a/n : Terima kasih banyak buat teman-teman yang sudah menyempatkan diri untuk mereview, memasang story alert, dan memfavoritkan cerita ini.
Terima kasih untuk phoenixeyes22, Oxenstierna-KHLR, Aralea FS, linaaput, hannadimsr, Nailily,Hime Mitsuki dan semua yang sudah memberi saya masukan-masukan berharga dan tidak bisa saya sebutkan satu-persatu.
Sekali lagi fanfic ini DARK. Banyak unsur kekerasan dan seksual di sini. Karena itulah, dianjurkan hanya pembaca berusia 17+ yang boleh membacanya.
Chapter 7
Possessionless
Berada di tempat yang seharusnya. Di bawah Bintang. Di atas Malaikat. Di mana seluruh Arcelia tersimpan di dalamnya.
Kening Hermione berkerut-kerut. Ia sedang duduk di ruang kerjanya, membaca ulang perkamen yang memuat secuil informasi mengenai Arcelia ketika menemukan tiga kalimat itu muncul secara misterius di bagian paling bawah perkamen. Aneh, memang. Tapi di dunia sihir tidak pernah ada kata aneh. Dari yang diketahui Hermione, beberapa buku kuno yang dilindungi oleh proteksi magis sengaja menyembunyikan rahasia penting di dalamnya dari mata pembacanya, kecuali untuk orang-orang yang istimewa.
Jadi apakah perkamen ini menganggapku sebagai orang istimewa? pikir Hermione penasaran. Bisa jadi. Apalagi karena perkamen ini sebenarnya bukan perkamen biasa. Setidaknya begitulah dugaan Hermione mengingat bagaimana ia menemukan perkamen itu beberapa bulan lalu di perpustakaan Hogwarts. Muncul tiba-tiba dari udara kosong dan terbang ke arah Hermione, sebelum kemudian jatuh ke pangkuan wanita itu. Entah apa maksudnya.
Ketika itu Hermione hanya bengong. Tidak semua buku di perpustakaan Hogwarts bertingkah seperti itu. Pada umumnya sih buku-buku di Hogwarts 'hanya' menjerit ketika halamannya dibuka. Ada juga yang berusaha mengigit tangan orang yang hendak mengambilnya dari rak. Yang lebih parah lagi, ada buku yang kabur dan terbang ke langit-langit perpustakaan sehingga membuat pembacanya kesusahan. Well, intinya buku-buku di dunia sihir berbeda dengan buku di dunia Muggle. Buku di dunia sihir normalnya seperti punya pikirannya sendiri dan menuntut perlakuan khusus dari pemiliknya.
Secarik perkamen itu lusuh dan menguning, hanya seukuran telapak tangan. Namun cukup informatif. Hermione menemukan sedikit pengetahuan penting yang membuatnya tertarik kepada Arcelia. Mengenai Peti Orpheus yang katanya menyimpan kekuatan sihir paling murni, mengenai kekuatan alam gaib yang menyelubungi negeri itu, dan lain sebagainya. Sayang, perkamen itu tidak bisa menuntaskan dahaganya. Bahkan membuat Hermione semakin haus dan haus saja.
Sebagaimana yang diketahui segelintir orang di dunia Sihir, Arcelia adalah negeri antara ada dan tiada. Ada yang menyebutnya sebagai Atlantisnya dunia sihir, karena mereka yakin negeri itu pada awalnya sama seperti negeri-negeri lain yang nyata dan berwujud, sebelum akhirnya menghilang tanpa bekas dari peta. Ada juga yang menyamakan Arcelia dengan Segitiga Bermuda. Itu dikarenakan ada sebuah mitos mengatakan barang siapa yang berani menerobos masuk Arcelia tidak akan bisa lagi keluar selamanya.
Semua itu membuat apapun yang berbau Arcelia menjadi tak ternilai harganya. Itu pula yang menyebabkan kedua mata Hermione bersinar girang saat menyadari isi perkamen tersebut. Perkamen yang ditemukannya ini—atau sebaliknya, perkamen itu yang justru menemukan Hermione—adalah barang yang sangat berharga.
Liburan musim panas yang seharusnya dimanfaatkan untuk bersantai dan berekreasi malah ia habiskan di perpustakaan. Perpustakaan Hogwarts, perpustakaan London, dan perpustakaan Kementerian, bergantian ia secara bergilir. Berpikir ia harus secepatnya menuntaskan apa misteri yang terkandung di dalam perkamen itu.
Seperti luapan air bah. Perumpamaan yang cocok untuk menggambarkan antusiasme Hermione. Hermione belum pernah merasa begitu bersemangat memecahkan rune yang tertulis di dalam perkamen itu. Setiap kata yang berhasil ia temukan artinya semakin memacunya untuk terus dan terus menguak apa makna yang tersembunyi. Perkamen misterius itu seolah menantangnya, dan Hermione merasa wajib untuk mengalahkannya. Hingga beberapa bulan kemudian akhirnya semua rune yang tertulis di perkamen itu nyaris selesai ia terjemahkan.
Dari apa yang ditangkap Hermione, pada bagian akhir perkamen disebutkan bahwa ada sebuah harta yang tak ternilai harganya bagi masyarakat Arcelia. Harta yang punya kekuatan magis luar biasa dan juga merupakan sebuah kunci yang mampu menuntun siapapun pemiliknya untuk menemukan Peti Orpheus. Dan letak harta karun itu disamarkan dalam empat kalimat teka-teki tadi. Berada di tempat yang seharusnya.
Berada di tempat yang seharusnya. Di bawah Bintang. Di atas Malaikat. Di mana seluruh Arcelia tersimpan di dalamnya.
Baiklah… Coba kita telaah satu-persatu dan perlahan saja, batin Hermione. Pertama, kira-kira seperti apa harta yang disebut tak ternilai harganya ini? Harta yang bisa menyimpan seisi Arcelia di dalamnya? Hm, kalau dilihat dari kalimatnya, Hermione menyimpulkan bahwa yang dimaksud sebagai harta di sini bukan gunung emas atau semacamnya. Ini hanya semacam ungkapan.
Tapi apa?
Mengigit bibir bagian bawahnya, Hermione berpikir.
Jika harta di sini adalah sebuah ungkapan. Benda yang tak berwujud. Maka baginya tak ada yang lebih berharga di dunia ini selain ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan, manusia bisa menemukan berbagai macam hal. Bagaimana cara mengolah sinar matahari menjadi sumber energi. Bagaimana merakit sebuah alat transportasi. Bagaimana cara menyusun bangunan pencakar langit. Bagaimana cara mengobati penyakit-penyakit ganas. Jelas ilmu pengetahuan lebih berharga ketimbang emas.
Oke. Mungkin kita bisa anggap harta yang dimaksud di sini adalah ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan mengenai Arcelia, begitulah. Bisa jadi memuat banyak hal mengenai negeri misterius itu. Seluk-beluknya. Termasuk juga rahasia terdalamnya. Hm, menarik juga.
Lalu jika benar yang dimaksud harta di sini adalah ilmu pengetahuan, maka di mana kira-kira harta itu akan di simpan? Pastinya dia akan berwujud sebuah tulisan atau lembaran-lembaran perkamen atau buku. Ya, buku. Pasti berbentuk buku. Semua ilmu pengetahuan berharga sudah tentu dicatat dalam sebuah buku. Buku adalah sumber ilmu pengetahuan. Dengan demikian bisa dibilang buku adalah harta tak ternilai harganya. Bukan fisiknya. Tapi isi yang termuat di dalamnya.
Berada di tempat yang seharusnya.
Buku. Jadi jawabannya adalah buku. Lalu jika dikatakan buku itu berada di tempat yang seharusnya maka ini berarti… umm… rak buku? Atau… atau perpustakaan? Ya! Perpustakaan! Tempat di mana terdapat banyak buku dan semuanya itu tersusun di rak-rak.
Hermione hampir melompat dari kursinya saking semangatnya. Dia belum yakin seratus persen, tapi sepertinya kesimpulan yang diambilnya ini cukup masuk akal. Sekarang ia hanya tinggal mencari di mana kira-kira perpustakaan yang menyimpan buku tentang rahasia-rahasia Arcelia ini.
Perpustakaan sihir di London tidak terlalu banyak. Hanya ada perpustakaan Hogwarts, perpustakaan Kementerian, perpustakaan kota, dan beberapa perpustakaan pribadi yang dibuka untuk umum lainnya. Kurang lebih ada sekitar sepuluh perpustakaan. Mencari satu buku di antara ribuan buku lainnya sepertinya akan mustahil. Itupun baru satu perpustakaan saja, belum perpustakaan lainnya. Tentu akan menyita waktu. Mungkin sebaiknya ia memecahkan dua kalimat berikutnya dulu.
Di bawah Bintang. Di atas Malaikat.
Nah, apa pula itu artinya? Kalau saja Hermione tak terlalu cermat, mungkin ia akan berpikir buku ini berada di langit. Tapi tentu tidak. Sebuah teka-teki mustahil akan menyodorkan pernyataan eksplisit begitu. Bisa jadi maksudnya rak paling tinggi. Atau mungkin rak mengenai astronomi. Well, boleh juga dicoba.
Dengan hati-hati, Hermione menggulung perkamen tua itu dan menyimpannya di dalam saku jubahnya. Ia masih mengenakan jubah kaftan putihnya yang kemarin, enggan berganti pakaian. Dengan jubah kaftan yang melapisi korset hitamnya ini, penampilan Hermione berubah anggun dan elegan. Membuatnya merasa bukan lagi kutu buku ketinggalan jaman.
Melangkah mantap dan penuh percaya diri, Hermione berjalan menuju ke perpustakaan Hogwarts.
Ooo000ooo
Severus duduk di depan perapian dengan segelas Wiski-Api di tangan kanannya. Diam merenung memandangi kobaran api yang menari-nari. Sesuatu yang tak pernah lagi ia lakukan semenjak Hermione hadir dalam kehidupannya sejak lima tahun terakhir. Dulu, tepatnya belasan tahun lalu saat ia masih seorang diri, memandangi perapian dan meresapi suara merdu kayu dimakan api adalah hal yang jamak dilakukannya. Meski hanya ditemani oleh satu botol Wiski-Api, Severus takkan merasa kesepian. Namun kini keadaannya berbeda. Seperti ada yang hilang dalam dirinya. Bahkan malam ini terasa lebih dingin ketimbang biasanya.
Jika ada yang bisa menghangatkan malam selain kobaran api di perapian, itu adalah Hermione. Wanita itu tak perlu bergelayut manja di sisinya atau berceloteh ngalor-ngidul untuk menunjukkan keberadaannya. Biasanya Hermione hanya duduk di kursi empuk berlengan yang ada di sebelah kanan Severus, diam dan berkonsentrasi penuh pada buku yang sedang dibacanya di pangkuannya. Sesekali wanita itu menghela nafas panjang, atau terkesiap lirih jika menemukan hal menarik dalam bukunya, yang kemudian akan memancing Severus untuk membuka obrolan ringan, dan berujung kepada diskusi informatif yang mampu membuat mereka berdua saling berargumen.
Severus memandangi kursi berlengan di sebelah kanannya yang kosong. Kini ia tahu apa penyebab malam ini menjadi lebih dingin ketimbang biasanya. Memang ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang penting dan selalu mampu menghangatkan tubuhnya luar-dalam lebih ampuh dari Wiski-Api. Hermione.
Perlahan Severus mengangkat gelas Wiski-Apinya dan menyesapnya sedikit. Seketika kerongkongannya panas, seolah baru saja menegak bara api. Namun beban di kepalanya tak juga berkurang.
Memikirkan apa yang terjadi di Aula Besar saat makan malam dua hari yang lalu memicu rasa sakit kepala yang lumayan, membuat Severus frustrasi. Apalagi setelah melontarkan tantangan beraninya ini, Hermione seolah menghilang dari peredaran. Ia tak lagi muncul di Aula Besar setiap jam makan, memasang mantra penolak gangguan yang sengaja disetel untuk menolak kehadiran siapapun termasuk Severus, memblokir perapiannya supaya tak bisa dihubungi lewat jaringan Floo, dan tak pernah mau menanggapi pesan via Patronus yang dikirim Severus.
Sampai akhirnya Severus menyerah. Baiklah, ia paham apa maksud kekasihnya itu. Hermione sedang tidak mau diganggu. Wanita berambut coklat itu sedang memusatkan semua konsentrasinya untuk berduel dengan Cara Mason. Setelah tahu siapa dan dari mana Cara Mason berasal, tentunya saat ini Hermione sedang melakukan riset tentang Arcelia. Atau mungkin malah sedang berlatih bertarung.
Severus menggelengkan kepalanya. Ia berusaha memaklumi kenapa Hermione tidak bersikap seperti seorang Slytherin dalam menghadapi provokasi Cara Mason. Hermione seharusnya cuek saja. Biarlah si pirang itu bertingkah seenak perutnya. Sudah tentu Hermione akan sakit hati, tapi setidaknya ia akan aman. Suatu saat tentu Cara akan bosan sendiri jika provokasinya dianggap angin lalu.
Tapi sayangnya Hermione bukanlah seorang Slytherin. Dia seorang Gryffindor. Singa betina. Provokasi Cara membangkitkan sesuatu dalam diri Hermione. Kenekatan dan keberanian untuk menegaskan kalau ia punya harga diri, begitulah para Gryffindor menyebutnya. Sementara itu para Slytherin akan menganggapnya sebagai kebodohan dan perbuatan kurang kerjaan.
Duel ini tak penting, batin Severus. Sama tak pentingnya dengan aku, geramnya.
Andai saja Hermione mau membuka matanya lebih lebar, tidak terbawa emosi, dan tidak memandang rendah kecantikan yang ia miliki, tentu wanita itu akan tahu kalau ia sudah memenangkan hati Severus tanpa perlu berduel. Tapi seorang Gryffindor sepertinya pasti tak mau berlalu begitu saja tanpa menunjukkan klaimnya kepada semua orang. Alih-alih berkonsultasi dengan Severus dulu, serta-merta Hermione melempar tantangan duel ke Cara.
Orang lain boleh berpikir Severus adalah bajingan beruntung yang diperebutkan oleh dua orang wanita cantik. Tapi yang dirasakan Severus justru berbanding terbalik. Ia sama sekali tidak merasa beruntung. Ia merasa marah dan terancam. Marah kepada Hermione dan terancam oleh Cara. Dengan menjadikan Severus sebagai objek pertaruhan, sudah pasti kini statusnya diputihkan. Pada detik ini, Severus bukan lagi kekasih siapa-siapa, setidaknya sampai duel ini mendapatkan pemenang.
Severus merasa seperti seonggok benda mati. Tak ada yang peduli dengan perasaannya. Semua orang. Siapapun. Termasuk juga Hermione yang sembrono menyodorkannya sebagai objek taruhan.
Tampaknya ada satu hal yang dilupakan oleh Hermione. Severus sangatlah sensitif terhadap perasaannya. Meski statusnya adalah kekasih Hermione, Severus masih memegang penuh kemerdekaannya. Dia bukan tipe pria yang dicocok-hidung oleh kekasihnya sendiri. Dia tidak gampang menuruti keinginan Hermione dan bergeming setiap kali mereka berselisih. Well, mungkin dia memang berubah sedikit melunak, tapi tetap saja. Severus adalah seorang kekasih, bukan budak. Dan yang dilakukan Hermione ini secara tidak langsung telah melukai harga dirinya.
Severus menegak isi gelasnya sampai habis, masih belum ingin berhenti merenung. Mungkin memang inilah resiko menjalin hubungan dengan seorang Gryffindor. Apa yang dianggap Gryffindor sebagai sesuatu yang berani dan terhormat, justru dikategorikan bodoh dan sembrono bagi Slytherin.
Slytherin lebih suka bermain aman, dan jika bisa, menyodok secara diam-diam. Sementara Gryffindor sepertinya gemar menyerang langsung dan terang-terangan diekspose publik. Severus tak pernah mempertanyakan kenapa ada lebih banyak orang dari asrama singa yang dianugerahi Orde of Merlin meski pahlawan dari asrama ular tak kalah banyaknya. Alasannya sudah jelas.
Tiba-tiba kobaran api di perapian berubah hijau jamrud. Severus seketika berdiri, mengharap orang yang akan muncul sebentar lagi ini adalah Hermione. Tapi alih-alih, justru wajah tampan dan culas Lucius Malfoy yang tampil.
"Selamat malam, Severus," sapa Lucius santun.
"Malam, Lucius," balas Severus pendek, memasang raut tanpa ekspresinya untuk menutupi kekecewaannya. "Apa yang membuatmu menghubungiku tengah malam begini?"
"Hanya kabar di halaman utama Daily Prophet yang kubaca pagi ini," ujar Lucius, menyeringai kecil. "Boleh aku masuk ke bilikmu?"
Diam membisu, Severus memberi isyarat dengan lambaian tangannya, mempersilahkan kawan lamanya itu untuk keluar dari perapian. Ia sudah menduga hal ini akan terjadi. Akhirnya, berita duel Hermione versus Cara tersebar ke seluruh Britania Raya. Bagaimana tidak? Ini adalah duel dengan peserta berjenis kelamin wanita yang pertama kali terjadi dalam lima abad terakhir yang pernah tercatat di Kementerian Sihir.
Sebagaimana duel sihir yang dilakukan untuk mengklaim seseorang sebagai pasangan, tentunya duel ini harus dilakukan secara resmi dan didaftarkan ke Kementerian Sihir. Dengan begitu, maka segala sesuatu yang terjadi di arena pertarungan nanti akan punya kekuatan hukum. Siapapun pemenangnya nanti akan punya kuasa mutlak dan tak bisa diganggu gugat. Selain itu, Kementerian Sihir punya aturan khusus mengenai duel sihir untuk mencegah kecurangan dan jatuhnya korban jiwa. Bisa dipastikan duel resmi ini akan lebih aman dibanding duel liar yang tidak tercatat.
Lucius menerobos masuk melalui perapian dan mengibaskan jubahnya yang belepotan abu. Sesaat kemudian ia menegakkan tubuhnya dan berjabat tangan dengan Severus. Seringainya yang khas masih belum hilang dari wajahnya yang tampan dan pucat.
"Silahkan duduk, Lucius. Aku tak punya apapun kecuali Wiski-Api," ucap Severus datar.
"Duduk di situ?" Salah satu alis Lucius terangkat, angkuh. "Dilihat dari posisinya yang sangat rapat dengan kursimu, sepertinya itu adalah kursi favorit seseorang, mate. Atau malah kursi milik orang favoritmu."
Severus membalas keangkuhan Lucius dengan tatapan tajam. Perang sudah lama berakhir, namun gengsi Lucius Malfoy sebagai penyihir berdarah murni belum juga pudar. Pria berambut pirang platinum itu masih punya masalah dengan segala sesuatu yang berbau Muggle dan kelahiran Muggle. Mana mungkin ia sudi duduk di kursi yang biasa diduduki Hermione. Dipikirnya kursi itu adalah sarang najis menjijikkan.
"Duduklah di mana saja sesukamu kalau begitu, Lord Malfoy," balas Severus dengan penekanan pada kata 'Lord'. Lidahnya terasa asam saat mengucapnya. Sungguh ironis, mengingat dia sendiri juga menyandang gelar Lord. Lord Snape, berkat sebagian darah Prince yang mengalir dalam tubuhnya.
Lucius tersenyum kecil dan melepaskan salah satu sarung tangannya. Dengan gayanya yang anggun ala bangsawan sejati, ia merogoh saku jubahnya, mengeluarkan tongkat sihirnya, dan mengubah sarung tangan itu menjadi sebuah kursi dalam satu kali kibasan.
Severus mengerutkan dahinya melihat kursi hasil karya sahabatnya itu. Sebuah kursi kayu berlengan dengan sandaran yang tinggi, berwarna keemasan dan dihiasi ukiran-ukiran berbentuk ular. Orang awam akan menyangka kursi itu adalah sebuah singgasana. Tapi bagi Lucius Malfoy, seperti itulah kursi yang layak diduduki.
"Aku akan duduk di sini," ucap Lucius sambil memposisikan dirinya senyaman mungkin di atas 'singgasananya'. Kedua tangannya bertumpu di atas pangkal tongkatnya yang berbentuk kepala ular. Sepasang mata kelabu Lucius menatap tajam ke arah Severus, mencermatinya dari atas ke bawah. Seolah menanti reaksi sang tuan rumah.
Reaksi pertama yang sebenarnya ingin dilakukan Severus adalah menendang Lucius kembali ke perapian. Berani-beraninya dia bersikap seperti seorang raja di sini. Bilik pribadi Severus bukanlah daerah kekuasaan siapapun, kecuali Severus sendiri. Tapi mengingat hubungan baik yang sudah terjalin selama ini, Severus memilih untuk mengabaikannya. Toh dia sering dijamu secara mewah di Malfoy Manor.
Severus duduk kembali di kursinya yang berhadap-hadapan langsung dengan Lucius. Ia melambaikan tongkat sihirnya, memanggil gelas kosong dari dapur, sebelum kemudian membuat gelas itu terisi dengan sendirinya dan terbang ke hadapan Lucius. Pria berambut pirang itu menyambut gelasnya sambil menggumamkan terima kasih, tapi ia tak langsung meminumnya.
"Jadi," ucap Severus kaku, memandang Lucius lekat-lekat dengan mata kelamnya. "Alasanmu datang kemari adalah…?"
Sudut bibir Lucius terangkat, menyeringai tipis. Kaum wanita yang melihatnya pasti akan menganggap seringai Lucius ini seksi, tapi sayangnya, Severus bukan wanita. Ia sama sekali tidak terpengaruh. Bagi Severus, seringai Lucius ini bisa berarti satu hal. Pria aristokrat itu sedang menyembunyikan sesuatu.
"Selalu langsung ke pokok masalah. Kau sama sekali tidak berubah, Severus," kata Lucius, agak mencibir. "Aku membaca halaman utama Daily Prophet pagi ini dan mengkhawatirkan dirimu. Seperti yang sudah kuduga, kau tampak sedang bermasalah."
"Terima kasih atas perhatianmu, Lucius. Aku yakin kau sangat peduli kepadaku sampai-sampai baru bisa datang berkunjung di tengah malam setelah mendapat kabar tentangku di pagi harinya. Respon yang sangat cepat untuk ukuran sahabat sejati," sindir Severus.
Lucius mengangkat dagunya yang runcing, kedua matanya menyipit. "Sahabat sejati juga punya kesibukan, mate. Setidaknya aku masih bisa menyempatkan hadir di saat tak ada yang bersedia menemanimu merenungi nasib."
Rahang Severus mengeras. Ucapan Lucius menonjoknya telak. Severus benci mengakuinya, tapi memang begitulah adanya. Hogwarts, meski dihuni oleh ratusan orang yang kini memusatkan perhatian mereka ke skandal cinta Severus-Hermione-Cara, tak ada seorang pun dari mereka yang satu pikiran dengan Severus. Tak ada satupun yang menganggap Severus sebagai obyek dari egosentris wanita.
Di kalangan staf pengajar, cuma Severus yang berasal dari Slytherin, dan ini mempengaruhi cara pandang mereka. Albus Dumbledore salut atas keberanian Hermione dan keteguhan hati Cara. Minerva, walau menganggap duel sihir adalah tradisi barbar, ia mengagumi kenekatan Hermione. Sementara itu, sebagian besar murid-murid mempertanyakan kenapa pria sesadis dan sejelek profesor Snape bisa diperebutkan dua orang guru wanita cantik. Lain halnya dengan murid-murid Slytherin yang semakin menaruh kagum dan hormat kepada kepala asrama, beranggapan kalau Severus menggunakan ramuan cinta paling ampuh atau guna-guna mujarab untuk membuat para wanita cantik mabuk kepayang. Well, beberapa di antara mereka bahkan berencana suatu saat nanti akan mencontoh tindakan licik kepala asramanya itu.
"Berhenti bersikap seperti seorang raja drama, Severus," saran Lucius, setelah menyesap isi gelasnya. "Kau sudah tahu betul apa resiko berhubungan dengan Gryffindor. Para Gryffindor identik dengan yang namanya heroisme, mate. Mereka selalu hobi menyodorkan nyawa mereka sendiri setiap kali ada kesempatan, tanpa memikirkan cara lain yang lebih aman dan tidak menyolok perhatian."
"Aku yakin kedatanganmu kemari tidak ada hubungannya dengan apa yang baru saja kau ucapkan itu, Lucius. Aku mengenalmu terlalu baik untuk bisa mengetahui jalan pikiranmu. Lucius Malfoy tidak pernah bersimpati. Bahkan terhadap sahabat baiknya sendiri, kalau itu pun bisa disebut sebagai 'sahabat baik'," cemooh Severus tajam.
Lucius menempelkan telapak tangannya di dadanya di bagian jantung, berpura-pura terlihat sakit hati mendengar ucapan Severus ini. "Aww, kau melukai hatiku, Severus." Melihat aktingnya tidak mendapat tanggapan, ia pun menyerah. "Baiklah. Baik. Kurasa aku akan jujur saja."
"Lucius Malfoy jujur? Morgana, dunia sudah jungkir-balik," komentar Severus dengan nada bosan.
"Ini ada hubunganmu dengan statusmu, Severus," tukas Lucius, tak terpengaruh dengan komentar sinis tadi. "Mengingat kau dijadikan obyek dalam duel lusa, statusmu sudah diputihkan, benar? Ini artinya kau bukan kekasih siapa-siapa, ya?"
"Dan, Merlin tolong beritahu aku, apa hubungannya ini denganmu?" tanya Severus tajam. Rongga dadanya terasa sesak. Kepalanya dipenuhi pemikiran-pemikiran buruk. Semoga diskusi ini tidak berujung ke Hermione. Ia menghormati Lucius Malfoy dan menganggap pria pirang itu sebagai sekutunya selama bertahun-tahun, akan sangat disayangkan jika hubungan baik mereka berakhir hanya gara-gara masalah wanita.
"Hubungannya denganku? Aku menaruh minat kepada salah satu di antara mereka, Severus," jawab Lucius kalem. "Kepada si pirang dan molek itu. Cara Mason. Kau tahu aku suka tipe yang seperti itu. Pirang, bertubuh sintal, bermata indah, dan ganas. Aku ingin tahu seberapa ganas dia di ranjang."
Berusaha menyamarkan perasaan leganya, Severus berujar, "Lucius, kau sudah beristri."
"Maksudmu, Narcissa? Dia cuma istri trofi, mate. Istri untuk dipamerkan di acara-acara resmi," balas Lucius, sinar di kedua matanya mendadak berubah dingin. "Sejak masih anak-anak, kami dijodohkan. Kami menikah tanpa cinta. Bahkan tujuan utama pernikahanku hanya untuk meyambung keturunan. Setelah melahirkan Draco, praktis Narcissa tak lagi menunaikan kewajibannya sebagai istri. Aku sampai lupa kapan terakhir kami tidur satu ranjang. Yang jelas sudah dua puluh tahun lebih."
Severus mengangkat salah satu alisnya. Ya. Dia tahu betul pernikahan macam apa yang biasa dipraktekkan oleh kalangan bangsawan berdarah murni. Menikah tanpa cinta dengan 'tujuan mulia' mereka—menyelamatkan generasi penyihir berdarah murni dari kontaminasi Muggle. Bukan rahasia lagi kalau para suami-istri berdarah murni saling berselingkuh di belakang punggung pasangan masing-masing. Severus sendiri yakin Narcissa punya PIL yang bergantian menghangatkan ranjangnya. Lucius sendiri tidak lebih baik dari istrinya. Tak terhitung sudah berapa wanita panggilan kelas atas yang menemaninya menghabiskan malam. Satu-satunya alasan kenapa Lucius dan Narcissa tidak bercerai adalah karena perceraian tidak dikenal di dalam Hukum Perkawinan dunia sihir. Penyihir menikah untuk selamanya dan hanya dipisahkan oleh maut.
"Well, aku sudah bosan bermain-main dengan wanita panggilan, Severus. Meski hartaku berlimpah, ada sedikit pertentangan di hatiku mengetahui rasa sayang yang mereka tunjukkan kepadaku palsu. Mereka hanya sayang pada Galleonku. Atau nama besarku. Atau penampilan fisikku. Kurasa sudah saatnya bagiku untuk memilih pasangan tetap. Aku ingin mengambil selir."
Setelah dua puluh tahun lebih menggauli pelacur, apa tidak terlalu terlambat jika baru sekarang ingin punya pasangan tetap? Batin Severus. Tapi ia tidak melontarkan pertanyaan kasar ini ke Lucius. Siapa tahu ia bisa memanfaatkan keadaan untuk keuntungannya.
"Menurutmu Cara Mason adalah wanita yang tepat untukmu, mate?" tanya Severus tak percaya.
"Aku tahu barang bagus begitu aku melihatnya, Severus," balas Lucius, menyeringai tipis. "Melihat atribut yang dikenakannya, aku bisa langsung mengenali seorang prajurit Zion, dan aku menginginkan dia, mate. Cuma dia. Tak ada wanita lain. Dan semua orang tahu kalau Malfoy selalu mendapatkan apa yang ia inginkan."
"Tak diragukan lagi," ucap Severus, ikut tersenyum tipis. Ia ingat peran Lucius dalam misi menyusup ke Arcelia dulu. Sebagai kurir, Lucius tentu pernah beberapa kali meloloskan diri dari kejaran prajurit-prajurit Zion. Selain itu, Cara juga mantan anggota Eradicator yang sudah membunuh banyak Pelahap Maut. Severus yakin Lucius punya ikatan emosional tersendiri dengan wanita semacam ini.
"Sayangnya Cara Mason bukan wanita yang mudah didekati," kata Severus, bermaksud memancing emosi Lucius. Fakta kalau Cara bisa tertarik kepada Severus dengan begitu mudahnya tentu akan membuat Lucius panas. Bagaimanapun juga Lucius selalu menganggap dirinya sebagai seorang pemikat wanita. "Tapi kurasa aku tahu beberapa hal yang bisa sedikit membantumu."
Lucius memincingkan kedua matanya. "Katakan saja, Severus."
Menyembunyikan seringai puasnya, Severus mengangguk pelan. Oh, ini akan jadi sangat brilian. Sepertinya ia sudah menemukan solusi untuk menjauhkan Cara darinya. Solusi yang semoga saja bisa membatalkan duet Hermione versus Cara yang akan diadakan dua hari ke depan.
Bersambung
Review, if you must
a/n : chapter ini tidak sepanjang yang saya targetkan, tapi sementara ini rasanya sudah cukup segini aja. Balik ke genre fantasy setelah beberapa chapter berkutat di genre romance melulu. Satu hal yang cukup mengusik saya adalah semua review di chapter 6 sepertinya menganggap tindakan Hermione adalah tindakan heroik. Di chapter ini saya pengen menunjukkan bagaimana perasaan Severus tentang ini.
