chanbaek, Sulay

.

.

Disclaimer :

Semua cast yang ada di FF ini milik Tuhan Y.M.E. dan orangtua mereka masing-masing. Tapi Oh Sehun milik Luhan dan Luhan milik Oh Sehun dan mereka berdua milik saya.

Semua yang ada pada FF ini berasal dari otak saya. Jadi, jika ada kesamaan itu hanya kebetulan belaka.

WARNING!

TYPO(s), YAOI, WEIRD!

ENJOY!

.

.

.

Chapter 7 : That Jacket

.

.

.

Previous Chapter :

" SEHUN!" Terdengar suara seseorang yang sedang berjalan menuju ke arah mereka. " Oppa?" Tanya gadis itu, terkejut melihat siapa sosok yang berada di samping Sehun.

" Kau, berhentilah mengganggunya!"

" Aish. Oppa, kau kenapa kembali?"

" Memang kenapa? Aku tidak boleh kembali?"

" Ya. Kau tidak boleh kembali dan jangan pernah merebut apapun dariku!" Ancam gadis itu pada Pria bermata bulat lalu pergi meninggalkan mereka.

" Cih, apa maksudmu?!"

" Sudahlah, Kyung Soo-ya." Sehun menenangkan Pria bermata bulat yang dipanggilnya dengan nama 'Kyung Soo' itu.

" Kyung Soo?"

.

.

*******~~~~~~~~~~~~~~~ ROOM 07 ~~~~~~~~~~~~~~~*******

.

.

"Kyung Soo?" Sebuah suara menginterupsi Sehun dan Kyungsoo, keduanya menoleh ke sumber suara. Terlihat seorang pemuda berkulit lebih gelap tengah menatap tak percaya pada sosok yang ia sebut namanya barusan. Ia memperhatikan setiap inci tubuh Kyungsoo, dari atas sampai ke bawah.

"Kau.. mengenalku?" Tanya Kyungsoo pada pemuda itu. Kyungsoo bingung dari mana orang yang ada di hadapannya ini tahu namanya. Kyungsoo berpikir sejenak, seingatnya ia tak pernah mengenal pemuda yang ada di hadapannya ini sebelumnya. Sehun yang melihat raut wajah Kyungsoo yang menunjukkan bahwa ia sedang berpikir keras itu lalu memilih untuk mengingatkan Kyungsoo.

"Ya, kau mengenalnya. Kalian pernah bertemu, bukan?" Tanya Sehun sambil menatap Kyungsoo dan pemuda itu bergantian.

"Apa kau masih mengingatku?" Tanya pemuda itu penasaran pada Kyungsoo. Lagi-lagi Kyungsoo terlihat sedang berpikir keras untuk mengingat-ingat kapan mereka bertemu sebelumnya. Ahh.. Kyungsoo kesal sendiri pada ingatannya yang buruk.

"Hmm.. maaf, sepertinya aku tidak ingat." Jawab Kyungsoo jujur pada akhirnya. Ia memutuskan untuk berhenti berpikir karena memorinya benar-benar tak memberikan petunjuk tentang pemuda itu. Ia benar-benar tak mengingatnya.

"Baiklah.. kalau begitu, bagaimana kalau aku kembali mengenalkan kalian?" Ujar Sehun memberi saran pada mereka. "Oke, Kai ini Kyungsoo. Dan Kyungsoo, dia adalah Kai." Kai dan Kyungsoo yang sedari tadi hanya menatap satu sama lain, kini memilih untuk saling berjabat tangan. Kai tersenyum pada Kyungsoo. Hal ini membuat Kyungsoo tersentak dan seperti mengingat sesuatu.

Senyum itu. Kyungsooo merasa familiar dengan senyuman orang itu. Benar, tidak salah lagi. Kyungsoo benar-benar mengenali senyum itu. Tapi, kapan dan dimana? Siapa sebenarnya pemilik senyum itu? Ya, Kyungsoo tahu bahwa itu adalah senyuman Kai, tapi bukan itu. Sebenarnya siapa sosok Kai sebenarnya? Sosok yang pernah ia kenal dulu.

"Ahh ya, Kyungsoo, Kai adalah teman sekelasku." Lanjut Sehun.

" Sehun, bisakah kau memberitahuku kapan dan dimana kami pernah bertemu?" Tanya Kyungsoo pada akhirnya. Baiklah, ia benar-benar penasaran sekarang.

Kai yang mendengar pertanyaan Kyungsoo pun tersenyum aneh atau lebih tepatnya disebut dengan menyeringai. "Bukankah kalian pernah bertemu di Club? Nite Sky Club." Jawab Sehun

"Atau lebih detailnya lagi, di kamar 18." Tambah Kai cepat sambil menunjukkan seringaiannya. "Huh?" Sehun benar-benar tak tau bagian ini.

Kyungsoo membolakan matanya dengan sempurna saat ia mendengar penjelasan detail dari Kai. Club? Nite Sky Club? Kamar 18? Ohh.. sungguh, ia kembali teringat kejadian malam itu. "Kau?! Jadi kau orang itu?!" Kyungsoo meninggikan suaranya. Sehun terkejut melihat perubahan ekspresi Kyungsoo yang sangat drastis itu. Sedangkan Kai, ia hanya tersenyum-senyum aneh sendiri. Inilah yang ia tunggu-tunggu.

"Ya. Akulah orang itu." Jawab Kai santai sambil terus memamerkan senyum anehnya. Kyungsoo menatap sengit pada Kai. Sungguh, ia benar-benar mengutuk kejadian terkutuk malam itu. Sehun menatap kedua orang yang ada di hadapannya ini dalam kebingungan. Hanya Sehun sepertinya yang tidak tahu apa-apa di sini. Well, tentu saja tak terlihat kalau ia sedang kebingungan. Bukankah ia Pangeran tampan berwajah datar?

"Sehun, katakan pada temanmu ini kalau ia harus belajar sopan santun pada orang yang baru dikenal. Aku pergi." Kyungsoo menatap sinis pada Kai dan pergi meninggalkan Sehun dan Kai dengan wajah penuh amarah. Kai tertawa kecil sepeninggal Kyungsoo. Ia benar-benar tertarik dan menyukai sifat Kyungsoo.

"Kau apakan dia?" Tanya Sehun pada Kai yang hanya terkekeh dari tadi. Kai yang ditanya hanya mengendikkan bahunya dan berlalu meninggalkan Sehun dalam tanda tanya besar.

.

.

.

"Luhan! Luhan! Buka pintunya!" Teriak Baekhyun sambil menggedor-gedor pintu kaca balkon di kamar Luhan. "Ya! Tak perlu menggedor-gedor pintu ini, Baekhyun!" Jawab Luhan sambil berteriak dari dalam kamarnya. Dengan malas, ia bukakan pintunya. "Apa maumu, eoh?" Tanya Luhan to the point. Jujur, ia masih merasa kesal pada Baekhyun karena terus-terusan memojokkannya tadi pagi.

"Woahh.. kamarmu bagus sekali." Ucap Baekhyun menyerobot masuk ke kamar Luhan. Ia takjub pada kamar Luhan yang bertemakan Hello Kitty dengan warna Pink yang mendominasi. Luhan yang melihat Baekhyun yang katrok menurutnya itu hanya memutar bola matanya malas.

Baekhyun masih saja menelusuri setiap inci kamar baru Luhan yang menurutnya sangat menakjubkan itu. Tak henti-hentinya ia memegangi setiap benda dan pernak-pernik yang ia lewati. "Luhan, dari mana kau mendapatkan ini semua?" Tanya Baekhyun tanpa melepas tatapannya pada jam weker mewah Hello Kitty yang ditaburi dengan batu-batu cantik yang berkilauan.

"Aku tak tau, Baek. Ini semua sudah ada seperti ini ketika aku pertama kali pindah." Jawab Luhan santai dan mendudukkan bokongnya di sofa yang berbentuk Hello Kitty.

Baekhyun merinding seketika. Kembali teringat tentang isu-isu pada ruang 07 ini. Dengan cepat, ia langkahkan kakinya mendekat pada Luhan. "Luhan, apa kau tak merasa ada yang aneh?" Bisik Baekhyun pada Luhan.

"Aneh? Kurasa tidak." Jawab Luhan sambil memencet remote tv yang ada di genggamannya.

"Kau tahu tidak cerita tentang ruangan ini?"

"Tidak. Dan aku tidak ingin tahu."

"Apa Hee Jung Noona tidak memberitahumu?"

"Seingatku, ia ingin memberitahuku sesuatu tentang ruangan ini tapi kurasa itu tak terlalu penting."

"Apanya yang tidak penting?! Bagaimana kalau sesuatu yang aneh terjadi padamu?!"

"Tidak mungkin. Asalkan itu bukan bertemu dengan kau, tidak ada sesuatu yang lebih aneh lagi yang akan terjadi padaku."

"Ya! Jadi menurutmu segala hal yang aneh yang terjadi padamu itu karena kau bertemu denganku, begitu?!"

"Aku tidak bilang begitu. Kau jangan terlalu cepat menyimpulkan sesuatu."

"Terserah kau saja, Luhan. Tapi aku sudah memperingatkanmu. Jadi jangan salahkan aku jika terjadi hal-hal aneh padamu mulai dari hari ini."

"Ya, kuterima peringatanmu, Tuan Byun."

Baekhyun kembali menelusuri kamar Luhan dan terlihat ia sedang memikirkan sesuatu. "Lu, bagaimana dengan tugas yang diberikan Mrs. Kwon?"

"Oh iya, kapan kita akan mengerjakannya?"

"Bagaimana jika malam ini?"

"Baiklah, dan bagaimana jika di sini?"

"Andwae, jangan di sini! Di apartemenku saja."

"Huh, penakut! Baiklah, jam 7 di apartemenmu."

"Luhan, kau sudah makan? Tanya Baekhyun setelah ia merasa cacing-cacing di perutnya meronta-ronta ingin diberikan makanan.

"Sudah. Kenapa?"

"Apa masih ada sisa? Boleh tidak aku meminta makananmu? Hehehe.." Tanya Baekhyun sambil nyengir kuda. "Ya.. anggap saja sebagai perayaan apartemen barumu." Tambah Baekhyun.

"Tch, perayaan apanya? Ambil saja di dapur."

"Kau benar-benar tidak tahu cara menjamu tamu."

"Cih, tamu apanya? Tamu tak diundang maksudmu? Bukankah tadi aku belum menyuruhmu masuk?"

"Ya! Bukankah kau sudah membukakan pintu?!"

"Membukakan pintu bukan berarti aku menyuruhmu masuk. Aku ingin mengusirmu tadi."

"Ya! Aish.. kau ini. Baiklah, temani aku ke dapur."

"Ck, pergi saja sendiri."

"Ya! Bagaimana jika aku tersesat?"

"Tak usah berlebihan, Baekhyun."

"Ayolah.. temani aku Tuan Lu yang cantik." Ucap Baekhyun sambil mencolek dagu Luhan.

"Ya! Aku tampan!"

"Ya, ya, apapun itu terserah kau saja."

"Ck.. Kau jangan menghabiskan persediaan makananku, Baek."

"Ya! Aku tidak rakus, Bodoh!"

"Tidak rakus? Huh, kita lihat saja nanti." Mereka pun pergi menuju dapur dengan Baekhyun yang terus saja berada di belakang Luhan, mengamati setiap jengkal dari ruang 07 ini.

"Uhm.. Baek, apa kau lihat dimana jaketku?"

"Jaket yang mana?"

"Jaket merah. Jaket yang kupakai saat pergi ke Club bersamamu dan Chanyeol waktu itu."

"Kurasa kau tidak memakai jaket waktu itu. Aku tidak melihat kau memakai jaket saat aku dan Chanyeol menemukanmu yang sedang mabuk."

"Benarkah? Aish.. Kurasa jaketku ada pada orang itu. Padahal itu jaket kesayanganku."

"Orang yang mencumbuimu maksudmu?"

"Ya. Siapa lagi jika bukan dia."

"Oh iya, bagaimana dengan kiss mark mu? Apa masih berbekas?" Tanya Baekhyun penasaran sambil menarik-narik kerah baju Luhan.

"Ya! Kau mau apa, eoh?"

"Ish, aku hanya ingin melihat kiss mark mu." Ucap baekhyun masih terus menarik kerah baju Luhan, "Woah.. masih berbekas. Orang itu pandai sekali membuat kiss mark."

"Pandai membuat kiss mark? Mana ada yang seperti itu."

"Kau belum tahu? Tentu saja ada. Tapi sayangnya Chanyeol bukan termasuk orang yang pandai membuat kiss mark. Lihat saja, hanya bertahan satu hari."

"Terserah saja. Tapi jaketku pasti tidak akan kembali huwaaaaaa."

"Aish.. kau bisa beli lagi, Luhan."

.

.

.

Seorang gadis terlihat tengah berjalan dengan tergesa-gesa dengan ekspresi penuh amarah. Ia benar-benar takut sesuatu yang tak ia inginkan akan terjadi dan merusak semua rencana dan kebahagiaannya. Ya, saudaranya telah kembali. Kyungsoo telah kembali.

"Sial!" Ujarnya sambil memukul meja yang ada di ruangan yang baru saja dimasukinya dengan kuat. Ia sedang melampiaskan segala perasaannya yang sudahbercampur aduk. Marah, murka, takut, bingung dan trauma bercampur menjadi satu. Ia benar-benar tak tahu harus berbuat apa sekarang.

"Sial! Sial! Kenapa harus kembali!" Teriaknya frustasi. Tiba-tiba ia ingat sesuatu. "Eomma." Dengan cepat ia mengeluarkan ponselnya dari saku bajunya dan menekan-nekan beberapa tombol di sana dan ia menempelkan ponselnya ke telinganya.

Tutt.. tuttt… tutttt…

'Ya, sayang?' Setelah panggilannya telah tersambung pada orang di seberang sana, Kyung Ah menetralkan amarahnya. Berusaha terdengar semanis mungkin.

'Eomma, eomma sedang apa?'

'Eomma sedang menonton. Ada apa putri kecilku, heum?'

'Hahaha.. eomma, aku sudah besar. Oiya, eomma kenapa tak memberitahuku jika Kyungsoo Oppa telah kembali ke Korea?'

'Ahh.. Eomma lupa memberitahumu, sayang. Maafkan Eomma.'

'Gwenchana, Eomma. Aku hanya ingin membuat perayaan atas kembalinya Oppa.'

'Perayaan? Eomma rasa itu ide yang bagus. Lagipula sudah lama kita tidak berkumpul bersama lagi.'

'Benar, Eomma. Aku sangat merindukan Kyungsoo Oppa.'

'Hahaha.. Kau belum berubah, sayang. Kau benar-benar putri kecil Eomma yang manis.'

'Hahaha… Lagipula aku sangat menyayangi Kyungsoo Oppa.'

'Kau gadis kecil berhati malaikat, sayang.'

'Eomma bisa saja. Oh iya Eomma, Kyungsoo Oppa tinggal di mana sekarang?'

'Oppamu tinggal di sini bersama Appa dan Eomma.'

'Di Yanggu?'

'Iya, sayang. Kau tak perlu sungkan datang ke Yanggu. Kau sudah melupakan kejadian itu, bukan?'

'Tentu saja aku tidak mengingatnya lagi, Eomma.'

'Syukurlah kalau begitu.'

'Baiklah Eomma, aku tutup dulu ya?'

'Iya, sayang. Jaga kesehatanmu.'

'Eomma juga. Saranghae, Eomma.'

'Nado Saranghae, Kyung Ah.'

Pip.

Kyung Ah menyeringai, "Baiklah jika itu maumu. Ku ikuti kehendakmu. Permainan resmi dimulai. Tunggu pembalasanku, Kyungsoo."

.

.

.

Kelas itu terlihat sangat gaduh. Tak terlihat tanda-tanda bahwa kelas itu sedang mengadakan kegiatan belajar-mengajar. Ya, Sepertinya tak ada guru di kelas itu. Terlihat beberapa siswa sedang beradu panco, sedangkan beberapa siswi terlihat sedang berdandan dan sisanya lagi sibuk dengan ponsel mereka masing-masing.

Owh.. Jangan lupakan satu aktivitas lagi yang sedang berlangsung di ruangan ini. Terlihat beberapa orang siswi yang tengah mengerubungi satu meja yang terletak paling belakang. Kerumunan itu adalah salah satu sumber kegaduhan di kelas itu. Apa yang mereka lakukan? Tentu saja mengerubungi Oh Sehun. Sosok Pangeran tampan nan keren di sekolah itu.

"Sehunaa.. Kau tampan sekali!"

"Kyaaa! Aku suka model rambut barumu."

"Kau terlihat semakin keren, Sehunaa~"

"Oppa, kau makan apa, eoh? Kau sungguh menakjubkan!"

"Minggir! Minggir! Apa yang kalian lakukan, eoh?!" Ucap salah satu gadis yang baru saja datang dan langsung menyerobot masuk ke dalam kerumunan. Sontak semua orang pun melihat gadis itu tak terkecuali Sehun dan Kai yang duduk di sebelahnya.

"Kalian sungguh tidak tahu malu mengganggu pacar orang!" Ucap gadis itu lalu berjalan menuju Sehun. "Ya! Kau apa-apaan!" Ucap salah satu gadis yang ada di kerumunan itu.

"Kau yang apa-apaan?!" Balas Kyung Ah tak ingin kalah. "Sehun Oppa, Apa benar nenek sihir ini adalah kekasihmu?" Tanya gadis berkacamata.

"Nenek sihir katamu!" Kyung Ah mulai naik darah. O-oh.. ia bahkan benar-benar terlihat seperti nenek sihir sekarang.

"DIAM! Kalian membuatku pusing!" Teriak Kai tiba-tiba. "Ya! Kau pergi saja! Lagipula aku hanya membutuhkan Sehun." Ucap Kyung Ah sambil berusaha memegang lengan Sehun.

"Kau! Berhentilah mengganggu Sehun!" Teriak Kai lagi. "Sehun, ayo kita pergi!" Ajak Kai lalu menarik tangan Sehun untuk keluar dari kerumunan dan mengajaknya berjalan keluar kelas.

"Sehun, apa kau sudah tertarik pada Kyung Ah?" Tanya Kai setelah mereka berhasil keluar kelas. Kai dan Sehun berjalan berdampingan menuju kantin. "Yeoja itu sama sekali tak menarik." Jawab Sehun datar.

"Lalu, kau kenapa diam saja diperlakukan seperti tadi?" Tanya Kai lagi sambil sedikit membenarkan jasnya yang sedikit berantakan.

"Aku hanya tak ingin memperburuk keadaan. Lagipula, aku tidak perlu melakukan tindakan apapun padanya."

"Maksudmu?" Tanya Kai tak mengerti dengan jalan pikiran Sehun.

"Bukankah aku sudah memiliki body guard?"

"Bodygua- Ya! Siapa yang kau maksud dengan Bodyguard, huh?!" Teriak Kai tiba-tiba setelah menyadari Sehun sedang mengejeknya.

"Kau kenapa? Aneh sekali."

"Kau yang aneh! Aku sudah membantumu tadi tapi apa yang kudapatkan?!"

"Jadi kau ingin minta digaji, begitu?" Ucap Sehun masih dengan ekspresi datar yang memuakkan menurut Kai. Ingin sekali ia tinju wajah datar yang ada di hadapannya ini jika saja Sehun bukan temannya. Huh.. Kai hanya bisa mengelus-ngelus dadanya mengahadapi sahabat menyebalkannya itu.

"Terserah." Kai terdiam lalu melanjutkan, "Sehun, kau tau Kyungsoo tinggal di mana?" Tanya Kai tiba-tiba. Pertanyaan yang sangat jauh dari topik yang sedang mereka bicarakan. Biar saja, hanya pertanyaan itu yang sedari tadi menghantui pikirannya. Kai merasa tak tenang jika tak segera menanyakannya pada Sehun. Terserah apa tanggapan sahabat berwajah datarnya itu pada pertanyaannya yang terlalu to the point. Kai tak perduli.

"Kau kenapa tiba-tiba menanyakan itu?"

"Memang kenapa? Tidak boleh?"

"Kenapa tak kau tanyakan langsung padanya?" Tanya Sehun sambil membenarkan beberapa helai rambutnya yang menutupi matanya.

"Aku ingin memberinya sedikit kejutan."

"Kejutan apa maksudmu?"

"Ya, kejutan. Kejutan yang seperti kejutan." Kai berbicara sambil sedikit menerawang, masih terus berjalan berdampingan dengan Sehun menyusuri koridor sekolah.

"Aish.. Kau!" Sehun sedikit terpancing emosinya mendengar jawaban dari Sahabat gelapnya itu.

"Sudah jawab saja." Ucap Kai enteng. Seolah mengabaikan emosi orang yang ada di sampingnya itu yang telah terpancing.

Sehun menjulurkan lidahnya keluar, sedikit membasahi permukaan bibirnya yang terasa kering. "Kau ingin tahu?"

"Tentu saja, wajah datar!"

"Aish.. Kau hitam! Kyungsoo tinggal di Apartemen."

"Apartemen? Dimana? Apartemen yang seperti apa?" Tanya Kai bertubi-tubi. Terlihat jelas jika ia sedang merasa penasaran di tingkat teratas.

"Ia tinggal di apartemen yang seperti apartemen." Jawab Sehun datar lalu sedikit tersenyum kecil. Sehun tertawa menang di dalam hati karena telah membalas perlakuan menjengkelkan sahabatnya tadi.

"Ya! Kau! Aish.. maksudku ia tinggal di apartemen apa?"

"Memang kau kenapa ingin tahu sekali?" Bukannya menjawab pertanyaan Kai, Sehun malah berbalik bertanya kepada Kai.

"Bukankah sudah kukatakan jika a-"

"Bukan itu maksudku, bodoh! Maksudku, kau ada hubungan apa dengan Kyungsoo?" Sela Sehun cepat sebelum Kai sempat menyelesaikan kalimatnya.

Kai yang mendengar pertanyaan Sehun itu pun terdiam. Ia berpikir apakah sebaiknya ia menceritakan bagaimana hubungannya dengan Kyungsoo? Tapi bagaimana cara menjelaskannya? Kai sendiri pun tidak tahu hubungan mereka itu bisa dikatakan seperti apa. Tiba-tiba ada satu hal yang terbesit dalam pikirannya. Bagaimana jika ia menceritakan tentang malam itu saja? Jadi terserah pada Sehun ingin menganggap hubungan mereka itu seperti apa setelahnya. Ahh.. Ya, ya, pakai cara itu saja, pikir Kai.

"Hmm.. Begini, aku ingin menceritakanmu sesuatu." Ucap Kai pada akhirnya. Sehun dan Kai pun telah sampai ke kantin dan duduk di kursi dengan meja yang menghadap ke salah satu mesin minuman kaleng.

"Ceritakan saja." Ujar Sehun sambil menarik salah satu kursi untuk ia duduki. "Tapi, belikan aku minuman dulu. Aku haus." Ucap Kai sambil menunjuk ke arah mesin minuman kaleng itu dengan dagunya.

"Aish.. ini uangnya. Cepat belilah!" Kata Sehun seraya mengeluarkan dompetnya dari saku jasnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang lalu meletakkannya di atas meja.

"Terima kasih, Tuan Oh. Padahal aku tidak ingin merepotkanmu tapi dompetku tertinggal di kelas. Lain kali akan kuganti uangmu." Ucap Kai mendramatisir.

"Ck, tak usah berlebihan. Lagipula mana mungkin uangku akan kembali jika sudah kupinjamkan padamu. Anggap saja aku bersedekah."

"Ya! Apa maksudmu bersedekah, huh?! Dompetku tertinggal di kelas. Jika saja aku membawa dompetku, sudah kubeli seisi kantin ini!" Ucap Kai emosi.

"Sudah cepat pergi sana. Lihatlah, kau sedang ditatapi oleh Ahjumma-ahjumma di sekitar kita." Mendengar kata-kata Sehun, Kai langsung mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Benar apa yang Sehun katakan, Ahjumma-ahjumma pegawai kantin di sini tengah menatap horror kepada Kai. Kai hanya menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal sambil tertawa canggung.

"Maafkan aku. Aku hanya bercanda hehehe…" Kai tanpa henti membungkukkan badannya pada Ahjumma-ahjumma itu, mereka pun hanya menggeleng-gelengkan kepala. Dasar anak muda jaman sekarang, pikir mereka.

"Cepat beli! Tunggu apa lagi?" Ucap Sehun yang lama-lama jengkel melihat Kai yang terus-terusan membungkukkan badannya yang entah kepada siapa ia tujukan. Benar saja, Ahjumma-ahjumma tadi telah lama kembali pada kegiatan mereka masing-masing. Sedangkan Kai, masih saja membungkukkan badannya seperti orang idiot.

Kai yang mendengar suara Sehun itu pun langsung menegakkan badannya dan melihat sekeliling. Aman, pikirnya. Dengan cepat ia langkahkan kakinya menuju mesin minuman kaleng itu.

Drrttt.. Drtttttt…

Benda yang ada di saku jas Sehun terasa bergetar. Sehun ambil benda itu keluar dari sakunya dan ia melihat nama 'Baek Hyung' tertera di screen ponselnya. Ada apa Baekhyun Hyung menelponku? Tumben sekali, pikir Sehun.

'Yoboseyo, ada apa Hyung?'

'….'

'Aku? Sepertinya ada.'

'….'

'Hmm.. main ke apartemen Kai, mungkin.'

'….'

'Aku juga berencana pergi ke Club bersama Kai.'

'...'

'Aish.. Baiklah, akan kubatalkan semuanya.'

'….'

'Memang Chanyeol Hyung kemana? Suruh dia saja.' Kai yang selesai membelikan dua soft drink itu berbalik kembali ke kursinya. Ia hanya memperhatikan dan menyimak percakapan Sehun dan seseorang di seberang sana sambil membuka tutup kaleng minumannya dan meminum soft drink nya.

'….'

'Ya, ya, kau mau kubelikan apa, Hyung?'

'….'

'Samgyeopsal lima porsi? Woah.. Kau kelaparan sekali Hyung sepertinya.'

'….'

'Yeoja tadi?'

'….'

'Ahh yah, aku lupa.'

'….'

'Iya, iya, jam tujuh aku sudah ada di apartemen.'

'….'

'Menjijikkan.'

Pip.

"Siapa?" Tanya Kai tepat setelah Sehun memutuskan sambungan teleponnya.

"Baekhyun Hyung." Jawab Sehun datar. Kai mengangguk-anggukkan kepalanya, "Ohh."

"Baiklah, sekarang ceritakan padaku." Ucap Sehun sambil mengambil soft drink yang terletak di atas meja lalu membukanya dan meneguk soft drink itu.

"Hmm.. Aku bingung ingin memulai dari mana." Jawab Kai menerawang. Ia bingung akan menyeritakan pada Sehun dari mana. Ia berpikir sejenak untuk memikirkan awal dari kejadian itu.

"Mulai dari mana saja." Ucap Sehun acuh, masih tetap sambil meminum soft drink nya.

"Baiklah." Kai meneguk soft drink nya, lalu melanjutkan ceritanya. "Dua tahun lalu ketika kau mengajakku ke Nite Sky Club untuk bersenang-senang. Malam itu, kau juga mengajak namja lugu dan polos yang sepertinya belum pernah pergi ke Club."

"Kyungsoo maksudmu?" Tanya Sehun sebelum Kai menyelesaikan ceritanya.

"Ya, Kyungsoo. Aku hanya memerhatikannya dari jauh, ia terlihat sangat tidak nyaman dengan keadaan club. Lalu, aku pergi ke salah satu kamar di club untuk menghabiskan malam penuh gairahku dengan gadis yang telah kupesan."

"Lalu?"

"Aku memasukkan pil perangsang pada minumanku dan minuman gadis itu untuk menambahkan sensasi pada permainan kami malam itu. Well, gadis itu tak kunjung masuk ke kamar. Aku cukup bosan menunggunya, jadi kuminum saja minumanku."

"Hmm.. Terus?"

"Sekitar 15 menit setelahnya, seseorang memasuki kamarku. Kau tau, aku sangat terkejut ketika melihat siapa yang baru saja masuk."

"Memang siapa?"

"Kyungsoo. Kyungsoo masuk ke kamarku. Dengan polosnya ia bertanya padaku dimana toiletnya. Kau tau, setelah kulihat dari jarak dekat ternyata dia sangat menarik. Kyungsoo benar-benar membuat nafsuku naik sampai ke ubun-ubun. Lalu…"

"Jangan katakan jika kau menariknya, menerkamnya lalu memperkosanya malam itu."

"Sayangnya, itulah yang terjadi malam itu, Sehun." Sehun melongo, tak percaya pada apa yang telah dikatakan oleh Kai tentang malam itu. "Tapi aku tidak memperkosanya." Lanjut Kai.

"Lalu, kau apakan dia?"

"Sebelumnya, ia sempat meminum minuman gadis itu sebelum aku kehilangan kendali atas nafsuku. Jadi, aku tidak melakukan tindakan pemerkosaan, bukan?"

"Itu sama saja."

"Tapi Kyungsoo juga menginginkannya malam itu."

"Itu karena pil perangsang, bodoh!"

"Kau tau, dia bahkan mengerang, melenguh, dan mendesah seperti ini 'Ouh.. akhh.. lebihhh ce-pathh akhh…' Dia benar-benar membuatku gila."

"Ya! Kau jangan berbicara seenaknya seperti itu, bodoh! Lihat di sekelilingmu."

Kai baru menyadari jika volume suaranya tadi sangatlah besar. Ia lihat ke sekelilingnya dan mendapati semua orang yang ada di kantin itu tengah menatapnya dengan pandangan jijik. Jelas saja, ia baru saja menyadari jika ia tak hanya menirukan suaranya tapi juga menirukan gerakannya ketika ia lihat posisi tubuhnya seperti orang yang sedang errrrr..

Kai lagi-lagi menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan kembali duduk dengan benar. Lagi-lagi ia bungkukkan badannya pada semua orang yang ada di kantin itu untuk meminta maaf atas apa yang ia lakukan tadi. Setelahnya ia menoleh ke arah kanan dan mendapati Sehun yang telah hilang dari kursinya. Entah kapan Sehun meninggalkannya, Kai juga tak menyadarinya. Jelas saja Sehun meninggalkan Kai disana, siapa yang tidak malu dipergoki sedang melakukan hal memalukan seperti itu di depan umum? Well, walaupun bukan Sehun yang melakukannya tapi setidaknya itu adalah orang yang sedang bersamanya, jadi akan jelas terlihat jika mereka sedang membicarakan tentang errrr –seks.

.

.

.

Seorang pemuda tengah berjalan menyusuri lorong apartemen itu dengan jas dan pakaian sekolah yang masih rapi. Ia buka pintu ruangan bernomor 05 itu dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan itu.

Gelap. Itulah hal yang dapat ia gambarkan ketika memasuki ruangan itu. Ia tutup pintunya perlahan dan meraba-raba dinding, mencari sesuatu.

Klek..

"Selamat datang, Kyungsoo Oppa!" Teriak gadis yang ada di ruangan itu setelah lampu telah berhasil dinyalakan. Terlihat ada tiga orang di sana. Kyung Ah, Adiknya, sedang memegang kue di tangannya. Sedangkan Eomma dan Appanya sedang memegangi bunga dan beberapa kado. Kyungsoo tersenyum melihat apa yang telah dilakukan oleh keluarga kecilnya itu. Semua orang yang ada di ruangan itu tersenyum bahagia, tapi tidak dengan gadis itu. Ia terlihat seperti sedang menyeringai sekarang.

"Eomma, Appa, tak perlu repot-repot." Ucap Kyungsoo sambil berjalan mendekati mereka. "Ahh.. tidak apa, Kyungsoo-ya. Lagipula ini ide adikmu." Ucap Yixing sambil mengelus rambut Kyung Ah.

"Iya, Oppa. Ini ideku, Oppa suka?" Tanya Kyung Ah dengan nada ceria yang dibuat-buat. Kyungsoo tersenyum mendengar apa yang adiknya katakan. Well, bukannya Kyungsoo tidak tahu apa maksud sebenarnya dibalik perlakuan manis dari adik liciknya itu. Kyungsoo sudah paham betul dengan sifat dan sikap adik satu-satunya itu.

"Tentu saja aku suka." Ucap Kyungsoo senang, jangan lupakan ia juga sedang berakting di depan orang tuanya sekarang.

Junmyeon dan Yixing tersenyum senang melihat tingkah kedua anaknya itu yang sudah semakin membaik dari terakhir kali mereka bertemu. Ouh.. tak taukah Junmyeon dan Yixing jika kedua anaknya itu tengah berakting? Kasihan sekali mereka…

"Jja, potong kuenya, Kyungsoo-ya." Ucap Yixing sambil menyodorkan pisau kue dan piring pada Kyungsoo.

"Ppaliwa, Oppa. Aku sudah lapar." Ucap Kyung Ah sambil mengerucutkan bibirnya. Junmyeon hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Kyung Ah, putri kecilnya yang tak pernah berubah.

"Sebentar, kau sabar sedikit." Ucap Kyungsoo sambil memotong kue yang dipegang oleh Kyung Ah. "Sudah.. siapa yang mendapat suapan pertama?" Ujar Kyungsoo sambil memotong-motong kue yang telah berada di piring kecil yang ada ditangannya.

"Eomma.. aaaaaa" Ucap Kyungsoo sambil menyuapkan suapan pertama pada Yixing. "Lalu, Appa… aaaaaaa" Kyungsoo menyuapkan suapan kedua kepada Junmyeon sambil membuka lebar mulutnya, seolah ialah yang ingin mendapatkan suapan itu.

"Terakhir, Kyung Ah… aaaaa" Kyungsoo menyuapkan satu potongan kue yang besar pada Kyung Ah, membuat Kyung Ah melebarkan mulutnya dengan sangat lebar.

"Kyungsoo-ya, Jangan bermain-main. Bagaimana jika Kyung Ah tersedak." Ucap Yixing sambil mengambil satu gelas air di atas meja.

"Aku bercanda, Eomma." Ujar Kyungsoo lalu kembali menyuapkan Kyung Ah dengan potongan kue yang lebih kecil. "Berhubung kita hanya berempat di sini, artinya sisa kue ini untukku." Lanjut Kyungsoo sambil merebut kue yang sedari tadi dipegang oleh Kyung Ah.

"Ya! Oppa! Aku juga mau!" Ucap Kyung Ah sambil mencoba merebut kue yang telah berada di tangan Kyungsoo.

"Eitss.. Tidak boleh. Eomma, Appa, kue ini untukku, bukan?" Tanya Kyungsoo dengan wajah yang memelas kepada kedua orang tuanya. "Terserah kau, Kyungsoo-ya." Ucap Junmyeon. Kyungsoo yang mendengar jawaban Appanya itu tertawa menang. Ia menjulurkan lidahnya pada Kyung Ah. Owh.. mereka benar-benar terlihat seperti adik kakak yang tak memiliki masalah.

"Ya! Appa, bukankah kue itu terlalu besar untuk dimakan sendiri?"

"Ya, Appa tau itu."

"Lalu, bukankah kue itu cukup banyak untuk kita makan berempat?"

"Tidak, aku tidak ingin membagi siapapun!" Ucap Kyungsoo cepat.

"Eommaaaaa…." Ucap Kyung Ah pada Yixing sambil mengerucutkan bibirnya.

"Oppamu hanya bercanda, sayang."

"Hahaha.. Kau manja sekali, Kyung Ah." Ucap Kyungsoo sambil meletakkan kuenya di atas meja dan mengambil salah satu kado dengan bungkus mickey mouse.

"Mari kita rayakan hari berkumpulnya lagi kita berempat!" Ucap Yixing sangat bersemangat.

"Kau terlalu bersemangat, yeobo." Ucap Junmyeon pada istrinya itu.

Kyungsoo terdiam, sedikit menerawang ketika mendengar ucapan Eommanya. Berempat? Sebenarnya bukan berempat. Berenam lebih tepatnya. Ya, Kyungsoo tahu jika bukan hanya mereka berempat di ruangan ini.

.

.

.

Sore ini kembali dituruni hujan dengan derasnya. Seseorang yang tengah berteduh itu pun hanya bisa memeluk badannya sendiri sambil sesekali meniup-niup telapak tangannya yang terasa sangat dingin. Ia terus-terusan merutuki Hyungnya yang membuatnya terjebak hujan yang sangat deras seperti ini. Ya, jika saja Hyungnya tidak memesan yang macam-macam padanya, ia pasti sudah berada di kamarnya, tertidur dengan pulas di ranjangnya yang empuk.

Drrrtttt… Drrrttttt….

Lagi-lagi ponselnya bergetar. Ia sudah tahu siapa yang meneleponnya. Siapa lagi kalau bukan Hyungnya yang super duper cerewet, Baekhyun. 'Aish.. Hyung, tunggu sebentar. Aku sedang berteduh.'

'….'

'Ya,ya, aku tau. Semua pesananmu sudah kubeli. Tidak ada yang tertinggal.'

'….'

Pip.

"Ck, merepotkan saja." Sehun langsung berlari menerobos derasnya hujan. Setelah dipikir-pikir, lebih baik ia berlari menuju mobilnya walaupun hujan-hujanan dari pada terus berada di depan kedai itu sembari menunggu hujan yang tak tau kapan akan berhentinya dengan badan yang sudah menggigil. Well, walaupun tempat parkir mobilnya bisa dikatakan cukup jauh dari kedai itu. Sehun bisa saja kembali masuk ke dalam kedai itu, duduk di salah satu meja, dan memesan salah satu menu di sana jika saja kedai itu tidak seramai dan tidak sepenuh itu. Kedai itu memang cukup terkenal di sana.

BLAM!

Sehun menutup pintu mobilnya dengan cukup keras. Ia lepaskan jas sekolahnya yang setengah basah itu dan meletakkannya di jok sebelahnya. Sehun mengusap wajahnya yang basah dan sedikit mengacak-acak rambutnya yang juga terkena air hujan. Ouh.. tak tahukah kalian berapa persen kadar kekerenannya bertambah? Sehun terlihat berkali lipat lebih tampan, keren, dan maskulin dengan bad boy style seperti itu. Dengan kecepatan sedang, ia lajukan mobilnya menuju apartemennya.

.

.

.

Hujan turun dengan derasnya, Baekhyun dan Luhan yang memang tidak memiliki kelas hari ini pun hanya bersantai-santai di apartemen Baekhyun. Mereka tengah menonton drama yang cukup terkenal sambil berbaring di atas sofa dan memeluk bantal. Mereka benar-benar sedang bersantai.

"Baek, siapa nama aktor itu?" Tanya Luhan, sedikit mengalihkan pandangannya dari televisi dan melirik Baekhyun.

"Namanya Hyun Bin. Aku pernah melihatnya di Nite Sky satu kali."

"Benarkah? Apakah ia aslinya memang tampan seperti itu?"

"Ia benar-benar tampan. Aku sangat menyukai lesung pipinya, ia terlihat sangat manis ketika tersenyum."

"Woah.. aku jadi ingin bertemu dengannya."

"Huh, kau sepertinya sudah tertarik dengan Pria Korea, Luhan." Ucap Baekhyun mencibir Luhan. "Kau tak usah mengelak lagi." Lanjut Baekhyun.

"Terserah saja." Jawab Luhan acuh.

"Tch, masih tak mau mengaku rupanya." Baekhyun memutar bola matanya malas dan melihat jam dinding. Sudah jam 5, kemana bocah itu?, pikir Baekhyun. Tangannya bergerak meraba-raba sesuatu di atas meja. Setelah ia dapatkan ponselnya, ia tekan angka 5 di sana.

Tuttt… tuuuttttt…..

'Aish.. Hyung, tunggu sebentar. Aku sedang berteduh.'

'Cepatlah pulang! Kau tidak lupa membeli pesananku, bukan?'

'Ya, ya, aku tau. Semua pesananmu sudah kubeli. Tidak ada yang tertinggal.'

'Ahh.. Kau baik sekali, Sehunnie. Sehunnie saranghae.' Ucap Baekhyun sedikit menggoda Sehun. Baekhyun terkekeh membayangkan ekspresi jijik Sehun yang mendengarkan ucapannya barusan.

Pip.

"Aish.. Bocah itu."

"Siapa, Baek?"

"Sehun."

"Sehun?"

"Iya, Sehun, sepupuku."

"Ohh." Luhan mengangguk-anggukkan kepalanya. Sehun, ya, ia baru ingat nama Sepupu Baekhyun yang errrrr Luhan tak mau mendeskripsikannya. Luhan, ingat dia bukan tipemu, bukan?

Baekhyun tersenyum aneh melihat ekspresi Luhan yang tiba-tiba berubah ketika ia menyebutkan nama Sehun. Luhan terlihat sedikit menerawang. Terlintas ide jahil di otak Baekhyun.

"Ahh bocah itu lama sekali. Ck, aku lupa kemungkinan jika ia sedang bersama Kekasihnya." Baekhyun sedikit melirik Luhan. Gotcha! Baekhyun melihat perubahan raut wajah Luhan. Dengan cepat ia arahkan pandangannya menuju televisi, pura-pura sedang menonton.

Luhan sedikit tersentak mendengar ucapan Baekhyun. Apa katanya? Kekasih? Jadi sepupunya sudah memiliki Kekasih? Ahh.. Luhan, apa yang sedang kau pikirkan? Tanpa sadar Luhan bertanya pada Baekhyun, "Kekasih?"

"Iya, Kekasih. Kenapa?"

"Sepupumu memiliki Kekasih? Kau kenapa tidak melarangnya?"

"Untuk apa aku melarangnya? Lagipula banyak orang yang mengejar-ngejarnya."

"Ya! Dia kan masih sekolah!" Bentak Luhan. Entah mengapa ia membentak Baekhyun ketika ia mendengar jika Baekhyun tak melarangnya pacaran. Tak sadarkah Luhan apa yang sudah dilakukannya?

Baekhyun tersenyum menang di dalam hati. Luhan sepertinya sudah terjerat pesona mematikan milik Sepupunya itu. Well, Baekhyun tak memungkiri jika Sepupunya itu benar-benar memiliki aura yang sangat memikat di samping tampangnya yang memang tampan.

"Kau kenapa? Lagipula aku tidak berhak mengatur hubungan asmaranya."

"Setidaknya apa kau tahu bagaimana rupa dan perilaku Kekasihnya? Bagaimana jika ia memiliki Kekasih yang buruk?"

"Aku tak peduli. Ia juga pasti tidak akan mau kupasangkan dengan orang pilihanku."

"Memang kau ingin memasangkannya dengan siapa?"

"Hmm.. Bagaimana jika kau, Luhan?"

"Apa?!"

"Tidak usah berlebihan seperti itu. Aku hanya bercanda. Lagipula mana mau ia dengan Namja sepertimu."

"Ya! Jadi kau mengataiku tidak cocok jika dipasangkan dengannya, begitu?"

"Bukan begitu. Tapi memangnya apakah kau ingin kukatakan cocok jika bersanding dengan Sehun?"

Luhan terdiam mendengar ucapan Baekhyun. Luhan, kenapa kau terbawa emosi seperti ini? Dasar bodoh! Ia bahkan tidak menyadari apa yang telah ia katakan pada Baekhyun.

"Aku pulang." Ucap seseorang yang berada di ujung pintu lalu menutup pintunya. Ohh.. sepertinya objek dari pembicaraan mereka tadi telah berada di ruangan itu. Baekhyun tersenyum melihat raut wajah Luhan yang terlihat seperti sedang salah tingkah Ohh ayolah, Siapa yang tak salah tingkah melihat Sehun yang sedang dalam keadaan berantakan seperti itu? Benar-benar terlihat seperti bad boy.

"Ahh.. Kau sudah pulang rupanya. Mana pesananku?"

"Itu ambil saja. Dimana Chanyeol Hyung? Ck, gara-gara dia, aku jadi kerepotan seperti ini."

"Ya! Jadi kau merasa keberatan?"

"Tentu saja. Menyusahkan saja."

"Ya! Kau!"

"Ahh.. Luhan, kau masih berada di sini?" Tanya Sehun ketika menyadari jika Luhan juga berada di ruangan itu.

"I-iya, Ak-aku dan Baekhyun akan mengerjakan tugas bersama."

"Baguslah, temani saja orang cerewet itu."

"KAU MENGATAIKU, EOH?"

Sehun langsung melangkahkan kakinya menuju kamarnya tanpa menghiraukan ucapan Hyungnya. "Ck, bocah itu."

"Lu, kenapa suaramu bergetar tadi?"

"Benarkah?"

"Kau gugup?"

"Huh, gugup atas apa?"

"Melihat dan berbicara pada Sehun."

"Ck, kau jangan mengada-ada, Baek."

"Hyung, cucikan pakaianku." Ucap Sehun yang baru sajakeluar dari pintu kamar dengan membawa sekeranjang baju kotor miliknya.

"Ya! Banyak sekali!" Baekhyun protes melihat tumpukan baju kotor milik Sehun. Sehun terlihat tengah mengobrak-abrik keranjang itu. Terlihat beberapa celana dalam di keranjang itu, Luhan merona melihatnya. O-ohh.. ada apa denganmu, Luhan?

"Hyung, untukmu." Sehun melemparkan sebuah jaket merah pada Baekhyun. Sehun teringat kalau ia membawa jaket seseorang malam itu. Ia berikan saja jaket itu pada Baekhyun. Lagipula jaket itu terlalu kecil untuk Sehun.

"Apa ini? Huh, bau alkohol." Ucap Baekhyun sambil menjauhkan jaket itu darinya. Luhan dari tadi tetap memperhatikan jaket itu. Tunggu, Luhan seperti merasa familiar dengan jaket itu. Merah. Jaket itu berwarna merah.

"Baek, boleh kulihat?" Tanya Luhan pada akhirnya. Ia menaruh curiga pada jaket itu. Apa benar itu jaketnya? Lalu, kenapa bisa ada di sini? Luhan pun mengambil jaket itu dengan cepat ketika Baekhyun memberikan persetujuan.

"Lu?" Ucap Luhan ketika ia melihat bagian dalam jaket itu. Ya, ada tulisan 'Lu' di bagian dalam jaket Luhan. Tidak salah lagi, itu benar-benar jaket Luhan.

"Baek, sepupumu menemukan ini di mana?"

"Huh? Memang ada apa?"

"Ini jaketku, Baek."

"Mwo? Kau jangan bercanda."

"Tidak. Aku tidak bercanda, Baek. Lihat, ada tulisan 'Lu' di sini." Ucap Luhan sambil menunjukkan pada Baekhyun tulisan itu.

"Ehh, Sehun, kau menemukan jaket ini di mana?" Tanya Baekhyun ketika ia melihat Sehun yang baru saja keluar dari kamar mandi.

"Aku menemukannya di Club."

"Club?" Ucap Baekhyun dan Luhan bersamaan. "Club mana? Kapan?" Tanya Baekhyun antusias.

"Nite Sky, sekitar 2 hari lalu."

"Apa?!" Teriak Baekhyun dan Luhan. "Jadi kau?" Tanya Baekhyun sambil mengira-ngira apakah benar Sehun adalah orang itu? Orang yang dimaksud Luhan?

"Apa Hyung?"

"Kau- kau mencium seseorang yang memakai jaket ini, bukan?"

Sehun membelalakkan matanya. Bagaimana Baekhyun bisa tahu soal itu? "Woah.. Kau ini paranormal, Hyung?"

"Cepat jawab! Apa kau benar-benar mencium orang itu?"

"Iya, seingatku aku menciumnya."

"APA?!" Teriak Baekhyun dan Luhan dengan sangat keras. Sehun tak mengacuhkan mereka dan melangkah masuk ke dalam kamarnya.

"Baek, Ja-jadi?" Tanya Luhan masih tak percaya pada apa yang baru saja didengarnya.

Baekhyun dengan cepat berlari ke arah Luhan dan menyibakkan baju Luhan. "Lu, jadi dia yang membuat ini?" Tanya Baekhyun sambil meraba-raba bercak-bercak keunguan di tubuh Luhan.

"K-ku-kurasa iya, b-baek."

Baekhyun seketika merasa sangat senang. "Hahahaa.. Kau sudah kalah, Luhan." Tawa Baekhyun.

Luhan terlihat bingung pada apa yang Baekhyun ucapkan. Kalah? "Apa maksudmu?"

"Iya, kau sudah mengakui jika sepupuku sangatlah tampan. Kau bahkan mengakui jika ketampanannya sebanding dengan Ronaldo."

Luhan terdiam. Membeku. Benar apa yang Baekhyun katakan, Pria di club malam itu memang sangat tampan. Oh Sehun? Jangan ditanya, ia juga tampan menurut Luhan, tapi tetap saja ia tidak mau mengakuinya. Tunggu, jika Pria yang ada di club itu tampan berarti Sehun juga tampan. Ohh.. tak tahukah Luhan bahwa ia telah mengakuinya sejak awal?

"U-uhh.."

"Sudah, tidak usah mengelak lagi."

"Aish." Luhan mengacak-acak rambutnya frustasi. Jadi, Pria yang hampir tidur dengannya itu adalah Sehun? Ck, Luhan merasa malu mengetahui jika orang yang mencumbuinya itu berada di sekitarnya. Ya Tuhan!

Baekhyun tertawa menang di dalam hati melihat Luhan yang seperti orang yang sedang depresi. Jujur, Baekhyun juga terkejut ketika mengetahui jika Sehun dan Luhan pernah hampir melakukan hal 'itu'. Baekhyun juga terkagum-kagum mengetahui siapa yang telah membuat mahakaryanya di tubuh mulus Luhan. Entah mengapa Baekhyun merasa bangga. Ternyata sepupunya selihai itu membuat mahakaryanya. Hmm.. Baekhyun jadi mengira-ngira bagaimana jika sepupunya itu sudah berada di atas ranjang? Pasti sangat errrr –liar dan ganas. Terlintas beberapa ide di otak Baekhyun. Bagaimana jika….

"Luhan, bagaimana rasanya?"

"Huh?"

Baekhyun tersenyum penuh arti. "Bagaimana rasanya diperlakukan seperti itu oleh Sepupuku?"

.

.

.

To Be Continued…

.

.

~Author's Note ~

Annyeong readersnim! Gimana? Udah lebih panjang kan chapter ini? Iya dong ya kkkkk

Oh iya, ini tepat sebulan saya jadi writer :D ada yang mau ngasih selamat buat saya? /elahh plakk/ pedeee sekalee

Buat yang nanya ini epep bakal nyampe chapter berapa, jujur saya juga gaktau beb, berpuluh-puluh mungkin wkwkwkwk

Trus yang nanya kapan encehnya nongol, hmm.. bersabarlah, mungkin chapter depan atau chapter depannya lagi XD saya juga menantikan datangnya enceh eniwei wkwkwk

Kira-kira ada apa sama kakak beradik kyungsoo dan kyungah? Terus, kok kyungsoo ngerasa mereka kembali berkumpul berenam? Nah Loh! Ada yang bisa nebak apa ide Baekhyun selanjutnyaa? Silahkan menebak bebeb-bebeb readersnimkuuu~ :D Ada yang nyadar gak kalo Chanyeol gak muncul di chapter ini? Huaaa maaf bang yeol, ceritanya kamu lagi sakit jadi gak dimunculin dulu wkwwk

Lagi-lagi saya ucapkan terima kasih banyak buat yang udah ngereview, ngefollow maupun ngefav epep ini, Saranghaeyo~~~

Last,

Review Jusseyo