Hello there, guys~

Akhirnya ku-update juga setelah sebulan, ehe

Berhubung ku juga ada kesibukan tersendiri di real life dan write block yang setia setiap saat macam deodoran, jadinya ku tak bisa konfirmasi kapan jadwal update-ku, maafkeun...

WARNING! THIS CHAPTER CONTAINS EXCESSIVE SEXUAL SCENE (ONLY FOR AGE 18 OR OLDER)

Jadi, bagi yang belum cukup umur dimohon dengan sangat kebijaksanaannya, ya~

Anyways, enjoy~


I Don't Even Have a Clue

"Membuatku merasakan apa yang selama ini kunantikan?" ulang Kaoru. "Tunggu, apa maksudmu, Chii-chan?"

Chisato menghela nafas. "Haaah… padahal aku sudah menyiapkan hatiku untuk segera memberikannya kepadamu sebagai hadiah atas kesuksesan move on-mu itu."

"Ya… makanya aku bertanya karena enggak paham maksudnya."

"Dasar, bakka ouji."

"Oi, jangan samakan aku dengan alien gendut pecinta satwa di Gint*ma itu, dong…"

"Heee? Bukannya kalian sebelas-duabelas, ya? Dulunya mah ganteng, tapi makin ke sini otaknya semakin geser ke dengkul."

"Mou… Chii-chan, plis jangan OOC lebih dari ini!"

"Hmm…" Chisato menyentuh dagu Kaoru. "Mesti banget nih aku bilang sejelas-jelasnya?"

Wajah Kaoru merona sekilas. "Tolonglah, demi bakka ouji-mu ini…"

Sebenarnya dalam hati Chisato sudah gemas dengan reaksi kekasihnya yang lugu nan goblok itu, tapi namanya juga Chisato… meski sedang menikmati private time dengan Kaoru, tentu saja tidak semua sisi memalukannya ia tunjukkan.

Chisato menarik lengan Kaoru sampai kepala kekasihnya itu menempel di dadanya, agar bisa mendengar suara detak jantungnya. Selain itu, Chisato juga membuat tangan Kaoru menggenggam pergelangan tangannya erat-erat agar dapat merasakan debaran dari urat nadinya.

"Apa masih belum jelas apa yang kumaksud?" tanya Chisato menahan kesal.

"Iya, iya… jantungmu berdebar kencang." Jawab Kaoru. "Kamu sedang memikirkan hal mesum?"

Chisato menundukan wajahnya untuk menutupi rona di pipinya. "Kalau 'iya', bagaimana?"

Kaoru mengelus kepala Chisato. "Kuhargai niatmu, namun maaf aku tidak mau untuk saat ini."

"Kenapa?"

"Chii-chan terlihat memaksakan diri." Jelas Kaoru. "Aku enggak mau melakukannya dengan wajahmu yang seperti itu."

Chisato tiba-tiba membuka atasannya sehingga bra ungunya terekspos dengan jelas.

"Kamu yakin masih bisa menolak setelah melihatku begini?" tanya Chisato dengan nada menantang sambil menarik Kaoru kembali dengan posisi membawahinya.

Kaoru menghela nafas kemudian menciumi leher Chisato.

"Hnggghn!" Chisato terkesiap.

"Aku berani taruhan ini akan selesai bahkan tidak sampai kamu membuka semua pakaianmu." Tukas Kaoru.

"Huh!" dengus Chisato sambil menggembungkan pipinya.

Meski pada awalnya, Chisato berniat melakukan hubungan intim dengan Kaoru. Nyatanya, Chisato tidak bisa menahan rasa malunya tatkala Kaoru menyentuh titik-titik sensitifnya. Mau tak mau Kaoru pun menghentikan permainannya karena tidak tega melihat Chisato yang wajahnya memanas seperti akan menangis. Mereka pun terpaksa menyudahinya dengan tidur saling membelakangi.


Besoknya…

"Hei, hei, Rinko-chan~ gimana kemarin di kantor polisi?" tanya Hina dengan tidak sabaran begitu berpapasan dengan Rinko di lobby.

"Ah… ya, begitulah…" jawab Rinko sambil sedikit mengingat-ingat. "Aku hanya menjelaskan apa yang kulihat saat insiden itu…"

"Eeeeh~? Masa' hanya itu?" rajuk Hina.

"Me—memangnya… Hikawa-san mau bagaimana?"

"Hmm… kupikir setelah Rinko-chan menceritakan insiden kemarin, apartemen kita akan mendapat layanan keamanan ekstra dari pihak kepolisian untuk beberapa hari ke depan gitu~"

"Bodoh, mana mungkin, 'kan?" timpal Sayo. "Berimajinasi kok yang aneh-aneh begitu kamu."

"Bicara soal keamanan…" Chisato berdehem. "Tidakkah kalian merasa ada orang-orang yang familiar di sekitar apartemen kita?"

Sayo diikuti teman-teman yang lain pun mulai memperhatikan sekeliling.

"Ah, para bodyguard wanita berpakaian hitam itu…" kata Aya.

"Fufuee… masa', sih?" sahut Kanon dengan panik khasnya setelah melihat berbagai patung Michelle di halaman apartemen.

"Yahoo~ Kanon, Kaoru, juga kalian~" sapa Kokoro sambil melompat turun dari patung Michelle yang berada di tengah air mancur.

"Ko—Kokoro/Kokoro-chan/Tsurumaki-san?!" seru kesepuluh gadis itu.

"Duh, masa' pagi-pagi wajah kalian pada muram begitu, sih?" kata Kokoro.

"Tsu—Tsurumaki-san, apa yang sebetulnya terjadi pada apartemen kami?" tanya Maya.

"Hmm?" Kokoro masih belum nyambung dengan keterkejutan para senpai-nya itu.

Sayo menghela nafas. "Apa keluargamu membeli saham apartemen ini?"

"Iya, dong~" jawab Kokoro ringan.

"Tapi… kenapa?" Chisato tak kalah penasaran.

Kokoro menghampiri Chisato. "Kudengar karena apartemen ini tidak cukup aman, Chisato sampai kehilangan senyumnya."

"Makanya aku pun memutuskan untuk membelinya dan mengelolanya di bawah perusahaan milik keluargaku, supaya tak hanya senyummu namun juga senyum semua penghuni kembali, simpel 'kan?" ujar Kokoro sambil tersenyum lebar.

"Benar-benar khas Tsurumaki-san, ya?" komentar Yukina sambil tersenyum tipis.

"Princess Kokoro, terima kasih atas kemurahan hatimu." Ucap Kaoru lebay sambil menggenggam tangan Kokoro dengan kedua tangannya.

Kenapa aku sampai merepotkan orang sebanyak ini, sih? Bahkan sampai membuat Kokoro-chan membeli apartemen ini… gumam Chisato.

"Ah, Chisato! Kok, kamu merengut lagi?" tanya Kokoro setengah mengagetkannya. "Apa jangan-jangan kamu memikirkan biaya sewanya akan naik?"

"A—ah, iya… aku agak kepikiran soal itu." Jawab Chisato bohong.

"Tenang saja, semuanya~!" seru Kokoro. "Sampai kalian lulus biaya sewa akan ditanggung oleh kami! Ini semua berlaku untuk semua mantan pelanggan CiRCLE~!"

"EEEEEEH?!" seru kesepuluh gadis itu lagi.

"Kami juga sudah mengkonfirmasikannya dengan wali kalian masing-masing." Tambah salah satu dari trio bodyguard khusus Kokoro.

"Ah, gawat! Kalian sudah mau masuk ke kelas masing-masing, ya?" ucap Kokoro yang tumben-tumbennya peka. "Hei, para wanita berbaju hitam! Cepat antar mereka ke kampus, ya!"

"Siap, Kokoro-sama!" jawab ketiga bodyguard di belakangnya.

Kemudian mereka menyiapkan limousine dan setengah mendorong kesepuluh gadis yang masih ternganga itu masuk.


Siangnya saat jam makan siang di fakultas ekonomi bisnis…

"Hei, Kanon, Aya-chan…" panggil Chisato pelan pada kedua temannya yang tengah menikmati makan siang masing-masing.

"Hmm?" sahut keduanya dengan mulut penuh.

Wajah Chisato merona. "Mungkin ini bukan pertanyaan yang pantas untuk diajukan saat sedang makan seperti ini…"

Kanon menelan makanannya dengan sedikit terburu-buru. "Tidak apa-apa, kok, Chisato-chan. Kamu sedang ada masalah, 'kan? Ceritakan saja, pasti akan kami dengarkan."

Aya pun manggut-manggut. "Benar, benar! Kalau disimpan sendiri terus nanti kamu yang pusing sendiri, lho."

Chisato pun mulai menceritakan kejadian semalam.

"Jadi, dulu bagaimana kalian melakukannya saat pertama kali?" tanya Chisato begitu selesai bercerita.

Kedua teman di hadapannya itu saling pandang dengan wajah merah padam.

"Wa—waktu itu Misaki-chan enggak sengaja melakukannya karena mabuk setelah makan banyak whiskey bonbon…" ujar Kanon.

Aya dan Chisato membelalakkan matanya. "Kok, bisa?!"

"A—awalnya saat memakannya bareng-bareng di rumah Kokoro-chan sih dia baik-baik saja… dia baru mabuk berat saat perjalanan pulang…"

"Tunggu, jadi kamu diserangnya di jalan, Kanon?!" pekik Chisato.

"Mi—Misaki-chan hanya meng-kabedon kemudian menciumku kalau di jalan… la—lalu…"

"Lalu?"

"'Aku menginginkanmu, Kanon-san' begitu katanya, sehingga aku pun membawanya ke rumahku karena dia sudah tinggal ambruk saja setelah bilang begitu…" jelas Kanon.

"Dan di rumahmu kebetulan sedang sepi karena orangtuamu sedang dinas ke luar kota, begitu?" tebak Chisato.

Kanon mengangguk. "Dan terjadilah…"

"Kamu enggak menolaknya?" tanya Chisato.

"Ma—mana bisa! Apalagi setelah melihat Misaki-chan yang otot perutnya seksi seperti itu…"

Ah, pantesan… gumam Chisato dan Aya dengan datar.

"Nah, kalau Aya-chan dengan Hina-chan gimana?" Chisato beralih ke Aya.

"E—eh?!" Aya terkesiap.

"Tenang saja, aku dan Kanon enggak akan ember, kok." Jamin Chisato disambut anggukan Kanon.

"I—itu…"

"Itu?"

"Chisato-chan ingat enggak saat kita pertama kali training camp sendiri tanpa campur tangan agensi kita?"

"Oh, musim gugur dua tahun yang lalu itu, ya?" kata Chisato berusaha mengingat-ingat.

Aya manggut-manggut. "Hina-chan melakukannya padaku saat kami latihan berdua saja di studio villa…"

"Ah, iya… waktu itu aku, Maya-chan, dan Eve-chan sedang keluar untuk membeli bahan makanan sih, ya…" ujar Chisato dengan nada sedikit menyesal.

"Memangnya Aya-chan sudah jadian dengan Hina-chan sejak dua tahun yang lalu?" tanya Kanon.

"Bisa dibilang begitu, sih…"

"Eh? Kok, kesannya seperti tidak yakin begitu, Aya-chan?" tanya Kanon heran.

"Yah, kalian 'kan tahu sendiri Hina-chan kayak gimana… waktu itu saja rasanya aku seperti dipermainkan olehnya karena dia tak pernah serius!" ujar Aya.

Chisato dan Kanon pun mengusap-usap punggung Aya.

"Kalau sekarang gimana?" tanya Chisato kemudian.

Aya tersenyum sambil memandangi cincin yang tersemat di jari manisnya. "Perasaannya sama denganku, dia tak pernah main-main denganku semenjak pertama kali melakukannya."

Kanon tertegun melihat senyuman Aya. "Senyum gadis yang sedang jatuh cinta memang beda, ya?"

"Momou… apaan, sih, Kanon-chan?" dengus Aya. "Kamu sendiri juga tadi terlihat mesum saat mengingat-ingat abs-nya Misaki-chan!"

"Sudah, sudah~ sesama gadis yang sedang jatuh cinta jangan saling meledek~" Chisato sok-sok melerai sambil menahan tawa.

"Ngaca sana!" seru Kanon dan Aya kompak pada Chisato.

Ketiganya pun tertawa.


"Ah, Kaoru." Ucap Chisato spontan begitu melihat kekasihnya sudah menunggu di depan kelasnya.

"Sudah selesai?" tanya Kaoru.

"Iya, ayo pulang." Jawab Chisato sambil memeluk lengan Kaoru.

Kaoru tersenyum tipis dan mulai berjalan.

Kabar tentang jadiannya Kaoru dan Chisato sudah menyebar ke seluruh penjuru kampus. Meski banyak dari para penggemar mereka yang #PatahHatiNasional , tidak sedikit juga yang mendukung hubungan mereka. Maka tidaklah heran banyak yang menganggap Kaoru dan Chisato sebagai pasangan yang relationship goal banget.

"Hari ini kita mau langsung pulang memangnya?" tanya Kaoru di tengah perjalanan.

"Hmm? Memangnya ada tempat yang ingin kamu kunjungi?"

"Bukan tempat, sih… tapi ya itu…" jelas Kaoru sambil menunjuk Misaki dan Kanon yang sudah menunggu mereka.

"Sore, Shirasagi-senpai, Kaoru-san." Sapa Misaki dengan datar seperti biasa.

"Selamat sore juga, Kanon, Misaki-chan~" balas Chisato ramah.

"Chi—Chisato-chan, kalau enggak keberatan gimana kalau kita double date?" ajak Kanon.

"Eh? Hmm… boleh saja, sih." Jawab Chisato. "Kok, kamu baru ngajak sekarang, bukannya dari tadi saja saat kuliah?"

"Misaki-chan mendadak datang, sih…" jelas Kanon.

"Kalau senpai sibuk, tidak ikut dengan kami juga tak apa-apa, kok." Kata Misaki.

"Aku mau, kok." Tukas Chisato. "Kaoru juga, nih… kamu tahu, tapi enggak langsung ngomong sama aku."

"Ahahahaha, maaf, maaf~" ucap Kaoru.

Mereka berempat pun berkunjung ke café cabang dari Hazawa coffee.


"Selamat datang—ah, Chisato-san!" sambut Tsugumi.

"Eh, Tsugumi-chan? Kok, kamu di sini?" tanya Chisato.

"Aku disuruh ayah untuk mengecek café cabang kami yang ada di sini." Ujar Tsugumi. "Setiap bulan aku rutin ke sini, kok."

"Oh, kirain untuk melepas kangen dengan Sayo-san." Celetuk Misaki sambil melirik gadis bersurai teal yang duduk di meja counter.

Sayo yang sedang minum kopi pun langsung menyemburkannya karena kaget. "Uhuk, uhuk! Okusawa-san!"

"Syukurlah, sepertinya kalian makin akrab saja." Kata Kaoru yang melihat sekilas bekas hickey di leher Tsugumi. "Ah, benar-benar hakanai~"

"Ahahahaha… ayo, silakan duduk." Kata Tsugumi.


Setelah mencatat pesanan kedua pasangan itu, Tsugumi beranjak ke dapur untuk memberikannya pada chef dan barista di sana.

"Usaha keluarga Hazawa benar-benar semakin maju, ya?" komentar Kaoru sambil memandangi sekeliling café.

"Meskipun ini cabangnya, suasananya tidak jauh berbeda dengan café utama di kota asal kita, ya?" timpal Kanon.

"Iya, ya…" Misaki dan Chisato menyahuti sekenanya.

Begitu pesanan mereka datang, mereka pun menikmatinya sambil mengobrol ringan. Ketika mendapati Tsugumi yang hendak ke ruang manajer café, Chisato pun beranjak dari meja dan menyusulnya.

"Ada apa, Chisato-san?" tanya Tsugumi ramah.

Chisato tersenyum tipis. "Syukurlah, hubunganmu dengan Sayo-chan semakin akrab, ya?"

"E—eh? Kok, lagi-lagi soal itu?"

"Bukan apa-apa, kok. Hanya saja…" Chisato menghela nafas dengan berat. "Sepertinya aku agak iri dengan kalian yang ternyata tidak malu untuk menunjukan perasaan ke satu sama lain…"

"Aku tahu, kok… cinta tidak harus selalu diungkapkan dengan kontak fisik yang intim, tapi tetap saja…"

Tsugumi menjadi cemas melihat Chisato yang semakin down sehingga ia merangkul sambil mengusap lembut punggung mungil itu. "Chi—Chisato-san…"

"Aku ingin Kaoru menyentuhku, lebih dari sekedar ciuman maupun pelukan…" isak Chisato.

"Chisato-san, silakan." Tsugumi menarik kotak tisu di meja ke hadapan Chisato.

"Te—terima kasih, Tsugumi-chan…" Chisato menarik secukupnya untuk menyeka air matanya. "Maaf, pasti kamu berpikir aku ini aneh… atau bahkan mesum karena sebegitu inginnya untuk disentuh oleh si bodoh itu."

Tsugumi menggeleng. "Tidak sama sekali, kok. Lagipula aku paham perasaan itu, Chisato-san."

"Eh?"

"Chisato-san sendiri juga tahu 'kan Sayo-san itu kaku dan sangat enggak peka?"

Chisato manggut-manggut.

"Oleh karena itu, aku sendiri butuh waktu cukup lama untuk mengkodenya agar dia paham apa yang sebetulnya kuinginkan."

Tsugumi tertawa ringan. "Jika dibandingkan kalian, hubungan kami lebih ribet, lho~ membuat seorang Sayo-san lepas dari sifat kakunya itu lamaaaa banget, hihihi~"

Chisato menghela nafas seolah kurang puas dengan pendapat Tsugumi.

"A—ah, maaf… aku jadi keasyikan bicara sendiri." Ucap Tsugumi canggung.

"Soal rasa ingin saling menyentuh itu sebetulnya kami sudah cukup sinkron, namun masalahnya ada di aku, Tsugumi-chan…"

"Umm… maksudnya?"

"Aku ingin Kaoru menyentuhku, namun… aku enggak kuat menahan rasa geli…" ujar Chisato dengan wajah merah padam. "Aku masih terlalu malu dan takut akan reaksinya…"

"Owalah, itu toh masalahnya…" respon Tsugumi hampir bersamaan dengan Kanon dan Aya yang sudah cukup lama menjulurkan kepala mereka dari pintu yang dibuka sebagian.

"Tunggu, Kanon?! Aya-chan?! Sejak kapan kalian di situ?!" pekik Chisato.

"Dari tadi, sih…" jawab Aya. "Aku juga ke sini karena dipanggil Kanon-chan."

"Chisato-chan curang, nih…" ujar Kanon sambil tertawa garing. "Masa' curhatnya cuma ke Tsugumi-chan?"

"So—soalnya… kalian pertama kali melakukannya karena inisiatif dari pasangan kalian masing-masing, 'kan…" jawab Chisato. "Makanya aku kurang bisa relate dengan pengalaman yang kalian punya."

"Iya, iya… maafkan kami, ya, Chisato-chan~" ucap Aya sambil memeluk Chisato diikuti dengan Kanon dan Tsugumi yang juga memeluk gadis bersurai pirang itu.

"Momou… sesak, tahu." Keluh Chisato sambil tertawa kecil.

"Nah, karena Chisato-chan sudah mulai tersenyum, boleh dong dimulai lagi curhatnya?" kata Kanon.

Chisato pun kembali curhat sambil meminta saran pada ketiga temannya itu.


"Ke belakangnya lama banget sih mereka?" keluh Misaki sambil mengaduk-aduk minumannya karena bosan. "Rasanya jadi seperti sedang kencan buta saja."

"Ayolah, Misaki~ jangan merengek seperti itu." Tegur Kaoru dengan gaya sok gantengnya. "Mungkin saja para gadis itu ingin membicarakan hal yang tak boleh didengar kita."

"Ah, atau mungkin Misaki cemburu, takut Kanon ditikung salah satu dari tiga koneko-chan di sana?" goda Kaoru.

"Hah? Apaan, sih? Ngaco aja." Jawab Misaki jutek.

"Fufufu, posesif itu tidak baik, lho~"

"Dibilangin, aku enggak cemburu atau apa juga…"

Tak terasa para gadis itu sudah kembali.

"Kaoru, ayo pulang." Ajak Chisato.

"Oh, kamu sudah selesai?" Kaoru bertanya balik.

"Iya, buruan makanya." Jawab Chisato sambil menarik lengan Kaoru dan meraih tasnya.

"Kami duluan, ya!" pamit Kaoru dan Chisato sambil berlalu.

"Astaga, Shirasagi-san gaspol banget." Komentar Sayo.

"Baru mau ngomong gitu aku." Sahut Misaki.


Malamnya…

"Acara TV-nya membosankan, ya? Mau ganti channel?" tanya Kaoru sambil menoleh ke kekasihnya yang tengah bersandar di pundaknya.

"Enggak usah, lama-lama malas juga nonton." Jawab Chisato sambil menekan tombol off pada remote.

"Oh, ya sudah…" ucap Kaoru sambil meraih novel di meja.

Chisato merebut novel itu dan membaringkan kepalanya ke paha Kaoru.

"He—hei… jangan iseng, dong. Aku mau lanjut membacanya…" rajuk Kaoru.

"Tapi aku maunya quality time sama kamu, bagaimana dong?"

Kaoru menghela nafas. "Kamu ingin bermesraan denganku?"

"Mencoba membiasakan sih lebih tepatnya…"

"Hmm?"

Chisato bangun kemudian duduk. "Aku ingin kamu menyentuhku."

"Di bagian mana?"

"Mengusap perlahan saja dari wajah hingga ke bawah." Jelas Chisato.

Kaoru mulai paham. "Ah, iya… Chii-chan sejak dulu selalu risih dengan skinship sih, ya…"

"Makanya kamu jadi lebih mudah merasa tergelitik."

"Kamu mau 'kan bantu aku?" tanya Chisato sambil meletakkan tangan kanan Kaoru di pipinya.

"Aku ingin dekat denganmu, namun aku tak tahu lagi caranya selain ini…"

"Tentu saja, Chii-chan." Kaoru menyanggupi. "Kalau sudah enggak kuat menahan geli, bilang saja, ya?"

Kaoru pun mulai membelai lembut dari ujung kepala, kemudian pipi, leher…

"Chii-chan…"

"Hmm?"

"Boleh aku membuka pakaianmu?"

"U—untuk apa?"

"'Kan kamu yang bilang agar terbiasa…" ujar Kaoru.

"Ka—kamu hanya akan menyentuhnya, 'kan?" selidik Chisato.

"Iya, aku hanya akan menyentuhnya dengan tanganku, kok…" jawab Kaoru. "Aku tak akan menciumi tubuhmu seperti tempo hari."

"Ya sudah, lakukan sesukamu." Ucap Chisato pasrah.

Kaoru melucuti atasan Chisato, namun masih menyisakan branya.

"My Juliet, Chisato…" bisik Kaoru sambil mengelus dari leher hingga dada.

"Hnggh…" Chisato agak tergelitik karena nafas Kaoru tepat di depan telinganya.

Kaoru menekan-nekan dengan lembut bagian paling menonjol, bagian paling sensitif yang disembunyikan bra itu.

"Nnnnnh…!"

Berbeda dengan sebelumnya, Kaoru kali ini membuka satu-satunya pelindung bagian atas tubuh mungil itu tanpa permisi.

"Hyaaaa…!" jerit Chisato kaget sekaligus malu sambil menutupi payudaranya dengan kedua tangan.

"Kamu masih belum siap?" tanya Kaoru. "Aku sudah terbiasa melihatnya saat kita mandi bersama, 'kan?"

"Te—tetap saja rasanya beda, tahu…" jawab Chisato dengan wajah merah padam.

"Ya sudah, kalau maumu hanya sampai sini maka akan kusudahi sa—"

"Tunggu!"

Kaoru menoleh ke belakang.

"Aku 'kan hanya malu, lantas kamu langsung berhenti karena itu?" kata Chisato.

"Bukankah ini reaksi yang wajar untuk kuberikan?"

"Haaah… baiklah, baiklah." Ucap Kaoru sambil menggaruk tengkuknya. "Makanya singkirkan dulu tanganmu dari sana."

Kaoru kembali ke posisi membawahi Chisato yang berbaring di sofa.

Chisato pun memejamkan matanya, menajamkan indera perabanya. Sentuhan Kaoru pada payudaranya kembali merangsangnya, dapat dirasakan dirinya nyaris mencapai puncak ditandai dengan kedua putingnya yang menegang.

Namun Kaoru tak memegang janjinya, gadis bersurai ungu itu mendekatkan kepalanya ke depan kedua buah dada itu dan mulai menjilati serta menghisap putingnya secara bergantian.

"Ngaaaaah!" Chisato menjerit sejadi-jadinya sampai air matanya menetes.

Sementara mulutnya sibuk merangsang payudaranya, tangannya yang bebas mengelus kemaluan Chisato yang masih terlindungi oleh celana dalamnya. Sambil tetap menghisap puting Chisato layaknya bayi yang menyusu pada ibunya, kedua tangannya melucuti rok dan celana dalam Chisato membuat kekasihnya itu benar-benar telanjang bulat kali ini.

"Sudah mulai basah, ya? Tapi ini masih belum puncaknya…" ucap Kaoru sambil memasukkan telunjuknya ke lubang kebahagiaan dunia itu dan mulai mengocoknya.

"Kaoru… Kaoru…!" jerit Chisato sampai kakinya menendang-nendang.

"Berusahalah, sebentar lagi saja, Chii-chan…"

Kaoru menambahkan jumlah jari yang dimasukannya. Dari yang hanya satu, kemudian menjadi dua jari. Tangannya dengan lincah merangsang bagian intim gadis pujaannya hingga ia hanya mampu pasrah dengan desahan erotis yang tak henti-hentinya keluar dari mulutnya.

"Ngggghn… Kaoru, ja—jangan… hentikan, kumohon…" pinta Chisato dengan lenguhan nafas dan isakan menjadi satu.

"Berpeganganlah denganku, kamu hampir sampai."

Chisato pun menurut dan memeluk leher Kaoru erat.

"Tidak apa-apa, menjeritlah."

"Nggggghn… hyaaaahn…!" jerit Chisato tepat saat bagian intimnya menyemburkan love juice-nya dengan cukup banyak, tanda ia telah sampai pada klimaksnya.

"Omedetou…" Kaoru mengecup bibir Chisato kemudian menjilati cairan yang membasahi tangannya.

Chisato hanya bisa mengangguk dengan lemas.

"Kao-chan curang… katanya tadi hanya pakai tangan?"

Kaoru tersenyum penuh kemenangan. "Kalau hanya pakai tangan, belum tentu aku bisa melihat Chii-chan yang semanis tadi~"

"Bakka Kao-chan…" dengus Chisato sambil menutupi bagian atas tubuhnya dengan pakaiannya.

Kaoru hanya tersenyum meledeknya.

Chisato membalas ciuman Kaoru dengan French kiss sambil mengelus pelan bagian selangkangan kekasihnya itu.

"Sikapmu boleh saja tenang saat menggodaku, namun junior-mu sepertinya tidak, ya~?" Chisato balas menggodanya.

"Ahahahaha…" Kaoru tertawa canggung.

Chisato pun mengenakan kimono mandi sebagai ganti pakaiannya, kemudian ia meraih kondom di laci obat-obatan.

Lalu, Chisato pun duduk di pangkuan Kaoru.

"Hei, Kao-chan…" kata Chisato dengan nada menggoda sambil menggigit bungkus alat kontrasepsi itu.

Kaoru menelan ludah melihat kekasihnya yang semakin erotis, memacu nafsu birahinya.

"Kalau kamu mau mencobanya malam ini, aku siap, kok…" ujar Chisato. "Bagaimana jawabanmu?"

"Ini akan menyakitkan, lho… yakin kamu?"

"Don't ruin the mood again, bakka Kao-chan." Gerutu Chisato sambil menggembungkan kedua pipinya.

Kaoru tertawa. "Well, if you don't mind…"


Hayooo... yang baca sampai habis padahal belum cukup umur

Kerad juga kamu, ya