HOLD OUR HANDS
Chapter 7
Judul : Hold Our Hands
Author : Sam / SamKou
Genre : Yaoi, Family, Friendship, Sad, Angst.
Main Cast : Byun Baek Hyun, Park Chanyeol.
Other Cast : EXO member and others
Pairing : Baekyeol
.
.
HAPPY READING!
.
.
.
Maaf
Masih berlakukah kata maaf untuk semua ini?
.
Terlambat
Terlambatkah jika mengungkapkannya sekarang?
.
Sesal
Adakah penyesalan setelah semua ini?
.
Tak ada yang tahu kapan semua ini harus berhenti
Ataukah malah akan terus berlanjut
Hingga tak ada lagi yang mampu untuk menanyakan semua itu
.
Namun ketika uluran tangan itu datang...
Masih bolehkah aku menggapainya?
Ataukah harus kutepis semua itu?
.
Tak ada yang jelas
Tak ada yang pasti
.
Meski begitu di lubuk hati ini
Aku berharap suatu saat nanti
Tanganmulah
Yang pada akhirnya mampu menggenggamku kembali
Menarikku keluar dari dalam lubang kesedihan ini
.
.
.
.
-START-
.
.
.
-Author's Pov-
.
Setelah kejadian di sekolah tadi Baekhyun terus memikirkannya. Jantungnya masih berdegup kencang membayangkan apa yang ia lakukan tadi?
.
'Saranghae...'
.
Kata terakhir Chanyeol yang masih terus terngiang di telinganya. Kata terakhir Chanyeol yang sama sekali tak terlihat adanya kebohongan disana. Kata terakhir Chanyeol yang belum ia temukan jawabannya ia saat ini.
Ragu? Mungkin...
Bukan meragukan keseriusan Chanyeol, karena memang tak ada kebohongan disetiap kata yang ia ucapkan, Baekhyun tahu itu.
Namun keraguan dari dirinya sendiri. Apakah yang ia lakukan saat itu benar? Mulut Baekhyun selalu mengucap benci, namun pelukan selalu menghalangi. Lalu seperti apa sebenarnya hati Baekhyun? Haruskah ia membalas cinta Chanyeol? Tapi siapkah dirinya apabila rasa sakit itu timbul kembali?
"Harusnya sejak dulu kau sadari itu..."
"Harusnya sejak dulu kau katakan itu..."
"Dan harusnya sejak dulu kau melakukannya... menciumku dengan begitu lembutnya..."
Rasa itu kembali menjalar keseluruh tubuhnya, menggetarkan jantungnya. Namun bukankah ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tak menerima siapapun... dihatinya...
.
.
.
Di Kediaman Keluarga Wu...
.
Keadaan di rumah megah itu seperti biasa, sepi. Dan Baekhyun melangkah kakinya masuk kedalam dan masih dengan pikirannya yang melayang hingga tak menyadari keadaan sekitar.
"Bersenang-senang eum?" sambut Kris setibanya Baekhyun di rumah, Kris sudah duduk di sofa ruang tamu.
"Hyung..." dan Baekhyun sedikit terkejut, pasalnya Kris yang menegurnya dulu.
"Apa kita perlu merayakannya?"
"Merayakan? Merayakan apa hyung? Aku tidak mengerti. Apa ada hari istimewa?" Baekhyun kembali terkejut atau terkesan tidak mengerti. Apa dia melewatkan hari spesial yang harus dirayakan?
"Cih, Merayakan kembalinya hubunganmu.. eumm.. Chanyeol... benar kan?"
"Hy-hyung mengenal Chanyeol?"
Dan ini sukses membuat Baekhyun benar-benar kaget. Dan Kris terlihat sedikit menyeringai. Kris sepertinya melihat kejadian sepulang sekolah tadi.
"Tidak juga, hanya sebatas tahu..."
"Tapi kenapa hyung... apa hyung melihatnya?"
"Tidak sengaja..." Kris beranjak dari duduknya dan menghampiri Baekhyun yang masih berdiri dengan wajah bingungnya.
"Ckckck... Tidak kusangka ternyata kau pintar juga dalam menaklukkan seseorang... Sebenarnya orang seperti apa kau ini?" ujar Kris sedikit meremehkan.
"Tapi... apa semudah itu kau percaya kepada seseorang dan menerimanya kembali? Dari yang aku tahu, namja itu membohongimu selama ini"
Pandangan Kris masih meremehkan, kata-katanya menjurus menjadi kalimat sindiran yang ia tujukan pada Baekhyun. Dan Baekhyun seperti biasanya hanya diam dengan perlakuan saudaranya tersebut.
"Aku... Aku tidak tahu, tapi aku belum menerimanya hyung"
"Belum? Jadi akan ada kemungkinan kau menerimanya?"
"Oh maaf bukan maksudku ikut campur masalahmu"
"Tidak apa-apa"
Kris yang tepat berada didepan Baekhyun menatapnya dengan tajam, mendengar dan melihat Baekhyun yang terlihat ragu-ragu. Atau saat ini dirinya sedikit takut? Entahlah, tapi Kris sepertinya senang melihat Baekhyun yang seperti itu. Dan seringaian kembali nampak dibibirnya.
"Kalau aku... aku tak akan semudah itu menerima kembali seseorang, apalagi jika dia membuatku merasakan penderitaan yang berkepanjangan. Aku tak akan mudah memaafkannya. Atau mungkin tak akan pernah..."
.
DEG
.
Baekhyun langsung membalas tatapan Kris, tatapannya sayu. Dadanya terasa sakit... ucapan Kris yang terakhir spertinya ditujukannya kepada Baekhyun, Baekhyun yakin itu.
.
'Jadi kau tidak akan pernah memaafkan? Untuk selamanya...'
.
Setelah mengatakan itu Kris langsung berbalik dan berniat meninggalkan Baekhyun, ia rasa cukup hari ini untuk mengintimidasi adiknya itu. Sebelum...
"Bagaimana... bagaimana jika keadaannya terbalik?"
"Bagaiman jika ternyata yang kau pikirkan selama ini salah?"
Kris berhasil berhenti karena kalimat Baekhyun namun dirinya tidak berbalik. Dan Baekhyun masih menatap punggung Kris, saat menatapnya Baekhyun merasa ada sebuah dinding tebal yang kokoh antara mereka berdua. Yang bisa dilakukan Baekhyun hanya menatapnya tak mampu untuk menghancurkan dinding kokoh tersebut.
"Dan jika seperti itu... apa yang akan kau lakukan hyung? Akankah kau terus... membenciku?"
"..."
"Aku tak pernah meminta semua ini terjadi dan apalagi meminta untuk... dilahirkan dalam keadaan seperti ini..."
"Seandainya aku diberi pilihan... akupun tak mau terjebak dalam kehidupan yang seperti ini hyung... kehidupan dimana tak ada seorangpun yang menginginkanku. Tidak untuk orang disekitarku, temanku, keluargaku bahkan orang tuaku sendiri..."
"Bahkan ayah kandungku sendiri menginginkanku mati. Andai keadaan malam itu terbalik, andai aku yang menggantikan posisi ayahku saat itu... Maka tak akan seperti ini..."
"..."
Hening... Krispun tak menjawab apapun yang dikatakan Baekhyun. Kris masih bertahan dalam posisinya. Sedangkan Baekhyun, hanya senyuman pahit yang terukhir diwajahnya. Terlihat jelas kesedihan yang amat dalam, namun Baekhyun telah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menangis. Atau mungkin air matanya telah habis karena terlalu sering digunakan?
"Maaf hyung... maaf..."
"Aku tahu, seperti yang kau katakan tadi bahwa... bahwa kau tak akan mudah memaafkanku. Atau mungkin tak akan pernah memaafkanku... Tapi aku tak tahu harus mengatakan apalagi selain maaf..."
"Maafkan aku karena aku tak seperti adik yang kau harapkan selama ini... dan maafkan aku karena telah mengambil eomma darimu... maaf..."
Setelah mengatakan kata maaf terakhir, Baekhyun segera membalikkan tubuhnya menuju arah tangga. Dan bersamaan dengan itu Krispun membalikkan badannya. Saat ini keadaan terbalik, Kris yang berganti menatap punggung Baekhyun. Punggung kecil yang nampak sekali beban berat yang dipikulnya. Hanya dengan melihat, Kris sebenarnya tahu sebesar apa kesedihan yang ditanggung Baekhyun.
Dan kata-kata Baekhyun sebenarnya mampu menembus suatu titik sensitif di hati Kris, itulah sebab Kris sedari tadi diam. Namun sekali lagi semua itu terpatahkan oleh suatu kekecewaan dan kebencian.
.
.
SKIP TIME
.
.
.
Di Sekolah
.
"Yeollie tunggu!"
Terlihat seorang yeoja tengah mengejar namja yang ada didepannya. Karena namanya dipanggil namja itupun berhenti dan berbalik kearah yeoja tersebut.
"Ada apa lagi Jessica noona?"
"Kenapa? Ada apa denganmu? Kenapa memutuskanku?"
Oh ternyata yeoja tersebut adalah Jessica. Chanyeol sebenarnya sudah memutuskan hubungannya dengan Jessica yang sempat terjalin lagi beberapa saat lalu. Karena Chanyeol sudah memantapkan hatinya hanya untuk Baekhyun. Bisa dikatakan Jessica adalah sebab berakhirnya hubungan Chanyeol dan Baekhyun. Namun bukan mutlak kesalahan Jessica, melainkan Chanyeol sendiri.
"Karena... karena aku sadar yang kucintai bukan kau noona maaf..."
"Baekhyun?"
"Ne"
"Jadi kau hanya mempermainkanku? Aku hanya sebagai alat untuk menyadarkanmu, begitu?"
Jessica terlihat kesal karena dirinya berfikir, Chanyeol hanya bermain-bermain dengan perasaannya.
"Aku tidak mempermainkanmu noona. Memang aku rasa yang aku cintai dari dulu adalah Baekhyun, hanya saja aku belum benar-benar sadar. Aku tidak bermaksud mempermainkan siapapun. Tapi bukankah kau yang mempermainkanku?"
"Kau yang dulu selingkuh dibelakangku, dan setelah kaupun berakhir dengan selingkuhanmu, kau kembali padaku. Kau yang mempermainkanku noona. Aku akui dulu kau pernah singgah dihatiku, tapi tak lagi sejak aku tahu siapa pemilik hatiku sebenarnya. Maaf"
Sebenarnya Chanyeol ingin mengungkapkan semua kekecewaannya kepada Jessica. Benar, dulu Chanyeol pernah menaruh hati pada Jessica, itu sebelum dia tahu bahwa Baekhyunlah pemilik hatinya yang sebenarnya. Ia tidak bisa menyalahkan semua ini kepada Jessica, iapun patut disalahkan, karena kenyataannya saat inipun ia juga mengecewakan Jessica.
"Lalu kenapa kau menerimaku kembali eoh?"
"Karena kau yang memaksaku, kau mendatangiku tiba-tiba noona... Ah tidak mungkin karena aku yang bodoh... mian..."
"Itu karena kau tidak punya keyakinan Yeol..."
"Mungkin kau benar noona"
Chanyeol terlihat bingung. Ia sedikit mengacak rambutnya. Chanyeol merutuki kebodohannya, ketidak yakinannya dan hal lainnya yang membuatnya harus berakhir seperti sekarang ini. Dia memutuskan meninggalkan Jessica untuk kembali kepada Baekhyun. Tapi Chanyeolpun belum tentu mendapatkan Baekhyun kembali.
Jessica yang melihat tingkah Chanyeol sekarang hanya menghela nafas beratnya. Ini bukan seperti Chanyeol yang ia kenal dulu, Chanyeol yang sekarang terlihat sangat frustasi. Dan salah satu yang menyebabkan Chanyeol seperti sekarang ini adalah dirinya.
"Hah~ Baiklah itu kesalahanku dimasa lalu, aku minta maaf. Tapi sekarang aku benar-benar mencintaimu Yeol..."
"Maaf noona tapi aku-"
"Oke, aku mengerti... Dan ini mungkin balasanku karena pernah bermain-main dengan perasaan... Inilah 'Apa yang kita tabur, itulah yang kita tuai' sepertinya itu cocok untukku..."
"Tapi ingat Yeol, bukan hanya aku yang mempermainkan perasaan seseorang. Kaupun juga Yeol... Dan bagaimana jika hal itu juga menimpamu? Apa yang akan kau lakukan?"
.
'Aku rasa aku sudah mendapatkan balasannya'
.
Setelah selesai dengan urusan Jessica langsung pergi meninggalkan Chanyeol yang masih terpaku disana. Ia tahu maksud Jessica, dirinya pun pernah mempermainkan hati dan perasaan seseorang, seseorang yang memiliki hatinya, seseorang yang ia cintai. Seseorang itu Baekhyun.
.
.
Tap Tap Tap
.
"Jadi yeoja itu yang membuatmu mempermainkan 'dirinya'?"
Tiba-tiba sebuah suara muncul dibelakang Chanyeol, Chanyeol menolehkan untuk melihat siapa sosok tersebut.
"Hyu-Hyung?"
Kris.
Kris ada disana, entah kebetulan atau memang disengaja, sejak tadi Kris sudah berada disana. Mendengar percakapan antar Jessica dan Chanyeol.
"Apa yang hyung lakukan disini?" tanya Chanyeol
"Apa kau berniat untuk mempermainkannya lagi?" bukannya menjawab, Kris malah balik bertanya.
"Apa maksud hyung?" tanya Chanyeol lagi dengan bingung.
"Kenapa kau bingung? Siapa lagi memangnya yang kau permainkan perasaannya?" sindir Kris.
"Apa maksud hyung, Baekhyun?"
Tak ada balasan dari Kris, Kris hanya menatap tajam Chanyeol.
"Jika benar, aku... aku tidak akan melakukan kesalahan untuk kedua kalinya" jawab Chanyeol pelan namun tegas.
"Benarkah?"
"Aku tahu kau pasti mengkhawatirkan Baekhyun, tapi aku benar-benar men-"
"Aku tidak mengkhawatirkannya" potong Kris cepat. Kris tidak mengkhawatirkan Baekhyun, tidak.. tidak pernah. Tapi benarkah?
"A-ah maafkan aku..." hening seketika diantara mereka terdiam.
"Kenapa?"
"Ne?" Lagi, Kris memberikan pertanyaan yang membingungkan.
"Kenapa kau lebih memilihnya?"
"Kenapa semua orang seperti berpihak padanya?"
"Bukankah dirinya terlibat kasus sebelumnya...?" Oh tentang Baekhyun yang tanpa sengaja melakukan sesuatu yang enyebabkan ayahnya terbunuh. Meski Kris tak suka akan keberadaan Baekhyun, tapi dirinya tak mau menyebutnya sebagai pembunuh... Karena entahlah bukankah itu terlalu... jahat? Tapi bukankah itu berari Kris masih menaruh suatu kasih sayang...
"Kenapa kau masih mengharapkan orang seperti itu?"
Tapi tetap... Ada nada kesal dan iri di setiap pertanyaan yang dilayangkan Kris kepada Chanyeol, atau bisa dibilang kepada dirinya sendiri. Tapi tersirat pula kesan sedih yang mendalam. Meski raut mukanya tak menggambarkannya, hanya datar.
Disisi lain Chanyeol mengeratkan genggaman tangannya. Kenapa pertanyaan seperti itu tiba-tiba muncul? Dan terlebih dari mulut orang dihadapannya.
Jika mereka semua mempertanyakan hal yang sama...
"Akupun tidak tahu"
"Jika masalah tragedi itu, aku yakin itu bukan apa yang ingin dilakukannya dengan sengaja. Entah mengapa hatiku percaya itu..."
"...Karena hati tahu mana yang benar dan tak pernah berdusta meski kita menolaknya untuk percaya... Aku tidak tahu mengapa, tapi sekali lagi yang aku yakini, bahwa hatiku memilih dengan benar..."
Chanyeol menatap Kris, matanya menyiratkan bahwa apa yang ia katakan benar. bahwa ia bersungguh-sungguh.
"Cih! Omong kosong!" Kris meremehkan perkataan Chanyeol.
"Aku tidak tahu apa yang benar-benar terjadi diantara kalian. Atau mungkin aku bodoh karena sampai tidak tahu apa yang terjadi. Tapi aku harap bukan sesuatu yang akan menyakiti siapapun. Karena sudah cukup... sudah cukup hal yang menyakitkan yang terjadi pada kehidupannya..."
"Jangan bercanda!" Kris sedikit terbawa emosi, dengan omong kosong yang dikatakan Chanyeol. Hati, percaya, menyakitkan? Memang tahu apa dia.
"Kau! Salah satu penyebab hal yang menyakitkan bagi kehidupannya! Kau salah satu penghancur hidupnya! Apa kau masih mengarapkannya kembali padamu setelah semua hal yang kau lakukan padanya? Mengkhianati dan mencampakkannya? Hah!"
Senyum... senyuman tipis mengembang di wajah Chanyeol. Benar apa yang dikatakan Kris, bahwa dirinyalah salah satu penyebab bertambah besarnya lubang kesedihan bagi Baekhyun.
Tapi... tidakkah ada kesempatan untuk menutup kembali lubang tersebut? Berharap? Masih bolehkah?
"Tentu... tentu aku masih berharap, karena aku menyayangi dan mencintainya, meski dengan bodohnya rasa tersebut sempat tersamarkan..."
"Tak akan kubiarkan dirinya terus berada dalam kesedihan. Dengan cara apapun akan kugapai dirinya kembali. Meski sekarang aku mendapatkan balasannya... Aku ingin memulainya kembali... Jadi-"
"Memulai kembali kau bilang? Cih jangan bercanda, tak ada seorangpun yang mau terluka kembali. Kau pikir, hati manusia akan semudah itu untuk disembuhkan? Semudah itu memaafkan? Kau pikir perasaan manusia itu sebagai apa?" Kris benar-benar ingin meledak dengan Chanyeol yang dengan entengnya berbicara tentang hati.
Tapi sebenarnya hati siapa yang Kris bicarakan? Bukankah yang menjadi topik pembicaraan adalah Baekhyun? Tapi apa yang diungkapkan Kris, seperti tentang hatinya sendiri. Hatinya tak mudah untuk memaafkan, hatinya yang sulit untuk di sembuhkan...
"Benar, mungkin Baekhyun belum benar-benar memaafkanku. Belum menerimaku dengan semudah itu. Bahwa diriku masih menjadi orang yang ia benci saat ini. Dan jika memang tak ada kesempatan untukku untuk mengisi hatinya lagi... Aku rasa hanya berada disampingnya saja sudah cukup..."
.
"...Maaf..."
.
"Aku tau, hyung tidak bisa menerimaku semudah itu. Aku tau, aku masih orang asing bagimu. Tapi, bisakah kau menganggapku sebagai seorang adik, meski hanya dirumah saja hyung?"
.
DEG
.
'Kenapa... kenapa yang disampaikan anak ini, sama seperti dirinya? Kenapa sebegitu inginnya mereka diterima disisi orang lain? Kenapa selalu meminta maaf?'
.
Batin Kris mengingat apa yang sempat dikatakan Baekhyun waktu itu.
"Memang sulit disembuhkan, tapi tidak mungkin tidak bisa disembuhkan. Aku ingin membantu menghilangkan rasa sakitnya. Aku tak mau Baekhyun seperti menyimpan rasa sakit yang luar biasa... menyimpannya sendiri..."
"Kau pasti merasakannya juga kan hyung? Karena kalian bersaudara, karena darah lebih kental dari pada air, aku rasa kau juga merasakannya. Jadi bisa beritahu aku apa yang sebenarnya terjadi?"
"..."
"Ah maaf jika aku sedikit lancang..."
"Tapi aku merasa... Baekhyun seperti... membutuhkan uluran tangan, untuk menggapainya, membutuhkan sesuatu yang mampu menggenggam tangannya, dan memeluknya dengan kasih sayang..."
"..."
"Maaf bila aku terdengar sok tahu, tapi itu yang aku rasakan. Dan aku serius untuk membuang rasa sakitnya, membuatnya kembali ceria. Jadi aku mohon bantuannya"
Chanyeol tersenyum karena untuk beberapa perkataannya tak ditanggapi oleh Kris, dan akhirnya memilih untuk pergi meninggalkan Kris.
Dan Kris? Bukannya dia mengabaikan Chanyeol. Hanya saja apa yang dikatakannya Chanyeol sedikit banyak ada benarnya, dan itulah yang membuat Kris seperti ini, menahan kesal. Rasa amarahnya tak dapat lagi dielakkan, hingga akhirnya...
"Sial!"
.
BUGH!
.
Kris memukul dinding sekolah yang ada disampingnya, pukulannya sangat keras hingga berhasil membuat darahnya mengalir keluar dan beberapa tetesan menapak dilantai. Gemeretak giginya pun sempat terdengar, menandakan ia menahan emosi semenjak tadi. Tapi untuk alasan apa...
"Cih! Sakit? Sakit yang luar biasa katanya? Apa yang dia rasakan belum sebanding dengan apa yang aku rasakan"
.
'Apa yang kita tabur, itulah yang kita tuai'
.
"Mungkinkah kalimat itu juga berlaku untukmu adikku?"
.
.
.
SKIP TIME
.
.
Tap Tap Tap...
.
"Bae-Baekhyun-ah..." mata Chanyeol menangkap sesosok manusia yang ia jadikan topik pembicaraan tadi. Dan berhasil membuatnya merindukan sosok tersebut setiap kali memikirkannya.
"Kau mau pulang?" Chanyeol segera menghampiri Baekhyun. Mungkin ini kesempatan baik untuknya mengajak bicara Baekhyun dengan cara normal, tidak seperti sebelumnya.
"Ne"
"Eum boleh aku pulang bersamamu... bejalan sampai halte bis?" Basa-basi mungkin lebih baik.
"Eum baiklah" beruntung Baekhyun mau menerima tawaran Chanyeol menemaninya.
Meski sekarang Baekhyun sudah menyandang nama keluarga Wu yang kaya, dia masih senang menggunakan fasilitas umum, atau mungkin dirinya masih canggung mungkin.
Dalam perjalanan tersebut tak ada percakapan berarti diantara mereka berdua, hanya keheningan yang disebabkan oleh rasa canggung karena peristiwa tempo hari diantara mereka. Namun sepetinya Chanyeol sudah tak sabar menghentikan keheningan tersebut.
"Baekhyun-ah..."
Chanyeol menghentikan langkahnya begitu juga Baekhyun karena orang disampingnya berhenti.
"Tentang yang kemarin-"
"Maaf aku tak bisa" potong Baekhyun, sebelum Chanyeol meneruskan perkataan yang sempat mengganjal di tenggorokannya.
"Aku.."
"Aku memaafkanmu"
"Eh?"
"Aku memaafkanmu, tentang waktu itu. Dan aku juga minta maaf aku... tidak bisa menerima tawaranmu..."
"Ah begitu, baiklah"
Chanyeol tersenyum simpul. Meski ada kecewa didalamnya, namun entah kenapa dirinya tak merasa marah sedikitpun kepada namja yang ada didepannya. Ia mengerti perkataan Baekhyun. Bahwa Baekhyun tak bisa menerimanya kembali. Namun paling tidak Baekhyun telah memaafkannya.
"Tapi... kita bisa berteman?" akhirnya hanya pilihan ini yang bisa diambil Chanyeol. Bukankah Chanyeol sudah bilang
.
'Dan jika memang tak ada kesempatan untukku untuk mengisi hatinya lagi... Aku rasa hanya berada disampingnya saja sudah cukup...'
.
"Hmm" hanya gumaman yang menjadi jawaban atas permintaan Chanyeol tersebut. Baekhyunpun tidak yakin apakah ini pilihan tepat. Dia masih sanksi, apakah ia benar-benar memaafkan Chanyeol, menerimanya menjadi teman begitu saja, atau... Baekhyun berharap lebih atas permintaan tadi?
Hening kembali, mereka sudah sampai di halte. Mereka hanya duduk berdampingan, merasakan hawa keberadaan masing-masing dengan tenang, yang sudah sejak lama tak terjadi.
Tapi karena Chanyeol berinisiatif mengambil alih pembicaraan kembali, karena tahu Baekhyun akan memilih diam. Toh, Chanyeol sendiri yang ingin lebih dekat lagi dengan Baekhyun.
"Eum Baekhyun-ah, aku tadi bertemu dengan hyungmu"
"Kris hyung?"
"Huum"
"Ada apa... diantara kalian, aku merasa-"
"Tak ada-apa"
"Baekhyun-ah, kau bisa menceritakan semuanya padaku. Bukankah aku sekarang... sahabatmu? Mungkin aku dulu tidak peka sebagai kekasimu, tak bisa diandalkan. Tapi sekarang... bisakah kau mengandalkanku sebagai seorang... sahabat?"
.
'Sahabat Baekhyun-ah, buatlah aku berguna meski hanya sebagai sahabatmu'
.
"Eum, entahlah. Aku... hanya tak biasa mengatakannya apapun pada... siapapun"
"Kalau begitu aku yang akan membuatmu terbiasa"
"Heum?"
"Iya, aku akan membuatmu lebih terbuka, membuat kembali tersenyum lagi, membuatmu menjadi Baekhyun yang sepeti dulu"
"Chanyeol..."
"Aku yang akan membuat itu terjadi, aku... aku yang akan kembali utnuk menggenggam tanganmu Baekhyun. Meski bukan menjadi orang yang istimewa bagimu, menjadi seorang sahabatpun aku bahagia..."
"Jadi, jangan sungkan padaku jika ingin bercerita, ne?"
"Eum"
.
.
.
.
Di Kediaman Keluarga Wu
.
CKLEK
.
"Ah hyung sudah pulang?"
Setibanya Kris di rumah, sebuah suara lembut telah menyambutnya. Tapi sayang selembut apapun suara itu, tapi bagi Kris suara itu hanya sebuah angin lalu.
Sang pemilik suara tersebut sudah pasti Baekhyun, namun dia hanya tersenyum pahit karena tak ada sambutan apapun. Tapi tentu saja dirinya tak putus asa untuk mendapat perhatian hyungnya.
"Eum tadi eomma dan appa menelpon. Mereka bilang akan berada lebih lama di Jepang. Dan bertanya jika kita membutuhkan sesuatu atau tidak"
"Aku tidak membutuhkan apa-apa" jawab Kris ketus.
"Eummm eomma tadi menanyakan hyung, dia sepertinya sangat khawatir karena meninggalkan kita terlalu lama. Aku bilang kita baik-baik saja disini. Dan eum lain kali eomma ingin berbicara dengan hyung sendiri. Eomma sangat menyayangi hyung" masih, masih saja terus mencoba. Baekhyun masih ingin memiliki percakapan yang normal dengan saudaranya, tapi sepertinya...
"Kau pikir kita baik-baik saja?" kali ini Kris berhenti, tersenyum sinis. Lalu membalik tubuhnya menghadap Baekhyun.
"Eum ne, ah apa hyung kurang merasa baik hari ini?" Baekhyun merasa khawatir, apakah hyungnya kurang baik hari ini, Baekhyun kurang bisa menangkap arti perkataan Kris.
"Tidak ada yang baik-baik saja kau mengerti?" Kris mulai mendekati Baekhyun yang sedang berdiri di depan sofa.
"Tidak aku..." Kris menunjuk dirinya sendiri, kini ia berhenti di depan Baekhyun.
"Kau" sekarang Kris menunjuk Baekhyun tepat di wajahnya.
"Dan KITA! Apa kau masih belum mengerti hah?" Kris meninggikan suaranya, mencengkeram kerah Baekhyun dengan erat dan menarik paksa wajah Baekhyun hingga tepat di wajahnya.
Emosinya benar-benar meluap hari ini. Dihari sebelum-sebelumnya kekasihnya sendiri Lay, selalu memihak Baekhyun, selalu menjadikan Baekhyun pihak yang disakiti. Dan tadi ia bertemu Chanyeol, yang dengan omong kosongnya berbicara tentang kesedihan, luka. Memangnya tahu apa dia tentang semua itu.
Dan sekarang orang yang selalu di kasihani semua orang sedang berada didepannya, selalu memberikan tatapn memelas, selalu meminta maaf. Membuat Kris merasa menjadi pihak yang salah, pihak yang menyakiti.
Cukup! Cukup dengan semua omong kosong ini!
Dia membencinya! Membenci semua ini! Membenci Baekhyun!
"Sebenarnya apa yang kau miliki?!" tanya Kris garang, meski sudah tak ada teriakan, tapi tatapan matanya menyiratkan kebencian.
"Aku... aku..." Baekhyun takut, melihat mata itu seperti mengulinta secara langsung.
"Apa yang kau miliki sehingga semua orang membelamu hah?"
"Hyung..." mata Baekhyun mulai memanas, tidak... tidak dengan air mata lagi.
"Kenapa semua orang memandangmu sebagai korban, sebagai orang yang tak diuntungkan?"
Baekhyun terdiam, ia tak mampu mengeluarkan kata-kata lagi. Jika ia paksakan malah air mata yang akan menggantikannya. Cukup dengarkan apa yang ingin Kris katakan, mungkin dengan begitu ia akan mengerti, ia akan memperbaiki kesalahannya, ia akan...
.
"Dan Baekhyun juga sudah cukup menderita Kris, kau sudah tau itu kan?"
.
"Mereka semua tidak mengerti!"
.
"Mama tidak bisa datang... Mama merawat adikmu, adikmu kan masih kecil. Nanti pasti Mama akan datang bersama adikmu.. Jadi sabar ya..."
.
"Kau! Kaulah orang yang merebut semuanya dariku! Kaulah penyebab kami berpisah! Kaulah penyebab kehancuran ini! Kehidupanku! Kehidupan orang tuaku!"
Mulut Baekhyun bergetar, tidak jangan... jangan katakan itu... Sudah cukup ia tahu dirinyalah penyebabnya. Tapi tolong jangan lanjutkan...
"Bahkan..." Kris mentup matanya, haruskah ia mengatakannya?
"Kau harus mengatakan apa yang benar-benar ada dihatimu... dan lakukan apa yang harus dan wajib kau lakukan... sebagai kakanya"
"Kehidupan ayahmu sendiri! Kau yang membunuhnya! Kau penghancur semuanya Byun Baekhyun! Kau pembunuh..." berhasil... akhirnya berhasil terucap. Saat ini dimatanya Baekhyun bukanlah adiknya... bahwa Baekhyun hanyalah manusia penghancur...
"Akhirnya kau mengatakannya juga..."
Senyum.
Baekhyun tersenyum... tanpa air mata yang terbuang?
Bukankah harusnya tetesan air mata yang keluar, bukannya sebuah senyuman...
Senyuman yang...
.
"Jangan menipu hatimu. Jangan menyakiti perasaanmu sendiri dengan menyakitinya Kris. Jangan melakukan perbuatan yang membuatmu menyesalinya suatu saat nanti. Hati Baekhyun sangat rapuh"
.
"Apa kau ingin tahu yang sebenarnya?"
.
"...jangan melakukan hal yang sama. Jangan sampai membuat Baekhyun benar-benar menutup hatinya... Saat hatinya benar-benar tertutup, akan sulit untuk membukanya kembali..."
.
Kris merasa ada sesuatu yang berbeda dari senyuman Baekhyun, apa ini? Kris tidak menyukainya...
.
-Author's Pov End-
.
.
-TBC-
.
.
.
.
Gimana... gimana?
Terima kasih yang udah review Fanxingege & .773
Sam tau yang laen udah pada review dulu di fp facebook.
Tapi akan lebih baik kalo review lagi *maunya* hehehe
Sekali lagi terimakasih.
Dan buat chap ini, dimohon untuk review lagi ya? ^^
