Deep in Your Heart
by. SummerChii
.
.
.
AU! Typo! Semoga alurnya jelas~
BTS milik keluarganya dan kita semua, saya cuma pinjem nama
.
.
Warning: Bromance/bxb/otw menjerumus/chaptered
.
.
.
07 : unfairTaehyung jadi yang pertama sadar akan perubahan hyungdeulnya seminggu belakangan ini.
"Kudengar belakangan ini kau sudah mulai fokus. Benar?"
Terutama Seokjin.
"Sedikit."
Hyung tertuanya itu entah kenapa jadi lebih kalem, lebih tenang, sedikit dan lebih banyak diam daripada bicara berkoar-koar. Dua hari terakhir, dia selalu ikut sarapan pagi dan makan malam.
"Bagus. Teruskan begitu."
Sementara sang ayah masih sama pada Seokjin-hyung. Dingin, kaku. Sepertinya dua orang itu sudah dikodratkan bermusuhan. Taehyung diam saja menanggapinya. Setidaknya mereka tidak adu pukul dan tampar-tamparan lagi. Hal semacam itu membuatnya takut sampai menangis.
Suasana ruang makan yang hening jauh lebih baik daripada kemarin-kemarin. Setidaknya, dingin yang sekarang bukan karena perang dingin, hanya canggung antara satu sama lain.
Mungkin Taehyung akan menceritakan kemajuan ini pada Jimin nanti.
"Aku sudah, eomma."
Namjoon jadi pembuka pembicaraan, menumpuk mangkuk yang nasinya yang masih sisa setengah. Namja itu tersenyum, menunjukan lesung pipinya yang dalam dan meneguk air , plus obatnya.
"Apa kau merasa tidak baik? Kau pucat, Namjoon-ah."
Namja yang beda enam tahun dari Taehyung itu tersenyum, menggeleng pelan dan merapikan piringnya.
"Gwenchana. Nanti kalau terjadi sesuatu aku akan langsung pulang, appa."
Sang eomma hanya diam, mematai anaknya yang sudah siap berdiri dan membawa piringnya kebelakang. Taehyung juga sama, hanya memandangi hyungnya khawatir.
Tak lama setelahnya, Seokjin berdiri dan ikut menyusul Namjoon ke dapur. Itu membuat eommanya langsung melotot bingung, sama dengan appanya yang langsung berhenti makan dan refleks menengok ke arah dapur dimana dua putra tertuanya membereskan piring mereka.
Taehyung diam. Antara kaget dan senang. Ikut buru-buru menghabiskan nasinya dan membawa cucian ke dapur.
'Taehyung, keran-nya jangan diputar habis, airnya muncrat!'
'HEI! JANGAN MAIN SPONS! SIAL, BAJUKU BASAH!'
'Hehehe, kapan lagi kita main air , hyung?'
'Hah?! Gila ya?!'
'Hyung kan tidak pernah masuk dapur!!!'
'HEH! ANAK KECIL!!'
Seokjin jadi yang paling panik saat adik-adiknya mengacau.
'ASTAGA NAMJOOONN!'
Sudah yang paling kecil iseng, yang lebih tua-entah bodoh atau ceroboh dia tidak tau. Bisa-bisanya Seokjin dapat serangan botol sabun terbang.
'Sudah kubilang! Basuh dulu tangannya kalau pegang barang pecah belah!'
Namjoon mengigit bibirnya seperti anak anjing yang dimarahi, antara sayang dengan sabun-nya yang lumer di lantai atau merasa bersalah pada Seokjin yang malah kena imbas karena tumpahan sabun itu membasahi seragamnya. Bukan cuma itu, yang paling tua harus mencari kain pel untuk membersihkan ulah mereka. Taehyung sih senang-senang saja karena ada yang membereskan banyak hal, biasanya dia dan Namjoon bertanggung jawab sendiri atas kekacauan yang mereka buat.
'Sialan! Aku belum cuci seragam cadanganku tau!'
Melihat tiga remaja tanggung itu malah sibuk dengan urusan dapur dan jadi terlihat akrab, kedua orangtua mereka hanya bisa tercengang, menerjapkan mata dan saling memukul untuk menyadarkan, kalau adegan tadi itu bukan mimpi.
"C-chagi?"
Pria itu menerjapkan matanya, memandang istrinya bingung dan langsung menaikkan kacamatanya.
"N-ne?"
"Apa Seokjin-ah terbentur waktu kau pukul?"
Sang ayah hanya diam, menyipitkan matanya untuk melihat kembali keadaan; dan semua masih sama. Dua namja tinggi yang sedang cuci piring bersama si kecil yang iseng mengelap tangannya ke pantat hyungdeulnya. Diiringi pekikan Seokjin yang marah-marah seperti nenek toko bunga sebelah.
"Aku rasa dia jatuh di sekolah, Jihye-ah."
XXX
Bukan namanya Kim Jongin dan Wang Jackson kalau tidak bisa membuat satu kelas mati terpingkal-pingkal.
Dua sejoli itu bahkan dengan tidak tahu malunya meliuk-liuk seperti dewi ular mengikuti irama lagu Turki. Mulai dari gerakan malu-malu sampai gerakan vulgar yang sok panas dan kibasan poni badai Jongin yang sudah memanjang. Biduan dansa satu angkatan memang disandang oleh Jongin. Jadi tidak salah kalau dia sampai buka baju, buka sepatu, bahkan buka celana-tidak. Ini hanya bercanda- sebagai wujud totalitas.
Biarpun keadaan ruangan sudah pengap uap air dan karbon dioksida, ditambah bising suara musik dan gelak tawa yang macam macam jenisnya -kuda meringkik, mobil mengerem, bahkan sampai tawa wanita di film kolosal China- tidak mengusik si jangkung yang ada diujung ruangan.
Dia hanya diam saja, tersenyum melihat kelakuan dua teman absurdnya yang tidak tahu malu. Mengatup bibirnya rapat-rapat sambil berusaha menahan diri untuk meledak tawanya seperti yang lain.
"Aduh. Tolol sekali Jackson itu."
"Oi, Namjoon, coba bergabung dengan mereka!"
Namjoon hanya membalas dengan tawa kalem dan gelengan pelan.
"Maaf-maaf saja, otakku masih normal."
Kalau boleh jujur, dia ingin ikut. Menyemprot ludah dengan gila seperti Jackson, bergoyang seakan tak ada besok seperti Jongin. Atau mungkin berselancar di lantai seperti Sehun. Tapi dia menahannya dalam-dalam. Dia puas hanya dengan melihat, kok. Bukannya apa, dia tidak mau merepotkan orang-orang.
Baru saja dia berpikir begitu, dadanya sudah tidak enak.
"Aku keluar sebentar."
XXX
Lain dengan kelas Namjoon yang rusuh, kelas Seokjin yang ada dua lantai diatasnya hening seperti kuburan. Hanya tersisa beberapa anak perempuan yang bergossip bisik-bisik, siswa yang tidur dan kumpulan kutu buku yang belajar mempersiapkan ujian.
Lalu dia sendiri, bingung ingin bergabung pada kubu yang mana.
Setelah cukup lama berusaha mencatat rumus-rumus dan pembahasan yang dibahas teman sekelasnya di papan tulis, Seokjin mulai mual. Fisika bukan bidangnya dan dia mengutuk siapapun yang memasukkan pelajaran fisika pada daftar mata pelajaran wajib pelajar Korea Selatan. Kepalanya dipastikan akan meledak kalau melihat lebih banyak lagi, dia yakin.
Jadi dia berselonjor, meluruskan punggungnya dan mengadah ke langit-langit kelasnya. Memikirkan kejadian tadi pagi yang kalau diingat-ingat jadi manis juga. Sedikit terkekeh waktu mengingat wajah bodoh adik-adiknya yang membantu membereskan sabun.
Mereka... ada sisi lucunya juga.
Apalagi, kalau dipikir-pikir Taehyung itu agak mirip dengannya. Maksudnya, masalah garing dan jahilnya. Dia jadi ingat dulu dia juga suka mengerjai Namjoon. Bedanya, jika Taehyung ini jahilnya wajar, kalau Seokjin, diluar batas wajar. Ya.. apa boleh buat? Dia kan dulu membenci si jangkung itu.
Dulu. Itu dulu.
Sekarang? Entah. Mungkin dia sudah lupa sama bencinya.
Banyak hal yang membuat dia merasa tidak pantas terus menyimpan dendam pada Namjoon. Anak itu baik, pikirnya. Dia bahkan berani berbohong, membela dia didepan ayahnya, juga berani mengejar dia yang dikepung preman. Namjoon juga berani menghadapi Ken dan komplotan jahanamnya.
Dia bahkan membersihkan makam ibunya. Mengunjunginya rutin dan sembahyang.
Dia juga tidak menyimpan dendam sejahat apapun Seokjin mengerjai dia. Mulai dari pukul pelan- sampai pukulan yang mengantar dia ke rumah sakit, Namjoon tidak protes.
Namjoon itu kelewat kalem dan /baal/.
Tenggelam dalam pikirannya soal Namjoon, Seokjin sampai lupa buku matematika dia. Matanya mulai memerah tiap mengingat kata-kata anak itu mulai dari yang santai sampai yang serius.
Kadang Seokjin jadi merasa bodoh sendiri dibuatnya.
"Gawat, gawat!"
Yeoja itu masuk ke kelas, roknya berkibar ditiup angin dan wajahnya pucat pasi. Dia langsung menubruk kawanan-kawanan gossipnya dan mengambil air minum, sebelum menunjuk Seokjin.
"Seokjin-ssi..."
Yeoja itu masih berusaha mengatur napasnya, menelan ludahnya berkali-kali.
"Wae? Ada apa?"
"Jaehwan... ani. Geng! Geng mereka..."
Seokjin mulai mengalihkan atensi pada gadis itu. Matanya berubah tajam saat mendengar nama Jaehwan tersisip dibibirnya. Dia pikir, hari ini anak itu tidak hadir.
Perasaannya mulai tidak enak kalau nama Ken mulai dibawa-bawa. Orang-orang itu selalu membuatnya tidak nyaman.
Seokjin masih diam ditempat, menunggu gadis itu berucap lagi dan berharap kalau dia tidak membawa berita buruk.
"Mereka menghajar dongsaengmu!"
Setengah sadar setengah tidak, Seokjin langsung meninggalkan kelasnya terburu-buru, berlari ke kelas paling timur di sekolah mereka dan menuruni lantai dengan cepat. Pikirannya mengambang entah kemana. Memikirkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi lagi.
'... setidaknya kalau kau puas membuatku sakit, aku merasa kita impas...'
XXX
"Min Yoongi-ssi!"
Namja pucat itu berpaling, mendapati siswa laki-laki yang satu angkatan dibawahnya menghampiri dia dengan wajah panik. Dia baru saja bangun tidur dan berniat mencari minuman segar ke kantin-atau mungkin mini market didepan sekolah untuk memanjakan lehernya, tapi bocah itu berlari padanya seperti orang kesetanan.
Percaya, akan ada laporan lagi.
Yoongi tidak menjawab. Hanya menaikkan sebelah alisnya yang ditutup helaian hitam legam. Anak itu langsung memandangnya dalam, kemudian menunjuk gedung tempatnya keluar dengan wajah pucat.
"Aula lantai dua terkunci!"
Yoongi mau marah dengan anak ini. Memangnya dipikirnya dia adalah tukang kunci? Atau petugas kebersihan? Orang sinting yang mengganggu.
"Lalu-"
"Ada yang ribut didalamnya!"
Dan Yoongi langsung memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri. Dia cuma berdoa bisa panjang umur menghadapi peran jadi ketua kedisiplinan ini.
"Lee Jaehwan... sepertinya ada didalam sana!"
Oh, shit.
Si pucat itu langsung berlari secepat kadal mendengar nama Jaehwan keluar dari bibir murid itu.
XXX
Dia dipancing.
Seokjin sadar jelas dia dipancing, dan dia memakan umpannya dengan lahap.
Mereka menyambutnya hangat dan mengunci dia didalam aula, dalam kondisi lehernya di lengan Sandeul, membuatnya menghadap ke panggung aula dengan Jaehwan yang berdiri angkuh disana. Dia tersenyum lebar, dengan pucuk kepala Namjoon yang bisa dia lihat sudah terlentang di atas sana.
Dia tidak tahu sudah berapa lama mereka memukuli Namjoon, dia juga belum melihat separah apa adiknya dihajar. Tapi dia jelas melihat seragam dan wajah mereka juga cukup berantakan.
Namjoon melawan.
Tapi, apa yang bisa dilakukan adiknya untuk melawan enam orang?
Dia takut adiknya sudah pingsan, atau lebih buruknya sudah tewas dipukuli enam orang karena dia tidak bergerak sama sekali.
"Kau sudah melihat, apa yang bisa kulakukan denganmu, Seokjin?"
Seokjin hanya diam, berusaha berontak namun sial, tenaganya tidak cukup. Dia mulai berpikiran buruk kalau Ken sampai hati untuk membunuh adiknya itu. Tamatlah dia.
Itu alasan pertama. Kedua, sungguh, Seokjin merasa sangat takut kalau mereka menyakiti Namjoon sampai dongsaengnya tidak bisa membuka mata lagi. Ini benar-benar rasa takut dalam dirinya sendiri, bukan takut kepada ayahnya atau apa.
Rasanya dia mau menangis.
Sungguh.
"Menangislah padaku, Seokjin! Buka bajumu sendiri, atau kau pilih anak-anakku melakukannya? Biar adikmu ini juga bisa tahu betapa bagus tubuh hyung kesayangannya!"
Lalu mereka tertawa keras, Sandeul melepasnya dan memukul wajahnya sampai giginya terasa ngilu. Membuat dia terhuyung dan dipaksa menekuk lutut.
"Hormat, sayang! Maka kami tidak akan kasar padamu!"
Seokjin menepis tangan Sandeul darinya, menatapnya penuh kebencian dengan mata mulai merah. Detik berikutnya dia merasakan punggungnya diinjak dan mendengar suara debuman dari sisi depannya.
Diikuti erangan lirih Namjoon yang diinjak dadanya.
"J-jaehwan! Jang-"
"Kenapa, cantik? Takut dia muntah darah? Aku akan meninggalkan sampah ini sekarang kalau kau memohon."
Seokjin memejamkan matanya. Dia langsung menunduk dan menempelkan dahinya ke lantai, membuat harga dirinya rata dengan tanah. Apapun, asal mereka berhenti melakukan bully pada adiknya lagi. Sungguh, Namjoon tidak punya salah apa-apa.
"Okay, baby. Aku melepaskan dongsaengmu. Jangan lupa beritahu dia ya, kalau aku tidak suka berurusan dengan konseling. Jadi jangan main-main, okay?"
Seokjin hanya diam, membiarkan bulumatanya basah begitu saja. Mengatakan iya dengan lirih sebelum anak-anak itu memaksa dia berdiri dan melepas blazernya.
Dan hal itu akan terulang lagi.
Didepan Namjoon.
Mungkin lebih parah dari yang kemarin juga.
Dia sudah pasrah. Selama Jaehwan bisa berpaling fokusnya dari Namjoon, dia tidak masalah.
Tapi hal yang selanjutnya terjadi membuat dia kaget bukan main.
"Nam-"
Jaehwan ditendang keras, membuatnya terjembab jatuh dari panggung dengan wajah mendarat duluan. Namjoon langsung berguling kebawah, jatuh perlahan lalu bangkit perlahan dan membalik tubuh seniornya yang masih meringis.
Lalu mencengkram lehernya kuat-kuat.
Beberapa kawannya melepas Seokjin dan berusaha menghampiri Ken yang wajahnya merah dan hidungnya mimisan. Tapi Namjoon mengangkat wajahnya dan menatap mereka dengan tatapan sangar.
"Kalau... kalian maju, aku akan patahkan lehernya."
Namjoon tidak main-main. Terbukti dengan Jaehwan yang menggapai tangannya dan berusaha melepaskan lengan berurat Namjoon dari lehernya.
Dan semuanya langsung diam ditempat.
"Kalau kalian tidak melepas Seokjin, aku menggeser rahangnya."
Kelimanya saling pandang, menatap Namjoon yang masih tenang dan mempertahankan cengkraman mereka pada lengan Seokjin.
"Lep-"
BRAKKK
Saat pintu kayu itu copot, Hoseok, Jackson, dan dua orang lainnya- yang tag namanya Kim Jongin dan Oh Sehun- langsung menarik kawanan beruang liar itu dari tubuh Seokjin, membuat adu pukul kembali terulang.
Dan Namjoon melepaskan tangannya, tersenyum miris kearah Seokjin dan membiarkan namja pucat dibelakangnya menarik dasi Jaehwan sampai dia tercekik untuk yang kedua kalinya.
"Kau tolol, Namjoon."
"Nde. Terimakasih pujiannya, Yoongi-hyung."
XXX
Seokjin baru pertama kali masuk ruang kepala sekolah.
Dia tidak pernah buat kasus yang sampai membawanya pada ruang kepala sekolah. Konseling sih, pernah, beberapa kali. Kalau ruang kepala sekolah, ini pengalaman barunya.
Dia juga baru tau ruang kepala sekolah tidak cukup untuk mereka.
"Orang tua kalian sudah kupanggil. Lee Jaehwan, komplotan sialannya dan Kim Namjoon terutama."
Ucap pria paruh baya itu sambil memijat kepalanya, memandang anak-anak muda yang wajahnya santai sekali berdiri dan duduk didepan dia.
"Jadi, bisa jelaskan-"
"Dia memulai, saem. Anak ini yang minggu lalu menghancurkan ponsel saya, dan dia juga mencoreng nama baik saya di hadapan yang lain."
Namjoon hanya diam, seperti kambing. Duduk disana dengan santai, Hoseok disampingnya dan Seokjin dibelakangnya. Dia lebih tenang sekarang, dengan tangan memegangi dada bagian bawahnya yang terasa nyeri.
"Bajingan ini membuat onar di belakang kalian. Bahkan kalian mungkin tidak tahu dia melecehkan Seokjin sampai dia bolos-"
"Bangsat. Dua orang itu yang meraba-raba Seokjin. Jangan kau kira kami tolol."
"Oke, kasusnya bertambah."
"Cih."
Jackson yang berkelit, memukul Baro dan Sandeul. Seokjin sudah malu bukan main, rahasianya jadi ikut meluber gara-gara ini.
"SI BANGSAT INI HANYA PURA-PURA KALEM!"
Jaehwan memukul kepala yang lebih muda disampingnya, membuat Hoseok bereaksi dan menonjok wajahnya. Sehun dan Jongin mulai panas melihat mereka berdua, siap gulung lengan lagi.
"BOCAH SIALAN! TAU DIRI DAN TAU TEMPAT!"
Suara menggelegar kepala sekolah mereka membuat semuanya langsung diam. Pria tua itu menghela napas, berdehem dan merapikan jasnya.
"Oke, Namjoon-ssi. Apa kau yang memicu pertengkaran?"
Namjoon diam sebentar, bernapas pelan. Cukup kaget dengan teriakan si kepsek tadi. Membuat pria tua itu sadar, dia salah langkah.
"Menurut Anda... apa yang bisa saya lakukan?"
"MUNAFIK! NAJIS SEKALI ORANG INI-"
"LEE JAEHWAN DIAM!"
Jaehwan kembali diam dengan hasrat ingin memukul si kepala sekolah di ubun-ubun. Sementara pria itu, memperhatikan Namjoon dari ujung kepala sampai keujung kaki. Memandangi wajahnya yang bengkak, bibirnya yang sobek, matanya yang memar dan hidungnya yang masih dikompres karena mimisan tadi, kancing baju lepas semua dan dada yang lebam serta jahitan mengerikan yang cukup panjang disana.
"Lalu kenapa kau bertengkar dengannya?"
Ini yang membuat Seokjin keringat dingin. Seokjin sudah tahu penyebab segalanya adalah kasus dia. Sesekali dia melirik Namjoon yang masih diam dan bernapas tenang, dengan tangan gemetar konstan dan punggung bersandar padanya.
"Saya tidak suka dengan tutur katanya."
Butuh berapa waktu untuk kepala sekolah itu menghela napas, meminum tehnya sebentar untuk menurunkan emosi dan kembali menatap Namjoon, berusaha sabar. Dia bisa mati darah tinggi menghadapi anak-anak muda ini.
"Hanya kata-kata-"
"Dan kelakuan dia yang merasa paling berkuasa sendiri."
Oke. Seokjin dibuat makin pusing. Namjoon sepertinya melantur. Dia tidak menjawab dengan serius tentang bagaimana Ken membully dia. Sedikit dalam hatinya merasa tenang. Namjoon pandai berbohong. Dia akan aman, dia pikir begitu.
Tapi guru konseling mereka hadir sesaat sebelum eommanya datang. Yeoja itu membeberkan semua tentang kesialan dia yang dilakukan Jaehwan.
XXX
Mereka pulang, tanpa suara. Seokjin sendiri sampai diam saja dan mengikuti apa saja yang diminta wanita itu. Padahal, mana pernah dia menurut? Memanggil 'ibu' saja tidak pernah.
Satu ketakutan terbesar Seokjin adalah, saat kakinya menapak dirumah, ayahnya murka.
Dia sempat berpikiran untuk kabur- karena masih ada banyak waktu sebelum ayahnya pulang mengingat mereka dipulangkan dan di skors tiga hari. Lari mungkin pilihan ter-aman buatnya, tapi mungkin tidak buat Namjoon.
Apa yang akan ayahnya katakan saat melihat Namjoon tiba-tiba bonyok? Padahal membolos tanpa alasan saja dia belum pernah, tiba-tiba sudah pulang bonyok.
Dia menghabiskan waktu enam jam lebih untuk merenung di kamarnya seperti orang bodoh dan mempersiapkan diri untuk memberi penjelasan pada ayahnya nanti. Dia hanya berharap ayahnya sudah mulai membuka diri pada dia -atau mungkin melunak sedikit, apalagi kalau pria itu sudah mendengar kisah sedihnya yang di bully?
Seokjin memantapkan hatinya. Dia akan turun kebawah, menghadapi ayahnya di jam makan malam dengan segala resiko-
BRAKK
Tapi terlambat. Orang itu sudah sampai didepan pintu kamarnya, mendobraknya sampai kunci Seokjin patah.
"A-appa-"
Namja itu mendekat, mendaratkan kepalan tangannya pada pipi Seokjin sekali. Dan yang lebih muda hanya bisa syok dengan tenaga ayahnya.
"KAU ITU LAKI-LAKI ATAU PEREMPUAN HA?! BISA-BISANYA AKU MENDENGAR KAU MENGALAMI PELECEHAN SEKSUAL?!"
Dan lagi, Seokjin merasakan kepalan tangan ayahnya di wajah.
"AKU MENDIDIKMU KERAS SEBAGAI LAKI-LAKI! APA KURANG?! MAU KUAPAKAN SUPAYA KAU BISA MELAWAN DAN TIDAK DIAM SEPERTI ANAK PEREMPUAN?! MAU KUAPAKAN KAU SUPAYA TIDAK JADI BEBAN BUAT SEMUA ORANG?! BAHKAN KAU MENUMBALKAN ADIK TIRIMU YANG KAU HINA-HINA ITU?! TIDAK TAHU MALU! "
Dan Seokjin hanya bisa diam, setengah tubuhnya ada diatas ranjang namun lututnya lemas di lantai. Dia hanya bisa diam, tidak tahu harus menjawab apa dan mulai menangis karena rasanya terlalu sakit.
Ketenangan buatnya hanya angan-angan.
Mungkin kejadian tadi pagi hanya mimpi. Atau mungkin hanya halusinasinya saja. Ayahnya tidak mungkin perhatian pada dia.
"JANGAN MENANGIS! KAU KAU KUHAJAR SEPERTI APA BIAR TAHU BAGAIMANA MELAWAN?! JAWAB!"
Seokjin cuma bisa diam, bahkan saat leher kausnya ditarik kasar dan membuatnya harus bertemu mata dengan wajah ganas ayahnya. Dia berusaha tidak menangis, tapi airmatanya lolos begitu saja.
Dan, dia dapat satu pukulan keras lagi.
Belum sempat ayahnya melayangkan pukulan ke-empat, pria paruh baya itu berhenti saat tubuhnya dipaksa mundur kebelakang.
"Cukup."
Cuma suara dalam dan dingin itu yang Seokjin dengar membela dia. Yang membuatnya ingin menoleh namun lehernya keburu tidak sanggup untuk ditekuk.
"Dia sudah cukup sakit, jangan ditambah.."
Namjoon mengatakan itu dingin, dia tidak tahu seperti apa wajah ayahnya sekarang. Yang dia tahu, dia hanya bisa menenggelamkan wajah diatas selimutnya yang mulai basah darah dan airmata. Dan membiarkan kesadarannya hanyut dibawa ngilu.
"Anak sama ibu tidak ada bedanya. Sama-sama sakit jiwa! Jadi laki-laki saja tidak becus! Bikin malu saja!"
Itu penutup dari semuanya.
Dia harap itu benar-benar jadi penutup hidupnya juga. Seokjin sudah tidak tahu harus melanjutkan hidup seperti apa kalau esok dia bangun dan masih bisa melihat dunia.
XXX
P.S.Heyhooo????Maaf aku baru muncul lagiii!!! Huehuehuer.Seperti biasa, aku laaama mengerjakan ini... huhuhu, mianhae reader, mianhae worldwide...Daann...Gimanaa? Apa yang harus kulakukan pada mereka selanjutnyaa?Banyakin fluff, atau realistisnya aja?(Ah? Apa chapter ini terlalu un-realistic? Apa aku jahat banget ke Seokjin? Atau ke Namjun? Atau sama kalian?)Ohya guys, aku membuka saran juga tentang peran Jaehwan yang harus kita apakan nanti kedepannya. Karena jujur, dia tokoh antagonis yang gaada di ffku sebelomnya... dan... yah? Hehehe.Maaf author notes nya jadi panjang begini. Aku berusaha untuk gak ngoceh... tp kuingin mengoceh... :"Buat review... SUPER GUMAWO MAKASIH TENGKIU XIEXIE SANKYUU ARIGATO GRACIAS DLL aku seneng bacanyaa!!! (Biarpun kayanya ada yang kaga kubalas ya?)Dan... terimakasih sudah ngebacaa! Komenkomen yaaa~OhyaSELAMAT HARI IBU, SELAMAT NATAL DAN TAHUN BARU HOHOHOH