Disclaimer: Yu Yu Hakusho and Hunter x Hunter are Yoshihiro Togashi's
Previous Chapter: Akhirnya Gon dan Yusuke dkk menemukan dua pecahan bintang yaitu Kowa—ketakutan yang menjadi keberanian—dan Ika—kemarahan dan kesabaran.
"Tadi jalan yang nggak habis habis, sekarang tangga yang nggak habis habis..." Keluh Kuwabara.
"Kalau tangga lebih capek ya.." Balas Yusuke.
Dua kombinasi yang suka mengeluh ini memang cocok kalau sudah bersatu. Apa lagi kalau mereka memasang muka yang menakutkan bin aneh.
"Hah, kalau ini sih kita nggak akan kalah!" Ucap Leorio yang sudah mendahului mereka.
"Ini tidak sebanding dengan Hunter Test yang pertama!" Sambung Gon dengan penuh semangat.
"Hahah, masa kau kalah dengan anak kecil?" Ejek Hiei sambil menghadap Kuwabara.
"Huapaah? Memangnya kau sendiri tidak capek?" Kuwabara mulai naik darah, "Oh, kau anak kecil juga ya?" Sambungnya.
Maka dimulailah acara pandang—memandang antara Kuwabara dengan Hiei.
"Oh, itu ujungnya." Kata Killua.
"Oh yess! Yeah, babeeeyy!" Kuwabara berteriak gaya nge-rock.
Yak, dan tentu saja seekor monter yang besar telah menanti mereka. Seperti yang sudah dikatakan di chapter sebelumnya, makin naik tingkatnya, makin kuat musuhnya. Makin kuat musuhnya, makin besar ukurannya. Bingung ya? XDD
Nah, monster ini bernama monster O. Dengan gabungan antara monster M dan N plus kelelawar dan naga api, sengatan kalajengking. Itu bukan ide saya, salahkan yang bikin fanfic ini (saya sendiri dong?). Oke, Fic ini makin nggak jelas kan? Kalau gitu kita langsung masuk ke bagian perlawanannya.
"Gon, kau alihkan perhatiannya dengan terbang, Leorio, Kuwabara, kalian siap membentuk batu dan air yang didorong dengan angin, Killua, kau alihkan pandangannya dengan terus menyerang bersama Gon. Yusuke cobalah terbang dan menyerangnya dengan Shot-Gun. Aku dan Kurama akan menyerangnya dengan kecepatan kami." Perintah Kurapika sambil mempersiapkan Booking Sword-nya.
"Ya!" dan yang lain pun menjawabnya.
Gon dan Killua berhasil mengalihkan pandangan O, tapi segalanya tidak selalu berjalan lurus..
"SHOT—Gu— Huaaph!" Sayap Yusuke pun terpotong dan Ia pun langsung jatuh.
"Yusuke!" Sahut Kurama.
Dengan kecepatan, Kurama dan Kurapika langsung menyerang Monster O, "Kuwabara, Leorio, serang sekarang!" Perintah Kurama.
"Hiaaaah!" Mereka berdua pun melampiaskan serangannya.
Serangan itu hanya merusak bagian kaki O, tentu saja karena ukurannya yang besar.
"Yusuke-San, tidak apa apa?" Gon mendekati Yusuke.
"ya.." Yusuke menyiapkan kuda kudanya dan tanpa diduga duga, Yusuke melesat kencang ke atas.
"Hoo, dia memusatkan angin ke bawah kakinya dan melesat jauh.." Killua memasang pose berpikir 2, sebab yang pertama ada di chapter sebelumnya XDD (?)
SHOT-GUN!
Shot-Gun Yusuke melesat ke dada O dan seketika itu juga dada O mengeluarkan cairan merah alias darah yang sangat banyak dan lukanya pun sangat besar.
"Hiei!" Kurama memanggil.
"Tak perlu disuruh!" Hiei langsung melesat dan menusukkan sebuah Katana ke dalam dada O yang terkena Shot-Gun tadi.
Dan Katana itu pun mulai meledak. Diiringi Killua yang menumpas kaki O dengan kukunya yang tajam. Monster O pun kalah.
"Yosh! Berhasil!" Yusuke melompat lompat kegirangan.
"Fuh... Kenapa aku harus terbang terbang terus.." Gon terduduk.
"Karena kau memang mirip burung, Gon." Jawab Killua dengan tampang ._.
"Benar juga ya." Kurama pun menambahkan.
"Oi, oi! Jangan gitu dong.." Gon menggembungkan pipinya, "Hng? Apa kalian dengar itu?"
"Apa kali ini, Gon?" Leorio menanyakan.
"Anak SGM lagi?" Sambung Kurapika.
"Sst..." Kurama mendiamkan mereka.
Dan seperti kata Gon, terdengar suara yang bersatu dengan angin.
Hihihihih... hihihi...
"Siapa di sana?" Kuwabara berteriak sambil manceri asal suara.
"Asal suaranya dari sana." Hiei menyiapkan Katananya ke arah Barat menara.
"Kalian mau bermain bersamaku?"
Seorang anak kecil dengan model rambut berantakan dan baju yang besar pun muncul di depan mereka semua. Rambutnya menutupi kedua matanya. Penampilan anak itu terlihat sangat acak acakan.
"Kau siapa?" Tanya Killua serius.
"Gimana kalau Hitori Kakurenbo?" Ucap anak itu dengan boneka beruang di sampingnya.
"Hitori Kakurenbo?" Yusuke memasang wajah tanda tanya.
"Hitori Kakurenbo, permainan petak umpet yang dilakukan sendirian. Hitori Kakurenbo juga biasa dibilang 'Ritual' pemanggilan hantu karena dilakukan sendirian alias diri sendiri dan hantu di sekitar kita." Kurama menjelaskannya.
"Hee... Kalau aku sih nggak bisa lihat hantu, jadi tidak apa apa..." Balas Gon dengan polos.
"Nggak semudah itu, Gon." Kata Kurapika, "Hantu itu tidak langsung bermain, tapi memasuki tubuh boneka. Kau lihat boneka beruang di samping anak itu?" Kurapika menunjuk boneka di samping anak SGM; Gon mengangguk, "Boneka itu akan menjadi perantaranya. Karena itulah disebut sebut dengan 'ritual'."
"Aku mulai..."
Anak itu mulai memasukkan beras dan beberapa tetes darah ke dalam boneka itu, setelah itu ia menjahit boneka tersebut menggunakan benang. Lalu anak itu mengeluarkan sebilah pisau.
"Ritualnya... Dimulai!"
Seketika itu juga, seluruh menara itu berubah menjadi sebuah rumah yang megah, 2 tingkat (Wow..) tembok dan lantainya berwarna krem keemasan. Dan mereka semua ada di dalam kamar mandi, anak SGM itu pun tidak ada. Di dalam kamar mandi itu hanya ada semuah boneka di samping bak yang terisi air penuh.
"Aku menemukanmu!" Tampak bayang bayang anak SGM tadi sedang menusuk boneka itu.
"Nah, sekarang, Sabi yang jaga, Sabi yang jaga, Sabi yang jaga!" Terdengar suara anak SGM itu entah dari mana karena setelah ia menusuk boneka tadi, anak SGM itu hilang.
"Satu..."
"Gawat! Cepat, kita harus bersembunyi!" Mereka semua langsung berlari ke lantai 2—sesuai instruksi Kurama—dan memasuki sebuah kamar yang besar.
"Dua..."
"Leorio, siapkan pisaumu!" Kurapika mengatakannya dengan agak berbisik.
"Tiga..."
"Untuk apa? Lalu, kenapa kita kok sembunyi?" Ucap Leorio.
"Empat..."
"Kau banyak bicara, Ossan. Keluarkan sajalah!" Killua mengejek Leorio. Leorio pun menyiapkan pisaunya dan memegangnya erat erat. Tentu saja untuk berjaga jaga agar tidak ada yang aneh aneh terjadi...
Saat ini mereka tengah bersembunyi di balik sebuah lemari yang besar. Namanya juga rumah mewah. Di depan tempat tidur ini terdapat sebuah TV yang menyala tanpa channel alias semut rebutan tempat (Masih nggak ngerti? O.o).
Kurama menyodorkan sebuah gelas berisi air putih, "Ini, coba dikumur, ini adalah air garam. Jangan diminum. Kalau bonekanya datang, siram menggunakan air di dalam mulut kalian."
"Lima..."
"Di mana kau mendapatkannya?" Tanya Kurapika sambil menerima air garam tersebut.
"Hiei baru saja mengambilnya." Kurama menunjuk Hiei sambil tersenyum.
"Enam..."
"Tujuh..."
Akhirnya mereka semua mendapatkan air garam di dalam mulutnya. Mungkin hal ini akan menjadi hal yang sangat bodoh bagi Yusuke, Kuwabara, dan Hiei. Anak remaja main petak umpet? Harga diri ada di mana tuh?
"Delapan..."
"Ini dia!" Mereka semua bersiap siap, berjaga jaga.
"Sembilan..."
"Sepuluh!"
Hitungan pun berhenti, semuanya terdiam. Yang dapat mereka dengar hanyalah detak jantung mereka yang tidak beraturan.
Tak lama kemudian, Televisi di depan mereka mulai berganti ganti channel. Suara TV itu membentuk serangkaian kata...
Aku...
Akan...
Mencarimu...
Di mana..
Kalian?
Ah...
Ketemu!
Detak jantung dan nafas mereka semakin tidak beraturan. Setelah televisi itu berhenti, tidak terjadi apa apa... Sampai terdengar suara teriakan Kuwabara—
"Bhrrhuuuaaaahhh!" Kuwabara menyemburkan air garam di dalam mulutnya, "DI ATAAS!"
Boneka itu ada di atas lemari sambil membawa sebilah pisau, siap membunuh mereka semua. Untunglah Gon mulai mengebaskan sayapnya (maklum, lemari raksasa) dan terbang ke atas kepala Kuwabara dan menyemburkan air garam itu.
"Aku menang, aku menang, aku menang!" Gon menghentikan ritual tersebut.
Gon kembali ke bawah dan menyimpan sayapnya.
"Boneka itu..." Gon menatap boneka itu dengan tampang serius, "Di dalam boneka itu ada anak SGM tadi!"
"Apa? Lalu, sekarang di mana anak SGM itu?" Kuwabara menanyakannya dengan wajahnya yang pucat.
"Di tempat semuanya bermula..." Hiei mulai berkata.
"Maksudmu kamar mandi?" Leorio menerjemahkan kata kata Hiei. Ternyata Hiei suka main kata... (#dibunuh Hiei)
"Ayo ke sana!" Killua langsung mengambil langkah.
Mereka semua bergegas menuju ke kamar mandi—tempat semuanya bermula—dan ternyata pintu kamar mandi itu tertutup. Yusuke mulai mencoba membuka pintu tersebut, "Pintunya terkunci!"
"Kita dobrak saja!" Kuwabara menyiapkan tenaganya untuk mendobrak.
"Eh, jangan! Pintunya masih bagus, gimana kalau ada tamu datang? Rumahnya bagus, pintu kamar mandinya bolong." Gon mengatakannya. Ucapan Gon mencairkan suasana.
"Gon..." Semuanya ber-poker face mendengar kata kata Gon yang polos itu.
"Kenapa? Benar, kan?"
Ditengah perbincangan itu, terdengar suara air yang mengalir.
"Suara apa itu?" Kurapika mengatakannya dengan pelan.
Cklek!
Pintu itu mulai terbuka, tampak sosok anak SGM itu di balik pintu kamar mandi.
"Oh, hai! Sorry, aku kebelet banget sih..." Anak SGM itu mulai berucap.
GUBRAK!
Yak, dan semuanya pun terjatuh mendengarnya.
"Nah, kenapa kok kalian semua di sini? Mau main lagi?" Sang SGM mulai menawarkan permainan lain.
"Main sih boleh, tapi jangan yang menyeramkan seperti tadi, dong!" Yusuke menjitak kepala anak SGM itu pelan, "Main petak umpet yang normal aja! Tegang banget tadi itu!"
"Jangan jangan, namamu Sabi, ya?" Terdengar suara Gon.
"Eh?"
"Aku Gon! Mulai sekarang aku temanmu!" Gon mengambil tangan Sabi dan menggenggamnya erat erat.
"Teman.., Aku Sabi..." Perlahan lahan, air mata mulai mengalir melewati pipi Sabi.
Perlahan lahan pula Sabi mulai menghilang
Terima kasih, Gon!
Gon pun mendapati sebuah bintang di tangannya
"Gon, dari mana kau tau kalau dia tidak punya teman?" Killua memegang pundak Gon.
"Dari permainan Hitori Kakurenbo tadi. Kalau dia tidak kesepian, seharusnya ia memilih permainan lain, kan? Selain itu, wajah Sabi dalam boneka yang aku lihat itu terlihat sedih dan kesepian..." Jawab Gon.
"Kau ini memang susah dimengerti, ya." Killua mulai tertawa kecil.
Rumah itu pun kembali menjadi sebuah menara—Kitsu Towel dan sebuah tangga pun muncul di hadapan mereka.
"Ayo, kita lanjutkan!"
To be Continued...
Author's Note: Yak, waktu saya ngetik chapter ini merinding banget... Saya nggak pernah bikin cerita yang menyeramkan kayak begini (Ceritamu baru 2, woy!). Saya dapet inspirasi permainan Hitori Kakurenbo dari fic Kagerou Days yang judulnya Hitori Kakurenbo, silahkan dibaca kalau ada waktu. Kalau pingin lebih jelas, cari aja di gugel 'Hitori Kakurenbo' atau 'One man Hide and Seek' Untuk chapter ini akhirannya menggantung ya? Ampuni sayaa... R&R Pleasee~
