Pagi ini, hujan masih turun didataran kota Seoul walaupun tidak sederas semalam. Jaejoong hanya menghela nafas karena harus berbasah-basahan berjalan ke halte terdekat. Biasanya jika hujan turun, ia meminta diantarkan oleh Kibum sampai ke sekolah sekaligus menghemat ongkos busnya tetapi sampai pagi ini Kibum dan Siwon belum turun dari kamar mereka. Remaja itu sedikit khawatir. Butler Park memintanya untuk tidak mengganggu mereka pagi ini. Pria tua itu berkata mereka bertengkar tadi malam. Jaejoong patuh. Ia memberi kesempatan keduanya untuk berbaikan.

Bus menuju sekolah baru saja datang. Terlihat penuh dari biasanya. Jaejoong harus berdiri karena tidak ada lagi bangku yang tersisa. Sebagai seorang keturuan Andrew Choi, terasa janggal bila ia selalu menaiki bus umum tetapi begitulah keadaanya. Awalnya semua tidak seperti ini. Sampai ia berumur lima tahun. Sebelumnya ia memiliki semuanya, segala kemewahan dan fasilitas super canggih. Ia bagai selebriti papan atas. Ketenarannya pun dapat mengalahkan pangeran Spanyol yang sekarang sudah naik tahta. Paparazi tidak pernah absen membuntutinya. Mencetak foto-foto yang kebanyakan terlihat konyol dan menggelikan. Setiap minggu fotonya menjadi headline sampul majalah. 'Putra bangsawan terkaya di Spanyol mengompol di pangkuan perdana mentri.' Itu yang mereka tulis dengan huruf besar dan tebal.

Puncak kehidupan mewahnya berakhir saat ia diculik tepat satu bulan sebelum memasuki sekolah dasar. Kibum marah besar. Siwonlah yang menjadi sasaran lantaran pria itu tidak mendengarkannya untuk menutupi Jaejoong dari media. Sejak saat itu keadaan berubah. Kibumlah yang bertanggung jawab untuk kehidupannya. Ia mendidik Jaejoong seperti anak biasa. Tidak ada fasilitas super canggih. Tidak ada barang mewah. Semua hilang. Kibum pun menjauhkannya dari segala awak media. Siwon tidak pernah lagi membawanya untuk aktivitas apapun. Bahkan sekedar bermain golf dengan ratu Spanyol. Semua serba ditutupi. Pengamanan ketat. Berpindah-pindah tempat dan segala hal Kibum lakukan bahkan memakaikannya masker lebih dari 3 tahun untuk menghindarinya dari para peliput berita.

Sekarang seperti inilah ia. Seorang remaja miskin yang tidak punya uang bahkan untuk sekedar berkaraoke. Hanya sedikit orang yang mengenalnya sebagai anak dari Choi Siwon.

Bus berhenti di halte terdekat yang jaraknya hanya dua blok dari sekolah. Jaejoong kembali membuka payung kuningnya. Dikejauhan ia melihat Changmin sedang berdiri di depan toko musik sambil melihat kearah pamplet yang ditempel disana. Sejak berbulan-bulan lalu, banyak remaja seumurannya bergerombol melihat pamplet itu tetapi Jaejoong sama sekali tidak tertarik kecuali saat ini.

Changmin terlihat menghembuskan nafas lesu. Remaja itu langsung menundukkan kepalanya kemudian pergi. Melihat Changmin sudah agak jauh, ia berlari untuk ikut melihat pamplet itu. Sebuah pamplet full colour dimana banyak not nada dan bintang yang menghiasinya. Isinya hanya tawaran untuk bergabung dengan sebuah agensi bernama SM Ent sebagai idol yang sudah lewat beberapa minggu masa audisinya. 'Apa mungkin Changmin ingin menjadi Idol?'

Memikirkannya Jaejoong ingin tertawa. Si mulut pedas dan ketus itu ingin menjadi idol. Menggelikan. Entah bagaimana para fansnya. Jika dipikirkan kembali, Changmin memang memiliki kharisma. Semua teman sekelas mereka mengidolakan Changmin dan menganggapnya sampah. Akan lebih menggelikan jika male pregnant seperti dirinya yang menjadi idol. Entah dikelompokkan kemana, wanita ataukah pria.

Oke, lelucon tadi sangat kasar.

Kehidupan sekolah Jaejoong benar-benar membosankan. Jam pelajaran siang sampai akhir adalah pelajaran musik. Semua menatap kagum pada kemampuan Changmin mengendalikan gitar listrik dan piano. Dirumahnya yang dapat memainkan piano adalah Siwon karena pria itu berasal dari golongan bangsawan. Akan malu jadinya bila pria flamboyan itu tidak mampu. Sedangkan Kibum, pria itu tidak mampu memaikan satupun alat musik tetapi suaranya merdu ketika menyanyikan lagu daerah dari Korea. Bibi Jessica pun menggakuinya.

Jaejoong hanya bisa mendesah lesu. Ia jenius memainkan alat musik, sepertinya. Jaejoong langsung menyembunyikan triangle-nya dipunggung ketika Changmin selesai dengan gitarnya. Semua siswa bertepuk tangan dan bel pelajaran berakhir.

Semua siswa langsung berhamburan keluar. Jaejoong yang terakhir. Changmin masih setia bermain dengan gitar listriknya dan membuat suara pekikan melodi-melodi yang terdengar menjerit-jerit. Harus diakui itu terlihat keren dimata Jaejoong. Karena itulah ia memutuskan untuk tetap tinggal sebentar.

Nyatanya, hal itu membuat Changmin terganggu. "Kenapa kau masih di sini?" Tanyanya ketus.

Jaejoong tersentak. "Aku hanya ingin melihat." Ujarnya pelan.

Changmin mendecak. Ia berhenti dan meletakkan gitar ditempatnya.

"Eh, tunggu! Bisa kau mengajarkanku bagaimana memainkannya?" Tanya Jaejoong. Remaja itu berlari mendekati Changmin.

"Heh, orang yang hanya memegang triangle bagaimana bisa memainkan gitar." Cibir pria jangkung itu meremehkan. Changmin pun pergi.

Jaejoong hanya memajukan bibirnya. Ia janji akan meminta Siwon mengajarinya piano yang nanti akan ia tunjukkan pada Changmin. Kalau nanti Changmin melihatnya, pria tinggi itu tidak akan lagi mengejeknya karena hanya dapat bermain triangle dan kemudian Changmin akan mengajarinya bermain gitar.

Atau.,

Jaejoong meminta Siwon mendatangkan guru les piano dan gitar profesional. Ia mengangguk setuju. Entah kenapa Jaejoong merasa dirinya sangat bodoh.

...

Jaejoong tersentak ketika mendengar pintu kamarnya dibanting. Ia yang baru saja selesai mengerjakan pekerjaan rumahnya. Tiba-tiba dikejutkan oleh Siwon yang sudah masuk ke dalam kamar. Pria itu membanting tubuhnya keranjang. Mengambil guling untuk ia peluk. Jaejoong hanya menghembuskan nafas lelah. Daddy-nya sedang merajuk. Ini menggelikan. Pasti berhubungan dengan Kibum. Mereka pasti kembali bertengkar.

Jaejoong memasukkan pekerjaan rumahnya ke dalam tas. Ia beralih menuju lemari es untuk mengambil pokari.

"Sesuatu terjadi." Ujar Siwon. Pria itu terlihat berfikir keras. "Kibum terlihat aneh. Dia... Tidak. Kami bercinta." Siwon terlihat bingung. Ia beralih duduk. Menunggu respon dari Jaejoong.

"Apa?" Jaejoong tidak mengerti. "Bukankah wajar suami istri bercinta."

"Tetapi kami melakukannya seminggu ini. Apa itu wajar? Dia begitu..." Siwon mencari kata yang tepat untuk menggambarkan prilaku suaminya. "...agresif." Jika diibaratkan perubahan prilaku Kibum seperti langit cerah sebelum badai.

"Bukankah itu impianmu." Jaejoong semakin bingung. Pria berumur kepala empat itu terlihat ketakukan sampai-sampai dahinya berkeringat dan wajahnya pucat pasi. Apa perubahan Kibum benar-benar mengerikan bagi pria Spanyol itu.

Siwon terbatuk. "Apa mungkin dia sudah bercinta dengan selingkuhannya. Tidak. Tidak." Ia berdiri dan berjalan berputar-putar sambil menebak-nebak penyebab kemungkinan Kibum berubah. Hatinya terasa tidak nyaman. Dadanya berdetak semakin berat. Udara terasa menyesakkan disini. Siwon terbatuk kembali.

"Kenapa pengap sekali." Keluh Siwon.

Jaejoong melihat air conditioner-nya menyala.

Siwon merasa semakin lama nyeri di dadanya semakin terasa sakit. Tepat dibagian terkena peluru. Kepalanya terasa pusing. Ia mungkin terlalu lelah bekerja. Dalam sekejap pandangannya menukik keatas. Dadanya kembang kempis. Siwon memiringkan tubuhnya. Bulu-bulu karpet menyentuh bagian pipi kirinya. Ia sudah terjatuh.

Jaejoong berbicara tanpa suara. Ia berjongkok. Gerak bibirnya menunjukan bahwa remaja itu memanggilnya. Siwon hanya mengerjapkan matanya pelan. Baru menyadari telinganya menuli. Pandangannya mulai samar. Beberapa kaki berpantofel datang. Mereka para pelayan.

Siwon terengap. Ia tidak bisa merasakan paru-parunya menghirup udara. Dadanya terasa nyeri. Tubuhnya terlentang. Cahaya lampu LED membutakannya. Semua putih sampai wajah seseorang terlihat dalam keburaman. Wajah malaikat yang ia cintai yang menyuruhnya kembali bertahan.

...

Jaejoong menangis terseguk. Ini semua salahnya. Kibum memarahinya dan itu pantas. Diujung sana, diranjang orang tuanya, Siwon tertidur dengan selimut tebal. Pria Spanyol itu sudah digendong Kibum ke kamar mereka setelah tidak sadarkan diri. Para pelayanpun sudah kembali kekamar mereka. Hari sudah larut.

"Berapa kali aku katakan jangan membawa Mugunghwa ke dalam rumah!" Kibum menggeram. Ia memijat keningnya, stress.

"Maaf..." Ujar Jaejoong lirih. Remaja itu berusaha meredakan tangisannya. Ia lalai. Tidak peduli dengan ucapan Kibum sampai ini terjadi. Di taman sekolah, Mugunghwa banyak tumbuh dan sedang bermekaran. Jaejoong sangat tertarik dengan warnyanya yang bervariasi dan baunya yang sedap. Ia memetiknya dan merangkainya di vas. Sekarang bunga itu sudah dibuang oleh para pelayan.

Kibum menghembuskan nafas lelah. Lelah untuk terus memarahi remaja itu, juga iba. Jaejoong terlihat pucat dan berkeringat. Remaja itu tertunduk dalam di sofa sambil menangis. "Lain kali berhati-hatilah." Nasehat Kibum diakhir. Pria itu mendudukkan dirinya di sofa, samping ranjang.

"Ini semua salahku. Aku takut daddy mati." Tangisan remaja itu mengeras.

"Sudah jangan menangis. Nanti dia terganggu." Ujar Kibum. Pria itu memasukkan peralatan kedokterannya kembali kedalam tas

Jaejoong menyeka air mata dan lelehan hidungnya dengan lengan baju. Kibum hanya menggelengkan kepala. Semua juga salahnya. Ia hanya melarang tanpa memberi tahu sebabnya.

"Ayahmu hanya trauma dan tubuhnya merespon. Kau tahukkan ia pernah tertembak di dada saat kerusuhan di pabrik pertamanya di Korea."

Jaejoong mengangguk. Ia pernah diceritakan tentang hal itu. Kejadian sebelum ia lahir.

"Saat itu Mugunghwa bermekaran di sana. Semua lahan pabrik tertutup oleh bunga itu. Ia terjebak di dalam pabrik bersama asisten dan koordinator pabrik. Salah satu dari demonstran membawa senapan. Siwon ingin berdiskusi dengan mereka sayang tidak ada yang mendengar. Tiba-tiba sebuah peluru tanpa sengaja mengenainya. Kata asistennya ia tertembak di lahan yang ditumbuhi Mugunghwa. Aku baru datang ke tempat kejadian setelah itu. Matanya masih terjaga tetapi sorot matanya kosong. Beberapa lama aku mengenalnya, aku pun baru mengetahui kalau ia trauma dengan bunga itu." Kibum tersenyum setelah selesai bercerita.

Jaejoong sudah tidak menangis lagi walau masih merasa bersalah.

"Sudah sana kembali kekamarmu. Aku akan menjaganya." Perintah Kibum. Pria itu meletakkan tasnya di meja dekat jendela.

Jaejoong mengangguk. Remaja itu berjalan keluar.

"Jae." Panggil Kibum sebelum remaja itu pergi. "Apa yang dia bicarakan denganmu tadi?" Tanya Kibum. Pria itu tahu, jika Siwon suka menggosipkannya.

"Daddy hanya heran karena mom berlaku baik padanya akhir-akhir ini." Ujar Jajeoong jujur kemudian menutup pintu.

Kibum hanya mendecak. Ia memandang jengkel suaminya. "Dasar."

...

Heechul sekarang sangat memperhatikan kebutuhan anaknya. Wanita itu repot-repot menyiapkan dasi padahal Yunho sendiri tidak terlalu suka memakai dasi setiap berangkat kerja. Wanita itu berprilaku seperti itu lantaran senang anak satu-satunya setuju menjalin hubungan dengan anak dari pria yang sekampung dengannya. Tidak bisa dibayangkan jika nanti hubungan itu memasuki jenjang pernikahan. Entah berapa banyak perhiasan dan barang mewah yang Heechul dapatkan dari keluarga calon besannya itu. Choi Siwon memang tidak bisa diremehkan. Beruntung sekali Kibum bersuami pria super kaya padahal ia seorang pria.

"Kau suka masakannya? Aku pagi-pagi sekali membelinya dipasar." Tanya Heechul sambil membanggakan diri. Yunho hanya mengangguk kikuk. Lain halnya dengan Heechul yang sangat bahagia. Yunho adalah kebalikannya. Ia tidak tega membohongi orang tuanya. Sampai saat ini pria itu masih belum menjalin hubungan dengan calon istri yang dipilihkan oleh Umma-nya itu. Terakhir kali mereka bertemu adalah di kebun binatang.

Sepertinya ia berencana menemui remaja itu nanti sore dan memberikan gantungan ponsel gajah yang ia lihat di internet sebagai alasan.

...

Di sebuah sekolah bel pulang telah berbunyi tepat pukul tiga sore. Semua siswa berhamburan keluar dari kelas menuju gerbang sekolah. Ada yang merencanakan untuk berkaraoke dan pergi ke game center. Akhir-akhir ini sepulang sekolah Jaejoong selalu membuntuti Changmin diam-diam ke ruang musik dan belajar sesuatu dari sana. Sayangnya, Changmin tidak masuk hari ini. Akhirnya, ia memilih untuk pulang dan mendapati Yunho sedang menunggunya di depan gerbang sekolah. Pria itu mengajaknya ke cafe eskrim awalnya tetapi Jaejoong lebih memilih makan di warung makan yang ada di pasar.

Jaejoong terlihat antusias. Ia memesan soup dengan extra daging. Menurut Kibum, daging adalah sumber kemakmuran. Itulah sebabnya Jaejoong sangat menyukai daging. Yunho hanya menggelengkan kepala. Remaja itu terlihat rakus sekali.

"Ada apa?" Tanya Jaejoong. Mulutnya penuh dengan potongan daging.

Yunho mengendus lelah. "Aku berkata pada ibuku kalau aku akan mencoba menjalin hubungan denganmu."

Jaejoong mengangkat mangkuknya dan meminum kuahnya langsung dari sana. "Kau berubah pikiran?" Tanya Jaejoong selepas meminum semua kuah yang tersisa.

Yunho merengit. Ia mengusap lehernya. "Aku tidak tahu. Dua minggu ini aku sedang berkencan dengan wanita." Ujarnya jujur. Ia lebih memilih jujur.

Jaejoong mendecak. "Kau ingin berpura-pura bahwa kita menjalin hubungan di depan orang tua kita, begitu?" Tanya Jaejoong sedikit kesal. "Hubungan kita belum sampai sejauh itu sampai aku rela berbohong demimu."

"Aku tidak bermaksud seperti itu." Bantah Yunho. "Aku hanya... aku tidak tahu." Ucapnya lemah.

Jaejoong memutar bola matanya. "Dengar. Walaupun aku bisa hamil dan melahirkan, aku tetap pria. Harga diriku sangat tinggi. Aku pun bisa mencari pria atau wanita lain disana. kau harus memilih. Jika kau memilih aku, kau tidak perlu berbohong dengan orang tuamu. Konsekuensinya adalah kau harus memutuskan hubunganmu dengan wanita itu. Jika kau memilih wanita itu, aku pun tidak keberatan. Kita masih bisa berteman. Lagi pula rasaku belum sampai sejauh itu padamu." Ujar Jaejoong menjelaskan panjang lebar. Ia sangat ekspresif mengatakannya membuat Yunho malah memandangi mimik wajah dan pergerakan remaja itu daripada ucapannya. "You hear me?"

"Ah, iya." Yunho pura-pura memperhatikan.

"Kau tidak mendengarku." Jaejoong mengendus. "Sekarang aku tahu bagaimana perasaan mommy." Gumamnya mengingat bagaimana Kibum yang setiap hari kesal ketika Jaejoong tidak mendengar perkataanya padahal pria itu bermaksud baik.

"Kenapa?" Tanya Yunho sekali lagi. Jaejoong masih keki.

"Sudah makan saja!" Ujarnya ketus.

"I-iyah." Jawab Yunho kikuk. Ia pun memakan pesanannya sambil sesekali mengintip remaja itu memakan makanannya dengan kesal. Walau kesal, remaja itu manis juga. 'Aish bicara apasih?' batin Yunho.

...

Ini adalah hari Jum`at. Seperti biasa Kibum bersama rekan-rekan dokternya melakukan pengobatan gratis di rumah jompo ataupun panti asuhan setiap minggunya. Mereka sekarang berada di panti asuhan di Busan dekat pelabuhan. Seorang anak kecil berusia lima tahun adalah pasien terakhirnya. Beberapa dokter sedang membereskan peralatan medis mereka. Tenda pengobatan di ujung sana sudah diturunkan. Kibum menghembuskan nafasnya lega. Langit sudah menguning. Hari sudah hampir malam.

"Ketua, ini makananmu." Ujar seorang dokter muda pada Kibum sambil memberikan kotak makanan dari sterofom padanya.

"Terima kasih." Ujar Kibum. Kibum adalah orang yang memimpin kegiatan ini. Ia mengumpulkan dokter-dokter khususnya dokter muda untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini karena mereka mudah diikut sertakan sekaligus sebagai pengalaman kerja mereka di lapangan. Beberapa universitas kedokteran bahkan mendukung hal ini dengan mengirimkan beberapa mahasiswa mereka secara rutin. Kibum cukup senang mengkoordinir semuanya. Baginya hal ini sangat mudah karena uang Andrew tidak akan habis hanya untuk hal sepele seperti ini.

Yah, semua dana kegiatan ini berasal dari dompet tebal pria Spanyol itu. Kibum hanya perlu menggesekkan kartu visa-nya dan semua pembayaran bisa teratasi. Memiliki uang banyak memang terasa mudah, Kibum aku itu.

Setelah mengadakan evaluasi kegiatan yang telah mereka lakukan, waktunya pulang. Kibum menyewa sebuah kapal nelayan untuk pulang. Hari ini sangat melelahkan. Jarak yang ditempuh lumayan jauh apalagi ditambah tidak tidur semalam karena harus menjaga suaminya. Kibum kembali mengecek ponsel. Tuan Park -Butler Park- belum menelfonnya kembali setelah setengah jam terakhir. Itu artinya, Siwon belum juga sadar. Terakhir kali meninggalkan pria itu, ia sudah mengecek tekanan darah dan denyut nadinya. Pria itu baik-baik saja. Hanya mungkin efek obat suntik yang ia berikan belum juga hilang.

Sesampainya menepi di darat, ia langsung mengendarai mobilnya untuk pulang.

Jam menunjukkan pukul tujuh malam ketika ia sampai di rumah dan mendapati Jajeoong belum pulang dari sekolahnya. Remaja itu mungkin mampir kesuatu tempat bahkan melupakan Miss Rey, pelatih piano profesional, yang menunggunya di ruang tamu padahal remaja itu sendiri yang merengek memintanya. Kibum merasa segan, ia tersenyum canggung pada wanita itu yang sudah menunggu sejak sejam lalu. Dengan menggentak, Kibum menelfon remaja itu. Terdengar suara seorang pria disana tetapi telfon langsung terputus sebelum Kibum sempat bertanya. Kibum menggeram. Ia akan menanyakannya nanti.

Setelah berbasa-basi sebentar dengan Miss Rey, Kibum naik kelantai atas menuju kamarnya. Siwon baru saja terbangun. Pria Spanyol itu memijat keningnya. Perlahan ia mendudukkan diri.

"Kau sudah bangun rupanya." Kibum berjalan mendekati suaminya. Menangkupkan kedua tangannya di dagu pria itu dan memberikan ciuman hangat.

"Istirahatlah lagi jika masih pusing."

Siwon menggeleng. "Aku kenapa?" Tanyanya sedikit linglung.

"Jaejoong membawa Mugunghwa ke kamarnya." Jawab Kibum.

Siwon mengerti. Kibum kembali memeriksa denyut nadi suaminya. Kondisi pria itu stabil.

"Kau pingsan selama 24 jam. Kau ingin makan?" Kibum duduk dipinggir ranjang. "Atau ingin makan aku?" Tanya pria itu sambil kembali menghadiahi Siwon dengan kecupan-kecupan bergairah. Kibum terlihat nakal dari biasanya.

Beberapa saat Siwon sempat terkejut. Ia langsung menjauhkan Kibum darinya ketika sadar.

"Oke. My bad. Bauku tidak enak." Ujar kibum. Ia melepas seluruh pakaiannya. Dengan sedikit berlari ia berjalan ke dalam kamar mandi.

"Bodoh." Ujar Siwon sesal melihat suaminya malah lari ke dalam kamar mandi. Tetapi jika nanti Kibum keluar pun hatinya belum siap untuk bertemu pria sexy itu yang pasti akan menggodanya nanti.

Siwon memilih keluar dari kamarnya. Ia ingin meminum kopi untuk menghilangkan sakit kepalanya. Dapur berada di lantai bawah. Tanpa sengaja ia melihat wanita muda dengan blus peace duduk di sofa ruang tamunya. Butler park sedang melayani wanita itu. Ia pun menghampiri. Wanita itu terlihat terkejut melihatnya. Dengan malu-malu juga gugup, wanita berjabat tangan dengannya.

"Mom!" suara Jaejoong menggema. Remaja itu baru saja memasuki rumah dengan nafas tersengal. Remaja itu berkeringat karena berlari. "Miss Rey, aku sangat menyesal. Aku akan memastikan ini tidak akan terjadi lagi." Ujar jaejoong ditengah mereka. Sisa waktu lesnya hanya tinggal lima belas menit.

"Kau mengenalnya?"

"Dia guruku pianoku." Ujar Jaejoong tersengal. Butler park memberikan remaja itu minuman. "Terima kasih."

"Sejak kapan kau bermain piano?"

"Beberapa hari ini dari setengah enam sampai setengah delapan."

"Begitu..." Siwon terlihat terkejut. Ia melirik jam tangan Miss Rey yang sudah menunjukkan hampir setengah delapan. "...untuk menebus kesalahan anakku. Bagaimana kalau kita makan malam sebentar lagi. Itupun kalau kau tidak keberatan, Miss Rey." Ujar Siwon. Sopan-santun ala bangsawan yang sudah mendarah daging keluar begitu saja. Ia tidak akan tahu jika nanti ia akan menyesalinya.

"Baiklah."

...