DISCLAIMER: Ojamajo Doremi © Toei Animation, 1999-2004. Ojamajo Doremi 16, Ojamajo Doremi 16 Naive & Ojamajo Doremi 16 Turning Point (light novel) © Kodansha, 2011-2012. Tidak ada keuntungan komersial sepeserpun yang saya dapatkan dari fic ini.

Catatan Author: Finally, tiba di chapter 7!

Chapter yang satu ini adalah chapter yang sangat penting. Kenapa? Daripada penasaran, langsung dicek saja ya?


The Stars and the Bad Boys

.

The Audition and the Trap


Waktupun telah berlalu, dan hari ini adalah hari dimana audisi tahunan sekolah akan kembali diselenggarakan tahun ini. Semua murid Misora Art School sangat menanti-nantikan momen bersejarah tersebut, dimana beberapa diantara mereka akan mengawali langkahnya di belantika musik Jepang.

Karena audisi tersebut merupakan momen yang sangat penting, khusus hari ini, semua kelas diliburkan. Semua perhatian tertuju kepada audisi yang rutin diadakan setiap setahun sekali di ruangan aula sekolah tersebut. Tahun ini, bahkan para murid diperbolehkan untuk mengenakan pakaian bebas – kostum panggung untuk mereka yang akan ikut audisi dan pakaian kasual untuk mereka yang akan menyaksikan audisi tersebut dari kursi penonton. Bisa dibayangkan, suasana di aula sekolah kali ini bahkan lebih meriah dibandingkan dengan saat pengambilan nilai untuk tugas duet sebulan yang lalu.

Kotake dan Yada sangat antusias menyambut audisi tahun ini, karena ini adalah kesempatan terakhir mereka untuk membuktikan bahwa mereka layak untuk diorbitkan. Mereka juga ingin membuktikan kepada FLAT 4 bahwa kemampuan duo mereka tidak serendah yang mereka berempat pikirkan.

Setelah melakukan registrasi di tempat yang telah tersedia, Kotake dan Yada menunggu giliran mereka di backstage. Sambil menunggu, mereka menenangkan pikiran supaya kali ini mereka dapat menampilkan yang terbaik di depan para juri.

'Kali ini, kami tidak boleh gagal,' pikir Kotake, 'Kami harus lolos audisi tahun ini, karena ini audisi terakhir yang bisa kami ikuti, dan tentu saja, aku juga tidak ingin dilecehkan terus-menerus oleh empat orang anak baru yang menyebalkan itu.'

'Tahun ini, kami akan tampil dengan kondisi yang prima,' pikir Yada, 'Itu membuatku sangat yakin kalau tahun ini, kami akan berhasil lolos audisi.'

Tak lama kemudian, keempat personil FLAT 4 pun memasuki backstage dan berdiri tepat disebelah Kotake dan Yada. Sekali lagi, manik amethyst milik Akatsuki beradu dengan manik sapphire milik Kotake dan memancarkan aura persaingan semacam aliran arus listrik.

"Kau menyerah saja, Kotake," ujar Akatsuki sinis, "Aku yakin, kalian tidak akan bisa lolos tahun ini, dan itu artinya, kalian tidak boleh menghalangi kami untuk menjalankan rencana kami."

"Justru kalian yang harus bersiap-siap untuk mengurungkan niat jahat kalian terhadap MAHO-Do," sahut Yada yang kemudian mengumpat, "Dasar sok tahu!"

"Hey!" seru Leon sambil mencengkram kerah baju Yada, "Kau ingin membuat keributan?"

Dengan cepat Kotake menepis tangan Leon dari kerah baju sahabatnya tersebut, "Jangan coba-coba menghajar sahabatku atau kupatahkan tanganmu ini!"

"Oh, jadi kau juga ingin kuhajar?!" ancam Leon.

"Sudahlah, Kotake," ujar Yada, "Orang seperti mereka sebaiknya jangan dihiraukan."

"Yah, sebenarnya sih, kita juga seharusnya tidak perlu mempedulikan orang-orang yang tidak penting seperti mereka, Leon-kun," balas Tooru tak mau kalah, "Lagipula, mereka sudah pasti tidak akan lolos tahun ini."

"Kau yakin?" sahut Kotake sambil mengalihkan lirikannya kepada Tooru, "Asal kalian tahu saja. Untuk menghadapi audisi tahun ini, kami mempersiapkan segalanya bahkan sejak tahun lalu, dan kami percaya bahwa kami tidak akan kalah dari kalian."

Kotake tersenyum puas setelah mendengar kata-katanya sendiri, dan memang, tak lama setelah ia dan Yada dinyatakan tidak lolos audisi tahun lalu, mereka tidak membuang-buang waktu lagi untuk mulai mempersiapkan diri untuk ikut audisi di tahun berikutnya – tahun ini.

Melihat senyuman rivalnya tersebut, Akatsuki menggeram, "Kurasa selama apapun kalian berlatih…"

"Kami tetap akan lolos audisi tahun ini," potong Kotake dengan santai, "Jujur saja, selama sebulan ini, aku menyelidiki sumber beasiswa yang kalian peroleh untuk masuk ke sekolah ini, dan… aku menemukan rahasia kalau sebenarnya… kalian menyogok pihak sekolah kalian yang lama untuk memproses pengajuan permintaan beasiswa ke sekolah ini, dan… itu artinya, kalian sudah berlaku curang. Padahal, ada beberapa diantara teman-teman seangkatan kalian disana yang lebih potensial untuk masuk ke sini. Benar kan, Akatsuki sang pemuda mesum?"

Akatsuki menggertakan giginya saat Kotake melanjutkan kata-katanya, "Yah, kalau saja aku tidak berjanji kepada Doremi untuk membiarkan hubungan kalian menjadi lebih dekat, pasti sekarang aku sudah melaporkanmu ke polisi, A-ka-tsu-ki."

"Oh, jadi begitu, rahasia dibalik beasiswa kalian yang misterius itu…" sahut Yada, "Sebenarnya sih, aku tak heran. Dari awal, kalian memang melakukan segalanya secara tidak benar, dan kurasa… hasil yang akan kalian dapat juga… tidak akan sama seperti apa yang kalian harapkan."

"Dan sekarang, setelah aku mengetahui semua kebusukan kalian, apa kalian akan tetap berniat menjalankan rencana kalian yang kotor itu?" Kotake kembali berujar, "Oh, atau mungkin kali ini, kau berniat menyogok aku dan Yada dengan uangmu, dasar pecundang pervert!"

Keempat personil FLAT 4 itupun tak kuasa menahan amarah mereka. Leon kembali mencengkram kerah baju Yada, sementara Akatsuki dan Tooru bersiap-siap untuk mengeroyok Kotake, tapi untungnya, sebelum mereka sempat menghajar Kotake dan Yada, Momoko masuk ke backstage dan mencegah semua itu terjadi, "Stop! Kalian jangan kotori audisi tahun ini dengan pertengkaran!"

Momoko lalu menghela napas dan berkata, saat keenam pemuda itu sudah mulai bisa menenangkan diri mereka masing-masing, "Kotake-kun, Yada-kun, sekarang waktunya kalian untuk tampil, setelah itu, baru giliran kau dan teman-temanmu untuk tampil, Akatsuki-kun."

Kotake dan Yada kemudian merapikan pakaian mereka dan bergegas ke panggung untuk menampilkan yang terbaik di hadapan para juri yang juga adalah produser rekaman, sementara Momoko keluar dari aula dan berkata dalam hati, 'Kelihatannya, apa yang Kotake-kun tulis di pesannya saat itu ada benarnya juga, tapi… bagaimana caranya ya, supaya yang lainnya bisa terhindar dari rencana jahat mereka? Apalagi… hubungan diantara Doremi-chan dan Akatsuki-kun sekarang semakin dekat. Begitu juga dengan hubungan diantara Ai-chan dan Leon-kun, juga Onpu-chan dengan Tooru-kun…'

'Yah, mungkin sekarang, aku tidak terlalu mengkhawatirkan Hazuki-chan, karena kedatangan Fujio-kun belum menyebabkan efek yang serius terhadap hubungan percintaan antara Hazuki-chan dengan Yada-kun, tapi… bagaimana kalau suatu saat nanti, Fujio-kun menemukan cara untuk menaklukan Hazuki-chan dan merebutnya dari Yada-kun?'

'Bagaimanapun, aku harus melakukan sesuatu…'

.O.

Beberapa lama kemudian, saat jam makan malam…

Para personil MAHO-Do memutuskan untuk makan malam semeja dengan Kotake, Yada dan semua personil FLAT 4, sekaligus untuk merayakan lolosnya keenam pemuda itu dalam audisi yang diselenggarakan siang tadi.

"Wah, Kotake, penampilanmu tadi hebat sekali!" puji Doremi, "Seharusnya kau bisa tampil semaksimal itu setahun yang lalu…"

"Mau bagaimana lagi, Doremi? Tahun lalu, kondisi Yada kurang fit, jadi kami tidak bisa tampil semaksimal mungkin," sahut Kotake, "Yah, setidaknya penampilan kami hari ini membuat perjuangan kami selama ini jadi terbayarkan."

"Aku mengetahuinya. Perjuangan kalian selama ini… memang merupakan perjuangan yang sangat berat…" gumam Doremi pelan sambil tersenyum tipis, "Sebagai sahabatmu, aku senang mengetahui kalau pada akhirnya… kau dan Yada-kun berhasil lolos audisi dengan hasil yang memuaskan. Semua juri itu tertarik untuk mengorbitkan kalian."

"Semua ini juga… karena kau telah menyemangati kami untuk terus berlatih setahun yang lalu, padahal saat itu, kau sendiripun tahu bahwa kami… baru saja tidak lolos audisi."

Doremi lalu menggeleng sambil tertawa kecil, "Tidak, semua itu terjadi bukan karena aku, tapi karena kalian memang berbakat. Kalau saja… kalian lolos audisi bersama dengan kami…"

Sebelum Akatsuki sempat bertanya kepada Doremi tentang maksud dari perkataannya tersebut, dengan cepat gadis itu mengalihkan pembicaraan, "Ah, ngomong-ngomong, aku jadi ingin tahu, apa kalian akan bekerja sama dengan produser yang menangani kami atau tidak… Pasti akan sangat menyenangkan kalau MAHO-Do, KoteYama dan FLAT 4 bisa ditangani oleh produser yang sama. Kita bisa tampil satu panggung terus nih."

"Kalau memang keadaannya seperti itu, jujur saja aku tidak keberatan," Kotake kembali menyahut. Ia lalu melirik kearah Akatsuki dan bertanya, "Bagaimana menurutmu, Akatsuki?"

'Sialan. Apa maksudnya ia bertanya begitu padaku?' pikir Akatsuki yang kemudian menjawab pertanyaan Kotake, "Ya, aku juga tidak keberatan, kalau memang itu bisa mendekatkan hubungan persahabatan diantara kita semua."

"Itu bagus," sahut Doremi yang kemudian menghela napas, "Sayangnya, kita harus menunggu pengumuman dari sekolah dulu tentang hal itu, padahal… aku sudah tak sabar ingin mengetahui hasilnya."

"Kau harus sabar, Doremi. Toh, pengumuman itu akan keluar minggu depan. Kita hanya perlu menunggu sampai tujuh hari lagi," ujar Kotake, berusaha menenangkan Doremi, "Tujuh hari itu bukan waktu yang lama."

"Kau benar juga sih."

Merekapun meneruskan makan malam mereka dengan bercengkrama bersama.

Setelah malam itu, waktu berlalu dengan sangat cepat. Seperti dugaan Doremi, produser yang menangani MAHO-Do adalah produser yang sekarang juga menangani KoteYama dan FLAT 4, dan itu membuat mereka sering tampil bersama. Kotake dan Yada memanfaatkan kesempatan ini untuk melindungi para personil MAHO-Do dari rencana licik FLAT 4.

Sementara itu, para personil FLAT 4 sedang berpikir keras untuk menemukan cara yang efektif supaya rencana mereka bisa terus berjalan sesuai dengan apa yang mereka inginkan.

"Kenapa kita juga harus tampil bersama dengan KoteYama saat kita sedang tampil dengan MAHO-Do?" gerutu Akatsuki, "Apa kita tidak bisa mengatur jadwal kegiatan kita sendiri? Kalau seperti ini, bagaimana kita bisa berhasil menjalankan rencana kita?"

"What a lucky strike for KoteYama!" sahut Leon dengan kesal, "Kita semua harus pikirkan cara supaya kita bisa menyingkirkan mereka berdua dan menjalankan rencana kita dengan mulus. Fujio-kun, apa kita benar-benar tidak bisa mengutak-atik jadwal kegiatan itu?"

"Sayangnya, kita belum bisa melakukannya, Leon-kun," jawab Fujio sambil menggelengkan kepalanya dan menatap lekat-lekat catatan jadwal kegiatan yang dipegangnya, "Kalau saja ada jadwal yang masih bisa kita sabotase…"

"Ah, lupakan saja jadwal-jadwal itu!" seru Tooru, "Sekarang, ayo kita datangi mereka di asrama putri dan mulai beraksi!"

"Tidak bisa segampang itu, Tooru-kun," sahut Akatsuki sambil menahan Tooru yang sudah mulai berjalan mendekati pintu kamar asrama mereka, "Kita tidak bisa bertindak gegabah. Kalau kita melakukannya disini, sama saja dengan cari mati. Kau tahu sendiri kalau gedung asrama putri dijaga dengan sangat ketat begitu. Kalau kita pergi kesana sekarang, sama saja dengan kita menyerahkan diri sebelum mendapatkan apa yang kita inginkan. Kau seharusnya sadar akan hal itu."

"Ketemu!" seru Fujio, "Minna, coba lihat ini. Ada jadwal yang masih bisa kita manfaatkan. Tiga minggu lagi, kita akan tampil hanya bersama dengan MAHO-Do di Tokyo, dan show tersebut mengharuskan kita semua untuk menginap disana selama satu malam."

"Kau pintar juga, Fujio-kun," ujar Akatsuki sambil menyeringai, "Tiga minggu lagi, kita akan bersenang-senang."

Sementara itu, Kotake dan Yada juga sedang berbincang-bincang di kamar asrama mereka sendiri. Mereka mendapat informasi dari Momoko kalau MAHO-Do hanya akan tampil bersama dengan FLAT 4 di Tokyo tiga minggu lagi.

"Mudah-mudahan saja Asuka bisa memperingatkan yang lain untuk berhati-hati terhadap mereka," Kotake menghela napas, "Jujur saja, perasaanku tak enak sejak Asuka memberitahukan hal itu kepada kita tadi."

"Aku juga. Aku khawatir kalau Fujio berhasil memperdaya Fujiwara saat mereka sedang berada di Tokyo nanti," sahut Yada, "Kau tahu sendiri kalau aku… sangat mencintainya."

"Cinta…" gumam Kotake, "Kalau boleh jujur, sampai sekarang pun, aku masih mencintai Doremi, tapi…"

"Sekarang kau hanya bisa memendamnya dalam hati karena Harukaze sedang dekat dengan Akatsuki kan?" tebak Yada.

"Begitulah," pemuda bermata biru sapphire itupun kembali menghela napas, "Kalau saja aku tidak pernah berjanji padanya untuk membiarkannya dekat dengan Akatsuki…"

"Wajar kalau akhirnya kau sepakat untuk membiarkan mereka berdekatan," sahut Yada sambil menepuk bahu sahabatnya itu, "Terkadang… cinta dan persahabatan memiliki kedudukan yang bersebrangan…"

"Kurasa, kita juga harus punya rencana untuk menyelamatkan mereka," simpul Kotake pada akhirnya, "Setelah aku memikirkannya lagi, kelihatannya kita tidak bisa hanya mengandalkan Asuka untuk memperingatkan mereka supaya berhati-hati dengan Akatsuki dan teman-temannya yang bejat itu."

"Aku setuju, Kotake," ujar Yada dengan wajah yang serius, "Memang hanya itu yang bisa kita lakukan. Kita harus memikirkannya sekarang juga."

.O.

Tiga minggu kemudian…

"Sayangnya, Kotake dan Yada-kun tidak ikut tampil bersama dengan kita kali ini," keluh Doremi saat ia dan para personil MAHO-Do lainnya juga para personil FLAT 4 sedang berada di sebuah mobil minibus yang akan membawa mereka sampai ke Tokyo siang ini, "Kalau mereka ikut, pasti keadaannya akan lebih ramai lagi."

"Tapi setidaknya, kau senang kan, kita bisa pergi ke Tokyo bersama-sama?" sahut Akatsuki yang duduk tepat disamping Doremi. Ia lalu bergeser mendekati gadis itu, "Kita bisa menjadikan hal ini sebagai momen penting untuk hubungan kita."

Setelah mendengar perkataan Akatsuki, tiba-tiba Doremi merasa bahwa jantungnya berdegup kencang, entah karena apa.

'Ada apa ini? Apa maksudnya Akatsuki-kun berbicara begitu?' pikirnya, 'Apa saat di Tokyo nanti, dia akan memintaku menjadi pacarnya? Tapi… kenapa sekarang, aku juga merasa sesak? Seperti… ada hal buruk yang akan terjadi…'

'Aku tidak mengerti… apa yang terjadi…'

"Doremi-chan?" panggil Akatsuki, "Kau sedang memikirkan apa?"

"Kenapa? Ah, tidak," sahutnya cepat setelah tersadar dari lamunannya, "Aku hanya… sedang membayangkan tentang suasana di Tokyo. Pasti… suasananya indah sekali, ya kan?"

"Tentu saja. Sebagai ibu kota negara kita, Tokyo pasti punya view yang bagus dan modern."

"Itulah yang kupikirkan," gadis itu lalu bangkit berdiri, "Ah, kurasa, aku ingin ke toilet sekarang – minibus yang mereka tumpangi dilengkapi oleh dua buah toilet di bagian belakangnya. Tidak apa-apa kan, kalau pembicaraan kita dilanjutkan nanti, setelah aku kembali dari toilet?"

"Boleh saja," sahut Akatsuki ramah. Ia lalu membiarkan gadis itu berjalan ke bagian belakang minibus.

Setelah mendengar suara pintu yang ditutup dari arah belakang, Akatsuki menyeringai sendiri, 'Kelihatannya ia gugup setelah mendengar perkataanku tadi…'

'Tenang saja, Doremi-chan. Kau dan teman-temanmu tidak perlu gugup, karena aku dan yang lainnya akan melakukannya secara perlahan. Perlahan tapi pasti, kalian akan menjadi milik kami malam ini,' pikirnya sambil terus menyeringai, 'Dan setelah itu, kamilah yang akan menentukan nasib kalian.'

Akatsuki memandang kesekitarnya, dimana para personil MAHO-Do lainnya sedang berbincang-bincang dengan ketiga temannya di FLAT 4, kecuali Momoko yang duduk di kursi paling depan sambil menghela napas pasrah. Terlihat jelas bahwa ia sedang memikirkan sesuatu.

'Andai saja Kotake-kun dan Yada-kun bisa menyusul kami ke Tokyo…'

Pembicaraan antara Hazuki, Aiko, Onpu, Fujio, Leon dan Tooru terlihat semakin seru.

"Seharusnya kalian punya satu anggota lagi, supaya kita semua bisa bermain basket," ujar Aiko, "Pasti akan sangat menyenangkan kalau kita semua bisa bertanding bersama-sama."

"Yeah, kurasa kau benar, Ai-chan," sahut Leon, "Lima lawan lima akan lebih seru ketimbang satu lawan satu."

"Jujur saja, itulah yang kupikirkan."

"Tapi, bukannya diantara kita semua, hanya kau dan Leon-kun yang suka main basket, Ai-chan?" tanya Hazuki, "Kalau begitu sih, tetap saja intinya hanya kalian berdua saja yang berduel."

"Ah, kalau kalian semua kan, bisa kami ajari. Kurasa kita masih bisa bertanding kalau memang ada kesempatan," jawab Aiko, "Makanya, Leon-kun. Bilang pada Akatsuki-kun supaya kalian bisa menambah anggota kalian."

"Aku tidak bisa janji," ujar Leon, "Habisnya, kami berempat membentuk FLAT 4 karena kami semua sudah bersahabat sejak kecil."

"Pantas saja, kalian akrab sekali," komentar Onpu, "Ternyata kalian sudah bersahabat sejak lama."

"Kalian sedang berbicara tentang apa?" tanya Doremi yang sekarang menghampiri keenam orang sahabatnya itu, "Kelihatannya pembicaraan kalian seru juga."

"Begini, tadi Ai-chan menyarankan kepada Leon-kun supaya FLAT 4 bisa menambah anggotanya menjadi lima, supaya kita semua bisa bertanding basket," jelas Hazuki, "Tapi kemudian Leon-kun bilang itu tidak mungkin, karena mereka membentuk FLAT 4 hanya karena mereka semua sudah bersahabat sejak kecil."

"Eh? Tapi memangnya, itu ada pengaruhnya?" ujar Doremi, sedikit tidak mengerti dengan alasan yang tadi dikemukakan oleh Leon dan dijelaskan oleh Hazuki, "Kami saja baru terbentuk dua tahun yang lalu, hanya karena kami tidur sekamar di dorm. Memang sih, aku dan Hazuki-chan sudah bersahabat sejak kami masih kecil, tapi diluar itu, tidak ada yang sudah saling kenal sebelum masuk ke Misora Art School."

"Aku saja baru tahu bahwa Momo-chan itu sepupu Masaru-kun yang dulunya tinggal di Amerika saat aku bertemu dengannya di ujian masuk dua tahun yang lalu," lanjut Hazuki, menyetujui perkataan Doremi, "Kalau memang suatu saat nanti kalian perlu menambah anggota, bagaimana?"

"Karena kami termasuk orang yang idealis," sahut Akatsuki yang kemudian ikut bergabung dengan mereka, "Kalau kami belum kenal betul dengan seseorang, kami tidak akan bisa memperlakukan orang itu sama seperti kami saling memperlakukan diri masing-masing. Butuh waktu lama untuk orang itu untuk beradaptasi dengan kami."

"Baiklah kalau begitu," Doremi menghela napas. Ia lalu menyadari bahwa Momoko adalah satu-satunya orang yang tidak ikut bergabung bersama dengan mereka dan membicarakan tentang permasalahan tadi. Doremi pun menoleh dan memanggil gadis berambut blonde tersebut, "Momo-chan, kenapa kau duduk termenung sendiri disana? Kau tidak mau ikut bergabung dengan kami?"

"Ah, baiklah," sahut Momoko yang akhirnya menghampiri teman-temannya yang lain, "Memangnya, sekarang kita semua ingin membicarakan tentang apa?"

Dan pada akhirnya, mereka semua saling berbincang-bincang, meskipun beberapa diantara mereka menyembunyikan perasaan mereka yang sebenarnya – perasaan bingung Doremi tentang apa yang akan terjadi di Tokyo nanti, perasaan bimbang Momoko yang mengharapkan bahwa Kotake dan Yada akan menyusul mereka ke Tokyo dan menyelamatkan teman-temannya yang sedang terancam bahaya, dan juga, perasaan puas dari kesemua anggota FLAT 4 karena mereka akan melaksanakan apa yang mereka rencanakan malam ini di Tokyo.

Mereka terus membicarakan tentang banyak hal. Tentang kota Tokyo, juga tentang masa lalu mereka masing-masing. Tidak ada seorangpun yang kehabisan akal untuk mengganti topik pembicaraan saat topik yang sebelumnya sudah melenceng kemana-mana.

.O.

Malam harinya…

Di Tokyo, setelah menyantap makan malam di hotel, entah kenapa tiba-tiba para personil MAHO-Do merasa sangat mengantuk. Mereka lalu memutuskan untuk langsung memasuki kamar mereka yang besar dan pergi tidur – kamar itu dilengkapi dengan lima tempat tidur. Tak lupa mereka mengunci pintu kamar mereka dan berganti baju sebelum mereka tidur.

Tak berapa lama setelahnya, seseorang membuka kunci pintu kamar tersebut dari luar. Rupanya, para anggota FLAT 4 sengaja menyimpan kunci duplikat dari kamar tersebut, supaya mereka bisa menjalankan aksi mereka dengan mudah.

Keempatnya lalu mendekati empat orang dari kelima personil MAHO-Do tersebut – Fujio mendekati Hazuki, Leon mendekati Aiko, Akatsuki mendekati Doremi, dan Tooru mendekati Onpu – dan mulai berusaha melepas pakaian yang mereka kenakan. Saat Akatsuki baru menyentuh kerah piyama Doremi, gadis itupun membuka matanya dan menyadari apa yang sedang terjadi.

Sebenarnya, ia ingin berteriak, tapi entah kenapa, suara yang keluar dari mulutnya terdengar sangat pelan, "Akatsuki-kun?! Sedang apa kau disini?!"

"Sssh, kau tenang saja," jawab pemuda berambut violet itu sambil menyeringai, "Aku tidak akan menyakitimu. Hanya ingin melakukan sesuatu yang menyenangkan."

Gadis berambut merah yang berbaring dihadapannya itupun menepis kedua tangan pemuda itu, "Jangan menyentuhku?!"

"Hei, bersikap biasa sajalah. Lagipula, sudah banyak orang-orang seumuran kita yang melakukannya," Akatsuki lalu memandang kesekitar kamar tersebut, "Lihat? Semua sahabat kita juga… sedang bersiap-siap untuk melakukannya."

Doremi terkejut, "Seharusnya aku percaya kepada apa yang ditulis Kotake di pesannya…"

"Kau menyesal, baru menyadarinya sekarang?" sahut Akatsuki yang kemudian kembali melangkah maju, "Baiklah, terserah kau kalau kau tidak ingin aku menyentuh kancing-kancing itu, karena yang penting buatku adalah, aku bisa menyentuhmu."

"Akatsuki-kun, sudah kubilang jangan…"

"Jangan sentuh dia, dasar kau mesum!" seru Kotake yang tiba-tiba datang dari arah pintu bersama dengan Yada. Tak disangka, ternyata mereka berhasil juga menyusul para personil MAHO-Do dan FLAT 4 sampai ke hotel tersebut.

Dengan sigap mereka mencegah para anggota FLAT 4 supaya tidak sempat melakukan hal yang lebih jauh lagi terhadap para personil MAHO-Do. Merekapun menghajar keempat pemuda itu sampai babak belur dan terkapar di lantai, lalu mengecek kelima personil MAHO-Do yang berada diatas tempat tidur mereka masing-masing, memastikan bahwa tidak ada satupun diantara mereka yang terluka.

Saat Kotake menghampiri Doremi, dengan spontan gadis itu memeluk dirinya dan berkata dengan pelan, "Maafkan aku, Kotake, maafkan aku. Aku seharusnya mempercayai pesan yang kautulis kalau sebenarnya, Akatsuki-kun itu…"

"Kau tidak perlu minta maaf. Yang penting sekarang, aku berhasil menyelamatkanmu dan yang lainnya dari rencana busuk mereka," potong Kotake, "Sekarang, bagaimana kalau kita kembali ke dorm? Sebaiknya kita batalkan saja jadwal manggung kalian besok."

Doremi mengangguk pelan, "Terima kasih, Kotake."

Tak lama setelah itu, Doremi pun jatuh pingsan di dalam dekapan Kotake, yang kemudian membawanya bersama Yada dan personil MAHO-Do lainnya kembali ke Misora Art School.


Catatan Author: Oke, kayaknya ini cukup menjelaskan tentang rencana jahat yang sudah tercantum sejak awal fic ini dimulai (ehm, tadinya sih saya mau menjelaskannya lebih gamblang lagi, tapi… berhubung sebentar lagi mau bulan puasa, akhirnya saya mengurungkan niat saya tersebut #ApaHubungannya).

Chapter selanjutnya akan bercerita tentang dampak dari apa yang terjadi di chapter 7 ini. Pengen tahu? Tunggu saja sebentar lagi…