Don't Break my Heart
Author : kim yuhee
Cast : Chanyeol & Baekhyun
Other cast : EXO mamber dan yang lain temuin sendiri
Diclaimer : All the cast belong to their management, family, and God. Typo's everywhere.
It's GS (Genderswitch)
Ini ff pertama aku yang aku publish klw ada kesamaan cerita mianhae, tapi ini dari ideku sendiri kok.
If you don't like, don't read!
Summary :
Baekhyun dan Cahnyeol dijodohkan sejak mereka belum lahir. Byun baekhyun merasa bahwa hatinya di beri harapan yang tak pasti. Sedangkan chanyeol gengsi untuk mengungkapkan persaannya.
Happy reading ^o^
.
.
.
Previews Chapter
Nyonya Park dengan sekuat tenaga menuju lift yang tak jauh dari apartement anaknya. Untung saja ada yang baru keluar jadi Junsu tidak perlu menunggu lama. Menghiraukan panggilan Chanyeol terhadapnya.
Sesampainya di basement, Nyonya Park langsung menuju mobilnya dan mengendarainya ke rumah Baekhyun. Chanyeol tahu bahwa eommanya membawa mobil sendiri –karena memang bisa seperti itu-, dia juga langsung ke arah bestment dan dugaannya benar. Eommanya sudah mengendarai mobilnya. Chanyeol yang melihat itu langsung menuju mobilnya yang parkir di tempat biasa. Lalu mengikuti mobil sang eomma. Apalagi saat ini eommanya sedang kalut, Chanyeol benar-benar khawatir.
Chanyeol langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk menyusul sang eomma. Pikirannya benar-benar khawatir sekarang, takut eommanya kenapa-napa. Saat hampir mendekati mobil yang dikendarai sang eomma ternyata
BRUAKK
Chapter 7
Kendaraan yang ditumpangi oleh Chanyeol ditabrak truk dan berguling-guling hingga lima meter. Semua mobil yang ada dijalan tersebut langsung berhenti tak terkecuali mobil Nyonya Park. Nyonya Park menoleh kebelakang dan matanya membelalak saat sadar bahwa itu mobil anaknya, Chanyeol. Nyonya Park langsung keluar dan berlari sekencang-kencangnya. Orang-orang yang ada tempat berusaha untuk mengeluarkan Chanyeol. Setelah dikeluarkan, Nyonya Park langsung memangku kepala putra kesayangannya.
"Chanyeol~ah, ini eomma. Sadarlah sayang." Nyonya Park menangis sambil menepuk pipi Chayeol yang berlumuran darah berharap anaknya itu masih dalam keadaan sadar. Sedikit demi sedikit Chanyeol dapat membuka matanya yang berat.
"Eom-ma, mian-hae." Ucap Chanyeol tersendat-sendat. Nyonya Park menggeleng.
"Hustt, jangan dibahas sekarang. Ambulance akan datang sebentar lagi, jadi tetaplah sadar arraseo." Kata Nyonya Park, namun Chanyeol sudah merasa berat pada kedua matanya. Yang dia dengar terakhir hanyalah tangisan dan suara Nyonya Park.
.
.
Laki-laki paruh baya dengan terburu-buru menyusuri lorong rumah sakit Halyang. Setelah mendapat telfon dari istrinya, ia langsung keluar dari kantor dan membatalkan rapatnya. Yang difikirkannya sekarang adalah putra satu-satunya itu.
"Junsu-a~, bagaimana kondisi Chanyeol?"
"Molla, dokter masih menanganinya. Bagaimana bila terjadi apa-apa dengan uri Chanyeol? " Yoochun atau Tuan Park langsung memeluk istrinya yang menangis dengan erat, menyalurkan kekuatan yang ada pada dirinya.
"Gwenchanna, Chanyeol anak yang kuat, dia pasti bisa melewatinya. Gwenchanna, hustt~ jangan menangis lagi." Nyonya Park mengangguk lemah.
Tak berselang lama dokter yang menangani keluar dan melepas maskernya. Tuan dan Nyonya Park dengan sigap berdiri dari dududknya.
"Bagaimana keadaan putra kami dok? Dia baik-baik saja kan?" tanya Nyonya Park tak sabaran.
"Keadaannya cukup parah, banyak luka dimana-mana akibat pecahan dari kaca. Kepalanya juga terbentur dengan cukup keras namun tidak ada yang serius. Untungnya pasien sudah melewati masa kritisnya. Kami akan berusaha dengan sebaik-baiknya jadi Tuan dan Nyonya tidak perlu begitu khawatir dan berdoalah untuk kesehatan pasien. Dan setelah ini pasien akan dipindah ke ruang rawat. Kalau begitu saya permisi dulu Tuan dan Nyonya." Ucap dokter tersebut lalu membungkuk hormat. Tuan dan Nyonya Park bernafas lega tentang keadaannya putranya.
.
.
Baekhyun membuka matanya dengan malas. Dia menggerutu sebal dengan orang yang menelfon pagi-pagi –dia gak sadar kalau udah siang-. Tanpa melihat ID callernya Baekhyun menscroll tombol hijau.
"Yeoboseyeo." ucapnya dengan malas.
"Baekie~ kau masih tidur? Cepatlah bangun dan segeralah ke rumah sakit!" Baekhyun menyerngit, yang menelfon ummanya tapi siapa yang dirumah sakit.
"Yaa, cepatlah bangun. Chanyeol kecelakaan! Dia dirawat dirumah sakit Halyang." Kesadaran Bekhyun langsung mengumpul jadi satu. Tanpa menghiraukan seruan eommanya ditelfon, Baekhyun langsung berlari menuju kamar mandi.
Setelah beberapa menit, dengan tergesa-gesa Baekhyun keluar dari flatnya dan mengirim pesan kepada Kyungsoo bahwa dia tak masuk hari ini. Setelah mendapat taxi, Baekhyun melesat kerumah sakit yang dikasih tau eommanya. Selama perjalanan perasaannya benar-benar khawatir dan tak henti-hentinya Baekhyun memanjatkan doa untuk orang yang dicintainya. Sesampainya didepan rumah sakit, Baekhyun langsung berlari menuju ruang rawat Chanyeol. Saat didepan pintu kamar rawat Baekhyun berhenti saat mendengar suara dari dalam.
"Aku mencintainya Ahjumma, begitupun dengan Chanyeol."
Deg Deg Deg
Jantung Baekhyun berdetak dengan cepat dan hatinya berdenyut sakit. Tanpa terasa air matanya mengalir dengan pelan. Kenapa mencintai seseorang harus sesakit ini? Pikirnya. Namun Baekhyun mengabaikan perasaannya tersebut, lalu mengusap airmatanya yang menetes. Kemudian membuka pintu dengan pelan dan yang dilihatnya pertama kali adalah seorang gadis yang sedang bertekuk lutut dihadapan Nyonya Park dan menangis sesenggukan. Dengan perlahan Baekhyun berjalan menuju gadis tersebut dan menyuruhnya untuk berdiri. Orang yang berlutut –Sandara- kaget atas perlakuan gadis yang ada sampingnya.
"Baekkie~, kenapa kau membantunya berdiri? Dia yang menyebabkan Chanyeol seperti ini dan dia juga yang telah membuat hancurnya pertunangan kalian." Kata Nyonya Park sambil menunjuk Sandara. Baekhyun menggeleng.
"Eommonim, aku akan keluar sebentar dengan Dara noona." Dara yang disebut namanya kaget, dia merasa belum pernah berkenalan langsung dengan gadis disampingnya ini. Lalu Baekhyun membungkuk untuk pamit.
Baekhyun dan Sandara sekarang ada di taman rumah sakit. Mereka menikmati angin segar yang ada dan mereka masih saling diam padahal mereka sudah duduk selama 10 menit. Baekhyun yang tak tahan dengan keheningan mereka berinisiatif untuk memulai percakapan.
"Eum, noona?" panggil Baekhyun lirih. Sandara menoleh menghadap Baekhyun.
"Ak-." Belum sempat Baekhyun menyelesaikan ucapannya, Dara sudah memotongnya terlebih dahulu.
"Apa benar kau tunangannya Chanyeol?" Baekhyun bingung harus menjawab apa, dia ingin bilang iya tapi dia sudah membatalkan pertunangannya secara sepihak.
"Em, sebenarnya ya, tapi aku sudah membatalkan pertunanganku dengan Chanyeol oppa. Jadi noona tenang saja Chanyeol oppa akan tetap menjadi miliki noona." Baekhyun rasanya ingin meremas hatinya yang sakit tapi dia tidak bisa mengungkapkannya dihadapannya Dara.
"Aku juga sudah bilang pada keluargaku dan ya mereka menerima keputusanku. Dan untuk keluarga Park aku juga sudah bilang dan mereka juga menerima keputusanku. Jadi aku berharap noona tidak akan melepaskan Chanyeol oppa, aku yang akan berbicara pada eommonim. Noona tak perlu khawatir lagi." Baekhyun menampilkan eye smilenya. Dara juga tersenyum dan langsung memeluk Baekhyun dengan erat.
"Terima kasih," Sandara menggantungkan ucapannya. Baekhyun yang mengerti maksudnya tersenyum.
"Baekhyun noona, Byun Baekhyun."
"Terima kasih sekali Baekhyun." ucap Dara sekali-lagi.
'Bila memang Chanyeol oppa bahagia dengan Dara noona maka aku akan melepasmu oppa. Aku juga akan membantu berbicara pada eommonim tentang hubungan kalian. Semoga oppa bahagia dengan Dara noona.' Batin Baekhyun.
.
***PCY&BBH***
.
Sudah lima hari berlalu, namun Chanyeol belum sadar juga padahal kondisnya sudah baik-baik saja. Entah mimpi apa sehingga dia tak mau bangun. Semua orang sudah mengunjunginya -sahabatnya- bahkan noonya juga sudah datang. Baekhyun juga selalu datang untuk menungguinya meskipun saat pulang kuliah. Dia selalu menjaga saat keluarga Park pulang untuk sebentar.
"Chanyeol~ah, kenapa kau tak sadar-sadar eum? Semua orang mengkhawatirkanmu! Apalagi eomma. Jaebal cepatlah bangun sayang." Nyonya Park mengecup kening putranya.
Lalu terdengar pintu yang dibuka dan nampaklah Dara dengan buah dan bunga ditangannya. Nyonya Park langsung menatap sengit kearah Sandara, namun Dara hanya membalas dengan senyumannya. Dia sudah bertahan selama ini untuk tidak masuk kedalam kamar rawat kekasihnya. Jadi dia sudah bertekat apapun yang terjadi dia harus bisa masuk menemui kekasihnya.
"Ada apalagi kau datang kemari?" tanya Nyonya Park sinis.
"Aku ingin menjenguk Chanyeol kekasihku ahjumma dan ini aku membawakan sebuket bunga dan juga buah."
"Apa? Kekasih? Jangan harap kau jadi menantuku. Aku tak mau memiliki menantu yang sudah menghancurkan Park Corp, mengerti? Dan juga kau sudah merusak Chanyeol yang dulu baik sekarang berani dengan orang tuanya." nyonya Park menekankan setia kata yang diucapkannya.
"Tapi ahjumma-," perkataan dipotong oleh Nyonya Park.
"Apa?" Bentak Nyonya Park. Namun tiba-tiba Nyonya Park berlutut dihadapan Sandara. Sandara langsung kaget dengan perlakuan Nyonya Park.
"Ahjumma mohon, lepaskanlah Chanyeol. Ahjumma mohon. Jaebal! Jaebal Dara!" Dara bingung harus berbuat seperti apa dan menjawab apa.
Baekhyun dan Yoora yang baru akan masuk kaget saat melihat Nyonya Park berlutut didepan Dara. Dan tak terduga Chanyeol juga sadar dari tidurnya.
"Eomma/Eommonim." Panggil Yoora dan Baekhyun bersamaan. Nyonya Park menoleh kearah suara yang memanggil namanya.
"Eom-ma," katanya lirih. Semua orang langsung mengerubungi tempat tidur Chanyeol.
"Chanyeol-ah, kau sudah sadar? Bagaimana? Ada yang sakit? Yoora, tolong panggilkan dokter Choi." Yoora menggangguk lalu bergegas memanggil dokter yang merawat adiknya tersebut.
"Eomma, jangan seperti itu pada Sandara. Dia kekasihku." Kata Chanyeol pelan. Hati Baekhyun terasa diremas kembali. 'Kenapa cinta itu menyakitkan?' fikirnya.
"Chanyeol-ah, jadi kau tak akan mau melepas Dara? Dia yang telah membuatmu berubah menjadi seperti ini. Dan kau masih mempertahankannya?" nyonya Park benar-benar tak habisfikir dengan pemikiran putranya ini. Chanyeol akan membuka suara namun didahului oleh Baekhyun.
"Eommonim, biarkan Chanyeol oppa dengan pilihannya. Mungkin hanya dengan Dara noona Chanyeol merasa bahagia. Jadi Baekkie mohon eommonim mau merestui hubungan mereka dan juga Baekkie sudah membatalkan pertunangannya bukan? Dan eommonim juga sudah bisa menerima keputusanku. Jadi Baekkie mohon eomma juga mau merestui keputusan dari Chanyeol oppa. Meskipun aku bukan menantu eommonim, tapi tetap aku akan menjadi anak eommonim." Baekhyun bersungguh-sungguh dengan ucapanya barusan.
"Baekkie~" Nyonya Park memeluk Baekhyun erat.
Sandara yang melihat adegan didepannya ini sungguh menyesakkan untuk hatinya, wajahnya berubah sendu. Dia juga ingin bisa memeluk eomma dari kekasihnya namun sayang hal itu mungkin tak pernah terwujud. Chanyeol melihat wajah sendu Dara namun sayangnya dia tak bisa melakukan apa-apa. Tak lama kemudian dokter Choi masuk dengan Yoora lalu memeriksa keadaan dari Chanyeol.
.
.
Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, namun Baekhyun dan Sandara masih betah duduk di sofa untuk menunggui Chanyeol yang sedang terlelap ditidurnya. Tidak ada yang saling bicara setelah Nyonya Park dan Yoora pulang setengah jam yang lalu. Mereka berdua masih sibuk dengan fikiran-fikiran yang muncul pada benak mereka. Baekhyun menghembuskan nafasnya pelan, dia akan beranjak pulang bila tak ada suara yang mengintrupsinya.
"Baekhyun-ah?"
"Ne Dara noona, waeyo?"
"Apa, apa kau mencintai Chanyeol?" Baekhyun yang baru pertama kali ditanyai oleh Dara seperti ini tubuhnya langsung menegang.
"Eum, eum, aku" Baekhyun menggantungkan ucapannya karena bingung harus berkata jujur atau tidak.
"Jujurlah, aku tau bahwa kau juga mencintai Chanyeol. jadi kau tak perlu menyembunyikannya padaku. Setelah kejadian tadi aku merasa bahwa aku tak akan mungkin bisa masuk dalam keluarga Park akibat persaingan perusahaan kami. Aku juga sudah bertekad untuk melepaskan Chanyeol bila" Baekhyun kaget dan penasaran dengan apa yang akan diucapkan oleh Dara.
"Aku akan melepaskannya bila Chanyeol yang memintanya padaku. Aku juga akan pergi dari kehidupannya." Imbuhnya lalu memeluk Baekhyun. Tanpa mereka sadari bahwa sedari tadi orang yang terlelap itu mendengar semua perbincangannya.
"E, eonni akan tetap disini bukan? Aku harus pulang karena besok ada kuliah pagi."
"Ini sudah malam, tak baik seorang gadis pulang sendiri malam-malam." Kata Sandara.
"Aniyo, aku sudah di jemput oleh Jongdae oppa. Jadi eonni tenang saja." Baekhyun tersenyum sampai menunjukkan eye smilenya. Chanyeol yang mendengar hal tersebut mengepalkan tangannya.
"Baiklah, hati-hati dijalan." Kata Dara. Dia merasa seperti memiliki adik sendiri.
"Bye eonni." Baekhyun melambaikan tangannya dan dibalas juga oleh Dara.
Setelah Baekhyun keluar dari ruangan, Dara mendekati ranjang Chanyeol. Duduk disampingnya sambil menatap dengan lekat-lekat wajah tampan yang sekarang diperban. Dara menghela nafasnya. Sebenarnya sedaritadi batinnya berkecamuk, dia yakin bahwa kekasihnya ini sudah mulai menyukai tunangannya tersebut namun kenapa masih tetap mempertahankannya yang jelas-jelas ditolak mentah-mentah oleh keluarganya.
Dara menggenggam erat tangan Chanyeol, mencari kekuatan dari kekasihnya tersebut.
"Chanyeol-ah, apakah kau benar-benar masih mencintaiku?" Ada jeda didalamnya.
"Aku takut disaat aku menggenggam erat tanganmu namun tiba-tiba kau melepaskannya dan berlari kearah Baekhyun. Karena aku tahu bahwa kau sudah mencintainya tanpa kau sadari." Dara meneteskan air matanya. Dan terlelap disamping Chanyeol.
Sedangkan dilain tempat –mobil-, Baekhyun hanya mengarahkan pandangannya keluar jendela. Dia masih kepikiran dengan ucapannya Dara. "Aku akan melepaskannya bila Chanyeol yang memintanya padaku. Aku juga akan pergi dari kehidupannya." '
'Apakah itu mustahil untukku masuk kedalam kehidupan Chanyeol oppa?' batin Baekhyun.
Sedangkan sang pengemudi heran, tumben sakali sepupu mungilnya ini diam saja dimobil biasanya dia akan berceloteh disepanjang perjalanan.
"Baekkie-ya~" panggil Jongdae. Namun tak ada sahutan dari sang pemilik nama. Jongdae kembali bersuara.
"Baekkie-ya~" Baekhyun yang sadar membalikkan tubuhnya menghadap oppanya.
"Waeyo oppa?"
"Ada masalah? Mau berbagi denganku?" Jongdae sedikit-sedikit melirik kearah Baekhyun, dia masih berfikiran jernih untuk tidak menatap Baekhyun terus bila mereka ingin selamat sampai dirumah. Baekhyun masih diam/
"Bagaimana?" bujuk Jongdae lagi.
"Aniyo oppa. Aku tak ada masalah apapun." Baekhyun kembali tersenyum. Namun Jongdae tau bahwa sepupunya ini ada masalah dan tak ingin semua orang tau.
"Baiklah. Biasanya kau itu cerewet sekali apalagi saat diperjalan seperti ini namun hari ini tiba-tiba diam tak berkutik."
"Yak oppa, aku berisik salah sekarang diampun salah. Lalu oppa mintanya seperti apa? Dasar menyebalkan." Cibir Baekhyun.
"Aigoo, sepertinya ada yang sedang PMS." Jongdae malah cekikikan sedangkan Baekhyun mempoutkan bibirnya.
***PCY&BBH***
12 hari telah berlalu, Chanyeol telah diperbolehkan pulang asalkan harus tetap istirahat yang banyak. Maka dari itu dia akan tinggal di mansion keluarga Park. Namun ada yang berbeda, Nyonya Park sangat acuh dan dingin dengan Chanyeol setelah kejadian waktu itu. Bahkan untuk makan dan melakukan aktifitas seperti biasanya tidak mau. Tuan Park, Yoora, dan Baekhyun sudah membujuknya, namun tetap saja tidak ada yang berubah. Sekarangpun tubuh Nyonya Park kurusan sehingga membuat siapa saja khawatir dengan keadaannnya.
Sekarang semua keluarga Park ada dirumah sakit begitu juga Sandara. Sedangkan Baekhyun tidak bisa datang karena kuliah paginya.
Tuan Park mendekati putranya, "Chanyeol-ah, bujuk eommamu untuk makan. Dari tadi pagi perutnya belum terisi sama sekali. Appa sungguh khawatir dengan kesehatannya. Bahkan tubuhnya sudah kurusan, appa khawatir eommamu akan jatuh sakit."
"Baiklah appa." Chanyeol berjalan dengan hati-hati menuju eommanya yang sedang membereskan barang-barang bawaan selama Chanyeol dirawat.
"Eomma." Panggil Chanyeol namun hanya dibalas gumamam oleh sang eomma.
"Apa eomma ingin makan sesuatu? Kata appa sedari tadi pagi eomma sama sekali belum makan apapun."
"Lalu? Bukankah itu bagus? Bila eomma sakit lalu tidak ada kalian kan bisa menjalin hubungan tanpa ada yang menghalanginya." Kata Nyonya Park ketus.
"Yeobo/eomma." Panggil Tuan Park dan Yoora bersamaan. Chanyeol dan Sandara benar-benar merasa bersalah.
"Semua barang sudah masuk dalam tas. Aku ingin ke mobil sekarang." Tanpa menghiraukan tatapan orang-orang, Nyonya Park meninggalkan kamar inap putranya.
Semua orang hanya bisa menghela nafasnya melihat perubahan dari Nyonya Park. Dan mereka tidak bisa berbuat apa-apa kecuali Chanyeol mau pisah dengan Dara. Namun itu percuma saja, Chanyeol sama sekali tidak ingin melepas Dara.
.
.
Ditempat yang berbeda, gadis mungil masih asik dengan kuliahnya sebelum ada yang mengganggunya –handphonenya bergetar-. Baekhyun mengecek ponselnya, ternyata eommanya mengirim pesan. Baekhyun menyerngitkan alisnya. 'Tumben sekali eomma mengirim pesan di jam kuliahku seperti ini.' Gumamnya. Namun belum sempat Baekhyun membuka pesannya, dosennya sudah menyuruhnya untuk presentasi.
Jam mata kuliah kuliah pertama telah usai, dengan buru-buru mengecek ponselnya.
"Baekhyunnie~, setelah pulang kuliah datanglah kekediaman keluarga Park. Tolong bujuk eommonimmu untuk makan. Kata Yoora tadi saat eomma menelfonnya, dia tidak mau makan dan tidak keluar kamar setelah menjemput Chanyeol dari rumah sakit. Jadi jangan lupa ne?"
Dengan cepat Baekhyun membalas pesan eommanya. "Baiklah eomma. Dan aku tak akan lupa."
Baekhyun menghela nafasnya, sekarang dia benar-benar khawatir dengan eommonimnya. Semoga saja nanti Baekhyun bisa membujuknya. Kita doakan saja.
Kyungsoo yang tak sengaja memperhatikan raut wajah sahabatnya itu ikut sedih, padahal dia sama sekali tidak tau maslahnya apa. Namun karena rasa penasaran yang tinggi Kyungsoo memnberanikan diri untuk bertanya.
"Baekkie-ya, wae gurae? Kenapa mukamu itu masam sekali." Guaru Kyungsoo.
"Yak, kyungie. Kau itu sahabat menyebalkan. Sahabatmu sedang sedih malah diajak bercanda." Baekhyun mempoutkan bibirnya –kebiasaan-.
"Aigoo, yang sedang merajuk. Kenapa eum?"
"Kau tau Junsu eomma? Eommanya Chanyeol oppa?" Kyungsoo mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Beliau tidak mau makan dan tidak keluar kamar sama sekali, sehingga semua orang benar-benar khawatir dengan kesehatannya. Bahkan anaknya sendiri tidak ada yang bisa membujuknya sama sekali." Baekhyun menghela nafasnya kembali.
"Benarkah? Kasian sekali Junsu ahjumma. Pasti kesehatannya menurun." Baekhyun membalas dengan deheman.
"Sebenarnya ini salah Chanyeol oppa, sudah tau hubungannya tidak direstui tapi tetap saja berhubungan dengan Dara noona itu. Sekarang kalau sudah begini semua orang juga kan yang repot." Gerutu Kyungsoo.
"Hei hei, kenapa kekasihku ini menggerutu eum?" baik itu Kyungsoo maupun Baekhyun terkejut dengan kedatangan laki-laki berkulit tan yang ternyata kekasih dari Do Kyungsoo.
"Yak, kenapa kau datang tiba-tiba? Untung saja aku tak jantungan." Kyungsoo memukuli lengan kekasihnya.
"Aw aw aw, mian mian. Sakit chagi lagi pula aku tak bermaksud." Jongin atau sering dipanggil Kai mengaduh kesakitan.
"Dasar hitam menyebalkan." Kyungsoo bersedekap. Sedangkan Baaekhyun hanya terkikik geli saat melihat adegan disebelahnya ini.
"Kau tadi kenapa menggerutu seperti itu?"
"Itu, sahabatmu atau hyungmu yang bertelinga peri itu. Sudah tau tidak diijinkan berhubungan dengan Dara noona malah tetap mempertahankan. Sekarang eommanya berubah, bikin orang lain tambah khawatir apalagi dengan kondisinya." Kai yang mendengar setiap kata yang diucapkan kekasihnya itu hanya diam tak menanggapi. Karena dia sendiri juga tak tau dengan jalan fikiran hyungnya yang satu itu.
.
.
Hari sudah menujukkan pukul 4 sore, jadwal kuliah Bekhyun untuk hari ini telah usai. Dengan buru-buru Baekhyun memasukkan bukunya kedalam tas. Setelah selesai dan berpamitaan pada Kyungsoo untuk pulang duluan, Baekhyun langsung menuju gerbang kampusnya untuk menunggu taxi yang lewat –Baekhyun memang tidak menyuruh Jongdae untuk menjemput-. Tak berselang lama, kendaraan yang ditunggu lewat. Baekhyun langsung masuk dan memberi alamat kediaman keluarga Park pada sang sopir.
Setelah sampai Baekhyun membayar taxi dan berjalan menuju mansion keluarga Park. Baekhyun disambut oleh Yoora yang sedang duduk diruang tamu bersama sang adik. Baekhyun sama sekali tidak menyadari bahwa ada Chanyeol disitu jadi dia hanya memberikan salam pada Yoora lalu menuju kamar Nyonya Park.
Chanyeol yang dicuekkin oleh Baekhyun, wajahnya berubah murung padahal tadi dia sudah siap-siap untuk memberi senyuman dan salam pada Baekhyun. Yoora yang melihat raut wajah adiknya, menyunggingkan senyum.
Tok
Tok
Tok
"Eommonim?" panggil Baekhyun namun tidak ada sahutan dari dalam. Baekhyun memanggil lagi.
"Eommonim? Ini Baekhyun. Bolehkan Baekhyun masuk?" hanya terdengar gumaman dari dalam kamr.
Dengan perlahan Baekhyun membuka pintu kamar dan yang pertama dia lihat adalah Nyonya Park sedang duduk menghadap jendela luar. Lalu Baekhyun menutup kembali pintunya.
"Eommonim? Bagaiman kabar eommonim?" namun tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Nyonya Park.
"Kata Yoora noona, Junsu eomma belum makan. Kenapa eommonim tidak makan? Bila eommonim sakit bagaimana?" Baekhyun berjongkok dihadapan Nyonya Park. Junsu hanya menggelengkan kepalanya dengan lemah.
"Semua orang khawatir, apalagi Yoochun appa. Pasti di kantor abeonim tidak akan tenang karena memikirkan eommonim." Bujuk Baekhyun. Namun hanya gelengan kepalalah yang dia dapat.
"Eommonim, jangan lah seperti ini. Baekkie mohon." Baekhyun sudah menitihkan air matanya.
"Bukankah dengan begini mereka bisa menjalin hubungan tanpa ada yang melarang. Apalagi kalau sampai aku jatuh sakit lalu mati pasti mereka akan senang." Kata Nyonya Park lirih.
"Aniya eommonim. Akin yakin Chanyeol oppa dan Dara noona pasti sangat khawatir dengan keadaan eoomonim. Jadi eommonim harus makannya ya? Akan Baekkie suapi. Jadi Baekkie ambil makanannya dulu." Baekhyun beranjak dari tempatnya berjongkok lalu menuju dapur.
Saat menuju dapur Baekhyun sadar bahwa ada Chanyeol disana tapi dia memilih bersikap seperti biasanya.
"Apakah eomma mau makan?" tanya Chanyeol dan dibalas anggukan dari Baekhyun. Baekhyun sama sekali tak mau membuka bibirnya untuk berbicara dengan Chanyeol.
"Hah, syukurlah. Terima kasih. Aku benar-benar khawatir dengan kondisi eomma." Tiba-tiba Chanyeol memeluknya dengan erat. Tubuh Baekhyun tersentak karena terkejut dan tanpa disadari semburat merah menghiasi pipinya.
"Op-pa, aku ingin menyiapkan makanan untuk eommonim." Chanyeol yang baru tersadar langsung melepaskan pelukannya pada Baekhyun.
Sejak di rumah sakit waktu itu Chanyeol ingin sekali memeluk Baekhyun, namun tidak ada waktu yang pas dan barusan keinginannya tersebut terlaksana. Entah kenapa hatinya berbunga-bunga sekarang padahal itu hanya sekedar pelukan.
Tiba-tiba ponselnya bergetar dan ID callernya ternyata Dara. Chanyeol menengok kearah Bekhyun yang sedang menyiapkan makanan lalu menscroll tombol hijau. Lalu Baekhyun keluar dari area dapur.
"Yeoboseyo."
"Hm, ada apa chagi?
"Bisa kita berbicara sebentar? Tapi diluar. Aku akan menunggu di Maroon cafe."
"Kenapa tidak sekarang saja? Apa ini sangat-sangat penting?"
"Ya, begitulah. Dan aku tak bisa membicarakannya lewat telfon." Chanyeol menghela nafasnya. Ada apa fikirnya.
"Baiklah, aku akan siap-siap."
"Mianhae, padahal seharusnya kau istirahat diruah tapi aku malah menyuruhmu keluar."
"Gwenchanna Dara-ya. Baiklah aku tutup." Sambungan telah terputus. Chanyeol menengok kearah dapur namun Baekhyun sudah tida ada disana.
Chanyeol menuju ke kamarnya, lalu mencari jaket agar tidak kedinginanan dan juga celana yang lebih panjang yang ada di lemarinya. Kemudian dia mengambil kunci mobil yang selalu di meja tempat tidurnya. Ngomong-ngomong Chanyeol telah dibelikan mobil baru. Setelah itu dia turun, namun sebelum memegang hendel pintu ada seseorang yang mengintrupsinya.
"Kau mau kemana? Kenapa berpakaian seperti mau keluar?" tanya orang itu yang ternyata sang kakak.
"Aku akan pergi ke Maroon cafe dan tak akan lama."
"Meskipun begitu, kau itu baru pulang dari rumah sakit dan harus beristirahat total. Jadi aku melarang kau pergi."
"Ayolah noona, aku sudah baik-baik saja. Lagi pula ini sangat penting sekali." Kata Chanyeol memohon.
"Tidak. Kalau penting kenapa tidak dia saja yang datang kemari? Pasti dia tau kan kalau kau baru pulang dari rumah sakit?" Yoora masih berusaha untuk membujuk adiknya yang keras kepala.
"Memang noona tapi dia ingin bertemu diluar. Dan dia pasti sudah menungguku sekarang." Chanyeol tetap ngotot.
"Memang siapa yang akan kau temui sampai-sampai kau harus bertemu dengannya?"
"Sandara." Dan kata itu membuat sang kakak –Yoora- terdiam dan menghembuskan nafasnya. Yoora tahu bahwa sekeras apapun dia melarang sang adik, tapi adiknya itu akan tetap bersikeras apalagi ini berhubungan dengan Sandara.
"Kalau begitu terserah kau saja. Tapi ingat, cepatlah pulang, ada Baekhyun disini." Chanyeol mengangguk lalu keluar dari rumah.
Dan tanpa mereka sadari ada gadis mungil yang mendengar perbincangan antara kakak dan adik tersebut.
Baekhyun buru-buru masuk ke kamar Junsu, lalu melihat eommonimya yang sedang istirahat –tidur-. Baekhyun bernafas lega, akhirnya eomma satunya ini mau makan dan istirahat. Lalu Baekhyun mengambil tasnya yang dia taruh di sofa. Entah kenapa dia ingin mengikuti Chanyeol untuk saat ini, dia benar-benar penasaran apa yang akan mereka bicarakan, apalagi katanya penting. Tanpa menunggu lama Baekhyun keluar dari kamar Junsu –Nyonya Park-.
"Oh, Baekhyun. Kau mau kemana?" ternyata Yoora sedang duduk di ruang keluarga.
"Eh noona, aku ada urusan jadi aku akan pulang sekarang saja."
"Benarkah? Baiklah kalau begitu."
"Aku pulang dulu noona. Annyeong." Baekhyun membungkukkan badannya lalu pergi keluar dari kediaman keluarga Park. Kemudian menuju ke Maroon Cafe.
.
.
Chanyeol yang baru sampai di Maroon Cafe, lalu turun dari mobilnya. Dari luar dia telah melihat Sandara sang kekasih yang sudah menunggunya sambil mengaduk-aduk minumannya. Tanpa menunggu lama, Chanyeol masuk ke dalam cafe dan berjalan ke arah Sandara yang duduk dekat jendela.
"Sudah lama menungguku?" Sandara tersentak oleh kedatangan seseorang di hadapannya ini. Lalu dia menggelengkan kepalanya saat tahu bahwa itu sang kekasih yang sudah datang. Chanyeol duduk didepan Sandara pas.
"Ada apa? Apa yang ingin kau bicarakan?"
"Kau tak ingin memesan sesuatu dulu? Biar aku pesankan." Kata Sandara.
"Tidak, aku tak ada mood untuk makan atau minum untuk saat ini."
"Baiklah." Terjadi keheningan beberapa saat. Sandara juga tak membuka mulutnya untuk membicarakan hal yang sangat penting menurutnya. Namun Chanyeol menunggu dengan sabar.
"Chan?" kata Dara akhirnya.
"Ya?"
"Ayo kita putus." Chanyeol sempat blank setelah mendengar apa yang barusan ia dengar. Namun, setelah itu dia dapat menguasai keterkejutannya.
"Apa yang kau bicarakan?"
"Aku tahu kau mengerti apa yang aku ucapkan Chan, jadi aku mohon jangan biarkan aku mengulanginya untuk kedua kalinya." Kata Sandara menunduk.
"Sandara, lihat aku saat kau sedang berbicara. Jangan menundukkan kepalamu seperti itu." Dengan perlahan Sandara mengangkat kepalanya.
"Bukankah kau tak akan melepaskanku bila bukan aku yang menyuruhmu untuk melepaskanku?" tanya Chanyeol. Sandara kaget, bukankah kata-kata itu yang aku ucapankan saat bersama Baekhyun dirumah sakit fikirnya.
"Bagaimana kau tahu kata-kata itu?"
"Aku mendengar langsung darimu. Aku mendengar apa yang kalian -kau dan Baekhyun- bicarakan." Kata Chanyeol.
"Jadi kenapa sekarang kau yang akan melepaskanku?" imbuhnya.
"Ak-, aku hanya tersiksa dengan semua ini. Aku tahu bahwa semua keluargamu tidak menyukaiku. Mereka tidak bisa menerimaku seperti Bekhyun yang berada didalam lingkup keluargamu. Apalagi saat ini eommamu sangat tak bersemangat, aku tahu bahwa eommamu tak mau makan sama sekali. Makanya itu tubuhnya setiap hari mengurus. Dan aku tak tega dengan Junsu ahjumma. Makanya aku meminta putus denganmu. Karena dengan inilah Junsu ahjumma bisa kembali seperti semula." Sandara sudah sesenggukan mengucapkan kalimat itu.
Chanyeol merasa bersalah dengan kekasihnya ini. Tapi benar apa yang dikatakan kekasihnya, eommanya akan mau makan dan melakukan hal-hal seperti biasanya apabila dia putus dengan Sandara. Chanyeol menghela nafasnya. Apa yang harus ia lakukan? Apa benar dia harus merelakan Sandara untuk sang eomma? Lalu apa gunanya selama ini dia menunggu Sandara? Banyak pertanyaan-pertanyaan yang bersarang dikepalanya. Namun tak ada jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu.
Chanyeol memajukan badannya untuk mendekati Sandara lalu mencium bibirnya, hanya menempel saja, tidak lebih. Namun itu semua dilihat oleh gadis mungil yang sekarang berdiri disebrang jalan Maroon Cafe. Dan dari mereka berdua tidak ada yang sadar dengan keberadaannya. Lalu Chanyeol menjauhkan dirinya dari Sandara.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Chanyeol. Sandara mendongak untuk melihat muka tampan Chanyeol.
"Kau harus mau putus denganku. Bila tidak Junsu Ahjumma akan bisa sangat mengkhawatirkan –keadaannya-." Sebenarnya Dara tidak rela untuk meminta putus namun apa boleh buat hanya ini yang bisa ia lakukan agar tidak menyakiti orang-orang yang ada disekitarnya maupun sekitar Chanyeol.
Hening cukup lama diantara keduanya. Chanyeol sedang memikirkan apa yang di ucapkan Sandara. Menatap Sandara dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
"Baiklah bila itu maumu. Aku akan mengerti dengan apa yang kau rasakan." Namun Sandara merasa tidak rela, entahlah. Dia bingung sendiri dengan yang dirasakannya sekarang. Chanyeol menghadap ke arah jendela dan betapa terkejutnya saat netranya bertatapan dengan gadis mungil yang sedang berdiri disebrang jalan.
'Baekhyun? dan tatapan itu?' batinnya.
Baekhyun meninggalkan tempatnya ia berdiri setelah netranya bertemu dengan Chanyeol. Dia sampai tak sadar bila jalan menuju rumah dan flatnya berlawanan arah.
.
.
TBC
Aigoo, mianhamnida yeorobeun. #bow #bow telah menelantarkan ff abal-abal ini sampai berbulan-bulan tak terurus. Aku gak ada mood buat ngerjain lagi setelah kesibukan di kampus waktu itu. Dan ide ceritanya sudah menguap entah kemana. Aku pingin nulis tapi pas di depan laptop idenya gak ada yang muncul sama sekali. Eh, giliran gak buka ada ide tapi males buat nulisnya. Entahlah antara kemauan sama ide gak ada yang singkron sama sekali. Sekali aku minta maaf #bow Semoga saja di next-next chapter gak sampek molor sampai berbulan-bulan gini. Dan maaf banget buat chapter ini yang sama sekali belum memuaskan. Dikedepannya bakal berusaha lebih baik lagi #amin. Dan maksih untuk yang ngefollow dan juga ngefavorite ff abal-abal ini. Aku mengucapkan banyak- banyak terima kasih #bow. Dan maaf gak bisa bales review.
Jadi jangan lupa buat review lagi yeorobeun! :*
