Hey guys! Lylul is back! Okaay, kalian pasti udh penasaran banget 'kan? Nah, tanpa basa-basi lagi, kita mulai ceritanya! Pls review yaaa!


======0======0======0======0======

The Dawn

Chapter 7 : Goodbye Happiness

======0======0======0======0======

Semuanya terlintas dengan amat cepat dikepala Harry.
Satu menit, ia merasakan suara lembut mesin mobil Draco membawa mereka kembali ke Grimmauld Place. Berikutnya ia sudah berpapasan dengan kedua ayah baptisnya, yang tadinya menyunggingkan senyum ramah padanya, tetapi air muka mereka berubah pucat dan rasa terkejut menyelubungi mereka saat mendengar penjelasan Draco tentang apa yang baru saja terjadi di taman belakang sekolah. Setelah menghubungi Malfoy senior, Narcissa dan Lucius datang ke Grimmauld Place secepatnya. Menit berikutnya, ia mendapat penjelasan yang lebih rinci tentang ia dan keluarga 'Darah suci Eve'-nya. Penjelasannya sama seperti milik Draco, hanya saja lebih rinci dan dimulai dari awal terbentuknya keturunan darah suci tersebut.

"Eve memiliki dua anak lelaki dan dua anak perempuan, salah satu dari dua anak lelaki dan perempuan memiliki darah Eve yang suci, lalu mereka menikah. Dan keturunan yang mereka hasilkan adalah keturunan darah murni Eve. Juga seperti yang sudah kami sampaikan, bahwa kaulah keturunan terakhir darah suci selain ibumu dulu." ujar Remus sebelumnya. suaranya terdengar lebih kecil dan lemas dari biasanya.

Juga, mereka menjelaskan tentang 'sumpah abadi tak terputus' diantara para shape-shifter dan weres untuk selalu melindungi keturunan Eve. Tak peduli seberapa besar bahaya yang mereka hadapi, mereka akan ikhlas memberikan nyawa mereka jika artinya hidup sang pewaris darah suci tidak terancam. Keluarga Malfoy dan Black adalah salah satu keluarga shape-shifter besar yang terpandang, mereka juga turut melindungi keturunan Eve dengan segala kemampuan mereka. Sementara Remus, digigit oleh seorang manusia serigala bernama Fenrir Greyback, yang membutuhkan 'bantuan' tambahan untuk kelompoknya agar dapat menemukan keturunan terakhir. Dalam kasus ini, Harry.
Setelah menemukan Harry (lebih tepatnya melihatnya yang baru saja terbebas dari jerat siksa keluarga kerabatnya), Fenrir dan kelompoknya menitipkan penjagaan Harry kepada Remus, dan mereka berjanji akan melindunginya dari jauh.

Sungguh, Harry tidak bisa mengerti alur takdirnya. Yang ia tahu, dia seorang remaja biasa, walau memang badannya lebih kurus dari pemuda seusianya. Ia tak terlalu pintar, tak terlalu bodoh, tapi cukup cerdik dan mahir melakukan kegiatan rumah tangga (mencuci, memasak, menjahit, dll.). Dari dulu susah bergaul, penyendiri, pendiam, tapi baik dan sopan. Ia hanya ingin memiliki kehidupan normal, cukup berpacaran dengan seorang vampire saja masalah yang ia butuhkan, walau ia tak pernah berpikir maupun ingin seperti itu. Sekarang ia mendapatkan berita hangat bahwa dirinya adalah keturunan terakhir dari darah suci Eve, juga keluarga baptisnya adalah mahluk-mahluk mistis. Apakah hari ini tak bisa lebih buruk lagi?

Dan naasnya, Ya. Hari ini bisa lebih buruk lagi.
"Aaaarrrrgghhhh! Ini semua salahku! BODOH! Seharusnya aku menaruhmu di perguruan Durmstrang, atau Beauxbatons! Mereka tidak punya catatan tentang memiliki seorang murid dengan ras vampire! malah, Durmstrang lebih dari setengah muridnya adalah Shape-shifter dan Weres! Kau akan lebih aman disana! Beauxbatons kebanyakan sih, Veela. Tapi masih mending dari vampire!" erang Sirius penuh penyesalan dan kekesalan pada dirinya sendiri.

"Kalau aku saja diperbolehkan satu ruangan dengan Shifter, Weres dan Veela, kenapa vampire tidak boleh? Mereka juga mahluk yang sederajat dengan kalian bukan?" tanya Harry, yang akhirnya berani angkat bicara.
"Tidak Harry, itu buruk, amat buruk. Jika seorang vampire menghisap darah suci Eve, mereka kekuatan akan bertambah kuat, dan kebanyakan dari mereka akan menggunakan kekuatan murni dari darah Eve untuk sesuatu yang buruk. Mereka akan membunuh manusia lain untuk melepas dahaga mereka. Maka dari itu, para weres dan shifter berusaha melindungi keturunan Eve dari tangan-tangan mayat busuk mereka." jawab Lucius, nadanya penuh kebencian.

"Tapi Riddle berbeda! Dia-"
"Harry, dia bisa saja berpura-pura bersikap baik padamu, alih-alih hanya untuk mendapatkan energi dari darah murnimu..kami tak ingin kau dipermainkan olehnya.." potong Narcissa dengan lembut.
"Bukan mungkin, tapi memang ia mempermainkan Prongslet kita! Dasar mayat bergigi ganda busuk sialan! Akan kucabik-cabik dia!" raung Sirius, Remus menghela nafasnya.
"Kalau sudah begini, kita harus melakukan itu" ujarnya pasrah. Harry menautkan alisnya bingung,
"Itu?"
Sirius mengangguk pada Remus, dan menatap putra baptisnya.

"Harry, kita terpaksa harus menyingkirkannya. Ia sudah melihat banyak tentangmu, kami harus membunuhnya. Vampire tak bisa mati dan menua, satu-satunya cara membunuhnya adalah dengan membakarnya hidup-hidup."
kedua zamrud Harry melebar, wajahnya pucat pasi.

"JANGAN! Jangan bunuh dia! Kumohon!" Jeritnya, Draco merangkul tubuh Harry untuk menenangkan adiknya.
"Harry, ini demi keselamatanmu. Ia sudah pernah meminum darahmu, kalau terus dibiarkan, ia akan melakukan sesuatu yang tidak diinginkan oleh siapapun. Kau tidak ingin melihat orang lain terbunuh olehnya 'kan? Dia juga sudah tahu keberadaanmu, kalau sampai ia memberitahukannya pada vampire lain, sengaja-tidak sengaja, maupun secara langsung-tidak langsung, banyak vampire akan berusaha mendapatkanmu. yang artinya akan terbentuk pertumpahan darah diantara pihak kami dan mereka, kita harus menyingkirkannya sebelum terlambat." Ujar Narcissa selembut yang suara pasrahnya bisa. Ia tidak kuasa melihat pemuda yang sudah seperti anak bungsunya sendiri begitu sedih.

"Tapi Riddle berbeda...ia tak pernah membunuh siapapun.." suara Harry sekarang sudah mulai pecah, kalau diteruskan lagi, mungkin air mata akan mengalir di pipinya. Tapi ia tetap berusaha tegar, Harry tak ingin menambah masalah.
"Vampire adalah aktor yang hebat. Mereka bisa berbohong dan berpura-pura tanpa harus berusaha. Ia bisa saja membodohimu demi mendapatkan darahmu, Harry." Kata Lucius.

Harry menggigit bibirnya. Ia juga tidak yakin apakah Tom berbohong atau tidak padanya. Apakah segala yang ia lakukan padanya, pelukan hangat, ciuman lembut, kalimat kasih sayang, semua itu, apakah hanyalah sebuah akting demi mendapatkan kekuatan dari darahnya? Bukan karena Tom mencintainya tulus dari hati?
Walaupun jika semua itu hanya tipu muslihat belaka, ia tidak ingin seorangpun, bahkan musuhnya, dibunuh dengan keji seperti itu.

"Harry..."
"Kumohon. Jangan bunuh Riddle. A-Aku akan berusaha menyingkir darinya, Aku akan menjauh sejauh-jauhnya dari dia. Tapi kumohon, jangan bunuh dia...kumohon.." nadanya sudah amat pecah, seakan-akan satu detik lagi ia akan benar-benar menangis pasrah.
Keluarganya menatap Harry yang menundukkan kepalanya karena tak sanggup menatap wajah mereka.

Sirius, Remus, dan Lucius berpandangan bingung. Mereka harus bagaimana?
Narcissa menatap suaminya penuh permohonan. Draco masih terus merangkul adiknya yang dapat menangis sejadi-jadinya tiap detik, sambil membelai-belai rambut hitam malam adiknya dengan lembut.

Lucius menghela nafas, "Baiklah, tapi mulai hari ini, kau akan selalu ditemani oleh Draco dan teman-temannya, kemanapun, dimanapun, kapanpun. Jangan mempercayai orang lain jika kau kurang tahu diri mereka. Jika ada sesuatu diluar keinginan kita, kami terpaksa harus turun tangan, dan kau akan pindah sekolah, Ke Durmstrang atau Beauxbatons. Dan yang paling penting, kau harus menjauh dari vampire itu, sejauh-jauh yang kau bisa di sekolah sampai kau lulus. Ini adalah keinginanmu, jadi kau harus mempertanggungjawabkannya. Mengerti, Harry?"
pemuda berkacamata itu mengangguk lemah. Setidaknya orang yang ia cintai akan aman dengan begini. Walau ia tidak yakin apakah Riddle benar-benar mencintainya tulus dari hati.

Lalu menit selanjutnya, yang ia tahu sekarang, ia sudah duduk meringkuk diatas kasurnya, kepalanya terendam didalam lipatan tangannya yang bertumpu pada kedua lututnya yang menyatu erat dengan badannya.
Tak ada air mata mengalir di pipinya, hatinya sudah mati rasa. Hanya ada hampa yang suram menyelubungi dirinya.
Makan malam sudah terlewati, ia meminta untuk tidur sendiri di kamarnya. Draco dengan berat hati membiarkan Harry menyendiri di kamarnya, pemuda bersurai pirang platinum itu pun tidur di kamar tamu. Lucius dan Narcissa juga menginap sehari di Grimmauld Place untuk berjaga-jaga saja, mungkin akan ada sesuatu yang tidak mereka harapkan untuk terjadi.

Hedwig beruhu-uhu lembut, yang Harry terjemahkan adalah suara yang berusaha menghiburnya. Ia melirik burung hantunya, memberikannya senyuman tipis samar.
"Aku tidak apa-apa, Hedwig. Sungguh." Sejujurnya ia tidak yakin dengan perkataannya sendiri. Dadanya terasa perih dan berat, laju pikirannya terus tersendat, membuatnya terus menerus melamun.
Apa yang akan ia lakukan di sekolah nanti? Taman belakang sekolah secara resmi menjadi zona berbahaya baginya. Apalagi besok ada pelajaran Biologi, yang artinya ia harus duduk dengan To–Riddle.

Harry menghela nafas pasrah, dimatikannya penerangan di ruangan pribadinya, membuat kegelapan menyelubungi tiap sudut ruangan. Cahaya bulan hampir penuh menerobos masuk lewat ambang jendela berandanya.
bintang-bintang berkedip-kedip kepadanya, membawa ingatannya kembali ke malam itu.
'Apakah sumpah cinta abadimu di malam itu hanyalah bualan belaka? Apa kau mengatakannya dengan tulus? Atau itu hanyalah salah satu tipu muslihatmu?' bantinya dalam hati.

Mata zamrudnya menatap bintang-bintang di langit biru prussian gelap. Ia mengambil sedikit oksigen, dan mengeluarkannya perlahan, tangannya menghimpit bandul kalung silvernya. Ia tahu ini bodoh dan kekanak-kanakkan. Tapi tak ada salahnya mencoba 'kan?
"Wahai bintang-bintang, Wahai langit malam gulita, Wahai bulan pucat yang memantulkan sinar sang surya, Jika pencipta kalian mau mendengarkan keegoisanku, kumohon, aku tidak meminta apa-apa untuk diriku sendiri. Aku hanya ingin yang terbaik untuk orang-orang yang kucintai, bawakanlah kebahagiaan pada mereka, buat berilah penerangan dan kehangatan pada jalan berliku yang gelap dan dingin yang mereka tempuh, kirimkanlah petunjuk pada mereka yang memilih keputusan, ampunilah dosa yang telah mereka perbuat, berilah kesempatan kedua bagi yang telah melakukan kesalahan, sejukan akal dan jiwa mereka. Dan yang terakhir, jagalah ia yang sekarang berhasil merebut hatiku. Terima Kasih." Bibirnya menyentuh permukaan bandul kalungnya dengan lembut, menaruhnya di meja kecil disamping ranjangnya. Sekali lagi, ia menatap langit dibalik kaca jendela berandanya.

"Bodoh. Kau bodoh, Harry." Bisiknya pada dirinya sendiri.
Ia melompat ke ranjangnya, menyelubungi tubuhnya dengan selimut, membenamkan wajahnya ke dalam bantalnya. Menangis dalam kesunyian hatinya. Ia terlalu banyak berharap. Sekarang harapan sudah tidak dapat diandalkan lagi. Besok, satu langkah ceroboh, semua berakhir.


Pagi itu cerah, surya memancarkan sinar kemilau emasnya, warna biru cerulean mendominasi cakrawala, awan-awan tipis nan lembut mendekorasinya, burung-burung bersenandung ria. Tetapi Harry tidak bisa menikmati semua itu.

Sesampainya mereka di gerbang sekolah, Pansy menghamburinhya dengan pelukan erat.
"Harry, kami sudah dengar semuanya." bisik Pansy sendu, Blaise dan Theo mengekorinya dari belakang. Harry tentu saja terkejut saat mendengar Pansy mengetahui 'masalah'-nya
"Tenang saja, kami juga sama seperti Draco. Aku shape-shifter, wujudku burung Peregrine Falcon. Blaise disini juga shape-shifter, wujudnya panther hitam. Kalau Pansy itu Banshee." Ujar Theo, Pansy memukul belakang kepalanya, membuat pemuda tersebut meringis.
"Dia bohong Harry! Aku bukan banshee!" koreksi Pansy,
"Wah? Yang benar? Kukira banshee, soalnya mirip!" guraunya lagi, yang mendapat hadiah berupa tendangan jurus karate andalan gadis berambut hitam tersebut di perut Theo.
"Aku veela, Harry. Keluargaku juga turut mendukung perlindungan turunan darah Eve, jadi aku akan ikut melindungimu." Ujarnya sambil tersenyum manis, padahal ia nyaris membunuh seorang shifter berwujud burung yang sekarang sedang meringkuk dilantai seraya memegangi perutnya.
Semuanya tertawa oleh ulah keduanya, Harry juga tertawa, walau hatinya masih meringis perih.

"Dray, tak apa 'kan kalau aku bergaul dengan Hermoine dan Ron? mereka manusia biasa 'kan?" tanya Harry, Draco mengangguk.
"Ya, tak apa. Mereka cuma manusia biasa, lagipula sifat tempramental si Weasley dan kesensitifan si Granger itu berguna juga." Ujar si pirang.

Mereka terus bercakap-cakap sambil bergurau ria, Draco dan kelompoknya meninggalkan Harry saat ia sampai di kelas pertamanya. Biologi.
ia menelan ludahnya yang sesaat menyangkut di kerongkongannya, melangkah masuk, dan menemukan Riddle sudah duduk dengan tenang di bangku mereka.

Harry duduk dalam diam, matanya sengaja ia seret untuk tidak bertemu dengan sepasang iris peridot menawan milik To–Riddle. Ahh! Ia bahkan tak berani menyebut nama kecilnya, menyebutnya membuat dadanya perih.
"Harry, guru sudah datang." Ujar pemuda disampingnya, Harry mengangguk singkat. Dan mulai belajar seperti biasa dalam sunyi.
Tiap kali Riddle berusaha membuat percakapan, Harry menepisnya dengan anggukan singkat atau jawaban pendek.

Seusai jam pelajaran pertama, Harry buru-buru meninggalkan kelasnya. Sayangnya, To–Riddle menghentikannya.
"Harry, tunggu. Aku ingin bicara." Ahh! Sial! bantin Harry.
"Harry, kenapa kau tidak berbicara padaku? Apa yang terjadi? Apa soal yang kemarin?" Harry tidak menatap mata pemuda didepannya, ia mengedarkan pandangannya ke sisi sebelah wajah Riddle.
"Aku tidak bicara padamu karena aku tak merasa memiliki urusan denganmu, tak terjadi apa-apa padaku, dan apa maksudmu daru 'soal kemarin'? aku langsung pulang setelah Draco menyelesaikan pelajaran tambahannya. Dan maaf, aku sudah ditunggu oleh teman-temanku, sampai nanti, Riddle" ujar Harry dengan nada kosong dan dingin. Ia juga tidak percaya dirinya dapat menggunakan nada hampa yang terkesan suram dari pita suaranya. Kemana melodi penuh kehidupan yang sebelumnya ia miliki? Kemana semangat yang selalu dipancarkan oleh matanya?

Harry berjalan menjauh menuju kelas berikutnya, merendam seluruh luka perih, sedih, dan khawatirnya jauh didalam hatinya yang sekarang sudah mati rasa. Mulai sekarang, ia akan bersikap seolah tak mengenal Riddle, mengacuhkannya, berada sejauh mungkin dari keberadaannya. Melupakan segala kenangan yang pernah dilaluinya bersama pemuda bermata peridot indah itu. Memang menyakitkan, tapi jika ia terlalu dekat dengannya, bukan hanya ia yang merasakan tebasan pedang, orang yang ia cintai secara diam-diam sekarang juga terancam keselamatannya. Demi dirinya, ia akan terus menanggung beban ini.

Ia tidak menyadari suara pilu pecahnya hati pemuda dibelakangnya.


Author's Note :
Haiiiii...tolong jangan siksa saya! Saya cuma author miskin, makan pelit, gaji kurang! (emang digaji ya?) *digebuk berjamaah*
YAK! Inilah salah satu konflik gaje dari Lylul! Semuanya jangan bunuh author ya! Ini semata-mata sebagai penyeru alur cerita romansa remaja!
Kacian deh loe, Tom! Di cuekin calon pengantin! *disantet sama Tom*
Heeeyy! Ada yang mau ngasih saran buat fic ini? Biar author ini terinspirasi untuk menulis lagi ditengah terjangan badai writer block bin sadis ini!

Review Yaaach!

With love,
Lylul ;D
LylMccutie07