A/N: Kabar baik buat yang nunggu update fic ini...*sok*
This is the last chap. Hope you enjoy it...^^
Thx juga buat yang review selama ini...
Disclamer: Kuroshitsuji punya Yana Toboso
Be My Sacrifise
Mentari telah bersinar terang, memaksa Ciel untuk bangun dari tidurnya. Setelah melalui hari yang berat semalam tapi kini dia merasa tenang, ya cintanya dan Sebastian tidak akan terpisah.
Kalau mengingat-ingat kejadian semalam, entah apa yang Ciel pikirkan dia meminta Sebastian menghisap darahnya. Tidak ada yang bisa menghalangi pikirannya, bahkan Sebastian sendiripun.
Ciel segera bangun dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi dia segera bersiap-siap menuju universitasnya. Entah kenapa hari ini dia tidak ingin makan makanan yang berat, langkah kakinya hanya membawanya ke dapur sejenak untuk mengambil roti.
"Hmm... Sudah jam delapan ya?" gumam Ciel. "Aku bisa terlambat."
Ciel langsung memakan rotinya hingga habis dan buru-buru meninggalkan apartemennya untuk ke universitas. Hari ini Ann dan Lucia ingin berlatih bersama, tentu Ciel juga diajak dan dia sedikit terlambat.
"Pagi semuanya..." ujar Ciel dengan suara pelan. Nafasnya terngah-engah. Dia sedikit banyak berlari menuju universitasnya, termasuk lincah untuk ukuran Ciel.
"Pagi!" balas teman-teman yang sudah datang.
"Kamu kenapa Ciel? Kecapekan ya?" tanya Karen.
"Ah... Iya begitulah..." jawab Ciel yang berusaha mengatur nafasnya.
"Untuk apa terburu-buru, Ciel? Kau rindu denganku?" tanya seseorang yang Ciel sudah tahu dari suaranya. Ciel segera menoleh ke belakang dan mendapati sosok Sebastian sedang tersenyum ke arahnya.
"Sebas- eh Mister Michaelis," gumam Ciel. "Untuk apa aku rindu dengannya?"
"Haha... Kau lucu juga ya..."
Wajah Ciel sedikit memerah, rasa capek yang tadi dirasakannya seolah-olah menguap begitu saja. Teman-teman yang lain hanya bersiul-siul saja, terutama Karen yang menatap Sebastian dan Ciel dengan tatapan seorang fujoshi.
'Bletak'
"Aw... Ryan apa yang kau lakukan?" keluh Karen sambil mengusap kepalanya yang habis dijitak oleh Ryan.
"Yang kulakukan hanyalah menyadarkanmu dari dunia-mu itu." ujar Ryan dengan penekanan kata 'dunia-mu' itu. Karen hanya cemberut saja. Yang lain tertawa renyah.
"Sudahlah jangan seperti itu, Ryan." ujar Lucia. Karen langsung berlari ke arah Lucia sambil memeluknya.
"Huwaa... Ryan jahat." ujar Karen sok dengan air matanya itu.
"Jangan tertipu, Lucia." ujar Ryan. Lucia hanya tersenyum saja. Ann yang melirik ke arah Ciel langsung menyeretnya ke ruangan khusus latihan mereka.
.
.
.
"Ada apa Ann?" tanya Ciel.
"Aku ingin tanya, kemarin kau jalan berdua dengan Mister Michaelis kan? Aku melihatnya." ujar Ann.
Ciel langsung terdiam, dia bingung menjawab pertanyaan Ann. Apalagi belum memikirkan alasan yang tepat. Ann memang terlihat seperti mengintrograsi Ciel, karena menurutnya hubungan Ciel dan Sebastian ada yang kurang beres.
"Ano..." gumam Ciel.
"Memangnya salah kalau aku mengajaknya pergi, Ann?" tanya Sebastian yang tiba-tiba sudah berada di dalam ruangan. Lucia juga berada di samping Sebastian. Ann menatap ke arah Sebastian.
"Memangnya ada urusan apa?" tanya Ann.
"Aku hanya mengajaknya untuk latihan, bukan masalahmu kan?"
Ann terdiam mendengar ucapan Sebastian itu, ya tidak ada yang salah hanya hubungan sebatas guru dan murid yang saling mengajarkan pelajaran. Setidaknya itu yang berusaha Ann pahami.
"Iya." ujar Ann yang langsung duduk di pojok ruangan. Lucia segera masuk dan mengambil sexophone miliknya, Ciel juga langsung bergegas menuju piano dan segera duduk di bangkunya. Sebastian langsung berjalan pergi meninggalkan mereka bertiga.
"Mau dimulai?" tanya Lucia.
"Iya." jawab Ann.
Ann mulai bernyanyi, sedangkan Ciel dan Lucia seperti biasa mengiringi Ann. Meski mereka bertiga terlihat sedang latihan atmosfir yang terasa sedikit kaku, terutama Ciel. Ciel merasa ada yang berbeda dari Ann.
'Apa hanya perasaanku saja?' batin Ciel sambil meneruskan permainan pianonya.
Ann, Ciel dan Lucia sudah selesai berlatih, mereka bertiga hanya berdiam diri saja sambil memainkan alat musik mereka kecuali Ann yang sambil menatap ke luar jendela. Pagi telah menjadi siang, siang yang cukup terik untuk musim dingin kali ini.
Suasana diantara mereka sangat sunyi, suara dentangan jam dinding saja bisa terdengar dengan jelas. Ciel langsung bangkit dari bangkunya, membuat Ann dan Lucia menoleh ke arahnya.
"Ada apa, Ciel?" tanya Lucia.
"Aku hanya ingin ke toilet saja." jawab Ciel yang langsung menuju toilet. Ann hanya memandang punggung Ciel dalam diam. Mengetahui ada yang aneh dengan Ann, Lucia berjalan mendekati Ann.
"Ada apa Ann? Kau terlihat berbeda dari biasanya?" tanya Lucia.
"Ah... Aku hanya merasa kalau hubungan Ciel dan Mister Michaelis ada yang aneh." jawab Ann.
"Aneh? Maksudmu?"
Ann tidak melanjutkan perkataannya, dia hanya menggelengkan kepalanya dan kembali menatap ke jendela luar. Meski siang terlihat terik tapi turun beberapa salju.
"Mungkin hanya perasaanku saja," gumam Ann. "Aku hanya kurang terbiasa melihat mereka terlalu sering bersama."
"Ciel kan lebih muda dari kita, mungkin Mister Michaelis memang mengajarkan hal yang baru padanya," ujar Lucia. "Kau jangan berfikiran yang negatif."
"Baiklah..."
.
.
.
Ciel sedang membasuh tangannya di wastafel, sesekali menatap wajahnya yang terpantul di cermin. Entah kenapa Ciel ingin tersenyum saja, mengingat berbagai macam hal yang telah dilalui selama berada di universitas ini.
"Kenapa kau tersenyum sendiri?" tanya Sebastian yang tiba-tiba berada di belakang Ciel. Ciel terlonjak kaget dan langsung menoleh ke belakang.
"Sebastian, kau mengejutkanku." ujar Ciel.
"Sesekali tidak apa-apa kan?"
Ciel hanya menghela nafas saja, dia kembali membasuh tangannya. Tapi gerakan tangan Sebastian yang tiba-tiba berada di pinggangnya membuatnya terkejut.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Ciel.
"Aku hanya ingin seperti ini, tidak apa-apa kan?" tanya Sebastian balik.
"Nanti kalau yang lain tahu?"
"Tidak masalah."
Ciel tidak bisa berbuat banyak, Sebastian malah memeluknya dari belakang. Entah kenapa Ciel juga tidak melawan, tampaknya dia juga menginkannya kali ini. Cukup lama juga mereka berdua berada dalam posisi seperti itu.
"Sebastian lepaskan, Ann dan Lucia sedang menungguku." ujar Ciel.
"Ah... Kau masih ada latihan?" tanya Sebastian sambil melepaskan pelukannya dari pinggang Ciel.
"Iya."
Sebastian langsung menyeringai tipis dan mencium kilat bibir merah Ciel. Wajah Ciel langsung saja memerah, dia memukul pundak Sebastian yang tampaknya agak sulit dijaungkaunya. Sebastian hanya tersenyum kecil saja.
"Kutunggu kau nanti sore ya." ujar Sebastian yang berhasil menghindari pukulan Ciel dan segera berlalu dari sosok Ciel.
Ciel ingin segera kembali ke ruangannya karena sudah terlalu lama dia di toilet, tapi wajahnya masih saja memerah karena ulah Sebastian. Ciel tidak yakin bisa kembali ke ruangannya dengan keadaan seperti ini.
"Ah... Dasar Sebastian." keluh Ciel masih dengan wajah memerah.
Ciel segera berlari-lari kecil menuju ruangannya, ketika dia membuka pintu Ann dan Lucia yang sedang berlatih langsung saja berhenti karena kaget dengan kemunculan Ciel yang tiba-tiba itu.
"Ah, Ciel. Kau lama..." keluh Ann.
"Maaf." ujar Ciel yang kembali menuju bangku pianonya.
"Sudah, sudah. Kita lanjutkan saja latihannya." ujar Lucia.
Lalu Ann mulai bernyanyi, diiringi oleh Ciel dan Lucia. Mereka bertiga latihan dengan serius, alunan musik yang terdengar sangat serasi dengan suara Ann yang khas itu. Sebastian yang sudah berada di ruangan itu hanya tersenyum saja melihat murid-muridnya berlatih.
.
.
.
"Ah... Sudah sore ternyata." gumam Ann sambil mengambil botol minuman yang ada di tasnya dan meminum isinya.
"Iya. Kau mau pulang?" tanya Lucia.
"Iya." Ann pamit pada Ciel juga Lucia dan segera keluar dari ruangan itu. Memang hanya tinggal mereka bertiga saja yang ada di universitas, teman-teman yang lain sudah pulang sejak siang tadi.
"Lucia apa kau mau pulang juga?" tanya Ciel.
"Iya. Hari ini aku ada janji, maaf ya." jawab Lucia.
"Tidak apa-apa kok."
"Jangan terlalu lama pulang ya, sudah sore."
"Iya."
Lucia berjalan meninggalkan ruangan itu, tinggalah Ciel sendiri di sana. Ternyata berada sendirian di ruangan seluas ini terasa agak sepi. Ciel kembali memainkan pianonya dengan lagu yang tadi dibawakan Ann.
Jari-jarinya bergerak lincah diatas tuts piano itu, alunan musik yang terdengar juga sangat indah. Cukup menghibur diri Ciel yang dilanda kebosanan. Tiba-tiba pintu ruangannya terbuka dan sosok Sebastian muncul disana.
"Sedang asyik berlatih, Ciel?" tanya Sebastian.
Ciel langsung menghentikan kegiatannya itu dan menoleh ke asal suara itu. Sosok Sebastian yang berada di ambang pintu, Ciel hanya berdiam diri dan melirik ke arah jendela luar.
"Kenapa tidak masuk?" tanya Ciel.
Sebastian segera masuk ke ruangan itu dan berdiri di samping Ciel. Ciel tahu Sebastian sudah berada di sampingnya tapi dia tidak sekalipun menoleh ke arahnya.
"Hei, aku sudah di dalam. Lihat kesini." ujar Sebastian sambil menaruh kedua tangannya di pundak Ciel. Ciel perlahan menoleh ke arah Sebastian, jarak wajah mereka berdua cukup dekat.
"Ada apa?" tanya Ciel.
Sebastian mendekati Ciel, dia menjilat kuping Ciel hingga dia merasa geli. Entah kenapa wajahnya juga langsung memerah, dia ingin memerahi Sebastian tapi tenaganya serasa sudah hilang.
"Aku ingin jatah-ku hari ini, bisa?" tanya Sebastian dengan nada menggoda.
"Ah... Apa sebenarnya maumu?" tanya Ciel sambil mendesah tertahan.
"Aku ingin darah-mu hari ini. Bisa kan?"
"Ta-"
Belum sempat Ciel meneruskan ucapannya Sebastian sudah mencium bibir merah Ciel dengan lembut, Ciel langsung memejamkan matanya dan melingkarkan tangannya di leher Sebastian. Sebastian menyeringai dalam hati, dia tahu Ciel tidak akan menolaknya.
Sayangnya karena Ciel kehabisan nafas Sebastian menyudahi ciuman mereka. Merah bertemu biru, Sebastian melihat wajah Ciel yang memerah, manis.
"Aku mohon..." pinta Sebastian.
"Ah... Baiklah." gumam Ciel masih dengan wajah memerah.
Tanpa buang-buang banyak waktu Sebastian langsung saja mengankat tubuh Ciel yang ringan baginya dan menutup bagian piano yang terbuka. Ciel berada di atas piano dengan wajah yang bingung.
"Apa maksudnya?" tanya Ciel berontak.
"Diam dan nikmati saja," jawab Sebastian sambil mencium bibir Ciel lagi. Tapi ciuman itu hanya berlangsung singkat dan Sebastian langsung duduk di bangku piano itu. "Aku belum pernah mengajarkan permainan piano secara khusus padamu kan?"
"Eh?"
"Iya kan?"
Ciel hanya mengangguk saja. Sebenarnya dia tidak mengerti apa isi pikiran Sebastian, baik yang dulu maupun sekarang. Sebastian hanya menyeringai tipis dan langsung mendekatkan wajahnya pada Ciel. Wajah Ciel kembali memerah ketika merasakan nafas hangat Sebastian.
"Apa?" tanya Ciel.
"Kalau kumainkan lagu untukmu, bagaimana?" tanya Sebastian.
"Eh?"
"Tentu setelah aku mendapatkan yang aku mau."
Sebastian segera berdiri dan segera mendekatkan wajahnya pada leher Ciel, menghisap darahnya. Ciel hanya mendesah saja, rasanya sakit tapi nikmat juga. Ah, entah kenapa Ciel mulai menyukai perlakuan Sebastian padanya.
Tidak lama Sebastian selesai menghisap darah Ciel dan dia menjilat leher Ciel. Tapi bukan hanya itu saja, Sebastian menggigitnya kecil hingga menimbulkan kissmark di leher Ciel. Ciel lagi-lagi mendesah tertahan.
"Apa... yang nngh... kau... lakukan?" tanya Ciel.
"Hanya memberikan bukti." jawab Sebastian.
"Bukti?"
"Iya."
Ciel memegangi lehernya dan hanya berdiam diri saja, dia turun dari atas piano dan menuju ke arah jendela. Betapa kagetnya dia, meski samar dia bisa melihat bercak merah di lehernya.
"Eh? Apa yang kau lakukan?" teriak Ciel.
"Lho? Itu wajar kan..." ujar Sebastian dengan senyum mesumnya.
"Kau?"
Sebastian langsung memeluk Ciel, Ciel tidak menolak. Dia menunggu Sebastian akan melepasnya, tapi rasanya pelukan Sebastian terasa makin kencang dan hangat.
"Tidak akan ada yang memisahkan kita." ujar Sebastian.
"Iya." gumam Ciel.
"Aku ingin bersama denganmu, selamanya."
"Hmm..."
Lalu Sebastian membagi kehangatannya dengan Ciel lewat ciumannya lagi, kali ini terasa lebih manis dan bergairah dari yang biasanya. Apapun yang akan terjadi, mereka akan bersama. Karena mereka berdua telah mengorbankan hidupnya untuk selalu bersama dengan orang yang disayangi.
The End
A/N: Aw... Ending apa ini?
Haha...^^
Yang penting ditunggu reviewnya.
Sampai jumpa...
