Warning : Teen-adult scene of KaibaxJou. Character death. Soap opera scene. Etc...
Dsclaimer : Yu-Gi-Oh isn't mine. I'm sure you've known it.
SEPTEMBER
"Hei, Yugi!!" Sebuah suara memanggil. Yugi memiringkan badannya sedikit dan melihat Jounochi berlari ke arahnya sambil menarik Kaiba yang terlihat ogah-ogahan. Dia tersenyum ketika Jounochi berhenti dan membungkuk karena lelah berlari.
"Apa, Jou?" tanyanya. Jounochi menegakkan tubuhnya dan memberi Yugi tatapan kesal.
"Kok 'apa'?!" mulainya kesal. "Apa gitu caramu menyapa sahabat yang tidak ditemuinya selama sebulan!!?" Dia menusuk-nusukkan jarinya ke bahu Yugi. "Cuma karena libur, bukan berarti lu dingin gitu, dong! Asal lu tau, gw berkali-kali ke rumah lu tapi kakek lu selalu bilang kalo lu nggak ada!!"
Yugi terdiam menatapnya sesaat sebelum menjawab. "Maaf, Jou. Aku sibuk." Yah... itu tidak sepenuhnya bohong. Dia memang sibuk mengurus Atem.
Jounochi menghela nafas. "Yah... sudahlah." Dia melirik Kaiba yang tidak terdengar suaranya dari tadi. "Lu kenapa, jamur!? Tumben nggak ngomong. Ini Yugi, lho!"
"Lu pengen gw ngomong apa, mutt. Emang kenapa kalo dia Yugi, gw juga tahu itu. Mata gw bisa melihat, nggak kayak elo, anjing rabun."
Urat mencuat di dahi Jounochi, wajahnya merah karena marah. "Apa lu bilang..."
"Ya ampun, bukan cuma rabun, sekarang lu juga budeg."
Jounochi melayangkan tinjunya ke arah pipi Kaiba, tapi direktur perusahaan itu menangkap kepalan kekasihnya dengan tangan kanannya. Yugi hanya menghela nafas maklum melihat dua temannya adu jotos.
Hhhh.... kekasih zaman sekarang Love Quarrelnya (Pertengkaran kekasih) pake kekerasan, ya.
"DIEM, NARATOR!! BACOT SEKALI LAGI GW BANTE LU!!!"
Se-sereeeeeem....
Sebuah lagu evanescence menghentikan mereka berdua. Yugi merogoh kantong celananya dan mengeluarkan ponselnya. Dia berjalan ke arah pohon untuk bersandar, ponsel di telinga.
"Halo?"
-"Yugi?!"-
"Ya. Ini aku."
-"Yugi, gawat!! Kakekmu..."-
Mata Yugi melebar, tubuhnya kaku. Ponsel terlepas dari genggamannya dan jatuh ke tanah. Jounochi melihat hal itu langsung berlari ke sisinya untuk mengambil ponsel Yugi yang tergeletak di tanah dan melihat tubuh Yugi gemetar. Dia meletakkan kedua tangannya di bahu Yugi.
"Yugi! Ada apa?!" tanya Jounochi khawatir sambil mengguncang sedikit tubuh Yugi. Yugi menautkan kedua alisnya, tatapannya hampa dan dingin.
"Kakek..." gumamnya. "Rumah sakit..."
"Apa?"
Yugi berbalik dan menatap Kaiba serius. "Kaiba, antar aku ke rumah sakit."
Kaiba terdiam menatapnya, sebelah alis terangkat. "Kenapa?"
Direktur itu terkejut ketika tiba-tiba Yugi menariknya dan Jounochi berlari menuju gerbang kampus dan ke tempat parkir di mana limousine milik Kaiba terparkir dengan megahnya. Dia kemudian mendorong Kaiba dan Jounochi masuk, disusul dia sendiri masuk ke dalam mobil dan menyuruh supir untuk mengendarai mobil ke arah yang dituju.
Yugi bersandar di bangku mobil dan menghela nafas. Jemarinya menyisir poninya yang menutupi kedua mata ungu itu. Wajahnya terlihat stres. Terlihat tangannya gemetar sementara sebelah tangannya terkepal di atas kursi.
"Apa-apaan kau, Yugi?" tanya Kaiba dingin. "Bukan hanya menarik paksa kami, kau juga membajak mobilku. Apa maksudmu?"
Yugi melirik Kaiba diam, membalas tatapan dingin yang dilancarkan direktur perusahaan itu. Aura dingin menyeruak, sehingga Jounochi – yang menjadi korban tak bersalah karena duduk di tengah mereka – melerai kedua rival duel monster itu.
"Sudah, sudah! Cukup, kalian berdua!" serunya kesal dengan kedua tangan terentang. Dia menoleh ke arah Yugi. "Ke mana kita pergi, Yugi?"
Yugi menatapnya sesaat, sebelum mengalihkan tatapannya ke depan. "Rumah sakit."
Jounochi mengangkat sebelah alis. "Kenapa?"
Yugi memejamkan mata dan menghela nafas. Sebelah tangan menopang dahinya. "Kakek sekarat."
Mata Jounochi dan Kaiba melebar. "Sekarat?" ucap Jounochi tak percaya.
"Ya..." Sekali lagi, Yugi menghela nafas. Jounochi menautkan kedua alisnya.
"Kenapa?" tanyanya. Tanpa sadar, Yugi mencengkeram pegangan pintu kuat-kuat.
"Entahlah. Aku hanya mendengar bahwa kakek sekarat sebelum menjatuhkan ponsel."
Jounochi terkesiap seakan menyadari sesuatu. "Ah! Yugi," dia merogoh sakunya dan memberikan ponsel ke Yugi. "ini ponselmu."
Yugi menerimanya terdiam. "Thanks..." gumamnya sebelum menatap ke depan lagi.
**************************
[R.S.U DOMINO]
Yugi berlari melewati koridor disusul Jounochi dan Kaiba dibelakangnya. Dia melihat Isis berdiri dengan punggung bersandar di dinding dekat pintu. Gadis itu melihat Yugi dan menghampirinya.
"Yugi..." gumamnya. Lelaki yang bersangkutan menatapnya sesaat.
"Isis... kakek...?" Yugi berusaha mengambil nafas. Isis baru akan menjawabnya ketika pintu terbuka dan para dokter dan suster keluar.
"Bagaimana, Dok?" tanya Isis. Dokter terdiam menatap mereka sesaat sebelum menggelengkan kepala. Mereka berempat terbelalak.
Tanpa pikir panjang, Yugi langsung masuk ke ruangan dan melihat kain panjang telah menutupi seluruh tubuh kakeknya. Perlahan, dia membuka kain itu.
Sekarang, jantung Yugi berdetak lebih kencang dari biasanya. Kain yang dia pegang terlepas dan jatuh di atas tubuh kakeknya yang telah tak bernyawa.
'Tidak, tidak, tidak...'
"TIDAK!!" jeritnya keras. Jounochi langsung berlari ke sisinya dan memeluknya simpatik. Lelaki berambut pirang itu bisa merasakan getaran dari tubuh Yugi di tubuhnya.
Selama ini Yugi tahu bahwa kakeknya adalah seorang pria yang sangat kuat. Jounochi pun begitu, dia menganggap Sugoroku adalah seorang kakek yang luar biasa... seorang kakek yang telah berjuang menghidupi dan menemani cucunya sampai dewasa. Tetapi melihatnya terbaring dengan tubuh kosong tanpa nyawa di ranjang rumah sakit seperti saat ini, membuat hati mereka terasa sesak.
Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya Yugi bisa menenangkan diri. "Jou... Kaiba..." gumamnya pelan. "tolong keluar sebentar. Aku ingin berbicara dengan Isis."
Jounochi membuka mulutnya, ingin membantah, tetapi Kaiba mengapit lehernya dengan tangan kanannya dan menyeretnya keluar ruangan. Yugi menoleh ke arah Isis.
"Apa yang terjadi?" mulainya dingin, dia berusaha untuk tetap kuat.
"Entahlah..." jawab Isis pelan. "Saat itu, aku dan Malik mampir ke rumahmu – ingin memeriksa keadaan Pharaoh – tetapi saat kami tiba di sana, rumahmu berantakan dan kami melihat kakekmu terbaring di lantai ruang tengah sudah tak bernafas lagi."
Yugi menunduk, kedua matanya menyipit. Tiba-tiba matanya melebar seakan dia mengingat sesuatu. "Atem!" serunya tersentak. "Bagaimana dengan Atem?"
Isis menggigit bibir bawahnya. "Dia... dia ditemukan di tangga berlumuran darah, luka-luka di sekujur tubuhnya." Wanita mesir itu menghela nafas. "Beruntungnya, nyawanya tidak terancam. Saat ini dia ada di ranjang, tak sadarkan diri. Malik dan Anzu ada untuk merawat dan menjaganya."
"Anzu?" Yugi mengangkat sebelah alis bingung.
"Ya. Setelah kami berdua menemukan Sugoroku dan Pharaoh, Anzu kebetulan datang untuk mampir."
"Hm..." Yugi terdiam cukup lama sembari mengibaskan poni yang menutupi mata kakeknya dengan jemarinya. "Isis, mungkin ini permintaan yang sangat merepotkanmu – dan aku minta maaf karena telah memintanya – tapi..." Yugi menghela nafas berat. "...maukah kau mengurus pemakaman kakekku?"
Tidak mendengar apapun dari Isis, Yugi melanjutkan. "Aku... saat ini aku ingin menenangkan diriku dulu – tidak yakin berapa lama waktu yang diperlukan – dan memastikan Atem baik-baik saja. Tetapi, aku tidak bisa terus membiarkan kakek terbaring di tempat ini untuk waktu yang lama, dia..."
"Baiklah." potong Isis tersenyum. "Lagipula, ini tidak seberapa dengan hutangku dan Malik atas jasamu membebaskan rantai yang mengikat keluarga penjaga makam."
Yugi tersenyum. "Terima kasih." Dia berbalik dan berjalan ke arah pintu. Dia berhenti di ambang pintu dengan tangan memegang gagang pintu siap untuk membukanya. "Tapi Isis..." Yugi berbalik dan tersenyum hangat. "Kebebasan keluargamu bukan karena diriku, melainkan karena usaha kalian sendiri." Kemudian, dia membuka pintu dan keluar, meninggalkan Isis yang matanya melebar terkejut bersama tubuh Sugoroku.
*******************************
"Kau yakin tidak ingin aku menemanimu?" tanya Jounochi, sementara Yugi membuka pintu mobil.
"Tidak." Yugi melangkah ke luar mobil dan membungkuk agar bisa bertatapan dengan dua temannya. "Terima kasih atas tawaranmu, Jou. Tetapi, saat ini aku sedang ingin sendiri. Maaf."
Jounochi menghela nafas dan tersenyum, walau masih ada ketidakrelaan di matanya. "Ya sudahlah, jika kau berkata begitu."
Yugi membalas senyumannya. "Kaiba, terima kasih atas tumpangannya dan maaf karena telah menarik paksa kalian dan membajak mobilmu tadi."
Kaiba hanya mendengus dan memalingkan wajahnya dingin. Yugi tersenyum maklum.
"Nah... kalau begitu..." Yugi menutup pintu mobil dan memasukkan tangannya ke kantong celana. "Sampai jumpa, Jou, Kaiba." Dia berdiri di depan rumahnya sampai limousin itu pergi sebelum masuk ke dalam rumahnya.
-
"Kaiba..." gumam Jounochi sambil menyandarkan tubuhnya di bangku mobil. "Apa kau menyadari sesuatu dari Yugi?" tanyanya.
Kaiba menoleh ke arahnya tanpa ekspresi. "Memangnya kenapa?"
"Entahlah..." Jounochi menghela nafas. "Dia... menyembunyikan sesuatu..." lanjutnya lirih. Kaiba hanya menatapnya.
Tidak mendengar apapun dari Kaiba, Jounochi melanjutkan perkataannya. "Selama ini dia tidak pernah menyembunyikan apapun dariku. Apa sekarang aku tidak dipercaya olehnya?"
Kaiba menghela nafas dan dia mengulurkan lengannya untuk merangkul bahu kekasihnya. "Jika dia tidak mempercayaimu lagi, dia tidak akan membiarkanmu mendekatinya."
"Aku tahu itu..." gumam lelaki pirang itu. "Aku tahu... tapi tetap saja..."
"Sudahlah..." Kaiba menangkupkan tangannya di pipi Jounochi dan menatapnya lembut. "untuk saat ini jangan pikirkan hal itu."
Jounochi membalas tatapan Kaiba. "Ya... kau benar." Saat ini dia sangat bersyukur ada Kaiba di sisinya, karena ciuman dari kekasihnya itulah satu-satunya yang bisa meringankan kegundahan hatinya.
****************************
Walau dia mengetahuinya dari cerita Isis, dia tidak pernah mengira akan separah ini. Yugi merasakan sesuatu yang mencengkeram dan menekan dadanya tatkala dia melihat sesosok tubuh penuh balutan perban terbaring tak berdaya di atas ranjang.
Atem terlihat pucat. Dia tak bergerak bagaikan tubuh yang telah mati, satu-satunya yang menandakan kehidupan pada gadis itu hanyalah dadanya yang naik-turun seiring oksigen yang dihirupnya.
"Yugi." Suara Anzu membawanya kembali dari lamunannya. Yugi perlahan berjalan dan duduk di lantai dekat ranjang tempat Atem terbaring. Tangannya perlahan menggenggam tangan lemas Atem, pandangannya kosong.
Anzu merasa bahwa ini saatnya untuk pergi meninggalkan Yugi dan Atem sendiri.
Tiga hari berlalu. Atem tidak kunjung membuka matanya. Anzu dan Malik merasa khawatir pada Yugi, karena lelaki itu tidak pernah meninggalkan kamar. Yugi terus berada di sisi mantan pharaoh itu, dengan sabar... menunggunya membuka mata. Tetapi kali ini, Yugi benar-benar depresi.
"Atem..." gumam Yugi lirih. "Kumohon... buka matamu..." lanjutnya depresi, tidak mempedulikan Anzu yang baru masuk sambil membawa makanan untuknya. Genggamannya di tangan Atem semakin erat.
Dia bisa merasakan gerakan di dalam genggamannya.
Tunggu. Gerakan?
Mata Yugi melebar. Dia melihat kedua mata Atem yang tertutup berkedut dan perlahan terbuka. Mata Anzu pun melebar melihatnya. Sepasang bola mata merah itu bergerak pelan.
"Aibou..." panggil Atem pelan. Yugi mengelus pipi Atem dengan tangannya yang gemetar. Gadis itu tersenyum sembari menutup mata, menghanyutkan diri dalam kehangatan tangan itu.
Atem berusaha bangkit untuk duduk ketika rasa sakit menjalar di sekujur tubuhnya. Dia mengernyit dan mengerang sakit. Yugi memaksa Atem berbaring kembali sementara Anzu memanggil Malik untuk membawakan air dan obat.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Yugi. Anzu dan Malik sibuk mengganti perban Atem. Gadis mesir itu terdiam melirik Yugi, rasa sesal terlihat di matanya.
"Hancur..." jawab Atem pelan. "Kegelapan menyelimuti ketika... akh-!" Atem mengerang sakit. Malik tersentak.
"Ah... maaf, Atem!" kata Malik. Atem menggeleng pelan, dan Malik melanjutkan membalut tangan Atem.
Atem menghela nafas, pandangannya kosong. "Satu jam setelah kau berangkat ke kampus, kegelapan pekat menyelimuti rumah. Aku tidak tahu apa itu, jadi aku turun ke bawah untuk mencari kakek. Tapi, aku menemukan kakek sudah terbaring di ruang tengah, tak bernafas lagi." Gadis itu menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan ceritanya. "Aku merasakan ada seseorang selain kami berdua, jadi aku langsung mengejarnya saat melihat siluet seseorang di tangga. Tiba-tiba angin menerpa dan kemudian tubuhku penuh luka seakan angin itu menebas tubuhku. Aku jatuh di tangga, saat itulah aku mengadah dan melihat..."
"Kau melihat apa?" tanya Yugi khawatir saat melihat Atem gemetar.
"Aku melihat..." gumam Atem, menelan ludah. "...Yami Bakura..."
Mata Yugi, Anzu, dan Malik melebar terkejut. Kegiatan mereka terhenti.
'Yami Bakura? Tapi... itu...'
"Mustahil..." gumaman Malik menyelesaikan pikiran mereka. "Itu mustahil!! Bukannya Bakura telah musnah karena kalah dari Yugi!!"
Yugi dan Anzu mengangguk.
"Itulah yang tidak kumengerti..." Atem mempererat pegangannya di tangan Yugi. "Aku tahu bahwa Bakura telah musnah. Sekarang juga Ryo tidak memegang Millenium Ring lagi, 'kan?"
Anzu mengangguk. "Ya. Millenium Ring telah terkubur bersama Millenium Item lainnya di makam... eh..." Dia menggigit bibirnya ragu. "Anu..."
"Makamku?" lanjut Atem. Anzu mengangguk.
Yugi menunduk. Poni menutupi kedua matanya. Giginya gemeretak pelan, wajahnya mengeras.
"Aibou..." panggil Atem. Yugi masih diam, dia berdiri dan berjalan ke luar kamar dengan terburu-buru. Anzu dan Malik menatap kepergiannya dengan pandangan tahu dan simpati.
Di luar, Yugi menyandarkan tubuhnya di dinding dan merosot sampai dia terduduk dengan kedua tangan di atas lutut dan kepala menyuruk di tangannya.
****************************
Beberapa hari kemudian, setelah pemakaman yang menusuk hati, hanya ada satu orang yang berdiri di depan nisan yang dipenuhi foto dan bunga-bunga. Hujan deras membasahi orang tersebut tanpa ampun.
Jounochi tahu siapa orang itu. Walau hujan menutupi pandangannya... walau dia melihatnya melalui kaca mobil... walau dia hanya bisa melihat siluetnya... dia tahu bahwa Yugi masih berdiri di depan makam kakeknya, mengesampingkan hujan deras yang mengguyur seakan dewi langit ikut menangis. Pemandangan ini membuat hati Jounochi terasa sakit.
Tapi, dia melihat sesuatu. Siluet seseorang, yang sepertinya seorang wanita, mendekati Yugi dan mengulurkan payung padanya. Sebelah alisnya terangkat.
Siapa wanita itu?
-
Yugi bisa merasakan dinginnya air hujan yang menusuk tubuhnya, tapi dia tidak mempedulikannya. Rasanya baru saja dia melihat kakeknya dan Atem memasak bersama di dapur, tapi sekarang dia sudah ada di bawah tanah... terkubur di dalam peti.
Dia menunduk, kedua tangan terkepal gemetar di sisi tubuhnya. Darah mengalir dari sudut bibirnya karena digigit begitu keras. Dia kemudian menyadari bahwa hujan tak lagi mengguyur tubuhnya... dan juga sebuah payung melindunginya dari hujan deras ini.
Awalnya, Atem hampir yakin bahwa Yugi gemetar karena udara dingin yang menggigit dan juga hujan deras yang menerpa. Tapi setelah didekati, mengesampingkan hujan, Atem menyadari air mata yang berusaha Yugi tahan mengalir di pipi lelaki itu. Dan itu menusuk hatinya.
Setelah waktu yang lama dan membekukan, Yugi berbisik, begitu pelan sampai Atem nyaris tidak mendengarnya. "Dia... dia sekarang berada di tempat yang lebih baik, kan?" Air mata itu masih mengalir di wajahnya. "Aku... aku bertaruh dia sedang mengawasi kita sekarang... nyengir dan menyeringai mengejek melihatku seperti anak-anak."
Atem tidak tahu harus mengatakan apa. Apa yang harus dia katakan dalam situasi ini? Tapi, bagaimanapun, dia mendengar dirinya sendiri berbisik.
"Ya..." gumamnya sangat pelan, perasaan yang melandanya ini tak tertahankan. "Aku yakin..."
Dia tidak yakin apa kata-katanya yang menyebabkannya, atau hal lain. Tapi beberapa saat kemudian, Yugi benar-benar jatuh berlutut, isakan berat sampai sulit bernafas terdengar darinya.
Dan Atem pun mengerti. Dia mengerti bagaimana rasanya ditinggalkan oleh seorang yang disayangi... seorang yang merupakan keluarga. Rasa kehilangan itu akan terus membekas di hati sampai terasa sesak.
Di saat itu, tak masalah betapa dia ingin menjauhi Yugi, Atem tak bisa menahan kedua lengannya memeluk tubuh Yugi yang gemetar. Air mata menggenang di matanya ketika partnernya mencengkeram punggungnya, bergantung padanya dan tak ingin melepaskannya.
Atem menyadari... bahwa betapa panjang jalan yang harus ditempuh sampai Yugi bisa bertahan tanpa dirinya. Dia hanya bisa berpikir apakah sepuluh setengah bulan cukup untuk melalui jalan itu...
Atem menutup matanya dan memeluk lelaki yang ada di tangannya lebih erat. Dan di saat itu... pertama kalinya setelah bertahun-tahun... dia tak bisa menahan perasaannya untuk mengalir deras.
Di dalam mobil, Jounochi menyaksikan siluet dua orang yang saling berpelukan di bawah derasnya hujan. Dalam hati, dia bersyukur ada seseorang yang bisa menghibur dan menemani sahabatnya. Tetapi, dia juga bertanya-tanya, siapa wanita yang memeluk Yugi itu.
"Kaiba..." gumam Jounochi, matanya masih mengamati siluet di tengah hujan itu. "Menurutmu... kali ini akan memakan waktu berapa lama?"
Kaiba mengalihkan pandangannya dari buku yang dibaca ke arah Jounochi. Dia memejamkan mata sembari menutup bukunya. "Entahlah."
"Apakah dia akan bisa bertahan?"
"Aku tidak tahu."
"Apa dia masih akan membutuhkanku?"
"Tidak tahu."
Urat mencuat di dahi Jounochi. "Brengsek kau! Kenapa jawabanmu begitu?!"
"Karena aku memang tidak tahu!" bentak Kaiba dingin. Mereka berdua beradu tatap. "Isono, pasang pembatas dan alat kedap suara."
"Baik, Tuan Kaiba."
"Tu-tunggu, Kaiba! Kau mau apa?!" teriak Jounochi panik. Kaiba menatapnya dingin, sementara tangannya mulai membuka kemeja Jounochi.
"Kesalahan terbesarmu..." gumam Kaiba sembari menciumi leher Jounochi. "...adalah terlalu memikirkan lelaki lain di depanku." Dan Kaiba mencium kekasihnya dengan kasar.
Walau dia tidak mau, tapi Jounochi bisa merasakan tubuhnya melemas saat Kaiba mendorongnya berbaring di kursi dan berada di atas tubunya. Matanya perlahan menutup sementara Kaiba memasukkan lidah ke dalam mulutnya dan melepas bajunya.
Kaiba benar. Tidak seharusnya dia masih mengkhawatirkan Yugi. Sahabatnya itu telah memiliki seseorang di sisinya, sudah saatnya bagi Jounochi untuk melepas sahabatnya dan terfokus pada kekasihnya.
"Maaf, Kaiba..." gumam Jounochi. Kaiba berhenti menciumi lehernya.
"Apa?" tanya Kaiba dingin. Jounochi mengangkat kepala Kaiba dan mencium bibirnya penuh nafsu.
"Aku..." Jounochi terdiam sesaat dan kemudian tersenyum. "Kuserahkan jiwa dan ragaku padamu."
Mata Kaiba melebar mendengarnya. Dia terdiam sebelum tersenyum angkuh dan mencium kekasihnya. "Dari dulu kau sudah jadi milikku, mutt."
"Kau panggil aku apa, jamur!!" geram Jounochi, tetapi berubah menjadi erangan ketika Kaiba menggigit lehernya. Dan di saat itulah dia menyadari bahwa dia tidak lagi merasa dingin di bawah sentuhan kekasihnya.
TBC.
A/N : Hhh... akhirnya update juga... gara-gara Death Angel-baka yang memberi bocoran di review fic-nya Messiah Hikari.
Maaf bila ceritanya jelek dan tidak dimengerti.
Saya berusaha terfokus pada KaibaxJou, tetapi juga harus menyeimbangkan kehidupan Yugi dan Atem.
Jadi jika tidak nyambung, harap dimaklumi karena saya masih terhitung junior dalam hal menulis.
Yah... akhirnya Sugoroku jadi alamarhum.
Semoga anda diterima di sisi-Nya. Amin.
FemAtem : Ya. Gara-gara elo, partner nggak mau ngelepasin gw. Dasar author bodoh.
Jangan salahkan saya, salahkan si Bakura.
And for the last touch, I'll answer your review.
-
To GreenOpalus : Thanx for your review and advice. Saya akan coba pertimbangkan saran anda.
-
To Death Angel : Terima kasih, Death Angel. Btw, kau semangat sekali dengan rate M, dasar hentai-queen. Dan tenang saja, si preman masih dapat kesempatan punya anak.
-
To Messiah Hikari : Thanx for your review and support. And no comment about your review.
-
To Sora Tsubameki : Terima kasih atas review dan dukungan anda. Untuk saat ini yang bisa saya hidangkan hanya lime saja. Jadi, mohon tunggu beberapa chapter untuk lemon.
-
To ArchXora : Selamat datang di fic saya. Terima kasih atas review, pujian, dan dukungan anda. Saya sangat menghargainya.
-
To Yamino Kamichama 666 : Thanx a lot for your review and compliment. And nice to know you, HiKari_07. Mohon jangan tersinggung, tapi jujur saja saya mengira anda, HiKari_07, adalah perempuan karena karakter anda sangat mirip dengan Death Angel, sahabat saya. Saya tidak menduga samasekali bahwa anda laki-laki, jadi maaf.
-
To Shigeru-chan : Thanx for your review. Hm... jadi pipimu belum sembuh. Kalau begitu... (menjentikkan jari dan keluar para suster banci) Suster sekalian, tolong sembuhkan Shigeru-san, terima kasih.
-
Dan bagi yang reviewnya tidak terbalas dan juga bagi para pembaca, terima kasih karena telah meluangkan waktunya untuk membaca fic ini.
-
And... Please review, if don't mind.
With crimson camelia,
-
Scarlet Natsume.
